Hai minnaaaa… XD
Kita ketemu lagi dalam fic yang gaje ini…^^
Makasih banyak buat para readres yang udah nge-review chapter sebelumnyaaaa…^^ jujur, Natsu sangat terbantu denga review-review anda sekalian…^^
Yang login, Natsu udah balas lewat PM! So, seliahkan cek inbox masing-masing… dan buat yang gak login, seperti biasa, balasannya ada di akhir cerita yaaaahh… :3
Yosh! tanpa banyak bacot, silahkan membaca…
Happy read…^^
.
Cerita sebelumnya :
Kuroro tersenyum tipis. "Karena kau anak buahku! Jadi kalau kau kenapa-napa, nanti aku tak punya siapapun untuk kuperbudak!" ujar Kuroro santai, seraya meninggalkan Kurapika yang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Dasar Lucifer menyebalkan!" teriak Kurapika kesal. Namun setelah itu Kurapika tersenyum lembut, menatap mobil hitam Kuroro yang pergi. 'Tapi dia telah menolongku…' pikirnya.
Sementara itu, Kuroro yang sedang mengemudikan mobilnya, terlihat sedang tersenyum tipis penuh arti.
"Dasar blonde bodoh! Tapi…"
.
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Title : Am I Really Hate You?
Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan
Genre : Romance and Friendship
Rated : T (buat jaga-jaga)
Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!
Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!
Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.
.
.
.
.
Don't like, don't read… XD
.
Chapter 3 : What Feeling Is This?
.
Kurapika berjalan menelusuri sekolahnya sendirian, menaiki tangga, hingga akhirnya ia sampai di atap sekolah, tempat pertemuannya dengan Kuroro setiap harinya.
Yah, sejak Kurapika menjadi anak buah Kuroro, tepatnya dua minggu yang lalu, mereka lebih sering bertemu di atap sekolah pada jam istirahat. Sekarang hidup Kuroro jauh lebih mudah, dengan adanya Kurapika. Meskipun banyaknya cewek bodoh yang ingin sekali dekat dengan Kuroro meski harus menjadi budaknya, namun Kuroro malah memilih Kurapika yang tak termasuk dari orang-orang itu.
"Ada apa?" tanya Kurapika dengan nada kesal, ketika ia sampai di depan Kuroro. Dilihatnya pemuda ini sedang duduk sambil bersandar di dinding tembok, dengan kedua tangannya disilangkan di dada, dan kedua matanya terpejam.
Kuroro langsung melemparkan buku catatannya di depan Kurapika, dan kembali ke posisinya semula. Kening Kurapika berkerut, menandakan bahwa dia sedang bingung.
"Kerjakan tugas Matematikaku!" Kuroro langsung menjawab tanpa ditanya, seolah tahu apa yang akan Kurapika katakana.
"Ha?" Kurapika masih bingung.
"Kubilang, kerjakan tugasku! Harus selesai dalam waktu lima menit!"
Empat sudut siku-siku langsung terlihat di dahi Kurapika. "Yang benar saja! Aku tak mungkin mengerjakan tugas pelajaran kelas tiga!"
"Tidak mungkin? Aku tak percaya! Kerjakan saja sana! Cepat!"
Kurapika semakin kesal saja dengan kelakuan Kuroro. Dengan kasar dia mengambil buku itu, dan mengambil tempat di samping Kuroro. Kuroro hanya tersenyum tipis, tanpa terlihat oleh Kurapika.
Kurapika membuka halaman-per-halaman buku tugas Kuroro. Dan wow! Dia tak pernah mendapatkan nilai dibawah 95! Namun Kurapika tak terlalu kagum, karena dia juga mengalami hal yang sama. Akhirnya tangannya terhenti pada sebuah halaman, dimana masih ada sekitar sepuluh nomor soal yang belum terisi.
"Yang ini?"
"Hn,"
Kurapika memutar bola matanya. Dia pun mengambil pulpen hitam dari kantung kemeja putihnya, yang tertutupi blazer hijaunya, dan mulai menuliskan sesuatu di buku Kuroro.
Tangan Kurapika terus menulis, namun kadang-kadang ia berhenti sejenak untuk menghitung, atau mengingat-ingat rumus yang digunakan. Kuroro hanya tersenyum kemenangan menanggapinya. Dia tahu kalau seorang Kurapika Kuruta bisa mengerjakan tugas semudah unruknya itu.
Kurang lebih sepuluh menit berlalu Kurapika lalu melemparkan buku Kuroro di depan sang pemilik.
"Selesai!" ujar Kurapika seraya menaruh kembali pulpennya di kantung kemejanya.
Kuroro mengambil bukunya, dan membuka halaman yang sudah dikerjakan Kurapika. Dia meraba-raba kertasnya. Dia dapat merasakan tekanan pulpen pada kertasnya terlalu kuat. Dia hanya tertawa kecil. Pemuda pemilik iris onix itu tahu, bahwa Kurapika pasti mengerjakannya dengan penuh kesal.
"Bagaimana?" tanya Kurapika dengan nada sombong.
"Yaaahh… semuanya benar…" jawab Kuroro seraya menutup bukunya. "Tapi tulisanmu jelek sekali!"
"Hei! Sudah syukur-syukur kau mau kukerjakan! Jangan banyak protes!" kesal Kurapika memasang wajah cemberut.
"Hei…"
"Apa?" Kurapika menyahut dengan penuh sebal.
"Pulang sekolah nanti, kau harus menemaniku berbelanja!"
"Ha? Apa maksudmu? Kenapa aku harus menemanimu?"
"Tentu saja untuk membawakan barangku!"
"Kenapa kau tega sekali membiarkan seorang gadis yang membawakan barang belanjaanmu yang aku yakini pasti akan banyak itu!"
"Kau tahu… tenagamu itu jauh melebihi gadis biasa, bahkan melampaui pria-pria lainnya! Jadi mana mungkin aku tidak tega! Selain itu…" Kuroro lalu menarik dasi Kurapika, hingga jarak antara tubuh mereka hanya beberapa inci saja.
"Kau itu anak buahku!" ujar Kuroro yang saat ini dahinya bersentuhan dengan dahi Kurapika.
Kurapika dengan cepat langsung mendorong tubuh Kuroro dengan keras, namun Kuroro dapat menahannya sehingga ia hanya mundur sedikit. Dilihatnya Kurapika yang berdiri, membelakanginya.
"Ya,ya,ya! Aku anak buahmu! Baiklah… sampai jumpa!" ujar Kurapika seraya meninggalkan tempat itu dengan cepat. Kuroro hanya memandangnya bingung.
BLAMMM…
Kurapika tersandar di pintu atap yang baru ditutupnya. Wajahnya saat ini sudah sangat memerah nafasnya memburu dengan cepat, seolah tak ingin kalah cepat dengan degupan jantungnya. Kurapika memegangi dadanya.
'Kenapa aku jadi berdebar-debar begini?' pikir Kurapika berusaha mengatur nafasnya. Dia pun meninggalkan tempat itu, dengan rasa penasaran yang menyelimuti otaknya.
.
#skip time
.
Sepulang sekolah, Kuroro sudah menunggu Kurapika di depan gerbang dengan mobil hitamnya. Sekolah sudah agak sepi, hanya menyisakan siswa-siswa yang memiliki kegiatan tambahan.
Kuroro menatap jam tangan hitam yang terlilit di pergelangan tangannya. "Lama sekali…" ucapnya dengan nada kesal.
Tak lama setelah itu, keluarlah Kurapika yang berlari ke arahnya. Kuroro sedikit lega dengan itu.
"Kau dari mana? Lama sekali!" protes Kuroro seraya membuka mobilnya.
Kurapika pun masuk di mobil itu, seakan sudah terbiasa dengannya. Yah, Kuroro memang sudah sering mengantar Kurapika pulang dengan mobilnya, jika Kurapika harus terlambat pulang karena dirinya. "Maaf, tadi aku ada tugas piket!" ujar Kurapika.
Kuroro pun masuk ke mobilnya, dan memacunya meninggalkan tempat itu. "Dasar…"
"Memangnya kau mau belanja apa? Kukira kau baru belanja empat hari yang lalu!" tanya Kurapika membuka obrolan.
"Sahabatku berulang tahun…" jawab Kuroro singkat. Kurapika hanya ber-oh-ria.
.
Mereka pun sampai pada mall yang ada di pinggir jalan. Kuroro masuk, diikuti dengan Kurapika yang ada di belakangnya.
Kuroro pergi ke tempat baju pria. Di sana ia memilih-milih pakaian yang pantas untuknya. Sedangkan Kurapika yang dibelakangnya hanya menatapnya sebal.
"Hei! Kau itu kalau belanja seperti perempuan saja!" komentar Kurapika yang melihat Kuroro sibuk memilih pakaian.
"Kau saja yang seperti laki-laki!" balas Kuroro tanpa berbalik. Kurapika hanya mendengus kesal.
"Hei, bagaimana menurutmu dengan baju ini?" tanya Kuroro memperlihatkan sebuah kemeja kuning bergaris merah tipis, yang dipasangkan dengan jas dan celana biru tua.
Kurapika memerhatikan pakaian yang diperlihatkan oleh Kuroro. "Yah, itu sudah bagus. Sekarang ayo pulang!"
Kuroro menatap Kurapika kesal. "Bilang saja kau mau cepat pulang!" ucap Kuroro seraya melepaskan gantungan pada pakaian itu. "Nona, aku mau beli yang ini…"
Tak lama kemudian, Kuroro lalu melemparkan pakaian yang sudah terbungkus kantongan itu pada Kurapika. Kurapika pun menangkapnya dengan cekatan. Dia hanya menatap Kuroro sebal, yang berjalan meninggalkannya. Kurapika memutar bola matanya, dan berjalan mengikuti Kuroro.
Mereka pun sampai pada tempat pakaian wanita. Kurapika mulai bingung dengan ini.
"Sahabat yang kau maksud itu cewek?" tanya Kurapika to the point.
"Hn," jawab Kuroro singkat, di sambut dengan kata 'oh' dari Kurapika.
"Hei, menurutmu yang bagus mana?" tanya Kuroro berbalik pada Kurapika.
"Mana kutahu! Kenapa kau tanya padaku?"
"Kau 'kan cewek! Masa' tidak tahu!"
"Aku tidak pernah membeli, memakai, atau bahkan menyentuh gaun sedikitpun bodoh!"
"Huh! Pantas saja!" Kuroro pun kembali berbalik, dan mencari gaun yang menurutnya bagus.
Kurapika hanya menatap Kuroro geram. "Huh!" dengusnya seraya memalingkan wajahnya, sambil melipat kedua tangannya di dadanya. 'Cowok menyebalkaaaann!' gerutu Kurapika dalam hati.
Kuroro lalu mengambil sebuah gaun hitam panjang, dan agak ketat bagian atas sampai lutut, dengan bagian atas yang agak terbuka, hanya ada tali hitam kecil yang terlilit di bagian leher. Bagian punggung gaun itu pun terbuka. Bagian bawah, tepatnya di samping kanan pun terbelah, hingga sampai pada pangkal paha.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Kuroro.
Kurapika menatap gaun itu dengan tatapan… yang… sulit dijelaskan. "K—kau mau membelikan gaun itu untuk temanmu…" tanya Kurapika tak percaya.
"Yah, memangnya kenapa?" ucap Kuroro polos.
'Terbuka sekali…! Sudah kuduga, cowok ini memang mesum!' ucap Kurapika dalam hati. "Eeeh, tidak kok! Tapi, apa gaun itu tidak terlalu dewasa?"
Kuroro memerhatikan gaun yang dipegangnya. "Dewasa? Biasa-biasa saja kok! Lagipula dia punya gaun yang lebih terbuka dari ini!"
Kurapika hanya bisa sweat drop di tempat mendengarnya. 'Ternyata lebih mengerikan dari yang kubayangkan!'
"Ya sudah, aku beli yang ini saja…" ucap Kuroro. Kurapika hanya mengagguk menurut.
Belanjaan Kuroro kali ini sudah ada dua, dan tentu saja Kurapika yang membawakannya. Ia lalu melirik pada sebuah dress biru muda selutut, dengan lengan berbunga, serta pita kecil merah yang ada di ujing kerah bagian dada dress itu, dan pita besar pink di bagian belakang pinggangnya. Yah, gaun itu benar-benar seperti gaun boneka.
Kuroro berjalan untuk mengambil dress biru itu, diikuti oleh Kurapika yang menatapnya bingung.
"Hei, tadi kau membelikan temanmu gaun yang dewasa dan terbuka! Sekarang kau malah ingin memberikannya gaun yang terkesan manis ini?" tanya Kurapika bingung.
"Terserah aku! Kau jangan banyak protes!"
Kurapika menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan keras saking kesalnya dengan Kuroro. Tanpa ia sadari, orang yang membuatnya kesal tersenyum tipis melihat tingkahnya.
.
Kini mereka sampai pada tempat sepatu. Di sana Kuroro membeli tiga pasang sepatu, yaitu sepatu hitam untuknya, sepatu merah high heels, dan sepatu boat biru tua, yang terkesan imut.
Kurapika menjadi bingung, kenapa Kuroro membeli dua macam gaun dan sepatu yang bertolak belakang begitu? Yang satu terkesan sangat dewasa, dan yang satunya terkesan sangat manis dan imut. Selain itu ukuran keduanya juga berbeda. Yang dewasa itu lebih besar, dibanding denga gaun dan sepatu yang manis itu.
'Apa temannya yang berulang tahun ada dua?' pikir Kurapika. namun ia memutuskan untuk diam saja, karena pada ujung-ujungnya pasti dia dibuat kesal oleh Kuroro.
Kuroro juga membeli sebuah mahkota perak, dengan pita kecil pink yang ada pada kedua ujung mahkota yang menyerupai bando itu.
Mereka pun melanjutkan acara belanja mereka, hingga jam menunjukkan pukul 06.00 sore.
Kuroro dan Kurapika keluar dari mall itu, dan belanjaan Kuroro yang banyak di tangan Kurapika. Yah, Kuroro juga tadi membeli perabotan rumah, serta bahan-bahan makanan untuknya.
Kuroro membuka pintu belakang mobilnya, mempersilahkan Kurapika untuk menaruh belanjaannya yang berat di sana. Kurapika pun menurutinya, lalu masuk ke mobil Kuroro setelah Kuroro membukakan pintunya.
Kuroro pun memacu mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Kau lapar?" tanya Kuroro tetap fokus ke jalanan. Diliriknya Kurapika yang bersandar dengan lesu di kursi.
"Tidak. Aku ingin pulang sekarang…" jawab Kurapika lemas.
"Tapi aku lapar," Kuroro langsung membelokkan mobilnya di jalur yang berlawanan dengan jalanan menuju rumah Kurapika.
"Hei! Kau salah jalan!" protes Kurapika.
"Aku lapar, ayo singgah makan dulu,"
"Setidaknya kau mengantarku pulang dulu 'kan!"
"Aku tidak bisa menundanya. Selain itu…" Kuroro menatap Kurapika dengan menyeringai, membuat Kurapika mengerutkan dahinya bingung. "Aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan…"
Kuroro kembali dengan posisinya yang semula. Kurapika hanya diam sambil mendengus kesal. "Yayaya…" ujarnya malas.
Mereka pun sampai di depan sebuah restaurant mewah. Kuroro pun memarkir mobilnya di tempat parkiran.
"Ayo,"
"Kau makan saja sendiri! Aku akan menunggu di sini!" ucap Kurapika tanpa berpaling.
Kuroro memutar bola matanya. Dia pun keluar, dan memutari mobilnya, hingga dia sampai di depan pintu dekat Kurapika. Dibukanya pintu mobil itu, dan langsung menarik tangan Kurapika keluar.
"Hei!" protes Kurapika mengikuti tarikan Kuroro.
"Jangan banyak protes! Kau itu anak buahku! Jadi jangan banyak protes!"
"Huh! Itu lagi, itu lagi!" kesal Kurapika.
Mereka masuk pada restaurant kelas atas itu. Kurapika sedikit takjub dengan suasana elegan yang dipancarkan disana. Kurapika juga merasa agak canggung, karena hanya mereka berdua saja yang memakai pakaian sekolah di sana. Tentu saja orang-orang yang ada di sana menoleh ke arah mereka berdua.
Kuroro mengambil tempat duduk di dekat jendela, diikuti dengan Kurapika. Tak lama setelah itu, datanglah maid yang hendak menanyakan pesanan mereka.
Kuroro nampak memperhatikan menunya, sedangkan Kurapika menoleh keluar dengan tatapan penuh kesal, sambil menopangkan pipinya di tangannya.
"Aku pesan steak sapi dua, coklat panas satu, dan kopi panas satu," ujar Kuroro dengan wajah datar, yang dapat membuat maid itu blushing di tempat.
"B—baiklah, silahkan tunggu sebentar…" ujar maid tersebut terpesona dengan wajah Kuroro, seraya meninggalkan tempat itu.
"Hei, kenapa wajahmu seperti bawang goreng begitu?" ejek Kuroro. Kurapika tak mengubrisnya, dia malah semakin kesal saja.
"Jarang sekali loh, aku mengajak seorang gadis makan seperti ini. Kau itu gadis yang sangat beruntung,"
"Ha? Menurutku aku gadis yang paling sial di dunia ini, karena harus terjebak dalam permainanmu!" kesal Kurapika.
Kuroro tersenyum tipis. Sangat tipis. Dia lalu menopangkan dagunya di tangannya. "Tapi masih banyak gadis yang rela menjadi budakku, agar bisa dekat denganku," ucap Kuroro narsis.
"Itu karena mereka belum mengetahui sifat aslimu yang sangat menyebalkan! Selain itu kau juga jelek!" ejek Kurapika memasang tampang cemberut.
Kuroro tertegun mendengar perkataan Kurapika. "Hei, kau tahu? Kau orang kedua yang katai aku begitu,"
Kurapika terkejut. "Hah? Ada orang yang mengataimu jelek selain aku? Waah! Orang itu pasti sangat pintar!" ujar Kurapika narsis.
Kuroro tersenyum lembut. "Yah… dia sangat pintar… dan baik hati. Gadis yang sangat sempurna…"
Jleb…
Entah mengapa Kurapika merasakan sesuatu menusuk jantungnya, ketika mendengar perkataan Kuroro serta senyuman lembutnya untuk gadis yang Kuroro maksud.
"Kau menyukainya?" tanya Kurapika berusaha menutupi rasa sakit di dadanya.
Kuroro berpikir sejanak. "Aku tidak tahu… tapi… aku sangat ingin bertemu dengannya…"
"Kalau begitu kuharap dia tidak akan pernah bertemu denganmu!"
"Ha? Kenapa?"
"Aku tak ingin gadis jenius yang sependapat denganku seperti dia bertemu dengan cowok paling menyebalkan sepertimu!"
Pembicaraan mereka terpotong ketika seorang maid datang membawakan pesanan mereka. Mereka berdua pun tak melanjutkan obrolan mereka, untuk menghabiskan makanan mereka.
Sekali-kali Kuroro melirik Kurapika yang sedang makan. Cara makan gadis itu begitu elegan. Kuroro tahu, kalau Kurapika bukan gadis biasa. Terlihat dari langkah tegapnya serta sifatnya yang tak ingin berada di bawah orang lain. Ditambah lagi dengan cara makannya yang terbilang cukup meyakinkan itu.
.
Kuroro pun sampai di depan rumah Kurapika. jam tangannya kini menunjuk pada pukul 06.30 pm. Kurapika pun memegang knop mobil, hendak keluar, jika Kuroro tidak mencegahnya.
"Hei,"
"Hm?"
Srekk…
Mata Kurapika membulat sempurna ketika melihat Kuroro meyerahkan beberapa kantung belanjaannya padanya.
"He?"
"Pastikan kau memakai itu saat jam sembilan nanti aku datang menjemputmu…"
Kurapika keluar mobil dengan alis berkerut serta belanjaan yang masih setia tergantung ditangannya. "Apa maksudmu?"
"Malam ini kau harus menemaniku ke pesta ulang tahun temanku, dengan menggunakan itu! Sampai nanti," ujar Kuroro seraya memacu mobilnya meninggalkan Kurapika.
"Hei!" tentu saja panggilan Kurapika tak diubris oleh Kuroro, karena mobil Kuroro sudah jauh di sana.
Kurapika lalu memperhatikan isi bungkusan itu. Dilihatnya dress biru muda, sepatu biru muda, serta mahkota perak yang ada di sana. "Dasar cowok aneh!" gumam Kurapika seraya meninggalkan tempat itu, masuk ke dalam rumahnya.
.
#skip time
.
Kurapika saat ini terlihat membaca sambil berbaring di sofa ruang tengah rumahnya. Ia memakai t-shirt coklat longgar, serta celana pendek selutut berwarna merah kotak-kotak yang dikombinasikan dengan warna kuning. Poninya di jepit ke samping dengan jepitan hitam berukuran sedang.
Ting tong…
Suara bel yang berbunyi sukses menghentikan aktivitas Kurapika yang sudah berlangsung sejak sejam yang lalu itu. Dengan malas ia pun menuju pintu, hendak membukakan pintu bagi orang yang bertamu malam-malam begini.
Mata Kurapika membulat sempurna ketika melihat Kuroro, berdiri di depannya, dengan menggunakan pakaian yang ia beli tadi, serta dasi merah.
"Kau belum siap-siap?" tanya Kuroro tak percaya.
"S—sedang apa kau malam-malam begini?" tanya Kurapika tak percaya. Buku yang dipegangnya pun sampai jatuh ke lantai saking terkejutnya.
"Ha? Bukannya aku sudah bilang, kalau jam sembilan nanti aku akan menjemputmu, untuk menemaniku ke pesta ulang tahun temanku,"
"Jadi kau serius?"
"Tentu saja!"
Kurapika membatu di tempat. Kenapa cowok yang satu ini harus mengajaknya? Bukannya ada banyak cewek yang jauh lebih cantik dan anggun darinya…
Kuroro langsung masuk ke rumah Kurapika, tanpa mengubris Kurapika.
"Hei! Jangan masuk seenaknya ke rumah orang!" protes Kurapika mengikuti Kuroro ke belakang, sampai Kuroro duduk di sofa. Kurapika berkacak pinggang di depannya.
"Cepat keluar!" usir Kurapika seraya menunjuk pintu dengan satu tangannya.
Kuroro menanggapinya dengan santai, "tidak, sampai kau mengganti pakaianmu!"
"Nanti tetanggaku akan berpikir macam-macam!"
"Tetangga? Kenapa kau malah mengkhawatirkan tetanggamu? Dimana orang tuamu?"
"Mereka tidak ada! Sekarang cepat pulang sana!" usir Kurapika lagi.
"Tidak mau,"
"Kau mau sampai kapan di sini? Sampai kapanpun aku tak akan pernah mau memakai gaun jelek itu!"
"Aku juga tak akan pernah meninggalkan tempat ini sampai kau memakainya!"
Kurapika menggerang kesal…
.
.
.
Kuroro memacu mobil hitamnya dengan kecepatan 60 km/jam. Dia lalu melirik ke samping kirinya. Dilihatnya gadis cantik duduk di sampingnya dengan wajah yang dicemberutkan yang saat ini mengenakan dress biru muda yang terkesan manis, sepatu boat biru muda, serta mahkota perak menghiasi rambut pirangnya. Wajahnya tak terlalu ia rias, hanya mengenakan bedak tipis yang sewarna dengan kulitnya, serta lipgloss pink menghiasi bibir mungil gadis yang tidak lain tidak bukan adalah Kurapika itu.
Yah, setelah perdebatan tak penting tadi, yang dimenangkan oleh Kuroro hanya dengan 10 kata, yaitu : 'KAMU-HARUS-TURUTI-SEMUA-KATA-KATAKU-KARENA-KAU- ANAK-BUAHKU!' Kurapika pun akhirnya mengalah. Kuroro pula yang memasangkan mahkota perak di kepala Kurapika, dan Kuroro juga yang mendandani Kurapika layaknya sepasang kekasih. Tapi tunggu, sepasang kekasih? Itu tak mungkin 'kan? Sebenarnya bedak dan lipgloss itu Kuroro yang membawanya karena ia yakin, bahwa di rumah Kurapika tak ada benda seperti itu.
"Hei, kau jangan cemberut begitu!" ucap Kuroro dengan nada yang lebih terdengar mengejek.
"Kenapa harus aku?" protes Kurapika kesal, seraya melipat kedua tangannya di dadanya.
"Karena kau anak buahku,"
"Jadi nanti kau akan menyuruhku untuk mengambilkanmu makanan, dan melayani segala apa maumu? Begitu?"
"Ya," dua huruf yang keluar dari mulut Kuroro itu sukses membuat Kurapika semakin kesal saja. Dia hanya bisa mendengus kesal.
'Dasar cowok bodoh! Jelek! Bejat! Busuk!' maki Kurapika dalam hati.
Mereka lalu sampai pada pesta, yang diadakan di hotel megah itu. Kuroro turun dari mobil diikuti oleh Kurapika.
Semua pandangangan langsung tertuju pada mereka berdua. Kurapika agak canggung dengan ini semua. Ia dapat merasakan kalau orang-orang menatap mereka berdua dengan tatapan kagum plus bingung.
Seorang wanita berambut coklat agak kekuningan dengan gaun hijau lumut panjang, tanpa lengan maupun tali yang menyangga gaun itu, yang sukses memperlihatkan belahan dada wanita itu, serta belahan pada kedua sisi mulai dari ujung kaki hingga pangkal paha membuatnya semakin terlihat dewasa.
"Akhirnya kau datang Kuroro… aku sudah menunggumu dari tadi…" ucap wanita itu seraya mendekati Kuroro. Kurapika hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Selamat ulang tahun Pakunoda…" ujar Kuroro seraya memberika kotak kado berwarna merah yang terbalut pita kuning keemasan pada wanita yang dipanggil Pakunoda itu.
'Tunggu! Pakunoda, Pakunoda, Pakunoda? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu…' pikir Kurapika memasang pose berpikirnya. 'Ah! Benar juga! Dia 'kan anak kelas tiga yang cukup populer itu? Selain itu dia juga anak penyumbang paling besar di sekolah! Jadi dia yang dimaksud Kuroro?'
Pakunoda lalu melirik pada Kurapika dengan tatapan sayunya. Kurapika hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"Siapa dia?" tanya Pakunoda pada Kuroro.
Kuroro langsung saja merangkul leher Kurapika. "Dia akan menuruti segala keinginanku!" ujar Kuroro bangga.
Terlihat sedikit perubahan ekspresi di wajah Pakunoda. Namun segera tergantikan dengan senyuman ramah yang Kurapika tahu itu adalah senyuman yang dipaksakan.
"Lepaskan aku!" perintah Kurapika seraya menepis tangan kekar Kuroro dengan kasar.
"Ah? Benarkah? Salam kenal, aku Pakunoda… sahabat Kuroro dari kecil…" ucap Pakunoda dengan ramah.
"Ya, aku Kurapika, salam kenal…" sahut Kurapika.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian menikmati pestanya?"
"Yah, terima kasih…"
Kuroro lalu mengambil tangan Kurapika kasar, dan membawanya ke tempat yang agak jauh dari situ.
"Hei! Kau tidak bisa lebih lembut sedikit tidak sih?" protes Kurapika seraya mengikuti Kuroro yang menariknya.
Kuroro tak mengubrisnya. Dia tetap menarik Kurapika. tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata menatap mereka sangat sinis.
Kuroro menyuruh Kurapika duduk di sofa, lalu disusul oleh dirinya sendiri. Kurapika memperhatikan sekeliling. Dia baru sadar, bahwa yang ada di sini semuanya adalah anak-anak populer yang ada di sekolahnya, serta beberapa anak sekolah lain yang tak kalah populernya. Ada juga beberapa orang-orang penting di sini. Kurapika baru sadar, kalau sepopuler ini kah seorang Kuroro Lucifer? Ini semua membuatnya canggung.
"Kau kenapa?" tanya Kuroro menoleh pada Kurapika yang menunduk.
Kurapika hanya menggeleng keras. "Tidak ada,"
"Akan kuambilkan minum," ujar Kuroro seraya bangkit dan meninggalkan Kurapika. sebenarnya Kurapika ingin mencegahnya, karena semakin canggung saja sendirian di sini. Namun apa daya, Kuroro sudah pergi.
Tak lama setelah itu, Kuroro datang membawakan dua gelas anggur, dan menyerahkan satu pada Kurapika, dan kembali duduk di samping gadis itu.
Kurapika memperhatikan anggur itu. 'Sudah lama sekali… sejak terakhir kali aku minum beginian!' pikirnya lalu meneguk kecil anggur itu. Kuroro hanya tersenyum tipis pada Kurapika, lalu ikut meminumnya.
Mereka berdua terjebak dalam keheningan. Bukannya apa, tapi rasanya tak ada yang menarik untuk diperbincangkan. Kuroro pun memutuskan untuk mengajak Kurapika dansa.
"Mau dan—"
"Kuroro, kau mau dansa denganku?" perkataan Kuroro terpotong ketika Pakunoda langsung mendatanginya dan mengajaknya dansa.
Kuroro menoleh pada Kurapika. Kurapika yang seolah tahu maksud dari Kuroro hanya memutar bola matanya.
"Ada apa?" tanya Kurapika malas.
"Kau tak apa, kutinggal sendiri dulu?" Kuroro malah balik bertanya.
Rasanya Kurapika ingin bilang 'tidak, aku tidak mau sendiri di sini!' tapi tak mungkin 'kan, seorang Kurapika Kuruta mengatakan hal itu? Selain itu Pakunoda sudah ada di depannya menunggu Kuroro.
"Tentu saja, aku bukan anak kecil lagi!" dusta Kurapika berusaha memasang wajah datarnya.
"Ayo Kuroro!" Pakunoda langsung menarik tangan Kuroro. "Bersenang-senanglah Kurapika…" ucap Pakunoda tersenyum ramah seraya meninggalkan Kurapika dengan Kuroro yang ada di gandengannya.
"Kau tunggu disitu!" ucap Kuroro semakin mejauh.
'Entah mengapa aku sebal melihat si Pakunoda itu!' pikir Kurapika sebal.
Alunan musik klasik bernuansa romantis mulai di putarkan dalam pesta itu, menghipnotis setiap pasangan untuk berdansa dalam ruangan tertutup yang megah itu, terkecuali gadis yang saat ini sedang duduk di sofa sambil memakan cream cake vanilla dengan potongan besar serta strawberry berada di atasnya.
Pandangannya sedari tadi tertuju pada salah satu pasangan yang saat ini sedang berdansa.
"Waaahh… Kuroro Lucifer dari kelas 3-A itu cocok sekali dengan Pakunoda dari 3-D yah!"
"Yah, benar-benar pasangan serasi!"
"Apa mereka pacaran?"
"Mana kutahu! Katanya sih, mereka sahabat dari kecil. Tapi sepertinya mereka berdua saling suka!"
Telinga Kurapika langsung terasa panas mendengar pembicaraan kedua pemuda yang saat ini sedang berdiri di dekatnya.
Pandangannya kembali beralih pada Kuroro dan Pakunoda yang saat ini sedang berdansa dengan kompaknya. Kuroro memegang pinggang Pakunoda, sedangkan Pakunoda melingkarkan tangannya di leher Kuroro. Mereka berdua benar-benar terlihat mesra dan begitu serasi.
Garpu yang terbuat dari perak yang sedari tadi dipegang Kurapika itu kini sudah membengkok, tak berbentuk seperti garpu lagi. Entah perasaan apa yang menyelimuti hatinya saat ini. Begitu gelisah dan marah.
"Cih!" decak Kurapika seraya meninggalkan tempat itu. Tanpa sengaja Kuroro melihatnya.
"Paku…" ucap Kuroro.
"Hm?" tanya Pakunoda lembut.
"Kau bisa dansa dengan yang lain dulu? Aku ada urusan sebentar," ujar Kuroro seraya meninggalkan Pakunoda. Pakunoda hanya menatapnya sinis.
Di belakang hotel,
Kurapika duduk di pinggir kolam renang yang ada di sana. Kakinya yang sudah terlepas dari sepatunya itu dicelupkan di kolam air. Sesekali dia melemparkan batu di sana, hingga batu itu terpantul beberapa kali sampai akhirnya tenggelam.
"Untuk apa dia mengajakku ke sini kalau aku dicuekin begitu saja?" tanya Kurapika entah pada siapa seraya melempar batu lagi. "Kalau tahu begini lebih baik aku tidak usah ikut saja!"
Kurapika memegangi dadanya. 'Tapi kenapa emosiku langsung memuncak ketika melihat Kuroro dan Pakunoda bersama? Selain itu… rasanya sakit sekali! Di sini…' Kurapika meremas dadanya, tepatnya bagian hatinya itu.
"Dasar Kuroro bodooohh!" teriak Kurapika sekencang-kencangnya.
"Oi," Kurapika dapat merasakan seseorang menepuk kepala pirangnya. Kurapika sontak menoleh ke belakang.
"Kuroro?" tanpa sengaja Kurapika menyebut nama itu ketika melihat sesosok Kuroro berdiri di belakangnya dengan kedua tangannya ia masukkan ke saku.
Kurapika pun berdiri, agar tubuhnya sejajar dengan Kuroro. "Sedang apa kau di sini?"
Kuroro lalu duduk, menggulung celananya, dan memasukkan kakinya di air, sama seperti yang Kurapika lakukan tadi.
"Hei! Kau belum menjawab pertanyaanku!" protes Kurapika seraya kembali duduk.
"Yah, sedang cari angin… tak kusangka, di tempat gelap seperti ini ada matahari!"
Kurapika langsung tahu maksud 'matahari' dari Kuroro itu rambut pirangnya. Dia hanya bisa mendengus kesal.
"Kenapa kau keluar? Aku 'kan menyuruhmu menunggu disana?" kali ini Kuroro yang bertanya.
"Cari angin," jawab Kurapika singkat.
Hening…
"Emh… Kuroro…" lirih Kurapika menggoyang-goyangkan kakinya di air.
"Hm?"
"Aku… mau pulang saja!"
"Bagaimana kalau aku minta cium agar aku menurtinya?" goda Kuroro.
"Ya sudah! Aku jalan kaki saja!" ujar Kurapika seraya berdiri meninggalkan Kuroro.
"Hei, hei! Aku hanya bercanda! Tunggu aku!"
Kuroro akhirnya dapat menangkap pergelangan tangan Kurapika.
"Apa sih!" tanya Kurapika kesal seraya menepis tangan Kuroro.
"Kau pikir untuk apa aku mengajakmu ke sini?"
"Ya, kau hanya ingin menggangguku, bukan?"
"Ya, itu memang 50% dari keinginanku! 49% untuk jadi pesuruhku… tapi, 1%-nya lagi untuk…"
"Apa?"
"Agar kau menjadi pasangan dansaku bodoh! Bagaimana mungkin seorang Kuroro datang ke pesta tanpa seorang gadis yang bisa ia ajak berdansa? Kau ini tidak punya otak!" ujar Kuroro sedikit memalingkan wajahnya.
Kurapika terdiam sejenak. "Kau 'kan bisa berdansa dengan si Pakunoda itu!" terlihat perubahan ekspresi di wajah cantiknya.
"Dia 'kan lain! Kau itu—" Kuroro langsung menghentikan perkataannya ketika melihat ekspresi Kurapika saat ini sedang terlihat penuh kesal. "Atau jangan-jangan, kau cemburu ya?" goda Kuroro.
Wajah Kurapika langsung memerah. "Ce—cemburu? Cemburu atas apa?" elaknya.
"Jangan berbohong! Kau pasti cemburu karena aku berdansa dengan gadis lain 'kan?" ujar Kuroro ke-pede-an tapi nyatanya itu memang benar.
Wajah Kurapika makin memerah saja. Untunglah, tempat itu gelap dan hanya diterangi dengan lampu yang redup, sehingga rona merah di wajah Kurapika tak terlalu kelihatan.
"Hiihh! Aku tak mungkin cemburu karena itu! Dasar ke-GR-an!"
Kuroro hanya tersenyum kecil. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Kurapika, membuat Kurapika harus menaikkan sebelah alisnya tanda kebingungan.
"Mau dansa, nona Kuruta?" tawar Kuroro.
"Eeeehhh?" Kurapika terlonjak kaget. Namun Kuroro malah menarik tangan Kurapika, tanpa mendengar persetujuan dari Kurapika terlebih dahulu.
Kuroro memeluk pinggang Kurapika dengan erat. Kurapika tentu saja terkejut. Bukankah itu berlebihan? Tadi Kuroro hanya memegang pinggang Pakunoda, tapi kenapa untuk Kurapika… beda?
Dengan gemetaran, Kurapika melingarkan tangannya di dada Kuroro. Kuroro hanya tersenyum puas dengan itu.
Langkah demi langkah mereka lakukan bersama, hingga menghaslkan dansa yang tenang dan damai, dengan bantuan musik yang terdengar dari dalam. Kuroro tak menyangka, bahwa Kurapika bisa dansa, meskipun kadang-kadang gadis blonde itu menginjak kakinya. Dia rasanya semakin ingin mengetahui tentang diri Kurapika.
Kurapika dapat merasakan hembusan nafas Kuroro menabrak wajahnya. Dia hanya bisa menunduk. Aaah! Kurapika, sadarkah kau bahwa saat ini kau sedang menggali kuburan untuk harga dirimu yang super tinggi itu? Besok pasti Kuroro akan menggoda dan mengganggunya lagi.
Namun Kurapika tak ingin memikirkan itu dulu. Entah mengapa saat berada di dekat Kuroro, dia merasa lebih nyaman dan tenang. Mereka berdua pun berdansa di belakang hotel itu dengan kompak dan indah.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sayu saat ini sedang menatap mereka berdua dengan sinis dan tajam. "Cih!"
Entah sampai kapan mereka akan sadar, dengan perasaan mereka masing-masing. Tapi sepertinya itu akan memakan waktu yang cukup lama…
.
.
.
~TO BE CONTINUED~
Fuiiiiihhh… akhirnya chapter tiga selesai juga!
Gomen, kalo ceritanya abal gitu! Soalnya otak Natsu nih lagi kosong, gak ada ide-ide bagus dan menarik, jadinya… jadilah fic yang hancur ini!
Mengenai fic Natsu yang berjudul Wareware No Ryōhō itu, kayaknya bakal lama update deh, soalnya Natsu udah buntu nih! Ada yang bisa kasih saran gak? Kalian bisa kasih saran kalian lewat PM, atau sekedar review aja! Dan cukup inti ceritanya aja! Soalnya Natsu benar-benar bingung, mau bikin cerita apa!
Ohya, ini balasan buat yang gak login :
. Kiyui Tsukiyoshi :
Kyaaaa! Makasih udah R&R Kiyui-chaaaaann… XD
Akhirnya setelah sekian lama, Kiyui review lagi…^^ Natsu senang!
Hahahaha… makasih udah bilang keren!
Iyah, gak apa! yang penting Kitui-chan udah bersedia nge-baca fic super GaJe inii… XD
. Kay Inizaki-chan :
Makasih udah R&R Kay-chaaaaann… XD
Kyaaaaa! *elus-elus pipi yang udah dicubit Kay*
Hahahahahaha… Kuroro nii-kun 'kan orangnya emang agak tertutup gitu! Makannya dia keren banget! *blushing*
Yosh! gak apa telat, yang jelas jangan jadi hiatus! *sembunyi sebelum digampar Kay*
Hwaaa! Pokoknya Kay-chan mesti update fic AU yang Kay-chan maksud! Itu udah WAJIB ! *caps lock oooii!*
Sekali lagi Natsu ucapkan terima kasih buat para readers yang bersedia membaca fic ini, dan juga yang bersedia meninggalkan jejak review anda sekalian…^^
Yosh! sekarang, bolehkah author lebay ini meminta review anda sekalian untuk yang kesekian kalinya? Mau ngasih kritik, saran, konkrit, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^
Akhir kata, review please… X3
~ARIGATOU~
NATSU HIRU CHAN
