Hai minna-san…^^

Natsu update lagi… *dikacangin*

Makasih banyak buat para readers yang udah bersedia membaca dan me-review fic gak jelas ini. Juga, yang gak nge-review, Natsu ucapkan terima kasih!

Yosh! langsung baca aja!


Happy read…

Cerita sebelumnya :

Kuroro kembali menghadapkan wajahnya dengan wajah Kurapika. Semakin lama jarak antara wajah mereka semakin dekat. Kurapika masih shock, tanpa bergeming sedikitpun.

Bingo! Pemuda pemilik iris onix hitam gelap itu berhasil merebut ciuman pertama dari gadis pemilik iris biru sapphire tersebut.

Tamparan panas Kurapika pun menyusul di pipi Kuroro. Kuroro memegangi pipinya sambil menatap Kurapika datar. Dilihatnya gadis itu menatapnya penuh amarah, dengan mata yang berkaca-kaca. Saking kerasnya tamparan Kurapika, hidung dan sudut mulut Kuroro malah mengeluarkan cairan merah.

Kurapika terduduk sendirian di kursi stasiun. Hujan nampak mengguyur daerah itu dan sekitarnya. Di tempat itu hanya ada beberapa orang saja, yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Namun Kurapika tak mengubrisnya. Dia tetap duduk di kursi tunggu itu, membiarkan hujan mengguyur tubuhnya.

Mata sapphire-nya menatap kosong ke depan. Air matanya menyatu dengan hujan.

"Cinta pertamaku… berakhir…"


.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : Am I Really Hate You?

Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan

Genre : Romance and Friendship

Rated : T (buat jaga-jaga)

Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!

Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!

Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.

.

.

.

.

Don't like, don't read… XD

.


Chapter 2 : Kehidupan Sebagai Anak Buah

.

Kurapika's pov

"Kuruta…"

Aku masih tak percaya, bahwa orang yang menolongku sekaligus cinta pertamaku adalah orang bodoh itu. Maksudku, bagaimana mungkin, kupikir orang itu adalah orang baik, bijaksana, dan berjiwa besar! ternyata… dia adalah cowok bajingan yang sok keren seperti Lucifer sialan itu!

"Kurapika Kuruta!"

Dulu… aku selalu ingin first kiss-ku oleh orang yang kucintai. Tapi, kenapa pemuda bodoh itu malah mencuri dan melunturkan harapan itu? Aku tahu, aku sudah bilang kalau orang yang menyelamatkanku adalah cinta pertamaku, dan Kuroro bilang bahwa dialah orang itu. Tapi rasanya aku masih tak percaya! Aaakkkhhhh! Kepalaku rasanya sakit memikirkannya! Apa yang harus kulakukan?

"KURAPIKA KURUTA!" teriakan barusan sukses membuyarkan lamunanku.

"Ah, ada apa sensei?" tanyaku langsung.

"Kau ini! Mana PR-mu?"

PR? Ah! Benar juga! PR Matematika yang menurutku mudah itu. Tapi… semalam… gara-gara terus memikirkan cowok aneh dan ciuman pertama itu, aku lupa mengerjakannyaaa! Aku juga tidak bisa bilang, dengan alasan itu.

Aku menunduk malu, "maaf sensei, aku lupa mengerjakannya…" ucapku menunduk. Tentu saja, saat ini semua pandangan di kelas tertuju ke arahku, termasuk pandangan tajam Zilva sensei, yang menjadi guru matematika kami.

"Lupa? Sudah 10 tahun aku mengajar di sini, dan selama sepuluh tahun itu aku selalu saja mendengar alasan gila itu! Aku tak terima alasan! Sepulang sekolah nanti kau harus membersihkan seluruh koridor sekolah kelas dua! Mengerti?"

Apa? apa orang ini gila? Koridor kelas dua itu tak sempit guru gonrong yang bodooohh! "B—baik sensei…"

"Baiklah, kita mulai pelajarannya…"

.

#skip time

.

Normal pov

Terlihat Kurapika saat ini sedang melakukan hukumannya, membersihkan seluruh koridor kelas dua, yang sepanjang puluhan meter itu. Suasana sekolah nampak sepi, tanpa ada orang yang terlihat satupun, kecuali Kurapika. Mungkin hanya dirinya saja yang tersisa sekarang, karena yang lain sudah pulang.

"Dasar Lucifer jelek! Bodoh! Mesum!" maki Kurapika sambil mengepel lantai dengan kasar saking kesalnya. "Ini semua gara-gara diaaaa!" Kurapika setengah berteriak.

Kurapika juga merasa beruntung, karena seharian ini dia tak bertemu pemilik mata onix itu. Tentu saja, sejak datang ke sekolah, Kurapika tak pernah keluar dari kelasnya sampai pulang. Tentu saja dengan tujuan itu.

Kurapika mengambil ponselnya, menatap monitor ponsel biru dengan gantungan berbentuk seperti petir itu. Tatapannya tertuju pada angka yang menunjukkan 05.30 pm.

Dia pun kembali menyimpan ponselnya, dan menghela nafas panjang. Dilihatnya area-area yang sudah dibersihkannya. Baru dari kelas 2-A, sampai kelas 2-D. Padahal di sekolah ini terdapat lima kelas, untuk kelas dua. Yaitu kelas 2-A, sampai 2-E.

Dia memutar bola matanya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Menikmati hukumanmu, nona umur panjang?" suara itu adalah suara yang paling tidak ingin di dengar Kurapika. Dia sontak menoleh ke sumber suara, berharap si pemilik suara, bukanlah orang yang saat ini ia harapkan untuk tak bertemu dengannya. Atau paling tidak Kurapika berharap bahwa suara tadi hanya halusinasinya saja.

Sayangnya harapan Kurapika tak terwujud. Dilihatnya pemuda berambut hitam berkilau, saatini sedang bersandar di dinding kelas 2-D, sambil melipat kedua tangannya di dadanya. Rambutnya yang terkena sinar matahari senja membuatnya makin berkilau. Kurapika langsung menjatuhkan pel-nya. "K—Kuroro?"

Hening…

Kuroro lalu mendekat pada Kurapika dengan tatapan datar. Selangkah ia maju, selangkah pula Kurapika mundur.

"J—jangan mendekat!" perintah Kurapika mengepalkan tangannya. Namun Kuroro tak mengubrisnya. Dia tetap berjalan mendekati Kurapika.

Hingga kini Kurapika tak bisa mundur lagi, akibat tembok penghalang di belakang yang menjadi jalan buntunya. Dalam hati Kurapika mengutuk tembok itu dengan kesal. 'Semoga saja kau cepat runtuh nanti!'

Ketika Kurapika berbalik, Kuroro malah sudah mengurungnya, dengan kedua tangannya yang ia letakkan di tembok. Jantung Kurapika berdenyut kencang, karena saat ini wajah mereka sudah semakin dekat. Kurapika takut dia akan dicium lagi. Dia benci ciuman itu! Ciuman tanpa cinta dan memaksa. Apalagi ciuman itu dari orang yang sangat dibencinya.

Kurapika langsung saja mendorong tubuh Kuroro dengan keras, hingga Kuroro harus terjatuh ke belakang. Dilihatnya gadis yang berdiri di depannya, berusaha mengatur pernapasan dan degup jantungnya.

Setelah normal kembali, Kurapika menatap Kuroro tajam.

"Dengar yah Tuan Lucifer! Kalau kau berani menyentuhku sedikit saja, maka aku takkan segan menghajarmu!" ancam Kurapika.

"Benarkah?"

Perkataan Kuroro barusan sukses membuat Kurapika menggertakkangiginya. Ia tahu maksud dari perkataan Kuroro, meski Kuroro sendiri tidak mengatakannya. Ia tahu, kalau maksud Kuroro adalah, 'apa itu balas budimu setelah aku menyelamatkan nyawamu?'

"Baiklah, apa maumu sekarang? Aku akan membalas jasamu karena telah menyelamatkan nyawaku, dan kita impas!" ucap Kurapika dengan nada tegas.

Kuroro lalu bangun dari jatuhnya, dan menatap Kurapika dengan tatapan santai. Ditatapnya gadis yang berada setengah meter di depannya dengan tatapan menantang. Kurapika pun membalas tatapannya.

"Kau tahu, aku ini bukan pemuda yang murah hati,"

"Lalu?"

"Aku takkan melepaskanmu semudah itu,"

"Sebutkan apa saja yang kau inginkan!"

"Di tubuhmu… mengalir darahku. Kalau aku tidak ada, kau pun saat ini akan tidak ada. Darahmu… adalah darahku. Jadi, kau adalah milikku," perkataan Kuroro barusan sukses membuat Kurapika bingung dan blushing. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.

"Kau… akan menjadi anak buahku!"

"APA!" teriak Kurapika membelalakkan matanya tak percaya. Tentu saja, menjadi anak buah?

"Kau tidak perlu pakai teriak 'kan!" protes Kuroro menutup telinganya.

"J—jadi anak buahmu?" Kuroro hanya mengangguk mantap. "Kau bercanda 'kan?"

"Menurutmu?" Kuroro mempaerlihatkan wajah seriusnya, sukses membuat Kurapika semakin shock saja.

"Aku tidak mau!" tolak Kurapika kasar.

"Ooohh… jadi seorang Kuruta adalah orang yang tak tahu balas budi? Pengecut!" goda Kuroro.

Kurapika menggertakkan giginya kesal. "Berapa lama aku harus menjadi anak buahmu?" tanya Kurapika berusaha menahan amarahnya. Ia juga tak suka dikatai seperti itu.

"Tidak lama, hanya sampai kalau aku lulus nanti," ucap Kuroro enteng. "Atau paling tidak, sampai aku bosan denganmu…"

"Apa? I—itu 'kan masih tujuh bulan, satu minggu, empat hari, sebelas jam, dua puluh tiga menit, empat puluh satu detik lagiii?" teriak Kurapika tak percaya.

"PE-NGE-CUT !"

Kurapika semakin mengepalkan tangannya. Kalau Kuroro tidak pernah menyelamatkan hidupnya, dia saat ini pasti akan memukul pemuda itu keras-keras. Baru kali ini Kurapika merasa semalu ini.

"Baiklah! Akan kuterima tantanganmu! Aku akan membuatmu menarik kata-kata ejekan yang pernah kau lontarkan padaku!" ucap Kurapika tegas, sukses membuat Kuroro tersenyum geli.

Kuroro lalu maju selangkah, dan menarik palan kerah baju Kurapika, hingga Kurapika harus berjinjit mengikuti tarikan itu. Wajah mereka saat ini sudah sangat dekat. "Setiap kali aku memanggilmu, dimanapun, kapanpun, sedang melakukan apapun, kamu harus menuruti kata-kataku!"

Kurapika segera mendorong tubuh Kuroro, dan membetulkan kerah kemejanya. "Tapi kau tak boleh minta macam-macam!" ucap Kurapika kesal. Wajahnya saat ini sudah sangat memerah.

"He? Tenang saja! Aku ini cowok baik-baik…" Kuroro pun kembali berdiri dan meninggalkan Kurapika yang terbengong. "Lagi pula aku tak tertarik dengan cewek berdada rata sepertimu!

Perkataan Kuroro barusan sukses membuat wajah Kurapika makin memerah saja. Entah karena marah, ataupun malu. Entahlah… yang jelasnya wajahnya memerah karena Kuroro.

"AKU SANGAT MEMBENCIMUUUU!" teriak Kurapika kesal. Kuroro yang mendengarnya hanya bisa tersenyum tipis.

"Permainan, baru akan dimulai…"

.

~AM I REALLY HATE YOU?~

.

"Haaaaahhh…" Kurapika menghela nafas panjang, sambil menopangkan kepalanya di atas meja. Ia rasanya suadah tidak hidup lagi.

Menjadi anak buah cowok yang ia benci? Cowok yang telah menghancurkan cinta pertamanya? Cowok yang merebut ciuman pertamanya? Yang benar saja.

Namun apa boleh buat. Semua itu untuk membalas jasa Kuroro yang telah menyelamatkan hidupnya. Selain itu, Kurapika juga tak ingin disebut sebagai pengecut.

"Kau kenapa Kurapika? Lesu sekali…" tegur Neon.

"Hn, tidak apa-apa…" jawab Kurapika lesu.

"Neon, kau lihat Kuroro senpai?" tanya Shizuku menepuk pundak Neon.

"Benar juga! Sedari pagi aku tidak melihatnya! Sekarang ini rasanya aku ingin melihat wajah menawannya, agar aku semangat kembali!" ujar Neon bersemangat.

'Aku bahkan tak ingin melihat ujung rambutnya!' pikir Kurapika kesal.

"Mungkin kalau kau melihat wajah Kuroro senpai, semangatmu pasti akan meningkat lagi, Kurapika!" usul Eliza langsung mendatangi ketiga orang itu.

"A—apa katamu? Kau bercanda? Yang benar saja!"

"Ha? Kau tidak menyukai Kuroro senpai, Kurapika?" tanya Eliza tak percaya.

"Bukan tak menyukainya, tapi malah MEMBENCInya!" ucap Kurapika seolah memberi penekanan pada kata 'membenci.' Ketiga temannya langsung saja dibuat kaget oleh ucapan Kurapika.

"K—kenapa? Dia 'kan keren, pintar, ganteng, populer, dan hebat!" puji Neon dengan mata berbinar-binar. Kurapika semakin muak saja mendengarnya.

"Itu tidak penting! Intinya aku membenci si Lucifer bodoh itu!"ujar Kurapika seraya hendak meninggalkan kelas itu. Namun ia rasakan ponselnya bergetar. Kurapika pun mengambil ponsel dari sakunya, dan membaca pesan yang masuk.

From : Fucking Boy

No title

Cepat datang ke atap sekolah! Jangan lupa bawa bekal makananku!

Kepala Kurapika langsung jadi panas, membaca perintah pertama Kuroro. Ia pun membalasnya,

To : Fucking Boy

No title

Bekal apa?

Lama menunggu, akhirnya balasan Kuroro pun datang.

Tentu saja bekal buatanmu! Memangnya untuk apa kau menjadi anak buahku? Dasar bodoh!

Rasanya Kurapika ingin membanting ponselnya itu, ketika membaca pesan Kuroro saking kesalnya. Namun ia belum ingin dikatai tidak waras oleh teman sekelasnya.

Dengan langkah kesal, Kurapika pun mengambil bekalnya di tasnya, dan meninggalkan tempat itu.

.

Di atap,

"Lama sekali!" protes Kuroro yang saat ini sedang bersandar di tembok pembatas, ketika Kurapika memasuki atap itu.

"Jangan banyak bicara!" Kurapika segera melemparkan kotak makanannya pada Kuroro. Kuroro pun membukanya dengan perasaan senang.

"Sushi?" gumam Kuroro menaikkan sebelah alisnya.

"Memang kenapa? Kau mau protes?" kesal Kurapika. "Ya sudah! Aku mau ke kelas dulu!"

"Hei…"

"Apa lagi?" Kurapika menoleh dengan sebal.

"Kau harus menemaniku di sini!"

"Hah?"

"Kau 'kan anak buahku! Jadi kau harus menuruti semua perintahku!"

"Uuuugghhh!" geram Kurapika seraya berjalan dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Ia pun langsung duduk di samping Kuroro, seraya memeluk lututunya tanpa melirik ke arah Kuroro sedikitpun. 'Cowok menyebalkaaaaaannn!' teriak Kurapika dalam hati.

Tanpa Kurapika sadari, Kuroro tersenyum tipis ke arahnya. Setelah itu Kuroro memakan bekal Kurapika. keheningan menyelimuti mereka berdua.

Kurapika merasakan perutnya lapar. Yah, dia memang belum makan siang. Semuanya karena pemuda yang satu ini, Kuroro. Bekal Kurapika sudah diambil, terus, ketika Kurapika hendak ke kantin, Kuroro malah menahannya.

"Hei," panggil Kuroro.

"Hn,"

"Ini bekal buatanmu?"

"Hn,"

"Tidak enak!"

"Hn… hei! Tunggu dulu! Apa katamu?" Kurapika sekali lagi dibuat kesal oleh Kuroro.

"Aku bilang tidak enak!"

Kurapika langsung merampas kotak makanannya dari Kuroro. "Ya sudah! Kalau tidak enak, tidak usah dimakan! Kenapa kau makan?"

"Karena aku lapar," lawan Kuroro dengan wajah polosnya, sukses menimbulkan perempatan di dahi gadis blonde yang satu ini. "Cepat kembalikan!" perintah Kuroro.

"Tidak mau!"

"Kau berani melawanku?"

"Kapan aku pernah bilang takut padamu?"

Kuroro tersenyum jahil. Rasanya dia senang sekali membuat Kurapika marah. Ia langsung merampas bekal Kurapika, dan meletakkannya di lantai.

"Hei!"

Tanpa memberi kesempatan untuk Kurapika protes, Kuroro langsung mendorong tubuh Kurapika ke lantai, dan ia berada di atasnya. Kuroro dapat melihat wajah Kurapika saat ini sudah mulai memerah. Seringai jahil pun semakin mengembang di wajah tampan pemilik iris hitam itu.

"K—kau mau apa?" tanya Kurapika gugup.

Kuroro semakin memperdekat wajahnya pada wajah Kurapika, membuat Kurapika semakin panik. Ia berusaha lepas dari Kuroro, namun jika ia mencoba untuk berdiri, itu malah membuat jarak antara mereka berdua semakin dekat saja. Kedua tangannya pun digenggam erat di atas kepalanya, oleh Kuroro. Kurapika terdesak.

Semakin lama Kuroro semakin mempersempit jarak antara wajahnya dan Kurapika, hingga pada akhirnya bibir mereka saling bersentuhan untuk yang kedua kalinya. Kurapika mencoba melawan, namun ia sudah kehabisan tenaga karena belum makan siang.

Semakin Kurapika melawan, Kuroro juga semakin menekankan kepalanya. Itu membuat Kurapika tak bisa melakukan apa-apa, dan pada akhirnya ia menyerah karena kehabisan tenaga. Setetes cairan bening keluar dari ujung mata gadis pirang itu. Mungkin jika wanita lain yang berada dalam posisinya saat ini, wanita itu pasti sudah berbunga-bunga bahkan mati saking senangnya. Namun kita ketahui, Kurapika berbeda dari wanita lainnya.

Lama Kuroro mencium Kurapika, akhirnya ia pun melepaskan ciumannya. Ia duduk di depan Kurapika dengan wajah datarnya. Kurapika segera bangun, dan mengatur pernapasan dan detak jantungnya.

Dia menyentuh bawah bibirnya lembut namun penuh kesal. Untuk yang kedua kalinya, Kuroro menciumnya, tanpa keinginanya. Sungguh, Kurapika sama sekali tidak pernah mengharapkan seperti itu.

Dia lalu menghapus bekas ciuman Kuroro dengan kasar. Dibetulkannya seragamnya yang agak berantakan, serta rambut pirangnya. Kurapika lalu mengambil kotak bekalnya, dan meninggalkan Kuroro, dalam diam.

Blammm…

Suara pintu atap yang tertutup oleh Kurapika itu pun sukses memecahkan keheningan di atap tersebut. Kuroro tersnyum kecil. 'Aku benar-benar menyukai ekspresinya yang seperti itu!' batinnya.


.

Kurapika masuk ke kelas, dengan wajah yang masih agak merona merah. Ia langsung menuju bangkunya, dan duduk di sana. Suasana kelas masih tampak sepi. Tentu saja, sekrang 'kan masih jam istirahat.

Kurapika menanamkan wajahnya di meja, dengan tangannya yang menjadi bantalan. Dia tak tahu, mengapa Kuroro menciumnya. Ciuman itu 'kan dilakukan dengan orang yang disukai, dan Kurapika yankin 100% bahwa Kuroro tidak menyukainya.

Apa dia begitu senangnya, mempermainkan hati gadis ini?

Tanpa ia inginkan, mata Kurapika mengeluarkan tetesan cairan bening. Ia tak habis pikir, mengapa ia harus diselamatkan oleh seorang Lucifer. Kalau tahu begini, lebih baik dia mati saja saat kecelakaan itu. Namun Kurapika tak pernah terpikir sekalipun untuk bunuh diri. Hanya karena satu alasan. Dia tak ingin disebut pengecut.


.

Jam pulang sekolah, Kurapika bergegas keluar sekolah. Hanya satu tujuannya, dia tak ingin bertemu dengan Kuroro. Dia juga me-non aktifkan ponselnya agar Kuroro tak bisa menghubunginya.

Gadis blonde itu berlari secepat yang ia bisa ke luar gerbang. Ia lalu menoleh ke belakang, sambil berlari. Senyuman terukir di wajahnya, ketika menyadari belum ada satupun siswa yang keluar. Kurapika pun semakin mempercepat larinya.

Akhirnya ia mendekati stasiun kereta. Ia sedikit mempersantai jalannya, karena merasa sudah aman.

Kurapika duduk di kursi stasiun, menunggu kereta selanjutnya datang.

Kryuuukk…

Sekali lagi perutnya berbunyi untuk yang kesekian kalinya hari ini. Kurapika mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, hendak mencari restaurant, kedai, ataupun yang lain, yang jelasnya tempat untuk makan. Namun sialnya semuanya tutup.

Kurapika menghela nafas. "Haaaa… biarlah! Aku juga akan pulang!" ujarnya pasrah.

Gadis itu memejamkan matanya, menenangkan pikiran serta perutnya yang saat ini sedang kacau. Ia dapat mendengarkan suara kereta datang. Kurapika pun segera berdiri, menunggu kereta tersebut.

Tidak seperti yang gadis itu harapkan, tempat yang ia inginkan sepi itu langsung ramai ketika kereta tersebut singgah, memaksa Kurapika harus berdesak-desakan untuk masuk. Tanpa ia sadari, seorang pria bertubuh kekar sedang menyeringai di belakangnya.

Mata Kurapika membulat ketika merasakan seseorang memegang pinggangnya dari belakang. Dia sontak menoleh ke belakang. Dilihatnya pemuda kekar terlihat sedang mabuk, menyeringai padanya.

Kurapika segera menepis tangan pria itu, dan langsung keluar dari kerumunan antrian itu, diikuti oleh pemuda kekar tersebut. Kurapika menggertakkan giginya. 'Siapa pria mesum ini?' pikir Kurapika kesal.

"Apa maumu?" tanyanya tegas.

"Tidak, aku sangat menyukai gadis muda sepertimu!" ujar pria itu dengan senyuman mengerikannya.

'Apa pria ini gila? Terang-terangan sekaliii!' Kurapika bersiaga. "Jangan mendekat! Atau aku akan teriak!" ancam Kurapika.

Pria itu menyeringai. "Kau pikir aku takut? Teriak saja!"

Kurapika terkejut, ketika melihat kereta tadi sudah jalan duluan. Padahal itu kereta terakhir, dan ia harus menunggu selama enam jam untuk kedatangan kereta lain lagi. Namun bukan itu yang dikhawatirkan gadis yang satu ini, melainkan keadaan stasiun ini sudah sangat sepi. Penjaganya pun tidak ada di sana. Kurapika tersentak. Ditambah dengan kondisinya yang kurang baik.

"Kyaaaaaa!" jerit Kurapika ketika pria itu langsung mencengkarm kedua tangannya, dan mendekatkan wajahnya. Kurapika dapat mencium bau aminuman keras dari pria itu.

"Sepertinya kau menemukan mangsa baru lagi," Kurapika terkejut bukan main mendengar satu suara lagi mendekati mereka. Dilihatnya seorang pria kekar mabuk lainnya, medatanginya.

"Ha? Kau juga mau mencobanya? Tubuh gadis ini sangat bagus! Selain itu dia wangi sekali!" ujar pria yang mencengkram bahu Kurapika.

Rasa takut semakin menghantui Kurapika. Ia tak bisa melawan, karena tubuhnya saat ini sudah sangat lemah.

Kurapika berusaha lepas dari pria itu, namun itu malah membuat blazer hijaunya sobek. Seringai terlihat jelas di teman pria itu. "Ayo kita bersenang-senang…"

.

Sebuah mobil hitam nampak berhenti di stasiun kerera. Mata si pengendara membulat sempurna ketika melihat apa yang terjadi di sana.

Terlihat Kurapika saat ini dengan keadaan tidak layak. Tangannya di genggam kuat oleh seorang pria berbaju hitam, yang diketahui bernama Jonny, dan seorang pria tanpa mengenakan baju, memperlihatkan otot-otot kekarnya, yang diketahui bernama Kiera itu nampak melingkarkan tangannya di pinggang Kurapika.

Blazer Kurapika sudah terbuka dengan keadaan sobek-sobek itu tergeletak di tanah. Kemeja putih yang ia kenakan pun dalam keadaan compang-camping, sukses meperlihatkan sedikit dari badan Kurapika yang putih mulus.

Gadis itu mencoba melawan, namun hasilnya nihil. 'Siapa saja! Tolong!' teriak Kurapika dalam hati, sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

DWAGGHHHH! BWAKKKHH…!

Kurapika merasakan seseorang lagi memeluknya dari belakang, sambil menariknya. Namun pelukan orang ini jauh lebih hangat. Kurapika membuka matanya. Dilihatnya Kuroro Lucifer, menyeretnya ke belakang, sambil menendang dua pria itu. Tentu saja Kurapika terkejut bukan main.

"Kuroro!" gumam Kurapika tak percaya.

Kedua pria itu tersungkur ke tanah, akibat tendangan keras Kuroro di bagian dada mereka. Cairan merah kental keluar dari bibirnya. Pria itu mencoba berdiri. Dilihatnya, gadis incarannya saat ini sedang dipeluk oleh seorang pemuda berambut hitam berkilau, berseragam sama dengan gadis itu, menatapnya super tajam.

"Takkan kubiarkan kau menyentuhnya setitikpun! Gadis ini sudah menjadi milikku!" ucap Kuroro dingin, sukses menimbulkan semburat merah di wajah Kurapika.

Kurapika memegang tangan Kuroro yang memeluknya, seolah meminta Kuroro agar melepas pelukannya. Kuroro baru sadar, melihat Kurapika yang menunduk malu. Ia hanya tersenyum tipis, lalu melepaskan pelukannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Kuroro sedikit menunduk, untuk melihat wajah gadis yang lebih pendek darinya itu.

Namun Kurapika semakin menunduk. Dia menutupi bagian dada dan bahunya, menutupi sobekan di sana. Meskipun ada beberapa sobekan lagi di kemeja bagian pinggang dan perutnya. Kurapika tak ingin wajah menyedihkannya saat ini terlihat oleh Kuroro.

Kuroro tersenyum tipis. Dibukanya blazer hijaunya, dan memakaikannya pada Kurapika. Kurapika mendongkak, hendak melihat wajah Kuroro. Kuroro dapat melihat cairan bening membendung di pelupuk mata Kurapika, seakan tertahan agar tidak keluar.

"Kau tunggu di sini," ucap Kuroro, seraya kembali menghadap pada Jonny dan Kiera.

Kurapika menggenggam erat blazer hijau yang menutupinya. Ia lalu memakainya. Ia merasakan kehangatan menyeruak di tubuhnya, melalu blazer Kuroro. Kurapika juga dapat mencium aroma mint menyeruak di blazer yang panjangnya menyamai rok-nya itu. 'Nyaman sekali…' batin Kurapika mengeratkan genggamannya pada bawah kerah blazer Kuroro.

"Siapa kau bocah? Apa dia pacarmu?" protes Jonny menghapus darah yang keluar melalui hidungnya.

Kuroro tetap berwajah datar. "Lalu kau siapanya? Seenaknya saja menyentuhnya!" ucapnya dingin.

"He? Kau tak perlu ikut campur, kalau dia bukan siapa-siapamu! Menyingkirlah! Atau kami terpaksa bersifat kasar," ancam Kiera.

"Ah, aku takut…" kata Kuroro santai, dengan nada menantang. Ia lalu memasukkan tangan kanannya ke sakunya. "Aku takut aku bisa mengalahkan kalian dengan satu tangan saja," tantangnya menaikkan tangan kirinya, hingga dan membentuk sebuah kepalan pada kedua pria itu.

Jonny tak bisa menahan kesabarannya. Ia langsung saja menyerang Kuroro dengan penuh emosi. Namun Kuroro dengan cepat menghindar, dan langsung memukul tengkuk Jonny dengan santai, namun terkesan keras. Hal tersebut sukses membuat Jonny tersungkur ke tanah, tak sadarkan diri.

Kuroro lalu menunjukkan jari telunjuknya pada Kiera, dan menggoyangkannya ke depan dan ke belakang, dengan maksud menantang Kiera.

Di luar dugaan, bukannya menyerang, Kiera malah kabur tak tentu arah sambil berteriak-teriak tak jelas. Kuroro tersenyum kemanangan melihatnya.

Dia lalu berjalan menuju Kurapika yang masih menunduk.

"Hei…" ucapnya seraya memegang dagu Kurapika, membiarkan Kurapika mendongkak. "Kau menangis?" ucap Kuroro dengan nada mengejek, ketika melihat bendungan air mata menumpuk di pelupuk mata gadis blonde itu.

Kurapika menatap Kuroro dengan tatapan datar. Tatapannya buram, akibat air mata itu. Ia lalu menghapus air matanya dengan lengannya. "T—tidak!" ucap Kurapika.

Kuroro tersenyum. "Bagus, kalau begitu…" ia lalu menarik tangan Kurapika, membuat Kurapikja terkejut.

"Eeeehh? Kau mau membawaku ke mana?" tanya Kurapika.

"Ikut saja! Dasar nenek cerewet!"

Kurapika menatap Kuroro sebal. "Aku bukan nenek cerewet!" elak Kurapika memanyunkan bibirnya.

Tanpa ia sadari, Kuroro tersenyum lembut. Kurapika lalu terdiam, mengikuti Kuroro yang menarik tangannya. Senyuman manis lalu terlihat di wajah cantik gadis itu, tanpa sepengetahuan Kuroro.

Mereka lalu sampai pada mobil hitam yang terparkir di depan stasiun. Tentu saja itu mobil milik Kuroro.

Si pemilik mobil pun membuka pintu mobil itu. "Cepat masuk!" perintahnya mempersilahkan Kurapika untuk masuk.

"Eeeehh?" Kurapika masih bingung plus terkejut dengan apa yang dikatakan Kuroro barusan. "Masuk! Dasar lamban!"

Kurapika dengan sangat terpaksa masuk ke mobil itu, dengan perasaan bingung masih memenuhi akalnya. Kuroro lalu menutup pintu, dan menuju sisi lain mobilnya, lalu masuk. Saat ini mereka duduk bersampingan, dengan Kuroro duduk di kursi pengemudi.

"Kita mau ke mana?" tanya Kurapika bingung, ketika Kuroro sudah menjalankan mobilnya.

"Rumahmu di mana?" tanya Kuroro tetap fokus ke jalanan.

"Eh?"

"Di mana rumahmu?"

"D—di kompleks Sakura, blok C…" jawab Kurapika. "Kenapa?"

"Tentu saja aku mau mengantarmu pulang bodoh! Memangnya kau mau menunggu sampai enam jam lagi?" perkataan Kuroro barusan sukses membuat Kurapika bungkam.

"Terima kasih…" lirih Kurapika pelan, sangat pelan… namun Kuroro dapat mendengarnya meskipun samar-samar.

"Apa kau bilang?"

"Ah, tidak ada!" elak Kurapika memalingkan wajahnya. Kuroro hanya tersenyum tipis.

.

Mereka akhirnya sampai pada rumah Kurapika. Sebuah rumah bertingkat dua, berwarna putih.

Kurapika ragu mengatakan ini, tapi… "Kau tidak masuk?" tanya Kurapika begitu Kuroro mengantarnya sampai ke depan pintu.

Kuroro lalu menyeringai. "Kau ingin aku masuk?" godanya.

Wajah Kurapika langsung memerah. "B—bukan begitu! Aku 'kan hanya bertanya saja!" elaknya kesal.

"Tidak, aku ada urusan…"

Kurapika lalu membuka blazer Kuroro, dan menyerahkannya pada si pemilik blazer tersebut.

"Ini," ucap Kurapika berusaha agar tetap cuek.

Kuroro pun menerima blazer itu. "Ya sudah, aku pulang dulu… jaga dirimu!" Kuroro mengusap lembut puncak kepala Kurapika.

Entah mengapa itu terasa nyaman bagi gadis pirang itu. Entah karena perkataan Kuroro, atau apa, Kurapika tak tahu itu.

"Em… Kuroro…" panggil Kurapika, ketika Kuroro hendak berbalik meninggalkannya.

"Hm?"

"K—kenapa kau menolongku…?" tanya Kurapika gugup.

Kuroro tersenyum tipis. "Karena kau anak buahku! Jadi kalau kau kenapa-napa, nanti aku tak punya siapapun untuk kuperbudak!" ujar Kuroro santai, seraya meninggalkan Kurapika yang menatapnya dengan tatapan kesal.

"Dasar Lucifer menyebalkan!" teriak Kurapika kesal. Namun setelah itu Kurapika tersenyum lembut, menatap mobil hitam Kuroro yang pergi. 'Tapi dia telah menolongku…' pikirnya.

Sementara itu, Kuroro yang sedang mengemudikan mobilnya, terlihat sedang tersenyum tipis penuh arti.

"Dasar blonde bodoh! Tapi…"

.

.

.

~TO BE CONTINUED~


Waaaahh! Akhirnya chapter 2 selesai jugaaaa…XD *nari hula-hula*

Gimana pendapat kalian tentang chapter ini? Makin aneh aja yah? Hahahaha! Gomen… authornya aja aneh, gimana ceritanya? *plakk!*

Makasih buat para readers yang udah nge-review chapter iniii… XDD Natsu seneng banget dengan tanggapan kalian semua! :3

Ohya, ini balasan reviewnya… gomen, Natsu gak sempet bales review kalian lewat PM, soalnya Natsu males nunggu loadingnya! *digampar*


. Airin Aizawa :
Makasih udah R&R Airin-chaaaaann… XD
Waaaah! Airin-chan jadi orang pertama yang review fic ini! *tepuk tangan*
Hahahahahaha
Kuroro nii-kun emang nakal! *nyubit pipi Kuro nii*
Emm… gak tau tuh, tempat service laptopnya lelet amat!
Yosh! Semoga Airin-chan suka ama chapter ini…^^

. whitypearl :
Makasih udah R&R Pearl-chaaaaaaan… XD
Hahahahaha!
Udah tau, Kura nee-chan orangnya keras kepala! Gak mungkin pasrah semudah itu! *digampar Kura nee*
Gak mature yah? hweeehh… syukur deh! Pas baca review Pearl-chan, Natsu rasanya pingin bikin adegan kissunya lebih panas lagi! *plakkk* Hahaha… makasihyah Pearl-chaaan…^^
Makasih udah nge-fave fic ini… XDD *meluk Pearl* Natsu seneeengg! XD
Yosh! semoga Pearl-chan suka ma chappy ini…^^

. Himawari No Yuuki :
Makasih udah R&R Hima-san… XD
Hahahahaa! Selamat yah Hima-san…^^
Yah, salam kenal juga! Natsu Hiru desuuu…^^
Waaaahh… makasih atas pujian2 manisnya Hima-saaaann… X'D *nangis terharu*
Makasih juga udah fave fic ini! Natsu seneng bangeeett! XD

. scarlet85 :
Makasih udah R&R Scarlet-saaaan… XD
Hahaha! Makasih juga atas pujiannya! Natsu seneng banget!^^
Senshei… yg fic rated M ntu yah?
Hahahaha! Gomen, kalo sama! Natsu juga gak sadar! *plakk!*
Hahahaha! Ganbatte Kuroro-nii!
Rekuest Scarlet-san… insya allah deh!^^
Hahahahaha!
Makasih thumb-nya Scarlet-san..^^

. UL-chan :
Makasih udah R&R Aul-saaann… XD
Hahahahaha!
Maklumlah, author mesum kayak gini *plakk!*
Hwa?
KILLKURA? *teriak2 GaJe
BRUKKKK!
*pingsan*

. Kay Inizaki-chan :
Makasih udah R&R Kay-chaaaaann… XD
Makasih juga udah bilang bagus!^^
Wah? Kay-chan juga punya cerita AU versi KuroKura?
HOREEEEEE! *meluk Kay*
Tentu aja boleh Kay-chan!
Natsu malah seneng bangeeeeeett… XDD
Kalo nggak secepatnya diupdate, ntar Natsu cekik sampe mati! *plakkk!*
Hahahaha…
Typo emang pengganggu yang diciptakan author tanpa sengaja yang kerjanya cuman nge-ganggu konsen para readers!
Natsu bakal berusaha basmi typo itu! (meski kayaknya gak mungkin)

. Racchy-sora :
Maksih udah R&R Racchy-saaaann… XD
Hahahaha… makasih juga atas pujiannya! Natsu senang!^^
Oke deh, Racchy-san! (gak janji lho…) *pllakkk!*


Yosh! sekarang, bolehkah author lebay ini meminta review anda sekalian untuk yang kesekian kalinya? Mau ngasih kritik, saran, konkrit, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^

Akhir kata, review please… X3

~ARIGATOU~

NATSU HIRU CHAN