Love At Palace, Is It Possible?
By: Yuuki Aika Uchiha
Disclaimer: NARUTO belongs to Kishimoto-sensei
Pairing: SasuSaku, GaaHina, SaIno, NejiTen, NaruShion, slight ShikaTemi, etc.
Warning: AU, OOC, GaJe, Pasaran, Typos, etc.
Rated: Teens
Summary:
Sakura Haruno sebelumnya hanyalah siswi SMA di Sunagakure, seperti para siswi SMA biasa ia sangat menikmati kehidupannya, tapi sanggupkah Sakura menghadapi kenyataan bahwa pada usia yang sangat muda ini ia adalah anggota keluarga kerajaan Negara Hi yang sudah ditunangkan dengan seorang pangeran yang sangat dingin, dan yakinlah hidupnya kedepan tidak akan sama lagi. Bagaimana kisah Sakura selanjutnya? Just check it out here
CHAPTER V
"Haaa...iii..." kata Tenten terbata menyapa orang yang telah menepuk pundaknya, sedangkan Ino yang melihat hal itu hanya mampu terdiam dengan mulut ternganga.
Ino mengenali cowok itu, si Hyuuga Neji, kapten team basket yang dilamunkan TenTen tadi pagi…
Pemuda itu memiliki fisik yang tinggi dan kulitnya sangat putih. Meskipun begitu kulitnya tidak pucat seperti milik Sasuke, rambut coklatnya diikat satu kebelakang, sisa poninya dibiarkan menggantung disamping wajahnya, tampak dia sedang ber'hai-hai' ria dengan TenTen dan…
Tenten's POV
"Hai juga." Neji, si pemuda tampan impianku (aku tahu namanya setelah dikenalkan oleh Sakura), membalas 'haaii'-ku yang panjang itu dengan sangat singkat…
'Hmmph, tadinya kukira yang menepuk pundakku itu temannya Karin, si nenek lampir berambut merah, tapi kok... dia dingin sekali ya sama perempuan?
perasaan tadi lebih gentle deh… atau jangan-jangan dia homo kali ya?
Hiiiiiii...
"Uh…, ya?" jawabku tak yakin, apa sih perlunya, mana si Ino nguping di belakang lagi…
Neji's POV
Aku gak tau kenapa aku bisa jalan dan menghampiri cewek yang tadi main basket melawan Karin.
Memang sih aku bosen banget,
Habis gak tau mau ngapain.
Yahh...
Mungkin aja bisa ngobrol, sekaligus tukaran pengalaman tentang basket…
Dari pengamatan awal sih tampaknya dia enggak feminime, malah bisa dibilang tomboy.
Huft… Semoga aja gitu, aku gak mau langsung diajak kencan saat pertemuan pertama.
Setelah jarak kami cukup dekat, aku langsung menepuk bahunya pelan, sebenarnya aku agak ragu tapi yasudahlah...
Aku tak mau hanya bengong ditengah lapangan ini.
Aku agak heran saat tiba-tiba kurasakan tubuhnya menegang, apa ada yang salah dengan tanganku? Batinku bertanya-tanya, aku sedikit lega saat ia menoleh perlahan juga dan...
"Haa… ii…" sapanya dengan wajah yang agak memerah.
'Mudah-mudahan dia enggak ngajakin aku kencan.' pintaku dalam hati.
Tak mau membuang waktu, aku pun ikut berjongkok dan duduk di sebelahnya. Untungnya lagi aku sempat menjaga jarak dengannya, kalau enggak, gak tau lagi deh, liat aja mukanya sekarang, merah banget, kayaknya ini cewek yang tadi siang di cafetaria deh, kalau blushing gini, mukanya memang sama persis kaya cewek itu, bukan pemain basket yang tadi…
"Hei juga." Balasku, Kemudian dibalas dengan kata "ya?" ato sejenisnya dari dia.
Hmm… sekarang tinggal membuka topik pembicaraan, tch, bagusnya gimana yah?
"Kamu yang tadi main kan? Kapten basket sekolah, Neji Hyuuga?" tanya si 'merah'.
What The? Apa-apaan ini cewek.
Biasanya cewek kalo ngajak aku ngobrol pertama kali, biasanya tuh nanya tentang clan Hyuuga atau tentang Tou-san aku yang menteri Negara Api, kok kali ini beda yah…
"Hmm iya, anyway, tadi permainanmu bagus loh. Dulu pernah masuk team basket yah?" lanjutku,
yah... Gimanapun cewek ini buat aku penasaran juga…
Ngak banyak cewek yang bisa slam dunk dan lay up semulus itu…
Bahkan anggota team inti basket putri seperti Temari atau Karin sekalipun, terkadang saat men-shoot bola menggunakan tekhnik lay up saja, mereka bisa membuat kesalahan seperti berada tepat dibawah ring sehingga bola yang akan di shoot meleset dan hanya memantul di tepian ring karena sudut shoot yang salah.
'Stupid, careless mistake' menurutku. 'Terlalu meremehkan, dan masih kurang latihan dalam timing dan control.' Ya, aku harus ingat memarahi mereka mengenai hal ini.
Lain dengan dua penyerang ku itu, gerakan yang dilakukan gadis ini sangat sempurna. Sepertinya dia sudah sangat terbiasa dalam hal bermain basket. Barangkali sudah terlatih sejak kecil.
"Yah, bisa dibilang begitu sih, aku main basket sejak Primary School grade 4. Kalau kamu?"
Seperti dugaanku sebelumnya, cewek ini lumayan kuat dalam basket…
"Kalo aku, sudah hobby main basket sejak Kindergarden ato Nursery gitu… Tapi mulai serius waktu masuk primary. Kapan-kapan kita tanding yuk, aku kepingin nge-test, kamu pantas gak masuk team basket aku." Tantangku kepadanya, berharap ia akan menerima tantanganku akan tetapi bukan Hyuuga kalau tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahku sendiri.
"Siapa takut, he? Eh, tapi aku kan enggak bilang mau masuk team basket sekolah ini…" kata cewek itu, dia pun menatapku heran.
"Gampang terbaca kok, bagi fanatic-basketball kayak kita, begitu masuk sekolah baru, pasti duluan nyari informasi tentang team basketnya, terus langsung mau daftar , bener enggak tebakanku?
Sudahlah, gak usah ngelak lagi, minggu depan, jam 5, di sini, sehabis praktikum kimia nya Hatake-sensei. OK?" setelah mengatakan itu aku segera beranjak dari posisiku yang seenaknya menduduki tas berisi baju yang entah punya siapa, karena sebentar lagi aku sudah harus ganti baju, berhubung ada urusan OSIS, yang super duper merepotkan…
"Yaudah deh, tapi kalau aku kalah jangan disuru macem-macem yah." Sambungnya, sambil berusaha berdiri juga.
"Enggak lah, kita cuman main buat fun aja kok, anggap saja latihan biasa…
Er, aku duluan yah, ada yang harus diurus, Sakura sama temanmu itu udah nunggu tuh." Setelah ngomong begitu aku langsung cepet-cepet lari dari lapangan. Si Anko bakalan ngamuk kalo kerjaanku enggak siap-siap…
NORMAL POV
Neji keluar dari ruang itu dengan tenang, emosinya di-control dengan terlatih seperti biasa.
Beberapa pasang mata menatapnya dengan penasaran, sudah menjadi rahasia umum bagi murid-murid Royal School lainnya bahwa sang tuan muda Hyuuga tidak mudah dekat dengan orang lain diluar para anak menteri dan bangsawan lain. Tapi juga ada yang biasa-biasa dan cuek saja, memang sih, diantara mereka-mereka yang penggila basket, enggak susah untuk dekat antara satu dengan yang lain. Setelah keluar dari ruang ganti, Neji langsung meneguk habis isotonic drink yang ada didalam tasnya, dan keluar sesudah melambaikan tangannya pada wakil teamnya, Sasame, dan anak-anak basket lain.
~SaSuSaKu~
Sakura memandang aula musik sebesar lapangan bola itu dengan terkagum-kagum, aula itu persis seperti ballroom untuk konser yang ada di film-film.
"Begini nih, Miss Sakura, Aula ini dibangun bersamaan dengan renovasi sekolah ini. Design-nya langsung dari para alumni yang sudah jadi designer terkenal. Bentuknya setengah lingkaran, dengan berpusat pada panggung yang ada ditengah, di belakang panggung dan dikedua sisi pintu masuk ada ruang untuk sound system, dan perlengkapan computer.
Designnya yang indah dibuat dengan tangan dan dengan sangat teliti. Lihat saja, Lantainya terbuat dari marmer dengan lapisan lembut dari karpet beludru warna ungu, tempat duduk nya terbagi atas beberapa wilayah, daerah depan yang terdiri dari sofa-sofa dengan pinggiran kayu mahogany yang diukir oleh tenaga professional. Bagian kedua terdiri dari susunan empat buah kursi yang mengelilingi sebuah meja kaca, yang biasanya dipakai untuk menghidangkan wine, tea, ataupun coffee. Daerah ketiga adalah minibar yang ada di kedua sisi aula, bar ini berkonsep self-service, jadi murid-murid harus membuat sendiri minuman dari bahan yang telah disediakan.
Panggungnya juga dihiasi dengan sentuhan mahogany tetapi dengan kesan modern, sound system nya adalah yang terbaik tahun ini dan juga ada yang dimodifikasi sendiri oleh murid-murid jurusan musik maupun elektro. Panggungnya berbentuk melingkar untuk band atau penyanyi dan daerah di samipng panggung untuk orchestra, di lantai atas ada balkon untuk menonton dari jauh, dan juga ada pintu yang mengarah ke ruang-ruang latihan." Jelas salah seorang dayang Sakura, bernama Orihime, perempuan berambut orange yang ceria dan sangat suka mengobrol.
Di sebagian besar kelasnya, Sakura ditemani oleh Ino dan Orihime. Karena Tenten sudah memasuki jenjang Graduation Class, materi yang dipelajarinya tidak sama dengan Sakura dan Ino, dan mereka mengambil kelas-kelas yang berbeda. Pelajaran P.E tadi pun tampaknya merupakan pengecualian, sekarang Tenten tampaknya sedang mempelajari Bahasa Jepang…
Sakura pun hanya mangut-mangut mendengar penjelasan salah satu dayangnya, setelah mengalihkan pandangannya dari kelas yang diikuti Tenten saat itu, satu pikiran melintas keotaknya, ia pun segera bertanya "Ruang latihan gimana?"
Orihime tersenyum dan menghela nafas, sebelum melanjutkan penjelasannya yang panjang "Ruang latihan yang ada sangat banyak, ada tiga ruang latihan untuk jurusan per-film-an, serta tempat untuk theatre, dan kamera. Ada tiga ruang untuk latihan vocal, empat ruang untuk latihan band, empat untuk orchestra, dua untuk modelling dan walk-in closet nya, lima untuk dance, dua untuk latihan sebagai host, dan empat lagi untuk hal-hal lainnya, seperti pemanasan sebelum melakukan dance atau tempat mengecek kamera. Tetapi hari ini, dalam jadwal anda, anda akan mengikuti kelas latihan mental, yaitu persiapan sebelum tampil ke publik bertujuan untuk menghilangkan rasa malu ataupun takut saat tampil didepan publik nantinya. Jadi anda akan latihan di panggung." Katanya sambil menunjuk lorong-lorong yang mengarah ke panggung yang dimaksud.
Sakura dan dayangnya, Orihime berjalan bersama beberapa murid ke tengah Aula, seorang lelaki berambut kemerahan berdiri ditengah panggung, mengoperasikan Ipad berisi partitur music yang tampaknya sangat rumit, disampingnya ada sebuah kursi tinggi yang diambil dari minibar, dan juga microphone, guitar Ibanez, keyboard, dan saxophone.
Sakura's POV
Aku dan Orihime bergabung dengan belasan murid lain ke tengah dan duduk di kursi penonton, memang sih, ada beberapa murid yang memilih duduk di lantai demi dapat menyimak penjelasan atau pertunjukkannya dengan lebih jelas, tapi rok kami sekarang sangat pendek, rasanya enggak nyaman dan enggak sopan juga kalau kami ikut-ikutan jongkok disana.
Saat ini aku melihat Sasori, si pemuda berambut merah dan berwajah baby-face berdiri didepan dan memulai pelajaran( –aku ngak tahu harus panggil apa, ada yang manggil nya Sasori-nii, Sasori-senpai, Sas! , Sasori-sensei, dsb).
Pertunjukkan pun dimulai dengan penampilan seorang gadis cantik berambut blonde sepinggang, membawakan theme song Titanic, My heart will go on, dari Celine Dion. Dia menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan, karena tampak matanya biru nya telah berkaca-kaca ia juga bernyanyi sambil memainkan keyboard dengan sangat sempurna.
Oh, ternyata Ipad itu berfungsi sebagai pengganti kertas, mereka memasangnya di suatu jenis meja yang dipakai untuk menaruh partitur dan tinggal melihat dari sana tanpa perlu membawa banyak tumpukan kertas.
Selanjutnya si Naruto Uzumaki, membawakan Canon in Dance milik Pachbell dengan Classical Guitar…
Permainannya sangat bagus, tampaknya mereka telah belajar sejak kecil dan telah terbiasa tampil kedepan.
Atau Mungkin saja mereka menyimpan yang terbaik untuk ditampilkan saat terakhir kalinya, Sasuke menyanyikan lagu Secret by Jay Chou dengan diiringi Guitar
Kyaaaa...!
beneran mirip banget sama aslinya.
Akhirnya mereka selesai juga, kemudian, sensei pembimbing kelas Musik ku, Kurenai-sensei, menjelaskan beberapa hal yang sudah tercatat di Laptopku dan kemudian membubarkan kelas.
~SaSuSaKu~
Tampak dua orang wanita berpakaian kerajaan duduk di pondok di tengah-tengah kolam sambil meminum teh.
"Queen, bagaimana kalau kita mengadakan welcome party untuk Her highness Princess? Sekalian mengenalkannya kepada petinggi-petinggi Negara kita." kata Queen Mother Tsunade kepada Queen Mikoto.
"Ha'i Queen Mother, ide yang sangat bagus, saya sangat setuju..!" balas Mikoto dengan gembira, tampaknya ia sangat senang dengan Sakura sang calon menantu.
"Hmm...bagaimana kalau kita membuat pestanya sore ini Queen?" tanya Tsunade sambil menghirup teh bunga liar yang khusus disediakan oleh kerajaan.
"Sore ini Queen Mother?" tanya Mikoto memastikan.
"Ya, lebih cepat lebih baik" kata Tsunade sambil mengangguk-angguk dan mengacungkan tangannya ala Maito Gai.
"Baiklah Queen Mother... akan saya perintahkan para dayang serta Princess untuk bersiap." balas Queen Mikoto.
~sAsUsAkU~
Tampak Sakura dan Sasuke berjalan bergandengan dengan anggun...
Sampai tiba-tiba seorang dayang berlari tergesa-gesa kearah mereka berdua, lalu ia sedikit berjinjit dan membisikkan sesuatu pada Sakura dan juga Sasuke.
"Apaaa?" Sakura berteriak keras saat mendengar berita yang didengarnya, wajahnya menunjukkan raut terkejut
.
.
.
.
.
TBC
Author's Corner
Hai...minna...
Maaf Aika lama banget update...
Aika buntu ide nih...
Gatau mau nulis apa...
O ya...
Buat yang nungguin Gaara dan Kiba sorry banget...
Harusnya memang ada di fic ini tapi karena buntu ide akan diundur...
Maaf sekali lagi, harap dimaklumi...
Bales review dlu ya...
Just Ana ga login:
Makasih...
Soal cpt bgt saling suka sebenernya bukan gitu, coba perhatikan baik2 percakapan antara Gaara dan Sasuke
Iya, sasu gasuka Karin...
Awalnya mau buat SasuKarin, tp gatega sama Saku...
Oke, usulnya akan dpertimbangkan...
Ini udah update...
Review lg ya?
Laura Pyordova:
Neeeeeee...
Iya nihh...
Makin romantis az...
Aika ngiri...
Kyyaaakyaaakyaaa...
Nee ,mw sm sp?
Si itukah?
eheheheh
Ino sama Sai...
Ini udah update, maaf ga kilat ;(
review lagi ;)
Dijah-hime:
Dijahhhhhhhhhhhh...
Aaa...
Kok tau?
Heheh...
Ini udah updatee...
Alex de uchiha:
Baka aniki!
Makasiii...
Uda ku update baca terus awas kalo enggak!
/nodongin golok/
Rin 'Uchiharuno' Tsubaki-chan
Huaaaa...
Makasii Rin...
Maaf lama update...
Tambain petir Itachi-nii juga dong...
Ehehe
Makasi reviewnya
Review lg?
Nuryenny :
Ini udah...
Review lagi?
Beres...
Kata terakhir...
Review lagi ya?
Thanks
~AiKa UcHiHa
