Halo! Akuretsu datang lagi dengan chapter 2
Maaf atas lamanya apdetan fic ini, karena aku sendiri cukup sibuk di luar sana hahaha *sok sibuk maksudnya*
Terimakasih banyak buat para senpai yang sudah mereview chapter kemarin, itu adalah modalku untuk melanjutkan fic ini dan untuk para silent reader kalo ada ya, makasih juga.
Nah dari pada kelamaan ngomong di pembukaan, langsung mulai aja deh ceritanya, enjoy!
Disclaimer: Naruto punyak papah saya lho *peluk-peluk Kishimoto* (kishi: "siape lu gembel ngapain masuk-masuk rumah orang? Pergi sono jauh-jauh!" tendang author ke Alaska-ret)
Fate x Destiny
Chapter2
=Izanami=
Ino berdiri di belakang Sasuke, kepalanya tertunduk dalam, tak berani menatap ke depan di mana gadis yang dipercaya sebagai Izanami telah melangkah ke dalam aula pertemuan. Sasuke sendiri terlihat tenang-tenang saja seolah tak mengalami perang batin yang saat ini sedang melanda Ino.
"Nama saya Haruno Sakura, saya adalah Miko dari kuil Izumo yang dipanggil kemari karena dipercaya sebagai Izanami." Ino mulai mengangkat wajahnya dan menatap gadis berambut pink yang tengah menunduk hormat kepada para tetua Uchiha.
Kedua mata aquamarine Ino melirik sekelebat warna orange di belakang Sakura, kemudian mulai mengikuti siluet tubuh tegap yang memakai jubah orange itu dari bawah ke atas.
Diam.
Hanya itulah reaksi Ino saat meihat sosok pemuda berambut pirang dengan tiga garis melintang di kedua pipinya, begitu juga sang pemuda yang menjadi objek perhatian Ino, dia pun hanya diam seperti pelayan yang patuh.
Tanpa Ino sadari, sudah cukup lama dia melamun dan tidak tahu kalau para tetua sudah mulai beramah tamah dengan sang gadis Izanami. Sasuke pun sudah diseret bersama para tetua itu untuk berkenalan dengan gadis Izanami itu, yang berarti ini saatnya Ino dan para Oniwaban lain meninggalkan aula untuk acara para majikan.
Ino mendarat di atas salah satu atap Mansion Uchiha, begitu juga Naruto yang kini mendarat di sebelah Ino. Kedua mata mereka melirik satu sama lain, aquamarine bertemu saphire. Cukup lama mereka larut dalam keheningan yang terisi oleh desauan angin yang menyibakkan rambut pirang keduanya, hingga kemudian…
"HWAAAAA NARUTOOOO HISASHIBURIIIIII!"
"INO-CHAAAAN YAPPARI MITSUKETTAAA!"
Keduanya berpelukan dan mengusap-usapkan pipi mereka satu sama lain, tak lupa dengan sungai air mata yang mengalir di kedua pipi mereka, seperti seorang anak kecil yang baru saja menemukan barang kesayangannya.
"Sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu?" tanya Ino sambil sedikit mengurai pelukannya, namun kedua legannya masih bertaut di leher Naruto.
"Sepuluh tahun Ino! Kau lupa? Kau kan meninggalkan akademi sejak umur tujuh tahun!" kata Naruto yang kedua lengannya juga masih bertaut di pinggang Ino.
"Um…tak kusangka kau akan jadi pemuda tampan begini Naruto, padahal dulu kan kau itu pendek, item, dekil, ingusan pula, dan juga lemah sekali, bahkan paling lemah di akademi!"
"Kau ini meghina atau memuji sih?" tanya sekaligus protes Naruto dengan muka manyun.
"Keduanya mungkin hahaha…"
"Oi jangan menertawakanku! Aku ini sudah berbeda dengan yang dulu tahu!" kini Naruto mulai mencubit kedua sisi pipi ino, mencoba menghentikan tawa Ino.
"Aduuuuh sakiiiit!" Ino membalas Naruto dengan mencubit pipi Naruto, sama seperti yang dilakukan pemuda itu padanya. dan terjadilah perang cubitan yang dilakukan kedua Oniwaban Izanagi dan Izanami itu di atas atap, bahkan mereka tak sadar kalau ada orang lain yang sudah berdiri di samping mereka selama kegiatan mereka.
"Ehm!"
Keduanya menghentikan aksi mereka saat mendengar deheman dari sisi mereka, dan keduanya pun menoleh ke sumber suara dengan kedua tangan yang masih berada di pipi lawan. Kedua mata Ino melebar begitu melihat siapa yang menginterupsi kegiatan perangnya.
"Wa…waka?" sebut Ino ragu, sedangkan Waka-nya itu hanya menatapnya bergantian dengan Naruto dengan pandangan menusuk, tak lupa dengan aura negatif menguar dari tubuhnya.
"Menyingkir!" perintah Sasuke tajam. Sedangkan Ino dan Naruto malah terdiam saking shocknya dengan aura hitam Sasuke.
"Kubilang MENYINGKIR!" seru Sasuke yang sudah tidak sabar sambil memisahkan Ino dan Naruto dengan menengahi mereka, dan menjaga jarak keduanya dengan tangannya yang menghadang di antara keduanya.
"Waka!"
"Siapapun kau kepala duren! Jangan pernah mendekati Ino lagi atau kubunuh kau!" tuding Sasuke pada Naruto yang masih terlihat shock.
"Waka, biar kujelaskan…"
"Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa!" potong Sasuke yang langsung menarik lengan Ino dan membawanya pergi dari hadapan Naruto dalam waktu 1 detik.
"A…apa-apaan itu?" gumam Naruto sambil berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
=Fate=
Bruk!
Ino mengernyit saat merasakan punggungnya berbenturan dengan batang pohon besar di hutan belakang Mansion Uchiha. Sedangkan Sasuke berdiri di depannya dan menghimpit tubuh Ino dengan dirinya, menjaga agar gadis itu tidak lari darinya.
"Apa-apaan kau tadi? Baru kutinggal sebentar kau sudah bermesraan dengan pria lain?" tanya Sasuke penuh penekanan.
"Waka, anda salah paham!" Ino mencoba menjelaskan, namun Sasuke mencengkram rahangnya dan memaksa gadis itu untuk menatap ke arah matanya.
"Waka…"
"Kenapa kau begitu senang saat bertemu dengan bocah Oniwaban itu?" tanya Sasuke sambil menatap Ino dengan tatapan tajamnya.
"Wa…ka..sssh…" Ino tak mampu berkata-kata saat Sasuke semakin menekan dirinya ke batang pohon sambil mengangkat kaki Ino sebatas pinggangnya hingga pemuda itu lebih leluasa membawa tubuhnya merapat.
"Aku tidak suka kalau ada pria lain yang mendekatimu!" bisik Sasuke di telinga Ino, kemudian mulai menghisap leher Ino hingga meninggalkan bekas kecupan besar di leher putih Gadis itu, padahal jejak kiss mark semalam belum juga hilang dari leher Ino.
"Waka…Naruto itu hanya saudara angkatku!" kata Ino sambil mendorong dada Sasuke pelan.
"Anda tidak perlu khawatir," Ino membawa tangan Sasuke untuk menyentuh dadanya tepat di mana jantungnya berada.
"Satu-satunya orang yang bisa membuat jantung ini kacau hanyalah anda Waka." Kata Ino sambil menatap Sasuke dangan tatapan lembut dan penuh cinta.
Sasuke terdiam menatap Ino, tatapannya pun melembut dan sikapnya kini lebih tenang dari yang tadi terasa begitu liar di mata Ino. Tangan Sasuke kini menyentuh lembut pipi Ino dan menatap gadis itu sama lembutnya seolah menjaga gelas antik yang mudah pecah jika disentuh.
"Aku mencintaimu Ino, maaf kalau aku sudah bersikap kasar padamu…maaf!" lirih Sasuke yang kini menyatukan dahinya dengan Ino.
"Saya mengerti Waka-sama." Bisik Ino sambil mengalungkan lengannya di leher Sasuke dan membawa pemuda itu ke dalam pelukan dan ciuman penuh cinta.
"Aishiteru mo Waka-sama." Lirih Ino lagi yang kemudian kembali terjerat oleh ciuman Sasuke yang semakin lembut namun menuntut.
"Aaaaaaah….Wakaaa….!" Ino tersentak saat merasakan milik Sasuke tiba-tiba sudah memasuki tubuhnya, entah sejak kapan pemuda itu sudah menurunkan celana dalam Ino hingga mata kaki, bahkan Ino tak merasakan gerakan Sasuke saat melakukannya.
"Waka…jangan disi…agh…ssshhh..aaargh!" Sasuke bahkan tak mengijinkan Ino berbicara atau memprotes tidakannya, dia hanya ingin Ino bisa menikmati permainannya kali ini.
"Tidak akan ada orang yang melihat kita Ino…sssh…kita di hutan, dan…sssh aah…kita di atas pohon…shekarang…" bisik Sasuke di sela kegiatannya memasuki tubuh Ino, dan Ino pun hanya bisa menuruti keinginan Sasuke dengan mengikuti permainan majikannya itu hingga hasrat pemuda itu terpenuhi.
=Destiny=
Pagi itu Konoha Gakuen yang biasa diributkan dengan kedatangan Sasuke, kini diributkan dengan adanya sosok gadis berambut pink yang berada di sisi pemuda itu, bisikan-bisikan tak enak pun terdengar dari setiap sudut tempat yang dilewati Sasuke dan gadis itu. Sedangkan Ino sendiri dengan Oniwaban lain hanya berjalan di belakang keduanya.
"Siapa perempuan itu? Berani sekali dia mendekati Sasuke-kun?"
"Menyebalkan sekali! Kenapa Sasuke-kun tidak menyingkirkannya?"
"Yang lebih aneh itu, kenapa Ino-san tidak bertindak?"
Beberapa gerombolan gadis bersembunyi di balik semak-semak untuk mengamati kelompok orang yang baru saja datang dan langsung menarik perhatian itu.
"Benar juga, kenapa Ino-san tidak menyingkirkan perempuan itu?" protes gadis lain.
"Tunggu! Lihat Ino-san!" bisik salah satu gadis itu sambil menujuk ke arah Ino yang berjalan di samping Shino.
"Ke..kenapa?"
Tes…
"Hei,kenapa kau menangis?" tanya gadis lain sambil menepuk pundak temannya yang menatap Ino cukup cermat.
"Hah? Masa? Aku menangis?" gadis itu malah terlihat bingung sambil menghapus air matanya yang masih menetes.
"Aku melihat Ino-san, lalu menangis?" gadis itu malah merancau tidak jelas, sedangkan temannya kini mengalihkan perhatiannya ke arah Ino. Gadis itu terdiam sesaat ketika melihat ekspresi Ino yang tak seperti biasanya.
"Ke…kenapa Ino-san berekspresi seperti itu? Dan ke…kenapa aku menangis karenanya?" dan segerombolan gadis pengintai itu malah menagis bersama di balik semak-semak.
"Mungkinkah…Ino-san yang terlihat kesakitan karena luka hati itu mempengaruhi kita? Kenapa hanya karena melihat ekspresi terlukanya saja bisa membuat kita sesedih ini? Hiks..hiks…hweeee…" dan mereka pun menangis semakin keras yang bahkan penyebabnya tidak bisa diterima akal mereka.
=Fate=
Saat istirahat siang, Sasuke terbiasa makan siang dengan para Oniwabannya dan tak lupa dengan bentou special buatan Ino. Sasuke tak mau menerima bentou dari orang lain kecuali Ino, bahkan Ibunya sendiri dilarang membuatkannya bekal, katanya dia ingin melatih Ino agar menjadi istri yang baik suatu saat nanti, padahal itu juga hanya akal-akalan Sasuke saja karena tidak ingin gadis berambut pirang itu mengurusi orang lain atau bahkan pria lain.
Siang itu adalah momen pertama yang berbeda dari sesi makan siang Sasuke biasanya karena di sana sudah ada tambahan personil yang tak lain adalah Sakura dan Naruto. Kali ini bukan Ino yang duduk di sebelah Sasuke, melainkan Sakura. Gadis itu terlihat senang-senang saja dengan kegiatannya, apa lagi di sampingnya itu adalah pria tertampan yang pernah dia temui sepanjang hidupnya.
Naruto pun tahu seperti apa tipe cowok yang disukai Sakura, yaah semodel dengan Sasuke lah…jadi dia tahu betul kalau Sakura sangat bersyukur karena hidup sebagai Izanami, setidaknya itulah kata orang-orang di sekitarnya.
"Hei Ino, menurutmu apakah legenda Izanagi dan Izanami itu akan tetap berjalan sesuai sejarahnya jika kedua dewa itu terlahir kembali?" tanya Naruto setengah berbisik pada Ino. Saat ini mereka sedang bersandar di kusen jendela sambil menikmati makan siang mereka, tentu sesekali keduanya juga curi-curi pandang ke arah majikan mereka yang berada tak jauh dari tenpat keduanya mengistirahatkan diri.
"Hah? Kenapa kau menanyakan hal itu Naruto?" tanya Ino sambil menggigit roti anpan miliknya.
"Tidak, hanya saja…kehidupan masa lalu dengan sekarang kan berbeda, siapa tahu perasaan mereka juga berubah dan bukankah mereka juga sudah amat sangat lama berpisah?" tanya Naruto lagi, kali ini sambil memikirkan jawabannya sendiri.
Ino menghela nafas berat sebelum menjawab.
"Entahlah Naruto, aku juga tidak tahu." Lirih Ino sambil menerawang menatap lantai keramik di bawahnya.
Keduanya masih berbicara dengan berbisik-bisik seolah tak ingin orang lain tahu apa yang mereka bicarakan. Bahkan mereka tidak tahu kalau sepasang mata onyx menatap mereka tajam sejak mereka mulai berdiri berdekatan.
"Hei Ino, kau punya hubungan dengan majikanmu itu?" tanya Naruto lagi yang membuat Ino mendongak dan kembali menatap pemuda berambut pirang itu, kali ini diikuti dengan semburat merah samar di kedua pipi Ino.
"Ke…kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Ino gugup.
"Soalnya kemarin dia terlihat marah sekali saat melihat kita berpelukan hehehe…" Naruto nyengir tanpa dosa, terlihat sekali kalau dia sedang menjahili Ino.
"K…kau ini…jangan sok tahu ya! Jangan bersikap seolah kau tahu perasaan orang dalam sekali lihat!" sentak Ino sambil memaksa wajah Naruto untuk tidak menatapnya.
"Aku bukannya tahu perasaan orang dalam sekali lihat, tapi aku langsung melihat faktanya saja." Kata Naruto sambil mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di lehernya sendiri dan melirik Ino dengan tatapan jahil, seolah jari telunjuknya itu sedang mengarah pada leher Ino. Ino pun tersentak dan reflek langsung menutup lehernya yang dia yakin di mana letak kiss mark hasil karya Sasuke kemarin, wajahnya pun semakin merah karena mengingat kembali apa yang Sasuke lakukan padanya kemarin. Dan pemandangan itu justru membuat Sasuke semakin menaikkan tension meternya.
"Apanya yang cuma saudara angkat?" gumam Sasuke kesal sambil menancapkan sumpitnya pada sosis berbentuk gurita di bentou miliknya dengan sangat kasar.
"Kau kenapa Sasuke-kun?" tanya Sakura sambil menilik wajah Sasuke yang sedikit tertutup oleh poni panjangnya.
"Kau tidak lihat aku sedang kesal?" desis Sasuke sambil melirik Sakura dengan death glarenya.
"Oh…kukira kau sedang sakit perut hehehehe…" kata Sakura sambil nyengir tanpa dosa.
"Lalu kenapa kau kesal? Kau tidak suka aku di dekatmu?" tanya Sakura pura-pura polos.
"Nah itu tahu!" kata Sasuke tajam sambil menjejalkan sosis ke dalam mulutnya.
"Yaah kalau baru pertama kali sih memang mungkin kau merasa terganggu, tapi lama-lama juga terbiasa kok hihihi…" dan ucapan Sakura itu membuat Sasuke bergindik.
"Astaga…tak tahukah dia kalau aku ini sedang kesal dan tidak suka dia menggantikan posisi seseorang di sini?" batin Sasuke penuh penekanan. Namun segala uneg-uneg innernya itu tak berlanjut karena terganggu oleh suara cekikikan yang berasal dari kedua orang yang dia perhatikan sejak tadi, dan dia pun mau tak mau menoleh ke sumber suara itu.
"Oh tak tahukah mereka kalau ada orang yang sedang kesal di sini? Dan tak tahukan Ino kalau aku SANGAT TIDAK SUKA DIA DEKAT-DEKAT DENGAN ANAK DUREN ITU?" jerit inner Sasuke frustasi, biarpun di luarnya dia tetap stay cool sambil masih menjejalkan isi bentou ke dalam mulutnya, tentu dengan aura pekat yang menguar dari balik punggung pemuda itu, tak lupa dengan death glare yang tetap tertuju pada sepasang blonde di depan sana.
"Sadarlah Ino! Calon suamimu ini sedang memperhatikanmu sejak tadi!" Inner Sasuke semakin tak bisa menahan rasa kesalnya, bahkan diluarnya pun Sasuke sampai mengunyah sumpitnya karena Ino tak juga sadar kalau sedang diperhatikan.
Sakura yang sejak tadi penasaran dengan Sasuke kini mengikuti arah pandang pemuda itu, dan menemukan sepasang blonde sedang bercengkrama di dekat jendela. Dan entah kenapa ada sesuatu yang berdesir di dadanya saat melihat Oniwabannya begitu dekat dengan orang lain yang bahkan baru dia temui kemarin.
=Destiny=
Pulang sekolah, Sasuke dan yang lainnya tak langsung pulang karena para tetua meminta Sasuke dan para Oniwabannya untuk mengajak Sakura dan Naruto keliling kota, untuk mengenalkan mereka dengan kota tempat tinggal baru keduanya.
Hari sudah menjelang sore saat mereka mulai kelelahan setelah cukup lama berkeliling kota, menunjukkan tempat-tempat penting yang perlu Naruto dan Sakura ketahui, namun baru separuh kota mereka tunjukkan pada kedua penghuni baru itu, mereka sudah memutuskan untuk beristirahat dulu di salah satu cafe.
"Irasaimase!" sambut beberapa pelayan cafe itu saat Sasuke dan yang lainnya baru masuk ke dalam.
"Silahkan memilih tempat Tuan dan Nona," kata salah satu pelayan yang terlihat lebih tua dari yang lain.
"Ah kami juga menyiapkan tempat untuk pasangan." Kata pelayan itu lagi sambil menatap Sasuke dan Ino dengan tatapan berbinar.
Sasuke dan Ino berpandangan sejenak, kemudian sama-sama blushing saat mengerti siapa yang dimaksud pasangan di sini.
"Hm…maaf, tapi pasangan Tuan Muda kami ini adalah Nona ini." Kata Kiba sambil menunjukkan keberadaan Sakura pada pelayan itu.
"Ah maaf, apakah saya salah? Maafkan saya Tuan!" kata pelayan itu sambil berojigi.
"Sudahlah tidak apa-apa, kami kemari bukan untuk membahas itu!" kata Sasuke yang kemudian berjalan lebih dulu untuk mencari tempat duduk.
"Hm…tidak biasanya aku salah!" gumam pelayan itu sambil masih menatap Sasuke dan Ino bergantian, kemudian mengendikkan bahu dan berjalan mengikuti gerombolan itu untuk memberikan daftar menu.
"Silahkan menunya Tuan!" kata pelayan itu sambil menyodorkan daftar menu di atas meja.
Ino mengambil daftar menu itu dan mulai membaca isinya.
"Anda ingin menu apa Waka?" tanya Ino pada Sasuke yang kini duduk di sebelahnya.
"Apa saja yang kau pilih!" kata Sasuke singkat karena tak mau ambil pusing dengan pilihan menu.
Kini Ino mulai beralih pada teman-temannya yang lain, dan mulai memilih apa yang mereka inginkan dengan mengatakannya pada pelayan yang mencatat pesanan mereka.
Setelah mencatat pesanan dan mengulangi apa yang ditulis, pelayan itu pun kembali ke belakang counter untuk memberikan daftar pesanan pada kokinya.
"Aku mau ke toilet sebentar." Pamit Ino sambil beranjak dari tenpat duduknya. Sasuke mengikuti arah langkah Ino dan terdiam cukup lama di tempatnya, baru setelah Ino menghilang dia sendiri juga ikut beranjak dari duduknya.
"Aku mau ke belakang, jangan ada yang ikut!" kata Sasuke dengan nada datar namun penuh ancaman.
"Mana ada yang mau ikut orang yang mau pacaran?" batin para Oniwaban Sasuke.
Di tempat Ino
Ino baru saja keluar dari balik pintu bertuliskan ladies, dan langsung dikejutkan oleh keberadaan Sasuke yang menunggunya di depan pintu.
"Wa…waka…s..sedang apa anda di sini?" tanya Ino gugup.
"Mencari waktu privasi." Kata Sasuke yang kemudian mendorong Ino ke tembok dan memerangkap gadis itu dengan tubuhnya.
"Wa..wa..waka…i…ini tempat umum!" Ino semakin gugup saat Sasuke menatapnya dengan kedua onyx tajamnya. Wajah Ino sudah pasti memerah penuh saat ini namun disembunyikan dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kau manis Ino…manis sekali, apa lagi bibirmu." Lirih Sasuke di depan bibir Ino kemudian menjilat bibir bawahnya sendiri seolah tak sabar ingin menikmati sesuatu.
Kini Sasuke mulai merendahkan kepalanya dan meraup bibir Ino dalam ciuman penuh hasratnya, Ino pun kini melingkarkan kedua lengannya di bahu Sasuke dan menyamankan diri dalam sentuhan pemuda yang dia cintai itu. Mereka terlalu larut dalam kegiatan mereka mengekspresikan cinta sampai tak menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari balik salah satu bilik.
"Ah…aku memang tidak pernah salah dalam menilai orang lain." Gumam orang itu yang rupaya pelayan yang tadi mengklaim Sasuke dan Ino adalah pasangan.
"Semoga hubungan kalian lancar!" kata pelayan itu sebelum pergi.
=Fate=
Hari sudah mulai gelap, Sasuke dan yang lainnya pun memutuskan untuk pulang, namun tak ada yang menyangka kalau mereka akan dihadang banyak youkai saat perjalanan pulang karena dari tadi tak ada tanda-tanda aneh di sekeliling mereka.
"Tch! Semakin lama mereka semakin banyak saja!" decih Kiba yang mulai waspada.
"Kurasa karena Izanami juga bersama kita." Kata Shikamaru sambil mempersiapkan segel ninjutsunya.
"Mungkin karena kita bergerombol cukup banyak jadi mereka juga membawa banyak pasukan." Kata Ino yang mulai mengeluarkan kunainya.
"Dan kurasa ini bukan saatnya kita berdiskusi!" kata Shino yang menjadi akhir komentar keempat Oniwaban Sasuke itu (ralat) ketiga Oniwaban Sasuke dan satu Oniwaban Sakura.
Kini para Oniwaban memulai tugas mereka. Ino menggunakan kunai-kunainya yang sudah ditempel kertas mantra pada yokai-yokai di sekitarnya, Kiba menggunakan kemampuan serangan fisiknya untuk melumpuhkan para yokai itu, Shikamaru menggunakan jurus bayangan barunya, dimana bayangan-banyangan itu mampu berubah seperti sabit hitam untuk menusuk dan menebas lawannya, sedangkan Shino memanggil para lebah beracun untuk mengeroyok yokai di sekitarnya, lalu Naruto sendiri juga ikut dalam peperangan itu dan menggunakan kagebunshin agar pekerjaannya lebih ringan. Namun dia tetap dibuat tercengang karena banyaknya musuh yang dia hadapi. Sungguh selama ini Sakura tak pernah diincar makhluk sebanyak ini, bahkan pekerjaannya sebagai Oniwaban cukup senggang karena tak banyak yang mengincar Sakura.
"Apakah mereka selalu mengalami hal ini? Melawan makhluk-makhluk abnormal sebanyak ini?" batin Naruto sambil memperhatikan sekelilingnya di mana rekan-rekan seprofesinya juga sedang bertarung melawan musuh yang sama banyak.
Ino bergerak lincah di antara para yokai besar yang menyerangnya, melompat menghindar saat diserang untuk kemudian melancarkan serangan dengan melempar kunai-kunainya tepat sasaran. Dia juga menggunakan kemampuan ninjutsunya Kamaitachi (Wind Blade) untuk menghancurkan lawannya yang cukup banyak.
Gadis itu tak punya cukup ruang untuk memperhatikan Sasuke atau Sakura yang dia tinggalkan untuk bertarung. Bahkan Sasuke sendiri sudah turun tangan untuk ikut bertarung bersama para Oniwabannya.
Saat kedua aquamarine Ino tertuju pada sosok Sasuke, gadis itu melebarkan matanya saat melihat seekor youkai besar hendak menebaskan kapak besarnya pada Sasuke, dan reflek gadis itu langsung menubruk Sasuke untuk menghindar dari serangan sebelum kapak besar itu benar-benar membelah tubuh Sasuke menjadi 2, namun dia tak memprediksi kalau ayunan kapak yang luput itu akan terarah pada Sakura, dan posisi Ino saat ini tentu sangat tidak memungkinkan untuk melompat menyelamatkan Sakura.
"SAKURA!" seru Naruto yang langsung berlari secepat yang dia bisa untuk meraih Sakura agar tidak terkena tebasan kapak besar itu.
"NARUTO!"
DASH!
"KYAAAAAAA!" Sakura menjerit kesakitan saat punggungnya masih terkena tebasan ujung kapak itu biarpun Naruto sudah mencoba untuk menghindarkannya dari tebasan itu.
Ino terkejut luar biasa saat melihat majikan yang menjadi tanggung jawabnya saat ini, kini bermandikan darah karena tebasan kapak besar yang tadinya terarah pada Sasuke, gadis itu terlalu shock untuk sekedar bereaksi, dan tanpa sadar yokai itu sudah berada di depannya dan akan menebasnya bersama dengan Sasuke, namun belum sempat makhluk itu menebas mereka, makhluk itu telah terbelah lebih dulu karena Sasuke menebasnya dengan Chidory Nagashi yang baru dipelajarinya.
Setelah yokai besar itu mati, para yokai lain mulai mundur dan lenyap dari hadapan Sasuke dan yang lain, takut akan bernasib sama dengan yokai besar yang merupakan pimpinan mereka itu.
Kini tinggal suara Naruto yang memanggil-manggil nama Sakura yang tak sadarkan diri dalam dekapannya.
=Destiny=
"Kenapa bisa begini? Apa saja yang kau lakukan sampai Sakura bisa terluka separah itu?" tanya Fugaku dengan nada marah pada Ino yang kini bersimpuh di depannya.
"Maafkan saya Tuan Besar, saya tidak waspada." Kata Ino.
"Ayah, Ino berusaha menyelamatkanku saat itu, ini bukan salah Ino!" protes Sasuke yang juga berada di dalam ruangan interogasi itu.
"Kau tidak perlu angkat bicara Sasuke, ini urusan ayah dengan Ino!" kata Fugaku datar namun penuh peringatan.
"Sasuke sudah bukan tanggung jawabmu lagi Ino, mastermu sekarang adalah Sakura jadi apapun yang terjadi dialah yang harus kau prioritaskan, karena Sasuke seharusnya sudah bisa menjaga diri!" kata Fugaku tajam.
"Maafkan kelalaian saya Tuan, lain kali saya akan lebih waspada." Kata Ino yang terlihat tetap tenang.
"Jadi ayah lebih senang aku mati ya? Padahal kalu saja Ino tidak menyelamatkanku tadi, aku pasti sudah jadi mayat!" kata Sasuke datar, namun penuh aura pekat.
"Sasuke, ayah rasa kau sudah cukup gesit untuk menghindari bahaya dan kau punya tiga Oniwaban yang bisa menjagamu, sedangkan Sakura hanya punya satu Oniwaban jadi tak ada salahnya kalu Ino mendapatkan tugas untuk menjaganya."
"Lalu kenapa harus Ino?" tanya Sasuke langsung.
"Karena memang hanya Ino yang seharusnya berada di sisi gadis itu." Fugaku menatap tajam putranya yang terdiam, sedangkan Ino sendiri sebenarnya penasaran dengan apa alasan Fugaku memberinya tugas itu.
"Kenapa bisa begitu? Ino sudah bersamaku sejak kecil, bukankah seharusnya dia tetap berada di sisiku?" Sasuke masih memprotes.
"Ayah tidak bisa mengatakannya saat ini, karena ini menyangkut keselamatan Izanami sendiri." Kata Fugaku kemudian.
"Apa-apaan itu?"
"Waka-sama, saya yakin keputusan Tuan besar ada alasannya, dan pastinya beliau tidak main-main dalam mengambil tindakan, jadi sebaiknya kita tetap menuruti apa yang Tuan Besar perintahkan." Kata Ino dengan nada datar namun sangat sopan mengingat dia bicara dengan kedua majikannya.
Sasuke pun terdiam setelah Ino mengatakan itu, dan kini dia keluar dari ruang interogasi itu dengan kesal sambil menutup shoji dengan kasar sampai terdengar bunyi debaman keras.
"Ino, lain kali jangan pernah lengah lagi lakukan tugasmu dengan baik, kau boleh saja dekat dengan putraku tapi jangan menjauh dari Sakura! Itu saja yang kuminta." Tutup Fugaku mengakhiri interogasinya.
"Wakarimashita!" Ino menundukkan badannya memberi hormat pada Fugaku.
"Aku percayakan semua padamu Ino!" kata Fugaku kemudian.
=Fate x Destiny=
"Naruto?"
Naruto berjenggit sekilas saat merasakan tepukan lembut di bahunya, pemuda itu menoleh ke belakang dan mendapati Ino yang tersenyum lembut padanya. sejak tadi Naruto berada di sisi futon Sakura untuk menjaga gadis itu, tak sedikitpun dia beranjak dari sana karena dia tak ingin terjadi hal buruk lagi pada gadis itu.
"Maaf, aku tak bisa menjadi partner yang baik untuk menjaga Sakura." Lirih Ino yang kini megambil duduk di sisi Naruto.
Naruto menggeleng pelan dan kembali menatap Sakura yang masih tertidur di atas futonya.
"Tidak Ino, kau hanya belum bisa beradaptasi dan tadi kau bukannya mengabaikan Sakura, tapi kau berusaha melindungi Tuan Muda Sasuke sampai kau tak sanggup beralih pada Sakura. Akulah yang telah gagal melindunginya." Kata Naruto dengan wajah sedih.
"Naruto…" Ino tak sanggup berkata-kata, hanya mengusap punggung pemuda yang terlihat rapuh itu.
Ino menilik wajah Naruto yang masih menunduk menatap ke arah Sakura, dan dari sana Ino tahu kalau Naruto memiliki perasaan khusus pada majikannya itu, sama dengan yang dia rasakan pada Sasuke.
"Naruto kau…mencintai Sakura?" tanya Ino yang membuat Naruto tersentak dan langsung menatapnya dengan tatapan shock.
Keduanya terdiam dan saling menatap dengan ekspresi sama. Mereka sama-sama shock, Ino yang masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, dan Naruto yang tak percaya Ino menanyakan hal itu padanya.
"Ino, jujur aku… tidak tahu pasti apa yang kurasakan ini, tapi…kumohon jangan katakan ini pada siapapun!" lirih Naruto.
"Aku mengerti Naruto." Jawab Ino yang kini menundukkan wajahnya, tak menyangka kalau saudara angkatnya itu akan bernasib sama dengannya.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hyaaaaah akhirnya aku apdet juga fic ini setelah cukup lama absen, bukannya males cuma waktunya aja baru ada sekarang hahaha
Nah gimana dengan chapter ini readertachi? Apakah cukup memuaskan?
Mohon keripik sambalnya lewat review ya hehehe
