Yo minna-saaaaann! Setelah kejar tayang buat lanjutin fic ini, akhirnya selesai jugaaaa! X'D

Makasih buat para reviewer yang udah ngedukung Natsu sampe sejauh iniiii! XD

Yosh, tanpa basa-basi lagi, selamat membaca~

.

Cerita Sebelumnya :

Pekan olahraga baru saja berakhir. Seluruh siswa sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah, usai bersenang-senang hari ini. Terkecuali beberapa panitia, yang masih tinggal di sekolah untuk membereskan semuanya. Namun ada beberapa siswa juga yang tinggal untuk membantu.

Tidak termasuk lelaki yang di sana. Lelaki yang terbaring di hamparan tanah miring, menggunakan kedua tangannya yang kekar sebagai bantalan. Sinar matahari senja membuatnya terlihat bagaikan karya lukisan pelukis terhebat, yang harga lukisannya selangit.

Tangan kanan gadis itu menggenggam erat ikat kepalanya. Kurapika memang tak percaya akan mitos-mitos murahan seperti itu, tapi... Apa salahnya ia mencoba? Mungkin inilah saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya.

.

.

Disclaimer : Togashi Yoshihiro

Title : AmI Really Hate You?

Story by : author super lebay, Natsu Hiru Chan

Genre : Romance and Friendship

Rated : T (buat jaga-jaga)

Pairing : Kuroro nii-kun tetap bersama Kurapika nee-chan selamanya!

Warning : AU, abal, norak, OOC, typo bertebaran kesana kesini, lebay (sangat), pokoknya nih fic hancur-sehancur-hancurnya!

Summary : Nyawa Kurapika di selamatkan oleh seorang pemuda, ketika ia mengalami kecelakaan. Dan di tubuh Kurapika mengalir darah pemuda itu. Kurapika pun menganggap pemuda itu sebagai cinta pertamanya.

.

.

.

.

Don't like, don't read… XD

.

Chapter 11 :

Gadis itu menatap Kuroro yang saat ini sedang berbaring di hamparan rumbut bertanah miring, tempat penonton di lapangan sepak bola. Pemuda itu menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. Senja sore itu membuat segalanya seolah berwarna jingga.

Kurapika mengeratkan pegangannya pada pita merahnya. Tangan kirinya yang satunya memegang sekantung es krim. Ia lalu berlari kecil menuju Kuroro. Kurapika sudah tidak sanggup memendam perasaan ini lebih lama lagi. Terlebih setiap harinya ia harus bertemu dengan Kuroro.

Mungkin inilah saat yang tepat, untuk menyatakan cintanya. Senja sore itu begitu tenang dan damai, utamanya di pinggiran lapangan sepak bola Hunter High School. Suara burung-burung yang beterbangan ke arah barat, terdengar begitu indah, seolah menghipnotis para pendengarnya untuk bermalas-malasan.

.

.

Tak termasuk dua orang siswa yang saat ini duduk bersama di tanah berumput yang miring itu. Di tangan mereka masing-masing memegang es krim sendok yang kelihatannya begitu pas, dengan cuaca sekarang.

Kuroro melirik Kurapika yang membuang gelas es krimnya yang sudah kosong itu. Pandangannya teralih pada gelas miliknya. Masih tersisa seperempat. Kurapika nampak memandangi matahari yang sedikit demi sedikit mulai turun itu dengan tenang. Kuroro menatapnya sejenak, lalu kembali beralih pada makanannya yang belum habis.

Pemuda itu menyendok es krimnya, namun tidak langsung ia suapkan pada mulutnya.

"Kurapika,"

Panggilan Kuroro di sampingnya sontak membuat Kurapika menoleh, medapati sendok berisi es krim berada di depan wajahnya. Kuroro mengulurkan sendok itu, seolah memberi isyarat agar Kurapika mau membuka mulutnya.

Wajah gadis itu sontak memerah. Ia masih sulit untu mencerna kejadian ini. ditatapnya sendok kecil itu dengan bingung. Baru saja ia hendak membuka bibirnya, Kuroro keburu mengembalikan tangannya, dan memakan es itu.

"Ya sudah kalau tidak mau,"

Kurapika cemberut. Pemuda yang di sampingnya ini begitu pandai mempermainkan perasaannya. Pertama Kuroro selalu membuatnya berdebar-debar. Selanjutnya ia akan membuat Kurapika kesal setengah mati. Jika bertemu dengan Kuroro, gadis itu selalu saja naik pitam dibuatnya.

"Siapa bilang aku tid—"

Cup!

Mata Kurapika membulat, begitu Kuroro memajukan tubuhnya dan langsung mencium bibirnya dengan lembut. Pemuda itu memejamkan matanya, tak melihat ekspresi Kurapika saat ini. Ia sudah menduga, bahwa gadis yang saat ini ia cium akan marah dan langsung melemparnya ke lapangan.

Diluar dugaannya, Kuroro kaget setengah mati begitu merasakan Kurapika membalas ciumannya. Gadis itu ikut memajukan kepalanya, membalas ciuman Kuroro. Bibir mereka yang masih terasa dingin usai makan es krim menyatu, sekaligus menyatukan perasaan yang dipendam selama ini.

Ciuman mereka terasa begitu lama dan begitu dalam. Apalagi saat Kuroro memiringkan kepalanya, dan mencengkram kedua bahu Kurapika. Kurapika hanya memegang pergelangan tangan Kuroro, menikmati tiap sentuhan bibir pemuda itu di bibirnya. Terutama saat lelaki itu menjilat garis antara bibir atas dan bibir bawahnya, memberi sensasi yang hampir saja membuat dadanya meledak.

Tubuh Kurapika terasa begitu panas. Ia tak peduli apapun lagi. Saat ini hanya ada dia dan Kuroro. Ia tidak peduli apa kata orang jika melihat mereka berdua. Ia tidak peduli, saat ia harus menjadi bulan-bulanan para penggemar Kuroro jika melihat hal ini. ia tak peduli, jika Pakunoda akan melakukan hal senekat apa pun, saat melihat mereka berdua berciuman dengan mesranya.

Setelah kurang lebih dua menit, Kuroro melepas ciumannya. Ditatapnya Kurapika dengan lembut. Dahi mereka bersentuhan. Kurapika balas menatapnya.

Kurapika telah jatuh cinta pada Kuroro untuk yang kedua kalinya. Pertama kali mengetahui bahwa nyawanya diselamatkan oleh pemuda itu, Kuroro sudah memenuhi relung hatinya. Namun sikap keras kepala dan suka seenanknya dari Kuroro itu membuat Kurapika patah hati, dan membenci pemuda itu. Dan sekarang, ia jatuh cinta lagi... pada orang yang sama.

Kurapika tak bisa menjamin, entah berapa kali Kuroro akan membuatnya patah hati. Namun Kurapika yakin, bahwa ia akan kembali menyukai orang yang sama.

Gadis itu menyukai semua yang ada pada Kuroro. Wajahnya, tatapannya, senyumnya, dan sikapnya yang err... terkadang, bahkan selalu menyebalkan itu. Kurapika memang selalu dibuat sebal oleh Kuroro. Namun hal itulah yang membuat mereka menjadi dekat dan saling memahami.

"Kau tahu, kelas 2-Dnya bermain curang!"

Pembicaraan sekelompok orang yang lewat di atas Kuroro dan Kurapika sukses menyadarkan kedua insan itu. Dengan segera mereka menjauh, dengan perasaan gugup, hingga sekelompok yang diketahu teman sekolah mereka itu pun menjauh. Rupanya pekan olahraga hari ini sudah selesai.

Kurapika memegangi dadanya, berusaha menteralkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia mencuri pandang pada Kuroro, yang tetap dengan ekspresi tenangnya. Pemuda itu lalu berdiri dan membersihakn celananya siap pulang.

"Ayo! Biar kuantar kau pulang!" ucapnya tanpa menoleh, seraya meninggalkan tempat itu.

Langkah Kuroro terhenti, begitu merasakan tangannya digenggam oleh seseorang dari belakang. Ia segera menoleh, mendapati Kurapika sedang melilitkan ikat kepalanya di tangan pemuda itu sambil menunduk.

"Ikat kepalanya..." suara Kurapika terdengar begitu lirih, namun bisa didengar oleh Kuroro. "Tukar dengan punyamu ya," ucapnya masih menunduk, menyembunyikan ekspresinya.

Mata lelaki itu membelalak sempurna. Kuroro tentu saja terkejut bukan main. Ia tak menyangka, bahwa Kurapika mempercayai mitos itu. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah, Kurapika menyukainya!? Gadis itu menyukainya, dan mengutarakan perasaannya lewat pita itu.

Kuroro memandang pita itu sejenak. Begitu matanya tertuju pada rangkaian huruf, ia langsung melepaskan pitanya, dan membuangnya ke tanah. Pita itu jatuh begitu saja. Kurapika yang menunduk, bisa melihat pita merah tersebut jatuh tepat di depannya.

"Maaf. Tapi aku bisa repot jadinya, jika berpacaran dengan seorang gadis di sekolah,"

Hancur.

Itu yang Kurapika rasakan saat ini tubuh gadis itu seolah bergetar. "O—oh, begitu yah?" ucapnya berusaha tersenyum sebaik mungkin. Namun ia kurang berhasil, ketika ia hanya bisa mengelkuarkan senyuman miris yang dipaksakan. Darahnya yang bercampur dengan darah lelaki itu seolah berhenti mengalir.

"Maaf, sudah merepotkanmu selama ini," gadis itu berusaha sekeras mungkin agar air matanya tidak keluar. "Aku pergi dulu, ada urusan! Kau pulanglah duluan! Dah!" gadis itu segera berlari menjauh dari Kuroro tanpa mengambil ikat kepalanya yang tergeletak di tanah. Pemuda yang dua kali telah membuatnya jatuh cinta, dan dua kali pula membuatnya patah hati.

Dari kejauhan Kuroro menatap kepergian Kurapika dengan ekspresi dingin.

.

.

Saat ini Kurapika sedang berjalan di pekarangan sekolahnya yang sudah sepi itu. Ia ditolak...

Kurapika jadi ke-GR-an sendiri, begitu Kuroro menciumnya. Sadarlah Kurapika! Pemuda itu hanya mempermainkanmu! Kurapika memarahi dirnya sendiri.

Kuroro telah menghancurkan hatinya saat pemuda itu mencuri ciuman pertamanya, dan sekarang Kuroro malah menghanguskannya tanpa sisa. Kakinya terasa lemas. Namun Kurapika tak ingin jatuh. Ia harus tetap tegak berdiri.

Gadis itu tersenyum miris. "Aku memang bodoh..."

.

Kurapika akhirnya sampai di atap sekolah. Tempat pertemuan diam-diamnya bersama Kuroro. Tempat dimana ia menghabiskan waktu istirahatnya bersama Kuroro. Gadis itu meremas pagar pembatas yang ada di sana. Ia lalu menunduk, membiarkan helaian pirangnya jatuh menutupi wajahnya.

Setetes cairan bening jatuh dari matanya. Kemudia jatuh lagi, dan tetesan itu semakin banyak. Terdengar isakan tertahan dari bibir gadis itu.

Ia teringat akan ciuman tearkhirnya dengan Kuroro. Begitu mesra, begitu penuh cinta. Sempat Kurapika berpikir, bahwa Kuroro juga menyukainya. Benar-benar pikiran yang terlalu naif! Bagaimana mungkin seorang luar biasa seperti Kuroro Lucifer menyukai gadis biasa sepertinya?

Nyatanya Kuroro hanya mempermainkannya!

Kenyataan yang begitu pahit!

Kurapika menjatuhkan dirinya di lantai dengan lutut yang mendarat terlebih dahulu. Gadis itu mengumpat pelan, mengutuk Kuroro. Kenapa pemuda itu menolongnya? Kenapa menyumbangkan darahnya? Kenapa menciumnya? Kenapa selalu ada saat ia membutuhkannya? Kenapa Kuroro membiarkan Kurapika jatuh cinta kepadanya?

Kurapika menutupi wajahnya dengan tangan, dan menangis dalam diam.

Tak pernah ia rasakan sesakit ini. inikah yang dinamakan patah hati?

Kalau iyah kenapa rasanya begitu menyakitkan? Kurapika sering mendengarkan curahan hati Neon, Eliza, atau pun Shizuku yang menceritakan bahwa mereka dikhianati kekasih mereka. Namun mereka terlihat biasa-biasa saja. Hanya kesal. Bukan sedih. Sedih dan kecewa.

Kurapika memegangi dadanya, berharap rasa sakit ini akan segera hilang. Sayangnya tidak. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi begitu ia mengingat semua ekspresi Kuroro. Datar, dingin, menyeringai, tersenyum, sebal, dan lain sebagainya yang membuat Kurapika merindukannya.

Ia menggigit bibir bawahnya sendiri, membuatnya mengeluarkan dua tetes cairan merah kental. Seberapa keras pun ia berusaha untuk menghentikan tangisnya, itu tak ada gunanya...

.

.

Kuroro masih terduduk di pinggiran lapangan sepak bola, menatap matahari yang sudah seperempat tenggelam itu. Ia lalu mengangkat tangannya, menatap pergelangannya, bekas ikatan pita Kurapika tadi. Wajahnya nampak datar nan dingin. Pandangannya lalu tertuju pada ikat kepala merah yang masih tergeletak tak jauh di depannya.

"Dasar gadis bodoh!" gumamnya entah pada siapa.

"Kuroro senpai!"

Kuroro mendecak sebal. Kenapa di saat seperti ini masih ada yang menemuinya? Saat ini moodnya benar-benar buruk! Dengan malas, ia menoleh ke sumber suara, mendapati gadis berambut pink berlari mendatanginya. Itu Neon! Sahabat Kurapika!

Neon nampak terengah-engah. Gadis itu memegang sebuah pita merah.

"Senpai lihat Kurapika tidak?"

"Ada apa?" tanya Kuroro dengan ekspresi datar.

Neon langsung menunjukkan pita yang dipegangnya, bertuliskan nama Kurapka Kuruta. Mata Kuroro membulat sempurna.

.

.

Kuroro dengan cepat menaiki tangga atap, ingin secepatnya bertemu Kurapika. Ia yakin, Kurapika pasti ada di sana.

"Aku salah ambil ikat kepala Kurapika. Dia juga pasti salah ambil ikat kepalaku!" pemuda itu mengingat perkataan Neon.

Kesalahpahaman terjadi antara dirinya dan gadis yang disukainya. Kurapika Kuruta. Saat Kurapika menyatakan perasaannya melalui pita, Kuroro bisa melihat tulisan indah yang bertuliskan 'NEON NOSTRAD' di sana. Saat itulah Kuroro menyimpulkan bahwa Kurapika mencoba membantu temannya, dalam menyatakan perasaannya pada Kuroro.

Braakkk!

Kuroro dengan kasar membuka pintu atas sekolah itu, mendapati Kurapika yang sedang terduduk lemas di sana. Air mata masih mengalir deras di pipinya. Wajah gadis itu nampak pucat dan merah. tatapannya begitu kosong, seolah tak memiliki semangat hidup lagi.

Hati Kuroro terasa tercekik, melihat kondisi Kurapika seperti itu. Ia telah menghancurkan perasaan gadis yang dicintainya, lalu membakarnya hingga hangus. Tenggorokannya terasa tercekat, tak mampu mengatakan apapun.

Menyadari kehadiran Kuroro, mata gadis itu membelalak sempurna. Kurapika langsung berdiri, menyeka air matanya, dan mencoba untuk lari meninggalkan tempat itu. Kuroro lah, orang yang paling tidak ingin ditemuinya sekarang.

Pemuda itu langsung mencengkram pergelangan antara siku dan bahu gadis itu, tak membiarkannya pergi. Semua kesalahpahaman ini harus diluruskan! Namun Kurapika tetap memberontak, berusaha lepas dari Kuroro.

"Lepaskan!" teriaknya. Namun Kuroro tetap mencengkram tangannya.

"Aku tidak mau!"

"Lepaskaaan! Bukannya kau sudah menolakku? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Jangan pernah temui aku lagi!" pekikan Kurapika terdengar begitu menyedihkan, sukses mengiris hati lelaki yang ada di hadapannya ini.

Begitu Kuroro merasa tangannya sudah tidak mampu menahan Kurapika, pemuda itu langsung memeluknya dari belakang dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan gadis itu.

"Bukan begitu!" Kuroro mengeratkan pelukannya, membuat wajah Kurapika semakin memanas.

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Kuroro memeluk gadis itu begitu erat, membuat Kurapika merasakan kehangatan yang mendalam. Air matanya masih setia mengalir. Kuroro mencium puncak kepala Kurapika, menghirup aroma shampo yang bercampur dengan aroma manis Kurapika.

Ia lalu meraih tangan kanan Kurapika, dan mengikatkan ikat kepalanya di sana dari belakang. Kurapika terkejut setangah mati, melihat ikat kepala bertuliskan 'Kuroro Lucifer' itu terlilit di pergelangan tangannya.

"Ikat kepalamu tertukar dengan milik temanmu! Kupikir ikat kepala yang kau berikan itu bukan milikmu," ucap Kuroro lirih. Ia kembali memeluk Kurapika dengan erat, merasa bersalah telah membuat gadis ini menangis.

Kurapika melihat tangan kanannya yang terikat oleh pita Kuroro berrsentuhan dengan tangan pemuda itu, yang terikat dengan ikat kepala bertuliskan nama lengkapnya. Kurapika Kuruta.

Jadi... Kuroro tidak menolaknya? Kuroro... juga menyukainya?

"Ikat kepalaku... hanya untukmu..." ucap Kuroro, menanamkan wajahnya di pundak Kurapika. Ia begitu suka dengan aroma manis gadis ini. Kuroro tak ingin melepaskan Kurapika. Tak akan pernah!

Kurapika tersenyum gentir, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Kuroro. Kuroro menyukainya! Kuroro menyatakan cintanya padanya!

Lamunan Kurapika buyar, ketika Kuroro menghadapkan dirinya. Pemuda itu menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi gadis itu. Dibelainya wajah Kurapika lembut, sebelum pemuda itu kembali mencium Kurapika dengan lembut.

Kurapika tanpa pikir panjang membalas ciuman Kuroro. Ia sedikit berjinjit, menyamai tinggi pemuda itu. Tangannya memegang kedua bahu Kuroro. Sedangkan Kuroro malah melingkarkan lengannya di pinggang Kurapika, menarik gadis itu agar lebih dekat dengannya.

Perasaan mereka menyatu, tanpa ada satu kata 'suka' pun yang terucap.

Lama mereka berciuman, hingga ciuman itu terlepas, melepaskan ribuan malaikat yang terbang ke langit, menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan mereka berdua. Langit sudah gelap, menampakkan suasana sekolah yang sedikit menyeramkan. Namun sepertinya Kurapika sama sekali tidak takut, karena saat ini ia bersama Kuroro Lucifer. Orang yang akan selalu melindunginya. Orang yang tak akan pernah meninggalkannya—lagi.

Kuroro lalu memeluk Kurapika dengan erat, membiarkan wajah gadis itu terbenam di dada bidangnya. Yang dipeluk hanya menurut saja, membalas pelukan lelaki yang sangat dicintainya itu. Kurapika bisa menghirup aroma maskulin Kuroro yang begitu kental, terlebih setelah olahraga dan susah payah mencarinya tadi. Aroma mint yang begitu ia sukai.

.

.

Kurapika baru saja selesai memakai sepatunya, hendak keluar menuju sekolah. Hatinya saat ini bersemi-semi. Pasalnya, setelah kejadian kemarin, Kurapika rasanya terus teringat akan Kuroro. Kurapika bahkan tidak bisa tidur, memikirkan Kuroro. Gadis itu merogoh saku blazernya, melihat ikat kepala bertuliskan nama Kuroro di sana. Ia tersenyum tipis, lalu kembali memasukkannya di kantong.

Pip piiiiipp!

Kesenangan itu buyar, begitu ia mendengar suara klakson mobil berbunyi dari halaman depan. Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?

Gadis itu pun keluar dari rumahnya, mengunci pintunya, lalu berbalik melihat siapa yang datang. Matanya membelalak semurna, begitu melihat mobil spot hitam terparkir di sana. Kurapika tahu betul siapa pemilik mobil itu. Mobil itu milik kekasih barunya, Kuroro Lucifer!

Dengan langkah cepat, Kurapika berjalan menuju mobil itu. Dikuncinya pagar rumahnya, dan menatap orang dalam mobil melalui jendela pintu.

"Sedang apa kau di sini pagi-pagi?" tanya Kurapika pada Kuroro yang sedang duduk di kursi pengemudi.

Kuroro menaikkan sebelah alisnya. "Ya menjemputmu ke sekolah. Memangnya kenapa?"

Gadis ituu membulatkan matanya. "Kau gila yah? Kau ingin aku dimusuhi setengah dari siswi sekolah?"

"Naik saja, cepat! Kita sudah terlambat!" perintah Kuroro, seolah tidak mendengarkan ucapan Kurapika barusan.

Kurapika nampak berpikir sejenak. Akhirnya ia angkat bahu, membuka pintu mobil itu dan duduk di samping Kuroro. Kurapika masih agak canggung. Ia memang sering naik mobil ini, tapi... entah mengapa jantungnya masih berdebar keras.

Kuroro pun menancap gas, meninggalkan tempat itu.

"Kau bawa bentoku 'kan?" ucap Kuroro tetap fokus ke jalan raya.

"Ya,"

"Ingat yah! Kita masih terjalin kontrak!"

Kurapika mengernyit. "Kontrak?"

"Ya, kau masih menjadi anak buahku, sampai aku lulus SMU nanti," ujar Kuroro enteng.

Kurapika menatap Kuroro sebal. Pemuda yang satu ini benar-benar tidak berperasaan! Tidak manusiawi, dan tidak berperi kemanusiaan! Ia hanya mengangkat bahu. Toh, semuanya akan sama saja!

Yang terpenting ialah, akhirnya dia tahu perasaan Kuroro Yang sebenarnya.

.

.

Keduanya heran, sekaligus lega, begitu Kuroro memarkir mobinya. Suasanan sekolah masih nampak sepi, meski jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Menguntungkan juga sih, untuk mereka berdua.

Kurapika bergegas keluar, sebelum ada yang melihatnya bersama Kuroro. Ia tak mau menjadi bulan-bulanan para fangirl gila itu! Gadis itu menengok sekitar, namun tak ada siswa yang berkeliaran.

Baru saja ia hendak berlari menuju kelasnya, Kuroro langsung saja menariknya dan menciumnya. Diperlakukan secara mendadak seperti itu tentu saja membuat Kurapika terkejut. Refleks ia langsung mendorong tubuh Kuroro menjauh darinya, dengan wajah yang bersemu merah.

Kurapika menatap Kuroro dengan penuh kesal. "Jangan nekat!" Ia pun kembali berbalik, meninggalkan parkiran tersebut. Dari kejauhkan Kuroro hanya tersenyum tipis menatap kepergiannya.

.

Kurapika sampai di kelasnya, yang masih sangat sepi tak berpenghuni. Tas-tas mereka memang sudah tergeletak di tempat masing-masing, namun tidak dengan pemiliknya. Kurapika mulai merasa aneh dengan semua ini.

"Kurapika!" yang dipanggil segera menoleh, mendapati Neon yang berdiri di ambang pintu menatapnya dengan tatapan tak percaya. Wajah Neon terlihat bersemu merah.

Tanpa basa-basi, gadis pemilik surai pink itu langsung saja menarik pergelangan tangan Kurapika, berlari meninggalkan tempat itu. Kurapika sedikit terkejut, dengan apa yang Neon lakukan padanya.

"Hei, ada apa ini!?"

Neon tetap berlari, hingga ia sampai di dekat perpustakaan. Kurapika bisa melihat, kerumunan siswa berkumpul di sana, tepatnya di depan Majalah Dinding

Dengan cepat Neon langsung membawa Kurapika ke tembok, agar gadis itu tak dilihat oleh siapa pun. Gadis itu nampak mengatur nafasnya, lelah berlari.

"Ada apa sih?" tanya Kurapika yang sedari tadi diacuhkan.

Noen langsung mencengkram kedua bahu Kurapika dengan keras, menatap gadis itu seolah meminta penuntutan. "Katakan yang jujur! Apa benar, kau berpacaran dengan Kuroro senpai!?" tanya Neon dengan nada mendesak. Seolah kejujuran Kurapika memang dipertaruhkan di sini.

Mata Kurapika membelalak kaget. Dari mana gadis ini bisa tahu? Kurapika berpikir cepat. Ia tak mau lagi mengucapkan kalimat 'kau tahu dari mana' yang akan membuat Neon tambah curiga. Gadis itu berusaha menahan sesak nafasnya akibat gugup. Ia harus terlihat setenang mungkin.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanyanya santai.

"Jawab aku Kurapika! Apa benar!?" tanya Neon semakin mensedak.

Kurapika menghela nafas panjang, lalu kembali menatap Neon dengan wajah datar. "Tidak," jawabnya pendek. "Memangnya kenapa?"

Neon nampak menghela nafas panjang. "Syukurlah! Jadi foto itu bukan kau..."

Kurapika terlonjak kaget. "Foto?"

Neon mengangguk. "Di Papan Pengumuman tertempel foto Kuroro senpai, yang berciuman dengan seorang gadis berambut pirang pendek, kemarin! Mereka masih mengenakan pakaian olahraga sekolah kita!"

Jantung Kurapika nyaris copot mendengarnya. Seolah, ia tak bisa mempercayai perkataan Neon. "Yang benar?"

"Ya! Kalau kerumunan itu sudah pergi, ayo kita lihat! Kalau kau pergi ke sana bisa-bis—Kurapika!" Neon membelalak kaget begitu Kurapika langsung saja menerobos melewatinya, menerobos kerumunan siswa itu, hendak melihat foto yang Neon maksud.

Dan yang benar saja! Itu benar! Dilihatnya selembar foto yang menunjukkan Kuroro menciumnya dengan mesra. Wajahnya tidak terlalu kentara, karena pada saat itu Kuroro memegangi pipinya.

Kurapika mencoba untuk menahan deru nafasnya, membantah agar wajahnya tidak memerah, dan menetralkan detak jantungnya. Kemarin ia memang melakukannya dengan Kuroro. Tapi... siapa yang memotretnya? Kenapa orang itu bisa tahu?

Pakunoda...

Kurapika teringat akan nama itu. Kurapika mencengkram ujung roknya dengar marah. Kapan sih, cewek itu mau berhenti mengganggunya?

"Hei, apa yang ada di foto itu kau?" tanya seorang kakak kelas pada Kurapika, seolah mewakili dari pertanyaan semua siswa yang ada di sana.

Kurapika berusaha berkespresi sedatar mungkin. Namun amarahnya sudah memuncak.

"Mana mungkin," gadis itu segera menolehkan kepalanya, begitu mendnegar suara yang sangat ia kenali dari belakangnya. Suara Kuroro. Kurapika semakin tidak dapat mengendalikan detak jantungnya.

Semua pandangan langsung tertuju pada pemuda pemilik iris onyx itu. Ekspresinya seperti biasa, dingin. Dilihatnya Kuroro mengambil paksa foto itu, dan merobek-robeknya. Kurapika terkejut.

Gadis itu bisa merasakan Kuroro menepuk kepalanya dari belakang. Ia masih belum berani menatap wajah pemuda itu. "Aku tak mungkin pacaran dengannya"

Kurapika tahu tujuan Kuroro mengatakan hal itu adalah untuk melindunginya. Tapi, entah mengapa ia merasakan sesak di dadanya. Hatinya terasa sakit. Meski tak bersungguh-sungguh, nada Kuroro begitu meyakinkan bahwa Kurapika tak akan pernah pantas untuknya.

"Benar. Aku mengenal kekasih Kuroro. Dan pastinya bukan bocah ini," Shalnark angkat bicara hendak mendukung Kuroro. Mereka berdua memang sudah sangat dekat.

Seluruh siswa terdiam. Kuroro menghela nafas berat. Siapa yang melakukan ini semua? Kuroro pun berpikiran sama dengan Kurapika. Pakunoda.

Tanpa terlihat siapa pun, Kuroro mencuri pandang pada Kurapika. Ia hanya bisa melihat kapala rambut gadis itu, dikarnakan saat ini ia sedang berdiri di belakangnya. Tatapannya kembali beralih pada semua siswa yang menatapnya dengan yakin, dan... sedikit lega.

"Siapa pun yang melakukan ini, aku tak akan memaafkannya," ucap Kuroro dingin, seraya berlalu meninggalkan tempat itu diikuti oleh Shalnark.

Sedikit demi sedikit, siswa-siswa pun mulai kembali ke kelas mereka masing-masing, menyisakan Kurapika sendirian di sana.

Gadis itu memegangi dadanya yang sesak, berusaha menetralkannya kembali. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk beberapa kali, lalu menghembuskannya lagi. Akhirnya nafasnya kembali normal, tepat sebelum Neon memanggilnya.

.

.

"Kau baik-baik saja? Kalau tidak enak badan sebaiknya kau pulang dan istirahat," ucap Kuroro menyadari kehadiran Kurapika di depannya.

Gadis itu nampak sedikit lusuh, seraya menutup rapat pintu atap, dan berjalan menuju Kuroro. Diserahkannya kotak makan siang yang sudah menjadi rutinitas sehari-harinya itu, tanpa menatap mata hitam Kuroro.

Kuroro menghela nafas panjang. "Masih kepikiran soal tadi?"

Kurapika hanya mengangkat bahu, seraya duduk di samping Kuroro. "Apa pekiraan kita sama?" tanyanya tanpa menoleh.

"Menurutmu begitu?" ucapnya seraya membuka kotak bekal itu. di sana terdapat nasi, lauk pauk, dan sayuran yang tercampur seraya tidak rapi. Kuroro memang sudah terbiasa melihatnya. Rasanya... cukup sebanding, dengan bentuknya...

Tapi entah mengapa Kuroro begitu menikmati rasa pahit makanan hangus yang bercampur dengan rasa garam yang berlebihan, atau biasa juga terlalu tawar. Pemuda itu sangat menikmati tiap kunyahannya pada makan siang yang dibuatkan oleh Kurapika itu.

Mereka terdiam dalam beberapa saat.

"Kalau kau mau, kita bisa mengungkapkan hubungan kita,"

"Jangan!" Kurapika langsung saja menyela perkataan Kuroro, menatap pria itu dengan pandangan menuntut.

Kuroro menaikkan sebelah alisnya, lalu menghela nafas panjang. "Begitu?" ucapnya kembali memakan bento buatan Kurapika. Sepertinya hari ini keasinan... "kau takut?"

Kurapika tersentak. Takut? Ia teringat akan pandangan tajam para fangirl Kuroro seolah ingin menerkamnya hidup-hidup, begitu melihat kedekatan mereka saat pekan olahraga kemarin. Tapi sepertinya itu bukan menjadi alasan, kenapa Kurapika tak ingin hubungannya dan Kuroro diketahui oleh siapa pun.

Gadis itu hanya merasa belum pantas, menjadi kekasih pemuda Lucifer itu. Itu saja!

Kurapika memejamkan matanya sejenak, lalu membukannya. Menatap Kuroro dengan pandangannya yang biasa. "Tidak. Aku hanya belum siap saja," ucapnya seraya menyandarkan kepalanya di tembok pembatas itu.

Kuroro hanya bergumam paham, seraya mengunyah nasi yang masuk ke mulutnya kali ini.

Mungkin mereka akan mengalami banyak masalah ke depan. Bahkan tanpa campur tangan dari pihak ketiga pun, hubungan mereka pasti tak akan berjalan baik!

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

.

Aaahhh! Akhirnya chapter 11 kelar jugaaaa! X3

Ohya! ada yang bertanya-tanya, kapan fic ini selesai? Jawabannya, Natsu juga gak tau! *dilempar ke jurang* Tapi RENCANAnya sih, bakal ditamatin di chapter sekitar 12-14. Tapi gak sampe 15 ke atas kok! XD Soalnya Natsu mau jelasin tentang masa lalu Kuroro nii, dan Kurapika nee-chan! Minna mohon beri saran yaaaa!

Makasih buat para readers yang bersedia menyumbangakn sepucuk review buat author aneh iniii! XD Pucuk! Pucuk! Pucuk! *manjat* *ditebas Nobunaga*

Ini balasan reviewnyaaaa! XD :

. whitypearl :
Arigato reviewnya, Pearl-chaaaaaannn! XD *hug*
Hehehehehehe! Gomen, kelamaan! Maklumlah, Natsu nih gadis yang super sibuk... *dramatis*
Gimana chapter ini? hambar 'kan? *plakk!* Semi-M sesuai request Pearl-chan mungkin akan Natsu 'kembangin' di chapter selanjtunya! Apalagi mereka udah resmi, jadi lebih bebas... *smirk*
KUROPIKA FOREVER!

. Gaara Zaoldyeck 'Lucifer :
Makasih reviewnya, Kirin-saaaaaannnn! XD
Eh, kenapa nangiiiisss!? *panik*
Kuroro nii emang keren! *peyuk lengan Kuroro nii*
Wkwkwkwkwkwkwkwkk! Natsu emang sengaja bikin tbc di scene itu, biar para readers penasaraaann! *dikeroyok*

. Hana :
hahahahahahaha! Arigato kembali udah R&R! XD
Siiippp! Udah nyatain cinta 'kan...?

. Pure. White. Junction :
Makasih reviewnya, Jun-saaaaannn! XD
Hehehehehe... sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga 'kan? *bijak mode : on* Sekeren-kerennya Kurapika nee-chan, lebih keren Natsu! *dor!*
Wokeh! Makasih sarannya Jun-saaaann! Sangat membantuuuu! *peyuk*
Errrr... Natsu nggak bisa Bahasa Inggriiiiiiiiiissss! D'X
Coba deh, Jun-san bikin fic Bhs Indonesia! XD Natsu R&R deh!

. Mikyo :
Makasih reviewnya, Mikyo-saaaaaannn! XD
Kalo Kurapika gak nembak Kuroro nii, Natsu yang bakal 'sikat' duluan! *peluk Kuroro nii*
Errr... Gomen. Soalnya Natsu udah lama banget nggak ngetik! Jadi maklum aja lah! XD
Ohya! Mikyo-san manggil Natsu pake 'Natsu' aja yah! Ato setidaknya manggil 'Hiru' juga boleh! X3

.

Yosh! Sekian dulu chit-chat dari author keren yang satu ini! *ditelen hiu* Yosh! Sekarang, bolehkah Natsu minta review anda lagi? Mau ngasih konkrit, kritik, saran, bahkan flame sekalipun, Natsu terima dengan senang hati…^^

Lanjut tidaknya fanfic ini, ditentukan dari review kaliaaaannn! X3

Akhir kata, REVIEW PLEASE…

.

~ARIGATO~

NATSU HIRU CHAN