Wahaha, kayaknya kalau hamba tidak meng-update dengan segera, bakal ada minimal 3 kunai bersarang di batok kepala hamba. Wahh, kalian ini tidak sabaran amat ya... *geleng-geleng kepala*. Dan inikah orang-orang yang bilang hamba ini mesum?

Terima kasih pada mereka yang telah mendoakan hamba lulus UN, semoga kalian juga bisa melalui ujian ini baik bagi yang sudah, sedang atau AKAN mengalaminya. Chapter ini jadi sangat lama mungkin karena hamba mau istirahat sebentar dan menggunakan waktu hamba untuk bermain-main sedikit. Yang merupakan ide buruk, engsel lutut hamba sampai geser sebagai akibatnya.

Bagi yang merasa kurang puas, maka hamba memohon maaf. Hamba bukanlah seorang yang sempurna, apalagi hamba ini dari sononya emang rada-rada bego, kelakuan hamba aja kurang waras. Mudah-mudahan chapter ini bisa lebih bagus daripada yang sebelumnya, hamba sangat mengharapkan itu.

Naruto bukan milik hamba, karena pasti bakal banyak pembunuh bayaran yang ngincer.

Baiklah, banyak bacot ah hamba ini. Silahkan membaca, dan review lagi ya!!

Final Moment

Dua bibir terpisah demi mengucapkan seuntai nama, tapi yang terpaksa keluar malah seraknya sebuah desahan. Ketika punggung dan dinding porselen beradu, entah kenapa terasa seperti menyentuh permukaan api. Panas dan membakar... sekaligus menyalakan gairah yang tak pernah tersentuh sebelumnya.

"Anh...! Ahh...!"

Tikaman demi tikaman yang cepat dan kuat kembali datang, memenuhinya dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang dengan kuat mengalir dan membanjiri seluruh tubuhnya. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan seperti apa kenikmatan yang memenuhi badannya sekarang, tak ada puisi, diksi, apalagi fiksi di dunia yang mampu menjelaskan seindah apa rasa bahagia yang dia rasakan. Sebuah cinta untuk tetap menjaganya murni, dan kasih sayang yang bersemi di hati, adalah bumbu-bumbu kehidupan yang bisa membawa seorang wanita ke langit tertinggi.

"Naruto-kun... nahh!"

Di hadapan orang lain, dia adalah gadis pemalu yang tak jarang susah mengatakan isi hatinya. Di hadapan orang lain, dia adalah seorang Hyuuga, seorang wanita dengan derajat tinggi bawaan dari klan dan pastinya harus memiliki wibawa dan kekuatan yang tak akan membawa malu pada keluarganya. Tapi, hanya di depan pria ini, cuma di hadapan laki-laki berambut pirang bernama Naruto inilah, dia akan menjadi seorang Hinata. Semua perasaan tak akan ada gunanya dipendam dari pria ini, karena cukup dengan sentuhan jari dan bibirnya, Naruto selalu mampu meloloskan rahasia terdalam dari mulut Hinata.

Karena hanya dalam pelukan seorang Naruto, Hinata akan menjadi seorang gadis yang rapuh, lemah, dan membutuhkan perlindungan.

•••

"Hinata..."

Dengan lembut dan sabar, pemuda itu membimbingnya melewati semua ini. Saat pertama kali tubuh mereka menyatu, sakit yang dia rasakan adalah sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Sakitnya begitu hebat sampai terasa seperti dirobek dari dalam, dan walaupun sebagai kunoichi dia telah akrab dengan luka-luka, ini adalah sesuatu yang tak pernah dia alami sebelumnya.

Tapi dengan kata-kata lembut yang dia bisikkan, dengan setiap kecupan yang dia sarangkan ke wajah Hinata, Naruto berhasil menenangkan gadis yang kini terlihat kecil dalam tangisnya itu. Dengan dua tangan yang kuat dan besar, dia mengelus rambut biru dan panjang sehalus sutera itu, lalu mengusap dua mata biru abu-abunya dengan sayang.

"Bertahanlah..."

Walaupun mulutnya berkata demikian, sesungguhnya hati Naruto sendiri telah diliputi oleh rasa takut. Ketika dia memandang wajah cantik yang berkeriut karena kesakitan di hadapannya, Naruto merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya. Membuatnya ikut sakit, mengakibatkan derita yang sama untuk dia alami. Seakan-akan dia juga bisa merasakan pedih yang Hinata emban, seakan jiwa mereka telah menyatu sehingga semua emosi bisa tersampaikan. Dia memegang wajah Hinata pelan-pelan, lalu memberi satu kecupan di dahi sang gadis tersayang.

"Naruto-kun, tidak apa-apa..." gadis itu berbisik, dengan dua mata yang masih basah berkaca-kaca. "Kau bisa bergerak..."

Sang pemuda tidak langsung menurut, tapi menatap mata sang gadis dalam-dalam untuk meyakinkan dirinya. Pada dua bola mata itu, dia pernah menemukan keindahan tak terlupakan, dia juga pernah melihat kesedihan dan penderitaan. Tapi yang ingin dia genggam sekarang adalah kepastian, dan itu dia dapatkan bersama tekad kuat yang membara. Satu kecupan ke dada Hinata mengizinkan dia mendengar detak-detak berirama sekaligus satu erangan yang membuatnya rindu seketika. Bersama kesiapan yang dia bangun, dan hembusan napas sang gadis yang menguatkan, Naruto menepis ketakutannya dan mulai memainkan sebuah melodi cinta.

Mula-mula, hanya ada desahan-desahan cepat dan terdengar keras yang mengancam Naruto untuk kembali diam. Tapi seiring berdentangnya detik dan berdetaknya waktu, pemuda itu kembali menemukan suara manis dan merdu yang dia rindukan. Madu alam yang membuatnya bersemangat, terasa manis dan legit saat mengalir lewat dua lubang telinganya. Desahan sunyi berubah menjadi rintihan-rintihan yang mengguncang nurani, membuat Naruto semakin tersiksa karena harus menahan makhluk buas yang mengamuk dalam kerangkeng raganya.

"Naruto-kun..."

Sebenarnya ingin dia abaikan saja panggilan itu, sebab konsentrasinya tak boleh teralih sekarang, tidak saat insting primitif dan ganas sedang mengakibatkan kekacauan dalam dirinya. Tapi ada sesuatu dalam nada suara Hinata yang tak bisa dikesampingkan begitu saja, sehingga mau tidak mau Naruto berhenti bergerak dan mengangkat kepalanya.

"Ya?"

"I-ini mungkin hanya perasaanku saja," Naruto mengerutkan dahi saat mendengar itu. "Tapi, kenapa kau terlihat tersiksa seperti itu...?"

"Eh?! Aku...!"

"Jangan-jangan, ini tidak menyenangkan bagimu ya...?" bisik gadis itu, kepalanya tertunduk dan matanya mulai basah. "M-maafkan aku..."

"E-eh, apa?! Ini bukan salahmu, Hinata!"

"Ta-tapi, andai kau menikmati ini, kau tak mungkin memasang wajah begitu..." sang gadis mulai sesenggukan, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan tangis yang sudah pecah. "Maafkan aku, kukira... kukira aku bisa memuaskanmu..."

Naruto hanya bisa diam terpaku saat mendengar perkataan itu, dadanya tertohok dan paru-parunya serasa ditumbuk-tumbuk sehingga membuatnya sulit bernapas. Kala air mata jernih mengalir dari bola mata yang sangat ia sukai, Naruto tak bisa menahan dirinya sendiri. Dengan satu gerakan, dia membungkus Hinata dalam pelukan penuh perasaan.

"Bukan begitu, Hinata..." dia berbisik lembut, membelai dahi gadis itu demi menenangkannya. "Sumpah demi Tuhan, aku menikmati ini..."

"Ta-tapi... tapi..."

"Justru aku SANGAT menikmatinya, tapi karena itulah aku tersiksa..."

Hinata mulai berhenti menangis, dan saat mereka bertemu tatap, gadis itu bisa menangkap emosi yang terkekang dalam mata biru langit itu. Sang gadis menangkup kedua telapaknya di pipi Naruto, kemudian meluruskan wajah itu untuk meneliti matanya sekali lagi.

"K-kenapa...?"

"Kau sudah tahu kalau aku ini laki-laki kan?" kata Naruto, setengah jujur setengah sinis. "Harusnya kau juga tahu kalau laki-laki punya api membara setiap kali bercinta..."

"Ah..."

"Jangan kau 'ah'kan aku! Aku berada di sini, dengan seorang wanita yang sangat cantik tiada tara, dengan tubuh yang mampu membuat seisi duniaku rubuh dalam satu malam saja! Bahkan, dia gadis yang paling kucintai!" kata-kata Naruto meluncur seperti pesawat jet, dia tak peduli segombal apa dia kedengaran sekarang, karena dia hanya membebaskan semua kejujuran dari lubuk hatinya. "Dan kini, aku sedang bercinta dengan gadis itu! Tapi aku harus menahan nafsuku! Karena aku terlalu takut akan melukainya lagi!!"

Sehabis mengatakan semua itu, pipi Naruto yang berkumis kembar tiga sudah penuh oleh rona merah padam yang membuatnya seperti sedang demam. Dia merasa dirinya sangat memalukan dan rendahan, dalam hatinya berkecamuk emosi-emosi yang siap meluap dan pecah ke dalam kenyataan. Hanya saja, seperti biasa, dia cuma butuh satu penawar untuk membuatnya tenang.

"Naruto-kun...!" satu sebutan namanya mendongakkan wajah merah padam Naruto, membuat tatapan pemuda itu membeku pada satu hal. Ya, gadis itu memang masih mengalirkan air mata, tapi mengapa dia tak bisa menemukan satu tetes pun kesedihan dalam dua bola biru abu-abu itu? Mengapa gadis itu kini tersenyum begitu manis, mengapa kini wajahnya merona begitu terang? "Naruto-kun!"

Hinata melingkarkan tangannya di leher Naruto seerat mungkin, sebelum menciumnya dengan gairah yang tak disembunyikan sedikitpun. Sang pemuda yang semula hanya bisa diam menerima perlakuan mendadak itu, sekarang mulai merespon balik dengan kehangatannya sendiri. Setelah hampir satu menit mereka mengunci bibir, akhirnya Hinata menjauh dengan napas terengah.

"...Hinata...?"

"Aku sangat senang..." gadis itu menambahkan satu kecupan ke pipi Naruto sambil membisikkan kata-kata bahagia. "...Sungguh senang..."

"O-oh? Baguslah kalau begitu..."

Sang Sennin yang masih malu bukan buatan segera memalingkan wajahnya karena tak tahan melihat manisnya Hinata sekarang. Melihat Naruto malu-malu, malah membuat Hinata jadi terkikik pelan, dan wajah Naruto memberengut sebagai hasilnya.

"Hinata, kau anggap ini lucu?!"

"Tidak, hanya saja... wajah malu-malumu itu terlalu jarang kulihat..." jawab Hinata sambil menutup mulut untuk meredam suaranya. "Lagipula, kau terlihat sangat manis kalau sedang malu—A-A-AHH!"

"Jangan permainkan aku!"

"Ah ha ha ha...! I-iya, Naruto-kun, maaf...! Ah ha ha, su-sudah, jangan gelitiki—hi hi hi—aku lagi...!"

"Oh, ini tak akan selesai secepat itu, Hinata!"

Begitu canda mereka selesai, dan mata sang korban sudah penuh air karena kebanyakan tertawa, dua sejoli itu saling senyum. Sambil terkekeh pelan, mereka berdua mendekatkan wajah sampai dahi dan hidung bersentuhan, ketegangan dan kesalahpahaman yang semula membuat mereka tak nyaman kini telah hilang.

"...Sudah agak santai, Naruto-kun?"

"Hehehe, begitulah..." pemuda itu menarik satu napas panjang. "Kita lanjutkan lagi?"

"He eh..." angguk Hinata, tetapi tangannya bergerak ke kepala sang pemuda sebelum dia sempat melakukan apapun. "Tapi, dengan satu syarat..."

"Oh, ayolah, Hinata! Masa harus pakai syarat segala?!" seru Naruto tak sabar, tapi ketegasan dalam mata Hinata membuatnya mau tak mau harus mengalah. "...Apa?"

"Jangan menahan diri... lagi..." jawabnya. "Keluarkan... bebaskan saja nafsumu..."

"Eh?! Tapi kalau begitu...!"

"Naruto-kun, aku ingin melakukan ini bersamamu. Aku tak mau kalau hanya aku yang dipuaskan."

Hening sejenak.

"Kau yakin?"

"Iya."

Sesuatu dalam mata Naruto tiba-tiba berkilat.

"Tak akan menyesal?"

"Asal kau tak menghancurkanku, aku yakin tak akan menyesal."

Saat itu Hinata masih belum tahu, hal seperti apa yang akan segera dia masuki.

"Baik, bersiaplah kalau begitu."

Saat semua kelembutan terlupakan, ketika seekor binatang buas dibebaskan, barulah Hinata sadar apa akibat kata-katanya tadi. Apa yang semula hanya berupa desahan ataupun rintihan teredam, kini berubah menjadi jeritan-jeritan panjang yang bergema di udara. Waktu itu, Hinata baru sadar kalau dia baru saja melepaskan keganasan yang terpendam sejak awal hubungan intim mereka tadi pagi... dan dia juga baru sadar betapa liarnya sang anggota kaum Adam yang berdiri di depannya ketika kepala pemuda itu bergerak ke lehernya.

"AHH...!!"

Terasa sakit memang, tapi gigitan itu malah membuat birahinya semakin terbangun. Dia terlupa pada kurangnya kepercayaan diri yang dulu selalu membelenggunya, karena sekarang dia hanyalah seorang gadis yang sedang dalam proses menjadi seorang wanita. Laksana ulat dalam kepompong yang akan menjadi kupu-kupu, bak embun-embun hujan yang siap berubah menjadi pelangi. Desir-desir penuh kenikmatan yang menghantam setiap urat syaraf dan indra peraba di tubuhnya membuat tubuh Hinata semakin dinamis, tak henti-hentinya dia menggeliat seperti cacing kepanasan.

"Hinata...!" geraman itu terdengar menakutkan sekaligus menggugah, membuat insting kewanitaan Hinata serasa dicengkeram oleh cakar elang.

Mulut Naruto meninggalkan leher jenjang Hinata, sebuah bekas membulat putus-putus di sana adalah pertanda di mana gigitan sang pemuda semula berada. Bagai dahaga yang tak terpuaskan, kali ini Naruto memuaskan nafsunya ke dua bongkahan dada Hinata yang mengacung berani, mengulumnya sebanyak mungkin sebelum menyedotnya sekuat tenaga, mendatangkan sebuah jeritan panjang yang berubah jadi musik saat masuk ke telinganya. Mulut Naruto mencapai puncak bukit sang dewi surgawi, menjepitnya pelan dengan bibir lalu menggilingnya gila-gilaan dengan gigi.

Pekikan Hinata adalah sebuah melodi gairah dan birahi yang tak terkontrol, kepedulian pada volume suara ataupun sekelilingnya telah terlupakan sebab pikiran terlalu terfokus untuk menyerap semua berkah lahiriah yang dianugrahkan padanya sekarang.

Di hadapannya, Naruto menjelma menjadi makhluk yang buas dan liar, tak peduli pada dunia karena kini semestanya hanya ada pada gadis itu seorang. Sekuat apapun seorang Naruto, dia tetaplah seorang manusia dengan insting primitif untuk mereguk setiap jamuan yang dihidangkan, dia tak punya kuasa untuk melawan naluri hewani manusia untuk menyantap tuntas salah satu mahakarya ciptaan Tuhan.

•••

"...Jadi, mereka sedang berlatih bela diri di dalam sana?"

"Y-ya! Dan itulah kenapa sejak tadi kita terus mendengar jeritan!" pria bertaring itu menyeka setetes keringat dari dahinya, yang entah kenapa terus-menerus mengalir selama 10 menit terakhir ini.

"Tapi, masa Naruto melakukan itu pada Hinata? Lagipula, kau bicara seakan sudah melihatnya saja, Kiba!"

"T-tentu saja! Coba saja tanya Neji, dia kan tadi pakai Byakugan!"

Sebuah hawa membunuh yang sangat kuat tiba-tiba menyala di belakang pria bernama Kiba itu, dan saat dia berbalik untuk menghadapinya, tatapan tertajam sang cowok Hyuuga lah yang harus dia terima. Pria berambut panjang dan berbaju putih itu mengirim sinyal lewat kedua matanya.

"Kau jangan omong macam-macam! Masa aku yang harus menjelaskan?!"

"Bagaimana lagi, aku sudah habis akal nih!"

"Tapi...!"

"Neji!"

Belum sempat percakapan mereka yang tersampaikan lewat kontak mata selesai, suara Tenten kembali menyela.

"Jadi? Bela diri macam apa yang mereka lakukan di dalam sana?"

Neji ikut mengeluarkan keringat dingin sambil menyapu wajah dengan tangannya, pemuda itu sama sekali tidak tahu sudah bermimpi macam apaa~ kemarin malam, sehingga dia harus mengalami "musibah" ini. Otaknya yang cerdas mulai berputar cepat, sehingga kata demi kata mulai menyusun sebuah alasan dalam kepalanya.

"Hm, menurut yang kulihat, sepertinya mereka sedang melakukan Judo," dia memulai, usahanya untuk tetap terdengar tenang dan kalem patut diacungi empat jempol sekaligus, mengingat gejolak kelaki-lakiannya yang sejak tadi bergemuruh mendengar jeritan sang gadis yang dia anggap adik. Dia menarik napas panjang, hembuskan, lalu melanjutkan kebohongannya. "Itu menjelaskan kenapa sejak tadi Naruto terus melakukan berbagai macam bentuk kuncian, itu juga menjelaskan kenapa Hinata terus-terusan menjerit."

"Begitukah?" kata Sakura sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya. Dua matanya hijau gioknya menatap pintu apartemen Naruto yang terkunci, entah kenapa rasa penasaran masih sangat enggan meninggalkan hatinya. "Kenapa mereka harus melakukannya di dalam rumah sih? Lagipula, kurasa jeritan-jeritan Hinata tadi sama sekali tidak mengandung unsur kesakitan."

"Y-yah, mungkin saja itu karena Naruto melakukannya dengan lembut. Kau tahu dialah, mana mungkin dia bisa tega melukai seorang gadis, apalagi Hinata." Kiba menimpali dengan segera.

"Sudahlah, bagaimana kalau kita tinggalkan saja tempat ini?"

Usulan Shino itu benar-benar membuat dua pria yang sejak tadi ditugasi untuk menjelaskan itu hampir berjingkrak-jingkrak karena kegirangan, andai saja mereka tak punya imej untuk dijaga. Rasa lega yang ada dalam hati ketiga cowok itu semakin melonjak saat dua gadis di depan mereka mulai mempertimbangkan usulan tersebut, dan harapan untuk cepat meninggalkan rumah yang sejak tadi menguarkan hawa sensual itu mungkin akan segera terkabul.

...Sayang sungguh sayang, rupanya Tuhan masih belum rela melepas mereka dari kejahilan-Nya yang satu ini.

"Ahh!! T-tunggu, Naruto-kun, jangan keras-keras!! Ah, anhh!!"

Tubuh kelima anak muda yang masih berdiri di depan pintu apartemen itu membeku, keras bagai batu karang. Mata dua gadis Chuunin menyipit dalam kecurigaan, sedangkan ketiga pemuda remaja di sana hanya bisa menampar wajah mereka walau hanya dalam hati. Keringat dingin mengucur deras dari dahi, saat ini mereka bertiga SANGAT ingin menghajar Naruto yang sudah membuat usaha keras mereka gagal percuma. Kenapa sih dia harus membuat Hinata menjerit seperti itu?!

"Em..." Neji nyeletuk sambil tersenyum gugup. "Kelihatannya si Naruto membanting Hinata..."

Ketika pandangan Sakura dan Tenten sama sekali tidak menjadi lebih ringan, Neji memandang ke atas langit dan menangkupkan kedua tangannya, memanjatkan sebuah doa dengan memelas.

"Pada Tuhan, atau apapun yang bisa mendengarku. Kumohon, biarkan aku keluar dari sini hidup-hidup..."

•••

"Ah...! AH! AHH!!"

Tubuh Hinata terkulai lemas di lantai, rambut birunya yang harus tersebar dan menjadi alas berbaring bagi tubuhnya. Kedua lengannya masih terkalung di sekeliling leher pemuda yang menindihnya, erat walau tanpa tenaga. Rintik-rintik hujan artifisial yang berasal dari shower mengaburkan pandangannya, tapi sebuah wajah yang merupakan simbol ketegaran dan kasih sayang masih bisa terlihat oleh Hinata. Pemilik wajah itu menjawab tatapan Hinata dengan kedua mata birunya yang secerah langit, senyum hangat menghiasi wajah keduanya.

"Naruto-kun—AHN!!" sebuah jeritan kembali terlepas dari bibir sang gadis ketika satu hunjaman penuh tenaga diberikan padanya, menyetrum seluruh syaraf di tubuhnya, mengakibatkan sebuah banjir kenikmatan. Kerasnya porselen alas Hinata berbaring dan dinginnya air shower yang membasahi seluruh tubuhnya tak lagi terasa, semua yang bisa diterjemahkan oleh indera-indera tubuh sang gadis hanyalah Naruto, Naruto dan Naruto. Kehangatan yang terhantar setiap jari sang pemuda meraba kulitnya, sensasi menyenangkan kala bibir Naruto menyusuri setiap inci tubuhnya... anugrah kenikmatan tak terbanding ketika kejantanan Naruto menembus pertahanannya, menghunjam dinding-dinding koridor suci wanita miliknya. Membuat Hinata merasa lengkap, utuh, seakan-akan kembali bergabung ke tempat dia semula berasal. Dia adalah satu pecahan teka-teki terakhir yang akan melengkapi sang pemuda, Hinata adalah seorang gadis yang tercipta dari tulang rusuk Naruto yang hilang.

Hubungan intim mereka mencapai tahap akhir, dimana gerakan Naruto mulai menggila dan jeritan Hinata terlepas dari kekangan apapun yang ada pada dirinya. Satu-satunya hal dalam kepala Naruto sekarang hanyalah ketidaksabaran untuk membebaskan satu ledakan yang sudah dibangun dalam waktu lama, Hinata sendiri sudah lupa pada lingkungan, semua jeritannya ditujukan hanya demi menyalurkan setiap kenikmatan tingkat tinggi yang menyerang tubuhnya karena dia akan gila jika menahannya. Setiap rasa malu dalam diri kedua anak muda itu sudah menguap entah kemana, menyisakan jiwa-jiwa liar yang bertekad memenuhi hasrat batin dan memuaskan birahi. Kamar mandi yang mereka tempati dipenuhi gaung dan gema yang berasal dari kuatnya tarikan napas, setiap desahan sang gadis dan geraman sang pemuda. Dunia telah lama terlupakan, satu-satunya kata yang memenuhi kepala hanyalah nama sang pasangan, sebab otak sudah terlalu penuh akan ekstasi dan euforia.

Suara tabrakan kulit ketika pinggang bertemu ikut memeriahkan suasana, membuat pesta kecil mereka yang penuh cinta menjadi lebih ramai dari perkiraan semula. Serangan Naruto yang dahsyat akhirnya menemui dinding terakhir, yang tanpa ragu langsung dia labrak dengan kekuatan penuh, menyertakan seluruh perasaan, kasih sayang, kepedulian... dan cintanya dalam satu dorongan. Gelombang kenikmatan kini tak lagi cuma membanjiri syaraf, tapi sudah merambah luas, menjajah setiap inci tubuh mereka dengan agungnya karunia Tuhan. Naruto membenamkan wajahnya ke pangkal leher Hinata untuk meredam raungannya, sedangkan sang gadis tak bisa melarang pekikan nyaring dan panjang lolos dari bibirnya ketika klimaks dengan puncak tertinggi membungkus tubuh mereka berdua secara bersamaan.

"Gg... G-guhh...!!"

"Ahhn... AAAHHH!!!"

Badan kekar Naruto mengalami gempa hebat, ketika tubuhnya mengirimkan benih kelaki-lakian dan memenuhi kedalaman ruang pribadi Hinata dengan kehangatan. Jeritan Hinata mati menjadi kesunyian, mulutnya terbuka hanya untuk mengerang tanpa suara selagi setiap otot tubuhnya menegang. Kedua tangannya memeluk kepala sang pemuda seakan hanya itu hal yang bisa membuatnya terus hidup, napasnya putus-putus tanpa peduli usahanya dalam menarik udara ke paru-paru.

Dengan serpihan stamina dan energinya yang hampir habis, Naruto menjatuhkan semua berat tubuhnya ke samping agar tak menindih Hinata. Sambil mengumpulkan tenaganya kembali, dia bisa merasakan pelukan Hinata pada kepalanya yang semakin dan semakin erat, seakan-akan gadis itu tak rela jauh sebentar saja dengan dirinya. Dia melemaskan otot-otot tubuhnya yang sejak tadi terus diforsir dengan melingkarkan lengannya ke sekeliling badan Hinata yang mungil, mengistirahatkan wajahnya ke dada sang gadis yang harum, lembut, dan menenangkan. Mungkin bukan ide yang bagus kalau beristirahat di lantai porselen kamar mandi, apalagi dengan shower menyala yang terus menghujani mereka berdua. Tapi apa salahnya, lagipula dia kan juga ingin sedikit bermanja-manja pada Hinata. Tambah lagi, mereka adalah shinobi, kesempatan untuk bermesraan seperti ini pastilah tidak cukup banyak, karena itu dia ingin menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Dia ingin mengukir kehangatan tubuh Hinata pada kulitnya, mengingat setiap indah lekuk tubuhnya dengan jari-jarinya.

Karena hanya di saat-saat inilah waktu serasa menjadi milik mereka... hanya milik mereka...

Tamat?

Tenang saja, belum tamat kok. Kepala hamba masih dipenuhi oleh berbagai ide untuk cerita-cerita mesra Naruhina, tapi tentu saja, permintaan hamba gak jauh-jauh sampai minta dibawain sesajen ataupun kembang 7 rupa. Hamba cuma minta review kok, dan seperti biasa, semakin banyak review-nya, semakin ngebuuutt~ hamba bikin chapter terbarunya.