Galerians, in.
Oke, biarkan hamba mengucapkan ini dulu… MAAFKAN HAMBAA~!
Satu bulan lebih hamba merenungkan ini, dan akhirnya kesimpulan telah diambil. Fic ini sudah melenceng terlalu jauh dari script awal yang hamba susun! Pada awalnya, sama sekali tak ada rencana membikin sampai ada Ichigo-nya begitu, namun dengan bodohnya, hamba terlalu luas berimajinasi sampai akhirnya jalan cerita ini jadi rusak!
Dan karena itulah, hamba umumkan, chapter 8, 9, dan 10 yang sebelumnya dihapus total! Hamba akan mengembalikan cerita kembali ke jalurnya yang semula, sesuai plot yang telah hamba tentukan sejak awal membuat fic ini. Dan, karena kesalahan yang begitu berat ini, hamba sekali lagi MOHON MAAF! Tolong, seseorang datanglah ke sini dan hajar hamba sampai babak belur.
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC. Dan satu lagi, this chapter contains lemon
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of Naruhina's romance for those who read.
~••~
Midnight Temptress
"Na-ru-to-kun."
Tubuh Naruto gemetaran, telapak tangan dan dahinya terasa basah oleh keringat dingin. Ketakutan perlahan-lahan menyusup ke sela sukmanya, menegakkan bulu-bulu roma dan menghadirkan bayangan-bayangan mengerikan dalam kepalanya.
"T-tunggu…" Naruto mendengar mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara, walau dia sendiri tak yakin apakah otaknya memerintahkan hal tersebut. Yang dia tahu, instingnya yang terlatih membunyikan sinyal bahaya, mungkin itulah kenapa mulutnya bisa bergerak dan mengeluarkan kata-kata sendiri. "B-bisa kita bicarakan ini dulu…?"
"Untuk apa…?" jawaban itu mengkonfirmasi ketakutannya, memaksa setiap benang otot dalam tubuh Naruto menegang seperti sedang kejang. Makhluk berambut biru panjang itu merayap kian dekat, mendekat padanya yang sama sekali tidak bergerak. "Kita berdua tahu kau akan menyukai ini, ya kan Naruto-kun…?"
Tuhan, mengapa oh mengapa? Padahal dia sudah berhasil menyelesaikan misi dengan hasil gemilang, bahkan dialah yang memastikan kalau semua missing nin itu babak belur, dengan tinju dan pukulannya sendiri. Misi sudah tuntas, dan sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Lalu mengapa hal ini bisa sampai terjadi?
'MENGAPAA!'
~•~
"Jangan terlalu memaksakan diri, Naruto-kun. Tubuhmu itu belum sembuh sama sekali."
"Ugh," Naruto menggeram. "Maafkan aku, Hinata. Kau jadi repot mengurusku begini…"
"Nah-ah, jangan, jangan," Hinata menggelengkan kepalanya. "Kalau kau bilang begitu, aku jadi merasa bersalah. Kau mendapat racun ini karena melindungiku kan?"
"Y-yah, aku hanya bergerak dengan insting sih…"
"Memang seperti itulah kau, Naruto-kun," Hinata tersenyum tipis. "Selalu dan selalu saja ingin melindungi orang lain. Kau bahkan hampir tidak membiarkan aku apa-apa dalam misi kali ini, semuanya kau yang kalahkan…"
"A-aku kan cuma tidak ingin melihatmu terluka…"
"Tapi kau jangan lupa kalau aku ini juga seorang shinobi dong…" Hinata duduk bersimpuh di samping tempat Naruto terbaring. "Sekarang, kau bisa duduk kan? Biar kubersihkan dulu tubuhmu…"
"Y-ya, tentu saja—U-uugh…"dahinya yang berkerut sudah menjadi cukup bukti bahwa Naruto harus berjuang bahkan untuk sesuatu yang begitu sederhana, dan akhirnya ia masih perlu bantuan Hinata untuk melakukannya. "Ugh, setengah lumpuh seperti ini benar-benar menyusahkan!"
"Kurasa kau harusnya bersyukur lho..." ujar Hinata, tangannya bekerja membuka kancing piyama biru muda yang melekat di tubuh Naruto. "Racun sekuat itu seharusnya sudah membunuh semua fungsi tubuhmu sejak belasan jam yang lalu, tapi sampai sekarang kau masih baik-baik saja…"
"Itu karena chakra Kyuubi," Naruto mendesah. "Kadang aku bingung harus berterima kasih atau marah pada rubah itu."
"Tentu saja kau harus berterima kasih. Sekarang, angkat tanganmu," Hinata mencuci handuk putih kecil itu di dalam baskom berisi air hangat sebelum mulai membersihkan sisi tubuh Naruto. Ketelatenannya membuat kegiatan itu selesai kurang dari satu menit. "Selesai. Kau mau pakai piyamanya lagi, Naruto-kun?"
"Begini saja deh. Lebih adem."
"Kalau begitu, biar kubereskan ini dulu—ah," terdengar suara ketukan di pintu dan Hinata pergi keluar kamar untuk membukanya. Naruto bisa mendengar sebuah percakapan singkat sebelum ada suara pintu tertutup dan munculnya Hinata kembali, kali ini membawa sebuah baki kecil di tangannya. "Naruto-kun, pemilik penginapan mengantarkan makan malam, kau mau?"
"Oh, pas banget!" seru Naruto, wajahnya langsung menyala dengan kegembiraan. "Eh, lalu 3 botol itu?"
"Aku tak sempat tanya, tapi baunya manis, jadi kurasa pasti nggak apa-apa," kata Hinata sambil meletakkan baki itu di samping futon Naruto. Dia mengangkat salah satu dari 3 botol porselen putih dengan motif bunga teratai itu dekat ke wajahnya, seakan berusaha mengintip isinya. "Minuman apa ini ya?"
"Bagaimana kalau coba saja? Aku sih mau makan dulu."
Menjadi shinobi kadang mengharuskan seseorang untuk tahan tidak makan selama beberapa hari, namun kelihatannya itu tidak berlaku bagi seorang Naruto Uzumaki. Baru tidak makan selama 11 jam saja sudah membuat Naruto menyantap makanannya seperti seekor serigala yang kelaparan, begitu cepat sampai-sampai seperti tanpa dikunyah dahulu dan langsung ditelan begitu saja.
Selagi perhatian Naruto terfokus seluruhnya pada piring penuh makanan yang masih panas itu, Hinata masih terperangkap dilema. Seperti saran Naruto, sebenarnya dia ingin mencoba meminum apa yang terdapat dalam botol porselen tersebut, namun ada keraguan dalam hatinya, seakan-akan ada sesuatu yang memperingatkannya akan bahaya yang tersembunyi.
Walau demikian, karena beberapa menit perenungan yang dalam tetap tak menghasilkan keputusan, dan setelah Hinata cukup yakin kalau apapun yang ada dalam botol itu tak mengandung bahaya, gadis itu menelan keraguannya bersama-sama dengan satu teguk minuman tersebut.
'Em…' Hinata menjilat bibirnya sekali. 'Rasanya… aneh…'
~•~
"Hwah, puas!" seru Naruto sesegeranya setelah makanan terakhir meluncur turun ke dalam lambungnya. "Hinata, mana minumannya tadi? Aku juga mau coba—eh, kok dihabisin?"
2 botol yang sudah kosong kini tergeletak terlupakan di lantai, sedangkan botol terakhir kini masih berada di bibir Hinata selagi gadis itu mereguk isinya dengan antusiasme yang mencurigakan. Naruto melihat sang gadis meletakkan botol yang sudah kosong itu di sampingnya, rasa heran segera menjajah hati Naruto saat melihat gerakan Hinata yang entah kenapa terlihat lemas.
"Ah, m-maaf, Naruto-kun…" bahkan suaranya terdengar kurang jelas, seperti orang baru bangun tidur saja. "Rasanya agak aneh, tapi entah kenapa aku jadi ingin terus meminumnya. Tahu-tahu saja, aku sudah menghabiskan semuanya…"
"Em, sebenarnya nggak masalah kok. Tapi…" Naruto mulai khawatir. "Kau yakin kau baik-baik saja, Hinata? Wajahmu merah lho…"
"E-eh…?" Hinata menyentuh wajahnya sendiri seakan berusaha mengklarifikasi pernyataan Naruto. "Aku…"
"Hinata?"
"A-ah, aku yakin tidak apa-apa kok…!" Hinata berdiri dengan tiba-tiba dan terburu-buru, namun suaranya yang agak kelebihan volume tak bisa menyembunyikan keanehannya. Apalagi Naruto tahu, gerakan Hinata yang biasanya selalu elegan dan penuh keanggunan, namun yang ia lihat sekarang hanyalah berantakan. "A-aku mau cuci muka dulu…! Kau bisa tidur duluan, Naruto-kun…!"
Bilang begitu sih boleh-boleh saja, tapi kecurigaan yang mengisi rongga dada Naruto kini malah membengkak, sampai pada tingkatan yang mengakibatkan sang Sennin sama sekali tak bisa memejamkan mata walau dengan perut yang telah kenyang sekalipun. Menunggu dalam kegelisahan, menit demi menit berlalu tanpa tanda-tanda kembalinya Hinata, membuat Naruto semakin yakin telah terjadi sesuatu pada gadis tambatan hatinya.
'Apa dia baik-baik saja ya?' Naruto bertanya dalam hati, kekhawatiran dalam kepalanya membuat pemuda itu sama sekali tak menyadari suara langkah kaki yang pelan-pelan mendekat ke kamarnya. 'Kalau kuingat-ingat lagi, Hinata jadi aneh setelah menghabiskan minuman itu…'
Walaupun harus susah payah mengerahkan upaya karena terhalangi tubuhnya yang setengah lumpuh, Naruto berhasil meraih botol terakhir yang ditinggalkan Hinata dan menariknya. Dan memang, aneh adalah satu-satunya kata yang keluar dalam kepalanya saat Naruto mengendus aroma yang menguar tipis di bibir botol porselen tersebut, tapi entah di mana dalam kepalanya Naruto yakin dia kenal bau ini.
Rasa penasaran yang membeludak dan kenyataan bahwa masih tersisa beberapa tetes cairan dalam botol itu telah berhasil menyenggol keingintahuan Naruto, membuatnya meletakkan benda itu di bibir dan menuangkan isinya yang tidak seberapa. Sedetik kemudian, kesadaran menghantam Naruto dengan kekuatan tinju Mike Tyson.
"I-ini…!' mata Naruto melebar. 'S-sake!'
Berikutnya, dua peristiwa terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu pintu yang tiba-tiba terbuka kembali dan lampu yang mendadak mati. Cahaya kembali menyala beberapa detik kemudian, walaupun kini penerangan telah turun menjadi sekadar remang-remang, yang bukanlah masalah besar bagi seorang Naruto. Yang masalah baginya, adalah apa yang ditunjukkan oleh cahaya tersebut…
Penglihatan Naruto jatuh pada sebuah sosok yang membuat pundaknya tiba-tiba gemetaran seperti sehelai daun yang diterpa angin. Di sana, bersandar ke bingkai pintu dengan mata yang sayu dan kedua pipi merah padam, adalah Hinata…
…dengan hanya selembar handuk tipis menutupi tubuhnya.
"Na~ruto-kun~" gadis berambut biru panjang itu memanggil nama Naruto dengan nada yang seperti bersenandung, namun suaranya yang erotis dan senyumnya yang menggoda membuat hati Naruto tergetar juga. "Kau sudah menunggu lama…?"
"Oh Tuhan…' Naruto ternganga, dengan sekuat tenaga. 'D…dia mabuk!'
~•~
"Ohh, Naruto-kun yang malang…" bisik Hinata sambil berlutut tak seberapa jauh dari futon Naruto, memampangkan dua kaki yang putih mulus dan jenjang di bawah cahaya remang-remang. "Melihatmu seperti ini benar-benar tak tertahankan, biar kuberi kau perawatan sebaik-baiknya…"
"Kenapa aku merasa arti 'perawatan' yang ada di kepalamu berbeda dengan yang ada di kepalaku?" tanya Naruto, memutuskan berusaha mengulur waktu dengan cara bicara yang berbelit-belit. "L-lagipula, bukannya mendingan kita tidur aja? U-udaranya dingin lho…"
"Ah, tentu saja, justru karena dingin itulah, Na~ruto-kun~," kembali dengan senandung itu, kali ini Hinata merangkak seperti kucing dan mulai merayap pelan-pelan ke arah Naruto. "Biar kuhangatkan tubuhmu luar. Dan. Dalam."
"Hinata, rasanya ada sesuatu yang sa~ngat salah dengan pernyataanmu tadi," walaupun kelihatannya upayanya bakal sia-sia, namun Naruto tak kunjung menyerah dalam berusaha beringsut mundur untuk kabur. 'Ya ampyuun~! Dia kelihatan benar-benar serius!'
"Tak ada yang salah, Naruto-kun," tak peduli pada usahanya yang gigih, pada akhirnya Naruto harus menyerah pada perbedaan kekuatan antara mereka berdua. Kedua tangan Hinata sekarang ada di pergelangan kaki Naruto, memegangi sang pemuda agar tak bisa menjauh lagi. "Ayo, kemarilah…"
'Tiiidaakk! Dia makin mendekat…!' Naruto menjerit ketakutan dalam hatinya sampai wajahnya jadi pucat. 'Markas Pusat, di sini Prajurit Naruto sedang dalam kesulitan! Mayday, mayday, seseorang, siapapun, selamatkan aku~!'
Sebenarnya, Naruto sama sekali tidak takut pada penampilan Hinata atau bahkan pada kelakuannya yang benar-benar tidak biasa. Yang sebenarnya membuat Naruto betul-betul ketakutan saat ini adalah kenyataan bahwa Hinata yang sedang mabuk, matanya yang sayu menggoda dan wajahnya yang merah merona ini benar-benar membuatnya bersemangat… dan bergairah!
'Tidak! Aku tak boleh merasa begini! Hinata yang sedang mabuk ini bukanlah Hinata yang aku kenal dan sayang, sifatnya benar-benar terbalik 180 derajat!' bahkan di saat dia sedang mengomeli dirinya sendiri, ketika penglihatan Naruto jatuh pada bibir Hinata yang terlihat begitu basah dan segar, pemuda itu bisa merasakan kekuatan tekadnya mulai runtuh perlahan-lahan. 'Ah Tuhan, mengapa dia harus seseksi ini…?'
"Kau tahu, Naruto-kun, kurasa sebaiknya kau lemaskan tubuh yang tegang itu…" tahu-tahu Hinata sudah duduk di atas paha Naruto, kedua tangannya ada di bahu sang pemuda dan jarak wajah mereka tak lebih dari beberapa inci sampai Naruto bisa mencium aroma sabun yang dipakai Hinata. "Nanti kram lho…"
"Kalau itu memang terjadi, maka penyebabnya pasti kau—hmmphh…!" Hinata membungkam Naruto dengan langsung menciumnya, sebuah cara yang harus diakui cukup radikal, oleh Naruto sendiri kalau bukan yang lain. Dia, tentu saja, berusaha menghindar, namun keberadaan dua tangan mungil di belakang kepalanya membuat posisi Naruto jadi terkunci. 'Sungguh agresif! Aku sudah meremehkannya!'
"Fuu… ah…" setelah satu menit berlalu, Hinata memisahkan bibirnya dari Naruto sambil mengeluarkan desahan panjang, murni karena keperluan oksigen. Jujur, Naruto harus memujinya karena gadis itu berhasil menandingi staminanya dalam hal berciuman. Tapi dia tak punya banyak waktu untuk terkagum-kagum, karena 5 detik kemudian Hinata sudah kembali mencuri bibirnya lagi. "Naruto-kun… nnhh…"
Tampaknya keadaan mabuk tak hanya membuat Hinata lebih kuat dalam stamina, namun juga membuatnya jadi begitu penuh nafsu. Harus bagaimana lagi Naruto menyebutnya? Gadis itu menciuminya seakan-akan dia bisa mati kalau bibir mereka terpisah beberapa detik saja!
'Mengapa oh mengapa…?' Naruto berbisik dalam hati, bibirnya terpisah untuk menerima ciuman yang lebih dalam, lidah kedua sejoli itu mulai bertaut dan berdansa di dalam mulut mereka yang terbuka. Hinata memeluk kepala sang pemuda jauh lebih erat, dan perbedaan tinggi tubuh membuat dada sang gadis menekan lehernya dengan kuat, mengingatkan Naruto akan ukurannya yang di atas rata-rata. 'Mengapa ini terasa begitu menyenangkan…?'
"Ne, Naruto-kun…" Naruto hampir saja terjatuh karena tubuhnya masih lemas dan Hinata mendadak melepaskan pelukan pada kepalanya. Pemuda itu membuka matanya dengan agak malas-malasan, tapi kedua kelopak matanya tiba-tiba saja langsung terbuka lebar saat dia sadar apa yang sedang Hinata lakukan. "Kau pasti sudah tak sabar ingin mencoba ini kan…?"
'D-d-d…' walaupun hanya dalam kepalanya, Naruto tetap sukses terbata-bata. 'Dia melepas handuknya!'
Tingkat erotisme tindakan kali ini sungguh hebat, sampai-sampai Naruto yakin pasti akan mimisan andai saja dia belum pernah melihat tubuh telanjang gadis itu. Tapi, ya ampun, sampai kapan gadis itu akan terus membuatnya terkagum-kagum seperti ini?
'Ah, aku menyerah…' dalam pertarungan mental, Naruto sudah mengibarkan bendera putih. 'Aku rela deh mau diapain juga…'
"Lihat, Naruto-kun," dengan sangat mengejutkan, tangan Hinata mencengkeram kepala Naruto dan menariknya ke arah dadanya yang berkilau dengan lapisan keringat. Naruto menyambutnya dengan mulut yang terbuka dan antusiasme khas seorang pria, menambah kelembaban kulit sang gadis dengan air liurnya. "Aahh, ya… seperti itu, lahap aku, Naruto-kun…"
'Walaupun suaranya sama, cara bicaranya benar-benar beda…' karena tak berani mengucapkan secara langsung, Naruto hanya berani menggumam dalam hati sambil melirik Hinata yang kini mendongakkan kepalanya ke langit-langit, merintih keenakan. 'Walaupun melihatnya seperti ini benar-benar memberi sensasi baru, bikin aku jadi gemetaran sendiri…'
"Mmmh… nnnhh… teruskan, Naruto-kun, ciumi aku…" seakan tak mau kalah dengan tubuhnya yang terus menggeliat-geliat, kedua tangan Hinata juga tak mau berhenti bergerak. Kadang mereka mengusap kepala Naruto, kadang memijit-mijit sambil mencakarnya, bahkan sesekali menjambak-jambak rambutnya, namun tak ada satupun perbuatan yang tidak meningkatkan nafsu birahi Naruto yang kini dengan penuh semangat menjilat puncak bukit Hinata, membuatnya merintih-rintih dengan suara lirih. "Unngghh…! Ahh~, di situ, di situ—Mmnhh…!"
Walau lemas, namun Naruto masih memiliki tenaga yang cukup untuk mengulurkan tangannya ke bawah dan meraih bokong Hinata, sebelum meremas-remas gumpalan daging yang lembut nan padat itu. Meski terkejut, erangan yang keluar dari tenggorokan Hinata adalah bukti bahwa wanita yang masih mabuk berat itu menyenangi kejutan Naruto, bahkan menyemangatinya dengan menciumi dahi Naruto.
Berapa lama mereka melakukan itu, Naruto tak bisa ingat lagi. Yang pasti dia tahu, tiba-tiba saja Hinata mulai menjerit-jeritkan perkataan yang tak bisa dimengerti, dan jambakan di kepala Naruto mengambil tenaga yang membuat sang pemuda yakin rambutnya pasti akan tercabut semua kalau hal itu berlangsung lebih lama lagi.
"Ahh-ah-ah…!" erangan Hinata yang mulai tak terkendali memberitahu Naruto kalau gadis itu hanya butuh satu dorongan lagi. Naruto meraih kedua bukit Hinata dan mencengkeramnya kuat-kuat, sebelum memajukan wajahnya dan memberikan French kiss pada bibir Hinata yang basah kuyup. "Mm—MMMNHH!"
Terkurung dalam sangkar dua bibir yang menyatu, jeritan Hinata teredam sampai volume serendah-rendahnya yang dimungkinkan rongga mulut mereka berdua. Tubuh Hinata yang bergetar hebat mulai tenang, walau napasnya yang memburu masih menghadirkan gema di ruangan berukuran sedang tersebut.
Saat ciuman itu berakhir, Hinata langsung terengah-engah karena kehabisan udara, namun Naruto yang sudah terlalu terbakar hawa nafsunya sama sekali tak berniat membiarkan sang gadis lepas begitu saja. Selagi Hinata berjuang untuk memperoleh keteraturan napas kembali, Naruto dengan antusias menjulurkan lidah dan mulai menjilati sepanjang leher gadis di hadapannya, memaksa sebuah erangan tertahan lepas dari tenggorokan Hinata.
"Aah, kau memang anak yang tidak sabaran, Naruto-kun…" desah Hinata sambil membelai kepala Naruto yang dengan lahap menyantap lehernya, dan dengan satu gerakan cepat, membenamkan gigi taringnya di kulit Hinata. "Hnnh…!"
"Dan kau adalah anak yang terlalu lezat untuk dilewatkan…"
"Ehehe, terima kasih atas pujiannya…" bahkan walaupun dalam keadaan mabuk, senyum Hinata tetap terlalu manis bagi mata Naruto. "Baiklah, kalau begitu…"
Tangan kiri Hinata merayap turun ke bawah, lalu kemudian pelan-pelan menarik retsleting celana Naruto.
"…biarkan aku memanjakanmu."
To be Continued…
~••~
Geh, saat membikin fic ini, hamba berkali-kali salah mengetik nama Hinata menjadi Kyuubi. Kelihatannya posisi no.1 Naruhina dalam hati hamba kini sudah digeser oleh Narukyuu, bahkan entah kenapa menulis chapter ini membuat hamba berpikir Naruto itu seperti tukang selingkuh saja.
Ah, kalau kalian bingung setelah membaca chap ini. Ya, misi itu hamba 'skip' seluruhnya, karena di script awal misi itu emang sama sekali nggak penting, dan itulah sebab ceritanya langsung ke sini. Setting (latar) chapter ini juga diberikan secara implisit, namun petunjuknya sudah hamba hamburkan di mana-mana. Misalnya kayak 'penginapan' (setting tempat), atau 'makan malam' (setting waktu).
Oh ya, ngomong-ngomong, bagi mereka yang kepingin melihat kelanjutan fic ini (atau bisa juga bagi yang kepingin membaca lanjutan lemon Naruhina yang ada di fic ini) maka hamba mohon agar kalian bersedia ikut berpartisipasi dalam voting yang ada di profil hamba. Masalahnya, itu sangat menentukan…
Ah, terima kasih sudah membaca!
Galerians, out.
