Galerians, in.
Hei ho~, hei ho~, ayo anak sehat—eh bagong, bukan itu!
Jreng jeng jeng!! Chapter 5 sudah datang!
Baiklah, kita sudah sampai pada titik pendalaman cerita, artinya isi fic ini tidak akan hanya berisi scene ngeho-ngeho yang bikin horny atau apalah kalian menyebutnya (ngasih mic pada perwakilan kaum mesum). Dulu sudah hamba bilang kan? Ini bukanlah fic sampah yang hanya menjadi seksualitas sebagai daya tariknya (okelah, itu MEMANG elemen utama), karena itu hamba ingin memberikan intrik, plot twist, romansa, dan yang paling pasti, drama. Hubungan Naruto dan Hinata tidak boleh sampai hanya berdasarkan nafsu belaka, di sini harus ada perjalanan emosi yang sedalam lautan dan seluas angkasa (chieeh, bahasanya euy!)!!
...Oke, apa hamba kelewatan tereak-tereak di paragraf tadi? Maaf kalau begitu. Nih disclaimernya: Hamba bersaksi bahwa Naruto bukanlah milik seorang Galerians, dan karena itu janganlah habisi hamba sekarang.
Happy reading aja dah!! Dan ingat reviewnya!
•
Deppression
"...Jangan makan sembarangan ya, dan hindari cuma makan cup ramen..."
"Ya."
"Masih ada sisa kare di kulkas, kalau kau mau tinggal dipanaskan saja..."
"Ya."
"Bajumu sudah kucuci semua, dan kuletakkan sesuai urutan. Lemari paling atas untuk baju santai, yang di tengah untuk pakaian sehari-hari, dan yang paling bawah adalah tempat semua pakaian dalammu..."
"Ya..."
Hinata berdiri dengan sebuah tas biru di tangannya dan pakaiannya yang biasa, jaket berwarna keunguan dengan lengan baju putih dan celana panjang biru tua, berdiri di depan pintu apartemen Naruto sambil memberikan wanti-wanti terakhir. Mereka, secara tak sadar, sudah berusaha mengulur-ulur waktu kepulangan Hinata, mulai dari beres-beres rumah, mencuci baju, sampai memasak makanan bersama-sama. Semuanya dilakukan sesantai dan selama mungkin, tapi setiap hal pasti punya umur. Pada akhirnya, masa inap Hinata habis juga.
Tapi gadis itu menemukan kalau kakinya enggan beranjak pergi, dan bukannya berbalik, dia malah mengambil satu langkah mendekat ke Naruto yang ekspresi wajahnya tidak terbaca. Wajah itu datar, tapi kerut di dahinya menandakan kalau otak sang pria pirang pasti sedang disibukkan oleh sesuatu.
"...Jadi..." suara Hinata tercekat sedikit, suatu hal yang sama sekali tidak diketahui oleh pemiliknya sendiri. "...Kurasa... ini saatnya mengucapkan sampai jumpa..."
"...Ya..."
Suara Naruto terasa sepi dan absen akan kehangatan, Hinata bisa mendengar kekecewaan mendalam pada nadanya, dan itu membuatnya merasa sedih dengan alasan yang tak begitu jelas. Kaki Hinata bergerak tanpa perintah otak, tas yang ada di tangannya jatuh ketika tangannya terangkat dan meraih wajah Naruto, sebelum mempertemukan bibir mereka dalam satu ciuman singkat...
...Atau yang semula direncakan sebagai ciuman singkat. Setelah berlangsung selama beberapa saat, apa yang sebenarnya dimaksudkan hanya selama beberapa detik kini telah berubah menjadi satu menit. Hinata menemukan kalau dia tak bisa menarik diri, secara harfiah, karena keberadaan dua tangan yang dengan erat memegang pinggulnya agar dia tak bisa menjauh... atau kabur. Dua lengan yang semula hanya 'memegang' kini berubah menjadi 'memeluk', jarak tubuh mereka berkurang sampai angka nol dan membuat dada mereka bersentuhan.
"Nhh... Naruto-kun..." Hinata memaksakan kekuatan kehendaknya yang entah kenapa tinggal berupa serpihan-serpihan kecil, untuk melepaskan kecupan mereka... hanya untuk menemukan kalau sekarang giliran Narutolah yang mendekatkan wajah dan mencuri bibirnya. "Mmmh..."
Suatu perasaan aneh pada telapak kaki Hinata memberitahu sang gadis kalau dia sudah tak lagi memijak tanah, kedua lengan Naruto menunjukkan kekuatannya dengan mengangkat gadis itu, dan pelan-pelan membawa mereka berdua kembali ke pintu apartemen.
Pintu menjeblak terbuka dengan satu tendangan dari kaki kiri Naruto, menimbulkan suara berdebam yang pastinya akan memunculkan tanda tanya di kalangan para tetangga. Daun pintu yang malang itu kembali terbanting menutup ketika kaki kanan Naruto menjalankan misinya.
Hinata yang masih punya sisa-sisa kesadaran selain libido, sekecil apapun itu, meletakkan tangannya di bahu Naruto yang tegap dan berusaha mendorongnya sekuat tenaga. Dia harus menghentikan ini sesegera mungkin, sebelum semuanya jadi tak terkontrol.
"Ummph... fuah...!" setelah beberapa kali perjuangan, akhirnya kedua bibir yang sempat menyatu terlepas juga. Hinata memindahkan tangannya ke wajah sang pemuda, mencegah Naruto dari perbuatan mencuri bibirnya lagi. Sayang, saat tatapan mereka bertemu, dua bola mata biru langit milik sang Sennin entah kenapa terlihat begitu menggiurkan... begitu mempesona ketika mereka bermandikan hasrat dan gairah. Hinata tak bisa mencegah... atau tepatnya, tak mampu menemukan tekad untuk mencegah genggaman jari-jarinya yang kian melemah, dan pertahanannya menemui akhir.
"...Hinata..." geraman itu terdengar begitu buas, begitu ganas seakan bukan berasal dari manusia, tapi sekaligus sangat menggugah sampai sang gadis merasakan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya. Wajahnya yang kian memanas memaksa mata si rambut biru untuk menutup, dan kekurangan udara mendesaknya untuk membuka mulutnya yang lebih lebar... walaupun dia tahu apa yang menunggunya.
"Hnhh..." rintihan pelan terlepas dari tenggorokan Hinata ketika sebuah daging tak bertulang mencambuk bagian dalam pipinya, bahkan melingkari lidahnya sendiri seakan berusaha membuatnya jadi simpul mati. Setiap erangan yang keluar dari pita suaranya seakan-akan menjadi bahan bakar yang membuat sang pemuda semakin dan semakin liar. Bahkan, dan inilah yang ditakutkan dan berusaha dihindari oleh Hinata, salah satu kaki Naruto sudah terselip antara paha sang gadis sendiri, dan mulai berupaya memisahkan pertahanan terakhirnya.
"A-ah... henti...kan..." penolakan yang mati-matian dia keluarkan malah lepas dalam sebuah suara yang sama sekali tak bertenaga, bahkan berubah menjadi desahan lirih ketika mulut sang pria sudah menelusuri garis tenggorokannya. Hinata tersentak ketika rasa sakit yang tajam menyerang pangkal lehernya, sepenuhnya menyadari kalau sang pemuda kembali menggigitnya di sana. Inilah pagar terakhir yang memisahkan mereka berdua dari apa yang seharusnya tak boleh terjadi untuk hari ini, dan karena itulah, Hinata mengumpulkan semua keberanian dan kekuatan tekad yang tersisa dalam dirinya, untuk berteriak, "Naruto-kun, hentikan...!" dengan cukup tegas... mungkin.
Usahanya berhasil, remasan yang dilakukan tangan Naruto pada pinggulnya mencapai perhentian, dan ciuman yang sejak tadi dihujankan padanya sampai membuat napas Hinata memburu juga sudah reda. Perlahan-lahan, kepala penuh rambut pirang berbentuk duren itu tertarik ke belakang, sampai akhirnya mereka bertatapan kembali. Andai saja tekad Hinata masih lemah seperti dulu, maka dia tak akan sampai hati ketika melihat cemberut dan ekspresi kecewa yang terpasang di wajah sang pria.
"Hinata, ayolah..."
"Tidak, kita sudah bicara dan sepakat tentang ini kan, Naruto-kun? Hari ini aku harus pulang..."
"Tapi..."
"Naruto-kun, Otou-sama akan pulang nanti malam, dan bagaimana kau pikir reaksinya jika tak menemukanku di rumah?" tanya Hinata lembut sambil membelai pipi berkumis milik Naruto, berusaha menenangkan pemuda yang kini terperangkap depresi itu. "Tambah lagi, cobalah pikir apa akibatnya jika dia tahu kalau aku ada di rumahmu?"
"...Apa yang akan terjadi?"
"Oh, ayolah, Naruto-kun..." gadis itu memutar matanya. "Bisa-bisa ada perang pecah di desa ini...!"
"Masa iya sih?" kata Naruto dengan bodoh, kepalanya dimiringkan ke samping dan sebuah tanda tanya muncul, melayang-layang di atas kepalanya. "Maksudku, bagaimana?"
"Naruto-kun, apa kau sudah lupa kalau ayahku itu kepala keluarga Hyuuga...?" Hinata menjelaskan dengan sebuah hembusan napas, sedikit kejengkelan atas kebodohan sang pemuda tersimpan di dalamnya. "Dia bisa dengan mudah memberi perintah pada seluruh klan, dan kau akan menemukan satu batalion petarung elit Hyuuga datang mengincar kepalamu dalam satu malam...!"
"Ehhh?!" walaupun mereka sedang berada dalam diskusi serius, Hinata tak bisa melarang sebuah seringai geli menghiasi wajah cantiknya. Pemuda ini memang selalu bisa membuatnya tertawa dalam situasi apa saja. "Aku masuk kuburan dong kalau begitu!"
"Makanya..." sekali lagi, gadis itu mengeluarkan sedikit tenaga dan mendorong bahu tegap Naruto untuk menekankan maksudnya. Matanya melirik ke bawah, melihat ke arah tubuhnya yang masih terangkat dari lantai. "...Turunkan aku."
"Sekarang?"
"Sekarang."
"...Saat ini juga?"
"Saat. Ini. Juga."
"...Tidak bisakah—"
"Naruto-kun~!" Hinata mengeluarkan suara merengek sambil memegangi wajah Naruto yang berusaha mendekat dan berusaha merampas kesempatan lagi, walaupun sebuah senyum jenaka di wajah sang pemuda menandakan kalau dia hanya main-main saja. Setelah beberapa saat terjadi acara adu kekuatan antara kedua tangan Hinata dan tenaga leher Naruto, tawa pelan pecah antara mereka berdua. Sang gadis Hyuuga itu tak pernah, satu kalipun, menyangka dia bisa tertawa sebebas dan sejujur iitu, dan ini, tentu saja, berarti dia sudah sangat nyaman berada di sisi Naruto sampai dia bisa mengeluarkan satu sisi dirinya yang bahkan tak pernah ditunjukkan pada keluarganya sekalipun.
"Hinata..." pria pirang itu berbisik pelan, senyum yang dia tunjukkan berikutnya sarat akan kesepian. "Aku ingin bersamamu lebih lama lagi..."
Wanita remaja di depannya hanya diam sebagai jawaban, dan dia melanjutkan perkataannya dengan perbuatan. Menyusupkan wajahnya ke leher Hinata, dia menggesekkan wajahnya ke kulit halus si gadis dengan cara yang tak bisa disebut dengan nama selain 'manja'. Penciumannya yang tajam menghirup bau harum yang menguar alami dari tubuh gadis itu, karena dia tahu Hinata tak pernah memakai parfum macam apapun.
"Aku juga..." jawaban yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, hanya saja Naruto mendeteksi akan ada 'tapi' yang menyusul. "Tapi..."
Perkiraannya tepat.
"Tapi Naruto-kun, kita harus berhenti sekarang..."
...Aku tidak mau...
"Tolong jangan bersikap kekanakan begitu, Naruto-kun..." gadis itu menyisir rambut Naruto dengan lembut, jari-jarinya yang lancip terasa seperti menggaruk kulit kepala sang Sennin. "Bukan berarti kita tak bisa bertemu lagi, kan...?"
...Aku masih ingin begini...
Mata Jinchuuriki no Kyuubi itu melebar sesaat karena terkejut, tapi kemudian menutup dan diikuti oleh munculnya sebuah senyum ringan. Dengan pelan dan selembut mungkin, Naruto menurunkan tubuh Hinata, begitu berhati-hati bagaikan dia sedang menangani seorang pasien dengan kaki yang patah. Setelah melangkah mundur beberapa langkah, matanya yang biru langit tak pernah terlepas dari sosok Hinata selagi gadis itu memutar kenop pintu dan membukanya.
...Tidak...
"Sampai ketemu lagi, Naruto-kun..." gadis itu menoleh sebentar dengan senyum sehangat mentari sebelum menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Naruto dalam kesendirian, salam selamat tinggalnya masih menyisakan gema di ruang tamu apartemen tersebut. "Bye bye..."
...Jangan pergi...
Andai saja saat itu Naruto memerhatikan dirinya dengan lebih baik, maka dia akan sadar kalau kedua tangan dan kakinya kini gemetar pelan seperti sedang kedinginan. Lututnya terasa lemas dan tubuhnya seperti tak bertenaga, dan dia menemukan kalau matanya tak bisa lepas dari pintu yang baru saja menutup dan menyembunyikan wajah wanita yang paling dia sayangi.
...Seakan berharap handel pintu itu akan berputar sekali lagi dan terbuka.
...Lalu wajah Hinata akan kembali muncul di sana... dengan senyum hangatnya yang biasa.
Tapi selama apapun Naruto menunggu, pintu itu tetap tertutup dalam kesunyian. Dan tanpa dia sadari, dalam dadanya sudah berkecamuk sebuah kerinduan tak tertahankan.
•••
"Hah~..." wanita muda yang sebenarnya BEGITU tua itu menghembuskan napas capek, wajahnya yang cantik melengkung karena bosan. "Shizune~, bawakan aku sake...!"
"Tidak, Tsunade-sama, selesaikan dulu mengecap semua dokumen itu, baru kubelikan sebotol atau dua botol sake."
"Tapi bagaimana mungkin aku menyelesaikan... KUTUKAN ini?!!" seru sang wanita dengan rambut yang dikuncir dua, dadanya yang bombastis berguncang sedikit saat dia berdiri tiba-tiba dan menghantamkan telapak tangan kirinya ke meja, dengan telunjuk tangan kanan teracung ke arah 3 tumpuk dokumen setinggi 1 meter di depannya. "Aku tidak menjadi Hokage untuk mengurus semua dokumen ini, tahu!!"
"Hm, tunggu dulu," gadis muda dengan rambut hitam pendek yang berdiri di satu ruangan dengan Hokage tersebut mengambil sebuah buku kecil dan pensil dari sakunya, lalu mencoretkan sesuatu di buku itu sebelum tersenyum puas. "...Ini sudah kesepuluh ribu tiga ratus dua puluh satu kali anda bicara seperti itu, Tsunade-sama."
"Uh, kau menghitung semua itu?" Tsunade menyipitkan matanya sampai tinggal berupa celah, memberi tatapannya yang tertajam pada Shizune yang hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum kasual. "Dasar..."
"Nah, begitu dong...!" seru Shizune senang ketika gurunya itu duduk kembali di kursi dan mulai mengambil cap besar yang biasa dia hempaskan ke dokumen sebagai tanda pemberian izinnya. "
"Tapi ingat, aku nanti minta sepuluh botol saat semua ini selesai!"
"...Sudah kuduga," jawab Shizune lemah dengan sebuah senyum pasrah pertanda menyerah, biarpun sudah menjadi Hokage pun sikap master-nya itu memang tak akan pernah berubah.
"He he he..." wanita yang lebih tua di ruangan besar itu terkekeh pelan sebelum mengalihkan perhatian pada tumpukan dokumen yang naujubile banyaknya di atas meja, mengangkat benda persegi di tangannya lalu mulai mengecap.
...Sampai gerakan tangannya berhenti ketika melihat satu kertas tertentu.
"Shizune," dia memanggil asistennya, yang baru saja mulai menghitung berapa banyak uang yang akan dia habiskan untuk membelikan sake bagi sang Hokage hari ini. Sebuah keheranan meliputi wajah cantik si perempuan berambut hitam, karena dia mendengar nada serius yang sangat tidak biasa di suara Tsunade. "Coba lihat laporan ini..."
"Apa?" dia menerima kertas yang diulurkan Tsunade, lalu membaca isinya dengan cepat. Sama seperti sang Hokage, dahinya langsung berkerut selesai mencerna isi dokumen tersebut. "...Dia lagi?"
"Sudah berapa kali sekarang? Sepuluh? Lima belas?"
"Tidak, aku yakin dia sudah melebihi angka dua puluh... mungkin sekitar dua puluh empat, Tsunade-sama..." jawab sang asisten dengan serius, menggigit bibir bawahnya. "Tapi, ini..."
"Satu bulan lebih sedikit dan dia sudah menyelesaikan dua puluh empat misi?" Tsunade bertanya seakan pada dirinya sendiri. "Ada apa dengan anak itu?"
"Tambah lagi, semua misi yang dia minta pasti selalu berhubungan dengan misi perlindungan desa kecil dari penjahat, pembasmian bandit, atau penangkapan kriminal..." kata Shizune sambil meneliti kertas-kertas dokumen yang lampau. "Singkatnya, semua misi yang dia lakukan pasti mengandung pertempuran..."
"Entah dia sedang terlalu bersemangat, atau ada sesuatu yang aneh dengan perilakunya belakangan ini..." wanita berdada besar itu bersandar ke punggung kursi sambil menyangga dagunya dengan kepalan tangan. "Dan firasatku mengatakan kalau kemungkinan kedua sepertinya lebih domina—"
Sebelum ucapan wanita itu selesai, tiba-tiba pintu ruangan Hokage menjeblak terbuka dan sebuah wajah nongol dari baliknya. Sebuah wajah dengan kumis kembar tiga yang pasti sudah cukup familiar dengan kita semua, termasuk Hokage dan asistennya.
"...Panjang umur kau, Naruto." Tsunade menyelesaikan kalimatnya.
"Baa-chan!! Aku sudah menyelesaikan misi!" pemuda itu melapor dengan gaya hormat grak, telapak tangan dengan jari-jari diluruskan di letakkan melintang agak miring sedikit di dekat alisnya. Wajahnya yang berkeringat dan napasnya yang ngos-ngosan memberi kesan seperti dia baru saja melakukan maraton neraka yang diciptakan khusus untuk membinasakan atlet dunia. "Beri aku misi lagi!!"
"Oh ya, pas banget kau datang untuk itu..." sang wanita dengan jubah hijau tua itu membuka lacinya seakan sedang bersiap mengambil sesuatu setelah membuat isyarat agar Naruto mendekat. Si pemuda segera memungut apa yang ada diulurkan sang Hokage tanpa banyak perhatian, hanya untuk menemukan kalau yang ada dalam genggamannya hanyalah sebuah sapu tangan, bukannya kertas misi.
"Baa-chan, aku minta misi! Bukannya sapu tangan!"
"Tenanglah, seka dulu keringatmu..." jawab Tsunade tenang, tangannya terlipat di meja dan wajahnya menyunggingkan senyumnya yang biasa. Setelah memastikan kalau pemuda pirang itu mengeringkan wajahnya dengan baik, barulah dia berbicara lagi. "Nah, Naruto, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa?" balas Naruto segera.
"APA yang terjadi padamu?" sang anggota terakhir dari golongan Sannin mengeluarkan pertanyaannya tanpa tedeng aling-aling, langsung ke pokok masalah dan tak sedikitpun berniat atau berminat menyembunyikan rasa keingintahuan dalam suaranya.
"Apa maksudmu 'apa yang terjadi padaku'?" tanya Naruto heran, dahinya berkerut ketika Tsunade tak menjawab dan terus menatapnya tajam, membuat sang pemuda merasakan sensasi seperti sedang disuntik. "Kenapa kau menatapku begitu?"
"Naruto..." Tsunade memulai, perlahan berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Naruto sambil berkacak pinggang. "Kapan kau terakhir kali kau mandi?"
"Hah? Apa maksudmu—"
"Kapan kau terakhir kali kau makan?"
"E-eh, a-aku..." suara Naruto mulai terdengar ragu-ragu, matanya menatap ke berbagai arah lain seakan sedang mencari jalan kabur. "Aku..."
"Kapan terakhir kali kau pulang ke rumah? Kapan terakhir kali kau tidur? Kapan terakhir kali kau—"
"A-aku tidak ingat!" jawab Naruto dengan sebuah seruan tertahan, suaranya tercekat seperti orang yang sedang tertekan. "Aku... tak bisa ingat..."
"Baiklah, pertanyaan terakhir," ucap Tsunade, mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan. "Kau pikir, sudah berapa banyak misi yang kau lakukan?"
"Em..." pemuda itu memegangi kepalanya sambil menatap langit-langit, tapi ingatannya mengkhianatinya. "Aku tak tahu..."
"Dua puluh empat, Naruto. Dua puluh empat misi, dalam satu bulan." Tsunade mengacungkan dua jari dengan tangan kiri dan empat dengan tangan kanan untuk memperkuat maksud ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya. "Kau sadar apa maksudnya itu?"
"Anu..." pria muda itu menyilangkan tangan lalu tenggelam dalam pemikiran mendalam, sebelum membuka matanya dan menepukkan telapak tangan. "Aku hebat?"
"BUKAN ITU, BOCAH BEGO!!" teriakan Tsunade menggelegar ke seluruh bangunan kantor Hokage, diiringi oleh suara piring pecah berantakan, kertas-kertas jatuh berserakan dan diakhiri oleh pertunjukan seekor burung merpati yang ambrahum di udara lalu jatuh ke sungai desa Konoha. Bahkan, ada satu Chuunin yang sempat-sempatnya nyeletuk, "Buset!!" di tengah kegemparan tersebut. "Ini hal yang aneh tahu! Malah mencurigakan!!"
"Apanya?" tanya Naruto polos, ekpresi wajahnya yang innocent benar-benar ingin membuat Tsunade berjingkrak-jingkrak atau mencak-mencak sekarang. "Kenapa begitu?"
"Karena, andai saja di dunia ini ada acara Guinness World Record, yang sayangnya tak ada... eh, aku bicara apa sih?" kata Tsunade, menyadari kalau dia tadi sudah meneriakkan hal-hal yang SANGAT nggak jelas. "Ah, pokoknya kau sudah memecahkan rekor dunia dalam bidang penyelesaian misi, tahu!!"
"Ah, masa iya? Jangan bohong..."
"Kau kira aku bercanda?! Bahkan Gaara, yang dengan kemampuannya kini sudah jadi Kazekage, tidak bisa menyelesaikan misi sebanyak ini, tahu!!"
...Di kejauhan Sunagakure sana, Gaara tiba-tiba bersin saat sedang menulis surat perjanjian.
"Ta-tapi...! Aku butuh misi-misi itu, Baa-chan!!"
"Kenapa?"
"Soalnya aku harus mengalihkan perhatianku!! Dan satu-satunya cara adalah dengan melaksanakan misi-misi itu!"
"Mengalihkan perhatianmu dari apa?" tanya Tsunade sekali lagi, alisnya terangkat dalam kecurigaan. Sesuatu yang bisa mengubah sikap Naruto dan juga tingkat keberhasilannya dalam misi pastilah bukan sesuatu yang ringan.
Naruto diam, giginya digertakkan keras-keras sampai saling gilas. Bukannya dia tidak ingin bilang, dia hanya tidak bisa memberitahukan alasannya pada siapapun, walaupun orang itu adalah Tsunade. Matanya terpejam dan pikirannya berputar, sejenak mengingat kembali semua penyebab kelakuannya akhir-akhir ini.
Tepat setelah perpisahan mereka, tiba-tiba saja Hinata mendapat misi bersama timnya yang mengharuskan gadis itu berada di luar desa selama beberapa hari. Dan selama beberapa hari itulah, Naruto benar-benar mengalami betapa sakitnya penderitaan.
Sepeninggal Hinata, rumah yang seharusnya bisa membuat Naruto nyaman malah terasa menyiksa. Jika berada di rumah itu, Naruto tak pernah bisa diam ataupun tenang, hatinya senantiasa diliputi kegelisahan dan kepalanya terus-menerus dicecoki oleh keresahan.
Jika dia duduk di ruang tengah dan merasa lapar, entah kenapa telinganya selalu mendengar suara-suara peralatan masak yang berdenting saat saling bersentuhan, seakan-akan seseorang sedang menyiapkan makanan di dapur sana. Tapi jika dia pergi ke tempat itu untuk memeriksa, dia selalu menemukan kalau tak ada siapa-siapa di sana.
Jika dia menyalakan shower dan mandi di bawah siraman airnya, maka samar-samar indra pendengarannya akan menangkap erangan dan rintihan di udara, terdengar seakan dari jauh namun terasa begitu dekat. Aroma yang tercium bukanlah harumnya sabun, dan rasa yang terkecap oleh mulut bukanlah hambarnya air, selalu yang lain. Sebuah cita rasa kaya yang bukan berasal dari dirinya atau apapun di dalam rumah apartemen itu, melainkan milik tubuh seorang wanita berambut biru yang dulu sempat mewarnai rumah itu.
Bagi Naruto, kebersamaan dengan gadis itu adalah anugrah, dan perpisahan dengannya adalah musibah. Beberapa hari tak bisa melihat wajahnya, tak bisa mencium aroma tubuhnya, tak bisa mendengar suaranya... tak bisa merasakan kehangatan dan kelembutan kulitnya, sudah cukup untuk menggiring kewarasannya sampai ke tahap hampir gila.
Hinata, dengannya dunia serasa nyata dan tanpanya semesta seakan telah binasa.
Dari semua itu, yang paling membuat Naruto tersiksa adalah ketika dia tidur dalam kungkungan selimutnya. Tidurnya tak nyaman atau tenang karena kehangatan yang dulu pernah dia rasakan dalam pelukannya kini telah hilang. Hanya perlu satu malam bagi Naruto kalau dia, walaupun baru satu kali saja, telah terlalu terbiasa memiliki Hinata dalam lingkup tangannya, hingga ketiadaan gadis itu membuatnya merasa tak lengkap.
Bagai sayur tanpa garam.
Laksana bulan tanpa bintang.
Seperti siang tanpa malam.
Bak bumi tanpa langit.
Ada yang hilang. Ada yang kurang. Selalu itu-itu saja yang beredar di kepala Naruto setiap malam, membuatnya berguling ke kanan kiri dan menggeliat tanpa henti seperti cacing kepanasan. Dia akan terus terjaga sampai larut, dan baru tertidur ketika tubuhnya sudah terlalu letih untuk sekedar membalikkan posisi atau sekedar meregangkan badan.
Dan saat dia bangun di pagi, dia selalu menutup matanya dulu untuk beberapa lama. Berharap sunyi dalam hati bahwa akan ada suara lembut nan halus yang akan membelai pendengarannya, lalu dia akan terbangun dan hal pertama yang akan muncul dalam pandangannya adalah sebuah wajah secantik dewi malam, rambut biru tua yang panjang, dan sepasang mata biru abu-abu yang selalu memancarkan ketulusan dalam sinarnya.
Tapi harapannya akan selalu pupus, tak peduli selama apapun dia berbaring di atas futon itu. Naruto akan membuka mata, dan saat dia tak menemukan siapa-siapa berbaring di sampingnya, akan ada gelombang emosi kekecewaan menghempas hatinya yang kini begitu rapuh, kesedihan mendalam yang membuat Naruto ingin menangis seperti anak kecil.
Dia sadar, betapa kesepiannya dia tanpa Hinata di sisinya.
Dan itu... sungguh-sungguh membuatnya hampir gila!
Karena itulah, satu-satunya solusi yang bisa dipikirkan Naruto hanyalah menyibukkan diri dengan misi, tanpa henti. Dengan begitu, dia tak akan punya cukup waktu untuk terus memikirkan Hinata, dia bisa melupakan kehangatan gadis berambut biru itu walau cuma sekejab.
Ya, dia tahu kalau dia hanya menunda apa yang tak terhindarkan. Seperti obat bius atau obat penahan nyeri, sakitnya hanya akan berhenti sampai efek obat itu habis, dan saat itu terjadi, pedih yang terasa takkan bisa dibantah. Walau selelah apapun dirinya saat pulang ke Konoha, yang ada di pikirannya hanyalah mengambil misi selanjutnya. Makan, kini sudah menjadi entah urutan keberapa dalam prioritas sang Sennin, apalagi hal-hal sepele macam mandi, tidur, dan lain-lain. Yang dia pedulikan hanyalah misi dan misi, karena hanya itulah hal yang bisa mengalihkannya dari merindukan Hinata... juga mencegahnya berbuat hal-hal gila karena tak bisa menemui gadis itu.
Misalnya... menerobos masuk ke kediaman klan Hyuuga, lalu menculik gadis itu dan membawanya lari dari desa.
...Dia hanya berani membayangkan, apa akibatnya jika dia melakukan itu.
•••
"Maaf, Tsunade Baa-chan, tapi aku tak bisa menceritakan ini padamu..." jawab Naruto pada akhirnya, wajahnya tertunduk dalam sesal yang jelas terlihat.
"Hmh~..." sang Hokage hanya bisa menghembuskan napas, dia memang tak berharap si pria muda akan langsung mengatakan begitu saja apa masalahnya. "Yah, apa boleh buat..."
"..." Naruto menunggu dalam diam, dengan tangan tergantung lemas di samping tubuhnya.
"Maaf Naruto, tapi saat ini tak ada misi yang bisa kuberikan padamu," kata sang Godaime sambil menatap wajah sang pemuda, mengernyit sedikit ketika dia merasakan aura kekecewaan yang sama sekali tak disembunyikan. Memejamkan matanya untuk mengumpulkan tekad, dia tersenyum ramah untuk menyemangati bocah itu sedikit. "Oh ayolah, jangan menekuk wajahmu begitu! Besok datanglah lagi ke sini, aku yakin pasti sudah akan ada misi tersedia untukmu!"
"Ya..." jawaban yang luar biasa pelan itu malah membuat dua wanita dalam ruangan itu bergidik, suara penuh kemurungan itu adalah sesuatu yang sama sekali tak mereka sangka bisa keluar dari si pemuda. "Aku... permisi dulu..."
"A-ah, b-baiklah..."
Mereka hanya bisa melihat kepergian Naruto dalam diam, memperhatikan bahunya yang merosot seperti tak ada semangat hidup dalam pria yang biasanya selalu ceria itu. Baru setelah sosok orange itu menghilang di balik pintu, Shizune memberanikan diri untuk mendekati atasannya dan berkata panik, "Bagaimana ini, Tsunade-sama?!"
"Kau pikir aku tidak bingung?!" Godaime memijit pelipisnya, dia tak habis pikir apa yang bisa membuat sang Sennin muda yang secerah matahari itu tiba-tiba berubah segelap gerhana. "Ini masalah serius! Bocah itu benar-benar membuatku khawatir!"
"Benar, sikapnya itu seperti berkata kalau dia bisa bunuh diri kapan saja!" kata Shizune cepat, tubuhnya menggigil sendiri ketika menyadari hal mengerikan apa yang baru saja dia katakan. "Ah Tuhan, aku sangat berharap kita bisa tahu apa yang terjadi pada Naruto-kun...!"
"Hm, mungkin itulah yang harus kita cari tahu terlebih dahulu," Tsunade mencubit dagunya sebentar, berpikir keras untuk menemukan solusi yang dicari. "Shizune!"
"Y-ya...?!"
"Temui Sakura dan segera suruh dia menghadap padaku!" Tsunade berdiri dan menunjuk pintu, untuk menekankan bahwa perintah itu harus dilaksanakan sesegera mungkin. "Ayo cepat!! Kita tak punya waktu untuk disia-siakan!"
•
Nahh~, kenapa tuh si Naruto? Remuk banget kayaknya, cuma gara-gara 'pisah' Hinata. Gimana nasibnya? Apa dia bakal sakit jiwa duluan, atau akhirnya mereka ketemu lagi dan... bakal ngapain ya?
Hehehe, apakah chapter ini sudah cukup memuaskan? Dan hei kalian makhluk-makhluk mesum, jangan kecewa begitu cuma karena tak ada lemon di chapter ini! Memangnya kalian ingin the cutest pairing di seri Naruto (oke, ini cuma pendapat pribadi) jadi dua maniak cinta yang kerjaannya cuma 'menggoyang ranjang'?! Kita juga butuh keromantisan kan? Sebuah cerita cinta yang manis antara keduanya haruslah menjadi tujuan utama (yah, hamba tak akan menyangkal arti 'manis' dalam kalimat itu juga mengandung desahan dan rintihan dari seorang gadis berambut biru tertentu sih... juga dua tubuh telanjang)!!
INGAT!! Jangan lupa mereview jika kalian ingin cepat-cepat membaca lanjutan cerita ini (dan mungkin membaca scene lemon berikutnya)!!
Yo ho, sampai jumpa lagi!
Galerians, out.
