Yo minna-saaaannn!

Gak mau basa-basi dulu! Langsung baca aja!^^

Happy read...

.

Cerita sebelumnya :

"AKU SANGAT MEMBENCIMU!" teriak Kurapika kesal.

Ia segera berbalik dan berlari, meninggalkan Kuroro yang diselimuti oleh rasa bingung sekaligus heran.

Kurapika terus saja berlari, tanpa memperdulikan orang-orang yang menegurnya, karena tertabrak oleh dirinya sendiri.

Ia tak tahu perasaan apa ini. Kecewa, kesal, marah, sedih. Semuanya bercampur menjadi satu.

MUNGKIN Kuroro lah orang yang paling ia percayai saat ini. Tapi ketika mengetahui hal ini, perasaan itu hancur begitu saja.

.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : Am I Really Hate You?

Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan

Genre : Romance and Friendship

Rated : T (buat jaga-jaga)

Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!

Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!

Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.

.

.

.

.

Don't like, don't read… XD

.

Chapter 7 :

.

"Jadi, kegunaan zat Hidrofobik ialah untuk melarutkan ion yang dilepaskan oleh sabun dan detergen sehingga dapat larut dalam air..."

Tak ada satu pun perkataan dari gurunya, yang Kurapika dengarkan. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri saat ini. Satu tangannya ia topangkan pada pipinya, dan satunya lagi terlipat di atas meja. Tatapannya memang langsung ke angka maupun huruf-huruf yang tertera di papan tulis. Namun pikirannya sudah melayang kemana-mana.

Ia tak menyangka, bahwa ternyata orang yang mengerjainya dua hari yang lalu adalah Kuroro, orang yang... entahlah... bahkan Kurapika sendiri tak tahu posisi Kuroro baginya. Yang ia tahu... ia membencinya. Sangat membencinya! Bagaimana tidak? Sekitar tiga bulan yang lalu, Kuroro menjadikannya anak buah, karena di dalam tubuh Kurapika mengalir darahnya. Lalu, Kuroro tak ada ampunnya memanfaatkan, mengejek, dan menggoda Kurapika? Bagaimana tidak kesal? Selain itu... kejadian kemarin semakin membuat perasaan Kurapika bergejolak saja.

"Nghhh..." Kurapika menutup kedua matanya, berusaha menghilangkan perasaan itu. Namun hal itu malah mendapatkan teguran dari gurunya.

Kurapika memutar bola matanya. Pandangannya langsung tertuju pada teman sebangkunya. Neon. Gadis berambut pink panjang itu saat ini (dengan sembunyi-sembunyi) sedang memainkan ponsel pink dengan gantungan kunci strawberry-nya. Kurapika langsung tahu, bahwa ada pesan yang masuk, begitu ia melihat lampu-lampu kecil di sisi ponsel itu berkedip-kedip.

Blushh...

Seketika wajah Neon yang putih mulus kini berubah menjadi merah. Kurapika menaikkan sebelah alisnya, memperhatikan gerak-gerik gadis manja itu.

Neon langsung menoleh pada Kurapika, menyadari hal itu, Kurapika langsung memalingkan wajahnya, sebelum Neon tahu bahwa sedari tadi Kurapika memperhatikannya.

Pandangan Neon lalu kembali pada monitor ponselnya. Sebuh pesan singkat, dari salah seorang siswa di sekolahnya.

Sore ini yah! Ohya! Aku juga mengajak salah seorang temanku! Mungkin lebih baik kau juga melakukannya,

Seketika pikiran Neon langsung tertuju pada Kurapika. Tapi sepertinya gadis pirang itu lebih sulit untuk diajak melakukan hal seperti ini. Apa salahnya dicoba? Pikirnya.

"Nostrad! Apa yang kau lakukan?" tegur guru yang mengajar, langsung membuyarkan lamunan Neon.

"A—ah! Gomen!" ucap Neon salah tingkah.

.

.

"Menemanimu kencan dengan seseorang? Yang benar saja! Aku tidak tertarik," ketus Kurapika, sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Neon yang ada di sampingnya, yang telah membereskan seluruh barangnya sepulang sekolah memasang tampang cemberut.

"Ayolah Kurapikaaa! Soalnya, hanya kau yang tidak tertarik dengan—" Neon langsung membatalkan bicaranya, mengingat bahwa ia tak boleh memberi tahu siapapun tentang kencan ini.

"Dengan apa?"

"Ah tidak! Cowok ini cukup populer! Jadi kalau aku mengajak yang lain, mereka pasti akan cemburu! Makanya aku mengajak gadis berhati es sepertimu!"

"Es juga bisa mencair, bodoh..." gumam Kurapika tanpa sadar. Ia langsung saja membungkam mulutnya menyadari kalimat bodoh itu baru saja terlontar darinya.

"Ah, tadi kau bilang apa?" untunglah Neon tak mendengarnya.

"Aku malas! Lagipula aku tak mau jadi obat nyamuk ketika kau kencan nanti! Memangnya harus yah, membawa teman saat kencan dengan seseorang?" tolak Kurapika.

Neon memasang tampang memelasnya, dan langsung memeluk lengan si blonde, membuat Kurapika jadi muak. "Ayolah Pika-chaaaann! Teman kencanku juga membawa teman koook!"

"Aku bilang tidak mau! Lepaskan!"

Neon lalu melepaskan tangannya, dan menyemberutkan wajahnya kesal. "Ya sudah kalau kau tidak mau!" kesal Neon lalu berbalik membelakangi Kurapika. Ia lalu menoleh sedikit, sambil menyeringai. " Itu artinya buku cetakan asli A Study In Scarlet milik ayah akan langsung melayang ke gudang!"

Mata Kurapika membelalak sempurna.

.

.

"Ya ampuuuunn! Kenapa kau memakai pakaian seperti ituuu!" protes Neon, melihat Kurapika yang saat ini terduduk di sisi ranjangnya yang berukuran queen size.

Kamar serba pink itu membuat mata Kurapika sakit. Saat ini ia mengenakan celana jeans panjang, dan kemeja orange kotak-kotak. Ia masuk hanya mengenakan kaus kaki putih, sedangkan sepatu kets birunya harus menunggu di luar.

"Memangnya kenapa? Ada apa dengan penampilanku?"

Neon menepuk jidatnya. "Sudahlah..."

"Hei! Mana buku yang kau janjikan?" tagih Kurapika.

Neon memutar bola matanya. Kenapa dia harus memiliki teman seperti Kurapika? Egois, sulit ditebak, membosankan, dan galak? Mereka berdua benar-benar tidak cocok satu sama lain! Tapi entah benang merah macam apa yang membuat mereka jadi sedekat ini.

"Tunggu, aku ambilkan!" ucap Neon malas seraya meninggalkan Kurapika.

.

Mata Kurapika membelalak, melihat siapa yang menjadi teman kencan Neon kali ini. seorang pemuda jakung berambut coklat, mengenakan jeans hitam, dan singlet hijau lumut. Kaca mata hitam besar menyangkut di ubun-ubun pemuda itu. Teman kencan Neon... Shalnark?

"S—selamat sore senpai..." sapa Neon malu-malu. Kurapika hanya mengikutinya dari belakang.

Dirasakannya Shalnark langsung memandangnya. "Wah, jadi dia teman yang kau ajak?" ucapnya tersenyum ramah, seolah ia sama sekali tak mengenal seorang yang bernama Kurapika Kuruta.

"Ohya, teman senpai mana?" tanya Neon tanpa menjawab pertanyaan Shalnark.

"Ah, dia sedang membeli minuman! Sebentar lagi akan kembali kok!" Neon hanya mengangguk mengerti. Sedang Kurapika hanya berpura-pura tidak peduli.

"Ah! Itu dia~!" ucap Shalnark, seraya menunjuk teman yang ia maksud, sedang menuju ke arahnya dengan membawa sekaleng soda.

Mata Kurapika membelalak, melihat pemuda itu, yang tak lain tak bukan adalah Kuroro Lucifer. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya, dan langsung menggenggam erat tangan Neon, membuat gadis serba pink itu meringis.

"Ahh! Apa sih?" protes Neon dengan nada berbisik.

"Aku tiba-tiba tidak enak badan! Aku mau pulang!"

"Pulang? Mana boleh begitu! Kau 'kan sudah janji!"

"Pokoknya aku mau pulang!"

Shalnark, yang mendengar perdebatan itu hanya berpura-pura tidak mendengar, sambil sesekali terkikik geli. Sepertinya semua ini sudah direncanakan.

Mata Neon lalu tertuju pada Kuroro, yang menuju ke arahnya. Wajahnya langsung memerah. "Kyaaaa! Itu 'kan Kuroro senpai! Jadi dia teman Shalnark senpai?" jerit Neon pada Shalnark. Shalnark hanya membalasnya dengan seulas senyum.

Lain halnya dengan Kurapika. Gadis itu berusaha menutup wajahnya, dengan bersembunyi di belakang Neon. Keringat dingin sudah mencucuri wajahnya. Ia saat ini tidak ingin bertemu Kuroro dulu, mengingat mereka sedang bertengkar. Apalagi saat itu Kurapika sudah melayangkan tinjunya di pipi Kuroro. Mungkin Kuroro akan membalasnya.

"Kau lama sekali!" protes Shalnark. Ia lalu melirik kecil pada Kurapika yang masih dalam keadaan gugup.

"Terserah aku! Bukannya kau yang memaksaku untuk ikut?" ucap Kuroro dengan nada agak kesal, sedangkan Neon masih memandang Kuroro dengan pandangan tak percaya.

Merasa diperhatikan, Kuroro lalu menoleh pada Neon. Wajah Neon semakin memerah, ketika Kuroro mengeluarkan senyuman mautnya. Shalnark hanya menatap Kuroro dengan tatapan aneh. Mengapa pemuda berambut hitam berkilau itu begitu berbakat dalam hal merayu wanita?

Tatapan Kuroro lalu berpindah pada 'sesuatu' yang bersembunyi di belakang Neon. "Kau juga membawa teman? Baguslah! Aku jadi tidak sendirian, melihat kalian berdua bermesraan!"

Deg!

Jantung Kurapika berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Demi tuhan! Kenapa ia terus saja ditimpa nasib siaaall! Pegangannya di bahu Neon samakin mengerat.

"Hahaha, Kuroro senpai bisa saja," ucap Neon, disertai dengan semu merah di wajahnya.

"Ohya, siapa temanmu itu?" tanya Kuroro penasaran.

Shalnark bersikeras menahan tawanya, melihat pertunjukan di depannya ini. Semua berjalan sesuai rencananya. Singkatnya saja, Shalnark lah yang merencanakan semua ini. Ia tahu, bahwa Kuroro dan Kurapika sedang bertengkar, dari sikap Kuroro yang berubah. Pemuda itu jadi jarang menyentuh ponselnya. Juga dari sikap Kurapika yang selalu berusaha menjauhi Kuroro. Maka pemuda penggemar elektronik itu pun merencanakan, untuk kencan ganda, bersama Kuroro dan Kurapika.

Semakin Kuroro berusaha untuk melihat wajah Kurapika yang tersembunyi, semakin Kurapika menunduk. Shalnark pun semakin terkikik geli, dan Neon terlihat semakin bingung.

Mata Kuroro membulat sempurna, katika ia berhasil mengendus aroma Kurapika. Ia begitu kenal dengan aroma gadis itu. Aroma teh segar, bercampur dengan aroma mint. Namun aroma itu agak pudar, karena bercampur dengan bau farfum yang dipakai Neon.

Kuroro langsung mengambil kesimpulan bahwa gadis itu adalah Kurapika. Mata hitamnya lalu mendelik pada Shalnark, yang mengangkat bahu SOK tidak mengerti.

"Hhhhh..." Kuroro menghela nafas. Tatapannya lalu beralih pada Shalnark. "Aku mau pulang! Aku ada urusan mendadak!" ucap Kuroro malas.

"Lho, kenapa?" tanya Neon. "Padahalkan asyik, kalau kencan ganda bersama dua cowok terpopuler di HHS?"

Kuroro kembali tersenyum. "Maaf, tapi aku harus pulang, Nona..."

Neon hanya memandang Kuroro dengan bingung. Sedangkan Shalnark menatap kesal pada Kuroro. Keduanya seakan-akan akan memasuki era perang dunia ke III.

Kelegaan langsung menyelimuti Kurapika. Syukurlah! Kuroro bertindak sesuai yang ia inginkan. Kuroro pun berjalan, menjauh dari tempat itu.

"Huh!" Shalnark mendengus, menatap kepergian Kuroro. "Dasar!"

Kurapika langsung muncul di belakang Neon. "Aku juga mau pulang!" ucap Kurapika seraya langsung berlari, tanpa seizin Neon.

"Kurapika!" panggil Neon, namun tak diubris oleh gadis pirang tersebut.

"Huuuh! Mereka kenapa sih?" tanya Neon kesal.

Shalnark tertawa geli. "Mungkin mereka terikat benang merah,"

"Apa maksud senpai?" tanya Neon menaikkan sebelah alisnya.

"Ah! Tidak..." tangan Shalnark langsung meraih tangan Neon, membuat gadis bersurai pink itu membelalakkan matanya.

"Ayo! Kita kencan berdua saja!" ucapnya sara membawa Neon berjalan, bersamanya. Neon hanya diam seribu bahasa, dengan wajah merona merah.

.

.

Kuroro sedang berjalan, menulusuri jalanan kota YorkShin yang cukup ramai di sore hari. Ia tak habis pikir, kenapa Shalnark melakukan ini? Apakah tingkahnya yang berbeda memang jelas, saat ia sedang bertengkar dengan Kurapika. Dan ia harus bertemu dengan gadis itu?

Sebenarnya Kuroro juga marah terhadap Kurapika. Gadis itu langsung saja menuduhnya tanpa bukti yang jelas, dan langsung memukulnya. Siapa yang tak marah coba?

Entah sengaja maupun tidak, kesalah pahaman terjadi diantara mereka berdua, dan sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk menyelesaikan masalah ini baik-baik. Mereka berdua terlalu egois, dengan pendapat masing-masing. Tak ada yang mau mengalah, meski saat ini sebenarnya kemenangan berada di pihak Kuroro, karena pemuda itu memegang banyak kelemahan Kurapika. Sedangkan Kurapika sama sekali tak mengetahui apa yang memalukan dari seorang Kuroro Lucifer

Kuroro lalu sampai di taman yang ada di pinggiran kota. Taman itu cukup sepi, disebabkan karena baru-baru saja didirikan taman hiburan, yang sepertinya jauh lebih menyenangkan.

Kuroro lalu mengambil tempat di salah satu bangku taman itu, lalu berbaring dengan kedua tangannya di lipat ke belakang, menjadi bantalan. Satu kakinya ia tekuk, dan satunya lagi dibiarkan lurus.

Perasaan tenang menyelimuti pemuda itu. Suasana YorkShin memang berbeda dengan Ryu Seigai. Tempat ini memang agak padat, namun ada banyak tempat yang bagus, menarik untuk dikunjungi.

Lama kelamaan, mata Kuroro mulai terasa berat, termakan oleh rasa nyaman ini, hingga akhirnya ia pun terlelap dengan tenang.

.

Bayang-bayang seorang gadis kecil berambut pirang sedang tersenyum manis padanya terlihat begitu jelas. Bukan Pakunoda... gadis itu memiliki rambut pirang cerah keemasan, dengan mata sebiru samudra. Rambut pirang sebahunya dikuncir setengah ke samping.

"Siapa namamu?"

"Emmm... namaku..."

"Kurapika! Ayo pulang! Saatnya makan malam!"

"Ah! iya bu! Aku pulang dulu yah, besok kita main lagi!"

Gadis itu pun pergi, tanpa mengetahui bahwa besok, mereka tak akan bisa bermain bersama lagi...

"Ku... Kurapika...?" gumamnya pelan, seraya menatap kepergian sang gadis sambil bergendengan dengan ibunya.

.

Kuroro membuka matanya. Dengan malas, ia pun bangkit dari tidurnya.

Matanya yang masih agak sayu baru bangun itu, mengedar ke sekeliling. Hanya kegelapan yang ia lihat. "Sudah malam?" gumamnya entah pada siapa. Entah apa yang merasukinya, pemuda itu bisa-bisanya sampai ketiduran di bangku taman itu.

Kuroro lalu bangkit, sedikit merenggangkan ototnya. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, yang memang sudah acak-acakan setelah tidur. Memang kebiasaan yang aneh, tapi itulah Kuroro.

Pemuda itu pun berjalan, meninggalkan taman yang cukup menyeramkan di malam hari itu.

.

.

Kuroro berjalan menelusuri kota York Shin yang ramai di malam hari. Menyesal sekali dia, mengikuti ajakan Shalnark. Pada waktu-waktu seperti ini, biasanya dia jalan-jalan, dengan mobilnya, ke karoke, café, atau perpustakaan setempat. Namun seringkali juga Kuroro hanya berdiam di apartemennya, bertengkar dengan Kurapika, melalui ponsel, baik sedang bertelpon, ataupun saling mengirimi SMS.

Sepertinya malam ini Kuroro kehilangan semua moodnya untuk melakukan semua itu.

Langkah Kuroro terhenti pada sebuah gang yang ada di pertengahan antara dua gedung yang cukup tinggi. Gang itu gelap, dan sepi. Kuroro dapat melihat seseorang di sana, melangkah mundur. Orang itu diganggu oleh sekelompok pria berbadan besar.

Setelah Kuroro perhatikan, orang itu adalah seorang pemuda pirang, bertubuh kurus dan agak pendek, untuk ukuran seorang laki-laki. Sepertinya Kuroro mengenalinya...?

Kuroro memperhatikan kejadian itu dengan diam. Kenangan masa lalu mulai terputar di otaknya. Ketika ia masih SMP dulu... benar-benar saat-saat yang menyenangkan!

Para pria itu terlihat marah, ketika sang pemuda mengucapkan sesuatu dengan tenang. Tanpa ampun, salah seorang pria dari kelompok tersebut langsung menyerang pemuda itu dengan marah. Namun dengan tenang, sang pemuda menghindarinya, dan malah memukul balik tengkuk pria itu hingga ia tersungkur ke tanah.

Pemuda itu meneriakkan sesuatu yang tidak jelas, sebelum mereka kembali bertarung.

Kuroro jadi teringat dengan Kurapika, melihat pemuda yang juga berambut pirang pendek itu. Tunggu dulu! Berambut pirang, yang jago berkelahi? Ohya! kemeja orange kotak-kotak! Ia ingat pakaian itu! Pakaian yang tadi dikenakan Kurapika! Apakah... orang itu adalah...

Kuroro semakin mempertajam penglihatannya pada si blonde, hendak memastikan apakah dugaannya benar atau salah.

Pria yang tadi dipukul tengkuknya, mulai sadar, dan langsung bangkit, dan mengunci si pemuda tersebut dari belakang, hingga sang pemuda hanya memiliki sepersekian detik untuk bergerak. Hal itu tak disia-siakan oleh ketiga teman si pria. Mereka langsung bersiap, untuk meninju pemuda itu.

Bruakkk!

"Kurapika!"

.

.

Kurapika merasa tenang-tenang saja dalam perjalanan pulangnya. Sudah malam... tadi ia sempat mampir ke perpustakaan selama berjam-jam, dan ke kedai makan untuk makan malam. Mengingat, ia lupa berbelanja untuk bahan makanan hari ini.

Karena sudah cukup malam, gadis itu memutuskan untuk memperpendek jalurnya. Singkatnya saja ia memutuskan untuk mengambil jalan pintas.

Ia membelokkan arah jalannya, memasuki sebuah gang yang cukup menyeramkan. Bisa saja tindak kejahatan terjadi di sana. Namun Kurapika yang kita ketahui tidak takut pada apapun, minus laba-laba itu MUNGKIN bisa mengatasinya. Selain itu dia sudah makan, jadi tenaganya pulih kembali. Dan jangan lupa bahwa saat ini ia memakai pakaian laki-laki, yang pasti akan membuat orang berpikir dua kali, untuk menyerangnya.

Baru berjalan beberapa langkah, mata Kurapika membelalak, ketika melihat sekelompok preman, yang berjumlah kurang lebih empat orang menghadangnya di depan. Ada apa ini? seolah penyerangan ini sudah direncanakan sejak awal.

"Lihat, mangsa kita sudah datang," ucap salah satu dari mereka.

"Siapa kalian?" tanya Kurapika menaikkan sebelah alisnya.

"Kau pasti Kurapika Kuruta 'kan?" ucap seorang lagi, dengan seringai yang menyeramkan di wajahnya. "Manis sekali!"

Mata Kurapika membelalak. Dari mana mereka tahu namanya? Ternyata benar! Semua ini sudah direncanakan!

Kurapika mendengus. "Maaf yah, aku tak ada urusan dengan sampah seperti kalian! Minggir sana! Aku harus pulang!" ucap Kurapika dengan tenang.

"Sampah katamu?" salah seorang pria kehilangan kendali, dan tanpa aba-aba langsung saja menyerang Kurapika.

Kurapika segera menghindar, dan langsung memukul tengkuk pria itu hingga tersungkur ke tanah. Mungkin dia akan kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat, sebelum Kurapika membereskan pria lainnya.

Teman-teman pria itu pun ikut menyerang, dengan emosi. Kurapika dengan lihai menghindar, dan juga membalas sarangan itu jika ia punya kesempatan.

"Hei! Jangan kasar-kasar! Kita bisa bermain dengannya untuk satu malam! Kalau dia penuh darah, pasti tidak akan menyenangkan!" ucap salah seorang pria santai.

"Ah! Bukannya Pakunoda-sama memerintahkan kita untuk menghancurkannya!" tanya seorang pria lagi, sambil kembali menyerang Kurapika.

Mata Kurapika membelalak. Pakunoda? Jadi... dalang dari semua permainan ini adalah Pakunoda?

Ia langsung teringat pada Kuroro.

Rasa sakit yang besar langsung mengikat hati Kurapika. Betapa bodohnya dia, mempercayai omongan Pakunoda yang sudah jelas-jelas membencinya, dan malah menuduh Kuroro, orang yang paling ia percayai?

Kurapika kehilangan kosentrasi untuk beberapa saat. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia lengah.

Kurapika langsung kembali ke dunia nyata, ketika merasakan cengkraman kuat di pinggangnya, seolah akan membuat pinggangnya putus. Ia berusaha untuk menoleh, dan mendapati bahwa si pelaku adalah orang yang tadi ia pukul tengkuknya.

Bruakkk!

Teman-teman pria itu tak mau kehilangan kesempatan, dan langsung memukul pipi Kurapika.

Rahang gadis itu seolah retak, oleh pukulan itu. Sakit... sakit sekali. Bersamaan dengan dipukulnya dia, si pria pun melepaskan cengkramannya, hingga gadis itu langsung tersungkur ke tanah.

"Kurapika!"

Kurapika dapat mendengar namanya dipanggil. Suara itu begitu familiar baginya. Suara itu... suara Kuroro?

Kurapika berusaha bangkit. Rahangnya masih berdenyut-denyut. Darah segar mengalir di sudut kiri bibirnya. Pipinya pun merah. Kurapika memutar kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya. Dugaannya benar! Dia Kuroro! Orang yang paling ingin ia temui sekarang.

Sang pria yang tadi meninju Kurapika lalu menjilat tangannya, yang terdapat noda darah Kurapika di sana. Kuroro melihat hal itu.

Pemuda berambut hitam itu langsung mendekati Kurapika, dan membantunya berdiri. Kurapika menatap Kuroro tidak percaya. Kuroro! Dia datang!

"Kau tidak apa-apa?" tanya Kuroro memegangi kedua bahu gadis itu lembut.

Tatapannya lalu tertuju pada darah Kurapika. "Dasar bodoh! Kenapa kau membiarkan pria itu mendapatkan darahmu?" tanya Kuroro mulai kesal.

Kurapika mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"

"Darah itu milikku! Kenapa kau memberikannya pada orang lain?"

Kurapika tertegun. Ia lalu teringat, akan kata-kata Kuroro di masa lalu. Kau miliiku! Yah, sejak Kuroro menyumbangkan hampir sebagian darahnya pada Kurapika ketika ia kecelakaan, Kurapika pun resmi menjadi milik Kuroro. Termasuk darahnya... yang bercampur dengan darah Kuroro...

Kurapika menunduk. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Darah tak henti-hentinya keluar dari sudut bibirnya. Pipinya pun sedikit demi sedikit mulai membengkak.

"Sudah selesai, pacarannya?" teriak salah seorang pria.

Kuroro menghela nafas pendek. Ia lalu melepaskan jaketnya, dan memakaikannya pada Kurapika. Kurapika memandang Kuroro tak percaya. Pemuda itu hanya melakukan tugasnya, dalam diam.

"Ayo, biar kuantar kau pulang..." ucapnya lembut.

Kurapika merasakan kehangatan menyeruak dari tangan kirinya, ketika Kuroro langsung menggenggamnya. Begitu pula dengan seluruh tubuhnya, yang terbungkus oleh jaket hitam pemuda itu. Hangat... dan wangi! Aroma maskulin Kuroro yang khas seolah membuat perasaan Kurapika campur aduk.

Mungkin ia tak menyadarinya... namun saat ini wajah gadis itu sudah memerah. Bukan memerah akibat tinjuan pria tadi, melainkan... memerah karena perasaannya yang bergejolak. Entahlah! Perasaan ini sulit untuk dijelaskan oleh kata-kata. Kurapika sendiri pun tidak tahu...

"Hei! Jangan pergi dulu! Urusan kami belum selesai!" protes pria tersebut.

Kuroro langsung mendelik pada pria itu. Angin malam menghembus, menerbangkan rambut hitamnya. Tatapan pemuda itu sangat tajam, dan begitu dingin. Kurapika yang berada di dekatnya pun bisa merasakan aura itu...

Mata seluruh pria itu membelalak, ketika melihat tanda salip aneh di dahi Kuroro yang tadinya tertutupi olah rambut hitamnya. Rasa ketakutan terlihat jelas di mimik wajah pria-pria itu.

"Urusan apa lagi?" tanya Kuroro dingin. "Cepat selesaikan!"

Para pria itu langsung kehilangan nyali. "J—jangan bilang kalau kau Si Lucifer, ketua dari Black Ice itu?" tanya salah seorang pria gemetaran.

Kuroro tak menjawab. Dia tetap berkespresi dingin. Ia pun menarik tangan Kurapika, meninggalkan tempat itu, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Siapa sebenarnya kau ini, Kuroro?

"Kuroro?" panggil Kurapika. Nadanya terdengar serak.

Kuroro berhenti berjalan, dan menoleh dengan malas pada Kurapika. "Apa? Oh! Aku tahu! Kau mau bilang kalau aku yang merencanakan semua ini, bukan? Sudahlah! Terserah kau mau bilang apa!"

Kurapika terdiam. Ia merasakan rasa beralah yang teramat besar di hatinya. Ia telah menuduh Kuroro, tanpa bukti... Kurapika! Bodoh!

Kuroro kembali menoleh, dan berjalan dengan kedua tangan yang memasuki kedua saku celananya. "Jaketnya besok saja kau kembalikan! Tapi hati-hati, dengan cewek-cewek lainnya!"

Langkah Kuroro terhenti, katika merasakan sesuatu mengait di ujung kemeja birunya. Kurapika. Gadis itu memegang ujung kemeja pemuda itu, sambil menunuduk.

"Maaf..." lirih Kurapika. "Maafkan aku..."

Kuroro langsung berbalik, menatap Kurapika dengan tatapan tak percaya. Gadis itu masih menunduk, seolah tak ingin memperlihatkan ekspresinya saat ini. Entah mengapa hati Kuroro terasa hangat. Sepertinya besok, ia akan memakan bento Kurapika lagi.

Seringai jahil langsung terlihat di wajah Kuroro. Ia lalu berbalik, dan menggenggam kedua pipi Kurapika lembut, membuat gadis itu harus mendongkak, menatap Kuroro.

Kuroro dapat melihat mata biru Kurapika berkaca-kaca. Meski kuat, Kurapika tetaplah seorang perempuan. Memiliki hati yang lemah, rapuh, dan mudah untuk dihancurkan.

"Katakan lagi..." perintah Kuroro.

"Ha?"

"Katakan hal itu lagi!"

Kurapika mendengus. Ia langsung tahu maksud dari Kuroro. "Maafkan aku..." ucapnya setengah hati.

Kuroro tersenyum. Ia lalu menarik kepala Kurapika, dan juga mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Kurapika membatu. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Akhirnya bibir mereka saling menempel. Kurapika hanya diam, tak bergeming. Ia tak menolak ciuman itu, dan juga tak membalasnya. Kuroro mencium gadis itu, di gang tersebut. Ia juga tak tahu kenapa...

.

.

"Auhh!" rintih Kurapika, ketika Kuroro menyentuhkan kain basah pada pipinya yang bengkak. "Kau tidak bisa pelan-pelan sedikit, tidak sih?"

Kuroro memutar bola mata. "Kau diam saja! Sudah syukur aku mau menolongmu!"

Kurapika memandang Kuroro kesal. Sentuhan Kuroro di pipinya memang cukup lembut. Namun tetap saja sakit.

Saat ini mereka berdua sedang berada di apartemen Kuroro. Yah, memang tadi Kuroro berjanji untuk mengantar Kurapika pulang, namun luka Kurapiak harus segera disembuhkan, dan apartemennya lah yang terdekat. Lebih cepat, lebih baik, bukan?

"Sepertinya akan bengkak," gumam Kuroro, memerhatikan pipi kiri Kurapika yang merah itu.

"Aku tahu..." respon Kurapika.

Mereka terdiam beberapa saat. Hening... tak ada yang berniat untuk membuka obrolan. Kuroro tetap mencoba untuk mengompres pipi gadis itu, sedangkan Kurapika hanya menunduk dalam diam.

"Aku ingin ikan tuna! Oh, Sashimi saja!" Kuroro berucap. Kurapika langsung mendongkak, menatap Kuroro dengan bingung.

Kuroro mendengus malas. "Makan siangku besok!" ucapnya seolah mengerti maksud dari tatapan Kurapika.

"Kenapa?"

"Kau itu bodoh atau apa sih? Aku ingin besok kau membawakanku Sashimi! Sebagai makan siangku anak buah!" ucap Kuroro malas.

Kurapika langsung mengerti dari perkataan Kuroro. Itu artinya mereka berbaikan lagi. Hati Kurapika terasa begitu hangat.

Tanpa sadar, Kurapika terus memandangi pemuda itu dengan tatapan lembut. Sontak, ia langsung merasakan wajahnya memanas. Jantungnya berdebar cepat. Apa yang terjadi?

"Apa lihat-lihat?" tanya Kuroro menatap Kurapika dengan malas. "Dasar cewek aneh!"

"Aku tidak aneh!" protes Kurapika, langsung memalingkan wajahnya.

Ia merasakan wajahnya memanas, dan ia yakin, pasti terlihat semburat merah di sana! Selain itu... Ah! Kenapa debaran jantungnya tidak bisa berhenti. Debaran ini ia rasakan HANYA ketika ia bersama Kuroro. Ketika Kuroro menyentuhnya. Ketika Kuroro menciumnya...

Kurapika memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan Kuroro di pipinya.

Kuroro selalu ada tiap kali ia membutuhkannya. Hanya Kuroro yang selalu ada di pikirannya. Hanya Kuroro yang bisa membuatnya tersenyum. Hanya Kuroro...

Kurapika sudah tak sanggup lagi membohongi dirinya sendiri.

Sekarang ia mengerti...

Cinta...

Perasaan yang selama ini terkunci rapat di hatinya...

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

Tatapan Kuroro tetap datar, seperti biasanya. Ditatapnya gadis berambut pirang pucat sebahu itu dengan dingin.

"Ah, apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti!" elak gadis itu, dengan santai.

"Jangan bohong, Pakunoda! Aku tahu bahwa kau yang selama ini terus mengganggu Kurapika! Kesabaranku sudah habis!"

Yah, sejak semalam Kuroro melihat Kurapika dicengkram, atau lebih tepatnya dipeluk oleh pria lain, Kuroro akhirnya menyerah. Ia tidak bisa menahan kemarahannya. Ia tak tahu kenapa ia merasa emosi, ketika lelaki lain menyentuh Kurapika.

Pakunoda menghela nafas. "Kenapa kau begitu membelanya? Aku yakin, dia bukan kekasihmu..."

"Memang,"

Pakunoda menatap Kuroro santai. Pemuda itu tetap menatapnya datar. "Kau menyukainya?"

Pertanyaan Pakunoda barusan sukses merubah ekspresi Kuroro. Suka? Apakah itu benar? rasanya terlalu mustahil, bagi seorang Kuroro Lucifer untuk menyukai seorang gadis.

Kuroro menghela nafas. "Aku tidak tahu..." ucapnya jujur. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya!"

"Kau ingin melindunginya, padahal kau sama sekali tak ada hubungan dengan dia? Dan malah melwanku? Sahabatmu sendiri?"

"Ya, aku akan melindunginya! Dan aku tidak bisa menjamin kalau aku tak akan melawanmu, jika kau macam-macam padanya! Dan soal hubungan, kami memang tak memiliki hubungan apapun..." Kuroro menyela kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan, "aku hanya merasa bahwa aku harus melindunginya..."

Pakunoda tersenyum meremehkan. "Oh, ternyata Kuroro Lucifer sudah dewasa sekarang..." ucapnya. "Ia tak lagi membutuhkan seorang pengasuh bayi..."

Kuroro terdiam. Sejak dulu ia memang bersahabat dekat dengan Pakunoda. Gadis itu juga kuat. Dulu ia sering melindungi Kuroro, jika pemuda itu diganggu oleh anak-anak nakal. Tapi kenapa sekarang Kuroro malah menentangnya, hanya demi seorang gadis yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Kuroro?

"Maaf Paku... tapi sepertinya persahabatan kita akan benar-benar berakhir, ketika kau mengganggu Kurapika lagi..." ucap Kuroro, lalu berbalik, dan meninggalkan Pakunoda.

"Kau yang memulainya duluan, Kuroro..." gumam Pakunoda tajam.

.

Kuroro berjalan, menaiki atap sekolah. Kurapika sudah berjanji, akan membawakannya Sashimi. Dan Kuroro datang untuk menagihnya.

Ia sampai. Yang pertama ia lihat adalah malaikat cantik berambut pirang, berbalik ke arahnya. Angin menghembus, mengibarkan rambutnya. Sekilas, 'malaikat' itu telihat begitu cantik... Kuroro menatapnya dengan pandangan takjub.

"Kau sudah datang?" tanya Kuroro kembali dengan wajah datarnya.

"Kau dari mana?" tanya Kurapika balik, tanpa menjawab pertanyaan Kuroro.

"Mau tahu saja!" ucapnya. "Sini, makan siangku!"

Kurapika menatap Kuroro kesal. Pemuda itu benar-benar menyebalkan! Kadang baiknya datang, kadang pula jahatnya datang! Ah bukan kadang lagi! Sikap menyebalkan Kuroro itu sudah setiap saat!

"Nih!" ucap Kurapika kesal, seraya memberikan Kuroro kotak makan siangnya.

Kuroro menerimanya, lalu duduk di pagar pembatas atap itu. Ia pun membukanya. Langsung saja tatapannya menajam pada Kurapika. "Ini Sashimi, atau ikan aduk?" protesnya.

"Sudah! Makan saja sana! Jangan banyak protes! Aku sudah membuatkannya dengan susah payah!" kesalnya.

Kuroro menatap Kurapika tak kalah sebalnya. "Memasak saja tidak bisa, bagaiamana mau jadi anak buahku?"

"Siapa bilang aku mau menjadi anak buahmu!"

"Kalau begitu, bagaimana nasib calon suamimu kelak? Pasti akan menderita memiliki istri sepertimu!"

Wajah Kurapika memerah. "Kenapa kau malah langsung bicara seperti itu!"

"Dasar payah!"

Mereka saling berpandangan dengan penuh kesal.

Mungkin akan terus begini... tapi, lambat laun, semuanya akan berubah...

Kurapika lalu berbalik, hendak meninggalkan Kuroro. "Ya sudah! Buang saja kalau tidak mau!" ucapnya kesal. Ia lalu berjalan keluar, dengan kaki yang sengaja dihentak-hentakkan saking kesalnya.

Blammm!

Kuroro tersenyum tipis, melihat pintu yang baru saja ditutup dengan keras itu. Ia pun mulai memakan bekal buatan Kurapika, dengan tenang. Meski sesekali harus tersedak, namun sepertinya Kuroro terlihat menikmatinya.

Sementara itu, di balik pintu, terlihat kini Kurapika sedang bersandar di sana, dengan kedua tangan yang dikepalkan di dadanya. Sedari tadi ia berusaha menahan debar jantungnya yang tak mau melambat sepersekian detikpun. Semejak gadis itu menyadari perasaannya pada Kuroro, reaksi bagian dalam tubuhnya, baik jantung, darah, hati, otak, dan lainnya semakin menjadi-jadi, jika ia berada di dekat Kuroro.

"Hhhhh..." gadis itu menghela nafas panjang.

'Masih banyak, yang ingin kuketahui tentangmu, Kuroro Lucifer...'

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

.

Fuiiiiihh!

Akhirnya chapter ini selesai juga! Susah juga update-nya nih! Soalnya udah mau ulangan semester (tanggal 11 nanti) jadi kalo mau ngetik, mesti sembunyi-sembunyi, biar gak ketahuan kaa-san! *curcol*

Yosh! Gimana pendapat minna tentang chapter kali ini? abalkah? Norak kah? Atau,,, gaje? *pake gaya presenter lebay di semacam acara gosip*

Yosh! Sejelek-jeleknya fic ini, review sangat dibutuhkan!

Ohya! makasih buat para reviewer chpater sebelumnya! Nih balasannyaaaa!^^

.

Kay Lusyifniyx :
Hahahahaha...
Makasih review-nya Kay-chan! XD

Sends :
Makasih atas reviewnya...
Makasih juga udah bilang keren!^^

Kuji Kazuza Phantomhive :
Hehehehehe...
Makasih buat reviewnyaaa!
He-eh nih! Tiba-tiba aja feelnya ilang! Sebel banget! XD

.

Sekali lagi Natsu ngucapin makasih banyak yaaaahh!

Sekarang, bolehkah Natsu minta review anda lagi? Mau ngasih konkrit, kritik, saran, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^

Lanjut tidaknya fanfic ini, ditentukan dari review kaliaaaannn! X3

Akhir kata, REVIEW PLEASE…

.

~ARIGATO~

NATSU HIRU CHAN