Yo minnaaaa! XDD

Natsu kam bek! (come back)

Gomeeeenn! Gomeeeen! Natsu telat bwanget updatenya! Soalnya Natsu baru aja kena musibah! TT_TT

Gomen juga, kalo di ceritanya nanti rada gak nyambung! Soalnya Natsu udah lama banget gak updatenya, jadinya agak lupa deh, ama jalan ceritanya! Habisnya Natsu males, negbaca ulang... =_=" *curcol*

Yosh! Gak usah basa-basi dulu ah! Langsung baca aja!


.

Cerita sebelumnya :

"Kalau benar kau pacar Kuroro… aku pastikan kau akan menderita seumur hidupmu! Jangan dekati Kuroro!"

Perkataan Pakunoda barusan sukses membulatkan mata Kurapika. Dia langsung mendelik tajam pada gadis yang ada di sampingnya itu.

"Aku takkan menyerahkan Kuroro semudah itu padamu! Kuroro itu milikku!" sambungnya lagi.

Kurapika menatap Pakunoda tak percaya. 'Jangan-jangan… dia yang menjebakku semalam…'


.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : Am I Really Hate You?

Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan

Genre : Romance and Friendship

Rated : T (buat jaga-jaga)

Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!

Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!

Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.

.

.

.

.

Don't like, don't read… XD

.


Chapter 6 :

.

"Huaamhh..." entah sudah kesekian kalinya Kurapika menguap di tengah pelajaran berlangsung, membuat teman sebangkunya, Neon bingung sekaligus heran melihatnya.

Tentu saja, Kurapika yang ia kenal keras dan disiplin itu tak mungkin mengantuk di kelas? Apalagi saat pelajaran favoritenya, Sejarah.

"Kau kenapa Kurapika? Sedari tadi menguap terus. Ngantuk yah?" akhirnya Neon berani bertanya.

Kurapika sedikit melirik, sambil menopangkan pipi kirinya di telapak tangannya. "Hn, aku mengantuk sedikit," jawabnya seadanya.

"Kenapa? Kau begadang?"

"Cerewet! Itu bukan urusanmu!" ketus Kurapika. Neon hanya menggembungkan pipinya kesal, atas kelakuan Kurapika.

Tapi sebenarnya bukan hanya mimik mengantuk yang terlihat di paras wajah gadis pirang itu. Bawah matanya berwarna hitam, menandakan bahwa ia kurang tidur. Matanya sayu, dan bibirnya tak merah, seperti biasanya. Singkatnya saat ini wajah Kurapika terlihat begitu pucat. Namun Neon tak mau bertanya lagi. Pasti Kurapika akan menjawabnya dengan ketus.

.

#skip time

Jam istirahat pun tiba. Seluruh siswa maupun siswi keluar kelas, hendak mengusir penat yang dihasilkan oleh kegiatan yang dinamakan belajar itu. Tak terkecuali Kurapika, yang saat ini berjalan dengan guntai, sambil membawa sebuah buku, dan sekotak bento.

Tujuannya satu...

Atap sekolah...

Sesampainya di sana, ia langsung meletakkan barang bawaannya di lantai, dan duduk sambil menyandarkan kepalanya di tembok pembatas.

"Dia kemana sih?" gumamnya seraya melihat jam yang tertera pada monitor ponselnya.

Kurapika menatap langit biru yang cerah. Matanya sedikit ia sipitkan, disebabkan oleh silaunya cahaya matahari yang tak tertutup sedikit awanpun. Ia teringat perkataan Pakunoda, seminggu yang lalu, tepatnya saat Kuroro mengajaknya ke apartemen Pakunoda, untuk memperkenalkannya, sebagai 'pacar' Kuroro.

"Kalau benar kau pacar Kuroro… aku pastikan kau akan menderita seumur hidupmu! Jangan dekati Kuroro! Aku takkan menyerahkan Kuroro semudah itu padamu! Kuroro itu milikku!"

Ia berangan-angan, seandainya saat itu ia tak mengalami kecelakaan? Seandainya saat itu Kuroro tak menolongnya? Seandainya Kuroro itu orang baik yang siap menolong siapapun tanpa mengharap balasan? Seandainya Kuroro tak memanfaatkannya? Seandainya darah Kuroro tak mengalir di tubuhnya... mungkin kehidupannya tidak akan begini.

Ah... tapi itu hanya 'seandainya' saja. Walaupun itu mungkin, Kurapika pasti sudah tidak ada di dunia ini. Ia pasti sudah berada di surga, bertemu dengan mengiang ibunya yang telah meninggal, saat ia masih duduk di bangku SMP. Atau mungkin, dia berada di neraka? Dosa apa yang telah ia perbuat? Ah! Hal itu tak penting, karena perjalanan hidupnya masih panjang.

Lama Kurapika melamun, hingga matanya terasa makin berat. Ia pun memejamkan matanya, dan tertidur dengan posisi duduk, dengan kepala yang tersandar di tembok.

Brakk!

Suara pintu terdengar terbuka dari depan, namun tak berhasil membangunkan Kurapika.

Di sana muncullah Kuroro, dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Ia menatap gadis pirang yang saat ini sedang tertidur pulas.

Kuroro berjalan dengan santai, lalu duduk di samping Kurapika. Pandangannya lalu tertuju pada buku, serta kotak makanan yang saat ini tergeletak di lantai.

Diambilnya buku tulis bersampul hitam itu, dengan namanya yang tertera di sana. Ia lalu membuka lembar perlembar kertas dari buku itu.

Senyuman terukir di wajah tampannya, ketika melihat, buku itu telah penuh dengan tulisan tangan Kurapika. Tentu saja, dua hari yang lalu Kuroro dan kawan-kawannya diberi tugas untuk menulis laporan tentang riwayat orang-orang terhebat di dunia. Dan tentu saja Kuroro, menyerahkan tugas kelas tiga itu, kepada seorang siswi kelas dua. Siapa lagi, kalau bukan Kurapika, gadis yang telah resmi menjadi anak buahnya sekitar lima bulan yang lalu?

Mungkin itulah, yang membuat Kurapika jadi kurang tidur, karena mengerjakan tugas Kuroro.

Kuroro lalu duduk bersandar di samping Kurapika. Diambilnya bento Kurapika, yang sebenarnya untuknya, lalu memakannya dengan lahap, tanpa memerdulikan Kurapika yang saat ini sedang tidur pulas di sampingnya.

Meski Kuroro tahu, bahwa bento itu bukan buatan Kurapika, namun ia menikmatinya.

Duk...

Kuroro sedikit kaget, ketika kepala Kurapika terjatuh,—bukan terjatuh dari lehernya—di bahu Kuroro.

Kuroro menghentikan aktivitas makannya sejenak, dan melirik pada Kurapika.

Setelah itu, ia pun kembali melanjutkan acara makannya.

"Dasar cewek merepotkan,"

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

"Pokoknya aku tidak mau tahu, yang terpenting si pirang itu menjauh dari Kuroro!" tegas seorang gadis pirang sebahu, di kantin sekolah. Saat ini di depannya terdapat sejumlah siswa, yang diketahui adalah teman sekelasnya.

"Tapi Pakunoda-san, dia itu terlalu kuat! Bahkan meski kita tahu kelemahannya, dia masih saja beruntung!" ucap seorang siswa, meyakinkan.

"Benar! Kami juga tak tahu, kenapa dia bisa selamat dari lubang itu!" sambung yang lainnya.

Pakunoda memutar bola matanya. Ia benar-benar kesal dengan si blonde, yang diketahui adalah Kurapika. Awalnya ia kesal melihat Kurapika, karena gadis itu dekat dengan Kuroro. Selain itu ia merasa, kalau Kurapika sama sekali tak menghormatinya, sebagai kakak kelasnya. Namun parahnya lagi, baru saja ia ketahui, kalau Kurapika (meski sebenarnya berpura-pura) adalah pacar lelaki yang selama ini disukainya, Kuroro Lucifer.

Dan Pakunoda lebih kesal lagi, ketika mengetahui bahwa semua rencananya untuk menghancurkan Kurapika itu tak lenyap.

"Aku tidak peduli! Pokoknya bocah ingusan itu harus jauh dari Kuroro!" kesal Pakunoda.

"Ohya Pakunoda..." ucap seorang siswa, seolah ia jauh lebih berani terhadap Pakunoda, dibanding dengan siswa lainnya.

"Ada apa, Phinx?"

"Sebentar lagi 'kan sekolah ini mengadakan festival! Dan kabarnya sih, kelas 2-A, yaitu kelas si pirang itu mengambil tema rumah hantu. Bagaimana kalau kau memanfaatkan kesempatan ini untuk mengganggunya?" saran Phinx.

"Hm, menarik..." Pakunoda menyeringai. "Akan kudengarkan idemu itu..."

.


.

Sementara itu, di kelas Kurapika, tengah terjadi kesibukan, dalam mempersiapkan festival rumah hantu yang akan diadakan lusa malam. Seluruh siswa, siswi maupun guru, tengah mempersiapkan segalanya. Mulai dari riasan-riasan, sampai kostum-kostum menyeramkan yang akan dipakai tiap siswa yang terpilih.

Tak terkecuali Kurapika, yang saat ini sedang melukis sebuah topeng hantu, bersama Neon dan Shizuku.

"Nah! Aku selesai!" ucap Neon bangga, seraya menunjukkan topeng hasil karyanya kepada teman-temannya.

Topeng gadis yang terbilang cukup cantik, dengan rambut pink seperti yang ia punya.

"Kalau topengmu seperti itu, mana ada orang yang ketakutan," komentar Shizuku.

"Memangnya topengmu seperti apa? Seenaknya saja mengomentari milik orang lain!" kesal Neon.

"Ini," Shizuku memperlihatkan hasil karnyanya. Topeng dengan mata berbentuk seperti obat nyamuk, yang tak beraturan. Giginya pun ada yang besar, ada yang kecil. Sebenarnya gambar itu lebih terlihat seperti lukisan anak TK.

"Pffftttt!" Neon seolah menahan tawanya. " Bukannya ketakutan, orang-orang malah akan tertawa melihat gambarmu itu!" ledek Neon. Shizuku hanya mendengus kesal dibuatnya.

"Ohya Kurapika, bagaimana denganmu?" tanya Neon penasaran.

"Nih," Kurapika dengan santainya memperlihatkan hasil buatannya.

Kosong. Hanya ada benang-benang hitam yang terdepat di atas topeng itu.

"Ha?" Neon dan Shizuku melongo melihatnya. "Apa itu? Kau tak melukis, Kurapika?"

"Bodoh, ini hantu tanpa wajah,"

Keduanya langsung sweat drop, mendengar Kurapika. Mengetahui bahwa pikiran gadis itu benar-benar simple, dan tak mau berbasa-basi.

"Pffttt..." Shizuku langsung membungkam mulutnya, menahan tawanya, menjaga perasaan Kurapika agar ia tak tersinggung.

"Haa... Hahaha... BWAHAHAHAHAHAHA!" Neon tak sanggup lagi menahan tawanya. Tawanya langsung saja meledak, membahana di seluruh kelas, bahkan hampir seluruh sekolah. Sampai-sampai anak kelas lainpun menyempatkan diri untuk mengintip, apa yang terjadi si kelas 2-A.

.

Setelah semuanya selesai, juga tentang Neon, (sebenarnya Kurapika langsung menjitaknya tadi). Kini saatnya untuk pemilihan peran.

Masing-masing siswa diberikan kertas kecil, yang berisi tentang peran mereka masing-masing. Ada yang jadi hantu, ada juga yang jadi penata cahaya, maupun suara. Ada pula yang menjadi penyambut tamu, penjual sovenir maupun makanan ringan.

Kurapika memutar bola matanya, ketika gilirannya untuk memilih sudah tiba. Tahun lalu ia menjadi penata cahaya, dan semuanya berlangsung dengan baik. Tapi rasanya, tahun ini ia lebih ingin menjadi orang lewat, atau tepatnya figuran, kalau memang peran itu ada.

Ia lalu mengambil secarik kertas dari kotak yang di sediakan, dan langsung membacanya. Disaat itu pula ia langsung membatu di tempat.

"Wah, aku jadi penjemput tamu. Kau jadi apa, Kurapika?" tanya Neon.

Tak dijawab, Neon pun langsung merebut kertas Kurapika, dan membacanya.

"Hantu kucing?" gumam Neon. "Hantu kucing tanpa satu mata menyeramkan yang kepalanya bersinar itu?"

Kurapika masih saja membatu. Seumur hidup ia tak pernah berperan menjadi hantu. Tapi kenapa tahun ini ia menjadi sial begini?

"Wah, jadi Kurapika yang jadi hantu kucingnya? Pasti seru!" ucap guru kelas itu bersemangat. "Ohya, nanti kau akan muncul dari sumur lho..."

"H—he-eh..."

.


.

Kurapika menopangkan kedua sikunya di atas tembok pembatas yang ada di atap, sambil memperhatikan pemandangan sekolahnya dari atas. Membiarkan angin siang membelai rambut pirangnya.

Dipejamkannya matanya, membiarkan angin itu membelainya menimbulkan rasa tenang dan nyaman.

Ketenangan itu langsung sirna, ketika ia merasakan seseorang menepuk bahunya dari belakang. Dengan malas ia menoleh, dan orang tanpa mata, hidung maupun mulut lah yang ia temui.

"Waaa!" jeritnya kaget, dan tanpa pikir panjang dulu, ia langsung mendur.

Namun tembok pembatas yang hanya setinggi pinggangnya itu, membuatnya kehilangan keseimbangan.

Kurapika pun terjatuh dari atas atap, dan meninggal karena pendarahan.

.

Tamat.

*author digampar readers*

Itu seharusnya terjadi, jika orang yang tadi menepuk bahu Kurapika tidak langsung memeluk pinggang Kurapika, dan menariknya.

Bruk!

Keduanya pun terjatuh di lantai, dengan Kurapika yang ada di atas orang itu.

Topeng tanpa mata hidung dan mulut, singkatnya saja topeng tanpa wajah itu pun terlepas dari si pemakai, meperlihatkan wajah tampan seorang Kuroro Lucifer.

"Ngh..." erang Kurapika, mengangkat wajahnya.

Matanya membelalak, ketika menyadari bahwa saat ini ia sedang berada di atas orang yang paling ia benci, Kuroro Lucifer.

"Kyaaaa! Apa yang kau lakukan, cowok mesum!" jerit Kurapika langsung saja menghindar dari Kuroro. Terlihat rona merah di wajah cantiknya.

"Bodoh! Aku 'kan baru saja menyelamatkan jiwamu!" ucap Kuroro santai, seraya bangun. "Ngomong-ngomong kau makan apa sih? Berat sekali!"

Wajah Kurapika makin memerah. "Bodoh! Aku tak seberat itu, bodoh! Lagi pula kau sendiri yang mengagetkanku!" bantah Kurapika.

"Baiklah, aku menyerah,"

"Huh!" dengus Kurapika. "Hei, kenapa topeng itu ada padamu?" tanya Kurapika, seraya mengambil topeng tanpa wajah buatannya yang tergeletak tak bernyawa di lantai.

"Hm, itu? Aku meminjamnya dari teman sekelasmu. Yah, aku sengaja meminjamnya untuk menakut-nakutimu," jelas Kuroro enteng, tanpa adanya raut penyesalan sedikit pun di wajahnya.

"Dasar menyebalkan!" dengus Kurapika. Kuroro tak mengubrisnya.

Keheningan menyelimuti mereka berdua...

"Em—"

"Kau jadi apa nanti?" tanya Kuroro memotong perkataan Kurapika.

"Hm? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Jawab saja!"

"Kucing," jawab Kurapika singkat. "Di sumur,"

Kuroro nampak berpikir sejenak, sedangkan Kurapika hanya berkespresi datar, tak mengubrisnya.

Seringai terlihat jelas di wajah Kuroro. Entah mengapa Kurapika bisa merasakan aura dingin memancar di sekitarnya.

"K—kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kurapika, merasa tak enak badan, dilihat seperti itu oleh Kuroro.

Kuroro mendekatkan wajahnya, pada telinga Kurapika, membuat Kurapika geli oleh dasahan nafasnya.

"Awas, biasanya tempat seperti itu dihuni oleh laba-laba, baik mainan, maupun sungguhan," bisik Kuroro, sukses membuat Kurapika membatu.

"A—apa maksudmu?" Kurapika berbalik, menatap Kuroro. Tanpa sadar bahwa saat ini jarak antara wajah mereka hanya berkisar antara 3 sampai 5 inci saja.

"Rumah hantu bukan rumah hantu namanya, kalau tidak ada laba-laba!" jelas Kuroro.

Bulu Kurapika langsung bergidik ngeri. Kuroro dapat melihat aura ketakutan di mata biru gadis itu. Ia benar-benar menyukai ekspresi takut Kurapika yang seperti itu.

"I—itu tidak mungkin terjadi! Kalau memang ada, aku akan meminta pada guru, untuk tidak meletakkannya di dekatku! Beres 'kan?" ucap Kurapika, yang terdengar seperti sedang menghibur diri.

"Terserah kau saja. Tapi kusarankan agar kau hati-hati!" ujar Kuroro, seraya berdiri dan langsung meninggalkan tempat itu.

"Apa pedulimu! Dasar tukang ikut campur!" kesal Kurapika.

Kemudian ia kembali merenung, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

"Nih!" kata Kurapika dengan nada kesal, seraya memberikan sekantung es krim, kepada Kuroro.

Mengapa? Tentu saja karena Kuroro baru saja mengiriminya email, untuk membelikannya es krim Soda Bar, yang di jual di kantin Hunter High School.

"Lama sekali," ucap Kuroro, langsung saja merampas kantungan itu. Kurapika hanya mendengus kesal.

Kuroro melihat isi kantungan itu. Namun entah mengapa semangatnya untuk makan es krim sirna seketika, ketika melihat isi kantungan itu bukanlah es krim yang ia pesan.

"Hei, apa ini? Bukannya aku menyuruhmu untuk membelikan es krim soda?"

"Di kantin habis! Jadi aku beli yang itu! Lagipula es krim itu lebih mahal dibanding dengan es krim soda yang kau maksud itu!" jelas Kurapika. Ia harap, Kuroro akan menyukainya.

Srakk! Srak! Srakkk!

Mata Kurapika langsung saja memanas, ketika melihat Kuroro membuang es krim itu ke bawah (maksudnya bawah itu, Kuroro dan Kurapika lagi ada di atas atap sekolah), tanpa pikir panjang, dengan wajah datar, tanpa dosa.

"Hei apa yang kau lakukan?" teriak Kurapika, mencegah Kuroro, setelah semua es krim yang susah payah ia beli, terjatuh di bawah sana. Tentu saja ia kesal. Ia harus antri berjam-jam untuk membeli es krim itu, selain itu, uangnya pula yang menjadi korban. Ditambah dengan ia harus menaiki tangga, untuk sampai ke atap, dengan mengangkat kantungan yang berat itu. Bagaimana tidak kesal? Dan Kuroro malah DENGAN SANTAINYA, tanpa memikirkan penderitaan Kurapika, ia membuang es krim itu ke bawah.

"Aku pesan es krim soda bar! Bukan es krim bodoh itu!"

"Tapi di kantin habis!"

"Kau bisa beli di mini market dekat sekolah!"

"Itu tidak mungkin! Kalau aku keluar, sama saja dengan aku membolos!"

Kuroro mulai kesal juga, dengan sikap Kurapika yang keras kepala."Kau itu anak buahku! Jadi kau harus menuruti segala perintahku,"

"Aku tidak mau!" lawan Kurapika tegas.

"Dasar tidak berguna!"

"MAAF SAJA YAH, KALAU AKU TIDAK BERGUNA!" bentak Kurapika, sukses membungkam Kuroro. "Aku berhenti jadi anak buahmu!"

Kurapika pun segera berbalik, dan meninggalkan tempat itu. Bukannya mengejar, layaknya anak cowok yang mengejar kekasihnya yang merajuk, Kuroro hanya diam, dan menatap Kurapika datar. Tentu saja! Mereka memang bukan sepasang kekasih, bukan?

"Dasar! Kuroro bodoh!' batin Kurapika, tetap saja berlari. 'Masa gara-gara eskrim saja dia marah? Seperti anak kecil saja!'

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

Malam yang dinanti-nanti para siswa Hunter High School pun akhirnya tiba juga. Seluruh anggota yang berperan dalam festival iti sudah bersiap-siap.

Kurapika pun sudah siap dengan kostumnya. Baju tebal terusan mulai dari ujung tangan hingga ujung kaki berbulu coklat. Terdapat kuku palsu di kostom itu, dan res di punggungnya. Sebenarnya Kurapika memakai dalam baju kaos biru, dan celana pendek putih, karena ia sudah menduga bahwa kostum ini akan membuatnya gerah dan kepanasan. Topeng atau lebih tepat kita sebut helm kucing yang besar itu tergeletak di atas meja.

"Kurapika, bagaimana?" tanya Neon, langsung saja mencul di depan Kurapika.

Ia terlihat memakai kostum pelayan restaurant berwarna pink. Rambut panjangnya ia ikat ekor kuda, membuatnya terlihat makin manis saja.

"Terserah kau sajalah! Aku tidak peduli," ketus Kurapika.

"Hai teman-teman," Shizuku datang dengan kostum penyihirnya.

"Wah, kau manis sekali Shizu!" puji Neon. Sedangkan Kurapika hanya bersikap acuh tak acuh.

"Anak-anak, ayo mulai!" panggilan dari wali kelas mereka, sukses menghentikan pembicaraan ketiga gadis itu.

Entah mahluk halus macam apa yang lewat di dekatnya, Kurapika langsung saja memikirkan Kuroro. Apa pemuda itu ikut dalam festival ini, apa ia akan memasuki rumah hantu?

"Aaaahh! Apa yang kupikirkaaann!" ucap Kurapika segera mengusir pikiran itu jauh-jauh.'Aku sudah tidak peduli! Lagipula aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya!'

Kurapika lalu mengambil helm kucingnya, dan pergi meninggalkan tempat itu. Memang agak susah untuk berjalan, dengan kostumnya yang seperti itu. Namun Kurapika tetap pergi.

.

Semuanya berjalan lancar saja. Sejak tadi Kurapika yang memakai kostumnya terus saja bersembunyi di dalam sumur pendek, sambil berjongkok. Sekali-kali ia langsung muncul tiba-tiba, dengan kepala yang bersinar, ketika merasakan derapan kaki seseorang mendekat. Tentu saja tujuannya untuk menakut-nakuti orang itu, dan untungnya hal itu berhasil.

"Kyaaaa! Hantu kuciiiingg!" entah mengapa Kurapika merasa puas dengan jeritan itu. Ia merasa, bahwa tugasnya berlangsung dengan sangat baik.

Sepuluh menit pun berlalu. Kurapika mulai pegal juga di bawah sana. Selain itu, ia kepanasan. Dan... sedikit takut...

Bukan takut dengan gelap, maupun hantu. Melainkan ketakutan akan laba-laba yang mungkin saja langsung muncul di depannya.

"HiiiI!" membayangkannya saja sudah membuat bulu Kurapika bergidik ngeri. Entah mengapa gadis itu begitu takut dengan hewan berkaki delapan itu?

"Kau itu benar-benar pemberani yah, Kuroro,"

"Hn, itu 'kan hanya bohongan! Kenapa harus takut?"

Kurapika terkejut, mendengar suara yang tak asing lagi baginya. Yaitu suara Kuroro. Mungkinkah itu benar Kuroro? Tentu saja! Pasalnya teman seperjalanannya tadi baru saja memanggil nama kecilnya.

Kurapika berpikir dua kali. Apakah ia harus muncul secara tiba-tiba, atau diam saja? Kalau dia muncul, bisa-bisa Kuroro mengetahuinya, dan malah akan menggodanya besok. Tapi kalau ia tidak muncul, itu artinya ia lalai dalam menjalankan tugasnya.

Lama Kurapika berpikir, sampai Kuroro dan temannya pun lewat begitu saja, tanpa adanya kemunculan seekor kucing yang tak lain adalah Kurapika.

'Aku memang bodoh!' gumam Kurapika, mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia takut Kuroro akan menggodanya? Bisa saja 'kan, ia mengalihkan pembicaraan?

Namun sialnya hal itu sudah terjadi, dan tak bisa terulang lagi.

"Fuuuiihh..." Kurapika menghela nafas, setelah ia melepas helm kucingnya. Peluh menetes di dahinya. Rambut pirangnya pun kini sudah lepek.

Bruk!

Kurapika bisa merasakan setumpuk, sesuatu yang kecil menghujaninya dari atas.

"Apaan sih?—GYAAAAAAA!" baru saja kurapika akan protes, namun ketika menyadari bahwa yang menjatuhinya itu adalah tumpukan laba-laba karet, Kurapika tentu saja terkejut bukan main.

"LEPASKANN! LEPASKAAAAAAAAN!" teriakan Kurapika menggema di seluruh sekolah, membuat semua yang ada di sana segera berlari, untuk melihat apa yang terjadi.

Dan orang yang pertama kali melakukan hal itu adalah Kuroro, dan temannya Shalnark.

Dilihatnya saat ini Kurapika sedang duduk, sambil memeluk lutut, dan menanamkan wajahnya di sana, di bawah sumur.

Melihat rambut pirang pendeknya, Kuroro langsung tahu bahwa ia adalah Kurapika. Terlihat pula dari teriakannya yang menggema.

"Kurapika!" tegur Kuroro. Namun Kurapika tak mengubrisnya. Ia tetap menangis, dalam dekapannya sendiri. Sebenarnya ia mendengar suara itu, namun Kurapika terlalu shock hanya untuk sekedar mendongkak ke atas.

"Kau mengenalnya, Kuroro? Ah! Dia 'kan pacarmu!" ujar Shalnark. Sama seperti Kurapika, Kuroro juga tak menjawab. Ia tetap melihat Kurapika, yang berada sejauh dua meter di atas permukaan tanah.

Tak lama setelah itu, datanglah guru-guru, hendak melihat apa yang terjadi. Mereka segera menolong Kurapika, tanpa berpikir dua kali.

Kurapika pun di angkat dari sumur itu. Betapa terkejutnya Kuroro, ketika melihat kondisi gadis itu. Matanya sapphire-nya basah, oleh air mata, begitu pula dengan pipinya. Pandangannya kosong, serta raut wajahnya benar-benar pucat. Tubuhnya pun bergetar hebat.

"Kau kenapa, Kuruta?" tanya salah seorang guru terhadap Kurapika.

Kurapika hanya menggeleng lemah. Kuroro diam saja dan menatapnya. Sebenarnya, ia ingin langsung menarik tangan Kurapika, dan membawanya pergi dari tempat itu. Namun jika ia melakukan itu, bisa-bisa Kurapika menjadi musuh seluruh siswi yang ada di Hunter High School. Selain itu saat ini mereka sedang bertengkar.

"Hei Kuroro! Kau mau ke mana?" tanya Shalnark, begitu melihat Kuroro berbalik, meninggalkan tempat itu.

Kuroro tak menjawab. Ia tetap berjalan dengan wajah datarnya. Sejujurnya, ia muak melihat wajah menyedihkan Kurapika. Ah? Kenapa begini? Bukannya dulu ia begitu senang melihat ekspresi Kurapika yang seperti itu? Ekspresi yang menunjukkan betapa lemah dan rapuhnya ia? Kuroro sendiri tak mengerti.

Kurapika sejenak melirik pada Kuroro, serta Shalnark yang menjauh dari tempat itu. Muncul SEDIKIT kekecewaan di hatinya. Sebenarnya ia sempat berpikir, bahwa Kuroro akan menariknya, dan membawanya pergi jauh dari tempat itu. Ah, apa yang dipikirkannya? Itu benar-benar MENJIJIKAN!—menurutnya.

"Nostrad, tolong antar Kuruta ke ruang ganti!" perintah seorang guru, tentu saja pada Neon, yang juga berada di tempat itu.

"Baik sensei!" Neon pun menarik pergelangan tangan Kurapika, yang terasa dingin itu, dan membawanya menjauh dari tempat itu.

.

"Kamu kenapa sih, Kurapika?" tanya Neon.

Kurapika, saat ini duduk di atas kursi, sambil memegang gelas yang berisi air putih. Sejujurnya ia masih shock, dengan kejadian tadi.

Siapa yang melakukan itu padanya? Memang, ia mencurigai Pakunoda, adalah dalang dari semua ini. Namun bagaimana ia bisa tahu, kalau Kurapika benar-benar takut dengan laba-laba? Sejauh ini, hanya Kuroro saja yang mengetahuinya.

"Kurapika!" teguran Neon, sukses membuyarkan lamunan Kurapika.

"Ah?"

"Kamu kenapa sih? Tiba-tiba kamu teriak-teriak di bawah sumur! Setauku, kau tidak takut pada apa pun!"

"Hm, aku baik-baik saja,"

"Baik-baik saja? Bagaimana mungkin tubuh gemetaranmu itu baik-baik saja?"

"Aku bilang aku baik-baik saja!"

Neon langsung saja bungkam. Apa dia benar-benar Kurapika?

.


.

Kurapika saat ini sedang membaca buku di perpustakaan sekolah, pada saat jam istirahat. Entah mengapa Kurapika merasa agak lain. Biasanya, Kuroro selalu memanggilnya ke atap sekolah. Tapi sekarang, rasanya Kurapika begitu bebas. Aneh memang, rasanya. Kuroro seharian ini belum pernah memanggilnya. Yah, bukannya mereka sedang bertengkar?

Selain itu, ada yang Kurapika pikirkan. Tentang kejadian semalam, di rumah hantu. Siapa yang begitu jahatnya memberi Kurapika setumpuk laba-laba karet itu? Memangnya apa Kurapika pernah berbuat salah pada orang lain. Dan, dari mana orang itu tahu kelemahan Kurapika?

"Hei," lamunan Kurapika buyar, ketika merasakan seseorang menepuk bahunya, dan duduk di sampingnya.

Ia dengan sontak berbalik, dan Pakunoda lah yang ia dapati.

"Mau apa kau?" ketus Kurapika. Ia kembali membaca bukunya, seolah menganggap Pakunoda hanyalah angin yang lewat.

"Kau selalu saja ketus, seperti biasanya..." komentar Pakunoda, seraya tersenyum. Tentu saja Kurapika tahu bahwa itu adalah senyuman palsu, seperti senyuman yang dimiliki Sai, dari fandom sebelah.

"Bukan urusanmu,"

Diam-diam, Pakunoda menatap Kurapika kesal. Namun ia terus berusaha untuk bersabar. "Ohya, ngomong-ngomong, dimana Kuroro?"

"Mana kutahu!"

"Kau 'kan pacarnya! Masa tidak tahu?"

"Terserah aku!"

Pakunoda semakin naik pitam saja, melihat tingkah Kurapika. "Kalau begitu, aku boleh titip ini?" ucap Pakunoda, sraya menyerahkan sesuatu pada Kurapika.

Kurapika dengan malas melihat apa yang diserahkan Pakunoda. Matanya membelalak, ketika melihat benda yang ada di genggaman Pakunoda adalah sebuah laba-laba karet kecil, yang ternyata adalah salah satu dari puluhan laba-laba yang menghujaninya semalam.

"Kyaaaaaa!" Kurapika berteriak, saraya mundur, saking kagetnya. "K—kau mengajak berkelahi yah?"

"Ah, ini hanya mainan! Kenapa kau begitu takut?" Pakunoda tetap saja berekspresi tenang.

"JAUHKAN DARIKU!" Kurapika berteriak sangat keras, membuat seluruh penghuni perpustakaan langsung saja menoleh padanya.

"Baik, baik..." ucap Pakunoda seraya memasukkan mainan itu ke saku blazernya. "Aku baru tahu, kalau kau begitu takut dengan laba-laba,"

"Kenapa benda itu bisa ada padamu?" tanya Kurapika. Tentu saja ia begitu ingat, bahwa itu adalah salah satu dari laba-laba kemarin.

"Oh, tadi Kuroro menjatuhkan sekotak yang penuh dengan mainan itu. Lalu aku membantunya memungutkannya, ternyata ada ketinggalan satu. Jadi aku berniat untuk mengembalikannya,"

Kurapika tersentak kaget. "Apa maksudmu? Apa... laba-laba itu milik... Kuroro," suara Kurapika memelan, ketika menyebut nama itu.

"Hm, tentu saja. Kau tahu? Kuroro itu sangat suka dengan laba-laba..."

Kurapika masih saja terdiam. Jika laba-laba itu milik Kuroro, itu artinya... Kuroro lah yang mengerjainya semalam? Benar juga! Saat itu, suara Kuroro lah, yang pertama kali ia dengar pada saat kejadian itu.

"Ohya, kalau begitu, aku pergi dulu yah! Kalau kau bertemu Kuroro, katakan padanya kalau aku mencarinya! Sampai jumpa!" maka Pakunoda pun pergi, meninggalkan Kurapika dalam diam.

.

Pulang sekolah, Kuroro tengah berjalan ke tempat parkir. Tentu saja setelah ia lolos dari para fangirl gila itu. Ia harus menunggu beberapa menit di kelas, sampai seluruh siswa pulang. Kini hanya mobilnya saja yang tersisa di sana.

Mata Kuroro menangkap sosok Kurapika yang berdiri di dekat mobilnya, sambil melipat kedua tangannya di dadanya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kuroro.

Tatapan Kurapika menajam, membuat Kuroro heran. Memang sih, Kurapika sedang marah padanya, tapi sepertinya hari ini Kuroro sama sekali tak melakukan apa-apa.

"Berikan tasmu padaku!" perintah Kurapika.

"Apa makusdmu?" Kuroro menaikkan sebelah alisnya.

"Berikan saja! Cepat!" Kurapika meninggikan suaranya.

Dengan pasrah, Kuroro menyerahkan tasnya pada Kurapika. Ia tak tahu apa yang dipikirkan gadis itu.

Dengan kasar, Kurapika merampas tas hitam itu. Digeledahnya barang-barang yang berada di sana. Kuroro hanya bisa menatap Kurapika penuh keheranan.

Mata Kurapika membelalak, ketika mendapati sebuah kotak kecil. Dikeluarkannya kotak itu, dan menatapnya tak percaya. Dengan pelan, Kurapika mencoba membukanya.

"Hei!" Kuroro langsung saja merampas kotak itu. "Kau mau apa sih?"

"Berikan!"

"Tidak akan,"

"Berikan!" Kurapika berusaha merampas kotak itu, namun Kuroro malah meninggikan tangannya, hingga Kurapika tak dapat meraihnya.

"Memangnya isinya apa? Kenapa kau begitu menyembunyikannya?"

"Bukan urusanmu! Maumu apa sih?"

"Kubilang—akh!"

Ucapan Kurapika terpotong, ketika Kuroro langsung saja membenturkan punggungnya ke tembok, menggenggam kedua tangannya, dan menguncinya di sana.

Kuroro semakin mendekatkan wajahnya, pada wajah Kurapika, dan menatapnya tajam. Kurapika yang semula menatap kuroro tajam, kini memalingkan wajahnya. Ia dapat merasakan hembusan nafas Kuroro menabrak wajahnya.

"Hari ini kau benar-benar aneh!" ucap Kuroro, dengan nada serius. "Apa yang terjadi?"

"Lepaskan aku!"

"Cepat jelaskan! Atau kau kucium!"

"Kau ini sudah gila yah?"

"Jelaskan!"

Perdebatan mereka terus berlanjut, tanpa ada satupun yang hendak mengalah.

"Kyaaaaa! Kuroro-senpai sedang bermesraan dengan pacar cantiknyaaaa!"

Mata keduanya membelalak sempurna, mendengar teriakan barusan. Mereka sontak menoleh, ke sumber suara. Di sana terlihat Shalnark, sedang tersenyum jahil.

Kuroro nampak tenang tenang saja, sedangkan Kurapika terdiam, dengan wajah yang super merah. Yah, dengan posisi itu siapa saja yang melihatnya pasti akan berpikir yang tidak-tidak.

Kuroro pun segera melepaskan genggaman tangannya. Ditatapnya pemuda berambut coklat itu dengan tatapan super tajam. Shalnark yang ditatap seperti itu langsung merasakan aura dingin mengelilinginya.

"Ah, baik, baik! Aku tidak akan mengganggu kalian! Selamat bersenang-senang!" ucap Shalnark, seraya meninggalkan tempat itu. Diam-diam dia masih tersenyum jahil, atas 'pemandangan langka' yang baru saja ia lihat.

Tentu saja itu pemandangan langka! Yang ia ketahui, Kuroro adalah pemuda yang tidak terlalu dekat dengan perempuan, meski rayuan mautnya itu bisa menahlukkan siapapun —minus Kurapika dan Machi— Selain itu ia memang agak enggan, menyentuh perempuan, kecuali Pakunoda. 'Ternyata dia bisa berlaku seekstrim itu,' pikir Shalnark.

Kembali ke Kuroro dan Kurapika,

"Lihatkan! Dia jadi salah paham!" bentak Kurapika, sambil memegangi pergelangan tangannya, yang digenggam oleh Kuroro tadi. Memang sih, rasanya agak sakit. Saking kerasnya genggaman Kuroro tadi, sampai meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangan Kurapika.

Kuroro menghela nafas pelan. "Sudahlah, aku mau pulang,—hei!"

Begitu menemukan kesempatan, Kurapika langsung saja merebut kotak itu dari Kuroro, dan segera membukanya, tanpa pikir panjang terlebih dahulu.

"Hyaaaaa!" Kurapika berteriak, dan langsung saja membuang kotak, yang ternyata berisi mainan laba-laba, yang dikatakan Pakunoda tadi. Kurapika terjatuh, dengan paras yang terlihat benar-benar terkejut.

Terlihat paras kepasrahan di wajah Kuroro. Ia lalu membungkuk, dan membereskan kotak itu.

"Sudah kubilang, jangan! Kau malah keras kepala! Lihat! Kau jadi takut begitu!"

Kurapika seolah tak mendengar apa yang dikatakan Kuroro. Ia masih agak shock, sekaligus tak percaya. Dugaannya benar. Kuroro lah yang menjahilinya semalam.

Setelah Kuroro memasukkan kotak itu ke dalam tas-nya, dijulurkannya tangan kirinya, hendak membantu Kurapika berdiri. "Ayo, hari sudah mulai senja,"

Plakk!

Dan langsung saja di tepis oleh Kurapika. Kuroro hanya diam, dengan wajah datarnya.

"Aku bisa sendiri!" ucap Kurapika, seraya berdiri.

Tatapannya langsung meruncing. "Tidak usah sok baik!"

Kuroro menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan perkataan Kurapika.

"Kamu 'kan, yang menghujaniku dengan laba-laba mainan semalam, di rumah hantu?"

"Hei, aku sama sekali tidak mengerti maksud—"

Bughhh!

Kepalan tangan Kurapika langsung saja mendarat di pipi Kuroro, membuat pemuda itu harus tersungkur beberapa meter ke tanah. Pipinya merah dan bengkak. Hidung dan sudut bibirnya pun mengeluarkan cairan merah kental. Ternyata gadis itu benar-benar kuat.

"AKU SANGAT MEMBENCIMU!" teriak Kurapika kesal.

Ia segera berbalik dan berlari, meninggalkan Kuroro yang diselimuti oleh rasa bingung sekaligus heran.

Kurapika terus saja berlari, tanpa memperdulikan orang-orang yang menegurnya, karena tertabrak oleh dirinya sendiri.

Ia tak tahu perasaan apa ini. Kecewa, kesal, marah, sedih. Semuanya bercampur menjadi satu.

MUNGKIN Kuroro lah orang yang paling ia percayai saat ini. Tapi ketika mengetahui hal ini, perasaan itu hancur begitu saja.

.

TO BE CONTINUED


.

Aaaahh...! Akhirnya chapter ini selesai juga!

Natsu seneng banget deh! XD

Gomen, kalo chapter ini ceritanya aneh! Soalnya Natsu lagi gak feel, pas negetik!TT_TT Benar-benar hasil yang gagal!

Ohya, gomen juga, kalo Natsu update-nya kelamaan! Soalnya gak ada kesempatan buat ngetik! Selain itu Natsu paling males, kalo feel-nya tiba-tiba aja ilang! Jadi sebel gitu!

Ohya! Buat yang suka ama Pakunoda, sekali lagi gomen yang sebesar-besarnya! DX Natsu gak ada maksud buat nge-bash chara! Yah, biar ada konfliknya, jadi gitu deh... sekali lagi gomen, kalo ada yang kesinggung dengan sikap Pakunoda! Kalo ada yang keganggu, protes aja!^^ okey?


Nih balasan review chapter sebelumnyaaa! XD! Natsu gak inget, apa Natsu udah bales review kalian jauh-jauh hari sebelumnya! Tapi, buat jaga-jaga, bales aja ah!

.

Kay Lusyfniyx :
Makasih udah R&R!^^
Pika nee-chan donk! X3 Tapi kegantung ama jalan ceritanya siiiihh!
Kuroro nii-kun mesti milih Kurapika nee-chan donk! XD

Airin Aizawa :
Makasih udah R&R^^
Hehehehehe...

Kujo Kazuza Phantomhive :
Hehehehehe! Makasih udah R&R^^
Yah, Pakunoda, Pakunoda...^^

Scarlet85 :
Makasih udah R&R^^
Hehehehe! Natsu ketawa, ngebaca review-nya Scarlet-san!^^
Shirogane tuh apaan Scarlet-san?
Hmmm... iya sih, kalo natsu pikir-pikir, Kurapika nee-chan di chapter ini kelihatan lemah banget! TT_TT *siap2 dirajam Kurapika nee-chan*

whitypearl :
Makasih udah R&R^^
Hyaaaa! *blushing ngeliat Kuroro nii*
Pakunoda jangan kelewat dibenci yah Pearl-chaaaan! (taku ada yg marah, nantinya)
Hehehehe!

Reiyana :
Makasih banyak buat reviewanyaaaa!^^

Sekarang, Natsu boleh minta review lagi gak? lanjut tidaknya fic ini ditentukan dari review kaliaaaan!^^ *evil smirk*

.

NATSU HIRU CHAN