Gak mau banyak cincong dulu!
Langsung baca aja deh! *plakkk!*
.
Cerita sebelumnya :
Entah mengapa Kuroro langsung merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya ketika melihat Kurapika menangis karenanya. Kuroro memandang gadis itu penuh khawatir. Ekspresi itu… tak pernah ia tunjukkan pada siapapun.
Kuroro lalu menarik kepala Kurapika, dan menanamkannya di dada bidangnya, berusaha menenangkan gadis itu. Kurapika tetap menangis ketakutan, di dada Kuroro.
Sepasang kekasih lalu lewat, melewati mereka begitu saja. Kuroro tak mengubris mereka. Dia tetap berusaha menenangan anak buahnya yang satu ini.
Sementara itu, di luar rumah hantu itu,
Gadis yang tadi melewati Kuroro dan Kurapika bersama dengan kekasihnya itu langsung merogoh sakunya, dan mengambil ponselnya, hendak menelpon seseorang.
"Halo, aku sudah mengetahui kelemahan gadis itu…" ucapnya sambil menyeringai.
.
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Title : Am I Really Hate You?
Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan
Genre : Romance and Friendship
Rated : T (buat jaga-jaga)
Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!
Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!
Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.
.
.
.
.
Don't like, don't read… XD
.
Chapter 5 : Spider?
.
Kurapika nampak malamun di kelasnya, di saat semua teman sekelasnya tengah asyik menghabiskan waktu istirahat mereka yang berlangsung selama setengah jam itu.
Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia harus menangis, di hadapan Kuroro, tepatnya tiga hari yang lalu, saat mereka jalan-jalan di Carnaval. Sekarang pun, Kurapika masih agak ragu juga bertemu dengan Kuroro, mengingat bahwa Kuroro MEMELUKNYA di rumah hantu itu, dan Kurapika malah menumpahkan segala tangisnya di dada bidang Kuroro. Oh, itu sungguh hal yang begitu memalukan! Apalagi saat ini Kuroro sudah tahu kelemahan Kurapika. Pasti ada-ada saja cara Kuroro untuk memperbudaknya, dengan memanfaatkan kelemahan Kurapika itu. Saat ini posisi Kurapika benar-benar terpojok oleh permainan Kuroro.
Tapi beruntungnya, sejak tiga hari yang lalu, kenapa Kuroro tak penah menghubunginya? Apa dia juga merasa canggung, sama seperti yang dirasakan Kurapika saat ini?
"Haaaahhh…" Kurapika menghela nafas sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya. Matanya menerawang ke atas, memperhatikan langit-langit yang didominasi dengan warna putih itu.
Ia jadi ingat masa kecilnya, ketika ia masih berumur 2 tahun, seekor laba-laba besar langsung terjatuh di wajahnya. Sejak itulah Kurapika benar-benar takut dengan laba-laba. Menyebut namanya saja dia sudah merinding.
Kurapika langsung merasakan ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk. Kurapika dengan malas merogoh saku blezernya, dan melihat pesan yang tertera di sana.
From : Fucking Boy
No title
Cepat belikan aku ramen instan dan sekaleng soda di kantin! Ramen instannya jangan lupa kau siram air panas dulu! Kutunggu kau di atap, dalam waktu 2 menit!
Senyuman mengembang di wajah gadis itu. Akhirnya 'bos'nya memerintahnya juga. Dengan cepat ia langsung menuju kantin, dan membelikan pesanan Kuroro.
.
Kurapika sampai ke atap sekolah, dengan membawa segelas ramen instan yang sudah jadi, serta sekaleng soda dingin untuk Kuroro.
Matanya membulat, ketika melihat saat ini tangan kanan Kuroro terbalut perban. Di wajahnya tertempel banyak perban.
"Kau kenapa?" tanya Kurapika seraya meletakkan pesanan Kuroro di sampingnya, dan duduk di samping Kuroro sambil bersandar ke tembok.
"Aku kecelakaan dua hari yang lalu," jawab Kuroro enteng, seraya membuka sumpit yang tertempel itu dengan satu tangan kirinya. Kurapika hanya ber-oh-ria.
Namun tangan kiri Kuroro tak terbiasa memegang sumpit dengan baik, hingga sumpitnya harus terjatuh beberapa kali. "Uuughh!" geram Kuroro kesal.
"Dasar bodoh!" gumam Kurapika lalu mengambil ponselnya, dan memainkan sesuatu di sana. 'Apa dia sudah lupa dengan kejadian di carnaval yah?' pikirnya heran.
"Hoi…" panggil Kuroro pelan.
"Hn," Kurapika menoleh dengan malas.
"Cepat suapi aku!"
Wajah Kurapika langsung memerah mendengar perintah Kuroro. "A—apa maksudmu? Kau bisa makan sendiri 'kan! Yang benar saja!" tolak Kurapika kesal. Kenapa Kuroro tak pernah berpikir bahwa mereka tak punya hubungan apa-apa, selain bos dan anak buah?
"Kau menolak perintahku, anak buah?" tanya Kuroro menatap Kurapika tajam.
"Soalnya perintahmu itu ngaco!"
"Ngaco bagaimana? Aku 'kan hanya menyuruhmu menyuapiku! Tangan kananku sakit bodoh! Seandainya aku menyuruhmu mengambil bola naga di langit ke-7, itu baru ngaco!"
"Pokoknya aku tak mau menyuapimu! Kau makan saja pakai kaki!"
"Kau itu bodoh yah?" Kuroro menghela nafas. "Suapi aku, atau aku akan memberimu laba-laba yang besar!"
Mata Kurapika membulat sempurna. Dugaannya benar. Kuroro pasti akan menggunakan 'itu' untuk memanfaatkannya. Kuroro hanya menyeringai melihat perubahan ekspresi dari Kurapika.
Dengan kasar Kurapika merampas sumpit dari tangan kiri Kuroro, dan mulai mengaduk ramen instannya. Kuroro hanya tersenyum puas. Ternyata bernar-benar menguntungkan, membawa Kurapika jalan-jalan pada saat itu.
Kuroro membuka kecil mulutnya, membiarkan Kurapika menyuapinya.
Namun diluar dugaannya, bukannya ia disuapi dengan lembut dan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu yang menyuapi anaknya, namun Kurapika malah menyuapi Kuroro dengan begitu kasar, tanpa meniup ramennya terlebih dahulu. Hingga bibir Kuroro harus merasakan panas mie mendidih, serta sentuhan kasar dari sumpit itu.
Kuroro mengunyah ramen itu dengan paksa, sebelum menelannya.
"Kau tak bisa lebih lembut sedikit, tidak sih?" protes Kuroro mengelap sekitar bibirnya yang penuh kuah ramen akibat ulah Kurapika tadi, dengan punggung tangan kirinya.
"Jangan banyak protes! Makan saja!" kata Kurapika galak. Kuroro hanya bisa pasrah saja.
"Panaaas!" protes Kuroro.
"Diam!"
"Lembutlah sedikit! Kau malah makin menyiksaku!"
"Kalau berani protes, kusiram kepalamu dengan ramen ini!"
"Kau coba saja sendiri!"
"Aku takkan segan!"
Ketika Kurapika hendak BENAR-BENAR ingin meyiram Kuroro, lututnya malah tergelincir akibat kuah ramen yang bertumpahan di lantai, hingga membuatnya harus jatuh dipelukan Kuroro. Kuroro tersentak kaget, namun ia hanya diam, menatap Kurapika. Kurapika malah memegang dada dan bahu Kuroro tanpa sadar, berusaha untuk kembali berdiri. Roknya tersibak, sehingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
Brakkk…
Suara pintu atap itu langsung terbuka oleh sesorang, sukses mengagetkan Kuroro dan Kurapika.
Wajah Kurapika sontak memerah, sedangkan Kuroro hanya berkspresi datar.
Seorang gadis manis, berambut jingga agak keriting sebahu menatap mereka dengan tatapan malu. Gadis itu nampak kaget, melihat posisi Kuroro dan Kurapika saat ini. Siapapun yang melihat mereka berdua pasti akan berpikir salah.
"M—maaf, aku sudah menganggu senpai…" ucap anak itu takut seraya menutup kembali pintunya, meninggalkan Kuroro dan Kurapika yang masih shock.
Plakkk!
Tamparan panas langsung mendarat di wajah Kuroro, begitu Kurapika baru tersadar dari shocknya. Ia segera menyingkir dari Kuroro, dan membetulkan pakaiannya.
"Kenapa kau menamparku?" protes Kuroro memegangi pipinya, bekas tamparan Kurapika.
"Dasar mesum!"
"Hei, bukannya kau yang jatuh dan malah memelukku? Aku tak pernah menyentuhmu lho!"
"Diam! Bagaimana kalau anak anak tadi salah paham dan membocorkannya!"
"Dia anak kelas satu 'kan?" Kuroro tetap terlihat santai.
"Bagaimana mungkin kau bisa sesantai itu?" bentak Kurapika.
"Diamlah anak buah! Kau itu berisik sekali!"
Kurapika memandang Kuroro penuh sebal. "Sudahlah! Aku capek, berdebat denganmu! Aku mau pergi menemui anak kelas satu itu dan memintanya agar tak membocorkan hal ini pada siapapun!" ujar Kurapika seraya meninggalkan Kuroro yang menatapnya datar.
"Apa dia benar-benar membenciku yah?" gumam Kuroro menatap kepergian Kurapika.
.
Sementara itu, di dekat toilet wanita, gadis yang tadi tanpa sengaja melihat Kuroro dan Kurapika di atap saat ini sedang dikepung oleh beberapa siswi kelas tiga, termasuk Pakunoda.
"Ha? Kau melihat mereka berdua di atap?" ucap Pakunoda tak percaya.
"I—iyah senpai… kulihat… Kuruta senpai menggoda Kuroro senpai. Dan Kuroro senpai hanya diam saja…" kata gadis itu takut-takut.
"Cih! Sialan bocah Kuruta itu!" decak Pakunoda penuh amarah. "Kali ini aku tak akan mengampuninya…"
.
~AM I REALLY HATE YOU?~
.
08.00 pm.
Kurapika, dengan piyama biru muda, dengan sweater merahnya nampak memasuki Hunter High School yang gelap gulita, tanpa membawa satu senter pun.
Perasaannya sungguh kesal, ketika membaca pesan yang masuk di ponselnya sepuluh menit yang lalu.
New Number
No title
Kita ketemuan di Sekolah, di ruang auditorium lama. Aku menunggumu di sana! Cepat!
Dari Kuroro.
Note : Aku baru ganti ponsel, makanya aku memakai nomor yang baru.
Kurapika sempat berpikir, kenapa Kuroro memanggilnya malam-malam begini? Apa Kuroro dihukum untuk membersihkan ruang auditorium tua itu, dan memanggil Kurapika agar dia yang mengerjakannya? Tapi kenapa harus malam?
Namun Kurapika membuang dulu segala perkiraannya, dan memasuki gerbang sekolahnya yang gelap.
Ia langsung menuju ruangan itu. Namun sayangnya ia tak melihat tanda-tanda Kuroro ada di sana. Akhirnya Kurapika memutuskan untuk masuk ke sana.
"Kuro—"
BRUAAAAKKKK!
Baru saja Kurapika hendak mencari Kuroro, namun lantai yang terbuat dari kayu yang sudah sangat rapuh itu sukses membuat Kurapika harus terjatuh ke ruang bawah tanah yang ada di audiotirium itu..
"Aaaakkhhh!" Kurapika memegangi kakinya yang sakit, akibat keseleo.
Ia langsung mendongkak ke atas, melihat lubang besar, tempatnya jatuh tadi yang setinggi 5 meter darinya. Kurapika berdecak kesal. diedarkannya pandangannya ke seluruh tempat yang hanya seluas 4 x 2 meter itu, mencari tempat untuk berpijak agar dia bisa naik kembali. Namun hasilnya nihil, ruangan kecil itu gelap dan kosong. Cahaya bulan yang sedikit masuk membuatnya makin terlihat menyeramkan.
"Kurorooooo!" panggil Kurapika, berharap Kuroro mendengarnya dan langsung datang bagaikan seorang superman yang langsung menyelamatkannya.
Namun tak ada jawaban sedikitpun. Kurapika mulai berpikir, 'apa aku dijebak? Selain itu… Kuroro tak mungkin mengganti ponselnya! Tapi siapa?' pikirnya ragu.
Brukk…
Kurapika terjatuh di lantai dingin tempat itu dengan shock. Ia harus menunggu sampai pagi di sana, hingga seseorang menemukannya besok. Perasaan takut dan khawatir mulai menghantui pikirannya. Bukan takut akan gelap maupun hantu, namun tempat itu begitu kotor, dan terdabat banyak sarang… laba-laba…
Kurapika memeluk lututnya di sana dengan erat, berharap tak ada seekor laba-laba yang ia lihat di sana.
Tap… tap… tap…
Senyuman langsung mengembang di wajah gadis itu ketika mendengar suara langkah kaki seseorang dari atas. Ia pun segera berdiri dan mendongkak.
Di atas, terlihat dua orang, memegang dua buah stoples, berisi laba-laba yang cukup besar. Seringai terlihat di wajah kedua orang itu. Dijatuhkannya laba-laba itu, ke lubang, tempat Kurapika berada. Mereka berdua pun segera meninggalkan tempat itu dengan senyum mengerikan. "Gadis itu pasti akan mati ketakutan!"
"Kuro—KYAAAAA!" Kurapika segera menghindar, ketika melihat dua ekor laba-laba besar jatuh dari atas sana. Tubuhnya langsung penuh gemetar. Ia segera berusaha menjauh, menjauh dari laba-laba yang seukuran setengah kepalan tangan itu.
Namun lantai yang licin, membuat Kurapika harus terjatuh. Matanya membulat sempurna, ketika seekor laba-laba datang mendekatinya.
"HWAAAAAAAAAAA!" teriaknya sambil menutup wajahnya erat-erat dengan tangannya. Seluruh tubuhnya langsung terasa dingin dan bergetar. Kurapika hanya berharap, laba-laba itu tak semakin mendekatinya.
Namun harapannya tidak terwujud, ketika laba-laba itu mulai menaiki kakinya. Teriakan Kurapika pun makin histeris saja.
Matanya kini sudah sangat basah, akibat ketakutan karena menangis. Dia hanya bisa menutup wajahnya erat-erat. Takut… dia sangat takut dengan laba-laba itu. Rasanya ia ingin pingsan saja. Laba-laba yang seolah tak mengerti perasaan Kurapika itu malah semakin mendekat, hingga ia sampai di pinggang Kurapika.
"KUROROOOOOOOO!" histeris Kurapika, bahkan bisa terdengar di seluruh sekolah yang besar itu. Entah kenapa dia langsung memanggil nama itu. Nama orang terdekatnya saat ini.
"Kurapika!"
Gadis itu dapat mendengar suara orang yang paling ia harapkan datar terdengar dari atas. Namun ia masih saja menangis ketakutan, karena laba-laba itu sudah sampai di bahunya.
Kuroro, pemuda yang tadi berteriak memanggil Kurapika langsung ikut turun di lubang itu, tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Ia segera menyingkirkan laba-laba yang mengganggu Kurapika.
Dilihatnya gadis itu masih menutup wajahnya, dan terisak. Tubuhnya bergetar hebat. "Hickk… hick…"
"Kurapika…"
"Hweeee!" Kurapika langsung memeluk tubuh Kuroro begitu erat, hingga Kuroro harus terduduk dengan Kurapika yang memeluknya. Terlihat sedikit rona pink tipis di wajah pemuda itu. Ia merasakan tubuh Kurapika begitu dingin.
Kuroro pun membalas pelukan Kurapika begitu erat. Entah mengapa sekujur tubuh gadis itu langsung terasa hangat. Kuroro dapat merasakan tubuh Kurapika bergetar hebat. Ia tahu, pasti Kurapika sangat takut.
"Tenanglah…" ucap Kuroro lembut, seraya mengelus lembut punggung gadis itu, berusaha menenangkannya. Namun Kurapika masih saja menangis di pelukan Kuroro.
'Siapa yang melakukan ini?' pikir Kuroro.
Kurapika masih saja menangis ketakutan di dada Kuroro, seolah ia lupa apa yang akan Kuroro katakan padanya besok. Besok Kuroro pasti langsung menggodanya habis-habisan.
Di luar dugaannya, Kuroro langsung memengang kedua sisi kepala Kurapika, menariknya hingga jarak antara bibir mereka pun hilang. Kuroro mencium Kurapika begitu lembut, berharap gadis itu bisa tenang.
Kurapika bukannya menolak, namun ia malah membalas ciuman Kuroro. Kehangatan menyeruak di seluruh tubuhnya.
Semakin lama ciuman itu semakin membuat kedua pelajar itu merasakan panas dari tubuh mereka masing-masing. Satu tangan Kurapika merangkul leher Kuroro, dan satu tangannya lagi menyentuh dada pemuda itu. Sedangkan kedua tangan Kuroro malah memeluk pinggang Kurapika erat.
"Tadi aku mendengar suara keributan dari sini!"
"Apa ada orang yang jatuh?"
Suara keributan dari atas sukses membuyarkan kemesrahan Kuroro dan Kurapika. Mereka berdua segera menjauh dan saling membelakangi. Wajah Kurapika saat ini sudah memerah, bagaikan tomat yang tertanam di belakang rumahnya. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri, telah tenggelam dalam Kuroro.
Sekitar tiga orang pria pun datang, dan menyelamatkan mereka berdua.
"Terima kasih, atas pertolongan anda," ucap Kuroro dengan ekspresi datarnya.
"Kenapa kalian berdua bisa berada di sini?" tanya seorang pria tua dengan wajah ramahnya.
"Aku dan temanku tadi membersihkan ruang ini di sekolah. Tapi kami baru ingat, kalau kami lupa mengunci pintunya. Akhirnya kami pun langsung ke sini malam-malam, dan ternyata lantainya begitu rapuh, jadi…" bohong Kuroro. Kurapika hanya menunduk.
"Waaah… lain kali kalian harus lebih berhati-hati…" ucap paman itu seraya meninggalkan Kuroro dan Kurapika dalam keheningan.
"Biar kuantar pulang," ucap Kuroro datar, seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
"Eeeehh…?"
"Cepat!" Kuroro malah meninggalkan Kurapika.
Kurapika menatap punggung pemuda itu sebal. 'Baiklah Kurapika! Aggap saja ini tak pernah terjadi! Pulang nanti, kau seolah tak pernah ke sekolah ini!' kata hati kecil Kurapika. Kurapika pun menurutinya, dan mengikuti Kuroro dari belakang.
Dilihatnya Kuroro menyalakan motor spot biru tua yang dikombinasikan dengan hitam itu.
"Mana mobilmu?" tanya Kurapika menaikkan sebelah alisnya.
"Sedang di service! Aku 'kan sudah kecelakaan!" jelas Kuroro. Kurapika hanya ber-oh-ria. "Naiklah!" perintah Kuroro.
Dengan ragu, Kurapika naik ke motor Kuroro. Diambilnya helm yang diserahkan Kuroro, lalu memakainya.
"Pegangan yang kuat!" ucap Kuroro seraya memacu motornya dengan kecepatan 60 km/jam.
Kurapika memeluk pinggang Kuroro dari belakang dengan erat, mengingat saat ini Kuroro melaju dengan cepatnya. Oh tuhan! Mengapa malam ini begitu penuh dengan 'Kuroro?'
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Kurapika. Kuroro mengantar Kurapika sampai ke depan pintu.
"Terima kasih…" lirih Kurapika memalingkan wajahnya.
Kuroro tersenyum tipis, seraya berbalik hendak meninggalkan Kurapika, jika Kurapika tak menarik ujung bajunya. Kuroro berbalik tak percaya.
"Kenapa… kau bisa tahu kalau aku ada di ruang auditorium?" tanya Kurapika ragu.
Kuroro lalu melepas tangan Kurapika dari bajunya. "Aku juga tidak tahu! Aku hanya merasa harus ke sekolah entah karena apa. Tapi aku langsung mendengar suara teriakanmu dari ruangan itu."
Kurapika menunduk, menyembunyikan ekspresinya saat ini. "Ya sudah! Kau pulang sana!" ucap Kurapika segera masuk, dan menutup pintunya.
Kuroro hanya tersenyum tipis, seraya meninggalkan tempat itu.
.
~AM I REALLY HATE YOU?~
.
"Yo!"
"Kyaaaaa!" sapaan Neon yang langsung menepuk keras bahu Kurapika, sukses membuat gadis pirang itu berteriak terkejut.
"Ohayou!"
"Kau ini bikin kaget saja!" kesal Kurapika menahan amarah.
"Hei, kenapa wajahmu memerah begitu?"
Kurapika terkejut mendengar perkataan Neon barusan. Apa saat ini wajahnya sedang memerah? Gadis itu langsung memegangi pipinya, tak percaya dengan apa yang dikatakan Neon. Namun itu benar, Kurapika bisa merasakan wajahnya kini sangat panas.
"Apa kau sakit?" tanya Neon menempelkan punggung tangannya di dahi Kurapika.
"Aku baik-baik saja!" Kurapika menepis tangan Neon dengan kasar, sukses menimbulkan wajah cemberut gadis berambut pink itu.
"Kau ini kasar sekali Kurapika! Aku 'kan khawatiiir!"
"Ya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku! Aku mau ke toilet dulu!" ucap Kurapika datar, seraya meninggalkan kelas yang mulai ramai itu. Neon hanya menatapnya penuh sebal.
.
Di toilet,
Kurapika langsung membasahi wajahnya dengan air dari westafel toilet itu. Diperhatikannya bayangannya di cermin yang ada di depannya saat ini.
Ternyata wajahnya memang memerah. Yah, sedari tadi Kurapika terus memikirkan kejadian semalam. Kenapa Kuroro menciumnya…? Ah! Itu sudah dua kali terjadi! Tapi… kenapa dia malah MEMBALAS ciuman itu layaknya sepasang kekasih?
Kurapika menggigit bibir bawahnya. Diremasnya rambut pirang itu kuat-kuat.
"Aku memang bodoooohhh!" teriaknya sendiri.
"Berisik banget sih…" Kurapika langsung mendengar suara orang yang begitu familiar baginya. Dia langsung menoleh ke belakang tanpa pikir panjang.
Mata sapphire-nya membulat sempurna ketika melihat Kuroro Lucifer, saat ini sedang berdiri di depannya, dengan wajah datar. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celananya.
"KYAAAA! Apa yang kalu lakukan disiniiiI!" teriak Kurapika kaget. "Ini 'kan toilet wanitaaaa!"
Kuroro menaikkan sebelah alisnya. Ia langsung merasakan derap kaki, hendak masuk ke toilet itu. Dengan cepat, ia langsung mendorong Kurapika hingga punggung Kurapika harus berciuman dengan dinding toilet, dan mengurungnya dengan kedua tangan kekarnya. Kurapika hanya bisa membulatkan matanya terkejut. Wajahnya langsung saja memerah. Ia dapat mendengar degupan jantung Kuroro, dan mencium aroma mint dari sana.
Setelah itu masuklah gerombolan siswa Hunter High School, siap mengganti seragam mereka dengan pakaian olahraga.
"Ah, kau ada di sini Lucifer? Cepat ganti baju! Sebentar lagi pelajaran olahraga!" tegur salah seorang dari gerombolan itu, Shalnark, teman sekelas Kuroro.
"Ya, kalian duluan!" ucap Kuroro datar seolah Kurapika saat ini tak berada di depannya.
Kurapika mengerutkan dahinya. Suara laki-laki? Apa dia… salah masuk toilet?
'Kyaaaaa!' teriaknya dalam hati.
.
.
Di kelas, Kurapika hanya bisa mengutuk dirinya yang telah salah masuk ke toilet pria. Setelah kejadin itu, Kuroro langsung menarik tangannya keluar dari toilet itu. Untungnya tak ada yang melihat mereka. Kurapika benar-benar marah dan malu, terutama ketika Kuroro menertawainya.
Ia lalu melirik sebal ke jendela kaca yang ada di samping tempat duduknya. Ia dapat melihat lapangan besar sekolah itu. Dilihatnya para siswa-siswi kelas 3-A, yang mengenakan celana merah selutut, dengan dua garis putih di pahanya, serta kaos putih, yang dikombinasikan beberapa garis merah yang ada di tempat-tempat tertentu sedang berolahraga disana.
Mata Kurapika langsung tertuju pada seorang pemuda berambut hitam berkilau yang sedang duduk di sisi lapangan, dengan gaya dinginnya, tanpa mengubris teman-temannya yang sedang melakukan pemanasan. Cahaya silau matahari membuat rambut hitamnya makin terlihat berkilauan.
Kurapika mengerucutkan bibirnya, menatap pemuda itu penuh kesal. 'Dasar Kuroro menyebalkan!' pikirnya.
Ia pun kembali memperhatikan pelajaran, yang sedang dijelaskan. Sesekali ia melirik ke lapangan, melihat Kuroro yang berlari dengan cepatnya, sukses menimbulkan jeritan-jeritan dari teman sekelas Lucifer itu.
"Hwaaa! Kuroro senpai sedang berolahraga!" jeritan Neon barusan sukses menimbulkan kegaduhan di kelas Kurapika. Seluruh siswi langsung menyerbu jendela kaca, untuk melihat pemuda impian mereka.
Kurapika menatap gadis-gadis itu penuh kesal. 'Dasar cewek-cewek centil!' makinya dalam hati.
.
.
Sepulang sekolah, Kurapika langsung keluar terlebih dahulu. Kalau bisa, ia ingin langsung pulang ke rumahnya. Namun pesan singkat yang kita kenal dengan 'SMS' dari Kuroro yang menyuruh Kurapika untuk menunggunya di depan gerbang itu sukses membatalkan rencana Kurapika.
Sekolah sudah sepi. Namun Kurapika masih setia menunggu di depan gerbang. Tak lama setelah itu, keluarlah Kuroro.
"Yo!"
"Lama sekali!" protes Kurapika kesal.
"Hn, aku harus menunggu seluruh siswi pulang dulu! Kau mau, dimusuhi seluruh siswi yang ada di sekolah ini kalau mereka tahu kau itu anak buahku?"
"Yayaya… selalu itu alasanmu! Telingaku sakit mendengarnya!"
Kuroro tertawa kecil, seraya mengacak puncak rambut pirang Kurapika. "Dasar bocah bodoh! Ayo!" ucap Kuroro seraya menaiki motor spot-nya.
"Kau yang bodoh!" elak Kurapika merapikan rambutnya, dan ikut naik di belakang Kuroro.
Kuroro pun memacu motornya, meninggalkan tempat itu bersama Kurapika yang memeluknya dari belakang.
.
Mereka lalu sampai di apartemen yang sangat besar, dan mungkin merupakan apartemen yang paling tinggi di sekitar sana. Kuroro lalu memarkir motornya, turun, dan masuk ke apartemen itu. Kurapika hanya mengikutinya dari belakang dengan perasaan bingung.
"Hei, ini rumah siapa?" tanya Kurapika menaikkan sebelah alisnya.
"Ini apertemen Pakunoda…" perkataan Kuroro barusan sukses menimbulkan perasaan bingung bercampur kesal di hati Kurapika. Kenapa Kuroro malah membawanya ke sini?
"Hei, kau pura-pura jadi pacarku yah!"
Wajah Kurapika langsung memerah. "Apa maksudmu!" tanyanya tak percaya.
"Teman-temanku, yang hadir di pesta Pakunoda beberapa hari yang lalu… mengira aku pacaran dengan Pakunoda. Padahal Pakunoda itu teman masa kecilku! Mana mungkin aku pacaran dengannya! Jadi untuk membuktikannya, kau harus berpura-pura jadi pacarku!"
Wajah Kurapika semakin memerah saja. "A—aku tidak mau! Kau sendiri yang bilang kalau aku akan dimusuhi!" tolak Kurapika.
Sesaat, Kurapika bisa melihat aura hitam keluar dari pemuda yang ada di depannya. "Mau pura-pura jadi pacarku, atau berita bahwa hari ini kau masuk ke toilet pria akan tersebar di seluruh York Shin!" ancam Kuroro tajam.
"Gluk…" Kurapika meneguk ludahnya. Pemuda ini benar-benar tahu cara mencari kelemahannya. "Huuuhh! Semoga kau mati sengsara!" kesal Kurapika mengerucutkan bibirnya.
Kuroro kembali dengan senyum ramahnya. "Ayo!"
Mereka berdua lalu masuk ke sebuah ruangan yang ada di apartemen itu, setelah menaiki lantai 21 dengan lift. Mata Kurapika menatap kagum, melihat ruangan itu sangat megah. Ruangan besar, yang didominasi dengan cat kuning di bagian dinding, cat biru muda di langit-langit, serta ubin lantai yang berwarna krem. Lampu gantung yang terletak di temgah-tengah menambah kesan indah dan elegan di ruangan itu. Di tengah-tengah, terlihat dua buah sofa panjang, dan satu sofa kecil, serta satu sofa sedang berwarna merah.
Kurapika dapat melihat teman-teman Kuroro, yang merupakan anak dari orang penting sedang duduk di sana, termasuk Pakunoda. Tatapan Pakunoda nampak berbeda, dan penuh kebencian.
"Wah, kau sudah datang, Kuroro? Jadi… itu pacarmu?" ucap seorang pria berambut aneh, yang dikuncir tinggi ke atas.
"Cantik juga…" sambung seorang pemuda berambut coklat, bertampang polos.
Tanpa Kurapika duga, Kuroro langsung saja merangkul dan menarik pinggangnya dari samping. Wajahnya sontak memerah.
"Yah, dia cantik bukan? Pantas jadi pacarku…" ucap Kuroro menyeringai, sukses membuat warna merah di wajah Kurapika makin menjadi-jadi.
Kuroro lalu membawa Kurapika duduk, di sofa sedang untuk dua orang. Kurapika merasa benar-benar kesal, karena tangan Kuroro masih setia memeluk pinggangnya dari samping. Kalau bisa, ia ingin menendang pemuda itu hingga ia terlempar ke bintang. Tapi sayangnya itu tak mungkin.
"Aku masih tak percaya…" ujar Pakunoda akhirnya mulai angkat bicara.
"Aku juga," sambung Machi, membuat Kurapika dan Kuroro agak terkejut, namun berhasil tertutupi.
"Kenapa kalian tak percaya padaku?" tanya Kuroro menaikkkan sebelah alisnya.
"Ya, kami tahu kau itu tak suka pada perempuan! Tak mungkin semudah itu kau mendapat pacar! Selain itu… kalau dia benar-benar pacarmu, ayo buktikan!" ucap Hisoka menyeringai.
Kuroro dan Kurapika bungkam. Keheningan menyelimuti ruangan itu. Seringai tipis terlihat di wajah Pakunoda.
"Baiklah! Akan kubuktikan!" ucap Kuroro, sebelum ia mengecup lembut bibir Kurapika.
Kurapika membulatkan matanya, menerima perlakuan Kuroro. Semua orang yang ada di sana membulatkan mata, melihat aksi Kuroro. Kurapika tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak ingin dicium Kuroro. Namun jika ia menolak ciumannya, teman-teman Kuroro malah akan menganggap Kuroro sebagai pembohong besar.
Kuroro lalu melepas ciumannya. Ditatapnya Kurapika dengan pandangan yang agak aneh. Kurapika bisa melihat rasa… rindu… terpancar di mata onyx yang gelap itu. Namun Kurapika langsung berpikir, bahwa itu pasti hanya perasaannya saja.
"Bagaimana?" tanya Kuroro menyeringai kepada teman-temannya. Kurapika hanya menunduk malu. Ah! Harga dirinya sebagai Kuruta sudah berakhir!
"Kau nekat juga!" puji Shalnark tak percaya.
Tanpa sengaja pandangan Kuroro dan Kurapika bertemu. Kurapika langsung melemparkan death glare-nya pada Kuroro, seolah berkata 'awas kau nanti!' Kuroro hanya menunjukkan wajah innocent-nya pada Kurapika.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan dulu?" usul Nobunaga bersemangat, disusul dengan anggukan dari semuanya, minus Kurapika dan Pakunoda.
Mereka pun langsung menuju ruang makan yang ada di apartemen itu. Kurapika dan Pakunoda berjalan di belakang.
"Blonde…"
Panggilan mengenakkan dari Pakunoda sukses membuat Kurapika sedikit menoleh pada orang yang memanggilnya. "Hn,"
"Kalau benar kau pacar Kuroro… aku pastikan kau akan menderita seumur hidupmu! Jangan dekati Kuroro!"
Perkataan Pakunoda barusan sukses membulatkan mata Kurapika. Dia langsung mendelik tajam pada gadis yang ada di sampingnya itu.
"Aku takkan menyerahkan Kuroro semudah itu padamu! Kuroro itu milikku!" sambungnya lagi.
Kurapika menatap Pakunoda tak percaya. 'Jangan-jangan… dia yang menjebakku semalam…'
.
.
.
~TO BE CONTINUED~
.
Heeeehh…
Akhirnya chapter 5 selesai juga! Gomen, kalo Natsu telat updatenya! Soalnya kagak ada waktu buat ngetik! Urusan sekolah dan lain-lain makin menjadi-jadi saja! *curcol*
Gomen juga, kalo di chapter ini ipar ane, Kuroro Lucifer, dan Onee-chan Natsu, Kurapika Kuruta jadi super OOC gitu! *kePD-an tingkat akut* soalnya Natsu gak tau bikin karakter tokohnya tuh gak OOC!
Yosh! makasih buat para readers yang telah mereview chapter sebelumnya! Natsu benar-benar tertolong dengan review anda sekalian!
Gomen yang sebesar-besarnya, Natsu gak sempet bales review kalian semua!
Sekali lagi Natsu ngucapin makasih banyak yaaaahh!
Sekarang, bolehkah Natsu minta review anda lagi? Mau ngasih konkrit, kritik, saran, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^
Lanjut tidaknya fanfic ini, ditentukan dari review kaliaaaannn! X3
Akhir kata, REVIEW PLEASE…
.
~ARIGATO~
NATSU HIRU CHAN
