Yosha!
Minna-san, Akuretsu here! Just call me Retsu!
Tentu saja saya author baru di sini, akhirya saya berniat mengupload fic pertama saya di dunia fanfic ini, dan fic pertama saya dengan rating M sodara-sodara sekalian! Dengan pair terfavorit saya sepanjang masa 'Sasuino'
Tepuk jidat tetangga anda sodara-sodara! *ditempeleng tetangga readertachi*
Okay, saya bukanlah orang yang gape dalam hal pembukaan
So, enjoy my first fic minna-san!
Summary: Izanagi dan Izanami adalah sepasang dewa dewi dalam mitologi jepang, mereka adalah orang tua dari dewa-dewa terkuat sepanjang sejarah kuno. Namun jika mereka bereinkarnasi di kehidupan selanjutnya, apakah mereka masih saling mencintai?
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto (ada yang tau nggak kalo gw ini anaknya Kishimoto?) reader: "Nggak tau n nggak percaya!" =3
Warning: DLDR!
Chapter 1
==Oniwaban==
Seorang gadis kecil berambut pirang tengah duduk bersimpuh di depan pria muda yang merupakan ayah serta pemimpin utama klannya, keduanya tengah terlibat pembicaraan serius terlihat dari ekspresi mereka yang jauh dari kata santai. Gadis pirang itu menunduk ormat pada sang ayah sambil mendengarkan apa yang pria itu katakan.
"Ino, sebagai ninja klan Yamanaka kau punya misi penting sebagai Oniwaban meskipun kau masih terlalu muda untuk mengemban tugas sebagai Oniwaban, tapi kau telah direkrut secara resmi oleh klan Uchiha," gadis kecil itu tetap diam dalam posisinya dan masih mendengarkan dengan seksama tiap kata dari sang ayah.
"Kau punya misi penting untuk melindungi putra bungsu Uchiha yang dipercaya sebagai reinkarnasi Izanagi, tugasmu adalah menjaga dan melindunginya hingga sang Izanami berhasil mereka temukan, dan mulai besok kau akan tinggal di Mansion Uchiha sebagai Oniwaban klan Uchiha. Lakukan tugasmu dengan baik Hime, tunjukkan kemampuanmu sebagai klan Yamanaka! Satu lagi, perintah majikamu adalah hal yang paling utama, jangan pernah mencoba memberontak karena itu artinya kematian bagi seorang Oniwaban!"
"Wakarimashita Otou-sama!" jawab gadis kecil itu setelah sang ayah menyelesaikan ucapannya.
*10 tahun kemudian*
"Kyaaa….Sasuke-kun!"
"Kyaaa…pangeran Konoha datang!"
"Kyaa…kyaa…!"
Terdengar suara ribut jejeritan para gadis di depan pintu gerbang Konoha Gakuen, di tengah kerumunan gadis-gadis itu terlihatlah seorang pemuda berambut hitam dengan model spicky kalau tidak mau dibilang pantat ayam. Pemuda itulah yang sedang menjadi bahan rebutan para gadis remaja di sana, tidak hanya tampan tapi juga pintar dan kaya raya. Gadis mana yang tidak terpikat padanya?
Dia bisa saja dengan mudah mendapatkan gadis incarannya, gadis cantik selusin pun bisa dia dapat hanya dengan satu kedipan mata atau hanya dengan menyunggingkan 1 milimeter sudut bibirnya ke atas. Tapi dia bukanlah pria yang suka memanfaatkan kepopulerannya seperti itu, bukan karena dia tidak normal atau apa, tapi jika setiap hari dia sudah didampingi seorang gadis level S dalam segi apapun, mana bisa dia berpaling ke tingkat yang lebih rendah?
"Minggir! Minggiiiiiiir!" seru seorang gadis berambut pirang panjang dari luar kerumunan itu sambil menyibakkan gerombolan gadis yang masih menggoda sang pangeran, gadis itu langsung mengamit lengan sang pangeran tampan dan melancarkan death glarenya ke arah para siswi yang masih berkerumun itu.
"Jangan dekat-dekat! Kalian mengganggu perjalanan Sasuke-sama tahu?" kata gadis itu sambil menyeret pemuda bernama Sasuke itu keluar dari kerumunan, entah kenapa para fans girl Sasuke tak melakukan perlawanan pada sang gadis berambut pirang, dan Sasuke sendiri terlihat pasrah dengan tindakan gadis itu.
"Sudah kubilang jangan pernah mengerumuni Sasuke-sama! Dia tidak suka keramaian! Baru ditinggal sebentar saja kalian sudah begini liar Huh!" kata gadis itu sebelum kemudian melenggang pergi sambil masih mengamit lengan Sasuke.
"Good job Ino, kau menyelamatkanku lagi." Gumam Sasuke setengah berbisik dengan nada datarnya, sedangkan gadis yang dipanggil Ino itu hanya menyunggingkan senyum bangganya.
"Itu sudah tugas saya Waka." Jawab Ino setengah berbisik juga namun kali ini dengan nada yag lebih serius.
Ino Yamanaka, dia lah gadis S class yang selalu berada di samping Sasuke dimanapun dan kapan pun kecuali di toilet, kerena di kamar pun terkadang gadis itu masih berada di samping Sasuke hingga pemuda itu tertidur. Di sekolah memang mereka terlihat seperti teman dekat atau bahkan sepasang kekasih, namun sebenarnya hubungan mereka hanyalah sebatas Majikan dan Oniwaban, setidaknya itulah yang seharusnya namun siapa yang tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan?
Banyak gadis remaja yang merasa iri dengan Ino di luar sana, karena gadis itu selalu menempel di samping Sasuke dan pemuda itu bahkan tak mengusirnya seperti gadis lain yang berusaha mendekatinya dan berakhir dengan patah hati, mereka tidak tahu betapa sulitnya berada di posisi Ino karena mereka tidak tahu kalau Ino sebenarnya adalah seorang Oniwaban, ninja bayaran yang bertugas melindungi majikan yang sudah ditetapkan untuknya. Karena Sasuke adalah reinkarnasi dari Izanagi, pemuda itu sering menjadi incaran kelompok dunia hitam yang ingin mengambil jiwanya sebagai persembahan untuk membangkitkan iblis, bahkan tak jarang ada youkai atau iblis yang datang langsung untuk mengambil jiwa pemuda itu.
"Yo! Ino, kau sibuk seperti biasa ya?" sapa seorang pemuda berambut coklat jabrik dengan tato sepasang taring merah di kedua pipinya, di samping kanan dan kiri pemuda itu juga telah berdiri dua pemuda lain yang seumuran dengannya.
"Soalnya kalian tidak bisa diandalkan saat menghadapi situasi seperti tadi!" dengus Ino sambil melepaskan dekapannya di lengan Sasuke dan menatap kesal pada ketiga pemuda di depannya.
"Soalnya kami tidak punya aura membunuh sama besar denganmu saat menghadapi para gadis itu." Jawab pemuda lain yang memakai kaca mata hitam.
"Mendokuse!" decih pemuda yang satunya.
"Kalian ini setidaknya bisa melindungi Waka-sama supaya tidak disentuh oleh mereka kan? Lalu kenapa kalian malah jalan duluan dan mengabaikan Waka-sama?" seru Ino sambil menerjang ketiga pemuda tadi dengan tendangan supernya.
Ketiga pemuda itu adalah Kiba Inuzuka, Shino Aburame, dan Shikamaru Nara. Mereka juga merupakan Oniwaban yang bertugas melindungi sang Izanagi, tapi meskipun Sasuke memiliki Oniwaban yang menjaganya, dia tetap berusaha untuk menjadi pria kuat yang tak mau bergantung pada mereka, dia tetap ingin menjadi lelaki sejati yang bisa melindungi orang yang dia sayangi suatu saat nanti, dan tentu saja usahanya tidak sia-sia terbukti dari pengakuan sang ayah yang merupakan peminpin utama klan Uchiha yang mengatakan kalau dirinya sudah menjadi kuat dan hampir sebanding dengan sang kakak yang ironisnya telah meninggal 5 tahun yang lalu karena penyakit yang dideritanya sejak kecil.
*Istirahat siang*
"Waka! Saya membuatkan bento special untuk anda!" seru Ino sambil menyodorkan sekotak bento pada Sasuke dan diterima pemuda itu degan baik karena dia tahu isinya pasti makanan kesukaannya.
"Terima kasih." Kata Sasuke datar namun tetap sanggup membuat benak Ino melayang entah kemana.
"Punya kami mana nih?" tagih Shikamaru sambil menyeruput jus nanasnya.
"Kami juga mau lho Ino dan Ino-chan!" goda Kiba, dan Ino pun langsung memberikan death glare gratis pada pemuda itu.
"Kalian kan sudah jajan, ngapain masih minta bento huh?" timpal Ino sinis.
"Aku tidak mengijinkan Ino membuat bento untuk orang lain!" kata Sasuke tajam namun tanpa menatap para Oniwabannya itu dan berpura-pura sibuk memakan bento-nya.
"Maafkan kelancangan kami Waka-sama." Kata Shikamaru dan Kiba sambil menundukkan kepalanya.
"Hn!" gumam Sasuke sambil mengulum cherry tomato dengan hikmat.
Sedangkan Ino hanya tersenyum lembut saat mendengar ucapan majikannya itu, reaksi yang sungguh diluar dugaan mengingat itu adalah Ino yang biasanya selalu histeris dan berteriak kegirangan setiap kali ada hal yang membuatnya senang.
Shino diam-diam memperhatikan ekspresi Ino dari balik kaca mata hitamnya, dia tahu apa yang membuat gadis itu menjadi lebih melankolis saat ini.
"Maaf Waka-sama, kami minta ijin untuk membicarakan sesuatu!" Shino yang dari tadi diam kini menginterupsi acara makan Sasuke dan yang lainnya.
Sasuke menatap keempat Oniwabannya satu per satu dan berakhir pada sosok Ino yang saat ini sedang menunduk setelah bersitatap dengan Shino.
"Jangan lama-lama!" kata Sasuke singkat.
Dan keempatnya pun langsung menghilang dari hadapan Sasuke dalam waktu satu detik.
*di atap sekolah*
"Kudengar para tetua sudah menemukan gadis yang dipercaya sebagai reinkarnasi Izanami, apakah kalian sudah tahu?" tanya Shino sambil menatap ketiga rekannya.
"Aku juga sudah dengar soal itu, katanya dia akan dibawa kemari dan tinggal di Mansion Uchiha." Kata Kiba sambil melirik ke arah Ino yang terlihat gloomy.
"Gadis itu…akan datang besok…dengan seorang Oniwaban miliknya." Lirih Ino.
"Hanya seorang? Gadis Izanami itu hanya memiliki seorang Oniwaban?" tanya Kiba tak percaya, masalahnya Sasuke yang seorang Izanagi saja memiliki 4 Oniwaban, kenapa Izanami hanya diberi seorang saja?
"Aku dengar dari ayahku, katanya gadis itu tidak begitu banyak diincar oleh musuh, entah kenapa musuh tidak tertarik dengan gadis Izanami itu padahal Izanagi di sini sudah berkali-kali hampir kehilangan nyawa karena ulah musuh. Apa kalian tidak merasa aneh?" Shikamaru mulai angkat bicara.
"Itu aneh sekali, seharusnya aura Izanami bisa menarik musuh untuk datang mendekat, atau mungkin gadis itu memiliki sesuatu di dalam tubuhnya yang bisa menjauhkannya dari musuh?" tanya Ino sambil mengerutkan keningnya tanda tak paham.
"Kita akan tahu besok, sepertinya Tuan Besar punya rencana sendiri di balik kedatangan sang Izanami." Kata Shino dengan nada datarnya, sedangkan yang lain hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju, namun ekspresi Ino tak menunjukkan kalau dia baik-baik saja dengan kedatangan sang gadis yang dipercaya sebagai reinkarnasi Izanami itu.
==Fate==
Malam itu Sasuke berjalan menyusuri koridor Mansionnya yang besar, dari ekspresinya sepertinya dia sedang mencari seseorang karena dia terlihat tergesa dengan wajah gusar seolah apa yang dia cari sulit dia temukan.
"Waka, ada yang bisa saya bantu? Sepertinya anda sedang mencari seseorang?" tanya seorang pelayan yang kebetulan ditemui Sasuke di sepanjang koridor.
"Apa kau lihat Ino?" tanya pemuda itu pada pelayannya.
"Ah kalau Nona Ino, dia sedang menghadap Tuan Besar, perlukah saya panggilkan Oniwaban anda yang lain Waka-sama?" tanya pelayan itu sopan.
"Tidak usah! Aku hanya perlu Ino!" kata Sasuke yang langsung berlalu kembali ke kamarnya.
"Untuk apa Ayah memanggil Ino? Tidak biasanya dia memanggil Ino tanpa memberitahuku!" gumam Sasuke di sela perjalanannya.
Tak berapa lama kemudian pemuda itu telah sampai di kamarnya dan langsung menuju ke arah shogi yang terbuka lebar di ujung kamarnya, menunjukkan taman belakang rumahnya lengkap dengan pemandangan bulan purnama yang terlihat besar dan indah malam itu.
Cukup lama Sasuke berdiri menghadap ke arah bulan purnama di atas sana, entah apa yang dia pikirkan di dalam pikirannya selama kegiatannya itu, namun kegiatannya terusik saat merasakan keberadaan seseorang di belakangnya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Sasuke pada sosok itu tanpa membalikkan badannya dan masih tetap menatap ke arah bulan purnama.
"Maafkan saya Waka!" jawab sosok itu yang ternyata adalah Ino.
Kini Sasuke membalikkan badanya dan menghampiri Ino.
"Aku mencarimu sejak tadi." Kata Sasuke sambil mengangkat dagu Ino yang sedang berlutut di depannya.
"Waka…ada sesuatu yang harus saya beritahukan pada anda," Ino menatap kedua mata onyx majikannya dengan tatapan terluka.
"Malam ini…adalah malam terakhir saya sebagai Oniwaban anda." Sasuke terbelalak lebar demi didengarnya ucapan Ino barusan.
"APA?" pekiknya tak percaya.
"Kenapa begitu? Memangnya apa yang Ayahku katakan padamu?" tanya Sasuke gusar.
"Besok…gadis yang dipercaya sebagai reinkarnasi Izanami akan datang, dan saya…ditugaskan untuk menjadi Oniwaban gadis itu." Kata Ino sambil menundukkan wajahnya, menyembunyikan kesedihan yang terpancar jelas di wajahnya.
"TIDAK BIASA!" sentak Sasuke yang mengagetkan gadis di depannya.
"Kau milikku! Tidak boleh ada orang lain yang memilikimu!" kata Sasuke sambil meraup wajah Ino untuk menatap ke arahnya.
"Waka…"
"Aku akan bicara dengan Ayah!" Sasuke sudah akan beranjak keluar kamar jika Ino tidak menahannya.
"Waka, ini sudah keputusan final Tuan Basar, saya…tidak keberatan dengan itu." Kata Ino sambil menggenggam ujung kimono Sasuke.
"Kau tidak keberatan? Lalu bagaimana denganku?" tanya Sasuke sambil mencengkram bahu Ino.
"Anda masih punya Shikamaru dan yang lainnya, sedangkan putri Izanami itu hanya memiliki satu Oniwaban jadi Tuan Besar memutuskan untuk menjadikan saya Oniwaban kedua bagi gadis itu!"
"Lalu kenapa harus kau? Kenapa bukan Shikamaru atau yang lain?" tanya Sasuke masih bersikeras dan itu membuat Ino terdiam.
"Kenapa kau langsung menerima tugas itu? Kau sudah bersamaku sejak kecil, kenapa kau rela meninggalkanku hanya karena seorang gadis yang belum tentu benar reinkarnasi Izanami atau bukan!" Sasuke mengguncang tubuh Ino dengan frustasi sedangkan gadis itu hanya menundukkan kepalanya tak ingin menatap langsung wajah Sasuke.
"Ino,lihat aku!" lirih Sasuke sambil mengangkat dagu Ino untuk menatapnya.
"Kenapa kau menerima tugas itu? Apa kau sudah tidak ingin bersamaku lagi?" tanya Sasuke dengan ekspresi terluka.
"Bukan begitu Waka! Sungguh saya masih ingin bersama anda, hanya saja…perintah majikan adalah segalanya bagi kami, dan memberontak sama dengan mati." Kata Ino yang kembali menundukkan wajahnya.
"Saya masih ingin bersama anda, masih ingin bertemu dengan anda, masih ingin menyayangi anda, jadi saya memilih untuk menuruti perintah Tuan Besar agar saya masih bisa hidup untuk berada di dekat anda meskipun tidak setiap saat seperti biasanya." Kini Ino mencengkram kimono Sasuke dan menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu.
"Ino…maaf…aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak, maafkan aku!" lirih Sasuke sambil memeluk tubuh Ino dengan lembut.
"Ino…malam ini…tidurlah denganku!" bisik Sasuke di telinga Ino dan membuat gadis itu tersentak hingga wajahnya memerah penuh.
"Wa…Waka?"
"Dan untuk malam ini, panggil aku dengan namaku!" perintah Sasuke yang kini mengurai pelukannya dan menatap Ino tajam.
"Wa…"
"Sebut namaku Ino!" potong sasuke sambil menekan ibu jarinya di bibir Ino.
"Sa…Sasuke-sama…"
"Hilangkan sufik –sama!" sentak Sasuke lagi yang membuat Ino semakin merona.
"Sa..suke…" lirih Ino sambil mengalungkan lengannya di leher Sasuke.
"Sekali lagi!"
"Sasuke…" sebut Ino yang lebih mirip dengan desahan karena saat ini Sasuke sedang melumat perpotongan lehernya.
"Ngh…Wa…"
"Sasuke!" ralat Sasuke sebelum Ino menyelesaikan ucapannya, dan pemuda itu pun semakin bersemangat menyerang leher Ino saat gadis itu kembali mendesahkan namanya.
Sasuke mengurai jarak antara dirinya dan Ino setelah meninggalkan beberapa kiss mark di sekitar leher Ino, kemudian menatap lekat ke dalam mata aquamarine gadis di depannya. Cukup lama pemuda itu menatap wajah cantik di depannya sebelum kemudian merendahkan kepalanya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Sekali lagi Sasuke mengurai jarak dengan Ino namun hanya untuk menatap ekspresi wajah Ino yang semakin merona kemudian kembali melumat bibir Ino dengan lebih menuntut.
Kini Ino membalas ciuman Sasuke dengan sama intens sambil mengalungkan lengannya di leher pemuda itu, menekan tubuh tegap Sasuke agar lebih mendekat padanya, sedangkan Sasuke sendiri menekan pinggang dan belakang kepala Ino untuk memperdalam ciumannya. Setelah beberapa menit keduanya melepas ciuman mereka karena kebutuhan akan oksigen yang mendesak, tentu tidak akan lucu jika di Koran tertulis sebagai head line news 'Sepasang Kekasih Ditemukan Tewas Karena Terlalu Lama Berciuman' sungguh itu bukan lelucon yang pantas dipublikasikan.
"Ino?" lirih Sasuke saat gadis itu mengusapkan wajahnya di dada Sasuke seolah sedang menutupi ekspresi wajahnya yang sedang menahan malu.
"Ini bukan pertama kalinya kita melakukan ini, masa' kau masih malu?" goda Sasuke sambil tertawa kecil mengejek Ino.
"Sasuke…kau tidak mengerti perasaanku!" gerutu Ino sambil memukul dada Sasuke main-main.
"Aku tahu kok," Sasuke merangkum wajah Ino dan menghadapkan padanya.
"Kau terlalu menyukaiku sampai tubuhmu mudah bereaksi setiap kali kusentuh." Dan ucapan Sasuke barusan sukses membuat wajah Ino semakin memerah sempurna.
"Aku juga…terlalu menyukaimu sampai ingin memonopolimu untuk diriku sendiri, aku tidak ingin kau menjadi milik orang lain, kau milikku Ino hanya milikku!" kata Sasuke dengan nada serius, kemudian membawa Ino ke atas futon tebal yang sudah tergelar sejak tadi di tengah ruangan.
Ino menatap lekat ke dalam onyx Sasuke, kemudian menyentuh lembut pipi pemuda itu dan memberikan ciuman singkat di bibirnya.
"Aku memang sangat menyukaimu, bahkan sangat mencintaimu Sasuke," Lirih Ino.
"Tapi kau ditakdirkan untuk orang lain." Kata Ino dengan suara serak karena air matanya mengalir saat dirinya mengatakan tentang takdir Sasuke.
"Kenapa kau mengatakan hal itu Ino? Tak ada yang tahu siapa yang menjadi takdirku kecuali Tuhan, dan kau atau orang lain tidak tahu siapa yang ditakdirkan untukku!" sentak Sasuke yang kini kembali tersulut emosi, pemuda itu beranjak dari atas Ino dan duduk bersila membelakangi gadis yang masih terlentang di atas futon itu.
"Tapi kau Izanagi, seharusnya Izanagi akan menjadi takdir hidup Izanami!" Ino masih bicara sambil menahan air matanya yang masih merembes keluar.
"Izanagi Izanami itu saja yang selalu kalian katakan, selalu saja 'Izanagi' dan 'Izanami' aku ini Sasuke bukan Izanagi atau dewa apalah itu? Aku ini manusia bernama Sasuke!" seru Sasuke, dia sudah tidak sabar lagi dengan berbagai macam asumsi tentang dirinya yang reinkarnasi Izanagi atau apalah itu yang mengharuskan dirinya menjalani takdir dengan Izanami yang bahkan belum pernah dia temui sebelumnya.
Ino bangkit dari posisi berbaringnya dan mendekap Sasuke dari belakang, dekapan lembut dan penuh kasih sayang yang sangat disukai Sasuke.
"Gomen Sasuke…gomen ne…" lirih Ino di sela isak tangisnya.
"Aku Uchiha Sasuke yang mencintai Yamanaka Ino, bukan Izanagi yang mencintai Izanami seperti yang semua orang katakan!" gumam Sasuke di dalam dekapan Ino.
"Aku mengerti!" lirih Ino di sela leher pemuda itu dan mengecupnya lembut untuk meredakan emosi Sasuke.
Kini Sasuke kembali membalikkan badannya ke arah Ino dan meraih gadis itu dalam pelukannya juga memerangkapnya dengan ciuman penuh cinta.
"Tolong jangan membahas soal itu lagi Ino, aku hanya ingin melewatkan malam ini bersamamu!" lirih Sasuke di depan bibir Ino, dan Ino pun hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Sasuke kembali merebahkan tubuh Ino di atas futonnya dan menindih gadis itu kemudian mulai mecium bibir Ino dengan penuh hasrat. Ino mendesah tertahan saat merasakan kedua kakinya terbuka dan Sasuke mulai masuk di sela kedua kakinya hingga milik Sasuke yang mulai menegang menyentuh kewanitaan Ino yang masih tertutup celana pendeknya.
"Ssssh…Shasukhe…nghhh…" Ino benar-benar tak bisa menahan desahannya saat pemuda yang dia cintai itu mulai melepaskan pakaian yang dia kenakan, kemudian mencicipi setiap inci tubuh gadis itu.
"Akh?" Ino memekik tertahan dan reflek langsung meremas rambut Sasuke saat pemuda itu mulai menghisap dadanya yang terbuka, sedangkan tangan pemuda itu menyentuh setiap inci lekukan tubuh sempurna gadisnya.
Tak puas hanya menikmati dada Ino, pemuda itu mulai memberi kiss mark di setiap bagian tubuh Ino, memberi tanda kepemilikannya terhadap gadis itu. Salivanya melumuri kulit lembut Ino yang terlihat bercahaya terkena sinar bulan, peluh yang menetes pun membuat pemandangan tubuh Ino semakin eksotis. Sasuke yang sudah tidak tahan mulai melepaskan kimononya dengan terburu-buru seperti predator yang tidak sabar memangsa buruannya.
Wajah Ino semakin memerah saat melihat tubuh sempurna Sasuke mulai terekspos perlahan saat pemuda itu melepas satu persatu pakaian yang dia kenakan, hingga menyisakan tubuh polos pemuda itu. Memang ini bukan pertama kalinya Ino melihat Sasuke yang telanjang tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh atletis itu, namun pemandangan di depannya tetap membuat gadis itu merasa malu sekaligus senang.
Saat segala hal yang menutupinya telah terlepas, Sasuke tak juga kembali mencumbu Ino melainkan terpaku menatap keindahan tubuh gadis di bawahnya, menatap kulit gadis itu yang berkilauan bercampur dengan salivanya dan keringat yang mengalir dari tubuh indah itu karena kegiatan sebelumnya.
"Kau benar-benar sangat cantik Ino." Gumam Sasuke sambil menjilat bibirnya dan masih menatap tubuh Ino dari atas ke bawah dengan penuh nafsu.
"Ja…jangan…menatapku seperti itu!" protes Ino sambil berusaha menutupi dada dan bagian kewanitaanya dengan tangan, namun Sasuke segera mengenyahkannya dan tubuh Ino pun kembali terekspos sempurna.
"Biarkan aku menikmatinya dulu, ini bukan pertama kalianya kita melakukan sex Ino, kau tidak perlu merasa malu begitu!" bisik Sasuke tepat di telinga Ino kemudian mulai mengulum telinga gadis itu dan menjilat permukaannya dan menghisapnya lembut hingga membuat gadis itu mendesah dan menggeliat pelan di bawah tubuh Sasuke. Tubuh mereka yang bermandikan keringat bergesekan lembut menyentuh lapisan kulit luar mereka, membuat keduanya mendesah nikmat ketika puting mereka saling bertaut dan menggesek milik pasangan mereka.
"Um…h…aaah…ssssh…Sasu…" Ino menggeliat tak nyaman saat merasakan ujung kejantanan Sasuke menyentuh bibir vaginanya, sedangkan Sasuke sendiri mashi asyik mengulum dan menghisap dada Ino sambil mendengarkan setiap desahan yang Ino keluarkan.
Seolah menggoda kesabaran Ino, sasuke mulai menggesek-gesekkan ujung kejantanannya yang sudah mengeras itu di bibir vagina Ino hingga membuat gadis itu bergerak-gerak frustasi di bawah pemuda itu.
"Ssssh…kumohon Sasu..chepat…" mohon Ino dengan desahan penuh hasratnya.
Sasuke menyunggingkan seringainya saat melihat Ino kepayahan untuk menahan keinginannya.
"Sabarlah sayang…" desah Sasuke di depan bibir Ino, kemudian menciumnya dan mengulumnya penuh hasrat. Ino membuka bibirnya dan mempersilahkan lidah Sasuke untuk masuk dan bermain di dalam mulutnya.
"Ngh!"
Ino memekik tertahan saat ujung kejantanan Sasuke mulai tertekan masuk ke dalam vaginanya.
Kedua lengan Ino mendekap bahu Sasuke dan meremas kulit punggung pemuda itu kuat-kuat untuk melampiaskan sensasi nyaman di bawah tubuhnya.
"Sasuke…aaaaah…." Ino mendekap Sasuke semakin erat seolah menyuruh pemuda itu untuk segera bergerak, namun Sasuke tak juga bergerak dari posisinya seolah sedang menguji kesabaran Ino. Sedari tadi hanya ujungnya saja yang masuk ke dalam tubuh Ino, tidak mendorong masuk dan tidak juga ditarik keluar, membuat Ino benar-benar merasa gila kerena hasratnya tak juga terpenuhi sedangkan Sasuke masih saja bermain dengan tubuh Ino yang menggeliat tak nyaman.
"Kumohon Sasuke…h…ssssh…" Ino mengangkat pinggulnya berusaha memasukkan sendiri milik Sasuke ke dalam tubuhnya, namun Sasuke menahan pinggangnya tetap berada di tempatnya sehingga membuat Ino mendesah frustasi.
"Sasu…AKH!" Ino sudah akan meneriaki Sasuke karena terus menggodanya, tapi belum sempat dia melakukannya Sasuke tiba-tiba menghentakkan pinggulnya hingga miliknya masuk sepenuhnya di dalam tubuh Ino, sedangkan Ino yang terkejut akan tindakan tiba-tiba Sasuke itu mengelijang nikmat saat merasakan milik Sasuke sepenuhnya di dalam vaginanya.
"Kau benar-benar sexy sayang…" desah Sasuke di telinga Ino, kemudian mulai menarik miliknya keluar dari kelembutan vagina Ino hanya untuk menghentakkannya kembali ke dalam hingga menyentuh kedalaman milik Ino.
"Akh Sasuke…Sasu…akh!" Ino mengelijang nikmat saat berkali-kali Sasuke menyentuh sweet spotnya, wajahnya yang memerah dan diliapisi keringat yang berkilauan itu semakin membuat benak Sasuke kacau, pemuda itu pun bergerak semakin liar demi didengarnya setiap desahan erotis kekasihnya dan menikmati pemandangan tubuh indah Ino yang menari di bawahnya.
"Sssssh Ino…ah…argh…sssh …agh…" Sasuke mendesah nikmat setiap kali dirinya menghentak maju hingga menyentuh kenikmatan terdalam Ino. Sedangkan Ino sendiri sudah kepayahan menahan hasratnya yang akan terbebas keluar seiring dengan gerakan Sasuke yang semakin cepat, gadis itu menancapkan kuku-kukunya di punggung Sasuke sebagai pelampiasan nafsunya yang terbakar karena ulah pemuda di atasnya.
"Shashuke…aku…ah…akh!" Ino sudah melepaskan hasratnya sebelum sempat memberitahu Sasuke kalau dirinya akan klimaks.
Cairan itu merembes keluar dari sela kejantanan Sasuke yang masih tertanam di dalam tubuh Ino, sedangkan Sasuke sendiri masih berusaha mencapai klimaksnya dan cairan Ino barusan rupanya cukup membantu proses klimaks Sasuke. Dinding vagina yang basah dan licin itu membuat Sasuke semakin leluasa membawa miliknya keluar masuk tubuh Ino dan tak lama kemudian Sasuke pun mencapai titik akhirnya dan mengeluarkan segala hasratnya di dalam tubuh Ino.
"Ino…hosh…hosh…hosh…beri aku seorang anak…dan para tetua itu…pasti tidak akan menentang hubungan kita…" kata Sasuke yang masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak teratur setelah aktivitasnya barusan.
"Aku…tidak keberatan untuk melahirkan anakmu Sasuke…karena aku mencintaimu." Lirih Ino di sela leher Sasuke yang kini menindih Ino sepenuhnya karena tenaganya hampir habis setelah klimaks tadi.
"Sasuke…ssssh…aaah…" Ino kembali mendesah saat Sasuke mengeluarkan kejantanannya perlahan dari vagina Ino, bahkan sensasi gesekan lembut di dinding vaginanya sangat terasa nikmat saat Sasuke melakukan itu.
"Kalau begitu kita lakukan ini setiap ada waktu." Bisik Sasuke dengan nada menggoda saat dirinya sudah membaringkan diri di samping Ino dan menghadap ke arah gadis itu.
"Itu sih akal-akalanmu saja!" gerutu Ino dengan wajah memerah kemudian berbalik memunggungi Sasuke yang tertawa pelan melihat reaksi manis dari Ino.
"Tapi kau suka kan? Kau mau melakukannya lagi denganku kan?" bisik Sasuke di telinga Ino, kedua lengan pemuda itu melingkar di pinggang polos gadis itu dan mendekapnya dengan lembut.
"Aishiteru yo Ino honto ni aishiteru, itsumo isho." Gumam Sasuke sambil mengusapkan bibirnya di tengkuk Ino dan menciumnya ringan.
Sasuke membuka matanya setengah ngantuk, kedua onyxnya menangkap siluet kupu-kupu yang berkilauan di belakang leher Ino yang dilapisi peluh.
"Ino…"
"Hn?"
"Aku tidak tahu kau punya tato yang seindah ini." Lanjut Sasuke di alam mimpi.
Ino menilik wajah Sasuke yang ditenggelamkan di balik punggungnya kemudian tersenyum lembut saat mendapati pemuda itu telah terlelap.
"Oyasumi….anata!" lirih Ino sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
==Destiny==
Sasuke membuka kedua mata onyxnya saat merasakan silau menelusup masuk ke balik kelopak matanya yang semula tertutup, tangannya dia gunakan utnuk menghalangi cahaya matahari agar tidak menyakiti matanya yang baru terbuka. Pemuda itu bangkit terduduk dan tidak menemukan Ino di sampingnya, sisi kosong futonnya juga terasa dingin menandakan kalau Ino sudah lama meninggalkan tempat itu.
Srek!
Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah shoji yang menggeser terbuka dan menampakkan sosok Ino dengan kimono formalnya, gadis itu tersenyum lembut saat melihat Sasuke yang sudah bangun.
"Anda sudah bangun rupanya?" lirih Ino yang kini berjalan mendekat ke arah Sasuke sambil membawa pakaian ganti untuk majikannya itu.
"Anda harus segera mandi Waka, dan langsung menuju aula untuk menyambut kedatangan sang Izanami." Kata Ino yang membuat raut wajah Sasuke berubah.
"Aku tidak mau bertemu dengannya!" Sasuke berpaling dari tatapan Ino.
"Waka, anda tetap harus hadir dalam acara itu karena seluruh anggota keluarga akan datang menyaksikan langsung sosok Izanami itu." Kata Ino lagi sambil meletakkan pakaian ganti Sasuke di sampingnya.
"Apakah kau ingin aku bertemu dengannya?" tanya Sasuke yang kini menatap tajam ke arah Ino yang terdiam.
"Waka, jangan mulai lagi!" Ino menghela nafas pasrah dengan kekeras kepalaan Sasuke, apa lagi jika pemuda itu sudah bermain asumsi.
Sasuke beringsut mendekat ke arah Ino dan memerangkap tubuh gadis itu di atara kedua lengannya.
"Katakan kalau aku harus datang di acara itu! Maka aku akan datang ke sana." Tantang Sasuke.
"Waka," lirih Ino.
"Hn?"
"Saya mohon, mandi dan datanglah ke acara penyambutan itu!" lanjut Ino yang membuat Sasuke benar-benar menyerah dan akhirnya menuruti apa yang dikatakan Ino.
Di depan pintu gerbang Mansion Uchiha.
Seorang gadis berkimono merah muda dan rambut sewarna dengan kimononya turun dari mobil hitam diikuti dengan seorang pemuda berambut pirang jabrik dengan jubah orange di belakangnya.
"Ini…mansion milik Izanagi?" gumam gadis berambut merah muda itu sambil menatap takjub mansion besar di depannya.
"Urgh…aku merasa mual duluan, padahal belum masuk ke dalam!" kata pemuda berambut pirang di belakangnya.
"Memang benar yang kau katakana Naruto, ini bahkan lebih besar dari kuil Izumo!" kata gadis itu mendukung ucapan pemuda bernama Naruto itu.
"Jadi kita benar-benar akan tinggal di sini ya?" tanya Naruto pada gadis pink itu.
"Yaah sepertinya begitu." Jawab sang gadis dengan ragu.
"Kau beruntung sekali hidup sebagai Izanami." Pemuda berambut pirang itu melirik sang gadis dengan pandangan iri.
"Ck, jangan mulai lagi Naruto!" degus gadis itu sambil menyodok perut pemuda itu hingga pemiliknya mengaduh kesakitan.
"Bisa tidak sih memperlakukanku lebih lembut sedikit 'Nona Sakura'? kau ini seorang nona muda!" protes Naruto sambil mengusap perutnya yang terasa berdenyut.
"Tidak bisa! Soalnya kau juga tidak menganggapku Nona Muda juga huh!" gadis itu membuang muka dari Naruto menandakan kalau dia sedang kesal.
"Sudahlah, dari pada rebut di sini lebih baik kita segera masuk!" kata gadis itu lagi.
"Baiklah-baiklah, aku juga tidak mau berlama-lama berdiri di sini!"
Dan kedua sosok itu pun masuk ke dalam mansion setelah gerbang besar mansion itu terbuka untuk mereka.
.
.
.
.
Tsudzuku alias TBC
My…my…ini pertama kalinya juga saya bikin Lemon eksplisit begini, sori kalo kurang hot khekhekhe…
Ini baru permulaan sodara-sodara sekalian, jadi untuk permulaan yang lumayan gaje ini saya minta review kalian demi kelanjutan fic pertama saya howhowhow…
Silahkan kirmkan keripik sambal, rujak petis dsb ke dalam balon review saya
Akhir kata, Salam kenal semuanya XDDD
