Galerians, in.
Gyaaa-khirnya selesai juga! Tuhan memberkati, akhirnya hamba mampu juga menyelesaikan chapter ini! Jarang-jarang hamba perlu selama ini untuk menyelesaikan satu chapter, mungkin karena bagian ini penuh uraian-uraian ya? Tak tahulah, pokoknya yang penting sudah selesai dulu...
Kira-kira kalian mau kan me-review chapter ini lagi? Hamba butuh dorongan nih, inspirasi kayaknya lagi susah datang, apalagi ada banjir yang menghadang di mana-mana. Yah, rumah hamba nggak kena sih, tapi kalau begini kan susah jalan-jalan buat cari pencerahan.
Disclaimer: Kayaknya kalau berani bilang Naruto adalah milik hamba, bisa-bisa ada satu batalion yang menyerbu ke rumah. Cape deh...
Kebanyakan bacot, ah! Silakan membaca aja deh! Mempersembahkan, chapter keenam!
•
I Need You
Malam itu bagaikan neraka, dan jauh lebih menyiksa dari sebelumnya.
Tubuh yang penat dan butuh istirahat tidak menjadi alasan yang cukup kuat untuk memaksa matanya agar terpejam, karena setiap kali rasa lelah mengantarnya pada tidur, penggalan-penggalan kenangan Hinata akan berputar di kepala dan membuatnya bangun seketika. Kehangatan selimut dan futon bukanlah yang meliputi tubuhnya, melainkan dingin yang tiada kentara dan hanya terasa di dalam dada. Tubuhnya tak menggigil, tapi hatinya membeku. Bibirnya tak membiru, tapi wajahnya sepucat abu. Jika orang lain melihat maka mereka akan bertanya-tanya, apakah benar dalam tubuh itu masih tersimpan nyawa?
"Hinata..." bisikan itu keluar dalam suara tanpa jiwa, sebuah panggilan sunyi kerinduan sang pemuda.
Kesepian dan Naruto bukanlah dua hal yang boleh disatukan, karena apa yang menjadi akibatnya adalah sesuatu yang menyedihkan. Dalam kesendiriannya, Naruto bukanlah apa-apa, dia kembali menjadi anak kecil yang dulu selalu dijauhi oleh setiap orang yang menganggapnya sebagai bocah iblis. Dan salah jika kau menyangka ada dua aliran air mengucur dari matanya, karena tangisan Naruto adalah sebuah isakan batin. Ratapan Naruto adalah sebuah raungan nurani yang sunyi, tak terdengar oleh siapapun kecuali Tuhan sendiri.
Dia tak berteriak dan meraung bagaikan orang yang kehilangan tangan dan kaki, tapi dia hanya diam... sangat diam sampai keberadaannya diragukan. Keceriaannya yang dulu selalu menular pada siapapun yang berada di dekatnya kini telah hilang bagai ditelan bumi dan lautan. Sengiran ramahnya yang mampu membuat orang-orang ingin tersenyum bersamanya kini tenggelam dan mencemari angkasa, langit dan awan yang kelabu adalah buktinya.
Malam itu hujan lebat menyiram bumi Konoha, dan lengkaplah semua yang dibutuhkan Naruto dalam kesedihannya.
•••
Bukanlah cinta kalau tidak rindu. Itu adalah sebuah hukum alam bagi siapapun yang ingin merasakan satu emosi paling rumit yang disebut-sebut tak pernah memiliki definisi pasti.
Jika harus digambarkan dengan kata-kata, maka rindu boleh diterjemahkan sebagai hasrat ingin bertemu, harapan untuk berjumpa lagi. Rindu hanya bisa dipicu oleh perpisahan, dan bukanlah sebuah perpisahan jika tak diiringi oleh kesedihan. Walaupun demikian, obat demi kerinduan ini tidaklah susah dicari. Pertemuan kembali antar dua sejoli, menyentuhnya, bahkan sekedar melihatnya dari jauh kadang sudah cukup.
Tapi hasrat itu adalah sebuah racun, karena kerinduan yang tak tersembuhkan akan semakin tak tertahankan dan terus membesar layaknya makhluk hidup yang tumbuh.
Hidup Naruto dan Hinata hanyalah dua di antara ribuan roda gigi yang menyusun alam semesta, dan takdir telah mempermainkan nasib mereka berdua hingga pertemuan selalu tertunda. Jika Hinata pulang dari misinya, maka Naruto tak akan ada di desa karena melaksanakan tugasnya sendiri. Dan ketika giliran Naruto kembali ke desa, maka Hinata akan sudah ada di jalan menuju misi selanjutnya. Terus begitu, reuni mereka selalu tertunda sampai satu bulan lamanya.
Satu bulan penuh rindu dendam.
Satu bulan yang absen akan kehangatan dan ceria canda tawa.
Satu bulan tanpa senyum, kecuali yang dipaksakan dari keduanya.
•••
Naruto mendaki anak tangga dengan gontai, langkahnya diambil satu-satu dan terlihat seakan mengulur waktu. Wajahnya tertunduk lesu dan tubuhnya pun terlihat tak bertenaga, bisa dilihat dari bahunya yang merosot. Mukanya yang pucat terlihat makin tak sehat karena dua kantung yang menggantung di bawah matanya, karena pada akhirnya dia tak tidur semalam suntuk. Sosok Hinata selalu menghantuinya, tidak hanya kala terpejam bahkan saat matanya menjeblak terbuka pun dia seperti selalu bisa melihat gadis berambut biru itu.
Dia menyeret langkahnya masuk ke lorong di puncak tangga, dan mulai berjalan menuju kantor Hokage yang terletak di tempat teratas gedung. Langkahnya sepi, bahkan suara kaki menapak lantai terdengar bergema karena sunyinya suasana.
Dia tidak tahu, tempat itu lengang bukan tanpa alasan...
...Karena kali ini takdir kembali mempermainkannya. Hanya saja, tidak dalam cara yang buruk.
Langkah Naruto terhenti seketika, ketika pandangan matanya terjatuh pada suatu objek yang berada beberapa meter dari lokasinya berdiri. Dan yang menjadi objek penglihatan sang pemuda adalah sosok seorang wanita, dengan rambut biru panjang dan jaket berlengan panjang yang familiar bukan buatan. Mata Naruto terbelalak selebar-lebarnya, dua tangannya yang semula kaku tiba-tiba saja bernyawa lagi dan jari-jarinya mulai bergerak-gerak.
Gadis itu belum melihatnya, karena dia sendiri kini mengarahkan matanya yang berwarna biru abu-abu ke lantai yang diam. Diam karena tak bisa menjawab kapan penantiannya akan berakhir, diam karena tak mampu meberitahu kapan kerinduannya akan terobati. Dua tangan tergantung santai di kedua sisi badan, walaupun sesungguhnya mereka sudah tak sabar ingin kembali memeluk orang yang sangat dia rindukan.
Langkah Naruto yang semula lesu dan sunyi kini tertapak dengan tenaga baru, suara yang ditimbulkan membuat tubuh objek pandangannya tersentak dan segera menegakkan tubuhnya. Kepala orang itu menoleh, dan pandangan mereka bertemu. Mata keduanya mengerjap beberapa kali, sampai mulai terbuka dua mulut yang semula terkunci.
"Hinata...?"
"...Naruto-kun...?"
Mereka terus berdiri dalam posisi itu untuk beberapa lama, seakan tak mampu percaya pada penglihatan mereka. Orang yang sangat dirindukan, sosok yang dicari dengan gigih dan tanpa menyerah beberapa minggu ini. Wajah yang selalu muncul dalam mimpi setiap malam atau kapanpun dia terlelap, satu-satunya orang yang diidam-idamkan dalam kesendirian.
Pria tersayang.
Gadis tercinta.
Satu-satunya orang yang mereka inginkan.
...
Mereka diam... dan itu adalah permulaan.
Langkah-langkah yang lambat dan canggung menjadi pembukaan.
Lalu mereka berdua berlari, Hinata mengangkat kedua tangan dan Naruto merentangkan lengannya, sampai tubuh mereka bertemu dalam satu tabrakan. Sang gadis mengalungkan tangannya begitu kuat di sekeliling leher Naruto sampai terasa seperti dijerat, namun lelaki itu tak keberatan karena dia sendiri terlalu sibuk mengeratkan pelukannya.
Semuanya begitu nyata, mulai dari suara, aroma, sampai kehangatan yang dipancarkan tubuh keduanya. Bukan ilusi, bukan pula imajinasi, hanya realita dari reuni yang telah sangat lama dinanti-nanti.
"Naruto-kun, aku... aku..." Hinata terbata-bata, suaranya tak menyembunyikan isak tangis yang siap pecah.
"Aku kangen..." bisik Naruto, menyelesaikan kalimat Hinata. Hembusan napasnya membuat gadis itu gemetar pelan karena siraman euforia. Naruto menajamkan semua inderanya, untuk memastikan kalau tubuh mungil dalam dekapannya sekarang adalah nyata dan bukan mimpi semata. Pemuda itu memindahkan kepalanya ke leher sang gadis sebelum menarik napas panjang, hidungnya bisa mencium bau harum shampo menguar dari rambut biru panjang yang sehalus sutera. Semua bukti yang dia kumpulkan menunjukkan kalau inilah Hinata yang sebenar-benarnya. "...Kangen sekali..."
Gadis itu hanya mengangguk pelan pertanda dia juga merasakan hal yang sama, tapi tetap tak mampu mengatakan apa-apa karena lidahnya terkunci dan lehernya tercekat. Perlahan-lahan, air mata merembes dari dua matanya yang terpejam, tapi senyum di wajahnya mengatakan bahwa itu tidak berasal dari kesedihan. Melainkan senang karena bisa bertemu kembali... dan bahagia karena kerinduan yang telah terobati.
...Namun bukan berarti kebahagiaan tak bisa menemui akhir, kan?
"Ehem!"
Suara batuk yang dibuat-buat itu langsung membuat momen berharga di antara mereka hancur berantakan, dan saat penglihatan mereka terbuka, yang muncul di dalamnya adalah sosok seorang wanita dewasa dengan jubah hijau melekat pada tubuh seksinya.
Pelukan itu hancur dengan segera, dan dua orang yang semula begitu tenggelam dalam perbuatan itu kini menemukan wajah mereka memerah sedalam delima. Otak mereka berputar cepat demi menemukan sebait alasan untuk menjelaskan keadaan mereka sebelumnya, yang sayangnya berakhir dalam kalimat-kalimat ambigu yang bahkan sulit dimengerti karena diucapkan dalam kata-kata gagap.
"B-B-B-Baa-chan! Aha ha ha, ba-bagaimana caranya kau ada di sini?!"
"..."
"Ho-Hokage-sama...! Se-senang melihatmu...!"
"..."
"Ja-jadi..." andai otak Naruto adalah akrobat, maka kumpulan sel berwarna abu-abu itu sudah jungkir balik, salto, bahkan mungkin melakukan tap-dance saking gigihnya dalam usaha mencari alasan. "Cuacanya cerah ya?!"
Sang Godaime yang hanya diam dan terus menyipitkan mata memberitahu si pemuda kalau semua usaha itu sia-sia. "Kacau..." umpat Naruto dalam hati saat melihat kilatan aneh di mata Baa-chan-nya itu, lalu dengan sembunyi-sembunyi menyilangkan jari telunjuk dan tengahnya sambil berharap Dewi Fortuna memberinya kesempatan kedua... karena dia merasa sangat dekat pada kematian sekarang.
Tapi tindakan si pemimpin Konohagakure selanjutnya bukanlah hukuman mati seperti yang sudah ditakutkan oleh Naruto, wanita itu cuma memejamkan matanya lalu menghembuskan napas dengan berat sambil meletakkan satu tangan di dahinya.
Boleh dibilang... dia sudah memperkirakan ini. Sakura telah membeberkan apa yang dia ketahui kemarin, dan walaupun gadis berambut pink itu tidak menyebutkan apapun tentang peristiwa yang terjadi di balik pintu, Tsunade dan semua pengalamannya dalam kehidupan sudah cukup untuk menebak kira-kira apa saja yang dilakukan oleh dua muda-mudi ini dalam kebersamaan mereka.
Hanya saja, dia tak menyangka kalau mereka berdua sama sekali tidak takut mengekspresikan kerinduan mereka di tempat terbuka. Ahh, anak muda...
"...Kalian sudah selesai?" tanya Tsunade sinis, walaupun pandangannya cuma ditujukan pada satu bocah berambut pirang seorang yang segera mengangguk cepat karena ketakutan. "Kalau begitu, ayo cepat. Kalian mau tahu apa misinya kan?"
•••
Perjalanan mereka berlalu dalam kesunyian, walau tak ada satupun kata yang terucap, setiap momen berlalu dengan menyenangkan. Suara kicau burung dan desir angin menemani setiap langkah, derik ranting yang bertabrakan dan desah daun yang bersinggungan terasa bagai melodi yang mengalun damai, seakan semua pohon sedang saling berbisik genit melihat pasangan yang berjalan melalui tempat mereka berakar dan bertunas.
Dua tangan yang tertaut dalam satu genggaman menjalarkan kehangatan yang menyehmbuhkan kerinduan. Selaksa daun kembali berdesir dalam buaian angin pembawa kesejukan, menyaksikan cengkrama dua anak muda yang tersampaikan dalam diam, bersama genggaman tangan dan jarak yang berdekatan.
Wajah Naruto adalah simbol kedamaian dan ketentraman, matanya terpejam syahdu dan bibirnya melengkung menjadi senyum berhiaskan kesunyian bisu. Dalam genggaman tangannya, tersembunyi jari-jari lancip yang dibalut kulit sehalus satin, sesuatu yang kadang-kadang akn dia remas pelan untuk meredakan kecamuk hati yang penuh akan kebahagiaan, serta demi memastikan kalau gadis itu benar-benar ada di sampingnya dan kehangatan ini adalah nyata.
Paras Hinata adalah gabungan dari kecantikan dan rona merah malu yang membuat kecantikannya semakin terpoles indah, serta membuat pandangannya selalu tertuju ke jalan yang akan dilangkahinya. Tangannya yang bersangkarkan jari-jari besar dan kuat memberikan seribu degup pada jantungnya, setiap debaran meneriakkan syukur pada Tuhan. Sebuah ucapan terima kasih karena telah mempertemukan mereka kembali, memberi Hinata kesempatan untuk memuaskan dahaga kerinduan yang sempat merobek hatinya jadi dua.
Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan-lahan, mata biru abu-abunya tergulir ke sebelah kanan, mencuri sebuah pandang pada wajah berselimut tenang yang kini menaikmati setiap helai udara yang bergerak. Di sana, dia menemukan kedamaian dan ketampanan yang telah ratusan kali merampas detak jantung... dan hatinya. Di sana, terpampang sebuah senyum syahdu yang membuat dada Hinata seperti diremas-remas oleh tangan tak terlihat, membubungkan jiwanya ke langit tertinggi, menerbangkannya ke ujung angkasa kebahagiaan.
Dua bola mata biru menampakkan warna mereka yang menyejukan pada dunia ketika sang pemuda membuka kelopak matanya, tatapan mereka yang bertemu mengakibatkan napas Hinata terenggut dari paru-parunya dan langkah pun terhenti. Senyum Naruto berganti dari syahdu menjadi penuh kasih sayang, hingga sang gadis bisa merasakan darahnya mengalir lebih cepat dan lututnya goyah kehilangan kekuatan. Dia tak mampu menarik pandangannya, apalagi setelah genggaman pada tangannya menjadi jauh lebih erat, meloloskan kehangatan yang lebih intens dari perapian sekalipun.
Jantung Hinata benar-benar berhenti berdetak ketika wajah tampan itu mendekat, wajahnya terasa memanas hebat dan matanya terpejam rapat begitu bibir Naruto yang lembut menyentuh dahinya. Dua bibir itu terlepas setelah beberapa saat, hanya untuk kembali mendarat di pipi kiri Hinata, mencium bagian wajah sang gadis yang merona semerah delima. Debar di dada gadis berambut biru itu bisa diibaratkan sebagai genderang perang ketika mulut Naruto menjauh untuk kedua kalinya, karena kali ini dia bisa merasakan hembusan napas sang pemuda yang tepat di depan bibirnya sendiri, menunggu sebuah izin.
Dengan rikuh dan malu-malu, Hinata mengangkat dagunya sedikit, tindakan yang mencukupi sebagai tanda dia berkenan tapi sekaligus menyamarkan hasrat yang terpendam. Gigil menyenangkan menyiram sekujur tubuh si gadis saat Naruto mengecup bibirnya, memagut dengan hangat, memberi kenikmatan jasmani dan kepuasan rohani yang jauh lebih dahsyat dari khayalan terliar yang pernah dia miliki.
Setiap detik laksana memanjang sampai menyentuh keabadian. Jika ini adalah mimpi, maka Hinata menemukan dirinya tak ingin bangun dan terus terlelap selamanya. Tapi dia berdiri di atas kenyataan, sebuah dunia di mana tak ada yang abadi. Sama seperti semua yang memiliki umur, ciuman itu juga pasti akan menemui akhir. Sesuatu mencelos dalam hati kecil Hinata saat kehangatan Naruto terlepas dari bibirnya, namun tak akan pernah ada sesal karena begitu dia membuka mata, wajah Naruto menyambutnya dengan sebuah senyum riang yang menjadi ciri khas sang pemuda. Pria itu nyata dan benar-benar ada di sampingnya, memberi Hinata keyakinan kalau ciuman tadi tak akan menjadi yang terakhir kali, karena hal itu kini bisa dengan mudah dia peroleh lagi.
Wajah dan tatapan Naruto kembali tertuju pada jalan setapak yang sejak tadi mereka jalani, sebelum menarik tangan Hinata dalam gandengannya, mengajak gadis itu untuk sekali lagi berjalan bersamanya. Dalam sunyi yang mengelilingi, dan suara desau angin yang menenangkan hati, misi yang harus mereka laksanakan kini menjadi sesuatu yang tak penting. Selama mereka masih melangkah berdua, selama jalan ini masih menyisakan kesunyian syahdu di mana tak ada orang selain mereka, sampai waktu mereka tiba di tempat misi mereka harus terlaksana, maka biarlah dia menikmati kebersamaan ini sepuas-puasnya.
Karena dengan kehadiran Naruto, dia selalu bisa merasa bahagia. Dengan satu senyum dari pemuda itu, debar jantungnya menjadi sesuatu yang tak bisa digambarkan kata-kata. Kehangatan sang pria itulah yang membuat dia menjadi seorang Hinata Hyuuga, seutuh-utuhnya.
Tanpa Naruto, Hinata bukanlah siapa-siapa. Dia bukanlah apa-apa.
Bersama Naruto, barulah dia menjadi seorang manusia. Seorang gadis... seorang wanita.
•••
"Jadi hanya itu?" tanya Naruto dengan satu mata tertutup dan dahi yang berkerut. "Membebaskan sebuah desa dari kekuasaan beberapa missing nin?"
"Jangan lupa Naruto-kun, desa itu sudah didatangi oleh shinobi dari 3 desa lain, tapi tak ada satupun yang kembali," jawab Hinata, nada suaranya halus namun menyiratkan kewaspadaan dan keseriusan. "Ini bukan misi mudah, levelnya pun B, kalau bukan A..."
"Mengapa begitu?"
"Karena kita sama sekali tidak punya cukup informasi tentang mereka," lanjut Hinata sambil mengangkat kedua tangannya ke arah api unggun untuk menghangatkan diri. "Semua keterangan hanya berupa potongan-potongan yang tak berguna, walau kita bisa memastikan satu hal darinya. Para missing nin ini, walau tidak sekuat Akatsuki, adalah sekelompok pasukan elit dengan kemampuan bertempur yang tidak main-main..."
Mata Naruto meneliti wajah Hinata sebelum, satu kesimpulan dia tarik dari pengamatannya. Hinata sendiri hanya diam selama beberapa saat, tangan yang sejak tadi dia dekatkan ke api kini dia tarik kembali, melipat lututnya ke dada secara bersamaan. Saat gadis berambut biru itu memeluk lututnya, sebuah hembusan napas yang terdengar berat terlepas dari dua bibir pinknya.
Mulut Naruto melengkung sedikit, senyumnya adalah sebuah senyum pengertian. Walau mau tak mau hatinya merasa kasihan juga, karena dia paham bagaimana sifat kurang percaya yang dimiliki si gadis. Dia memang tak menemukan ketakutan pada ekspresi wajah cantik Hinata, tetapi dia menangkap keraguan dan kecemasan, dan melihatnya begitu gelisah benar-benar membuat Naruto merasa tak tahan. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan gadis itu terus merasa susah?
Dengan satu gerakan, Naruto mengangkat tubuhnya lalu berjalan ke tempat Hinata duduk sambil memeluk lutut, yang perhatiannya terlalu terfokus pada api unggun yang membara. Gadis itu bahkan sama sekali nggak ngeh saat Naruto duduk tepat di belakang tubuhnya dengan kaki mengangkang, membuat tubuh mungil itu berada di antara kedua pahanya. Hinata baru tersentak dan menjerit pelan ketika sang pemuda melingkarkan lengan ke sekeliling tubuhnya, sebelum mengusap punggung tangan sang gadis dengan jari-jarinya.
"Na-Naruto-kun?!" kaget mengakibatkan refleks Hinata langsung membuat tubuhnya menggeliat, walau pelukan Naruto yang kuat dan kokoh membuatnya tetap di tempat. "A-apa yang...?!"
"...Kau khawatir?" bisik Naruto pelan sambil meletakkan dagunya di puncak kepala Hinata, memberinya ketenangan yang dibutuhkan.
Perlahan-lahan, tubuh Hinata yang semula tegang mulai berubah santai, setiap ototnya mulai lemas dan degup jantungnya terus bertambah lambat. Gadis itu menolehkan kepalanya pelan, menatap ke mata Naruto yang tertuju padanya, dan hanya padanya. Gadis itu merasakan wajahnya memanas sedikit ketika dia menyandarkan kepalanya ke pangkal leher sang pemuda, mulutnya kembali menghembuskan napas panjang.
"Sedikit..." kata-kata itu diucapkan begitu lemah sampai menyerupai desahan. Tanpa bisa ditahan, Naruto merasakan sesuatu terbangun dalam dirinya. "Aku hanya..."
"Hanya apa?"
"Masih ingat saat Pain menyerang Konoha?" tanya Hinata sambil menyandarkan kepalanya lebih dalam. "Aku... kalah dalam sekejab, walaupun saat itu harusnya aku melindungimu. Sejak kejadian itu, entah kenapa aku tak begitu percaya diri lagi dalam bertarung, aku merasa lemah..."
"Hinata, kau tahu itu tidak benar."
"Benarkah?" suara Hinata terdengar ragu dan sedikit sinis. "Aku takut kalau keberadaanku di sini hanya akan menjadi penghalang bagimu, Naruto-kun..."
"Hinata..."
"Kau selalu begitu kuat, dan kau hampir tak pernah kalah..." sesuatu yang hangat menetes dari dua mata Hinata, jatuh dari dagunya ke baju orange yang melekat di tubuh Naruto. "Sedangkan aku, siapa aku ini? Aku ini sangat lemah, aku tak pantas berada di sampingmu... mungkin akan lebih baik jika Sakura yang menemanim—KYA!"
Hinata menjerit saat tiba-tiba tangan Naruto menggenggam bagian ketiak Hinata, sebelum mengangkat gadis itu dan membalikkan tubuhnya dengan cepat. Sang gadis bergidik saat melihat ekspresi gelap di wajah pemuda yang kini menatapnya sangat tajam itu, membuat Hinata merasa seperti sedang ditelanjangi bulat-bulat.
"...Kau tak pantas berada di sampingku?" perkataan itu diucapkan dengan berbisik, kemarahan dalam nada suara itu sama sekali tidak disembunyikan. "Lebih baik Sakura yang menemaniku...?"
"A-ah, tidak... aku..."
Tiba-tiba pegangan tangan Naruto mengendur dan akhirnya lepas, membuat gadis itu terjatuh berlutut pelan ke tanah. Kedua tangan kekar itu kembali ke sisi badan pemiliknya, bersamaan dengan menunduknya kepala Naruto sampai wajahnya tak bisa lagi terlihat.
"N-Naruto-kun...?" Hinata bertanya, nada suaranya takut-takut dan ragu. Setelah beberapa saat, kepala penuh rembut pirang itu terangkat, hanya untuk memperlihatkan wajah yang kini dihiasi kesedihan mendalam yang mengakibatkan Hinata merasa jantungnya direnggut paksa.
"Jadi, bagimu aku ini apa...?" tanya Naruto pelan dengan suara serak menahan pedih, matanya yang begitu redup membuat Hinata tiba-tiba ingin menangis. "Seburuk apa aku di matamu, sampai kau tak ingin bersamaku...?"
Naruto menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat, sekuat tenaga berusaha menahan gejolak emosinya yang begitu menyiksa. Dia tak pernah meminta semua kekuatan ini, dia juga tak pernah memohon agar Kyuubi disegel pada tubuhnya, tapi dia harus memilikinya agar bisa melindungi teman-temannya, serta semua yang dia sayangi. Tapi andai boleh memilih, maka sebenarnya Naruto ingin menjadi seorang yang biasa-biasa saja, menjalani sebuah kehidupan yang wajar dan sederhana layaknya semua orang.
Lalu sekarang apa? Untuk apa dia mendapatkan semua kekuatan ini, jika pada akhirnya semua itu malah menjauhkan dia dari gadis yang paling dia sayangi? Dia tak mengerti, mengapa dia harus dijauhi hanya karena menjadi kuat? Bukankah selama ini semua kekuatan itu selalu dia pakai untuk melindungi orang lain? Pernahkah dia melakukan sesuatu yang buruk dengan kekuatannya ini? Dosa apa yang sudah dia perbuat sehingga harus dibenci layaknya makhluk terkutuk? Lalu, bukankah dia sudah diterima di Konoha setelah dia mengalahkan Pain?
Atau mungkin, karena semua itu tidak berdasarkan kejujuran? Bagaimana jika selama ini, kebaikan yang dia terima hanyalah kebohongan dan semua senyum yang ditujukan padanya hanyalah topeng kaku yang bersifat sementara? Satu-satunya yang membuat dia berbeda dari Naruto si 'anak iblis' hanyalah fakta kalau dia mengalahkan Pain dan menyelamatkan Konoha. Tapi tanpa itu? Naruto akan kembali menjadi seorang anak terbuang dan dibenci karena dalam tubuhnya tersegel Kyuubi yang telah menjadi salah satu kenangan terburuk bagi Konohagakure.
Apakah semua rasa hormat yang dia terima setelah kemenangan itu hanyalah sebuah dusta semata? Benarkah semua itu dihaturkan padanya dengan rela hati, dan bukannya karena mereka... takut padanya? Ya, itu pasti alasannya, dia diterima bukan karena dianggap sebagai bagian dari desa, penduduk Konoha hanya TERPAKSA mengakuinya karena dia sekarang sudah terlalu kuat untuk sekedar dikucilkan.
Mereka pasti tak ingin dia berubah menjadi pengkhianat, sehingga mereka bersikap baik padanya. Tapi, andai dia hanyalah seorang shinobi biasa, sudah bisa dipastikan kalau perlakuan yang akan Naruto terima hanyalah tatapan-tatapan menusuk dan kata-kata pedas yang kejam. Dia bukanlah siapa-siapa bagi siapapun, dia tak ada artinya di mata siapapun. Dia tak bisa menjadi Gaara, yang mendapatkan kepercayaan desa dan dicintai oleh setiap penduduknya sebagai seorang Kazekage. Keadaan Naruto sama sekali tidak berubah, dulu dia dibenci karena menyimpan sang Kyuubi dalam tubuhnya, dan sekarang dia ditakuti karena kekuatannya. Jika dulu dia dianggap anak terkutuk, maka sekarang dia dianggap tak lebih dari senjata berbahaya yang harus diperlakukan baik-baik karena, dan HANYA karena dia akan menjadi sangat berbahaya jika sampai berbalik melawan desa. Dia seperti bom atom tanpa sumbu maupun tombol, dijaga baik-baik namun tetap dijauhi dan ditakuti karena begitu mematikan.
...Dia tak lebih dari sekedar senjata...
"Hahaha, tentu saja..." gumam Naruto dalam hati, dadanya serasa remuk redam dan kehangatan api unggun sudah tak lagi bisa menyentuh tubuh, maupun perasaannya yang kini sudah sebeku es. "Semuanya tak pernah berubah, tak pernah. Aku memang ditakdirkan untuk hidup diperlakukan seperti ini..."
Buku jari kedua tangan Naruto sudah memutih saking kuatnya dikepalkan, tapi dia tidak menyerah dan terus menahan kesedihan karena merasa terbuang. Bibirnya terkatup rapat-rapat, namun tubuhnya gemetar hebat. Kesunyian yang mengelilingi Naruto membuat pemuda itu ingin kabur dengan segera, sebab dia tak ingin terlihat lemah di depan sang gadis tercinta, walaupun kini dia tak tahu apa jadinya hubungan mereka. Tapi tepat sebelum Naruto mengangkat tubuhnya dan pergi, tiba-tiba pandangannya jadi gelap dan sesuatu membungkus kepalanya rapat.
Perlu beberapa saat bagi Naruto untuk menyadari kalau itu adalah Hinata, yang kini memeluknya seerat mungkin sampai wajahnya seperti terkubur ke kedalaman dada gadis cantik tersebut.
"H-Hinata, sedang apa kau...?!" tanya Naruto, kebingungan mewarnai setiap suku kata yang dia ucapkan. Pemuda itu meletakkan tangannya di pinggang Hinata, berusaha mendorong gadis itu agar menjauh darinya. Namun sang Hyuuga bergeming, tak mau melepas pelukannya. "L-lepaskan, Hinat—"
"Tidak mau...!" Naruto tersentak ketika sadar kalau gadis itu kini terisak, bahkan dia bisa merasakan butir-butir cairan hangat jatuh di atas kepalanya. "Aku tak mau..."
"...Kenapa kau melakukan ini...?" setelah keheningan yang mengikat keduanya berjalan beberapa lama, Naruto membiarkan tangannya terlepas dari pinggang Hinata dan bertanya. "...Kenapa kau tidak biarkan saja aku pergi...?"
"Naruto-kun, a-aku..."
"Hinata, kau benar. Kau memang tidak seharusnya menemaniku, tak ada seorangpun yang harusnya menemaniku. Aku hanyalah seorang Jinchuuriki, manusia berbahaya yang menyimpan Kyuubi," setiap ucapan Naruto terlepas bersamaan dengan sejumlah kesedihan tak tergambarkan. Pemuda itu membiarkan tubuhnya melemas dan wajahnya beristirahat di dada Hinata, memejamkan matanya untuk mencoba pasrah. "Tak ada seorangpun yang harusnya bersamaku... a-aku tak pantas bagi kalian, karena aku hanyalah seorang anak buangan..."
"H-hentikan... hentikan..."
"Aku tak lebih dari seekor monster, Hinata. Cuma makhluk buas yang harus disimpan dan dirawat baik-baik karena berbahaya. Kalian semua, terlebih lagi kau, tak harusnya berada di sampingku, karena aku hanya akan mencemari kalian dengan keberadaanku..."
"Berhenti bicara seperti itu...!" teriak Hinata sambil semakin mengencangkan pelukannya, dekapannya kini sungguh erat sampai mulut Naruto pun hampir tak bisa bergerak lagi. "Aku tak mau dengar lagi...!"
"T-tapi, Hinata..." untuk mengucapkan itupun, Naruto harus bersusah payah.
"Aku mencintaimu...!" jeritan Hinata terdengar putus asa, seakan berusaha menarik Naruto kembali dari jurang kesedihan yang siap menelannya. "Aku menyukaimu! Aku sayang kamu! Aku mencintaimu! Dan itu tak akan pernah berubah...!
"Aku tak peduli kau adalah monster, aku tak peduli kau adalah Jinchuuriki...! Biarpun semua orang di dunia ini membencimu, perasaanku akan selalu sama...! Hatiku hanya akan terus menjadi milikmu seorang...!" Hinata melepaskan dekapannya lalu menangkupkan kedua tangannya di pipi Naruto yang terpana, matanya yang basah menatap Naruto dalam-dalam. "Kau bukanlah makhluk buas...! Kau adalah Narutoku, selalu dan akan selalu menjadi Narutoku...!"
Untuk beberapa saat, yang bisa terlihat di tempat hanyalah Naruto yang terpaku dan Hinata yang tersedu. Gadis itu kini menutup matanya, walau air mata masih terus mengalir di kedua pipi dan membasahi wajahnya. Tanpa perintah apapun dari otak, tangan Naruto meraih kepala sang gadis dan menariknya pelan, meletakkan wajah perempuan itu ke dadanya lalu mendekapnya dengan kelembutan.
"Aku tak pernah melihatmu sebagai seorang Sennin, sebagai anak dari Yondaime, ataupun sebagai shinobi yang kelak akan menjadi Hokage. Bagiku, kau adalah Naruto yang tegar, Naruto yang tak pernah menyerah walau seperti apapun rintangan yang menghadang...! Naruto yang baik dan ramah, yang selalu bisa tersenyum walau dilanda penderitaan macam apapun...!" Hinata mencengkeram kerah Naruto dan menariknya, sambil terus membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada pemuda tersebut, membuat baju orange yang Naruto pakai mulai lembab dengan air matanya. "Kau menyelamatkan hatiku dengan senyummu...! Hanya dengan melihatmu berusaha sudah cukup untuk membuatku ingin melakukan yang terbaik dan terus mencoba tanpa pernah menyerah...! Aku menyukaimu karena itu, jadi berhenti bicara seakan-akan kau tidak berarti bagiku...!"
Gema teriakan Hinata dipantulkan oleh hutan yang diam namun segera ditelan oleh kegelapan malam. Air matanya terus mengalir tanpa henti, meresap di serat-serat kain jaket Naruto dan membuatnya basah, namun mereka berdua tak peduli. Tubuh Hinata yang gemetar diredam oleh pelukan sang pemuda yang erat pada tubuhnya, isakannya meneriakkan kesedihan dan kasih sayangnya pada Naruto. Gadis itu membiarkan kehangatan dekapan Naruto menenangkannya untuk beberapa saat, sebelum mengumpulkan kekuatan untuk meneruskan ucapannya.
"...B-begitu susahkah bagimu untuk menyadari bahwa aku mencintaimu apa adanya...?"
Kata-kata Hinata akhirnya berhasil menyentuh hati Naruto yang sempat tersesat, sehingga pemuda itu membiarkan napasnya yang tertahan lepas. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum tipis namun lembut, mengizinkan kehangatan kembali memenuhi dada dan menyelimuti hatinya. Dengan tangannya yang besar, Naruto membelai kepala Hinata dengan sayang, mengusap rambut biru panjang gadis itu dengan kelembutan tak terperi. Betapa bodohnya dia karena sudah berpikir macam-macam, betapa dungunya dia karena sudah menyangka yang tidak-tidak. Kasih sayang gadis itu adalah nyata, murni dari hatinya yang terdalam, dan dia berani menganggap semua itu hanyalah kebohongan?
"Kau benar-benar bebal, Naruto Uzumaki..." dia memaki dirinya pelan, walaupun semua itu terucap hanya dalam kepalanya. "Gadis ini benar-benar menyayangimu sepenuh hati, tapi kau malah membuatnya menangis..."
Pemuda itu menangkupkan tangannya di kedua pipi gadis yang masih menangis di dadanya, lalu mengangkatnya pelan. Hinata mendongakkan kepalanya untuk menatap Naruto, matanya masih agak merah karena terus mengalirkan air mata, pipinya merah padam dan bibirnya gemetar karena isakan yang masih tersisa. Matanya melebar sedikit ketika menyadari kalau Naruto sedang tersenyum padanya, sebuah senyum yang hangat dan penuh rasa.
"Naruto-kun...?"
"Maafkan aku... karena sudah begitu bodoh..."
Wajah pemuda itu mendekat lalu mengecup dahinya, menyapu kulit Hinata dengan bibirnya dalam satu ciuman lembut. Gadis itu menutup matanya, menikmati kehangatan mendalam yang disebarkan oleh sang pemuda pada tubuhnya, walaupun itu hanyalah satu tindakan sederhana. Karena bagi Hinata, sesimpel apapun perlakuan Naruto padanya, kasih sayang yang tersimpan dalam perbuatan-perbuatan pemuda itu selalu bisa membuatnya merasa dikasihi, merasa dihargai dan dipedulikan.
Pria pirang itu melepaskan ciumannya, sebelum menarik sang gadis kembali ke pelukannya yang selalu membuat wanita itu merasa aman. Dia lingkarkan tangannya erat di sekeliling tubuh yang mungil dan mungkin sedikit kedinginan itu, sebelum mencium ubun-ubun Hinata, membiarkan aroma harum gadis itu merasuk ke indera penciumannya. Wajah Naruto menyimbolkan ketentraman, menyiratkan bahwa gejolak badai yang sempat mengamuk dalam hatinya kini telah surut, menyisakan sebuah gelombang kesyahduan tanpa riak. Selama Hinata ada bersamanya, kegelisahan itu tak akan menyerangnya lagi, Naruto yakin itu.
"Terima kasih, Hinata..." bisikannya pelan dan sunyi, namun jarak mereka membuat ucapan itu terdengar oleh wanita yang bersandar padanya. "Aku memang benar-benar membutuhkanmu..."
•
Frustasi, hanya itu kata yang mampu menggambarkan proses penulisan chapter ini. Padahal sudah jadi sejak Rabu, tapi entah kenapa hamba nggak puas, sampai akhirnya ada bagian (sekitar 2000 kata, 50% dari jumlah kata chapter ini) yang hamba hapus dan tulis ulang. Mau bagaimana lagi? Hamba tak ingin sampai ada pembaca yang kurang puas, walau mungkin hamba harus minum parasetamol setiap hari demi sakit kepala gara-gara mikirin cerita ini.
Oh ya, hamba punya satu permintaan, bisakah kalian menyebutkan apa yang kalian sukai, atau benci, dari fanfic ini? Tidak perlu ruwet-ruwet, cukup katakan dengan singkat saja. Hamba ingin tahu apa daya tarik dari cerita ini menurut sudut pandang kalian semua, walau tentu saja tak ada paksaan dalam permohonan ini. Jangan malu-malu untuk bilang apa yang ada dalam pikiran kalian, bahkan tidak banyak-banyak juga hamba sudah cukup berterima kasih, walau kepinginnya memang panjangan dikit lah...
Review lagi ya? Hamba kayaknya perlu dorongan lebih untuk mengerjakan chapter berikutnya... soalnya ada lemon yang musti ditulis...
Terima kasih sudah membaca!
Galerians, out.
