Yo minnna-saaaann! Kita bertemu lagi besama auhtor lebay nan gila iniiii! XD
Yaaa... setelah sekian lama hiatus, akhirnya Natsu mutusin buat lanjutin fic Natsu satu-satu! Dan Natsu mengutus (?) fic ini dulu yang ditamatin! XD Yaaahh...lagipula Natsu udah tau endingnya nanti gimana, jadi gampang aja deh! XD. Dan sekedar info, kalo gak ada perubahan rencana, fic ini bakal Natsu tamatin di chapter 11! Jadi sisa dua chapter deh! XD
Yosh! Tanpa banyak bicara, silahkan membacaaa! XD
.
Cerita sebelumnya :
Kuroro tengah memutar-mutar pulpen hitamnya di atas meja dengan bosan. Bosan dengan pelajaran yang dibawakan oleh Buhara-sensei. Sedari tadi guru gendut itu hanya mengoceh soal makanan, makanan, dan makanan saja! Padahal ini pelajaran Sejarah. Apa hubungannya dengan makanan?
Pemuda itu tersentak, begitu merasakan ponsel— yang ia letakkan begitu saja di atas meja bergetar, menandakan pesan masuk. Semangat yang tadinya tengah terbang entah kemana itu segera kembali, begitu ia melihat nama orang yang mengiriminya pesan.
Senyuman tipis terukir di wajah tampan Kuroro, begitu ia membaca pesan singkat itu.
Didongkakkannya kepala pria itu ke samping, menatap langit biru yang cerah itu. Biru... warna kesukaan Kurapika, warna yang sama dengan mata gadis itu. Kuroro kembali tersenyum. Apakah Kurapika juga tengah menatap langit sama sepertinya?
.
.
Disclaimer : Togashi Yoshihiro
Title : AmI Really Hate You?
Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan
Genre : Romance and Friendship
Rated : T (buat jaga-jaga)
Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!
Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!
Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.
.
.
.
.
Don't like, don't read… XD
.
Chapter 9 :
Ada sebuah mitos yang mengatakan... jika kita bertukar ikat kepala dengan orang yang kita sukai usai pekan olahraga , maka kita akan bersama dengan orang itu untuk selamanya...
"Tidak menarik," komentar Kurapika malas. Neon yang ada di dekatnya hanya memasang wajah cemberut, meratapi nasibnya yang harus berteman dengan gadis yang bernama Kurapika Kuruta itu.
Neon tidak menyerah! Ia lalu duduk di bangku depan Kurapika, yang dibatasi dengan meja berwarna putih itu. Ia menatap gadis pemilik mata sapphire itu penuh minat. Kurapika hanya menghela nafas, dan menatap Neon bosan.
"Apa kau... tak ingin menukarkan ikat kepalamu dengan seseorang?" tanyanya.
Kuroro. Itu yang pertama kali Kurapika ingat. Gadis itu berupaya untuk menutup rasa kaget, yang langsung terlintas di kepalanya. Kenapa? Kenapa harus pemuda itu lagi?
Kurapika memalingkan wajahnya. "Tidak. Tidak kok..." dustanya. Mana mungkin, Kurapika mengajak Kuroro bertukar ikat kepala? Terlebih, jika pemuda itu mengetahui tentang mitos murahan macam itu! Pasti harga diri Kurapika yang setinggi gunung Fuji itu akan hancur berkeping-keping!
Neon menghela nafas. "Padahal ini kesempatan besar lho! Apalagi jika orang yang kau sukai itu tidak mengetahui tentang mitos ini!" ucap Neon, akhirnya menyerah, untuk mengajak Kurapika bergosip pagi ini. "Ohya! Kalau aku ingin menukarkan ikat kepalaku kepada Shalnark senpai!" sambung Neon, tanpa ditanya sama sekali.
Kurapika melirik kecil pada gadis pemilik rambut pink itu. "Kau menyukainya?"
Wajah Neon memerah. Ia lalu memainkan jari-jarinya sambil menununduk. "I—itu..." gumamnya. Sejujurnya ia sangat bahagia, Kurapika merespon dengan baik kali ini. Persis seperti apa yang diinginkannya, dan berbeda jelas, dengan apa yang diduganya. Ia sudah menduga Kurapika akan berkata 'oh' atau 'aku tidak bertanya kok,' ternyata Kurapika sudah sedikit berubah.
Kurapika menghela nafas entah yang kesekian kalinya pagi ini. "Ya sudah! Semoga beruntung,"
"Ahhh! Terima kasih, Pika-chan! Kau benar-benar temanku yang paling baiiikk!"
"Hm, terserah..."
Kurapika langsung merasakan ponsel di jasnya bergetar. Ia lalu merogoh sakunya, dan melihat pesan yang masuk tersebut.
Senyuman tipis langsung mengembang di wajah cantiknya. Ia pun kembali memasukkan ponselnya, lalu berdiri siap meninggalkan kelas itu.
"Kau mau ke mana?" tanya Neon.
Kurapika lalu tersenyum, membuat Neon terkejut setengah mati. Tidak biasanya Kurapika begini. Mimpi apa ia semalam. "Ke suatu tempat!" ucapnya singkat, lalu berjalan meninggalkan kelas yang ramai itu.
.
Kurapika berdiri di depan pintu atap. Ia menghirup nafas dalam-dalam, dan kemudian menghembuskannya kembali. Wajah yang tadinya terlihat berseri-seri itu langsung berubah datar.
Ia lalu membuka pintu tersebut. "Ada apa lagi?" tanyanya dengan nada malas.
Kuroro yang sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya pada tangannya yang terlipat di belakang itu hanya menatap Kurapika datar. Kurapika lalu mengambil tempat duduk di samping Kuroro.
Prakkk...
Pemuda itu melemparkan beberapa buku catatan di depan Kurapika. "Kerjakan," ucapnya santai dan memejamkan matanya, menikmati sensasi ketenangan di tampat ini. Tapi sepertinya ketenangan ini akan segera berakhir.
"Kau menyuruhku mengerjakan semuanya?" tanya gadis itu tidak percaya.
"Satu buku tugas, dan yang lainnya itu buku catatan. Kau tinggal mencari jawaban di buku catatatan saja, lalu menyalinnya ke buku tugas. Masa hal sepele begini saja kau tidak tahu?"
"Tak bisakah kau mengerjalan tugasmu sendiri? Apa yang bisa kau harapkan dari anak kelas 2? Bisa-bisa kau jadi bodoh!"
"Tak akan pernah terjadi. Memangnya sejak kapan kau menjadi ibuku?"
Kurapika mendengus, melihat tingkah pemuda yang acuh tak acuh padanya itu. Ia pun mengambil buku tugas Kuroro, dengan enggan, dan mulai membaca isi soalnya.
Lihat sisi positivnya! Gadis itu bisa mempelajari pelajaran kelas tiga, di usianya yang baru kelas 2 SMU. Menguntungkan baginya, juga bagi Kuroro. Tapi... apa pemuda yang satu ini tidak malu, menyuruh adik kelasnya untuk mengerjakan setiap tugas yang diberikan padanya.
Kuroro memang selalu memperlakukan Kurapika seperti babu. Protes pun sia-sia saja. Tiap kali ada perdebatan, Kuroro lah yang menang. Pemuda itu selalu saja bertingkah seenaknya, dan juga keras kepala. Kurapika sendiri juga bingung, apa benar ia menyukai pemuda itu?
Gadis itu mulai mengampil pulpen yang ia selipkan dalam blazernya. Dibacanya terlebih dulu soal yang ada. Dugaannya benar! Sangat sulit! Sekarang Kurapika tahu, mengapa Kuroro memberinya tiga buku catatan! Pemuda itu memang begitu pandai memanfaatkan seseorang! Gadis itu mendengus kesal, lalu mencoba untuk mengerjakannya. Ingin sekali rasanya ia menjawab soal itu dengan asal, agar Kuroro jadi malu sendiri. Tapi keraguan melunturkan niatnya itu. Meski dingin, Kurapika tahu kalau Kuroro itu memiliki sifat yang teliti, dan selalu memperhatiakan hal sedetail mungkin. Meski dijawab dengan benar pun, ia yakin, pasti nantinya Kuroro akan protes lagi! Entah memprotes tulisannya yang jelek, atau jawabannya yang kurang tepat.
Gadis itu melirik sedikit, ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan Kuroro. Matanya membelalak, jantungnya berdegub cepat darahnya berdesir keras, ketika menyadari bahwa sedari tadi Kuroro terus memperhatikannya dengan tatapan lembut. Kurapika berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Semoga saja wajahnya tidak memerah.
Iris onyx itu memandangnya lurus. Wajahnya yang datar bagaikan memakai topeng itu membuat kesan dingin padanya.
Kurapika menghela nafas sejenak. "Apa yang kalu lihat?" ketusnya.
Kuroro masih memandang Kurapika, membuat gadis itu merasa risih. "Tidak ada,"
"Tatapanmu itu menggangguku!" tangan Kurapika bergerak menyentuh pelipis Kuroro, memaksa agar pemuda itu menoleh ke arah lain. Tanpa sadar sentuhannya pada tubuh Kuroro membuatnya bagiakan tersengat arus listrik. Segera ia tarik tangannya kembali, dan menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat.
Kuroro menatap Kurapika dengan sebelah alis yang terangkat. "Memangnya aku menatapmu?"
Kurapika jadi kesal. Bahkan pemuda itu tak menyadari bahwa sedari tadi ia memperhatikannya. "Sudahlah! Aku benci, kalau harus berdebat denganmu,"
"Benci, karena kau selalu terpojokkan," ucap Kuroro pedas. Namun itu memang kenyataan.
Kurapika hanya diam, menatap pemuda itu kesal. Betul apa yang dibilangnya. Kali ini Kurapika terpojok lagi olehnya. Kurapika memutuskan untuk tak mengubrisnya sama sekali. Ia kembali mencoba mengerjakan tugas Kuroro, berusaha mengembalikan kosentrasinya yang tadi sempat hilang oleh ulah Kuroro.
"Kau tidak ikut dalam persiapan pekan olahraga nanti?" tanya Kuroro lagi. Apasih, yang pemuda itu rencanakan? Bisa-bisa tugas ini lambat selesainya, jika Kuroro terus menunda waktunya.
Namun akhirnya Kurapika mencoba untuk meladeni pemuda ini. Toh, sekalian menghilangkan suasana canggung. "Hn, persiapan di kelasku sudah selesai,"
"Kau memasuki lomba apa?" tanya Kuroro lagi.
"Lari estafet," jawab Kurapika pendek. Ia lalu melirik pada Kuroro yang mengangguk mengerti. Ia rasanya penasaran, lomba apa yang diikuti oleh pemuda tenang sepertinya. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya. "Kau sendiri,"
Kuroro hanya mengangkat bahu. Sejujurnya itu bukan jawaban! Kurapika mendengus, dan kembali mengerjakan tugas Kuroro.
.
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya Kurapika selesai mengerjakan semuanya. Ia menghela nafas lega, menatap buku Kuroro dengan tatapan puas. Ia sempat bingung, mengapa guru Kuroro tidak curiga, mengingat tulisannya dan tulisan pemuda itu jauh berbeda?
Baru saja Kurapika hendak menoleh, memberi tahu Kuroro bahwa tugasnya selesai, ia terkejut begitu melihat pemuda itu tengah tertidur dalam posisi duduk dengan lelap.
Kurapika menatap wajah tampan itu. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Helaian rambut hitam Kuroro terurai ke depan, memberikan kesan berantakan, namun tak menutupi kesan arogan yang terpancar darinya. Aroma maskulin Kuroro menyeruak, membuat gadis itu terlena olehnya.
Di luar perintah otaknya, Kurapika semakin mendekatkan dirnya pada Kuroro, seolah terhipnotis oleh sirat tampan itu. Perlahan tangannya terangkat, menyibakkan helaian hitam Kuroro ke belakang. Permukaan kulit Kuroro terasa begitu dingin. Mungkin hanya mencapai 34 derajat.
"Dasar cowok yang suka mengatur, suka ikut campur, dan suka seenaknya!" ejek Kurapika.
Mata Kurapika membelalak kaget begitu merasakan pergerakan Kuroro. Pemuda itu langsung menarik tangannya, membuat Kurapika kehilangan keseimbangan, sehingga ia harus terjatuh di pelukan pemuda itu.
Tidak hanya itu, tanpa berpikir, Kuroro langsung saja menarik wajah Kurapika, dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Kurapika masih sulit untuk mencerna apa yang barusan terjadi. Ia tersentak kaget, begitu melihat mata Kuroro terpejam. Pemuda itu menciumnya tanpa sadar!
Kurapika tak tahu harus bagaimana. Seolah sesuatu mengguncang dadanya. Kenapa Kuroro melakukannya? Bagaimana mungkin pemuda ini bisa menciumnya dalam keadaan tertidur seperti itu?
Setelah sepuluh detik terdiam, akhirnya otak Kurapika langsung merespon. Harga diri dan gengsinya yang tinggi itu langsung saja mendorongnya untuk mendorong Kuroro, menjauhkan dirinya dari pemuda itu. Pergerakan gadis itu membuat pemuda yang ada di depannya itu terbangun. Ia mengerjap-kerjapkan matanya, berusaha agar kesadarannya kembali pulih.
Ditangkapnya sosok Kurapika yang duduk mematung di depannya, menatapnya tak percaya dengan wajah yang merona merah. Kuroro langsung teringat ada rasa di bibirnya, yang baru saja ia rasakan. Untuk seorang Kuroro Lucifer, ia langsung tahu apa saja yang terjadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya sinis. Ia menuduh Kurapika yang menciumnya barusan.
Kurapika masih dalam kadaan kaget. Nafasnya memburu. Dengan cepat, gadis itu menyeka bibirnya, menghapus bekas ciumannya dengan Kuroro barusan. "Apa yang kulakukan? Kau baru saja menciumku tanpa sadar!" tuduh Kurapika marah.
"Aku?" Kuroro menunjuk dirinya sendiri. Ia ragu, tapi kilat di batu sapphire itu mengisyaratkan kejujuran.
"Aargh!" Kurapika mengerang frustasi, atas kejadian ini. Kenapa coba, ia juga harus memperhatikan wajah itu! "Terserah kau mau pecaya atau tidak! Aku mau kembali ke kelas! Tugasmu sudah selesai," ucapnya kesal, seraya berdiri dari duduknya, dan berjalan keluar.
Baru saja tangan Kurapika terangkat untuk meraih knop pintu di atap itu, Kuroro keburu memanggilnya. "Hei,"
Dengan berat hati, ia menoleh, menatap pemuda itu dengan sebal. "Apa?"
"Eumm... tidak apa-apa. Lupakan saja,"
Kurapika makin sebal saja dengan pemuda yang satu ini. Dibukanya pintu itu dengan kasar, dan menutupnya dengan keras, menyebabkan bunyi bantingan. Kuroro tersenyum tipis, memperhatikan kepergian Kurapika.
.
.
Kurapika berjalan dengan kaki yang dihentakkan dengan sebalnya, menelusuri tangga. "Dahi aneh! Sok keren! Sok ganteng! Sok sempurna!" gerutunya penuh kesal.
Baru saja Kurapika hendak berbelok, kakinya langsung saja tersandung. Gadis itu hampir saja berciuman dengan lantai, jika ia tak menjaga keseimbangannya dnegan baik. Tatapannya langsung menajam ke belakang. Ia tahu yang menyandungnya tadi bukanlah ember, atau semacamnya. Melainkan kaki manusia!
Dilihatnya Pakunoda sedang menyadarkan bahunya di dinding tembok, sambil melipat kedua tangannya di dada. Kesempatan yang bagus! Sekarang Kurapika bisa membalaskan dendamnya!
"Dari kencan yah?" ucap Pakunoda sinis.
Tangan Kurapika mengepal kuat. Ingin rasanya ia memukul gadis di depannya ini kuat-kuat. Namun sebuah ide licik langsung tertera di otaknya. Kurapika tahu, kalau Pakunoda menyukai Kuroro.
"Ya, dengan Kuroro," ucapnya seraya tersenyum meremehkan, mencoba untuk membuat emosi gadis itu naik. Namun dilihatnya Pakunoda berusaha menahan amarahnya.
"Senang?"
Kurapika nampak berpikir sejenak, lalu kembali tersenyum. "Ya... 1% senang..." ucapnya santai. "99% senang sekali!" sambungnya, dengan nada mengejek.
Emosi Pakunoda hampir mencapai titik puncaknya, persis seperti apa yang diharapkan Kurapika. Ia berusaha, agar imejnya tetap terjaga. "Dasar cewek tidak tahu malu! Bilang saja kalau kau mengincar harta Kuroro!"
Kurapika lagi-lagi tersenyum. "Wah, sepertinya ada yang iri. Memangnya kenapa kalau aku mengincar harta Kuroro? Kami 'kan sudah resmi pacaran! Kenapa kau yang sibuk?"
Pakunoda sudah tak tahan lagi. Amarahnya tumpah, bersamaan dengan kepalan tangannya yang menuju Kurapika. Namun Kurapika dengan cepat menangkap pergelangan tangan Pakunoda, dan,
BWAGGGGHH!
Tinjuan Kurapika pun langsung mendarat di pipi Pakunoda, membuat gadis berambut pirang pucat sebahu itu harus tersenungkur di lantai. Kurapika memukulnya tanpa belas kasih. Sepertinya pukulannya tadi cukup kuat, untuk meretakkan rahang Pakunoda. Tangannya masih mengepal kuat. Tatapannya begitu dingin.
"Itu balasan untuk apa yang telah kau lakukan padaku di ruang audiotirium, saat festival, dan malam itu!" ucapnya datar, seraya meninggalkan tempat itu. 'Terutama saat kau berusaha untuk membuatku membenci Kuroro,' sambungnya dalam hati.
Pakunoda membungkuk bak udang, merasakan tulang pipinya retak, bahkan hampir pecah. Rasanya begitu sakit, membuatnya tidak bisa bergerak.
Kurapika berjalan dengan perasaan lebih lega meninggalkan tempat itu. Puas? Jawabnnya... belum! Ia belum puas, memberikan Pakunoda pelajaran yang setimpal setelah apa yang orang itu perbuat padanya.
.
~AM I REALLY HATE YOU?~
.
Saat yang ditunggu-tunggu para siswa Hunter High School pun tiba juga. Pekan olahraga tahun ini lebih ramai dibanding dnegan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu, lomba dibagi atas tiga kelompok, yaitu kelas satu, dua, dan tiga, kali ini regu yang dibentuk ada lima. Dari kelas A, B, C, D, dan E. Jadi kesimpulannya, Kurapika yang dari kelas 2-A, sekelompok dengan Kuroro, dari kelas 3-A.
Kurapika mengikatkan pita merah yang merupakan simbol dari kelompoknya di dahinya. Beberapa teman wanitanya memvariasi pita itu. Ada yang menjadikannya bando, adapula yang menjadikannya pita di ikat rambut mereka, dan lain sebagainya. Kurapika tak melakukan hal yang sama. Toh, ia tak begitu memperdulikannya.
Setelah selesai, Kurapika sedikit meraba pitanya. Ia teringat akan perkataan Neon kemarin.
Ada sebuah mitos yang mengatakan... jika kita bertukar ikat kepala dengan orang yang kita sukai saat pekan olahraga usai, maka kita akan bersama dengan orang itu untuk selamanya...
Pandangannya langsung tertuju pada Kuroro, yang juga sedang memasang pitanya. Tanpa sadar Kurapika terus memperhatikannya. Kuroro terlihat jauh lebih keren dengan pakaian olahraga, dan rambut berantak seperti itu. Entah tanpa disengaja, atau Kuroro juga hendak melirik Kurapika, tatapan mereka berdua bertemu.
Sapphire bertemu onyx.
Rasanya Kurapika ingin segera mengalikan wajahnya. Namun sorot mata hitam Kuroro seolah memaku kepalanya, agar tak bisa menoleh ke mana-mana. Kuroro pun masih menatapnya, tentu saja dengan ekspresi datarnya.
"Kyaaaaa! Itu Kuroro senpaaaaii!"
Kurapika tersentak sadar, begitu mendengar jerit histeris dari anak kelas satu. Segera ia tolehkan kepalanya, menghindari tatapan Kuroro—meski tak perlu, karena Kuroro juga langsung mengalihkan pandangannya.
Selanjutnya Kuroro pun dikerumuni oleh gadis-gadis. "Kuroro! Nanti kita tukaran ikat kepala yah!"
"Kuroro senpai! Katanya lari berpasangan nanti dilakukan antara anak kelas dua dan kelas tiga! Kita pasangan yah senpaaaaii!"
"Ahhh! Aku mau lomba lari kaki tiga dengannya!"
"Kuroro! Kau mau masuk lomba apa?"
"Ikat kepalamu nanti berikan padaku yah!"
"Tidak boleh! Aku yang harus bertukar ikat kepala dengannya!"
Kuroro tak mengubris perkelahian gadis-gadis itu. Ia memang sudah mengetahui, tentang mitos ikat kepala yang sedang ramai diperbincangkan itu. Makanya sekarang para gadis sedang sibuk, mempersiapkan diri untuk menyatakan cintanya dengan ikat kepala itu. Zaman sekarang, masih ada juga orang yang percaya dengan mitos seperti itu. Tapi... bukankah hal itu sesuatu yang romantis?
Kuroro lalu menangkap sosok Kurapika, yang sedang berbicara sesuatu dengan seseorang, yang Kuroro duga adalah pengurus pekan olahraga ini. Wajah ketus itu langsung berubah menjadi senyuman lembut penuh arti. Ia terus memperhatikan Kurapika dari jauh.
Sesekali gadis itu tersenyum, dan sesekali ia cemberut. Berbicara dengan wajah tenang yang sudah menjadi kebiasaannya itu membuat Kurapika bagaikan tak tertarik pada apa pun.
Kuroro langsung tersadar, ketika merasakan tepukan di bahunya. Segera ia menoleh, dan mendapati Shalnark yang menatapnya curiga. "Kau sedang memperhatikan apa?" godanya.
Kuroro langsung saja memalingkan wajahnya ke arah lain. Sial! Dia dipergoki! Ia tahu jika Shalnark sudah berulah, ia takkan berhenti sampai Kuroro benar-benar terpojok. "Tidak ada," jawabnya mencoba untuk setenang mungkin.
"Ah, aku melihat ada malaikat cantik di sana. Sepertinya seseorang juga melihatnya tadi," godanya lagi.
Kuroro menghela nafas. Ia manatap Shalnark datar. "Kau, enyahlah dariku!" usirnya.
Shalnark tertawa kecil, seraya meninggalkan Kuroro. "Awas Lucifer! Nanti dia keburu direbut orang lain!"
Kuroro memandang kepergian Shalnark dengan sebal. Begitu ia kembali melihat Kurapika, ah, gadis itu sudah tidak ada di sana. Kuroro mengedarkan pandangannya, mencari sosok pirang itu, namun hasilnya nihil juga.
.
"Baiklah, Pekan Olahraga tahun ini dimulai, dengan lari estafet. Bagi siapa yang bisa meraih garis finis terlebih dahulu, dialah pemenangnya. Tidak dibenarkan mendorong lawan, atau melakukan hal-hal yang merugikan lawannya!" suara panitia terdengar dari lapangan. Seluruh siswa bergegas menuju lapangan lari, melihat perlombaan berlangsung.
Kuroro jadi teringat, akan perkataan Kurapika kemarin. Gadis itu bilang kalau dia mengikuti lomba estafet. Karena penasaran, Kuroro pun mencoba untuk ikut melihat, namun ia juga berupaya agar keberadaannya tidak ditemukan oleh fangirl-fangirl gila itu.
Kuroro menatap perlombaan itu datar. Kurapika ada di giliran ketiga. Saat ini tongkat kayu itu masih dipegang oleh giliran pertama.
Begitu pistol diluncurkan ke atas, tanda dimulainya perlombaan, suara riuh piuk langsung saja terdengar, utamanya dari para kaum Adam. Tentu saja, melihat para gadis berlari dengan cepat menggunakan pakaian olahraga dan celana pendek itu ada keindahan tersendirinya. Entah mengapa, beberapa wajah lelaki yang ada di sana menjadi memerah?
"Yaaah! Regu kuning masih memimpin! Regu merah nampaknya tertinggal di belakang!" suara panitia yang membawakan jalannya acara terdengar jelas. Benar. kelompoknya tertinggal di belakang.
Suara protes dari teman-teman sekelasnya terdengar. "Duh, dia tuh anak kelas berapa sih? Lambat sekali!"
Akhirnya tiba saat giliran kedua. Anak giliran pertama tadi langsung tersungkur kelelahan. Giliran kedua kali ini jauh lebih payah! Kalau tadi giliran pertama tertinggal dua meter, kini tertinggal jauh. Sekitar sepuluh meter mungkin? Sudah dipastikan, kelas A akan mendapat juara buntut dalam perlombaan kali ini.
"Waaahh, tidak biasanya seorang Kuroro Lucifer menyaksikan hal yang beginian! Biasanya ia jarang, mengikuti kegiatan seperti ini," LAGI-LAGI Shalnark datang dari belakang, dan menggoda Kuroro. Kuroro jadi semakin kesal, pada sahabatnya yang satu ini.
"Jangan ikut campur," ketusnya.
Shalnark tertawa. "Bilang saja kalau kau mau melihat si Kuruta itu!" ucapnya dengan nada mengejek. Pandangannya langsung tertuju pada jalannya perlombaan. "Hei lihat! Kurapika sudah bersiap-siap!"
Kuroro langsung memutar kepalanya, kembali melihat jalannya perlombaan. Dilihatnya Kurapika, yang sudah siap menerima tongkat kayu dari temannya. Regu lain sudah jauh meninggalkannya. Entah mengapa Kuroro jadi tegang sendiri.
Sayangnya semuanya tak berjalan lancar. Entah karena sengaja maupun tidak, anak kelas 3 yang merupakan giliran kedua itu menjatuhkan tongkat tersebut. Hal itu menimbulkan pekikan kecewa dari para siswa utamanya para kelas A. Kini pupuslah harapan mereka, mengingat saat ini Kurapika tertinggal jauh.
Tanpa pikir panjang, Kurapika langsung saja memungut tongkat tersebut dan berlari dengan cepat. Semua orang terkejut melihatnya. Gadis itu berlari dengan begitu cepat, hampir manyaingi lari Kobayakawa Sena dari fandom sebelah.
"Ah, dia 'kan Kuruta yang dingin itu?"
"Kurapika Kuruta yang bagaikan gunung es itu?"
"Hebat sekali..."
Komentar-komentar dari beberapa siswa mulai terdengar. Namun Kuroro tak mengubrisnya. Ia masih memperhatikan Kurapika yang berlari dengan wajah tenang. Tak sedetikpun matanya melenceng dari gadis itu.
Satu demi satu lawan Kurapika lewati. Dengan gesit ia menyelip dan melewati dua lawan yang berlari secara berdekatan. Kuroro masih terdiam, seolah ia baru melihat sosok asli Kurapika sekarang. Gadis yang tangguh!
"Kelompok merah memimpin, dan semakin lama semakin jauuuhh!" panitia pun ikut tegang, sampai Kurapika memasuki garis finish "Dan Ia pun memasuki finiiiisshh! Pemenang estafet kali ini adalah kelompok merah, yaitu kelas A!"
Kurapika menghentikan larinya. Ia menghela nafas panjang, kelelahan. Tidak terlalu lelah juga sih, tapi cukup membuat staminanya terkuras. Selanjutnya teman-teman sekelasnya langsung mendatanginya dan menyorakinya gembira.
Dari kejauhan, Kuroro tersenyum tipis melihat hal itu. Ia pun memasukkan tangannya di saku celananya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
Kurapika menghapus karingatnya dengan handuk, lalu meminum minuman yang disodorkan oleh sahabatnya, Neon.
"Tadi kau hebat sekali Kurapika! Aku jadi kagum! Coba dari dulu kau berparsitipasi saat pekan olahraga! Pasti kelas kita akan selalu mendapat juara!" ucap Neon bersemangat. Saat ini mereka berdua tengah duduk di bangku panjang.
Kurapika menghela nafas. "Aku baru ada mood tahun ini," ucapnya santai.
Neon memperhatikan Kurapika. Matanya membelalak, ketika melihat bibir sahabatnya itu. Gadis itu langsung memegang dagu Kurapika, dan menatap bibirnya yang tipis. Tentu saja Kurapika terkejut dengan perlakuan Neon barusan.
"Kurapika, baru saja ciuman yah?"
Mata Kurapika membelalak kaget. Langsung saja ia teringat akan ciuman Kuroro kemarin. "K—kau tahu dari mana?" ucapnya tanpa sadar. Ia mengutuk dirinya telah mengucapkan hal itu. Bukannya lebih baik, jika ia bilang 'mana mungkin,' 'jangan ngaco!' atau lain sebagainya. Tapi ia malah mengatakan hal yang sama saja sebagai pengakuan bahwa ia sudah ciuman dengan seorang pria!
Neon lebih kaget lagi mendengar jawaban Kurapika. "Benarkah? Tadinya aku hanya menebak saja! Aku kemarin membaca ciri-ciri orang baru saja ciuman dari majalah! Biasanya bekas ciuman itu masih kentara, sampai 2-3 hari, jika dilihat dari dekat,"
Kali ini Kurapika merutuki dirinya sendiri.
"Dengan siapa? Kapan? Bagaimana bisa?" tanya Neon bertubi-tubi. Ia mendekatkan tubuhnya dengan gadis itu, memaksanya untuk bicara.
"Emmh..." Kurapika seolah kehabisan kata-kata. "Aaaahh! Itu bukan urusanmu! Aku mau ke toilet dulu!" baru saja Kurapika hendak berdiri, tangan Neon langsung menariknya untuk duduk kembali.
"Aku takkan membiarkanmu pergi sampai kau memberitahuku siapa pemuda yang beruntung itu!"
Kurapika mengernyit. "Beruntung?"
"Astaga Kurapika! Kau tak tahu, betapa populernya dirimu dikalangan para lelaki? Apalagi setelah perlombaan tadi! Fans-mu akan semakin bertambah!
"Aku tidak peduli! Sekarang lepaskan aku!"
"Tidak mau, sampai kau memberitahuku!"
"Takkan pernah!" tantang Kurapika tak mau kalah.
Neon memasang wajah cemberutnya. "Kalau kau tidak mau memberitahuku, akan kubilang pada Shizuku dan Eliza bahwa kau baru saja dicium!"
Kurapika terkejut bukan main. Ia sudah tahu jika ketiga temannya itu mengetahui sesuatu yang menarik, mereka tak akan sungan menyebar luaskannya. Akhirnya Kurapika menyerah. Mengelak pun tidak ada gunanya.
Gadis itu menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Eumm... jangan bilang siapa-siapa yah!"
Neon mengangguk mantap.
"Itu... Kur—"
"Kurapika!" perkataan Kurapika tersela, begitu melihat panitia yang merupakan perwakilan dari kelasnya mendatanginya.
Kurapika bersyukur setengah mati oleh kedatang temannya yang satu ini. Ia terselamatkan dari tuntutan Neon! "Ya, ada apa?" tanyanya berdiri, seolah berusaha menjauh dari Neon.
"Mizuki-chan tidak bisa datang karena sakit. Kau bisa menggantikannya lomba lari berpasangan?"
"Ha? Kenapa harus aku?"
"Sebenarnya kakak kelas yang mementukan siapa yang akan menjadi pasangannya nanti,"
Kurapika terdiam. Siapa yang memilihnya? Ia ingin menolak, tapi jika ia melakukannya ia akan terperangkap dalam jeratan Neon. Lebih baik ia ikut, daripada harus membuang malu di hadapan Neon.
"Baiklah," ucapnya setengah hati. Neon yang duduk di belakangnya hanya menatapnya kesal.
.
.
"Kenapa aku harus menggantikanmu lomba lari berpasangan?" protes Kuroro, pada temannya, Shalnark.
"Duh, maaf yah Kuroro! Tiba-tiba perutku sakit! Aku tahu larimu lebih cepat! Selain itu kau pasti cukup kuat, untuk menggendong gadis 17 tahun 'kan?"
"Tapi aku—" belum sempat Kuroro melanjutkan kalimat protesnya, Shalnark langsung saja pergi meninggalkannya. Dalam hati Kuroro mengutuk pemuda pemilik surai coklat itu agar selamanya mules-mules!
Kuroro mendengus kesal, seraya berbalik hendak menuju lapangan. Sejujurnya ia benci, bersentuhan dengan perempuan lain, kecuali beberapa perempuan, tentunya.
Baru selangkah ia memasuki lapangan, matanya terlonjak kaget, ketika melihat gadis dengan pita yang sama dengannya ikut memasuki lapangan yang luas itu. Gadis itu... Kurapika!
Kurapika menatapnya tak percaya. "Kau..." emosionya langsung naik. "Yang dalang dari semua ini!?" tanyanya. Ia marah tanpa sebab. Mungkin karena ia mengetahui bahwa Kuroro memilih Mizuki, teman sekelasnya untuk berpasangan dengannya.
Tentu saja! Mizuki memiliki tubuh yang mungil, dan ringan! Tapi... Kurapika merasakan cemburu yang begitu dalam. Apa yang dia harapkan? Kalau dibandingkan dengan Kuroro, ia hanyalah bunga matahari, dan Kuroro lah Mataharinya. Dunia mereka jauh berbeda. Kurapika merasakan sakit, memikirkan hal itu.
"Aku di sini hanya menggantikan Shalnark. Tiba-tiba perutnya sakit. Shalnark menunjukmu?"
Kurapika menggeleng. "Aku juga hanya menggantikan temanku. Dia tidak bisa datang karena sakit,"
Kuroro terdiam. Ia jadi bingung, dengan perasaannya. Kenapa ia jadi senang dan merasa bersyukur atas sakitnya perut Shalnark?
"Jadi..." Kurapika angkat bicara. "Kita akan lari berpasangan?" tanyanya tak percaya. Kuroro hanya menjawabnya dengan anggukan ragu.
"Kyaaaaa! Itu 'kan Kuroro senpai dan Kurapika Kuruta!" jeritan salah seorang siswi mengagetkan mereka. Detik selanjutnya terdengar susulan pekikan, jeritan, dan teriakan yang membuat telinga Kurapika sakit.
Kurapika menangkap sosok Pakunoda yang menatap mereka dengan penuh kebencian. Terlihat perban di pipinya. Hebat juga, dia masih bisa pergi ke sekolah dengan keadaan seperti itu!
Wasit meniup peluit, tanda perlombaan akan segera dimulai.
Kuroro dan Kurapika dengan canggung pun masuk ke arena. Kurapika terkejut, begitu Kuroro langsung menekuk satu kakinya ke depan dan satunya lagi ke depan di hadapan Kurapika. Semua pasangan juga melakukannya.
"Naiklah! Perlombaan akan segera dimulai," perintah Kuroro.
Kurapika masih agak ragu. "A—aku berat..."
"Kalau berat paling kujatuhkan," ketus Kuroro.
Kurapika mendengus kesal. Di saat seperti ini Kuroro masih sempat saja membuatnya sebal. Dengan enggan, gadis itu pun melingkarkan lengannya di leher Kuroro, dan lelaki itu pun mengangkatnya.
Teriakan dari para fans Kuroro semakin gila. Bahkan ada yang sampai pingsan, tak tega melihat semua ini. Namun ada juga orang, yang berpendapat bahwa mereka berdua ini sangat cocok!
"Pegangan!" bersamaan dengan itu, pistol pun diluncurkan ke atas.
Kuroro langsung berlari cepat, meninggalkan beberapa lawannya di belakang. Saking cepatnya ia berlari, Kurapika hampir saja terjatuh. Untunglah Kuroro menyadarinya. "Kubilang pegangan!"
'Pegangan' yang dimaksud Kuroro adalah, ketika Kurapika mencengkram bahunya, sama dengan yang dilakukan siswa lainnya. Namun pemuda itu terlonjak kaget, ketika merasakan Kurapika memeluk lehernya dari belakang, seolah gadis itu melihat jurang di bawah sana.
Jantung mereka berdua berpacu dengan cepat. Kuroro semakin mempercepat larinya, seolah ingin semua ini cepat berakhir. Ia tak ingin debaran jantungnya terdengar oleh Kurapika, meski ia juga tahu bahwa saat ini jantung Kurapika berpacu dengan cepat.
"Kelas A memimpin, dan yaaaah! Untuk yang kedua kalinya mereka memenagkan perlombaan!"
Begitu berhenti, Kuroro langsung menurunkan Kurapika. Wajah gadis itu saat ini sangat memerah. Ingin sekali rasanya ia memarahi Kuroro, karena berlari begitu cepat hingga hampir membuatnya terjatuh. Tapi ia menyadari hampir seluruh siswi menatapnya tajam.
Kurapika membungkuk hormat pada Kuroro. "Terima kasih atas kerja samanya, senpai," ucapnya memasang ekpresi datarnya, seolah ia baru pertama kali bicara dengan Kuroro.
Kuroro meresponnya dengan senyuman tipis. Ia pun mengulurkan tangannya. "Ya,"
Kurapika menjabat tangan yang lebih besar dari tangannya itu. Tangan Kuroro terasa dingin. Sekitar lima detik mereka bersalaman, Kurapika pun menarik tangannya, menjauh dari tempat itu.
"Hwaaaa! Kurapika! teganya kau!" tuntut teman-teman sekelas Kurapika.
"Aku kenapa?"
"Kau tega sekali, tidak bilang-bilang kalau kau akan berlari bersama Kuroro senpai!"
Kurapika memutar bola matanya. "Ini hanya kebetulan! Aku menggantikan Mizuki, dan dia juga menggantikan temannya!" jelasnya.
Selanjutnya Kurapika tak mempedulikan protes tak setuju dari fangirl gila itu. Ia lalu meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.
Gadis itu merasakan ponselnya bergetar. Dirogohnya saku celana olahraga selututnya, dan mengambil ponselnya, membaca pesan yang masuk.
From : Kuroro Lucifer
No Title
Dasar! Kau berat sekali! Punggungku jadi sakit!
Kurapika mendengus. Kuroro masih sempat-sempatnya mengejeknya. Ia lalu mengetikkan sesuatu, membalas pesan itu.
To : Kuroro Lucifer
No Title
Aku 'kan sudah bilang, kalau aku berat! Punggungmu sakit itu bukan karena aku! Itu karena kau sudah termakan usia!
Kurapika menekan tombol 'send' sambil tertawa kecil. Ia lalu berjalan menuju sebuah bangku kosong, dan duduk di sana.
Satu menit kemudian, Kuroro pun membalas pesannya.
From : Kuroro Lucifer
No Title
Aku tidak terima! Pokoknya kau harus mentrakirku!
Kurapika tersenyum. Ia kembali mengetikan sesuatu, lalu memasukkan ponselnya ke sakunya.
"Baiklah! Sampai dimana pembicaraan kita tadi,"
Kurapika terlonjak kaget, begitu mendengar suara yang begitu familier baginya. Suara Neon! Bulunya langsung bergidik ngeri. Rupanya gadis itu sudah menunggunya dari tadi.
Kurapika menoleh dengan kikuk. "Maaf, aku ada urusan sebentar," ucapnya seraya langsung berdiri, berusaha menghindar dari Neon.
"Pemuda yang menciummu, Kuroro senpai 'kan?"
Langkah Kurapika terhenti. Seluruh tubuhnya meremang. Jantungnya seolah copot dari tempatnya. Bagaimana Neon bisa tahu? Habislah riwayat Kurapika!
"Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" ucap Kurapika berusaha memasang ekspresinya yang dingin.
Neon memutar bola matanya kesal. Tersirat mimik ketidaksukaan di wajahnya. "Kau tidak usah mengelak Kurapika,"
Kurapika menghela nafas panjang. "Kalau iya memangnya kenapa?"
Neon terkejut bukan main. "Jadi benar?"
"Aku 'kan bilang 'kalau'!"
Neon memutar bola matanya sebal. "Aku ini temanmu Kurapika! Ayo kita bicarakan!" bujuk Neon.
Kurapika terdiam. Memang dari dulu ia tak pernah curhat, atau pun mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Dia lebih suka memendamnya, dan menyelesaikanya sendirian. Gadis itu menatap Neon. Mungkin sudah saatnya untuk dia agar sedikit terbuka, pada sahabatnya.
.
.
.
"Ha? Jadi selama ini kalian sudah dekat?"
Kurapika hanya mengangguk. Dia hanya menceritakan kepada Neon bahwa sewaktu kecelakaan, Kurorolah yang menolongnya. Dan tanpa sengaja Kuroro juga pindah di sekolah yang sama dengannya, dan seiring berjalannya waktu, mereka jadi dekat, dan sering berhubungan. Dan ciuman itu terjadi atas dasar ketidaksengajaan. Masalah darah Kuroro, menjadi anak buah, diperbudak, sudah beberapa kali berciuman, Kurapika tak pernah mengungkitnya.
"Jadi kalian tak memiliki hubungan apa-apa, kecuali teman akrab saja?"
Kurapika diam ditanya seperti itu. Ia menyukai Kuroro, dan Kuroro selalu saja ada saat ia membutuhkannya. Kurapika tak tahu, apakah Kuroro memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi... menurut Kurapika hubungan mereka ini sudah lebih dari sekedar 'teman akrab'. Gadis itu hanya mengangkat bahu untuk menjawabnya.
Neon lalu mengambil ikat kepalanya yang tergeletak dekat ikat kepala Kurapika lalu berdiri. "Baguslah! Dengan begitu, aku juga bisa dekat dengan Kuroro senpai!" ucapnya bersemangat.
Kurapika mengerutkan keningnya. "Kau menyukainya?"
"Tidak. Aku hanya kagum oleh wajahnya yang ganteng dan sifatnya yang keren!" ucapnya dengan wajah merona. "Lagipula aku sudah punya pacar!"
"Siapa?" tanya Kurapika sok penasaran. Hanya untuk membuat hati Neon senang, karena ia tahu bahwa Neon akan senang jika dipancing seperti itu. Sejujurnya ia sama sekali tak ingin mencampuri urusan orang lain.
Wajah Neon memerah. Ia lalu berbalik, hendak meninggalkan Kurapika. "Mau tau saja," ucapnya seraya menjulurkan lidahnya, seraya meninggalkan tempat itu.
Kurapika menatapnya datar. Ia pun mengambil ikat kepalanya, dan berlalu pergi.
.
.
Gadis itu menyalakan kran air, lalu membasuh wajahnya yang sedikit berkeringat. Diambilnya tisuue yang tergantung di sana, dan mengeringkan wajahnya.
Kurapika menatap pantilan dirinya di cermin. Dipegangnya bibirnya itu dengan jemari telunjuk dan tengahnya. Seketika wajahnya berubah menjadi merah. segera ia kembali membasuh wajahnya, menghilangkan perasaan aneh yang bergejolak itu.
"Pirang,"
Mata Kurapika membelalak, begitu mendengar suara yang dikenalnya, memanggilnya dari belakang. Tak perlu lagi ia menoleh, memngingat sebuah cermin terpajang indah di sana. Ditatapnya pantulan bayangan Pakunoda dengan tatapan benci, seolah ingin memusnahkan gadis itu.
"Mau apa lagi kau?" tanyanya dengan nada sinis.
.
.
.
~TO BE CONTINUED~
Aaaahh! Setelah semaleman ngetik, akhirnya chapter ini jadi jugaaa! XD *nyeruput kopi pada cangkir yang ke-tiga*
Gomen, Natsu telat banget update-nya! Soalnya baru dapet feelnya sekarang! Jadi... begitulah!^^
Ohya! makasih buat para reviewer yang udah nyempetin waktu buat ngasih komentar! Yang login, Natsu udah bales lewat PM! Dan ini balesannya buat yang gak login :
. Kay Lusyifniyx :
arigato atas reviewnya, Kay-chaaaaaann! XD
Wah, Kay-chan juga suka kalo Kuroro nii cemburu? *geleng-geleng kepala*
B—Botak!? *pingsan dengan mulut berbusa* gak terimaaaa! Natsu gak terimaaa! *nyekik Kay-chan* *plakk!*
. Just kurokura lover :
Arigato reviewnya, errr... Lover-saaan? (gomen, manggilnya aneh?==)
Hwaaaa! Makasih udah manggil Natsu dengan sebutan'kakak'! senengnyaaaa! XD
Yosh! Bakal Natsu usahain! X3
. Mikyo :
Arigato reviewnya Mikyo-saaaaaannn! XD
Hahahahahaa! Natsu juga gemes ndiri, ngebayangin Kuroro nii cemburu gitu! XD *meluk Kuroro nii* Mikyo-san manggil 'Natsu' aja! Okay? XD
. Horikawa Aiko :
Arigato reviewnya, Aiko-saaaaaann! XD
Cemburu? Cemburu sama siapa?
hahahahaha! Gak apa kok! Yang penting Aiko-san udah mau nyempetin diri buat baca! XD
Salam kenaaaall! XD
. Steffany012 :
Arigato, reviewnya, Steffany-saaaann! XD
Makasih udah bilang bagus! Hehehehehe! *nyengir kuda*
. JunKun :
Makasih reviewnya. Jun-saaaann! XD
Halo juga!
Waaaahh! Jun-kun jago Bahasa Inggris yah? sugooooii! XD Tapi mesti cinta Indonesia lho! XD
Aaaahh! Gomen, gomen! Soal judul, Bahasi Inggris Natsu emang ambaraduk! DX Dan soal summary, saat itu otak Natsu lagi error! XD Jadi terlahirlah, fic abal kayak gini...==a
makasih banyak atas sarannya Jun-saaaann! XD Insya allah, natsu bakal perbaiki deh! Soalnya takut, mana tau kalo judulnya diganti jadi gak ada lagi yang ngenalin fic ini! == *plakk!*
Gomen, Natsu gak bisa dapet akunnya Jun-san! DX
Yosh! Sekali lagi makasih banyak, Jun-saaaann! XD
Salam kenal!
.
Sekali lagi Natsu ngucapin makasih banyak yaaaahh!
Ohya! di antara kalian, ada yang pernah baca komik roman remaja, yang berjudul When Love is Hiding gak? Ketahuilah, beberapa scene fic ini terinspirasi dari tuh komik. Jadi kalo ada kesamaan, mohon dimaklumi! XD
Sekarang, bolehkah Natsu minta review anda lagi? Mau ngasih konkrit, kritik, saran, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^
Lanjut tidaknya fanfic ini, ditentukan dari review kaliaaaannn! X3
Akhir kata, REVIEW PLEASE…
.
~ARIGATO~
NATSU HIRU CHAN
