Yo minna!

Gomen, Natsu telat update! Maklumlah, utang fic udah menumpuk, jadi gak tau mesti gimana lagi... TT_TT

Yosh! Makasih banyak buat para readers yang udah ngereview fic ini! Balesannya ada di akhir cerita yaaahh! XDD

.

Cerita sebelumnya :

Kuroro tersenyum tipis, melihat pintu yang baru saja ditutup dengan keras itu. Ia pun mulai memakan bekal buatan Kurapika, dengan tenang. Meski sesekali harus tersedak, namun sepertinya Kuroro terlihat menikmatinya.

Sementara itu, di balik pintu, terlihat kini Kurapika sedang bersandar di sana, dengan kedua tangan yang dikepalkan di dadanya. Sedari tadi ia berusaha menahan debar jantungnya yang tak mau melambat sepersekian detikpun. Semejak gadis itu menyadari perasaannya pada Kuroro, reaksi bagian dalam tubuhnya, baik jantung, darah, hati, otak, dan lainnya semakin menjadi-jadi, jika ia berada di dekat Kuroro.

"Hhhhh..." gadis itu menghela nafas panjang.

'Masih banyak, yang ingin kuketahui tentangmu, Kuroro Lucifer...'

.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : AmI Really Hate You?

Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan

Genre : Romance and Friendship

Rated : T (buat jaga-jaga)

Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!

Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!

Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.

.

.

.

.

Don't like, don't read… XD

.

Chapter 8 : Jealous?

Seolah mata Kurapika tak bisa berkedip, begitu melihat Kuroro dengan T-shirt dan celana jeans-nya sedang berdiri di depan rumanhnya, menatap gadis itu dengan datar. Jam dindingg sudah menunjukkan pukul empat sore. Mau apa lelaki itu datang bertamu sore-sore begini?

"Mau apa kau ke sini?"

"Cepat ganti bajumu!" Kuroro bisa melihat gadis itu menaikkan sebelah alisnya. "Bahan makanan di rumahku habis. Aku ingin kau menemaniku belanja,"

"Kau tidak bisa pergi sendiri?" tanya Kurapika ragu. "Aku sedang ada kerjaan,"

Kuroro sedikit melirik tangan kanan gadis itu. ia masih memegang sebuah pulpen. Mungkin Kurapika sednag mengerjakan PR, atau apalah. "Itu 'kan bisa kau lakukan nanti malam,"

"Tidak bisa! Kalau tidak dikertjakan sekarang besok pasti tidak selesai!" Kurapika masih saja membantah. Kenapa pemuda di depannya ini begitu memaksa? Bisa 'kan, dia pergi sendiri! Bilang saja kalau Kuroro mau menyuruh Kurapika mengangkatkan barangnya!

Kuroro menghela nafas. "Ya sudah..." ucapnya seraya berbalik hendak pergi. Kurapika sedikit terkejut, kali ini Kuroro mau mengalah.

"Tapi jelasnya besok semua orang akan tahu kalau kau takut dengan hewan berkaki delapan itu," Kuroro mengatakan hal itu tanpa menoleh, membuat Kurapika terbelalak kaget.

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

Gadis itu dengan wajah kesalnya mengikuti Kuroro, menuju tempat sayur-mayur. Ia harus mendorong keranjang belanja itu, sedangkan Kuroro yang berjalan di depannya dengan asyiknya memasukkan apapun di sana.

"Bisa kita segera pulang? Sekarang sudah hampir malam,"

"Ini baru bahan makanan. Sekalian saja aku mau membeli keperluan lainnya," ucapan itu terdengar begitu panas di telinga Kurapika.

Gadis itu memutar bola matanya, sambil melemaskan pegangannya di pegangan keranjang dorong yang berisi banyak bahan makanan itu. Apakah Kuroro makan sebanyak ini? Atau... dia mau mengadakan sebuah acara? Ah! Itu semua bukan urusan Kurapika. Lagipula gadis itu harus segera pulang, mengerjakan tugas sekolahnya! Jika tidak, bisa-bisa ia kena hukuman!

Kurapika sedikit melirik Kuroro. Pemuda itu nampak sedang memilih-milih jenis shampo. Kurapika memang penasaran, shampo apa yang dipakai oleh Kuroro. Rambut pria itu memang begitu wangi. Pernah sekali, setelah jam olahraga, mereka berdua bertemu seperti biasa di atap. Rambut Kuroro masih tetap harum, meski berkeringat setelah olahraga.

Dilihatnya pemuda itu mengambil sebotol shampo, dan memasukkannya ke dalam keranjang. Ia nampak berpikir, lalu mengambil dua botol lagi. Saat itulah, Kurapika menyimpulkan bahwa Kuroro belanja sekali dalam waktu yang lama. Sekali belanja, pasti ia memborong semua belanjaan yang ada di supermarket!

Mata Kurapika kembali tertuju pada isi kereta dorongnya. Astaga! Tanpa sadar kereta itu sudah hampir penuh, oleh belanjaan Kuroro. Ia menatap pemuda itu tidak percaya. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu.

"Apa?" tanya Kuroro menyadari tatapan aneh dari Kurapika.

"Kau belanja sebanyak ini?" tanya Kurapika tak percaya.

Kuroro hanya mengangkat bahu, seraya berjalan tanpa menjawab pertanyaan Kurapika. Kurapika mendengus, seraya mengikuti langkah Kuroro yang besar.

.

.

Kurapika mengangkat SEMUA belanjaan Kuroro, memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Sinting! Pemuda itu benar-benar tidak berperasaan! Tega-teganya dia menyuruh seorang gadis mengangkatkan barangnya yang banyak itu. Tapi apa daya. Kurapika memanglah suruhan Kuroro. Ia tak bisa berbua apa-apa! Kurapika hanya bisa terus bersabar, sampai 'kontrak'nya dengan Kuroro berakhir.

Gadis itu lalu masuk ke mobil dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Hari ini ia benar-benar kelelahan, menemani pemuda menyebalkan itu belanja!

Kuroro pun menancap gas, dan meninggalkan tempat itu.

.

Bruk!

Baru setengah perjalanan, tiba-tiba mobil Kuroro berhenti. Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat.

"A—ada apa?" tanya Kurapika seraya menoleh pada pengemudi di sampingnya itu.

Kuroro lalu melihat keterangan tangki bensin yang tertera di depannya. Jarum kecil merah itu menunjukkan pada huruf E. Ia lalu menghempaskan kepalanya lemas di sandaran. "Bensinnya habis. Aku lupa mengisinya tadi..." ucapnya dengan nada putus asa.

Kurapika terkejut. Ia memutar badannya, menatap Kuroro dengan tak percaya. "Lalu? Kalau tidak salah, Pom Bensinnya masih 2 km lagi!"

Kuroro memejamkan matanya sejenak, lalu menoleh pada Kurapika, menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ditatap seperti itu, perasaan Kurapika langsung tidak enak.

"Anak buah..."

.

"Kau tidak bisa lebih cepat lagi? Kita bahkan belum seperempat jalan!" protes Kuroro dari jok depan.

Kurapika menatap Kuroro dengan sebal, meski saat ini ia tak melihat pemuda itu. Gadis itu mengerahkan seluruh tenanganya, lalu kembali mendorong mobil hitam itu dari belakang. Mobil itu bergerak sejauh tiga meter, lalu berhenti lagi.

Kurapika mendesah lelah. Ia mengusap keringat yang mencucur di dahinya.

"Ayo cepat! Hari sudah malam!"

"Kurasa akan lebih cepat, jika seorang pria yang mendorongnya?" kesal Kurapika, seraya mulai kembali mendorong mobil itu, menuju pom bensin.

Kuroro memutar bola matanya. "Jangan banyak protes!"

'Kau sendiri yang protes dari tadi!' sebal Kurapika. Ia menendang keras ban belakang Kuroro saking kesalnya. Akibatnya bukannya ban itu bocor, malah kakinya yang terasa ngilu.

Kuroro memperhatikan kelakukan Kurapika melalui spion mobilnya. Ia tersenyum tipis, melihat tingkah gadis itu.

"Ada kesulitan, nona?" Kurapika segera berbalik, mendengar sebuah suara menyapanya. Ditolehkannya kepalanya. Mendapati seprang pemuda tinggi dengan rambut hitam pekat, dan kacamata bundar.

Kurapika menatapnya bingung. "Kau siapa?"

"Ah, perkenalkan. Aku Leorio! Kulihat kau kesulitan mendorong mobil ini. Apa aku bisa membantumu?"

Kurapika rasanya ingin sekali memeluk pemuda itu, saking senangnya. Senyuman mengembang di wajah cantiknya. "Kalau tidak keberatan..." ucapnya tanpa keraguan.

Pemuda bernama Leorio itu tersneyum ramah, mengambil posisi di samping Kurapika, dan ikut mendorong mobil itu. Di depan, Kuroro menatap kedua orang itu dengan tatapan tidak senang. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, melihat kedekatan Kurapika dengan pemuda lain.

"Ohya. Namamu sendiri siapa?" tanya Leorio, sambil tetap mendorong.

Kurapika sedikit kesal, ditanyai seperti ini. Sejujurnya ia tidak terlalu suka berbincang dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi orang ini sudah mau menolongnya. Akhirnya gadis itu mengukir senyuman tipis. "Kurapika," jawabnya pendek.

"Nama yang bagus. Kau pasti masih sekolah,"

"Ya. Kau sendiri?"

"Aku juga masih sekolah. Baru saja pindah ke sini,"

Entah mengapa laju mobil itu semakin cepat, semejak Leorio datang membantu Kurapika. Kuroro yang ada di depan menatap kedua orang itu dengan tatapan sebal, yang tidak terlalu kentara. Sepercah niat jahat muncul di otaknya. Ia menyeringai tipis, lalu menginjak pedal rem yang ada di dekat kakinya dengan keras.

Tiba-tiba mobil berhenti, dan tidak bisa di dorong, membuat kedua orang ini kebingungan setengah mati. Mereka mencoba mendorong lebih kuat, sayangnya nihil. Mobil hitam mahal itu yak bergerak satu cm pun.

Kurapika langsung tahu, bahwa dalang dari semua ini adalah Kuroro Lucifer.

"Kuroro!" bentaknya. Ia langsung maju ke depan, menghampiri pemuda itu.

Kuroro menoleh santai. Kakinya sudah terpisah dengan pedal rem itu. "Apa?" tanyanya dengan wajah innocent-nya.

Kurapika menggeram sebal. Ia lalu kembali ke belakang, siap mendorng mobil itu.

"Ada apa?" tanya Leorio kebingungan.

"Si Iblis itu menginjak pedal remnya!" ucap Kurapika emosi.

"Iblis?"

"Sudahlah... lupakan saja!"

Leorio menatap Kurapika bingung. Kalau tidak salah tadi gadis itu meneriakkan nama Kuroro? Kuroro itu 'kan nama laki-laki! Kenapa Kurapika yang seorang gadis harus mendorong mobil itu sementara Kuroro enakan santai di depan? Leorio ingin bertanya lebih jauh lagi, namun melihat sirat amarah menyeramkan dari wajah Kurapika, ia memutuskan untuk diam.

.

"Terima kasih!" ucap Kurapika, pada Leorio.

"Tidak masalah," tanggap Leorio. Ia lalu melirik pada Kuroro, yang saat ini tengah mengantri. Pom bensin di sini memang cukup ramai.

"Ohya! tunggu sebentar!" Leorio menatap Kurapika bingung, ketika gadis itu berlari kecil menuju sebuah toko yang ada di dekat sana.

Tak lama kemudian ia kembali, membawa dua kaleng soda, dan menyerahkan satu pada Leorio. Ia menatap kaleng itu dengan bingung, dan kembali menatap Kurapika.

"Ucapan terima kasihku!" ujar Kurapika tersenyum manis, membuat Leorio terpesona oleh senyuman itu.

Leorio terdiam sesaat, lalu kembali ke alam nyata. Jantungnya berdegup kencang, melihat senyuman itu. "Oh, terima kasih kembali. Aku lumayan haus..." ucapnya sedikit gugup, lalu membuka kaleng itu dan meneguk isinya.

Kurapika melakukan hal yang sama. Seketika tenggorokannya yang kering itu langsung terasa begitu nyaman dan melegakan. Kurapika menghembuskan nafasnya, lega.

"Ohya, boleh aku tahu dimana rumahmu?"

"Rumahku?"

"Ayo pulang," obrolan mereka terputus, begitu Kuroro langsung saja muncul di belakang Kurapika. dua pasang mata itu langsung menatap sepasang iris hitam itu bersamaan.

"Ya sudah!" Leorio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dimana rumahmu tadi?"

Kurapika hendak menjawab, tapi Kuroro langsung menyelanya. "Kau tak perlu tahu di mana rumahnya," ucapnya dingin.

Leorio menatap Kuroro kesal. Ia bisa melihat kobaran api cemburu di mata hitam misterius itu. Siapa pemuda ini? Sudah menyuruh Kurapika melakukan pekerjaan yang berat, malah seenaknya mengaturnya! "Kau siapa?" tanya Leorio menatap Kuroro dengan pandangan meremehkan.

Kurapika membelalak kaget, begitu Kuroro langsung memeluk pinggangnya dengan erat. "Aku kekasihnya," ucapnya sambil menyeringai.

Darah Kurapika berdesir dengan keras. Jantungnya berdegup kencang. Apalagi ketika beberapa orang menolehkan pandangannya pada mereka. Langsung saja ia mendorong Kuroro dengan keras, membuat pemuda itu hampir terjatuh. Untung saja Kuroro bisa menjaga keseimbangannya dengan baik.

"Jangan seenaknya!" Kurapika berucap dengan nada membentak. Meski begitu, saat ini ia tak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya. Kuroro hanya mengangkat bahu tak berdosa, dan memalingkan wajahnya.

"Benar, dia pacarmu?"

Wajah Kurapika makin memerah mendengar pertanyaan Leorio barusan. Ia kembali menoleh pada Kuroro yang sedang menyeringai padanya. "Y—yang benar saja! Aku takkan sudi jadi pacarnya!" elak Kurapika memalingkan wajahnya.

Leorio nampak menghela nafas lega. "Ya sudah! Aku pergi dulu ya! Kurasa kita bisa bertemu lain waktu!"

Kurapika tersenyum tipis. "Ya! Ohya, kalau tidak keb—"

Cup!

Ucapan Kurapika terhenti seketika. Rahang Kuroro mengeras, ototnya menegang, kepalanya memanas, begitu melihat Leorio mengecup singkat pipi Kurapika, dan langsung berlari pergi. Kurapika terdiam shock, masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi barusan.

"Soda itu tak cukup untuk tanda terima kasihmu!" teriak Leorio, seraya menghilang di balik kegelapan.

Keduanya terdiam. Kurapika melirik pada Kuroro, yang menatap kepergian Leorio dengan tatapan horror, seolah akan membunuh pemuda itu jika mereka bertemu lagi.

Kurapika menghela nafas berat. Ia bisa melihat Kuroro masih diam mematung di sana. "Ayo pulang!" ajaknya.

Kuroro berusaha kembali ke alam sadarnya, setelah melihat kejadian barusan. Ada kobaran panas di dadanya, begitu melihat Kurapika dicium oleh Leorio. Kurapika hanya anak buahnya. Tidak lebih. Tapi entah mengapa ia menjadi marah, begitu melihat Kurapika dekat dengan pria lain.

Lamunan pemuda itu buyar, begitu Kurapika menjentikkan jarinya di depan wajahnya.

"Hei! Kau mau pulang atau tidak?" tanya Kurapika cemberut.

"Hn," ucap Kuroro pendek, seraya meninggalkan Kurapika yang mulai mengekor di belakangnya. Ia memasang ekspresi dinginnya.

Kuroro memasuki mobilnya, begitu pula dengan Kurapika. Ia menghela nafas sejenak. Sudut matanya melirik Kurapika yang saat ini melihat ke luar jendela. Tangan gadis itu nampak memegang pipi kirinya dengan ragu. Kejadian ciuman tadi kembali teringat, membuat amarah Kuroro kembali membakar dirinya. Cemburu! Kecemburuan seolah membakar pemuda itu, tapi bisa dengan tenang ia tutupi.

"Hei," panggilnya dengan nada dingin.

Yang dipanggil langsung menoleh, dan langsung merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bibirnya... Bibir Kuroro! Mata Kurapika membelalak, begitu Kuroro langsung mencium bibirnya.

Kurapika hendak mendorong Kuroro, namun pemuda itu mencengkram tangannya, dan tetap mencium Kurapika. Kuroro mencondongkan badannya, membuat Kurapika harus bersandar pada pintu mobil. Ia lalu memiringkan kepalanya, membuat ciuman itu kian mesranya.

Otot Kurapika menegang. Ada perasaan aneh yang menjalar di rubuhnya saat Kuroro menciumnya. Bibir pemuda itu terasa nyaman dan lembut... meraba bibirnya. Sayangnya Kurapika berusaha melawan perasaan itu. Ia bukanlah siapa-siapa. Ia tahu Kuroro hanya mempermainkannya. Kuroro adalah pemuda yang tampan, kaya, dan populer. Ciuman seperti itu sudah biasa baginya. Kurapika hanya pasrah saja. Ia tak bisa melawan kekuatan Kuroro. Yang harus ia lawan saat ini adalah perasaannya! Ia tak boleh terbuai oleh ciuman Kuroro!

Kuroro memisahkan bibirnya, setelah kurang lebih dua menit berciuman. Ditatapnya gadis itu dengan tatapan tegas. Kurapika malah balik menatapnya dengan marah.

Tangan Kuroro lalu terangkat, menghapus sesuatu di pipi kiri Kurapika. Bekas ciuman Leorio tadi. Gadis itu menatapnya heran.

Kuroro pun kembali menghadap ke depan, memutar kunci, memasukkan porsenelen, dan menancap gas meninggalkan tempat itu. Tatapannya datar, fokus pada jalan raya yang sudah gelap itu.

Kurapika malah memalingkan kepalanya, menatap ke luar. Gadis itu memejamkan matanya, menahan perasaannya. Ia mencintai Kuroro, dan ia tak bisa memungkirinya. Tiap kali ada Kuroro di dekatnya, jantung Kurapika berdetak entah sekian kali lebih cepat. Sayangnya pemuda itu terlalu jauh baginya. Kuroro begitu sulit untuk digapai, sehingga membuat Kurapika memutuskan untuk mengubur perasaannya dalam-dalam.

Namun ada yang mengganjal di hati gadis itu. Saat Kuroro membelai pipinya. Bisa dilihatnya sirat kecemburuan di mata hitam itu. Kurapika menggelengkan kepalanya, menepis jauh-jauh pikiran itu. Kuroro cemburu padanya? Mustahil!

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

Kurapika merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Lelah. Ia benar-benar kelelahan menemani Kuroro tadi. Pemuda itu tanpa rasa kasihan sedikitpun memperbudak Kurapika. Pertama, ia disuruh membawa belanjaan Kuroro yang sebegitu banyaknya. Kedua, Kurapika malah disuruh mendorong mobil mogoknya sejauh 2 km. Untung saja, ada pemuda yang mau berbaik hati menolongnya.

Gadis itu jadi semakin yakin, bahwa cintanya itu hanya bertepuk sebelah tangan saja. Seandainya ada orang yang bisa menjadi tempatnya mencurahkan isi hatinya. Andai saja ia masih memiliki ibu, ibunya pasti akan menjadi pendengar yang baik, dalam setiap kata yang Kurapika.

Kurapika memejamkan matanya. Lagi-lagi ia berandai-andai seperti itu. padahal ia sendiri sudah tahu, bahwa ibunya telah tiada! Ayahnya telah meninggalkannya entah kemana. Saat ini gadis itu sebatangkara. Tak ada keluarga, maupun teman yang bisa ia jadikan sebagai tempatnya mengungkapkan segala perasaannya.

Kurapika lalu terbangun dari tidurnya, dan langsung mengambil tempat duduk di depan meja belajarnya. Gadis itu mengambil pulpen, dan menuliskan sesuatu di atas sehelai kertas putih yang ia robek dari salah satu bukunya. Senyuman tipis terukir di wajah cantiknya.

'Ayah...'

Baru satu kata yang tertulis di kertas itu, keraguan menyeruak di hati Kurapika. Gadis itu menggoyang-goyangkan pulpennya di dekat bibirnya, memasang wajah berpikirnya. Saat ini gadis itu butuh tempat untuk mencurahkan segala perasaannya. Kurapika menyentuh bibirnya, dengan ujung jari telunjuknya dengan lembut, mengingat sensasi yang diberikan Kuroro saat lelaki itu menciumnya.

Namun setelah beberapa saat, ia lalu menghela nafas panjang, dan meremas kertas itu dengan pasrah, dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di dekat sana. Kurapika pun kembali mertebahkan tubuhnya di kasur.

.

~AM I REALLY HATE YOU~

.

"Tidak enak,"

Kurapika menatap pemuda itu penuh sebal, begitu Kuroro memasukkan masakan Kurapika ke mulutnya dan berkomentar. Sudah bilang tidak enak, masih dimakan juga! Dasar bajingan bejat!

"Kalau tidak enak buang saja. Kenapa masih kau makan?" Kurapika berucap dengan nada tak acuh. Ia sudah terbiasa dengan sikap Kuroro yang seperti ini.

"Karena aku lapar," Kurapika sudah menduga, Kuroro akan berkata seperti itu. Ia hanya bisa menatap Kuroro—yang sedang makan dengan lahap— dengan tatapan sebal, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada buku catatannya.

Gadis itu membaca tiap kalimat yang tertera pada buku itu, namun tidak satu pun masuk ke otaknya. Padahal jam masuk nanti, ia harus merangkum tiga buah buku, ke dalam satu halaman. Seharusnya ia mengerjakannya kemarin, tapi karena si pengacau datang dan seenaknya memerintahnya, tugas itu harus Kurapika kerjakan sekarang. Secepatnya!

"Hei. Cepat belikan aku air,"

"Tidak bisa. Saat ini aku sedang sibuk," Kurapika mengacuhkan perintah Kuroro. Tak sadarkah pemuda itu bahwa semua ini adalah kesalahannya?

"Aku bilang belikan aku air," Kuroro sedikit mempertegas ucapannya.

Kurapika menghela nafas berat, menatap Kuroro tajam. "Aku harus menyelesaikan tugas ini yang harusnya aku kerjakan kemarin! Dan kau!—sudahlah! Lupakan saja! Jangan ganggu aku! Kau punya dua kaki, dan dua tangan. Kau bisa pergi sendiri 'kan?" gadis itu kembali dengan pekerjaannya yang tadi.

"Kau menolak perintahku?" Kuroro bertanya dengan nada menantang.

"Sudah kubilang—hei!" gadis itu hampir saja meledak, begitu Kuroro langsung merampas bukunya dengan kasar, dan menjauhkannya dari Kurapika.

Gadis itu menatap Kuroro dengan tatapan mengancam. Yang ditatap malah balas menatapnya dengan tatapan datar, seolah menuntut pemaksaan di sana. Nyali Kurapiuka langsung ciut, begitu menyadari bahwa saat ini jarak antara mereka sudah sangat dekat. Kurang dari satu meter.

Langsung saja Kurapika menjauhkan dirinya dari Kuroro, menyembunyikan rona merah yang ada di kedua belah pipinya. Gadis itu memejamkan matanya, berusaha menormalkan kembali perasaannya.

Kuroro menghela nafas panjang, dan menatap Kurapika dengan tatapan malas. Seolah ia bisa membaca pikiran gadis itu. "Kalau kau tidak mau terjadi apa-apa padamu, patuhi saja perintahku!" ancamnya dingin. Sejak lahir, pemuda itu memang sudah terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan jika hal itu tak terpenuhi, ia akan melakukan apa saja untuk menggapainya.

Kurapika menoleh cepat pada pria yang saat ini terduduk di sampingnya. Terlihat jelas sirat kekesalan di wajahnya. Sejenak, ia memutar bola matanya, dan akhirnya berdiri hendak keluar. Terpaksa ia harus mengalah. Toh, ia sudah tahu sifat Kuroro, dan Kurapika tak mungkin menggali kuburannya sendiri!

Blammm!

Jika engsel atap itu tidak terbuat dari bahan terbaik, mungkin pintunya sudah rusak, akibat dibanting Kurapika tadi. Sembunyi-sembunyi Kuroro tersenyum tulus, menatap kepergian Kurapika. Senyum yang tak pernah ia tunjukkan, pada siapa pun...

.

Kurapika kembali dari kantin, dengan membawa dua botol air. Satu untuk Kuroro, dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. Yah, sekalian saja...

Di kantin tadi cukup ramai, sehingga Kurapika harus mengantri, hanya untuk mendapatkan dua botol air mineral. Mau bagaimana lagi? Ini perintah Kuroro. Kurapika melirik jam yang tertera pada monitor ponselnya. Astaga! Lima menit lagi pelajaran kedua berlangsung! Dan ia belum menyelesaikan tugasnya! Kurapika langsung mempercepat langkahnya, menaiki tangga. Jika sampai ia dihukum, ia bersumpah akan mencukur habis rambut Kuroro, yang kita ketahui adalah dalang dari semua ini!

Kurapika membuka pintu atap dengan keras, menghasilkan bunyi dentum yang menggema di atap itu. Mata sapphire-nya membelalak sempurna, begitu ia tidak menyadari kehadiran Kuroro di sana.

Pandangannya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di sana. Dengan cepat, Kurapika berlari kecil, hendak membaca apa yang tertulis di sana. Diletakkannya air yang baru saja di belinya, dan meraih kertas itu.

Lama sekali!
Aku ke kelas duluan.
Airnya kau simpan saja di sini...

Gadis itu meremas surat itu dengan emosi. Wajahnya memerah marah. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya, namun kemungkinan ia disangka orang gila membatalkan segalanya.

Pandangannya langsung tertuju pada bukunya yang tergeletak tak bernyawa di lantai. Gadis itu berusaha mengatur emosinya agar tidak meledak. Ditariknya nafasnya dalam-dalam, dan ia hembuskan.

Dengan pasrah, Kurapika meraih buku itu. Ia hanya bisa meratapi nasibnya yang sudah bisa dibilang super duper sial ini. presetan, jika nanti ia dihukum sedemikian rupa. Meski begitu, Kuroro pasti tak akan merasa bersalah sedikit pun! Membayangkan Kuroro yang tersenyum mengejek di atas penderitaannya membuat kepala Kurapika makin panas saja.

Ia pun berjalan keluar, dangan gontai.

.

.

Kurapika seolah tak memahami kejadian ini. Ditatapnya buku tugasnya itu dengan tatapan tidak percaya. Halaman yang tadinya kosong itu kini terisi dengan tulisan-tulisan yang sangat rapi, dengan jawaban yang benar pula.

Satu kemungkinan, Kurorolah yang mengerjakannya. Bukan kemungkinan lagi namanya. Kurapika yakin, Kuroro lah yang baru saja mengerjakan tugas rumahnya kali ini. Bagaimana tidak? Orang terakhir yang memegang buku ini sebelum Kurapika adalah lelaki itu! Selain itu Kurapika hafal betul, tulisan Kuroro! Rapih, dan bersambung. Berbeda dengan tulisannya yang asal-asalan saja. Yang penting bisa dibaca. Itulah prinsip teguh yang masih dipegangnya sampai saat ini.

Gadis itu menghela nafas. Diliriknya beberapa temannya yang dijemur di tengah lapangan, karena mereka tidak mengerjakan tugas mereka meski hanya satu huruf pun. Kurapika jadi bergidik ngeri, membayangkan jika ia yang berada di sana. Bukan karena terkena sengatan panas matahari yang membakar kulit! Melainkan rasa malu, karena telah disaksikan oleh hampir seluruh sekolah! Gurunya yang satu ini memang sadis, tak berperi kemanusiaan!

Senyuman tipis melekuk indah di wajah Kurapika. Dalam hati ia berterima kasih pada lelaki pemilik iris onyx itu.

Selagi Bisuke-sensei masih ada di luar menghukum para murid, Kurapika segera merogoh saku blazenya, mengambil ponselnya, dan mengetikkan sesuatu di sana.

Setelah selesai, segera ia menekan tombol 'send' dengan cepat, tepat sebelum Bisuke masuk ke kelasnya dengan wajah galak. Kurapika pun segera kembali memasukkan ponselnya itu ke tempatnya semula.

Senyuman puas kembali terukir bagaikan pelangi terbalik di bibir tipisnya. Gadis itu menatap keluar jendela, melihat langit biru yang seolah tak terjangkau itu. Entah mengapa wajah Kuroro terbayang di sana.

.

Kuroro tengah memutar-mutar pulpen hitamnya di atas meja dengan bosan. Bosan dengan pelajaran yang dibawakan oleh Buhara-sensei. Sedari tadi guru gendut itu hanya mengoceh soal makanan, makanan, dan makanan saja! Padahal ini pelajaran Sejarah. Apa hubungannya dengan makanan?

Pemuda itu tersentak, begitu merasakan ponsel— yang ia letakkan begitu saja di atas meja bergetar, menandakan pesan masuk. Semangat yang tadinya tengah terbang entah kemana itu segera kembali, begitu ia melihat nama orang yang mengiriminya pesan.

Senyuman tipis terukir di wajah tampan Kuroro, begitu ia membaca pesan singkat itu.

Didongkakkannya kepala pria itu ke samping, menatap langit biru yang cerah itu. Biru... warna kesukaan Kurapika, warna yang sama dengan mata gadis itu. Kuroro kembali tersenyum. Apakah Kurapika juga tengah menatap langit sama sepertinya?

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

Aaaaahhh! Akhirnya setelah menerjang badai, Natsu akhirnya berhasil meng-update fic gaje Natsu yang satu iniii! XDD

Ohya! Sekedar info, fic ini akan Natsu end, antara chapter 10 sampai 12. Soalnya Natsu masih bingung, gimana penentuan alurnya! Kalo endingnya, Natsu udah buat konsepnya! Tinggal disusun aja! Yaaahh... lihat aja nanti deh!

Yosh! Sesuai janji, ini balesan buat para reviewer :

. Kay Lusyifnyx :
Arigato atas reviewnya Kay-chaaann... XDD
*pasang tampang memelas ala anak yang kena bully* Natsu akan usahain buat lanjutin... XD

. Yuyu :
Makasih udah R&R Yuyu-saaann! XD
F-fic besar? Apanya yang besar? *plakkk!*

. Mikyo :
Makasih udah R&R Mikyo-saaaan! XD
Hehehehehe... gomen, gomen^^
Masalah keluarga Kuroro nii ama Kurapika nee-chan tuh masih jadi rahasia^^ *evil smirk*
Hwa? Percintaannya kurang? Oke deh! Natsu bakal nambahin^^
Makasih juga atas sarannyaaaa! XD

. Sends :
Makasih reviewnya, sends-saaan! Gomen,Natsu telat update!

. Kujo Kasuza Phantomhive :
Arigato, reviewnya Kujo-saaaann! XD
Hahahahaha! Seru yah? Arigatoo
Han Fracta tuh apaan Kujo-san?

. hana-1emptyflower :
Makasih reviewnya, hana-saaaann! XD
Nih udah update!

.

Sekarang, bolehkah Natsu minta review anda sekalian lagi? Mau kasih kritik, saran, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan lapang dada!^^b

So, akhir kata, REVIEW PLEASEEE!

~ARIGATO~

NATSU HIRU CHAN