_ Jiwaku ada Padamu, Gajeel _

chap. 2

Halo minna~ senang sekali Shinji dapat melanjutkan chapter kedua ini. Apakah ada yang menunggu ya? Arigatou kalau ada yang menunggu chapter yang kedua Daripada berlama-lama, mending langsung baca saja!

~ Happy Reading ~

-Cerita sebelumnya-

Shinji"Cerita sebelumnya"

Levy"Aku membuat ramuan lalu Gajeel meminumnya"

Gajeel"Betul, jadinya sekarang dia berada di dalam tubuhku"

Shinji"Yap!"

Levy"Lalu tubuhku sekarang terbaring di dalam kasur rumahku"

Gajeel"Kami pergi ke perpustakaan untuk menemukan penawarnya melalui bukunya"

Shinji"Benar! ngangguk kepala.

Levy"Ya, tapi entah mengapa aku lupa dimana buku itu"

Gajeel"Kau bukan lupa, tapi memang tidak mendengarnya"

Shinji"Benar tuh kata Gajeel"

"Levy"Tau ah, Setelah itu kami langsung menuju ke tempat yang berada tiga bahan tersebut"

Shinji"Levy, itu bukan di cerita sebelumnya. Tapi di chapter kedua ini"

Gajeel"Hei Kau! Kenapa jadi kami yang menceritakan cerita sebelumnya!"

Shinji"Bukanmya kalian yang nyosor begitu aja ya?"

Gajeel"Oh ya?"

Levy"Kalau gitu langsung saja ke chapter kedua! Selamat membaca"

_ Jiwaku ada Padamu, Gajeel _

Langsung saja mereka menuju ke tempat yang pertama, Taman Pemakaman Raja-Raja Kuno. Dimana tempat beradanya daun keberuntungan yang sedang mereka cari. Sesampainya di pemakaman tersebut, Gajeel masuk ke dalamnya. Tampang pemakaman itu suram, menakutkan, sepi, dan banyak binatang berwarna hitamnya. Semuanya bewarna hitam, walaupun masih siang, tapi berada di dalamnya tetap menyeramkan.

"Tau gak? Disini kita tidak sendirian loh, tapi banyak yang menemani" ucap Gajeel menakut-takuti Levy.

'Tau, seperti kucing hitam itu, kelelawar, laba-laba, burung hantu, dan hewan lainnya. Lalu… Hantu! Gajeel! Kita lari!' teriak Levy memperingati Gajeel karena ada hantu di depan mereka.

"Tenang saja, mana mungkin ada hantu didunia ini. Sisa tonjok.." ucap Gajeel terhenti, karena saat sudah menonjok orang yang mau ditonjok, tapi malah tak tersentuh…

"Hantu!" teriak Gajeel pergi menjauh dari tempat tersebut. Lari~ terus berlari, menjauhi hantu yang tadi ditemui. Tak tau arah mana yang mereka lalui, pokoknya terus aja berlari.

'Gajeel! Jangan lari terus, nanti kapan cari Daun Keberuntungan itu?' ucap Levy mengagetkan Gajeel. Akhirnya Gajeel pun tersadar dari lariannya itu.

"Oh iya, Aku sampai lupa. Untung kamu tadi kasih tau Aku"

'Kalau gitu, langsung cari saja ya'

"Baiklah"

Pencarian pun dilaksanakan, putar-putar pemakaman. Makam yang bertuliskan nama-nama raja banyak sekali. Gajeel berjalan menuju makam Raja pertama, disana kaki Gajeel tergores batu yang tajam. Tapi tak merasakan apa-apa, apa yang terjadi sebenarnya?

'Aww' ringis Levy.

"Kau kenapa? Sepertinya sakit?" Tanya Gajeel menanyakan keadaan Levy.

'Kakiku sakit' jawab Levy memberitahukan yang sebenarnya.

"Kok bisa sakit? Tunggu! Ada luka di kakiku. Mungkin gara-gara kena batu tajam yang ada di sebelah sana. Tapi kok aku nggak kerasa sakit ya? Malah kamu yang merasakan sakit"

'Aku tidak tau'

"Mungkin, setiap sakit yang kurasakan akan berpindah ke jiwa kamu. Jadi, kalau aku terluka, kau yang akan merasakannya"

'Mungkin saja'

"Kalau begini, aku harus menjaga tubuhku agar tidak luka. Karena aku tidak mau kau merasakan sakit yang seharusnya aku rasakan" kata Gajeel.

_ Levy P.O.V _

Aku terkesan dengan ucapannya itu. Walaupun aku sering dilindungi oleh Droy dan Jet, tapi baru kali ini ada orang yang mau melindungiku bahkan memperhatikan aku. Aku senang bisa bersama Gajeel untuk bebarapa hari ini. Walaupun aku lemah, tapi aku bersama dengan Gajeel. Jiwaku ada pada Gajeel, tentu saja aku akan jadi kuat.

'Ya, kau memang harus melindungiku. Karena jiwaku ada Padamu, Gajeel' ucapku seketika. Tapi sepertinya Gajeel tak mendengarnya, karena dia sibuk mencari daun keberuntungan itu. Kali ini, aku merasakan kurang enak badan. Aku merasakan jiwaku sedang sakit saat ini.

'Gajeel, apa kemaren-kemaren kau sakit?' tanyaku memastikan keadaannya.

"Ya, lusa aku demam" jawabnya meyakinkanku kalau sebelumnya dia pernah sakit.

"Apa kambuh lagi?" tanyanya mengagetkanku.

'Ti- tidak' aku menjawabtidak karena aku tidak mau merepotkan Gajeel.

"Hei, tidak usah berbohong. Aku sudah pernah bilang, aku dapat membaca suara hatimu" Aku lupa kalau Gajeel bisa membaca suara hatiku, aku jadi tidak bisa berbohong lagi deh.

"Kalau gitu, maafkan aku. Kau yang jadi merasakan sakit yang kurasakan" ucapnya mengagetkanku. Mau apa lagi? Aku kaget karena baru kali ini aku mendengar Gajeel meminta maaf.

'Ti- tidak apa-apa kok' jawabku untuk membuatnya tak bersalah. Aku tidak mau membuatnya melemah karena diriku yang lemah ini. Mungkin kata "Maaf" itu baru dia ucapkan kepadaku saja. Aku jadi merasa, bahwa aku yang sebenarnya membuat Gajeel repot.

_ End of Levy P.O.V _

"Sudah kubilang, kau tidak merepotkanku" kata Gajeel tiba-tiba.

'Tapi aku merasa, aku merepotkanmu' Levy berbicara hal yang bersebrangan dengan Gajeel.

"Sudah, pokoknya kau tidak merepotkanku"

Mereka sekarang berada di tengah-tengah pemakaman tersebut. Disana mereka melihat daun keberuntungan tersebut. Suatu keberuntungan sekali, mereka tidak mendapatkan musibah yang sangat berbahaya. Mungkin karena ada daun keberuntungan di tengah-tengah pemakaman tersebut. Nah, sekarang waktunya Gajeel mengambil daun itu.

Setelah mengambilnya, tanah bergetar begitu dasyat. Tanah retak dan terbelah membentuk jurang yang sangat dalam. Mungkin kalau mereka jatuh, mereka akan sampai ke neraka.

'Gajeel! Kita harus keluar dari tembat ini!'

"Baiklah~"

Akhirnya mereka berhasil keluar dari Taman Pemakaman Raja-Raja kuno tersebut. Akhirnya dapat juga satu bahan, tapi baru selesai satu tempat, sudah menimbulkan luka. Bagaimana dengan tempat berikutnya?

'Lukamu tak apa?'

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Karena kamu yang merasakan sakit tersebut"

'Ak…Aku tidak apa-apa kok'

"Emangnya siapa yang nanya? Aneh! Lagian aku tidak peduli kok"

'Gajeel~ Ba…'

"Aku bercanda!"

'BAKA!'

"T- telingaku"

Karena Levy teriak, kuping Gajeel agak sedikit budek. Sulit untuk mendengar suara. Entah apa yang terjadi, yang pastinya untuk saat ini Gajeel tak bisa mendengar. Apakah karena kucing Gajeel yang begitu lemah, atau suara Levy yang terlalu kencang.

"Levy… apa yang telah kau lakukan?"

'Aku tidak melakukan apapun kok. Maunya sih aku menyerangmu, tapi karena hanya ada jiwaku saja aku jadi tak bisa menyerangmu'

"Aku tak bisa mendengar suaramu bodoh! Kau sudah membuatku tuli"

'Apa! Jadi aku telah membuat Gajeel terluka? Apakah bisa sembuh?"

"Aku tidak bisa mendengar suaramu"

'Gajeel, Maaf"

"Aku tau kau sedang meratapi kesalahanmu. Kamu ingat apa yang pernah kuucapkan? Aku bisa mendengar suara hatimu. Kalau telingaku tuli, aku masih bisa mendengarmu melalui suara hatimu. Begitupun kalau kau tak bisa berbicara lagi, aku akan mendengarmu berbicara melalui hatimu itu. Apa kau ingat?"

"Ya, aku ingat"

"Sekarang aku sudah bisa mendengarmu, tentu saja melalui suara hatimu itu"

'Tenang saja, itu tidak akan bertahan lama. Mungkin kau akan tuli seperti itu selama dua hari"

"Ya, aku mengerti. Sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur"

'Ya'

Baru saja selesai satu masalah, muncul satu masalah lagi. Apa yang akan dilakukan Gajeel kalau ia tidak bisa mendengar seperti itu? Hanya bisa mendengar Levy saja tidak cukup, bagaimana kalau tiba-tiba ada musuh yang datang. Apa Gajeel akan mengetahuinya?

Paginya~

"Kalau gitu, langsung kita berangkat ke Gunung Fuji untuk mengambil Bunga Edelweis tersebut!" teriak Gajeel.

'Tidak bisa!'

"Kenapa? Haa~ ternyata tidak enak tidak bisa mendengar suara sendiri"

'Tenang Gajeel, aku akan menjadi telinga untukmu'

"Makasih kalau gitu, kita berangkat sekarang!"

Gajeel berserta Levy yang berada di dalam tubuh Gajeel berjalan menuju Gunung Fuji untuk mengambil Bunga Edelweis. Dengan mudah? Tentu saja tidak! Di depan mata terbentang laut yang begitu luas. Bagaimana cara melewatinya? Pakai perahu? Tentu saja tidak! Tidak ada kendaraan sama sekali disana.

'Gajeel, bagaimana cara kita melewati laut ini?'

"Entahlah"

'Apa kita harus berenang? Tapi tidak mungkin!'

"Mungkin, kalau ada kucing itu kita bisa terbag"

'Maksudmu Lily'

"Ya, Lily"

"Aku disini"

Tiba-tiba Lily muncul dan menampakkan dirinya. "Kenapa kau ada disini? Aku mengikutimu terus, dan kau bicara sendiri seperti orang gila. Udah gitu banyak kata-kata yang kau ucapkan itu tidak seperti kata-kata yang biasanya kau ucapkan di guild" kata Lily panjang lebar.

"Kau bicara apa? Aku tidak bisa mendengarmu?" Tanya Gajeel.

"Apa? Jadi kau sekarang tuli? Pantesan aja aku membuat suara aneh kau tidak menyadarinya" lanjut Lily.

"Dia bicara apa?" Tanya Gajeel pada Levy.

'Lily bertanya, katanya kenapa kau sekarang tuli? Lalu, Lily tau mengapa kau tidak sadar saat dia membuat suara aneh'

"Oh, itu karena jiwa seseorang yang ada di dalam tubuhku. Gara-gara dia teriak begitu keras, aku menjadi seperti ini"

"Oh, dia itu siapa?"

'Dia itu siapa? Lily bertanya tuh'

"Oh, Kau tau seorang gadis di guild? Dia itu rambutnya bewarna biru"

"Juvia? Levy? Wendy?"

'Kurang tuh ciri-cirinya'

"Terus dia selalu bersama dua orang yang bernama Jet dan Droy"

"Oh~ Levy!"

'Lily udah berhasil menebak'

"Nah~ benar!"

"Lalu, kenapa kau menjadi seperti ini?"

Gajeel menceritakan semuanya kepada Lily, tentu saja dengan bantuan Levy. Shinji jadi kasihan melihatnya, Shinji kirimin alat pendengaran deh. Mungkin dia akan lebih bisa mendengar dengan jelas…

Gajeel"Loh, apa ini yang tiba-tiba muncul?"

Shinji"Alat pendengaran, biasanya digunakan untuk orang yang pendengarannya terganggu"

Gajeel"Lalu, kenapa aku bisa mendengarmu?"

Shinji"Aku berbicara melalui hati gituloh"

Gajeel"Sudah, bagaimana cara memakainya?"

Shinji"Tempelkan aja pada telingamu, gampang kan?"

Gajeel"Ya"

Shinji"Bagaimana?"

Gajeel"Jelas!"

Shinji"Bagus! Sekarang waktunya menghilang~"

Levy membangunkan Gajeel yang tadi tiba-tiba saja jatuh. Tentu Gajeel sekarang sudah bangun. Membuka mata, melihat sekeliling, mendengar suara gelombang yang begitu memukau.

"Aku sudah bisa mendengar!" teriak Gajeel dengan bangga.

"Oya?" Tanya Lily meremehkan.

'Benarkah Gajeel?'

"Ya! "

"Baguslah" kata Lily dengan bangga.

'Jadi aku tak perlu menjadi telingamu lagi kan?'

"Ya, kalau gitu, kau langsung saja membawa kami terbang melewati laut ini"

"Siap!"

Lily membentangkan sayapnya itu dan membawa Gajeel beserta Levy melewati laut yang luas itu. Tak ada halangan? Ya! Untuk sementara ini. Bagaimna kalau di Gunung tersebut ada bahaya yang mengancam?

.

.

.

"Ada yang mengincar bungaku rupanya~"

-To Be Continue_

Hohoho~ selesai juga chapter dua. Apa kalian suka? Ya, kuharap begitu. Kalau gitu bagaimana pendapat kalian di chap dua ini? Kalau ada yang mau membaca kelanjutannya, silakan di chapter ketiga XD Tapi tunggu aku menyelesaikannya XD Cukup sekian saja dari Shinji. Saran, Kritik, pendapat, dan lainnya silakan ditumpahkan melalui kotak review di bawah ini.

Tapi kayanya fic yang sekarang lebih pendek dari yang sebelumnya…

~Kotak Riview~

.

.

.

v