Hola minna-san…
Setelah buntu selama beberapa hari, akhirnya Natsu langsung nge-dapat ide buat ngelanjutin chapter 4! Chapter 4 ini terinspirasi dari komik yang pernah Natsu baca!
Yosh! tanpa membuang banyak waktu lagi, silahkan membaca…
Happy read…^^
.
Cerita sebelumnya :
Namun Kurapika tak ingin memikirkan itu dulu. Entah mengapa saat berada di dekat Kuroro, dia merasa lebih nyaman dan tenang. Mereka berdua pun berdansa di belakang hotel itu dengan kompak dan indah.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sayu saat ini sedang menatap mereka berdua dengan sinis dan tajam. "Cih!"
Entah sampai kapan mereka akan sadar, dengan perasaan mereka masing-masing. Tapi sepertinya itu akan memakan waktu yang cukup lama…
.
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Title : Am I Really Hate You?
Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan
Genre : Romance and Friendship
Rated : T (buat jaga-jaga)
Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!
Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!
Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.
.
.
.
.
Don't like, don't read… XD
.
Chapter 4 : Valentine Day
.
DWARRRRR!
Para siswa langsung berlarian ke ruang masak, tepatnya tempat para putri ketika mendengar suara ledakan dari sana.
"Ada apa ini?" tanya seorang guru berambut pink, yang diikat aneh menjadi lima ikatan langsung mendatangi tempat kejadian.
Guru itu melihat sebuah oven yang sudah gosong tak berbentuk, dengan tiga orang gadis yang dalam kondisi gosong pula.
"Hyaaaaa! Pokoknya kalau pelajaran memasak, aku tak mau sekelompok dengan Kurapika lagiiii!" teriak Neon kesal yang ternyata termasuk salah satu dari tiga gadis itu.
Kurapika langsung saja marah. "Ha? Bukankah kau yang meledakkan kompornya?" elak Kurapika tak ingin kalah, yang juga dalam kondisi gosong.
"Enak saja! Kau yang memasukkan telur itu di micro oven, bukan?"
"Tapi kau yang bilang!"
"Aku tak bilang kalau kau harus memasukkannya di micro oven! Aku hanya bilang bahwa kau harus memasak telur ini!"
"Soalnya di sini tidak ada penggorengan!"
Perdebatan itu pun berlangsung antara Kurapika vs Neon. Shizuku, yang juga termasuk salah satu dari mereka hanya bisa pasrah saja. "Kenapa aku harus sekelompok dengan mereka?" gumam Shizuku.
"Kalian berdua salah! Nostrad, jika ingin membuat kue itu tidak perlu memasak telur! Dan Kuruta, semua orang juga tahu kalau jika telur di masukkan ke oven maka oven itu akan meledak! Kalian ini! Setiap minggu pasti membuat masalah di ruang masak!" omel Menchi, yang ternyata adalah guru memasak di Hunter High School.
"K—kami minta maaf, sensei…" ucap keduanya dengan nada yang terbilang masih kedengaran kesal.
Menchi menghela nafas panjang. "Haaaahh… sudahlah! Semuanya, kembali ke tempat kalian masing-masing! Dan kalian bertiga, cepat bersihkan wajah, dan ganti celmek kalian!" perintah Menchi pasrah.
Semua murid pun menurut, termasuk Kurapika, Neon, dan Shizuku.
.
#skip time
.
Pulang sekolah, terlihat Neon, Kurapika, Eliza, dan Shizuku saat ini sedang berjalan bersama ke luar gerbang. Neon dan Kurapika nampaknya masih agak kesal. Keempat siswi itu pun berbincang-bincang dengan senangnya, minus Kurapika.
"Kau ingin memberikannya pada siapa?" tanya Eliza lembut, pada ketiga temannya.
"Kalau aku ingin memberikan coklat buatanku untuk Kuroro senpai! Dia pasti menerimanya dengan senang hati!" jawab Neon berbinar.
"Kau ingin membunuhnya?" sewot Kurapika.
Neon langsung menatap Kurapika dengan tatapan sebal. "Justru masakanmu itu yang bisa membunuh siapa saja yang melihatnya!"
Kurapika menggertakkan giginya kesal. "Huh! Terserah saja! Aku malas berdebat dengamu!" ujarnya yang akhirnya mengalah. Neon hanya tersenyum penuh kemenangan.
Kurapika lalu merogoh saku blazernya, mengambil ponselnya dan memperhatikan monitor ponsel itu dengan tatapan malas. 'Kenapa seharian ini dia tidak memanggilku yah? Apa dia tidak pergi ke sekolah?' pikir Kurapika.
Yah, ketahuilah, 'dia' yang dimaksud Kurapika tadi itu adalah Kuroro Lucifer. Tumben sekali, Kuroro tak memanggil Kurapika untuk diperintah. Memang sih, Kurapika hari ini merasa lebih lega tanpa panggilan dari Kuroro. Namun rasanya juga aneh, kalau Kuroro tak memanggilnya karena itu sudah rutinitasnya setiap hari.
"Sampai jumpa besok semuaaa…" pamit Neon, masuk ke dalam mobil jemputannya.
"Kalau begitu sampai jumpa juga, Kurapika…" ujar Shizuku, seraya meninggalkan Kurapika di susul oleh Eliza. Yah, jalur mereka memang berbeda.
Kurapika hanya sedikit mengangkat tangannya, membalas lambaian dari Eliza. Namun wajahnya masih tetap datar, seperti biasanya.
Kurapika pun berbalik, dan pulang.
.
.
Di rumah Kurapika,
Gadis itu duduk di kursi belajarnya, sambil mengerjakan tugas fisika yang diberikan padanya hari ini. Setelah selesai, ditutupnya buku tugasnya dan menopangkan wajahnya di tangannya. Dia memperhatikan kalender kecil yang berada di atas meja belajarnya. Besok, tanggal 14 Fabruari, tepat hari Valentine.
Seperti yang kita ketahui, Valentine adalaha hari kasih sayang, dimana biasanya orang-orang memberikan coklat, hadiah, ataupun kue kepada orang yang mereka sayangi dan cintai.
Tahun lalu, Kurapika hanya membuang coklat buatannya sendiri. Hanya karena dua alasan. Satu, dia tak memiliki orang yang disukai. Yang kedua, coklat buatan Kurapika itu lebih pantas disebut tumpukan adonan gosong yang hancur, dari pada disebut makanan. Mana mungkin, Kurapika ingin memakannya. Dia masih sayang nyawanya.
Lamunan Kurapika buyar, ketika mendengar ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk. Kurapika pun dengan cepat mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau pada tust ponsel tersebut.
"Moshi-moshi…" sapa Kurapika dengan nada datar.
"Kurapika?" mata Kurapika membulat sempurna ketika mendengar suara orang yang menelponnya. Suara itu begitu familiar baginya.
"A—ayah…" gumam Kurapika tak percaya.
"Bagaimana keadaanmu nak?"
'Buruk!' pikirnya. Namun Kurapika tak ingin berterus terang dulu. "Aku baik-baik saja…"
"Syukurlah. Saat ini ayah sedang berada di China. Ayah harap kau menjaga dirimu baik-baik,"
"Hn,"
"Kalau begitu sampai di sini dulu. Ayah akan menelponmu kapan-kapan lagi… sampai jumpa. Ayah mencintaimu…" ujar ayah Kurapika seraya menutup telponnya.
Tut tut tut…
Kurapika meletakkan ponselnya di dadanya. Ia menatap jauh. 'Mencintaiku?' batin Kurapika tersenyum kecut.
Kurapika lalu membenamkan wajahnya di meja belajarnya. "Ibu…" gumam Kurapika dengan suara bergetar.
.
.
Esoknya,
Para siswa SMU Hunter kini memasuki gerbang sekolah mereka.
Tanpa sengaja Kurapika dan Kuroro berpapasan di depan gerbang. Namun mereka tetap berjalan ke kelas mereka masing-masing dengan memandang datar, seperti tak pernah saling kenal.
Setelah mereka agak jauh, Kurapika dapat mendengar suara jeritan-jeritan dari siswi-siswi penggemar Kuroro. Senyuman kecil langsung terukir di wajah cantik gadis pirang itu. 'Dia sudah datang yah?' pikirnya.
.
Di kelas,
"Kurapika!" sapa Neon ceria. Kurapika menaikkan sebelah alisnya bingung. Padahal kemarin mereka baru saja bertengkar. Namun kenapa sekarang Neon langsung menyapanya?
Neon lalu tersenyum manis. "Aku minta maaf yah, atas kata-kataku kemarin!" sambung Neon, sukses membuat Kurapika terkejut.
"Emhh… terserah lah…" ujar Kurapika seraya menaruh tas-nya di tempatnya.
"Ohya, istirahat nanti, ada kegiatan masak khusus para murid cewek, untuk menyambut hari Valentine! Kau mau ikut? Mungkin kita bisa belajar di sana!" ujar Neon ikut duduk di bangkunya, tepatnya di samping Kurapika.
Kurapika berpikir sejanak. "Baiklah," ujarnya singkat, sukses mengembangkan senyuman di wajah Neon.
.
Jam istirahat, Neon dan Kurapika bersama menuju ruang masak. Kurapika agak gelisah juga, karena Kuroro belum-belum juga mengiriminya pesan, untuk memberikan perintah kepadanya. Apa Kuroro sudah tidak memerlukannya lagi?
Di sana tempatnya cukup ramai, membuat Kurapika agak canggung. Mereka langsung disambut dengan gadis cantik berambut biru yang dikuncir tinggi di belakang. Tatapan gadis itu sangat tajam, namun terkesan cantik.
"Kalian mau belajar masak?" tanya gadis itu datar.
"Ah! Machi senpai! Iyah! Kamu ingin membuat coklat Valentine!" ujar Neon bersemangat.
"Kalau begitu ayo masuk"
Neon langsung menarik tangan Kurapika untuk masuk ke ruang masak. Kurapika memperhatikan Machi yang menjauh. Dia ingat, pada saat pesta ulang tahun Pakunoda yang dilaksanakan seminggu yang lalu, Kurapika melihat Machi hadir di pesta itu.
.
"Kurapika! Kuemu gosong tuh!" tegur Neon panik.
"Haaaa?" Kurapika segera mematika oven, dan langsung mengambil kue yang SEHARUSNYA berbentuk hati itu, namun ini sudah berbentuk… entahlah…
"Huuhh!" Kurapika mendengus kesal memperhatikan kue buatannya. Kue yang lebih terlihat seperti tumpukan tanah liat hitam karena gosong itu.
"Itu sudah yang ke-enam kalinya hari ini! Masih mending, kue buatanku!" ujar Neon memamerkan kue buatannya, yang meskipun agak gepeng, tapi masih terlihat berbentuk hati, dan sedikit gosong.
"Ya ya ya! Aku kalah! Aku berhenti! Lagipula aku tak berencana memberikan kueku pada orang lain!" kesal Kurapika seraya mengambil kue yang mungkin tidak pantas disebut 'kue' itu dan keluar dengan perasaan kesal. Neon hanya tertawa geli melihat kepergian Kurapika. Dia merasa bangga, bisa menang dari gadis blonde itu.
Kurapika memerhatikan bungkusan kuenya dengan malas. "Aku ini memang payah!" gumamnya kecil. "Dalam urusan masak…"
Ia lalu merasakan ponselnya bergetar.
Senyuman mengembang di wajah cantik gadis itu ketika melihat nama si pengirim pesan di layar monitornya. Fucking Boy. Dengan bersemangat, Kurapika pun membuka pesannya.
Pulang sekolah nanti, kau harus datang ke atap sekolah! Kalau tidak, akan kusebarkan fotomu yang memakai gaun saat pesta pada seluruh sekolah!
Kurapika mendengus kesal. Dugaannya benar! Tujuan Kuroro mengajaknya ke pesta ulang tahun Pakunoda bukan hanya sekedar untuk menjadi pesuruh. Namun Kuroro menyuruh seseorang untuk memfotonya memakai gaun, yang terlihat menggelikan bagi Kurapika. Kini bertambahlah senjata Kuroro untuk semakin memperbudak Kurapika.
'Aku menyesal, menunggu pesannya!' kesal Kurapika dalam hati.
.
#skip time
.
"Ada apa?" Kurapika memasuki atap sekolah dengan perasaan kesal bercampur senang. Namun ia berusaha untuk lebih mencolokkan perasaan kesalnya.
Mata Kurapika membulat, sempurna ketika melihat Kuroro berdiri, dengan sekarung lebih coklat dan hadiah. "Kau sudah datang?" tanya Kuroro santai.
"Ini semua hadiah Valentinemu?" Kurapika balik bertanya tidak percaya.
"Bukan, masih ada banyak lagi di kelas dan lokerku! Aku tidak tahu apa besok masih ada beberapa karung lagi,"
'Hebat…' pikir Kurapika. "Kenapa kau memanggilku?"
"Cepat makan ini semua, agar dadamu itu cepat besar!"
Wajah Kurapika langsung memerah entah karena marah ataupun malu. "Apa hubungannya bodoh!" katanya penuh kesal. "Lagipula aku tak bisa memakan ini semua!"
"Ya, kau bisa makan satu persatu!"
"Memangnya kau belum makan satupun?"
"Aku tak mau memakan coklat dari perempuan yang tidak special bagiku…"
"Kau itu memang rumit!" komentar Kurapika.
"Jadi semua ini harus diapakan? Aku tak ingin reputasiku menurun, karena membuang semua coklat pemberian gadis-gadis gila itu!"
Kurapika menghela nafas. "Huufft… kau itu memang merepotkan!"
"Kau 'kan anak buahku! Jadi memang harus direpotkan!"
"Dasar! Ya sudah! Kenapa kau tidak memberikannya pada fakir miskin saja?" usul Kurapika.
"Wah, jiwa sosialmu tinggi juga!"
"Tentu saja!" Kurapika berucap sombong.
Kuroro lalu duduk dan bersandar di tembok atap. "Ya sudah. Aku akan memberikannya besok…" gumam Kuroro. "Kau harus membantuku! Besok kau tidak boleh ke sekolah!"
Kurapika lalu ikut duduk di samping Kuroro. "Hn, aku pasti tak bisa melawan perintahmu, Tuan yang suka menyuruh-nyuruh!" Kuroro hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Kau tidak membuat kue valentine?" tanya Kuroro membuka obrolan lain.
Kurapika tertegun. "Eeehh… tidak! Aku tidak buat apa-apa!" bohongnya. Tentu saja ia tak ingin jujur, dan memperlihatkan kue buatannya pada Kuroro.
Kuroro memandang Kurapika curiga. "BO-HONG!"
"Aku tidak—" Kurapika tak melanjutkan perkartaannya, ketika Kuroro langsung mendorongnya ke tembok. Wajah Kurapika pun sontak memerah.
Kuroro semakin memperdekat jarak antara wajah mereka. Kurapika tak bisa melawan. Pikirannya kini sudah melayang kemana-mana.
Srekk…
Kuroro pun kembali menjauhkan wajahnya, dan kembali bersandar, sukses membuat Kurapika bingung setengah mati. 'A—apa yang terjadi?' pikirnya.
Dia segera menoleh ke samping, tepatnya pada Kuroro. Matanya membulat sempurna ketika melihat Kuroro, yang saat ini sedang memperhatikan bingkisan kue buatannya dengan tatapan aneh. Ternyata tadi Kuroro mendekatkan wajahnya, untuk mengambil bungkusan itu dari balik blazer Kurapika, tanpa sepengetahuannya.
Kurapika menggertakkan giginya penuh kesal. "DASAR COWOK MESUUUUUMMMM!" teriak Kurapika tepat ditelinga Kuroro.
Kuroro sontak terkejut, dan langsung menutup telinganya. "Kau ini kenapa teriak-teriak?"
"Dasar maling! Kembalikan kueku!" perintah Kurapika seraya berusaha mengambil kuenya.
Kuroro langsung mengangkat tangannya, menjauhkan kue itu dari Kurapika. Namun Kurapika tak ingin menyerah. Dia malah semakin meninggikan tubuhnya, hendak mengambil kuenya. Jangan sampai Kuroro melihat hasil yang benar-benar hancur itu.
Namun Kurapika tak dapat menjaga keseimbangannya, sehingga dia harus terjatuh dan menimpa Kuroro.
BRUK!
"Awww…" ringis Kurapika seraya membuka matanya.
Mata sapphire gadis itu membulat sempurna ketika menyadari bahwa saat ini dia sedang berada di atas tubuh kekar Kuroro, yang menatapnya dengan santai. Kurapika dapat merasakan degupan jantung Kuroro yang terdengar normal saja, meskipun saat ini degup jantung dirinya sendiri sedang memburu. Wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus. Kurapika seolah kehilangan kesadarannya, berada di dekat Kuroro dengan jarak sedekat ini.
"Kau mau sampai kapan di situ? Berat tahu!" perkataan Kuroro barusan sukses menyadarkan Kurapika.
Dengan cepat Kurapika langsung menyingkir, dengan wajah yang super merah. "Kau jangan macam-macam!" teriak Kurapika. Saat ini dia benar-benar malu.
Kuroro pun bangkit, dengan kue Kurapika masih ada di genggamannya. "Kau sendiri yang dekat-dekat! Dasar suka cari kesempatan!" ejek Kuroro tersenyum jahil.
"Diam!"
Kuroro hanya tertawa kecil. Dia lalu membuka bingkisan kue Kurapika. Tatapannya langsung berubah. Oh Kurapika! Tamatlah riwayatmu!
"Ini kue yah?" tanya Kuroro tak percaya.
"Ya! Sekarang kembalikan!"
"Masa' buat kue saja tidak becus begini! Bagaimana kau bisa menjadi anak buah yang berkualitas?" komentar Kuroro.
"Siapa juga yang mau jadi anak buah!"
"Dasar tidak manis!" perkataan itu sukses membuat Kurapika bagaikan ditimpa baru besar di bagian kepalanya.
"Ya, aku tahu!" Kurapika mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ya sudah!" Kuroro lalu memakan kue buatan Kurapika, membuat Kurapika terbelalak kaget.
"Hei! Apa yang kau lakukan!"
Namun Kuroro tak mengubris Kurapika. Dia tetap memakan kue buatan Kurapika, meski harus merasakan rasa pahit yang teramat sangat.
"Hentikan bodoh!"
"Cerewet! Kau itu anak buahku! Jadi diam saja!" Kuroro tetap memakannya. Dia menunduk, menyembunyikan ekspresinya saat ini. Sesekali dia harus terbatuk akibat rasa pahit dari kue itu.
Kurapika tertegun melihat kuenya habis tanpa sisa oleh Kuroro. Padahal kue itu sudah sangat hancur, tapi kenapa Kuroro masih memakannya? Dilihatnya pemuda nekat itu sedang mengatur nafasnya, karena sudah beberapa kali terbatuk.
"A—aku akan ambilkan air!" ujar Kurapika seraya bergegas meninggalkan Kuroro di sana.
Kuroro tersenyum tipis menatap kepergian Kurapika. "Mungkin aku cowok pertama yang memakan kue Valentine gadis Kuruta jelek itu…" gumamnya.
Sementara itu, Kurapika lekas berlari hendak mengambil air untuk Kuroro. Ia tak habis pikir, kenapa Kuroro memakan kue buatannya? Selain itu Kurapika teringat akan perkataan Kuroro barusan, bahwa ia tak akan memakan coklat selain buatan cewek yang special baginya. Apa artinya… Kurapika special bagi Kuroro?
Namun Kurapika membuang segala pikiran-pikiran (yang menurutnya) aneh itu.
.
.
Esoknya,
Kurapika berdiri di depan cermin, dengan mengenakan t-shirt ungu, serta celana pendek selutut hitamnya. Hari ini ia memutuskan untuk tidak pergi sekolah, untuk menemani Kuroro.
Bukan hanya alasan itu. Kurapika juga tak pergi ke sekolah, sehari setelah valentine, dulu dia memilki pengalaman buruk saat valentine. Ketika kelas satu, Kurapika hendak membuka lokernya, namun ia langsung diserbu dengan tumpukan kado valentine, yang ia sendiri tak tahu siapa pengirimya. Akibatnya ia jadi malas untuk pergi sekolah di hari-hari seperti ini.
Ponselnya pun berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk.
From : Fucking Boy
No title
Sekarang aku ada di depan rumahmu! Cepat!
Kurapika memutar bola matanya. "Dasar suka memaksa!" gumamnya seraya mengambil topinya, dan mengenakannya. Ia pun berlalu keluar.
Di luar Kuroro sudah menunggu dengan celana panjang hitam, dan t-shirt hijau, dan kemeja hitam lengan panjang, yang tak ia kancing. Dia berdiri di depan mobil hitamnya.
Kurapika pun langsung masuk ke mobil Kuroro tanpa permisi terlebih dahulu. Kuroro hanya tersenyum tipis, seraya masuk dan memacu mobilnya meninggalkan tempat itu.
Kurapika melirik ke belakang. Dilihatnya tumpukan kado Kuroro di kursi belakang.
"Jadi, rencanamu apa?" tanyanya membuka obrolan.
"Panti Asuhan dekat taman bermain itu," jawab Kuroro singkat. Kurapika hanya ber-oh-ria saja.
.
Mereka lalu sampai di depan sebuah Panti Asuhan yang ber-cat hijau dikombinasikan dengan warna putih. Kuroro pun keluar dari mobilnya.
"Cepat angkat bawaan kita!" perintah Kuroro datar seraya berjalan menuju Panti itu tanpa mengubris Kurapika yang saat ini menatapnya super sebal.
"Dasar tukan menyuruh-nyuruh! Tidak jantan! Masa menyuruh cewek mengangkat beban seberat ini! Cowok sampah!" gerutu Kurapika seraya membuka pintu belakang, dan mengambil hadiah Kuroro. Di luar dugaannya, ternyata hadiah itu lebih berat dari yang ia bayangkan.
Dilihatnya Kuroro sedang bercakap-cakap dengan pengurus Panti Asuhan itu di ambang pintu. Kurapika hanya menatapnya, seraya mengangkat hadiah yang jauh lebih tinggi darinya itu.
Brukkhhh…
Kurapika meletakkan hadiah itu dengan pelan-pelan ke lantai, dekat mereka berdua.
"Wah, hadiahnya banyak sekali nak!" ujar pengurus itu senang.
"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Kuroro datar seraya meninggalkan tempat itu.
"Ah? Kalian tidak mau masuk dulu?"
Namun tak diubris oleh Kuroro. Dia malah meninggalkan tempat itu, dan langsung masuk ke mobilnya.
"T—tidak usah Bi! Maafkan sikap temanku yang tidak sopan itu! Aku bantu angkatkan ke dalam ya Bibi!" ujar Kurapika seraya kembali mengangkat hadiahnya ke dalam. Bibi pengurus itu hanya tersenyum lembut pada Kurapika.
"Terima kasih nak! Kau memang pemuda yang baik!"
Kurapika hanya sweat drop mendengar perkataan Bibi itu. Ah, sekali lagi dia disangka laki-laki oleh orang lain. "I—iya…" ujar Kurapika seraya meninggalkan tempat itu.
Kurapika masuk ke dalam mobilnya, dan langsung saja menatap Kuroro tajam. "Kenapa tadi kau bersikap seperti itu?" omelnya.
"Aku tidak suka dengan anak-anak," jawab Kuroro singkat, seraya membunyikan mesin mobilnya. "Kau suka dengan anak-anak?"
"Aku juga tidak suka sih, tapi…" Kurapika menggantungkan kalimatnya. Kuroro hanya memacu mobilnya, sambil menunggu kelanjutan kalimat Kurapika. "Aku sama seperti mereka…" sambungnya. Mata Kurapika menatap jauh ke depan. Kuroro dapat melihat kesedihan di mata itu.
"Apa maksudmu?" tanya Kuroro kembali fokus ke jalanan.
"Ibuku sudah meninggal, ketika aku masih kelas tiga SMP. Dan Ayahku pergi meninggalkanku, dengan tujuan yang tak jelas. Jadi, aku juga sendirian, tanpa orang tua seperti anak-anak di Panti Asuhan itu," jawab Kurapika sendu.
Kuroro memutuskan untuk tidak menanyai Kurapika lebih jauh lagi, dengan alasan tak ingin membuat gadis itu sedih. Tunggu dulu, sejak kapan Kuroro peduli dengan gadis lain?
"Ohya, kalau begitu sekarang kita ke mana?" tanya Kuroro mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja pulang,"
"Ha? Pulang? Tak ada asyik-asyiknya!"
"Kalau begitu kau mau kemana?"
Kuroro berpikir sejenak. "Menurutmu tempat yang bagus dikunjungi hari ini apa?" Kuroro malah balik bertanya.
Kini Kurapika yang berpikir, hingga sebuah bola lampu menyala di atas kepala pirangnya. "Bagaimana kalau ke taman bermain? Di sana ada Carnaval!" usul Kurapika.
"Baiklah," Kuroro lalu memacu mobilnya, menuju tempat yang dimaksud Kurapika.
'Tumben, dia sependapat denganku!' pikir Kurapika tersenyum tipis.
.
.
Mereka lalu sampai pada sebuah taman bermain yang cukup ramai, dengan banyak wahana dan permainan seru. Mereka berdua pun turun dari mobil.
Kuroro memerhatikan Kurapika. "Kau tak merasa aneh, memakai pakaian seperti itu?"
Kurapika memperhatikan pakaian yang dikenakannya. "Aneh? Aneh bagaimana?"
"Sadarlah NONA Kuruta! Kau itu wanita!" ujar Kuroro seakan memberi penekanan pada kata 'nona.'
"Huh! Kalau aku memakai baju perempuan, nanti aku disangka pacarmu! Tidak mau ah!" tolak Kurapika kasar.
Kuroro berusaha menahan tawanya melihat tingkah Kurapika. Gadis itu memang lain dari pada yang lain. "Ayo,"
Mereka pun masuk ke dalam Carnaval itu. Tempat itu sangat ramai oleh pengunjung. Tema kali ini adalah cinta. Ada banyak penjual beraneka ragam makanan dan souvenir yang berbentuk hati, wahana-wahana yang di desain berwarna pink, pokoknya temapt itu benar-benar cocok untuk menggambarkan suasana hari Valentine.
"Kau mau naik apa?" tanya Kurapika.
Kuroro memerhatikan sekeliling. Senyuman jahil langsung terlihat di wajahnya, ketika ia melihat sebuah Roller Coaster yang cukup besar di sana.
"Ayo," Kuroro meninggalkan Kurapika, tanpa menjawab pertanyaannya. Yang bertanya hanya menatapnya kesal seraya mengikuti langkahnya yang besar.
Pertanyaan Kurapika terjawab seketika ketika melihat Kuroro membeli karcis untuk naik Roller Coaster. Kurapika lalu menoleh ke permainan yang populer itu. Teriakan dan jeritan menggema di sana.
Mereka berdua pun menuju tempat antrian yang cukup ramai itu.
Sebenarnya tujuan utama Kuroro adalah ingin melihat Kurapika menjerit ketakutan, layaknya seorang wanita. Ia rasanya ingin sekali melihat ekspresi lain dari gadis cuek itu.
Oh, rencana Kuroro berjalan dengan mulus, ketika mereka berdua mendapatkan tempat paling depan. Kuroro membantu Kurapika naik, dengan menggendong pinggangnya naik ke atas. Kurapika hanya merona dibuatnya, karena saat ini orang-orang menatap mereka berdua dengan pandangan aneh. Kuroro lalu menyusul Kurapika, dan memasang sabut pengamannya.
3… 2… 1…
Roller Coaster itu pun mulai berjalan mendaki, membuat beberapa orang menjadi ketakutan plus khawatir. Kuroro sedikit melirik ke arah Kurapika. Dilihatnya gadisitu tetap dengan ekspresi datarnya.
"KYAAAAAA...!" teriakan menggema di sana ketika keretanya sudah turun dan melaju dengan begitu cepat.
Mata Kuroro membulat, ketika melihat ekspresi Kurapika biasa-biasa saja, seolah tak merasakan takut sedikitpun. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Kurapika pun segera memalingkan wajahnya, sedangkan Kuroro hanya tersenyum tipis.
.
Akhirnya selesai juga. Dua murid Hunter High School itu pun keluar dari tempat antrian, dengan kondisi yang begitu-begitu saja, sedangkan yang lainnya sibuk memuntahakn isi perut mereka karena mual.
Kuroro sekali lagi mencuri pandang pada Kurapika, yang saat ini sedang merapikan rambut pirangnya yang berantakan akibat permainan tadi.
"Kau tak takut?" tanya Kuroro heran.
"Takut apa?" Kurapika memerhatikan Kuroro bingung.
"Yang aku tahu… semua wanita itu takut menaiki Roller Coaster…"
"Kenapa harus takut?"
'Benar-benar gadis yang beda!' pikir Kuroro.
Perjalanan mereka pun berlangsung normal. Kuroro selalu saja memilih permainan yang menguji adrenalin, dengan tujuan membuat Kurapika takut. Namun hasilnya sama saja. Gadis blonde itu tetap dengan ekspresi datarnya.
.
#skip time
.
Akhirnya jam menunjukkan pukul 03.00 pm. Kuroro baru sadar bahwa dia dan Kurapika berada di Carnaval ini sudah selama tujuh jam.
Akhirnya Kuroro menyerah, untuk membuat Kurapika berteriak ketakutan. Gadis itu benar-benar tak takut dengan apapun.
Kuroro juga merasa agak canggung, karena menyadari sedari tadi orang menatap mereka dengan tatapan aneh. Kuroro tahu maksud dari tatapan itu. Diliriknya Kurapika yang saat ini memakan ice cream. Pakaiannya yang membuat semua orang berpikir salah tentang mereka berdua itu membuat Kuroro gelisah.
Bukan apanya, memang sih, ada banyak pengunjung yang kesini bersama dengan teman mereka. Namun Kuroro dan Kurapika beda dari mereka. Mereka lebih terlihat 'mesra' meskipun mereka tak menginkannya.
Kuroro lalu berbelok, menuju toko souvenir, tanpa bilang ke Kurapika dulu.
"Hei!" panggil Kurapika seraya berlari menyusul Kuroro.
Kuroro berhenti di sebuah toko kecil yang menjual aksesoris gadis. Disana ia membeli sebuah jepitan berbentuk pita kecil berwarna biru muda.
Perasaan Kurapika langsung tak enak melihat Kuroro membeli barang cantik itu. "K—kau membeli itu untuk…" Perkataan Kurapika terpotong ketika Kuroro langsung membuka topi Kurapika, dan memakainya, dan memasangkan pita itu di sisi kiri rambut pirang Kurapika.
"Hei! Aku tidak suka pakai beginian!" protes Kurapika hendak membuka jepitan itu, kalau Kuroro tak memegang pergelangan tangannya. Kurapika menatapnya kesal.
"Pakai itu, atau fotomu yang memakai gaun akan kusebarkan!" ancam Kuroro dengan nada berbisik.
Kurapika tertegun. Dia langsung menepis tangan Kuroro dengan kasar, dan melipat kedua tangannya di dadanya memasang wajah cemberut. Kuroro hanya tersenyum tipis melihat tingkah Kurapika. Dia benar-benar suka dengan wajah cemberut itu.
Ah, apakah author ini bilang 'suka'? yaaahh… mungkin begitulh kira-kira.
Kuroro lalu melepas kemeja lengan panjang putihnya, dan melingkarkan lengan kemeja itu di pinggang Kurapika. Kurapika sontak terkejut dengan perlakuan Kuroro.
"Hei! Apa yang kau lakukan!" bentak Kurapika.
Akhirnya Kuroro selesai mengikatkan kemeja itu di pinggang gadis itu, sehingga Kurapika saat ini sudah lebih terlihat seperti anak perempuan, meskipun terkesan tomboy di mata orang. Yah, yang terpenting ada kata 'perempuan.'
"Kau diam saja, nenek cerewet!" ejek Kuroro seraya kembali berjalan, meninggalkan Kurapika.
"Dasar kakek busuk! Biadab! Bejat!" maki Kurapika kesal seraya menyusul Kuroro.
Langkah Kuroro terhenti ketika ia sampai di dapan rumah hantu. Seringai langsung terukir di wajahnya.
"Kau mau masuk di sini?" tanya Kurapika.
"Yah,"
"A—aku tidak ikutan ah!" tolak Kurapika.
"Kenapa? Kau takut hantu yaaahh?" goda Kuroro. Dia hampir menemukan kelemahan Kurapika.
"Aku tak takut dengan hantu! Apalagi hantu mainan seperti itu!" elak Kurapika.
"Lalu kenapa kau tak ingin masuk?" tanya Kuroro dengan nada yang lebih terdengar mengejek.
"Pokoknya aku tidak mau masuk!"
Kuroro tak mengubris Kurapika. Dia tetap berjalan, membeli tiket untuk dua orang.
"Hei, berapa kali aku harus memberi tahumu?"
"Dasar pengecut!" dua kata pedas dari Kuroro itu sukses membungkam mulut Kurapika.
Dikepalkannya tangannya kuat-kuat menahan amarah. Kurapika berusaha mengendalikan emosinya. Setelah berhasil, gadis itu menghela nafas panjang. "Huuuhhh… baiklah!" ujarnya mantap, sukses mengukir senyum kemenangan di wajah tampan sang Lucifer.
Kuroro pun memasuk rumah hantu itu, diikuti oleh Kurapika. Setelah masuk, Kuroro menghentikan langkahnya, membuat Kurapika menaikkan sebelah alisnya bingung.
Kuroro lalu berbalik, dan mengulurkan tangannya pada Kurapika yang ada di belakangnya. "Nanti kau hilang! Ayo!" ucap Kuroro santai.
Kurapika yang seolah maksud dari perkataan itu pun sontak kaget. "Ah! Tidak perlu! Aku bisa jalan sendiri!" tolak Kurapika seraya mempercepat jalannya, hingga saat ini ia berada di samping Kuroro. Kuroro hanya tersenyum tipis.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
"Kalau nanti ada apa-apa, kau jangan cari kesempatan dalam kesempitan untuk memelukku!" ucap Kuroro ke-pede-an.
Telinga Kurapika langsung panas. "Memelukmu? Yang benar saja! Aku takkan sudi! Cihh!" balas Kurapika dengan kata-kata yang pedas.
Mereka langsung disambut dengan hantu sudoko yang terlihat begitu menyeramkan. Keduanya tak bergeming, tetap dengan ekspresi mereka masing-masing. Kuroro terkejut, dengan reaksi Kurapika. kenapa tadi Kurapika bersikeras untuk tidak ikut, kalau dia tidak takut hantu? Apa dia takut gelap?
Sementara Kuroro sibuk dengan dunianya sendiri, Kurapika juga sibuk berpikir, berharap apa yang tidak diinginkannya tidak akan terjadi.
Perjalanan mereka pun berlanjut. Mereka tak henti-hentinya disambut dengan hantu-hantu yang menyeramkan, namun tak berhasil membuat perubahan ekspresi di wajah dua pelajar ini.
Kurapika menghela nafas panjang, ketika ia melihat jalan keluar di depan mata. Kuroro menatap penuh kesal ke depan, meski tak terlalu terlihat.
'Ternyata dia memang tidak takut apapun!' pikir Kuroro takjub bercampur kesal.
Ketika pintu keluar tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba muncullah laba-laba mainan seukuran manusia langsung mengejutkan mereka.
"GYAAAAAAAAAAAAAAA!" teriakan Kurapika menggema di seluruh Carnaval, sukses membuat Kuroro yang disampingnya shock berat.
Brukk…
Kurapika terjatuh dengan keadaan duduk. Tubuhnya gemetaran, memperhatikan laba-laba itu. Dia langsung menutup wajahnya dengan tangannya. "Jauhkan! Jauhkan laba-laba itu!" teriak Kurapika dengan nada bergetar.
Kuroro berusaha membantu Kurapika berdiri, dengan memegang bahunya. Kuroro dapat merasakan tubuh Kurapika bergetar hebat. Yah, yang paling ditakutkan Kurapika pun akhirnya terjadi juga. Inilah yang membuat Kurapika gelisah dari tadi. Laba-laba… hewan yang paling ditakuti oleh gadis itu.
"Hei… kau baik-baik saja?" tanya Kuroro khawatir. Rasa penyesalan menghantui hati pemuda itu. Ia tak menyangka bahwa Kurapika akan setakut ini pada laba-laba.
Kuroro memegang kedua pergelangan tangan Kurapika yang terasa dingin, dan menjauhkannya dari wajahnya. Mata Kuroro membulat sempurna ketika melihat mata sapphire gadis itu mengeluarkan cairan bening.
Jlebb…
Entah mengapa Kuroro langsung merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya ketika melihat Kurapika menangis karenanya. Kuroro memandang gadis itu penuh khawatir. Ekspresi itu… tak pernah ia tunjukkan pada siapapun.
Kuroro lalu menarik kepala Kurapika, dan menanamkannya di dada bidangnya, berusaha menenangkan gadis itu. Kurapika tetap menangis ketakutan, di dada Kuroro.
Sepasang kekasih lalu lewat, melewati mereka begitu saja. Kuroro tak mengubris mereka. Dia tetap berusaha menenangan anak buahnya yang satu ini.
Sementara itu, di luar rumah hantu itu,
Gadis yang tadi melewati Kuroro dan Kurapika bersama dengan kekasihnya itu langsung merogoh sakunya, dan mengambil ponselnya, hendak menelpon seseorang.
"Halo, aku sudah mengetahui kelemahan gadis itu…" ucapnya sambil menyeringai.
.
.
.
~TO BE CONTINUED~
Huuuhh… akhirnya chapter 4 selesai… XD
Gomen, kalau ceritanya GaJe gitu! Authornya aja gaje! *plakkk!*
Maksi banyak buat para readers, yang sudah bersedia membaca fic ini! Terutama para reviewer yang udah memberi semangat, saran, dll yang membuat Natsu bersemangat buat ngelanjutin fic ini!
Buat para reviewer yang login, Natsu udah balas lewat PM! Nah, ini balasan buat yang gak login :
. Airin Aizawa susah login :
Lho, kok susah login sih Airin-chan? *plakk!*
Makasih udah R&R yaaaaa… XD
Hehehehehe…
Yaaahh… mereka emang sama-sama gak peka mah perasaan mereka masing-masing sih!
Waaaahh! Analisa Airin-chan keren! Jenius! ^^
Yosh! moga Airin-chan suka chapter ini!
. Kay Inizaki-chan
Hweeee… *ngadu ama Kurapika nee-chan*
Makasih udah bersedia R&R, Kay-chaaaann…
Hahahaha! Kuroro nii-kun, Kuroro nii-kun… *geleng-geleng kepala*
He-eh! Hari kamis nanti, kalo gak salah yah?
Yosh! segitu aja! Sekali lagi Natsu ucapin bwaaaanyak terima kasih buat para reviewer!
Sekarang, bolehkah author lebay ini meminta review anda sekalian untuk yang kesekian kalinya? Mau ngasih kritik, saran, konkrit, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^
Akhir kata, review please… X3
~ARIGATOU~
NATSU HIRU CHAN
