Kalian tidak tahu seberapa besar shock yang hamba terima saat kemarin sore memeriksa review cerita ini. Dalam kurun waktu 17 jam, sudah ada 22 review! WOW! Ini adalah fic tersukses yang pernah hamba tulis sampai sejauh ini. Yang pertama dan semoga bukan yang terakhir, bisakah kali ini hamba minta reviewnya lagi?

Oh ya, ngomong-ngomong, untuk Kyou. Tidak, cerita ini hamba tulis pada jam pelajaran Biologi hari Jumat lalu, saat mata hamba melalui satu kata secara sekilas: Reproduksi. Tiba-tiba, lautan ide dan inspirasi memenuhi kepala dan langsung hamba tulis saat itu juga di buku kosong, selesainya tepat pas bel pulang bunyi. Proses dari nulis di kertas sampai ngetik cuma butuh waktu 2 jam kok. Mana mau hamba bangun tengah malam cuma buat nulis fic?

Silahkan membaca!!

Reconciliation

Tubuh Naruto seperti mati rasa, semua anggota badannya terasa lumpuh walaupun otaknya memberi perintah yang sama berkali-kali. Hanya satu: angkat wajahmu dan tatap gadis itu. Tapi dia tak mampu, sungguh dia tak mampu, seakan-akan pandangannya sudah dirantai ke lantai porselen kamar mandi. Kalau tadi yang memenuhi hatinya adalah api kemarahan yang membara, sekarang rongga dadanya diisi oleh rasa malu dan bersalah yang jauh lebih berat dan menyiksa.

Saat dia berhasil menemukan keberanian entah dari mana untuk membalas pandangan Hinata, kali ini Naruto malah diliputi rasa heran. Dia mengira bahkan hampir berharap akan menemukan kemarahan dan kebencian dari raut ekspresi gadis itu, tapi yang terpandang oleh matanya sekarang hanyalah seulas senyum sehangat angin musim semi.

"Kenapa...?" hanya satu kata yang dikeluarkan Naruto dalam bisikan pertanyaannya, sebab hanya enam huruf itulah yang kini memenuhi kepalanya. Kenapa gadis itu tak marah padanya? Kenapa Hinata tak membencinya, padahal dia telah melakukan sesuatu yang tak termaafkan padanya? "Kenapa... Hinata...?"

"Hm...?" gumam Hinata tanpa menghilangkan senyumnya, memiringkan kepalanya dalam sebuah tanda tanya sambil membawa dua tangannya ke samping wajah Naruto, lalu membelai pipi dengan 3 kumis seperti kucing itu. "Apa maksudmu...?"

"Kau tahu apa maksudku...!" kata Naruto, sedikit lebih keras dari sebelumnya karena frustrasi yang mendera. Mengapa gadis itu tidak marah, atau memukulnya sekalian? Kalau saja dia melakukan itu, maka semua ini akan lebih mudah baginya. Mengapa Hinata harus membuat semuanya menjadi serumit ini? "Aku bersalah padamu, Hinata! Aku sudah melukaimu, menyakitimu! Aku hampir saja menodaimu! Aku... hmmph..."

Sebelum Naruto sempat menyelesaikan kata-katanya, Hinata telah menarik kepala berambut pirang itu dan menyentuhkan bibir mereka. Cowok yang shock atas keberanian tak terduga dari gadis Hyuuga itu hanya bisa diam saat bibir mereka saling menyapu dengan hangat, membersihkan tubuh Naruto dari dingin yang tersimpan dalam setiap tetes air shower. Saat ciuman itu berakhir, dia yang masih dalam keadaan cengok dan hanya mampu menatap wajah yang merona merah di depannya dengan mata terbelalak.

"Kau tidak menyakitiku kok..." gumaman Hinata hampir saja tidak kedengaran andai jarak wajah mereka berdua tidak sebegitu dekat. "Paling tidak, aku tak merasa begitu..."

"Ha? Masa?" tanya Naruto bego, wajahnya yang melongo terlihat begitu lucu sampai sang gadis hanya mampu mengeluarkan tawa tertahan. "Tapi itu tak mungkin, Hinata! Kau tadi menghentikanku, karena alasan apa lagi...?!"

"E-eh, i-itu..." Hinata memalingkan wajahnya karena malu, rona merah yang semakin jelas membakar wajahnya itu malah membuat sang gadis makin terlihat imut. "Itu hanya..."

"Hanya...?" sambung Naruto penasaran, menatap wajah sang gadis dengan tajam.

"A-anu, aku hanya agak takut..."

"Tuh kan...!"

"Bukan takut yang seperti itu...!" sanggah Hinata lagi. "Cuma itu... ka-kau... kau melakukannya terlalu cepat, Naruto-kun..."

Lalu Naruto teringat sebuah pelajaran yang didapatkannya saat masih bertualang bersama sang Ero Sennin dahulu, bukan berarti dia yang minta tapi lebih karena orang tua berambut putih bernama Jiraiya itu yang ingin mengajarkannya. Agak samar-samar memang, tapi dia masih ingat setiap kalimat yang dulu pernah diucapkan orang tua mesum tapi sangat kuat itu.

(0)

"Nah, Naruto, mumpung aku punya waktu, aku punya satu pelajaran khusus untukmu."

"Apa?! Apa?! Apakah itu jurus baru seperti Rasengan?!"

"Bukan, bodoh! Apa yang ingin kuajarkan adalah bagaimana caranya memperlakukan seorang gadis saat berhubungan intim!"

"Yahh, kukira apa..." kata Naruto kecewa. "Tapi aku masih 12 tahun, apa benar aku perlu pelajaran ini?"

"Melihat ekspresi gadis yang mengintipmu waktu kita pergi dari Konoha, aku bisa bilang besar kemungkinan pelajaran ini akan segera bisa kau praktekkan saat kita pulang nanti." Jiraiya melanjutkan, mengambil tempat duduk di atas sebuah batu besar dan bersila di atasnya. "Bagaimana?"

"Yah, tak ada salahnya sih..." kata Naruto setelah berpikir sebentar, sebelum bersila di bebatuan di depan Jiraiya. "Baiklah! Ajarkan aku, Ero Sennin!"

"Sudah kubilang dari dulu, berhenti memanggilku Ero Sennin...!" gerutu Jiraiya, tentu saja tanpa niat buruk atau kemarahan asli dalam suaranya. "Nah, pertama-tama, kau harus mengetahui kalau kau sama sekali tak boleh kasar jika itu adalah yang pertama kalinya. Kau harus tahu kalau wanita suka kelembutan, apalagi jika mereka adalah wanita yang lembut dan rapuh sejak awalnya..."

Naruto mengangguk-angguk, menarik masuk semua informasi itu ke dalam kepalanya yang entah kenapa tiba-tiba bisa menyimpan pelajaran. Tapi deskripsi sang guru tentang gadis yang lembut dan rapuh membuatnya teringat pada satu cewek khusus yang sangat cocok dengan ciri-ciri itu. Gadis manis yang selalu malu-malu jika berhadapan dengannya, gadis yang dulu memberinya obat setelah pertarungan dengan Kiba. Gadis yang selalu menampilkan kekuatan yang tak bisa dia duga, gadis yang selalu baik, ramah, pemalu, tapi sekaligus punya pendirian dan ketetapan hati yang kuat.

"Wanita sangat suka jika kau memulainya dengan ciuman-ciuman lembut. Jangan terburu-buru, ciumlah dia mulai dari tangan, lalu dahinya, pipi, baru ke bibirnya. Jangan ragu-ragu untuk memberinya French Kiss, tapi hanya kalau gadis itu mengijinkan. Sampai dia mulai santai dan tubuhnya mulai terlihat kurang tegang, barulah kau teruskan penjelajahan bibirmu ke bagian lehernya..." Jiraiya menjelaskan dengan runtut dan cukup detil, yang mungkin mengingat itu semua adalah pengalamannya sendiri. "Untuk mengetahui kalau gadis itu mulai santai, biasanya jika dia sudah mulai mengerang setiap kali kau mengecupnya..."

Mendengar semua itu, bayangan dalam kepala Naruto melayang ke mana-mana. Imajinasi liar mulai terbentuk, saat dia membayangkan sedang melakukan semua yang dijelaskan orang tua itu pada gadis yang bersangkutan. Wajahnya yang merona merah, wajah dan rambutnya yang pasti berbau harum, lalu bibirnya yang terasa manis. Begitu pula setiap erangan yang akan dikeluarkan gadis pemalu itu... Oh Tuhan...

"Jika kau anggap sudah memungkinkan, jangan lupa untuk menggunakan lidahmu. Jilatilah dia seperti seekor induk memandikan anaknya, dan jangan lupa untuk memberi perhatian khusus pada area-area sensitif. Bagaimana mengetahui area-area itu, tentu saja dengan mendengarkan di bagian mana gadis itu paling nyaring mengerang atau menjerit saat kau menjelajahinya. Tapi seperti yang kubilang, jangan terbawa nafsu atau terburu-buru. Gadis cenderung ketakutan jika masih pertama kali, maka dari itu kau harus membuat mereka senyaman mungkin. Hindari 'kontak langsung' sampai gadis itu benar-benar siap, kau bisa tahu itu kalau dia sudah benar-benar 'basah'..."

Naruto tidak tahu harus bersyukur atau apa, karena tiba-tiba saja kekuatan imajinasinya bertambah sampai berkali-kali lipat. Bayangan yang terbentuk dalam kepalanya sudah begitu jelas sampai dia merasa sedang mengalaminya sendiri. Dia bisa mencium bau harum memabukkan yang berasal dari gadis itu, lidahnya hampir bisa mengecap rsa manis setiap kali daging tak bertulang itu menyapu tubuh sang gadis, seakan di kulit itu terdapat sirup alami yang rasanya tak terdefinisi tapi tetap luar biasa. Indra pendengaran sang bocah Kyuubi terasa bergema oleh desah erotis yang membuat bulu romanya berdiri, mengirim gigil menyenangkan ke seluruh tubuhnya.

"Nah, jika kau dan gadis itu sudah siap untuk hidangan utama, yang harus dilakukan adalah—Hm? Hei, bocah! Kau tidak apa-apa?!"

Naruto sudah pingsan dalam keadaan duduk bersila, dengan darah mengalir deras dari dua lubang hidungnya.

(0)

"Em, jadi... kau bilang "jangan" bukan karena tidak menyukainya...?"

Hinata mengangguk pelan, matanya terus tertuju ke arah lain asal bukan mata Naruto.

"Jadi... kau menginginkannya...?" tanya Naruto sekali lagi untuk meminta kepastian.

Hinata terus membuang muka karena malu dengan rona wajah sudah semerah apel matang, tapi Jinchuuriki no Kyuubi itu dengan sabar menunggu. Sampai akhirnya Hinata menggulirkan bola matanya ke atas untuk bertemu dengan dua mata biru langit milik pria yang dipeluknya, gadis itu mengangguk dengan sangat pelan dan samar yang pasti tak akan disadari andai mata Naruto tidak terpicing pada si rambut biru.

"Aku tak tahu, tapi aku hanya merasa agak takut..." bisik Hinata pelan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh si cowok. Naruto tersenyum dalam hati, ketika merasa betapa betulnya apa yang diajarkan Ero Sennin dulu. "Juga, aku takut kau tidak akan suka... penampilan tubuhku..."

Leher Naruto menekuk ke bawah sebesar 45 derajat, dan baru saat itulah dia sadar kalau gadis di depannya juga tak memakai satu kain pun, membuat mereka berdua benar-benar telanjang. Dengan pelan dan lembut, Naruto meraih dua lengan yang melingkari lehernya lalu menariknya. Memegangi bahu sang gadis agar dia tidak kabur atau bergerak-gerak, Naruto mengambil satu langkah mundur. Barulah indera penglihatan Naruto bisa mencerna pemandangan yang terhampar baginya dengan lebih baik.

Tubuh cewek itu terasa cukup mungil walau bukan berarti kecil, tapi itu mungkin karena dia menjadikan tubuhnya yang kekar sebagai perbandingan. Bentuknya benar-benar terjaga karena latihannya sebagai shinobi, tapi itu tidak lantas membuat tubuh itu terlihat berotot, malah tetap langsing dan singset layaknya gadis remaja biasa. Pria pirang itu mengelus dua bahu itu, merasakan betapa mulus kulit gadis itu dengan indera perabanya sendiri.

Saat Naruto mengarahkan mata ke dadanya, kepercayaan diri sang gadis yang sejak dulu memang selalu kecil membuatnya menyilangkan kedua tangan untuk menutupi dua bukit yang membuktikan kalau dia adalah seorang wanita tulen. Yah, bukan berarti tindakan itu bisa menyembunyikan apapun, karena figur tubuhnya yang langsing tetap tidak mengubah fakta kalau dua buah dada itu punya ukuran yang besar dan simetris sempurna. Mata Naruto terbelalak dalam kekaguman, memperhatikan setiap lekuk indah yang mengirim fantasi-fantasi indah ke dalam memorinya.

"Naruto-kun, jangan lihat terus..." rengek Hinata sambil meneruskan usaha untuk menyembunyikan tubuhnya dengan kedua lengan, walaupun sudah jelas sia-sia. "Aku malu..."

"Kenapa harus malu...?" wajah Naruto sendiri ikut terasa panas melihat kemanisan wajah gadis yang merona merah di depan matanya. "Kau... kau cantik sekali, Hinata..."

Perlahan, tangan Naruto kembali berkerja untuk menjauhkan lengan Hinata dari menutupi masterpiece yang mampu membuat pria waras manapun tergiur itu. Tapi nafsu sama sekali tak terlihat pada dua bola biru langit si pemuda, malah kepedulian dan kasih sayang yang terpancar dari keduanya. Dia menarik Hinata agar mendekat lagi, sebelum bertanya.

"Hinata, apa kau mempercayaiku...?"

Si rambut biru mendongak untuk menatap wajah pria yang paling disayanginya, lalu tersenyum manis.

"Selalu." jawab gadis bermata biru abu-abu tanpa satu pun indikasi keraguan.

"Kalau begitu, aku akan melakukannya pelan-pelan, oke?"

Masih tetap dengan kelembutan tak terperi, Naruto mengangkat dua tangan Hinata ke wajahnya, lalu mengecupnya perlahan. Menjalankan bibirnya pelan-pelan di kedua telapak tangan itu, perlakuan Naruto mengirimkan gigil ke seluruh tubuh sang gadis.

"Mmm... nnh..."

Tak ada inci telapak itu yang tidak dilalui oleh mulut Naruto, setiap jari dia kulum dan isap layaknya anak kecil mengemut lolipop. Sudut-sudut antara jari tangan itu dia telusuri dengan lidah, memastikan kalau setiap bagian tangan itu telah dipuaskan tuntas. Selesai dengan bagian tangan, Naruto lanjut ke episode berikutnya. Yaitu menggunakan bibir untuk menyusuri lengan gadis itu sekaligus menghirup aroma memabukkan yang bisa tercium di sana, terus dan terus hingga sampai di bahunya. Itu dia lakukan sambil membimbing lengan gadis itu agar kembali dikalungkan di lehernya.

Setelah memberi satu kecupan di puncak pundak, Naruto menjalankan mulutnya sampai ke pangkal leher Hinata, dan mendaki sepanjang sisi leher itu, mendapatkan sebuah erangan dari mulut sang gadis. Kecupan itu berlanjut naik dan berhenti di belakang telinga, dilanjutkan dengan mengulum cuping telinga itu dan menggilingnya pelan dengan gigi. Pemuda itu mengembalikan posisi tangannya ke pinggang sang gadis, tapi kali ini mereka tak hanya diam dan berperan sebagai penopang. Selagi yang kanan menggelosoh turun ke arah bokong Hinata dan meremasnya pelan, tangan kiri Naruto naikkan sepanjang garis punggung dengan jari telunjuk memberi tekanan tersendiri pada tulang belakang tubuh itu.

"Naruto-kun... anh..." desahan Hinata terdengar begitu erotis dan menggoda ketika tangan kanan sang pemuda kembali memijit pantatnya yang padat, tapi Naruto berhasil mengendalikan hormon yang hampir saja mengamuk karena lepas kontrol. Dia tak ingin membuat gadis itu tak nyaman, tidak sekarang setelah dia benar-benar tahu apa yang harus dilakukan untuk memuaskan Hinata.

Dimulai dengan melekatkan bibir di dahi seperti seorang pria mengecup kekasihnya, lalu satu ciuman di mata, pelipis, baru ke pipi. Dari pipi, Naruto menyeret bibirnya ke samping sampai sudut mereka bersentuhan. Sebuah pagutan, itulah semua yang dibutuhkan untuk membuat tangan Hinata meraih kepala Naruto lalu mulai meremas-remasnya dengan penuh kasih sayang. Dengan sabar tapi tetap mesra, sang pemuda memastikan kalau setiap inci bibir merah muda itu telah habis dieksplorasi sebelum memindahkan wajahnya ke samping.

"Hinata..." Naruto berbisik tepat di samping telinga Hinata, kembali menghasilkan sebuah remasan di kepala dan rambut pirangnya. "Boleh aku meneruskan...?"

Galerians: Hm, masih belum, Naruto. Sayang memang, tapi masih belum.

Naruto: Apa?! Sudah sampai sini, masa dihentikan?!

Galerians: Yah, kasihan tuh Hinata sudah kehabisan napas karena mendesah tanpa henti. Lihat mukanya, sudah seperti lobster rebus. Kamu kok bisa seahli itu sih...

Naruto: *blushing* T-tapi itu bukan alasan kan! Ayolah, tanggung nih!

Galerians: Tidak, kita tunggu sampai chapter berikutnya saja.

Naruto: G, ha... AAAAAHHHH!!!

Wahaha, duh, kasihan Naruto.

Hamba merasa belum interaksi antara Hinata dan Naruto belum cukup dalam untuk melibatkan mereka berdua dalam sebuah scene lemon, karena itulah chapter 2 yang sebenarnya sudah lemon digantikan dengan ini. Mengapa? Karena hamba tak ingin cerita ini jadi sampah tak berguna yang hanya menjadikan seksualitas sebagai daya tarik utamanya, hamba ingin agar ada romansa yang dalam antara seorang pria dan wanita, apalagi ini karakternya Naruto dan Hinata, dua karakter favorit hamba!

Oh ya, ngomong-ngomong, apa yang hamba tulis dalam chapter ini hampir seluruhnya berdasarkan pengetahuan asli, apalagi pelajaran yang diberikan Jiraiya itu. Jadi bagi kalian para lelaki, ambillah pengetahuan dari sana, tapi jangan buat itu sebagai alasan untuk menghancurkan keperjakaan kalian. Percayalah, kalian (yang paling mesum sekalipun) pasti akan terkaget-kaget pada besarnya pengetahuan hamba soal beginian, tapi toh sampai saat ini hamba masih perjaka tuh (terkutuklah pergaulan bebas!).

Hamba minta maaf jika ada kekecewaan dalam hati readers sekalian, tapi hamba memasang romance sebagai salah satu genrenya karena menginginkan kemesraan antara Naruto dan Hinata menjadi salah satu nilai plus dalam fic ini. Sekali lagi, maafkan!

Tapi karena chapternya sudah siap, ya tinggal tunggu jumlah reviewnya mencukupi lagi deh. Makin banyak, semakiiinn~~ cepat updatenya!

Oke, hamba tunggu lagi apa komentarnya!