Wahaha, siapa yang menyangka kalau hamba berhasil membuat chapter ketiga ini hanya dalam waktu 3 jam?! Benar-benar sesuatu yang tak disangka, apalagi saat hamba mengecek jumlah review satu hari yang lalu, bola mata hamba hampir keluar dari rongganya, 53 REVIEWS!! UWOOW!! Hamba sungguh tersanjung! Boleh kan hamba minta lagi reviewnya?

Mari kita lihat lagi, chapter ini menjadi sangat lama dalam update-nya karena faktor ketidakpuasan. Ya, hamba masih kurang puas dengan lemon versi orisinalnya yang, menurut hamba, begitu dangkal dan pendek! Karena itulah, hamba berkutat kembali lagi dengan kata-kata ketika ujian Bahasa Inggris hari Jumat tadi (ngomong-ngomong, hamba selesai dalam waktu 15 menit, dari 2 jam yang tersedia) dan inilah hasilnya!

Oh ya, bagi Jie Jie: Dari fic sebelumnya sudah hamba jelaskan kalau Naruto BELUM pernah melihat tubuh telanjang wanita secara langsung (indikasi kalau dia masih perjaka) lalu kalau kita melihat keluguan dan betapa innocent-nya Hinata, maka apa hamba masih perlu bilang?

Selamat membaca!

Becoming One

Siapa yang akan menyangka? Bahkan dia sendiri, seumur hidup pun dia tak pernah mengira kalau ini akan terjadi. Selama 15 tahun, dia selalu berpikir kalau apa yang tersimpan dalam hati biarlah tetap di sana, lebih baik terus begini daripada menyatakannya dan membuat hubungan mereka menjadi buruk. Dia tak pernah meminta, hanya mengharap, bahwa suatu hari pria itu akan menyadari keberadaannya, mengetahui perasaannya, lalu berharap dia akan membalas pernyataan yang datang dari lubuk hatinya yang terdalam.

Tapi dia tak menyangka akan jadi begini, tak pernah satu kalipun. Dimulai dengan hanya satu pernyataan perasaan, diberikan pada suasana yang sama sekali tak romantis karena dalam sebuah pertarungan, semuanya berkembang menjadi peristiwa ini. Desir menyenangkan yang kini mengalir ke seluruh tubuhnya, setiap sentuhan hangat yang membangkitkan kesadarannya sebagai seorang wanita, kecupan-kecupan lembut yang mengirimnya ke awang-awang langit ketujuh. Walau semua ini tak disangka, tapi dia tetap mensyukuri semuanya.

"Boleh aku meneruskan?"

Sebuah pertanyaan yang tidak mengandung otorisasi ataupun dominasi, hanya permintaan yang terselubung dengan baik. Tapi gadis itu sudah terlalu malu bahkan untuk sekedar menganggukkan kepala, dan sejak awal dia kelewat pemalu untuk membiarkan mulutnya mengatakan sebuah 'ya'. Sebagai ganti kata-kata, dia mengarahkan dua mata biru abu-abu miliknya ke dua bola biru langit yang balas menatapnya, membuatnya terkejut karena kedua mata itu masih kosong akan nafsu syahwat, cuma ada kepedulian dan kesabaran.

Dalam satu tatapan, dia mengirimkan harapan, izin, hasrat, kasih sayang, dan yang paling utama, kesiapan. Kali ini, biarpun takut dia akan tetap menerima sang pemuda. Tak akan ada tolakan lagi untuk kedua kalinya, pemuda itu telah membuktikan kalau dirinya terlalu penyayang untuk melukai Hinata. Ya, Naruto tak akan pernah melukainya, dia percaya... tidak, dia tahu itu.

Biarpun begitu tak kentara dan tanpa kehadiran kata-kata, Naruto menerima pesan yang tersirat sejelas menerima cahaya matahari di hari cerah tak berawan. Pemuda itu tersenyum kecil, membiarkan diri sang gadis santai sedikit dan meyakinkannya bahwa dia akan melakukan ini selembut mungkin.

•••

"Ha... ahhn...!"

Kali ini, Naruto membuat agar sentuhannya menjadi lebih bertenaga. Dua bukit yang sejak tadi menunggu kini menjadi pusat perhatian sang pemuda, ketika dia meletakkan tangannya di sana dan mulai memijit pelan. Dengan keahlian yang entah didapat dari mana, Naruto mulai meremas dua gumpalan itu dengan jari-jarinya, memenuhi kamar mandi dengan lenguhan panjang yang berasal dari suara merdu sang gadis. Bertahun-tahun dulu, dia pernah merasakan bagaimana lembutnya payudara seorang wanita, yaitu orang yang kini menjadi Godaime, Hokage Kelima Konohagakure. Dia masih ingat betapa kenyalnya, keharumannya, teksturnya yang menggiurkan, tapi karena dia masih kecil dan ada masalah lain yang lebih penting saat itu, maka dia tak terlalu peduli.

Tapi kali ini, saat dia membenamkan wajahnya ke antara dua aset Hinata yang tak perlu diragukan kualitasnya, barulah dia mengerti mengapa satu wanita bisa membuat dunia tergila-gila. Keharuman yang tercium di hidungnya berbeda dengan semua bau lain yang pernah masuk ke indera pengendusnya, tapi aroma terwangi yang bisa Naruto ingat pun masih tak bisa dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh Hinata. Harum gadis itu ternyata begitu memabukkan, melancarkan seribu satu serangan batin pada instingnya sebagai seorang laki-laki remaja. Wangi yang tak pernah dia cium sebelumnya, tapi begitu dahsyat sampai dia yakin bau itu akan terukir pasti dalam hidungnya seumur hidup. Semua itu membuat Naruto menarik satu tarikan napas panjang untuk kesekian kalinya, seakan dia tak pernah puas mencium buah dada Hinata.

Satu hembusan napas bercampur desahan dan cengkeraman di kepala Naruto menyadarkannya bahwa gadis ini perlu perhatian lebih. Pemuda itu mendongak sebentar, dan wajahnya langsung terasa panas ketika pandangannya bertemu dengan tatapan memohon dan memelas dari sang gadis, serta pemandangan mulutnya yang terbuka dan lengket oleh air liur.

Berdiri secepat kilat, Jinchuuriki no Kyuubi itu segera melumat bibir pink yang telah menunggu dengan tak sabar, meneguk seluruh cairan manis yang terhidang dalam rongga hangat tersebut. Ketika lidah mereka terjalin dalam sebuah simpul, tangan Naruto mengambil salah satu tindakan yang ekstrim tapi terencana: mencubit puncak bukit di dada Hinata dan memelintirnya.

"Mmn...!!"

Karena Naruto masih melumat mulutnya, jeritan Hinata teredam hingga menjadi sebuah erangan, walaupun tangannya yang semakin aktif mengacak-acak kepala sang pemuda sudah cukup sebagai indikasi betapa dia menikmati permainan ini. Gadis berambut biru itu melempar kepalanya ke belakang sampai menyentuh dinding dan melengkungkan punggungnya saat bibir Naruto mulai menjelajah turun, kembali melalui jalur melewati dagu, leher, dan akhirnya sampai di dada.

"Nhh...!!"

Hinata harus mengangkat satu tangan dan menggigit jari telunjuknya agar tidak menjerit sekuat mungkin saat mulut Naruto melakukan sihirnya. Punggung semakin melengkung hingga dadanya membusung berani, seakan meminta Naruto agar menyantap semua yang tersuguh di sana. Ratusan syaraf yang terpasang pada dua puting bukit Hinata menerima rangsangan bagai sambaran ratusan volt listrik. Kepala Hinata melengos ke kanan kiri karena kenikmatan tak tertahankan yang membuatnya ingin terus mengerang, dia hampir tak percaya bahwa ada sesuatu yang semenyenangkan ini di dunia. Gigitan pada jarinya berubah semakin kuat dan hampir tak cukup untuk menahan diri ketika gadis itu merasakan lidah sang pemuda mulai melingkari gumpalan daging berwarna pink yang kini terperangkap dalam mulutnya itu.

"Ahhnn!!"

Jeritan itu akhirnya terbebas dari mulut Hinata ketika Naruto memutuskan untuk memberi satu dorongan terakhir, yaitu dengan menggigit puting itu menggunakan gigi depannya. Gema jeritan masih terdengar dan sekarang ditambah dengan rintihan-rintihan panjang dan nyaring ketika jepitan mulut Naruto menambah tekanannya. Kalau sejak tadi Hinata merasa disengat listrik, maka sekarang dia merasa seperti disambar petir. Seluruh tubuhnya mengejang dan menegang seperti orang kerasukan arwah penasaran, yang merupakan respon alami ketika desir-desir indah tak terbayangkan memandikan seluruh syaraf di badannya.

Hinata hanya mampu berdoa, semoga tak ada yang mendengar teriakannya barusan.

•••

"Apa?! Kau masih belum menemukan dia?!"

"Maafkan saya, Tsunade-sama, tapi Naruto benar-benar seperti lenyap ditelan bumi!" kata Sakura, wajahnya dengan jelas menunjukkan kepanikan yang sebenarnya tak sesuai dengan personalitas yang dia miliki. "Bahkan, sekarang Hinata juga ikut menghilang!"

"Mungkinkah mereka diserang oleh seseorang...?" gumam sang Godaime sambil menggigit bibir bawahnya. Ini merupakan masalah yang cukup serius, mengingat bagaimana Naruto telah membuktikan kemampuannya dengan mengalahkan Pein, dan ini bisa saja membuat negara lain tertarik lalu berusaha menculiknya. "Tapi, mana mungkin? Naruto tak akan bisa semudah itu diculik...!"

"Tsunade-sama, apa yang harus kita lakukan...?!" tanya Shizune, yang mau tak mau juga jadi ikut khawatir melihat perkembangan situasi. "Apakah kita harus mengirim Anbu untuk melacak Naruto?"

"Tunggu, aku sedang berpikir...!"

Tepat pada saat itu, satu-satunya orang yang bisa memecahkan masalah ini muncul, dimulai dengan ketukan pada pintu.

"Masuk!" kata Tsunade karena kebiasaan.

"Hokage-sama, saya telah menyelesaikan misi," suara kalem, tenang dan penuh karakter yang hanya dimiliki oleh satu orang masuk ke gendang telinga mereka semua. Siapa? Dia adalah Neji Hyuuga. "Apa ada masalah?"

"Neji!" teriak sang Hokage sambil menepukkan tinju kanannya di telapak tangan kiri. "Tepat seperti yang kubutuhkan!"

"Hm?" seorang gadis dengan kepang bundar berbaju pink muncul dari belakang Neji, wajahnya menyiratkan tanda tanya. "Anda butuh Neji untuk ap—"

"SAKURA!!"

Teriakan itu tidak hanya mengagetkan dari segi volumenya, tapi juga dari tempatnya berasal. Bukan dari dalam ruangan atau di balik pintu, tapi dari luar jendela. Seorang Kiba Inuzuka telah berdiri di sana.

"Kami berhasil menemukan mereka!"

•••

"Benarkah itu?!" kata Sakura sambil melompat melewati atap rumah lainnya.

"Ya, Shino mengatakan dia berhasil menemukan mereka dengan memakai serangga pelacaknya! Dan ternyata tidak jauh-jauh, mereka ada dalam apartemen Naruto!"

"Lalu kenapa kau memanggilku?"

"Menurut Shino, akan lebih aman jika aku mengambil bala bantuan kalau-kalau mereka terluka parah atau apa, mengingat mereka sudah menghilang selama satu hari lebih! Dia sendiri katanya akan mengecek lebih dulu!"

"Baiklah, aku mengerti! Ayo bergegas!"

Mereka tak butuh lebih dari sepuluh menit untuk mencapai lokasi yang dituju, dan informasi Kiba memang benar, Shino berdiri di depan pintu apartemen itu. Walaupun entah kenapa, Kiba merasa postur tubuh Shino terlihat jauh lebih tegang dari biasa.

Tapi Neji tak mempedulikan cowok serangga itu dan langsung menghambur ke pintu, yang tentu saja masih terkunci. Sebelum siapapun sempat mencegahnya, pria keturunan Hyuuga itu segera mengaktifkan kemampuan pupil khusus miliknya.

...

10 detik, Neji hanya diam...

...

Setengah menit, teman-temannya mulai tak sabar...

...

1 menit, maka habislah sudah kesabaran Kiba.

"Oi, kau kenapa sih?!" kata Kiba sambil memegang bahu Neji dan memutar tubuh pria berbaju putih itu. Semua yang hadir di sana (minus Shino) jadi agak terbelalak ketika melihat kalau rahang Neji tergantung dengan jurus pupilnya masih aktif, melongo seperti orang bego. Apa penyakit cengok tiba-tiba menyerangnya?

Kiba tentu saja penasaran, karena itu dia segera mendekati pintu apartemen dan menempelkan telinganya di daun pintu. Sejak tadi, dia sudah merasa aneh ketika mencium bau yang terasa familiar sekaligus asing, yang dia yakin sangat kenal tapi bukan seperti yang dia ingat. Lambat laun, dia mendengar sebuah jeritan teredam yang terdengar jauh dari balik pintu, dan baru saat itulah dia mengerti apa yang membuat aroma itu susah dikenali. Itu adalah aroma keringat Hinata dan Naruto, bercampur baur menjadi satu sehingga susah dikenali. Jika dihubungkan dengan jeritan yang baru saja ia dengar, maka...

Andai saja dalam tubuhnya mengalir listrik, maka pasti kepala Kiba sudah menyala terang.

Sedangkan Sakura dan Tenten hanya bisa saling tatap dengan bingung, bukan hanya dari sikap Kiba yang tiba-tiba berjongkok sambil menutupi wajahnya, tapi juga dari sikap Shino dan Neji yang SANGAT tidak biasa. Bagaimana tidak? Shino yang dikenal sebagai orang paling expressionless seantero kota dan Neji yang terkenal paling kalem di seluruh Konoha, kini terlihat seperti orang kena penyakit lupus. Bahkan, saat mereka melihat lebih teliti, terlihat jelas kalau ada rona merah yang samar menjalari wajah keduanya.

Wajah Neji masih tetap sama ketika memutar wajahnya ke samping untuk menatap Shino. Tapi tak terlihat bagi semua kecuali si cowok serangga, sebutir keringat jatuh dari dahi Neji ketika dia mengirimkan pesan terselubung lewat pandangan mata.

"Kenapa kau tidak bilang-bilang kalau mereka di dalam sedang...?!" Neji menggulirkan mata ke pintu apartemen Naruto untuk menunjukkan maksudnya.

"Aku tidak sempat." Shino membalas dengan pesan tersirat yang sama-sama tersembunyi.

"Bagaimana menjelaskan pada mereka...?!"

"Mana kutahu, aku juga tadi sedang memikirkan itu."

Kedua teman mereka yang lain hanya bisa memandang dalam keingintahuan, entah kenapa mereka merasa ada sebuah dialog antara Neji dan Shino yang tak bisa terdeteksi sedikitpun. Tiba-tiba terdengar suara samar lagi dari balik pintu apartemen, suara yang mereka interpretasikan sebagai sebuah jeritan.

Bagi Neji, Shino, dan Kiba yang tahu apa yang terjadi di dalam sana, maka tak ada masalah yang cukup besar untuk menebak apa yang terjadi. Tapi lain lagi bagi 2 cewek yang masih tak punya pengetahuan apapun tentang peristiwa ini, mereka hanya mampu mengartikan jeritan itu sebagai sesuatu yang buruk.

"Ada apa di dalam sana?!" tanya Sakura khawatir.

"Jangan-jangan musuh?!" Tenten segera menunjukkan posisi siap tempurnya.

Ketiga pria itu hanya saling pandang sebanyak satu kali sebelum menghembuskan napas panjang. Satu pemikiran yang sama persis melintas di otak mereka.

"Naruto, Hinata... kenapa kalian harus membuat kami mengalami ini?"

•••

"Ha... hah..."

Hinata terengah-engah seperti habis dikejar babi hutan, dan Naruto sampai harus mengeratkan pegangan pada pinggang sang gadis agar dia tak jatuh terduduk. Kedua pahanya menutup karena kakinya sudah benar-benar tak kuat, klimaks yang baru pernah dialaminya seumur hidup membuat Hinata tak bisa mengambil tumpuan dengan benar.

"Hinata, kau tak apa-apa...?" tanya Naruto khawatir.

"Ah, ya... a-aku tak apa-apa..." jawab Hinata lemah, dengan rona wajah merah delima dan sebuah senyuman semanis madu alam untuk meyakinkan Naruto. "Hanya... kakiku sudah tak kuat berdiri..."

Naruto mengambil itu sebagai isyarat agar mereka mengubah posisi, karena itulah dia bergerak ke belakang sang gadis tanpa sekalipun melepas pegangan di pinggangnya. Perlahan-lahan Naruto duduk bersandar ke dinding sebelum meletakkan sang gadis dalam pangkuannya dengan lembut.

"Kau lelah...?" bisik Naruto pelan.

"He eh..." jawaban Hinata yang terdengar manja adalah respon tak terduga bagi Naruto, apalagi saat gadis itu menyandarkan kepalanya yang penuh rambut biru panjang di pundak sang pemuda. Cewek itu menelengkan kepalanya ke samping sebelum memberi satu ciuman singkat di pipi pria yang memangkunya. "Tapi aku bisa melanjutkan kok..."

"Kau yakin? Kita bisa berhenti sekarang kalau kau mau..."

"Tidak," Hinata merapatkan tubuh sehingga sekarang dia benar-benar berada dalam kungkungan badan Naruto. "Aku... tidak mau berhenti..."

Jawaban jujur itu membuat Naruto tersenyum tipis, tapi dia segera berhenti untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Pemuda itu menyelipkan tangannya melalui bawah ketiak Hinata untuk kembali bermain dengan dua payudara yang kembali menegang di bawah sentuhannya itu. Hinata mendesah lirih sambil mengangkat tangannya ke belakang dan meraih kepala Naruto, lalu mengacaknya kembali ketika bibir mereka bertemu.

Perasaan yang agak berbeda membuat Hinata membuka salah satu matanya, dan dia bisa melihat kalau kedua tangan Naruto yang memberi kepuasan bagi dadanya telah hilang dari tempat. Sekarang, dua anggota badan itu menangkup lutut Hinata, lalu mengusap-usap pelan dengan gerakan memutar. Saat gadis dalam pelukannya mulai membuat suara rengekan tak sabar, Naruto menghentikan godaannya dan mulai merambah paha kembar yang jenjang. Remasan Naruto terasa lembut tapi tetap bertenaga, membuat gadis itu merasakan sensasi geli yang ingin membuatnya tertawa dan mengerang sekaligus.

Tapi saat jari-jari itu mendaki selangkangan Hinata, dia bergidik dan rasa takut kembali menjajah dadanya. Dan betapa terkejutnya ia saat menemukan kalau Naruto berhenti tepat di garis lipatan pahanya, seakan-akan dia bisa merasakan ketakutan yang menggumpal dalam hati sang gadis.

"Hinata, kalau kau masih takut, aku tak keberatan berhenti sekarang kok..." kata Naruto dengan lembut sambil mengecup ubun-ubun sang gadis Hyuuga.

"Tidak, kumohon, jangan berhenti..." pinta Hinata sambil memegangi tangan Naruto agar tak beranjak dari posisi mereka semula. "La-lakukan saja..."

"Tapi lihat, kau sampai gemetaran..." kata Naruto sambil mengangkat jemari Hinata, dimana getaran terlihat jelas laksana sedang ada gempa.

"T-tentu saja, i-ini pertama kalinya..." suara Hinata yang terbata menyimpan keraguan. Tapi cepat atau lambat, dia pasti akan mengalami ini juga. Karena itu, pasti jauh lebih baik jika dia mengalaminya bersama Naruto. "Kumohon, Naruto-kun... bahagiakan aku..."

Hinata bukanlah seorang gadis yang terlalu lugu sampai tidak tahu apa yang akan dilakukan Naruto pada bagian di antara pangkal pahanya. Tapi selama ini, dia sendiri sangat jarang menyentuhnya, dan dia pun tak pernah melakukannya sampai berlebihan apalagi menciptakan sensasi yang aneh-aneh. Sebab yang dia tahu, hak untuk menyentuh bagian suci kewanitaan itu hanya boleh dimiliki oleh seorang pria yang baik, tidak hanya dari segi wajah maupun penampilan tapi juga dari segi hati dan nurani.

Dan sekarang, yang mendapat kesempatan untuk menyentuhnya adalah seorang pria bernama Naruto Uzumaki, seorang pria berhati sebening kaca dan merupakan shinobi terkuat di desa Konohagakure. Dia tidak hanya memenuhi semua kategori yang sudah Hinata sebutkan, pria ini juga merupakan seseorang yang dicintai olehnya dari lubuk hati yang terdalam. Dia lebih dari pantas... bagi Hinata, hanya dialah satu-satunya lelaki yang boleh menjamahnya, untuk yang pertama dan terakhir.

•••

Untuk sejenak, pemuda itu hanya menyentuhkan jarinya di sana. Itu saja sudah membuat tubuh Hinata menggeliat-geliat tak keruan seperti cacing kepanasan dan erangan tak henti-henti keluar dari mulutnya yang indah. Ketika gadis itu sudah tenang, Naruto mulai menggerakkan jarinya naik turun perlahan-lahan.

"Mmn...! Ah... ahn...!"

Naruto mencuri bibir gadis itu untuk membuat rintihannya terkontrol, atau paling tidak berkurang volumenya. Jari-jarinya terus memainkan melodi kenikmatan bagi sang gadis, sampai gerakannya berhenti ketika Naruto menemukan apa yang ia curigai sebagai pintu masuk menuju genital Hinata.

"Ha-hangatnya..." bisik Naruto dalam hati ketika jari telunjuknya berhasil masuk ke dalam liang tersebut, rasa sakit di kepalanya menunjukkan kalau Hinata kini sedang meremas dan menarik-narik rambutnya lagi. Dia mendorong jarinya masuk lebih dalam, menyadari betapa kuat dinding-dinding kewanitaan sang gadis mengapitnya. Dia jadi bertanya-tanya, jika jepitannya sekencang ini, bagaimana caranya dia masuk nanti? "Ah, sudahlah, pikirkan ini saja dulu..."

Tangan kiri Naruto yang bebas kembali menjelajah di sepanjang bibir luar bagian tersebut, dan akhirnya dia berhasil menemukan sebuah gumpalan daging yang tidak jauh lebih besar dari ujung kelingkingnya. Ketika tubuh Hinata menegang saat jarinya menyapu gumpalan itu, Naruto menjadi sangat yakin dengan temuannya. Ini adalah bagian paling sensitif pada tubuh seorang wanita, dan inilah target berikutnya.

"Ahhn!"

Jeritan itu adalah hasil saat Naruto menjepit gumpalan itu dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya, sebuah rangsangan yang menciptakan sensasi kelewat menyenangkan sampai Hinata tak tahan. Keahlian tangan Naruto bukanlah sesuatu yang bisa dia percayai, apalagi pemuda itu adalah seorang perjaka yang belum pernah menyentuh bagian tubuh wanita sebelumnya. Atau apakah dia pernah melakukan ini sebelumnya? Dengan gadis lain?

"Belum pernah kok..." jawaban itu hampir saja membuat jantung Hinata copot.

"N-Naruto-kun...?"

"Kau memikirkan apa aku pernah melakukan ini sebelumnya kan? Tenang saja, kau adalah yang pertama, dan satu-satunya..."

Seromantis apapun pernyataan itu, tetap saja Hinata merasa, bukan, dia harus heran. Bagaimana cara Naruto bisa mengetahui apa yang ada dalam pikirannya?

"Oh, mudah saja. Wajahmu yang tiba-tiba cemberut itu sudah cukup menunjukkan semuanya kok..."

"B-bagaimana...?" tanya Hinata pelan, penasaran memenuhi hati dan pikirannya.

"Yah, itu mungkin karena..." Naruto menggantung kalimatnya, sambil menatap ke samping dengan wajah merona. "Aku mencintaimu."

"N-Naruto-ku—AHN!"

"Oh, berhentilah mengalihkan perhatianku. Aku punya pekerjaan yang harus diselesaikan, bukan?" ujar Naruto sambil memainkan melodinya sekali lagi.

"Nha... ahh!!"

Gerakan keluar masuk jari Naruto semakin cepat, menghasilkan suara becek yang membuat sang pemuda semakin bersemangat. Jepitan tangan kirinya meningkat dalam tenaga walaupun senantiasa terjaga lembut, dan dengan satu pelintiran terakhir, Naruto menyelesaikan misinya yang kedua.

"Aaahhn!!"

Jeritan yang diiringi guncangan tubuh membuat Hinata seperti terkena serangan jantung, andai Naruto tidak tahu lebih baik. Kepala gadis itu terlempar ke belakang sampai menabrak pundak Naruto yang bertindak sebagai bantalan. Naruto mengangkat kedua lengannya lalu membungkus Hinata dalam sebuah pelukan, meliputi gadis itu dengan kehangatan selagi dia tersengal-sengal mengambil napas. Sebuah senyuman tipis muncul di bibir sang gadis berambut biru ketika dia merapatkan wajahnya ke leher sang pemuda pirang, suatu tindakan manja yang hanya dilakukannya pada Naruto seorang.

"Hinata, bisakah kau berdiri sebentar...?"

"Eh...?"

"Aku... ingin melihat lebih jelas..."

"Eh?! Ta-tapi, Naruto-kun...!"

"Kumohon?" kata pemuda itu dengan suara memelas, membuat sang gadis jadi tidak tega. Sampai saat ini, pemuda itu terus memberinya kebahagiaan, masa dia tak mau membalas barang sedikit?

"...Baik..."

Naruto melonggarkan pelukannya agar Hinata bisa membebaskan diri. Dengan bertumpu pada pundak sang Jinchuuriki no Kyuubi, sang gadis berambut biru itu perlahan-lahan menegakkan tubuhnya, sehingga selangkangannya kini kurang dari satu jangkauan tepat di depan wajah Naruto. Pemuda itu hanya bisa terbelalak untuk beberapa saat.

"Wow," akhirnya ada satu kata yang keluar dari mulutnya. "Pemandangan luar biasa."

"Ja-jangan lihat terus..." rengek Hinata malu, kedua tangannya segera bergerak ke bagian keramatnya itu untuk melindungi kesopanannya. Tapi tangan Naruto bergerak jauh lebih cepat, menangkap tangan Hinata dan mencegahnya menghalangi salah satu pemandangan tak terlupakan di seluruh hidupnya. "Naruto-kun jahat~..."

"Apa sih? Bukankah sudah kubilang kau sangat cantik?"

Perhatian Naruto teralihkan oleh suatu cairan yang masih merembes keluar dari balik bibir vertikal itu, dia segera mengulurkan telunjuk kanannya untuk menyeka substansi tersebut. Walaupun tidak banyak, Naruto bisa mencium baunya yang begitu merangsang dan menggiurkan. Saat jari itu dia masukkan ke mulut, sebenarnya Naruto menyangka rasanya akan agak aneh mengingat teksturnya yang setengah cair setengah kental seperti jus, tapi yang teridentifikasi oleh indera pengecapnya malah rasa manis yang selezat nektar. Naruto tak pernah mengira kalau "rasa" Hinata akan semanis ini.

Nafsu makannya langsung terbit.

"Naruto-kun, apa yang kau—A-Ahh!!"

Sebelum dia sempat menghindar atau mengelak, Naruto telah menangkap bokong Hinata dengan kedua tangan sebelum menarik gadis itu ke arahnya. Tanpa tedeng aling-aling, pemuda itu langsung menempelkan wajahnya ke area genital Hinata dengan mulut terbuka lebar. Dia mengulum seluruh bagian itu dengan mulutnya, sebelum menghisap dan menyedotnya dengan lapar. Lidahnya beraksi dengan lincah, memisahkan dua bibir vertikal itu sambil menyapunya dari atas ke bawah dan sebaliknya. Untung bagi Naruto, perlakuannya itu menyebabkan cairan lezat Hinata semakin banyak mengalir untuk jadi santapannya.

"Naruto-kun, tidak...! Ahhn, jangan...!"

Sebenarnya, dia mulai agak kesal mendengar Hinata mengucapkan kata-kata tersebut. Maka dari itulah, dia memutuskan untuk menggoda gadis lugu berambut biru itu.

"Hah? Apa?" dia menarik wajah, mencabut penghasil kenikmatan bagi kewanitaan sang gadis. Saat wanita itu menatapnya bingung, dia hanya nyengir. "Oh, maaf. Kukira kau ingin aku berhenti, ya kan?"

"Eh, b-bukan... aku..."

"Baiklah, daripada kau merasa tak nyaman, lebih baik kita hentikan sekarang..."

"A-ah, tunggu...!"

"Hm, kenapa?"

Strategi Naruto tepat sasaran, kini gadis itu benar-benar terlihat bingung... bahkan panik. Dia tak ingin berhenti, tapi dia terlalu malu untuk bilang pada sang pemuda kalau dia bisa meneruskan aktivitasnya. Naruto menunggu dengan sabar, diam-diam tertawa dalam hati melihat kebingungan yang jelas terlukis di wajah cantik Hinata. Dan seperti perkiraannya, sampai akhir gadis itu tak berhasil menemukan keberanian untuk mengungkapkan apa yang dia inginkan.

"Jadi?" Naruto menggodanya sekali lagi.

Gadis itu diam, sunyi tanpa suara. Tapi tangannya meraih kepala sang pemuda, sebelum menariknya kembali mendekati tempat mereka bermain sebelumnya. Naruto tersenyum tipis sebelum melahap kewanitaan yang lezat bukan main itu sekali lagi.

Mereka melakukan itu sampai lebih dari 5 menit, dimana setiap waktu selalu dipenuhi rintihan lirih atau desahan sengau yang berasal dari mulut sang gadis. Naruto telah menemukan cara untuk memberi kepuasan tertinggi pada Hinata, yaitu dengan mendongak sedikit agar batang hidungnya tepat bergesekan dengan klitoris sang cewek berambut biru. Tak hanya itu, posisi ini membuat mulut Naruto tepat berada di pintu masuk selangkangan sehingga dia bisa dengan mudah menjulurkan lidah dan menerobos masuk ke dalam liang hangat yang kini sebasah bumi sehabis hujan.

Setiap saat, tangan Hinata terus menekan kepala Naruto seakan dia tak pernah puas dengan mulut yang begitu ahli dan lincah tersebut. Tidak berapa lama, dia bisa merasakan kenikmatan yang memuncak berkumpul di bagian bawah perutnya. Perasaan itu semakin kuat dan hebat sampai dia tak mampu lagi menahannya, dan akhirnya lepas.

"Aahhh!!"

Naruto membuka mulutnya selebar mungkin dan menunggu, sampai akhirnya terasa semburan cairan hangat yang berasal dari genital cewek di depannya. Dengan rakus dan lapar, sang pemuda mereguk cairan lezat dan gurih itu, menenggak tuntas hasil percintaannya dengan Hinata. Bagaikan tak rela menyisakan makanan, Naruto menjilat bersih semua cairan yang masih merembes keluar dari organ kewanitaan tersebut sampai habis tak bersisa.

Si pirang segera menarik wajahnya saat melihat lutut gadis itu bergetar hebat, merentangkan tangannya tepat waktu untuk menangkap gadis yang roboh tanpa suara ke dalam pelukannya, terengah kelelahan. Wajah Naruto berubah syahdu saat dia membelai wajah cantik itu, sebelum melumat bibirnya untuk beberapa saat. Suara bagai rintik hujan berasal shower yang tak dimatikan semakin menambah eloknya kesunyian kata-kata antara mereka, udara hanya diisi oleh bunyi hembusan napas dan berisiknya bibir yang berdansa.

"Naruto-kun..." Hinata berbisik pelan, matanya terbuka sayu. "Kurasa... sudah saatnya kan?"

"Kau yakin? Kita tidak harus melakukan ini lho..."

"Kau salah, aku menginginkan ini..." lanjut Hinata dengan senyum yang cantik tak terperi. "Aku menginginkanmu, Naruto-kun..."

"Apa kau benar-benar yakin tak akan menyesal?"

"Tak akan pernah," jawab Hinata yakin, memberi satu kecupan lembut di bibir Naruto untuk memberinya kepastian. "Cintai aku..."

Hamba melakukan sedikit riset pada tradisi bagaimana ucapan sang wanita sebelum bercinta, hamba memutuskan kalau kata-kata "Cintai aku" adalah yang paling cocok dengan Naruhina. Mereka selalu pantas dengan hal-hal yang romantis dan cute, mungkin karena itu jugalah hamba harus berjuang untuk membuat agar hubungan intim mereka tidak terlalu vulgar, tapi tetap menggairahkan! Apakah hamba sudah melakukan objektif ini dengan benar? Tolong katakan pendapat kalian!

Mungkin mulai chappie berikutnya Full Course (Menu Lengkap) pasti akan dihidangkan, karena itu doakanlah hamba mampu melalui UN dengan baik karena hanya dengan itulah cerita ini akan berlanjut! Juga, sekali lagi, hamba minta reviewnya ya!

Hamba menunggu komentar kalian semua!