Galerians, in.
Huwaah! Leganya, akhirnya chapter ini selesai juga! Rasanya seperti dikepruk seluruh tubuh hamba gara-gara 2 hari penuh cuma mikirin dan nulis cerita ini terus! Namun rasanya sungguh memuaskan setelah habis, jadi bisa bernapas lega deh!
Baiklah, bagi mereka yang minta dan udah gak sabar, hamba nyatakan kalau chapter ini FULL LEMON!! Terserah kalian mau teriak, cakar dinding, lompat salto, atau apapun hamba gak peduli, pokoknya chapter ini penuh adegan-adegan 'wahiahahaha'... apapun artinya itu. Suka? Silahkan bersorak. Benci? Pergilah dan jangan baca ini. Karena apa? Berbahaya aja, gitu...
Dari chapter ini, gaya penyampaian bahasa hamba akan menjadi sedikit lebih... eksplisit. Begitu pula dengan istilah-istilah, namun hamba jamin tidak akan jadi vulgar! Kalian bisa pegang kata-kata hamba!
Silahkan membaca dan persiapkan mental anda!
•
Passion in the Midnight
Tubuh gadis itu kembali bergerak-gerak, dahinya yang sedikit berkerut menunjukkan kalau matanya yang terpejam bukanlah bukti bahwa dia sudah tidur.
Padahal posisinya sudah begitu nyaman, tubuhnya yang mungil bersandar pada seorang pria berjaket kuning yang memeluknya rapat. Walaupun mereka tidur di alam terbuka, dingin tak bisa merasuk ke tubuhnya karena kehangatan yang diberikan sang pemuda. Dan kalau harus jujur, maka dia juga tahu kalau tubuhnya sudah sangat lelah, matanya juga mengantuk. Namun untuk suatu alasan, dia tak bisa tidur.
7
Dia sudah menggeliat, dan terus-terusan mengganti posisinya sampai beberapa kali walaupun dilakukan pelan-pelan agar tak membangunkan pria yang mendekapnya, namun matanya terus terpicing seakan dia sudah meminum kopi robusta sebanyak satu drum. Karena usaha yang selalu berakhir sia-sia, akhirnya gadis itu membuka mata, menunjukkan dua bola berwarna biru abu-abu yang seindah permata pada dunia. Perlahan-lahan, wanita berambut biru panjang itu mendongakkan wajah untuk mengintip keadaan pemuda di sampingnya.
Hembusan napas yang teratur keluar dari dua lubang hidungnya, dan samar-samar sang gadis bisa mendengar dengkur halus dari si pemuda. Gadis bernama Hinata Hyuuga itu merasakan wajahnya memanas semakin lama dia menatap wajah dengan 3 kumis kembar milik laki-laki bernama Naruto Uzumaki itu, dan barulah dia menyadari apa alasannya tak bisa terlelap.
Berada dalam pelukan pria itu, membuat jantung Hinata tak bisa berhenti berdetak layaknya genderang perang, tambah lagi, tangan si pemuda yang kadang-kadang meremas pinggangnya membuat gadis itu tak tenang. Otaknya meneriakkan sesuatu yang tak bisa dia terjemahkan, namun batinnya jauh lebih jujur dan sederhana, dia menyuruh Hinata agar meraih kepala pemuda itu dan kembali menciumnya.
Pikiran rasional Hinata mendebat, 'Pemuda itu sedang tidur! Bagaimana mungkin kita menciumnya, tindakan itu bisa saja mengganggu ketenangan Naruto dan bahkan bisa membuatnya terbangun. Bagaimana jika pria itu tak bisa tidur lagi? Bukannya itu akan mempengaruhi misi yang harus dimulai besok? Kita tak bisa melakukan ini hanya karena sebuah keinginan egois, kita tak boleh membahayakan tingkat keberhasilan misi mereka hanya karena... kita ingin menciumnya...'
Tapi nuraninya menyanggah, 'Lalu bagaimana? Masa kita harus tetap duduk di sini sepanjang malam, menahan hasrat jasmani yang dijamin mampu membuat kita tak tenang dan tak bisa tidur? Bukankah itu berarti kita yang akan kurang istirahat, dan bukannya itu juga berarti kita akan semakin menyusahkan Naruto saat melaksanakan misi? Lagipula, kita hanya perlu satu ciuman, cuma satu sentuhan bibir yang tak lebih dari beberapa detik! Naruto terlihat begitu nyenyak, bagaimana mungkin pemuda itu bisa terbangun hanya dari satu sapuan bibir yang lembut?!'
Argumen itu berlanjut, 'Justru itu yang tidak boleh! Menciumnya saat dia sedang tidur seperti ini sama saja mencuri sesuatu tanpa izinnya! Bagaimana kalau Naruto marah?! Bagaimana kalau pemuda itu berpikir kalau kita adalah seorang perempuan yang tak bisa menahan nafsunya? Kalau sudah begitu, kita akan dianggapnya hanya seorang perempuan nakal yang tak lebih berharga dari seorang kupu-kupu malam!'
'Lalu apa saranmu agar kita bisa keluar dari situasi ini? Menahan diri, begitu? Kau sangat tahu kalau birahi macam ini terlalu kuat untuk sekedar ditahan, apalagi kita tak punya cukup kekuatan tekad untuk melawannya! Lagipula, bukankah sepanjang Naruto sangat menyukai ciuman ini kapanpun kita melakukannya, dan kita juga sudah sering melakukan hal-hal lain yang jauh, jauuh lebih panas dari sekedar kecupan! Masa iya dia marah hanya karena satu sentuhan bibir?!'
Tanpa Hinata sadari, sisi malaikat dan setan dalam dirinya sedang berperang dalam sebuah perdebatan yang bukan main panasnya. Di satu bagian, akal sehat Hinata berperan sebagai sisi yang berpikir dengan pertimbangan rasional dan didasarkan pada moral, dan di bagian lain, nurani Hinata mengambil peran sebagai sisi yang mengambil keputusan berdasarkan gairah dan nafsunya sebagai seorang wanita. Satu argumen dihantam dengan sanggahan lain, dan bukannya mendapatkan sebuah keputusan, Hinata merasa dirinya semakin dibuat bingung oleh cekcok yang terjadi antara batin dan pikirannya, antara hasrat dan akal sehatnya.
Setelah sebuah pertempuran panjang yang sukses membuat mata Hinata benar-benar terpicing lebar, akhirnya sebuah keputusan dibuat. Musyawarah yang alot itu akhirnya diakhiri dengan sebuah kesimpulan yang menyatakan kalau dia AKAN mencium Naruto, namun cukup hanya di pipi saja. Dan ciuman itu juga harus dilakukan sepelan dan sesunyi mungkin agar tak membangunkan pemuda itu dari tidurnya.
Hinata menggeser pantatnya sedikit agar duduknya menjadi lebih tegak, lalu meletakkan tangannya dengan halus di pundak Naruto untuk menggunakannya sebagai sanggaan, sebelum mulai menjulurkan lehernya dan mendekatkan wajahnya pada muka Naruto. Sepelan mendaratnya kupu-kupu di kelopak bunga, selembut kain satin kualitas dunia, Hinata mendaratkan sebuah ciuman di pipi pemuda yang paling dia sayang. Memejamkan matanya dengan syahdu, Hinata menikmati setiap momen kecupan yang dia lakukan, sebuah perbuatan egois yang murni berasal dari hasrat kewanitaannya.
...Masalah muncul. Hinata tak bisa menarik wajahnya. Atau tepatnya, tak mampu.
Aroma keringat tubuh Naruto merasuk ke lubang hidungnya, sebuah bau yang membuat pegangan Hinata pada bahu Naruto mulai berubah menjadi sebuah remasan pelan. Gadis yang kebingungan itu memaksa dirinya untuk menjauh sekuat tenaga, namun tetap tak bisa menjauhkan pandangannya dari wajah Naruto yang entah kenapa selalu terlihat tampan di matanya. Akhirnya dia tak bisa melawan impuls yang keluar dari hati kecilnya, Hinata kembali mencium pipi Naruto, namun kali ini jaraknya dengan bibir sang pemuda mulai mendekati level berbahaya.
Dalam satu menit penuh, Hinata hanya terus menciumi pipi Naruto tanpa pernah puas, bahkan sudah merambah ke seluruh wajah pemuda itu. Mulai dari pelipis, dahi, ujung hidung, alis, bahkan dagu Naruto tidak dilewatkan oleh kedua bibir pink Hinata yang kini mulai basah karena napasnya yang sedikit terengah. Andai saja tak ada kontrol diri yang menyuruh Hinata menahan diri, maka gadis itu pasti sudah mengalungkan tangannya di sekeliling leher Naruto dan melumat bibir pemuda itu habis-habisan, karena jujur saja, nafsunya sudah mencapai signal merah dan siap meletus.
Tangan Hinata kini sudah berada di dua pipi Naruto, semua ciuman yang dia lakukan membuatnya tak bisa menahan diri lagi. Dia ingin Naruto... dia sangat menginginkannya, saat ini juga! Dia tak bisa lagi mencegah hasrat untuk mengambil alih semua pikiran sehatnya!
•••
Naruto tak bisa tidur.
Bagaimana caranya dia mau melakukan itu? Dengan Hinata dalam pelukannya, dan tubuh mereka yang saling menekan, tidur menjadi hal terakhir yang ada dalam otak Naruto. Pemuda itu berusaha keras agar kegelisahannya tidak bisa dirasakan oleh sang gadis, dengan cara memejamkan matanya erat-erat dan membuat napasnya setenang mungkin.
Kebersamaan mereka yang kini ada dalam genggaman, sejujurnya sangat membahagiakan Naruto. Walaupun demikian, pertemuan kembali ini juga telah memicu sesuatu dalam dirinya untuk bangun. Sesuatu yang dia sendiripun tak sadar dia punyai, karena satu bulan ini dia terlalu tenggelam dalam kesedihan sehingga semua emosi lain bisa dibilang terlantarkan. Namun, sekarang, saat dia bisa menyentuh tubuh gadis itu, merasakan kehangatannya, mengetahui setiap lekukannya, Naruto baru sadar betapa besar api yang membara dalam dirinya. Api yang siap membakar hatinya dalam sekejab.
Hinata yang tidak berhenti menggeliat juga sama sekali tak membantu, karena setiap gerakan tubuh gadis itu laksana menyiramkan minyak pada api yang membara dalam dada lelaki remaja itu. Naruto yang sudah susah payah menahan dirinya dari perbuatan yang dia yakin tak sopan, kini menjadi jauh lebih tersiksa.
"Oh Tuhan..." bisik Naruto dalam hati ketika Hinata menggeserkan batang tubuhnya, membuat sebuah gumpalan hangat menyentuh bagian perut Naruto dan memberikannya perasaan kenyal yang aneh namun menggugah nafsu kelaki-lakiannya. "...Tolong bunuh aku sekarang. Aku sudah hampir tak tahan..."
Saat itulah Naruto merasakan gadis itu memperbaiki posisi duduknya, dan sedikit berat yang sejak tadi tersandarkan pada tubuhnya kini menghilang. Naruto masih menutup matanya, tapi kini tarikan napasnya sudah agak terganggu karena penasaran pada apa yang gadis itu mau lakukan, apalagi ketika dua tangannya yang mungil berpindah posisi ke pundaknya.
Tubuh Naruto langsung gemetar ketika dia merasakan kehangatan luar biasa di pipinya, beserta dengan datangnya aroma harum bukan main yang dia kenali sebagai wangi rambut Hinata. Setiap anggota badan pemuda itu semakin mengeras saat ciuman sang gadis kembali mendarat, bahkan kini merambah ke seluruh inci sudut wajahnya.
...Sampai akhirnya badan pemuda itu benar-benar sekaku batu, ketika kehangatan dua bibir Hinata menyentuh mulutnya, membuat kesadaran pemuda itu melayang-layang dalam rasa bahagia dan kenikmatan. Wangi yang terus tercium oleh hidung Naruto kini bekerja menjadi aphrodisiak, meningkatkan nafsu pemuda itu setiap detiknya. Dan seperti yang kita semua tahu, gunung yang meluap-luap karena siap meletus pun pasti akan meledak juga pada akhirnya.
Tangan Naruto yang semula hanya berada di atas pinggang Hinata, memeluk gadis itu, kini mulai bergerak ke bawah, menuju pinggul Hinata...
•••
"Hyau?!"
Gadis itu terpaksa menghentikan ciumannya yang menyenangkan ketika sebuah sensasi lain mengganggu indera perasanya, dan berasal dari sesuatu di belakang tubuhnya. Dengan tangan yang masih menangkup dua pipi sang pemuda, Hinata menolehkan wajahnya, hanya untuk melihat kalau perasaan aneh itu diciptakan oleh dua tangan yang kini menggenggam dan meremas-remas bokongnya.
"N-Naruto-kun—Hi, iyah?!" pekik gadis itu ketika remasan pemuda bertambah kuat dengan tiba-tiba, membuatnya merasa seperti sebutir jeruk yang sedang diperas sarinya. "A-apa yang...?!"
"Hinata," suara itu membuat Hinata bergidik, ketakutannya terbukti ketika dia mengembalikannya ke arah wajah sang pemuda, di mana kini dua mata sebiru langit menyala di tengah kegelapan. "Menciumiku seperti itu, kau benar-benar berusaha menggodaku ya?"
"B-bukan seperti itu—N-nn!" perkataan Hinata terhalang ketika wajah Naruto tiba-tiba melesat ke sisi kepalanya, lalu menggigit cuping telinganya, yang walau lembut, mengakibatkan perut Hinata serasa diisi oleh ular-ular yang terbuat dari api. Desahan gadis itu semakin nyaring dan basah terdengar ketika mulut Naruto berpindah ke lehernya. "A-aahh...!"
"Harus kuakui, kau sudah benar-benar membuatku bergairah," Naruto menyempatkan dirinya mengatakan itu sebelum menyelipkan dua tangannya ke balik jaket Hinata, membelai-belai punggung gadis itu dengan sayang. "Kau tahu? Aku HARUS memakai semua kendali diri yang kupunya untuk tidak memperkosamu sekarang juga, Hinata..."
"L-lalu, apa namanya untuk perbuatan yang kau lakukan sekaran—Hyan!!" Hinata memekik saat mulut Naruto menggigit lehernya.
"Tidak, aku tidak sedang memperkosamu. Aku sedang meMAKANmu..."
"Oh Tuhan..." bisik Hinata, pandangannya terasa semakin kabur dan napasnya pun semakin berat ketika mulut Naruto bergerak ke pangkal lehernya, membasahi leher gadis itu dengan air ludahnya. Dia menoleh ke bawah dengan wajah merona merah, dan matanya melebar ketika melihat mulut Naruto sudah berada di retsleting jaketnya. "N-Naruto-kun, kau mau apa?!"
Naruto hanya diam sambil menggigit retsleting itu dan menaiknya ke bawah dengan giginya, membuat dua bukit Hinata yang masih terbalut bra biru muda keluar membuncah ke udara malam. Gadis itu memekik pelan ketika wajah Naruto kembali ke depan tubuhnya, lalu menggigit klip yang membuat penutup dada sang gadis itu tetap terpasang.
"J-jangan...!"
"Kau bilang jangan..." Naruto menggantung perkataannya, menarik klip itu pelan-pelan. "...Tapi kau tidak melakukan apapun untuk menghentikanku..."
"I-itu k-karena..." Hinata terbata-bata, benaknya berkutat untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab Naruto. Namun dia terus-menerus gagal menemukan alasan apapun, sampai akhirnya Naruto berhasil menyelesaikan tindakannya. "Hyaa...!"
Bra itu terlepas dengan suara 'klik' pelan, membiarkan dua bukit Hinata mengacung ke udara bebas. Gadis itu menggigil sedikit karena kontak antara angin yang dingin dan kulitnya yang terbuka, tapi seluruh tubuhnya segera memanas saat menyadari tatapan tajam Naruto pada tubuhnya.
Dulu, ketika pertama kali melakukan ini, tubuh mereka berdua sudah dalam keadaan tidak berbaju alias telanjang bulat. Saat itupun Hinata sudah merasakan malu yang tidak kira-kira. Tapi sekarang, dia merasa jauh lebih malu ketika Naruto menelanjanginya perlahan-lahan, dan semakin wajahnya merona merah ketika mata biru langit pemuda itu meneliti setiap lekuk dadanya yang terpampang jelas.
"Tidak~! Jangan lihat aku seperti itu~!" rengek Hinata sambil berpaling ke samping agar rona wajahnya tidak bisa dilihat oleh Naruto, tangannya bergerak naik ke arah wajah pria itu untuk menutupi matanya agar berhenti menatapnya. Tapi Naruto dengan mudah menangkap tangan Hinata, lalu menjauhkannya agar dia bisa kembali memandangi apa yang sudah menjadi haknya. "Naruto-kun jahat~!"
Jujur harus dia katakan, setiap rengekan yang dibuat oleh suara merdu Hinata malah semakin membantu nafsunya naik ke puncak tertinggi, dan pemandangan gadis yang kini memalingkan wajahnya yang merah padam ke samping itu benar-benar terlihat manis di matanya. Mata Naruto kembali ke dua gumpalan di dada Hinata, entah kenapa kali ini mereka terlihat lebih besar dan padat daripada apa yang dia ingat, bahkan putingnya sudah tegak dalam ketegangan penuh pertanda gairah gadis itu tergetar hanya karena ditatap terus olehnya. Pemuda itu tersenyum tipis, selera batinnya sudah tak bisa dicegah lebih lama lagi.
"Hyanh...!" gadis itu menjerit pelan ketika merasakan sentuhan pada dua dadanya, sebuah kontak kulit yang membuatnya serasa disentuh oleh jilatan api yang panas membara. Dia menggigit bibirnya sambil berusaha menahan suaranya ketika dua tangan itu mulai bergerak dalam pola lingkaran, sentuhannya berjalan dengan sangat lambat sampai terasa menyakitkan.
Geliat tubuh Hinata makin jelas terlihat ketika Naruto mengistirahatkan wajahnya di antara belahan dua bukitnya, hembusan napas sang pemuda yang hangat mengirimkan butiran-butiran kenikmatan ke setiap inci tubuh sang gadis yang kini tak bisa berhenti bergerak layaknya cacing kepanasan. Bibir yang terus digigit karena ingin menahan suara akhirnya terpaksa dilepaskan, karena kenikmatan yang diterima Hinata saat mulut Naruto menjelajah dua bukitnya terlalu besar sampai membuat otaknya terasa seperti kosong melompong.
Sebuah jeritan menggema di udara.
"Aaanhh!!"
Naruto sudah tak peduli lagi pada dunia dan seisinya, karena kini setiap sudut pikirannya hanya dipenuhi oleh Hinata dan tubuhnya yang indah bukan buatan. Jeritan gadis itu membuatnya semakin bersemangat, namun dia terus menghindar dari mengenai bagian puncak bukit yang terus dia ciumi karena Naruto selalu menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir.
Pemuda itu merasakan dua tangan mungil dan halus milik Hinata mencengkeram kepalanya, lalu meremas-remasnya penuh gairah. Melihat isyarat lampu hijau itu, Naruto menjulurkan lidahnya, lalu menyapu gundukan pink yang terdapat di puncak kedua gunung yang terus dia daki.
"Haa...! Aah...!!" volume suara Hinata kembali bertambah ketika Naruto menjepit puting bukitnya dengan mulut dan menyedotnya dengan tak sabar seperti balita yang kelaparan. Merasa masih belum cukup dengan perbuatannya, tangan Naruto ikut membantu dengan terus meremas dada itu dengan tenaga yang lebih ditingkatkan.
"Wow, Hinata..." ucap Naruto setelah cukup puas menikmati dada kekasihnya itu. "Kau jauh lebih wangi daripada yang kuingat..."
"J-jangan... jangan bicara mesum begitu..." jawab Hinata di sela-sela desahannya.
"Oh, tapi kau selalu suka jika aku mesum di hadapanmu kan?" tanya Naruto dengan jenaka, membuat rona merah di wajah gadis itu semakin gelap. "Lagipula apa salahnya menghargai sebuah maha karya?"
"A-apa maksudmu maha karya?"
"Oh, hampir semua gadis mungkin bersedia mati untuk mendapatkan tubuh seperti ini..." Naruto bicara sambil mendekatkan hidungnya kembali ke dua bukit Hinata yang berkilauan karena keringat, lalu mengendusnya. "Kau langsing, namun dadamu besar bukan main. Sudah begitu, tanpa parfum sekalipun, tubuhmu selalu harum... apa lagi namanya semua keindahan ini kalau bukan maha karya...?"
"B-bukan begitu kok. Tubuhku tidak seindah itu..."
"Jadi perlu kubuktikan?" tanya Naruto sambil memegang pinggir celana Hinata. "Hmm? Bagaimana?"
"A-apa yang...? E-eh, jangan...!"
Namun sebelum sempat menghindar, Naruto telah menarik celananya dan melempar kain tersebut ke belakang tubuhnya, meninggalkan Hinata hanya dengan celana dalamnya yang juga berwarna biru muda. Merasa sangat malu sampai ke ujung telinganya, gadis itu melepaskan cengkeraman tangannya di kepala Naruto lalu menutup wajahnya rapat-rapat.
"Nah, mari kita taksir seberapa 'indah' bagian ini..." kata Naruto sambil menyentuh lutut Hinata, dan mulai menjalankan tangannya pelan-pelan sepanjang paha mulus dan padat milik gadis itu. "Hm, seputih susu, semulus sutera dan tak ada gelambir sedikitpun..."
Kedua kaki gadis itu menegang sebentar seperti dilanda kejang singkat, ketika mulut Naruto mencium bagian dalam pahanya. "Dan rasanya pun sungguh lezat..."
Setiap hembusan napas yang keluar dari mulut Naruto dapat membuat gadis itu mengetahui bahwa dalam setiap detik dan ciumannya, wajah pemuda itu semakin dan semakin dekat dengan area kewanitaannya. Hanya saja, dia tak bisa melakukan apapun untuk mencegah pemuda itu, karena untuk menahan suaranya agar tidak merintih-rintih seperti orang gila pun sudah cukup membuat Hinata kehabisan tenaga dan hampir tak berdaya.
Napas Hinata sudah terengah-engah ketika akhirnya mulut Naruto sampai ke bagian di antara pangkal paha gadis tersebut. Naruto mengambil kesempatan untuk mencuri pandang ke arah wajah sang gadis yang kini bersandar ke pohon, dia bisa melihat nyala api unggun terpantul dari dua bola mata berwarna biru abu-abu itu, seakan memberitahukannya tentang nafsu gairah yang berapi-api dan tak mungkin dipadamkan lagi.
"Apa harus kuteruskan...?" tanya Naruto sambil tersenyum lebar, walaupun dia sudah mengetahui jawabannya dengan sangat pasti.
"Uuh~..." Hinata memasang wajah cemberut, yang malah membuatnya semakin terlihat imut. "Naruto-kun, bagaimana mungkin aku bisa menjawab itu...?"
"Tak perlu," jawab Naruto sambil menjepit tali yang mengikat bagian sisi celana dalam dengan ibu jari dan telunjuknya, sebelum menariknya sampai lepas. "Wajahmu yang merah padam sudah memberitahuku apa yang kau inginkan..."
"Mmn!"
•••
Dengan lembut dan penuh perasaan, Naruto menggunakan tangannya untuk menaikkan kedua kaki langsing Hinata ke bahunya, sebelum menurunkan wajah ke bawah untuk menemui tujuan akhirnya. Untuk beberapa saat, pemuda itu hanya menikmati mencium permukaan selangkangan Hinata yang basah itu, menghirup napas dalam-dalam sehingga wangi dari tubuh sang gadis merasuki setiap inci indera penciumannya. Perlahan-lahan, dia mulai bisa merasakan bagian mulutnya itu berubah lembab, dan bau wangi itu menjadi semakin kuat.
"Anh!" Hinata mengeluarkan pekik tertahan saat Naruto menjulurkan lidahnya, namun pemuda itu hanya menyentuhkannya dengan lembut tanpa aksi apa-apa. Beberapa detik mempertahankan posisi itu, Naruto mulai menjilat naik di sepanjang garis vertikal kewanitaan gadis itu, mendapatkan sebuah remasan lembut di kepalanya sebagai hadiah. "Mmn...! N-Naruto-kun...!"
Bagai seorang kucing yang bertemu semangkuk susu, lidah Naruto terus bergerak naik dan turun untuk mencicipi rasa Hinata yang semakin lama semakin berubah manis. Perempuan yang kini sudah kehilangan fokus pandangannya itu melempar kepalanya ke belakang ketika Naruto menarik lidahnya mundur, namun mengecup kemaluan sang gadis sebagai penggantinya.
"Wow, Hinata..." pemuda itu berbisik pelan sambil menarik kepalanya, memandang wajah Hinata yang semerah mobil pemadam kebakaran. "Rasamu begitu enak, rasanya aku bisa melakukan ini sepanjang malam..."
"Naruto-kun, i-itu—A-au!" punggung gadis itu melengkung ke depan ketika sekali lagi wajah Naruto sekali lagi menghampiri area selangkangannya, bibir Naruto menangkap segumpal daging kecil yang penuh saraf paling sensitif di bagian kewanitaan Hinata, bernama klitoris. "Hyaa...! Ahh!!"
Naruto memperhatikan ekspresi Hinata sekali lagi, melihat wajahnya yang memerah dan napasnya yang terengah adalah satu-satunya bahan bakar yang bisa meningkatkan kerja motor cinta di tubuh Naruto. Pemuda itu melihat sekali lagi pada belahan vertikal di selangkangan sang gadis, memuaskan pandangannya dengan warna pink Hinata dan aromanya yang memabukkan, sebelum mengacungkan lidah dan menyelipkannya di antara bibir kewanitaan yang terbuka dan basah kuyup itu. Rangsangan terakhir Naruto benar-benar menghancurkan pertahanan Hinata, dia bisa merasakan sensasi sesuatu mengalir dari dalam perutnya dalam sebuah gelombang cepat. Cengkeraman sang gadis pada rambut pirang di kepala sang pemuda langsung bertambah kuat dalam sekejab sampai terasa agak menyakitkan, namun Naruto yang tahu apa yang akan terjadi, tetap mempertahankan wajahnya di depan bagian suci tubuh sang gadis.
"AAHNN!!" jeritan Hinata bergema di kegelapan malam, selagi Naruto membuka mulutnya lebar-lebar sampai menutup kewanitaan gadis itu seluruhnya. Hanya perlu menunggu beberapa saat sampai pemuda itu merasakan cairan hangat menyembur ke dalam mulutnya, sesuatu yang langsung dia telan dengan segera, menikmati rasanya yang manis dan lezat. Tubuh gadis itu terus menegang ketika Naruto menjilati setiap tetes terakhir yang bisa dikeluarkan olehnya, sampai akhirnya tubuh Hinata merosot lemas di batang pohon yang dia jadikan sandaran dengan kedua tangan terkulai lemah.
"Naruto-kun..." gadis itu mengangkat tangannya yang lemas tak berdaya ketika pemuda itu memperbaiki posisinya hingga kini dia berlutut di depan Hinata, lalu mengalungkan keduanya di leher sang pemuda yang menunduk untuk menciumnya lembut. "Mmnh..."
Naruto meraih retsleting celananya dan menariknya turun, tanpa melepaskan bibir Hinata dia membiarkan 'roket'nya terbebas dari sangkar yang mengekang. Pemuda itu menatap gadis yang menunggu di hadapannya sekali lagi hanya sebagai kepastian. Hinata mengangguk dengan tak sabar, mengisyaratkan agar Naruto cepat-cepat mulai memainkan sebuah melodi cinta yang hanya diketahui oleh mereka berdua.
Yang membuat Hinata heran adalah tangan Naruto yang tiba-tiba memegang pinggangnya, dan dalam keterkejutan, membalikkan tubuh gadis itu sehingga dia berlutut menghadap pohon yang semula dia sandari. Ketika Hinata yang masih bingung menoleh melewati bahunya, Naruto dengan cepat memeluk tubuh sang gadis dan menungganginya dari belakang.
"N-Naruto-kun...?!" suara Hinata tercekat sedikit ketika mulut Naruto bergeser menyusuri garis punggungnya, kedua tangan kekar milik pemuda itu meraih kaki sang gadis lalu mengangkangkannya sedikit. "K-kau mau apa...?"
"Santai saja..." bisik Naruto menenangkan, bibirnya kini telah mencapai bulu kuduk Hinata, membuat gadis itu menggigil dan mengerang dengan tubuh menggelinjang. "Ini mungkin sedikit kasar, tapi pasti terasa luar biasa..."
Hinata menjerit lepas ketika Naruto memasukkan kejantanannya tanpa sedikitpun keraguan, dengan cepat dan tanpa menahan diri sedikitpun. Setelah menarik satu napas panjang, pemuda itu memulai gerakannya, pelan dan santai di permulaan tapi dengan cepat meningkatkan momentum.
"Hyanh!!" rintihan Hinata semakin tak terkendali ketika Naruto menyentakkan pinggangnya dengan kuat, membuat setiap saraf di tubuh Hinata seperti dijatuhi oleh bom atom, hancur berantakan dengan serpihan yang tersebar ke mana-mana. Kenikmatan yang begitu hebat melanda membuat gadis itu merasa akan jadi gila. "Aah! Auh!"
"Guh...!" Naruto hanya mampu menggeram ketika pertahanan Hinata meningkat pesat, sang pemuda bisa merasakan kejantanannya yang diapit kuat oleh dinding liang hangat itu sampai membuatnya merasa seperti sedang berada di mesin press. Pemuda pirang itu hampir tak bisa percaya bagaimana caranya gadis itu bisa menjadi jauh lebih sempit seiring waktu berjalan.
Tangan Hinata mencakar-cakar kulit pohon yang kini dia cengkeram sekuat mungkin demi menyalurkan sensasi menyenangkan yang hampir tak bisa ditahannya, dahi gadis itu menempel ke permukaan kasar kayu dan mulutnya tak bisa berhenti merintih dan mendesah, yang kadang diselingi oleh pekikan maupun jeritan setiap kali Naruto memutuskan untuk menghempaskan kejantanannya kuat-kuat.
Naruto kembali harus mengerahkan tenaga karena setiap kali dia menarik rudalnya, kewanitaan Hinata selalu seperti mengisapnya kembali dengan kekuatan yang membuatnya terkejut, seakan-akan organ suci kewanitaan gadis itu mengisyaratkan padanya untuk terus menerkam dan memberinya kenikmatan. Hinata sendiri tak lagi mampu membedakan mana kiri dan kanan, atas bawah, atau bahkan yang mana kenyataan dan yang mana mimpi. Satu-satunya hal yang bisa dicerna oleh otaknya kini adalah kebahagiaan yang memenuhi sekian sudut nuraninya dan kenikmatan yang meliputi total setiap inci tubuhnya, mulai dari ujung jari kaki sampai ujung rambutnya yang panjang.
Hinata tak tahu apa dia bisa berhenti menggelinjang dan menggeliat, karena setiap kali Naruto menggenjot pinggangnya maju mundur, jaket orange yang melekat di tubuh pemuda itu akan bergesekan dengan kulit punggungnya, membuat gadis itu bisa merasakan permukaan kainnya yang kasar. Bukannya merasa tak nyaman, sang gadis berambut biru panjang itu malah menerjemahkannya sebagai rangsangan yang membuatnya meracau dalam erangan-erangan erotis, tak terkontrol seperti orang kerasukan setan.
Suara becek sudah mulai bisa terdengar dari selangkangan Hinata yang basah bukan main, bahkan cairan hangat itu mulai menetes sampai membentuk sebuah genangan di antara lututnya setiap kali tubuh mereka beradu.
Dorongan dan tikaman Naruto mencapai kecepatan menggila, tangannya bergerak ke dua bukit di dada Hinata dan mulai mengacak-acaknya tanpa aturan dengan tekanan yang dipastikan cukup untuk mengeluarkan air susu andaikan gadis itu memilikinya. Hinata meneriakkan nama Naruto dengan suara nyaring yang sebenarnya bukan tipikal gadis itu, tapi dalam kesenangan dan percintaan yang liar ini, seorang Hinata yang pemalu pun pasti bisa berubah menjadi wanita penuh nafsu dan gairah.
...Malam semakin larut.
•••
"...L...bih...k...as..." Naruto mengerutkan dahinya, karena dia merasa mendengar seseorang berkata sesuatu, namun begitu lemah dan samar sampai dia sendiri tidak begitu yakin dan ragu akan pendengarannya. Pemuda itu memberi Hinata sebuah pandangan heran, sangat yakin kalau hanya gadis itu yang mungkin mengatakan apa yang dia dengar tadi, maka dia memutuskan untuk bertanya, "Hinata, kau bilang apa?"
"Bu-bukan—hyan!—apa-apa...!" kata gadis itu dengan terburu-buru, namun sang pemuda tak bisa menerima jawaban itu.
Naruto berhenti bergerak dengan tiba-tiba dan sepenuhnya, memundurkan pinggangnya sehingga tubuh mereka berdua berhenti terhubung. Gadis itu mencoba meraih Naruto agar dia kembali mengacaukan tubuh dan sarafnya, namun pemuda itu hanya diam di sana tanpa melakukan apapun, sebuah seringai muncul di bibir pemuda itu.
"Oh, N-Naruto-kun, jangan berhenti..."
"Kau tadi bilang apa?"
"I-itu tidak penting...!" seru Hinata dengan suara putus asa, tangannya menggapai-gapai Naruto seakan berusaha meraih pemuda itu, namun tubuhnya yang sudah melemah dari ekstasi percintaan membuat gadis itu bahkan tak bisa lagi meluruskan punggungnya dan hanya bisa terkulai lemah pada pohon di hadapannya. "Tak usah pedulikan itu... kumohon, jangan berhenti sekarang... jangan lakukan ini padaku..."
"Hanya jika kau beritahu apa yang tadi kau katakan..." Naruto tersenyum kejam, lalu kembali memeluk tubuh gadis itu dari belakang, menanamkan beberapa kecupan di sepanjang punggung Hinata yang basah dengan keringat. Pemuda itu memang kembali mempertemukan batang rudalnya dengan liang hangat Hinata, namun hanya sekadar menyentuh dan tidak dimasukkan, bertekad untuk membuat gadis itu tersiksa. Hinata mendesis pelan ketika rasa sakit menyerang lehernya, di mana Naruto menggigitnya dan membenamkan gigi taringnya yang tajam untuk kesekian kali malam ini.
"I-itu hanya—Ahn!" perkataan Hinata terganggu karena si rambut pirang menjilat sisi belakang daun telinganya, bahkan melanjutkan dengan menghisap cuping telinga gadis itu dan membuatnya mengerang panjang. "Hyaan!"
"Jadi?"
"A-aku tadi bilang..." Hinata memalingkan wajahnya karena malu luar biasa. "Le... lebih...keras..."
"Hah? Apa tadi?" kata Naruto menggoda, walaupun dia sudah mendengar itu dengan jelas tapi pemuda ingin membuat Hinata jauh lebih malu lagi. "Terlalu pelan, tidak kedengaran."
"Lebih keras..." gadis itu berbisik dengan wajah memberengut sehingga pipinya berkedut, seperti anak kecil yang sedang merajuk. Tanpa sepengetahuan sang gadis, Naruto sudah memposisikan kembali kepala rudalnya tepat di depan pintu masuk kewanitaan Hinata. "Aku mau kau melakukannya lebih kera—HAUU!!"
Naruto menyentak dengan kekuatan yang membuat pinggangnya bertemu pantat Hinata dengan suara 'plak!' yang nyaring terdengar, membuat gadis itu menjerit sampai puncak volume suaranya. Tanpa menilik godaan yang sejak tadi dia lakukan pada Hinata, sebenarnya pemuda itu juga sudah tak sabar karena dia sendiri sangat dekat dengan klimaks. Jepitan dinding-dinding otot serviks Hinata pada batang Naruto juga sudah mencapai tahap maksimal, sampai-sampai stamina pemuda itu terkuras hanya demi memuaskan gairahnya dengan terus menggenjot Hinata.
"Hmmn...!" gadis itu mengerang ke dalam mulut Naruto ketika pemuda itu meraih dan memalingkan kepalanya ke samping, di mana dua pasang bibir bertemu dan lidah mereka berdansa dalam suara berisik penuh erotisme dan bermandikan air ludah. Tangan pemuda itu kembali meraih buah dada Hinata dan mulai memijit-mijit putingnya yang sudah mengeras penuh dengan ibu jari dan telunjuknya, membuat rintihan-rintihan panas keluar bersamaan dengan napas yang terengah-engah dari mulut Hinata.
"La-lagi—HYANH!—Naruto-kun, lebih cepat lagi...!" tangan kanan Hinata bergerak meraih kepala penuh rambut pirang itu dan menariknya untuk menciumnya sekali lagi, memaksa Naruto untuk memegangi perut Hinata agar gadis itu tak kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. "Mnnh! Hyau! Ahhn!"
"H-Hinata, r-rasanya aku...!"
"A-aku juga...! Aku juga, Naruto-kun—Hyaahh!" kepala gadis itu melengos ke kanan kiri untuk mengurangi sedikit sensasi yang memandikan seluruh saraf tubuhnya dan mendorongnya mendekati kegilaan, gerakan Naruto yang sudah tidak manusiawi menandakan kalau pasangan itu siap mencapai puncak dan pergi bersama ke dunia penuh kenikmatan. Sampai akhirnya, pelukan Naruto pada tubuh mungil Hinata menjadi sangat erat dan seluruh tubuh mereka bergetar dengan ganas... frustasi yang sudah lama tertahan pun terbebas. "AAHHN!!"
"G-GHH!!"
Pegangan Hinata pada pohon di depannya terlepas selagi tubuh mungilnya menggigil karena diserang gelombang demi gelombang kenikmatan orgasme yang memuncak setiap detiknya, membuat kepalanya terasa kosong dan setiap anggota badannya lunglai seperti lumpuh. Andai tak ada dua tangan kekar Naruto yang tetap memeluknya rapat, gadis itu pasti sudah roboh ke tanah dan mengotori tubuhnya yang berkeringat dengan debu. Kekasihnya yang berambut pirang mengangkat tubuhnya dengan lembut, melepas jaket orange pada tubuhnya lalu menutupi tubuh Hinata yang telanjang dengannya. Naruto duduk bersandar ke pohon, lalu menyandarkan Hinata pada tubuhnya, membiarkan kepala gadis itu berbaring di dadanya yang bidang.
"Hei, Hinata..."
"...Apa...?" sahut Hinata dengan suara yang begitu pelan sampai menyerupai bisikan, kelelahan telah menguasai seluruh tubuhnya sehingga tetap bangun pun menjadi begitu sulit.
"Bisakah kita tidur sekarang...?"
Mereka berdua terkekeh pelan dengan lelucon itu, lalu memejamkan mata dengan damai, membiarkan rasa penat dan capek membawa mereka ke alam mimpi yang tenteram dan penuh ketenangan.
...Malam mencapai puncak.
•
Baru ngecek story stats, dan kalau boleh jujur, hamba agak kecewa dengan cerita ini... atau tepatnya terpukul, mungkin? 400 orang yang membaca chapter 6, dan hanya ada 19 orang yang mereview...? Ratusan pembaca, dan hanya 4.5% yang suka?
Apa itu berarti tulisan hamba sudah tak menarik lagi? Atau jangan-jangan, cerita ini sudah nggak seru lagi, tidak memuaskan lagi? Jadi ragu, apa fic ini harus hamba teruskan ya?
Ah, sudahlah. Semua itu kan terserah readers ya... hamba tak punya hak sedikitpun untuk mengeluh...
Bye bye...
Galerians, out.
