Galerians, in.

Hamba tak akan banyak bicara untuk chapter kali ini, soalnya hamba merasa semua readers yang baca chap 8 pasti sudah tahu apa yang menunggu. Tapi mungkin hamba perlu memberi peringatan ini:

"Perhatian, membaca chapter ini mungkin bisa mengakibatkan napas menjadi cepat, tubuh jadi berkeringat dan nafsu bertambah tiga kali lipat, serta mungkin ditambah dengan membesarnya bagian tertentu bagi para laki-laki sehat. Ingatlah, Anda telah diperingatkan."

Reviews' Reply:

Naruhina: "Oke, bos. Sori banget sudah telat…"

Higashikuni: "Mungkin nggak kilat, tapi sudah hamba usahakan secepatnya. Maaf kalau telat ya?"

Frozen Pandora Mahaya: "Selamat kok, tapi dia dikurung dalam es (setidaknya itu yang mau hamba bikin sebelum perombakan ini). Tapi terima kasih ya, hamba sungguh senang dipanggil sensei."

tsuki sora: "Ini, silakan."

Ambea pribadi: "Mudah-mudahan yang ini lebih hot."

xXx: "Hamba nggak bisa pastiin sih, tapi mudah-mudahan chap ini memang seru…"

Micon: "Fic horornya mungkin bakal nanti, mau selesai'in yang ini sama yang Narukyuu dulu. Ngomong-ngomong, kalimatmu itu bagus lho. Kenapa nggak coba nulis juga?"

kin-chan: "Hamba harap juga gak perlu sampai hiatus, tapi kayaknya itu tergantung kehendak Tuhan. Doain semoga nggak aja deh ya."

mew mew isa: "Yo i… yo i…"

yazura key: "Masa? Jangan dong, nanti hamba kena tuntut gara-gara bunuh anak orang."

Lisa Chan: "Sori lama, perlu proses sih. Tapi ini dah apdet."

Pein Nggak Mesum: "Wuih, baca fic beginian kok malah ngaku nggak mesum, hayo?"

NaruHina Lovers: "Lihat aja sendiri ya."

JOe: "Kalau terlalu hard nanti malah jadi kelewat vulgar dong…"

Akatsuki The Nista: "Pemimpinnya di atas ngaku-ngaku nggak mesum, ini anak buahnya di bawah malah dengan senang hati mengakui dirinya nista. Dahsyat."

reno: "Coba kamu ingat Yoruichi di Bleach, suara kucingnya emang laki-laki, tapi manusianya kan cewek? Seksi lagi! En satu lagi, kebanyakan lemon apa hubungannya dengan permintaan bikin Naruhina lagi? Kamu udah baca fic Angin di Masa Depan belom? Udah tamat tuh!"

Sayaka Dini-chan: "Sayangnya, keputusan itu tidak sepenuhnya ada pada hamba. Pinginnya sih, hamba juga nggak perlu sampai hiatus. Semoga saja nggak terjadi deh."

Hyuuga Nii: "Oke!"

Lavender Hime-chan: "Kalo ditulis seluruhnya nanti kepanjangan dan keburu bosan duluan, kan Hime-sama? Amin juga deh, walaupun hamba juga kepingin supaya banyak reviewnya."

Ray Ichimura: "Sebenarnya hamba juga kepingin begitu, tapi entah kenapa kalau chap berisi lemon ditambah kata-kata yang terlalu puitis, tensi seksualitasnya jadi kurang menggigit dong. En ingat lagi, Hinata itu dibesarkan di keluarga terhormat, jadi wajarlah kalau dia nggak tahu sake."

akuanakbaik: "Oh, syukurlah. Terima kasih ya sudah mereview."

Rhyme A. Black: "Bukannya digantikan sih, tepatnya ditandingi. Coba deh kamu baca sendiri ficnya, pasti ngerti kenapa hamba suka pair Narukyuu. Oh ya, Rhyme kok nggak mereview untuk fic Angin di Masa Depan? Dah ending tuh!"

Akinari: "Ah, syukurlah kalau jadi makin seru. Makasih banyak udah mereview ya!"

Youichi Hikari: "Baguslah, hamba sudah ngira kalau chap sebelumnya bakal jelek…"

Nagisa Imanda: "Tengkyuu berat atas semua pujiannya ya, hamba sungguh tersanjung sampai rasanya hidung jadi memanjang 'ndiri."

Hikari Uchiha Hatake: "Hehehe, mabuk itu bisa bikin sifat berubah 180 derajat lho. Makanya jangan coba-coba dekati alkohol ya."

Syeren: "Kayaknya nggak sampai kayak Lee, deh, soalnya kalau gitu Naruto bisa kesana kemari dibontang-banting sama Hinata. Insyaallah nggak bakal mogok, tapi mesinnya bisa batuk-batuk sendiri ini."

Warning:

Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC. Dan satu lagi, this chapter contains lemon

Notification:

"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)

'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of Naruhina's romance for those who read.

~••~

Midnight Temptress II

"Agh…!" Naruto mengernyit kesakitan ketika kepalanya menghantam lantai dengan cara yang hanya mengandung kekasaran semata. "H-hei, kau terlalu—mmph…!"

"…Terlalu kasar?" Hinata menjilat seluruh bibirnya yang habis digunakan untuk membungkam mulut Naruto, sebelum mengunci pergelangan sang pemuda di dua sisi kepalanya. "Bukankah…lebih menarik kalau begini…?"

"T-tapi, itu—E-EH!" Naruto menoleh ke kanan-kiri dengan ketakutan, menyadari kalau kedua tangannya kini terikat ke kunai yang tertancap ke lantai dengan tambang yang entah datang dari mana. "H-Hinata, apa-apaan nih!"

"Oh, hanya peralatan tambahan…" bisik gadis, lidahnya meluncur mulus di sepanjang daun telinga Naruto. "Untuk membuatmu tak bisa kabur…"

'Rasanya tanpa inipun, aku nggak bakalan bisa kabur deh…' kata Naruto dalam hati ketika melihat kilatan mata Hinata yang bagaikan predator memburu mangsa, namun apapun yang ingin dikatakan Naruto berikutnya segera terhenti ketika tangan Hinata mulai terarah pada kancing piyamanya. "H-Hinata, apa yang akan kau lakukan…?"

"Aku akan memandikanmu seperti seekor anak kucing…" suara merdu Hinata, jika dicampurkan dengan mata yang sayu dan nada yang erotis nan merayu, mengandung tenaga penghancur yang cukup dahsyat untuk membuat seorang Naruto Uzumaki langsung bertekuk lutut. "Kiri dan kanan, atas dan bawah…"

Dengan sentuhan selembut sayap kupu-kupu, Hinata memulai 'petualangan'nya dengan mengecup dahi Naruto, membuat sang pemuda jadi megap-megap tak berdaya saat dua gunung Himalaya yang menjepit dan menggencet hidung dan mulutnya.

Kecupan Hinata berlanjut dengan lambat, memberi Naruto desir-desir menyenangkan setiap kali permukaan bibirnya yang lembab menyapu, atau ketika lidahnya menggelitik kulit wajahnya, menyengat ribuan syaraf serta mengancam akal sehat.

"Fuu… nnm…" desahan Hinata mengungkapkan sebuah kepuasan, karena biar sudah berapa kalipun dilakukan, gadis itu tak pernah puas mengecup bibir sang pasangan. Bagai anggur berkualitas tinggi yang memabukkan, laksana krim manis yang tak bosan-bosan dimakan, sebuah sensasi yang terus membuatnya menggigil karena senang.

"Uh…" mata Naruto menjadi setengah terbuka, pertahanan mentalnya telah runtuh sejak lama. Tepat di atas wajahnya, menunggu Hinata, dengan rambutnya yang terurai seakan menjadi kelambu satin biru di sisi kepala Naruto. Gadis itu membuka mulutnya lebar-lebar, dan mulai memutar-mutar lidahnya. 'Ahh~! Tubuh sialan, bergeraklah! Aku mau melumat bibir itu~!'

"Oh, tidak, tidak. Kau harus sabar, Naruto-kun…" seakan mendengar kata hati Naruto, gadis itu mulai mengusik ketahanannya dengan menggesek-gesekkan selangkangan mereka yang tak terlapis apa-apa, membuat sang pemuda menggeram-geram seperti anjing kelaparan. "Ah, ahn…! N-Naruto-kun, adik kecilmu sudah begitu keras ya…"

"G-guh…! Hinata, d-di mana kau belajar bicara seperti itu?" berusaha keras untuk bertahan agar tak mengerang seperti perempuan, Naruto menggertakkan giginya keras-keras dan bicara untuk mengalihkan perhatiannya sedikit dari… 'siksaan' ini. "Atau…tepatnya, siapa yang mengajarimu bicara seperti itu? Ino? Tenten? Sakura? Neji?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan, Naruto-kun…"

"A-aku tidak—tunggu, k-kau sedang apa…?" tanya Naruto dengan ketakutan ketika melihat gadis itu mengulurkan tangannya dan mencengkeram pinggiran celana yang masih melekat di tubuh Naruto. Ketika satu sinar yang terlalu familier berkilat di mata Hinata, pemuda itu langsung tahu apa yang mau dia lakukan. "H-hei, jangan lakukan itu. O-oi, hentikan…!"

BREET!

"GYAAH!"

"Kain sehelai ini memang mengganggu," kata Hinata sambil melempar celana biru muda yang sudah koyak jadi dua itu ke belakang, mengabaikan ekspresi shock yang kini ikut nampang di wajah Naruto. "Sekarang, sampai mana kita tadi…?"

Tanpa mempedulikan Naruto yang terus meracau protes, Hinata menunduk dan menanamkan sebuah ciuman ringan ke dagu sang pemuda, sebelum memaksanya diam dengan menyeret bibirnya di sepanjang garis tenggorokan Naruto.

Pemuda pirang itu menggigit bibir ketika Hinata menjilat sisi lehernya, merasa hampir tak percaya pada seberapa besar kenikmatan yang diberikan padanya. Namun dia tak mampu mencegah sebuah erangan keluar dari tenggorokannya ketika kepala Hinata merosot makin ke bawah dan menggigit pangkal lehernya.

'Aku sering melakukannya, tapi aku tak pernah tahu kalau digigit itu rasanya sedahsyat ini…!' jerit Naruto dalam hati. Perasaan gigi taring yang terbenam ke kulitnya, kemudian hembusan hangat napas yang menyapu permukaan lehernya, semua itu adalah rangsangan berkekuatan hebat yang membuat birahi Naruto meroket menembus langit-langit.

"Ne, Naruto-kun…" desah Hinata dengan seksi sebelum membawa buah dadanya ke depan wajah Naruto. "Beri mereka perhatian juga—ANHH!"

Naruto bahkan tak memberi peringatan apapun ketika menyuap dua puting dada Hinata ke dalam mulutnya, menyusu dengan rakus seperti seorang bayi kelaparan. Tangan Hinata menemukan kepala Naruto, sebelum menekannya kuat-kuat ke arah dadanya, membuat mulut sang pemuda semakin liar merambah apapun yang tersedia di depannya.

"Ungghh…! N-Naruto-kun, t-teruskan…! Ya—Mmmnh!—lagi! G-gunakan gigimu!"

Naruto menurut dengan begitu senang hati, membuat volume produksi erangan dari paru-paru Hinata semakin melangit. Naruto sendiri tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengerang seperti sedang kesakitan, dan semuanya disebabkan oleh Hinata yang kelihatannya makin bersemangat memaju-mundurkan pinggangnya, 'mengasah' kejantanan Naruto dengan kewanitaannya.

"H-Hinata, kau terlalu berisik…!" kata Naruto dengan susah payah karena sang gadis yang tak henti-henti menekankan dadanya ke wajahnya. "Oi…! Nanti kita bisa ketahuan, bodoh…!"

"T-tenang saja…!" bisik Hinata keras sambil meremas-remas kepala Naruto dan mengembalikannya ke posisi semula, namun pemuda itu bisa bersumpah ada sesuatu dalam suara Hinata yang sungguh mencurigakan dan tak menenangkan. "Memang—nggh!—itu tujuanku…!"

"APA!" Naruto harus melepaskan wajahnya dari seduhan dua bukit raksasa itu sebelum bisa mengucapkan hal tersebut. "A-ap-apa maksudmu?"

"Kupikir dengan begitu, melakukan ini akan jadi jauh lebih menggairahkan…" Hinata berhenti, sebelum menatap Naruto dengan tatapan yang sungguh menciutkan nyali. "Dan ngomong-ngomong…"

"Y-ya?"

"Naruto-kun, aku sudah tak tahan lagi…" desah gadis itu, tangannya meraih kejantanan Naruto yang sudah sekeras dan setegang tombak sebelum menegakkannya seperti sebuah roket antariksa dalam posisi standby dan siap menembus 'angkasa' (baca: koridor kenikmatan Hinata).

Naruto mangap-mangap tak berdaya ketika Hinata menaikkan dan memposisikan pinggulnya sedemikian rupa, sehingga ketika gadis itu menghempaskan dirinya ke bawah, Naruto langsung menggeramkan sebuah geraman harimau ketika kenikmatan tak terbayangkan menghapus setiap pikiran dari lapisan otaknya.

"G-guh, astaga…" gumam Naruto dengan suara yang tak dapat dipahami. Pemuda itu mengerutkan dahinya ketika tak ada gerakan apapun muncul dari Hinata, dan saat melihat ke atas, dia langsung tahu kenapa. Gadis itu mendongakkan kepalanya tegak-tegak ke atas sehingga lehernya yang putih dan mulus terekspos bebas, punggungnya melengkung ke belakang selagi tubuhnya gemetaran seperti sedang disetrum listrik langsung dari generatornya. 'Baru saja mulai, dan dia sudah…?'

"Ah…! Hah…! Hah…!" tubuh Hinata berubah lemas dan terkapar di atas badan Naruto, napasnya cepat dan putus-putus seakan berusaha bernapas di ruang hampa udara. Naruto menatapnya lama-lama, menyadari bahwa ketika gadis yang sedang mabuk inipun tetaplah Hinata yang begitu dicintainya. "Naruto-kun… Naruto-kun…"

"Kau tak apa, Hinata?" suara Naruto menjadi lembut, sebagaimana yang selalu dipakainya pada Hinata semenjak mereka mengucapkan janji cinta setia.

"A-aku tidak apa-apa…" bisik gadis itu pelan, membetulkan posisinya dengan bertumpu pada dada Naruto yang keras berotot. "H-hanya sedikit…"

"Keenakan?" tanya Naruto dengan nada menggoda.

"…" wajah Hinata langsung memerah tomat, sebelum mengalihkan pandangannya dari mata Naruto yang seakan bisa menerjuni isi kepalanya dan mengintip isi benaknya. Semabuk apapun Hinata, seberapapun tidak sadarnya gadis itu tentang keadaannya, tatapan Naruto yang tajam tetaplah sesuatu yang selalu sukses membuatnya tersipu malu. "Naruto-kun no baka…"

"Kau memang mudah ditebak, Hinata…" Naruto terkekeh pelan. "Dan juga, bukankah sudah saatnya kau melepaskan ikatan tanganku ini?"

"Eh~? Tapi…"

"Aku tak akan kabur," Naruto meyakinkannya dengan sebuah senyum jujur. "Aku selalu, dan akan selalu menginginkanmu."

"…" Hinata diam saja, namun tangannya lambat-lambat bergerak ke kedua pergelangan Naruto yang terkekang dan mulai melepaskan simpul tambangnya. Karena kecekatannya yang hebat, sepuluh detik kemudian, Naruto sudah kembali bebas menggunakan tangannya.

"Ah, begini lebih baik…" kata Naruto sambil duduk dan mengurut-urut pergelangan tangannya. "Ikatanmu terlalu kuat, Hinata. Tanganku benar-benar mati rasa nih…"

"…" Hinata masih sunyi, membuat Naruto mengerutkan dahinya dengan heran. Tak perlu waktu lama bagi Naruto untuk menyadari kalau rona merah di paras Hinata itu sudah bukan lagi disebabkan oleh alkohol yang mengalir di pembuluh darahnya.

"Hinata, kau sudah tak mabuk lagi?"

"…Masih," gumam gadis itu sangat pelan, sebelum menyembunyikan wajahnya di leher Naruto, semakin meyakinkan pemuda itu kalau Hinata yang lugu dan pemalu sudah kembali lagi dalam pelukannya. "…Sedikit…"

"Apa? Kenapa kau malah tiba-tiba memelukku?" Naruto tetap bertanya walau telah tahu alasannya, sambil melingkarkan tangannya di tubuh Hinata yang licin dan berkilauan bermandikan keringat. "Jangan bilang kau jadi malu karena sudah melakukan semua itu…?"

Hinata mencubit sisi perut Naruto sebelum memeluknya makin erat, membuat Naruto ingin mengaduh namun malah sukses membuatnya tertawa. Ah~, gadis satu ini, sikapnya yang malu-malu kucing itu selalu membuat Naruto jadi semakin dan semakin menyayanginya saja.

"Hahaha, kau memang sangat manis, Hinata…"

Mereka berada dalam posisi itu untuk waktu yang cukup lama, terus berpelukan sampai keringat di tubuh mereka kering oleh angin malam dan napas mereka teratur kembali. Naruto baru saja mau membuka mulutnya kembali ketika Hinata melepaskan pelukannya, sebelum menatap wajah Naruto masih dengan muka yang merona.

"Naruto-kun…" dia mengawali sambil menunjuk ke bawah. "…Kau masih keras…"

"…Ah," celetuk Naruto, sebelum mulai juga tersipu dan menggaruk-garuk kepalanya. "A-ah hahaha, maaf… itu…"

"Naruto-kun, apa kau…?"

"Ehehe, rasanya aku memang…masih belum puas…" Naruto mengaku malu-malu dengan kepala tertunduk. "Eh, tapi kalau kau tidak mau, kita tidak perlu melakukannya kok…!"

"T-tidak apa-apa…" bisik Hinata pelan, warna merah di wajahnya menjadi semakin gelap. "…Aku juga…masih kepingin…"

"Uh, wow…" Naruto takjub. "Hinata, sejak kapan kau jadi mesum begini…?"

"A-a-apa…!" seru Hinata kesal sambil memukuli dada Naruto dengan tangannya yang mungil. "Aku…a-ak-aku tidak mesum…!"

"H-hei, sakit, Hinata…!" kata Naruto sambil berpura-pura kesakitan, walaupun beberapa detik kemudian ia mulai tertawa.

"Mou~, ini semua salahmu, Naruto-kun…! Kau yang membuatku jadi seperti ini…!" kata Hinata sambil merengut kesal. "U-uh~, sudahlah…! Tidak apa-apa kalau kau tidak mau—mmmh…?"

Sebelum dia sempat mengomel lebih lanjut, Naruto telah membungkam bibir yang basah nan lembab itu dengan mulutnya, sebelum menusukkan lidahnya jauh ke dalam rongga mulut Hinata. Menelusuri sudut-sudutnya, menyapu permukaan bagian dalam pipi Hinata, sebelum menyedot bibir bawah Hinata dalam-dalam. Dan dia baru berhenti setelah gadis di depannya kehabisan napas dan air liurnya keluar ke mana-mana.

"Kau tahu, kurasa kau masih cukup mabuk, Hinata…" ucap Naruto lirih sambil mengeluarkan lidahnya dan mulai menjilati bibir Hinata yang terpisah demi mencukupi kebutuhan oksigen. "Sikapmu tadi itu…benar-benar imut lho…"

"Ouunhh… Naruto-kunnh…" Hinata mengalungkan tangannya di leher Naruto, menekan kepala pemuda itu kuat-kuat ke arah dirinya sebelum melumat habis bibirnya sampai hidung beradu dan kepala mereka terlihat seperti baru dilem saja. "Mmh…"

"Hinata… oh, Hinata…" Naruto menangkupkan kedua tangannya yang besar dan kuat di buah dada Hinata, dan mulai meremas-remasnya dengan tenaga yang cukup untuk membuat gadis itu mulai menjerit-jerit penuh gairah. Selagi tangan kanannya meneruskan pekerjaannya, mulut Naruto menemukan putting kiri Hinata dan mulai mengisapnya dengan rakus, menghasilkan rintihan-rintihan lirih yang membuat hasrat kedua sejoli itu kian tinggi melayang.

"H-Hinata… a-aku sudah tak sabar lagi…"

"Y-ya, a-aku juga…" jawab Hinata terbata-bata dalan napasnya yang terbatas. Gadis itu berpegangan pada bahu Naruto dan menjadikannya tumpuan, sebelum menaikkan pinggulnya dengan perlahan-lahan, sampai hanya tinggal tersisa ujungnya saja. Sekejab kemudian, tangan Naruto melesat ke pinggang Hinata dan menekannya ke bawah kuat-kuat, menyatukan tubuh mereka, menghasilkan sebuah jeritan panjang sebagai hasilnya. "AAAHHN~!"

Mereka terus melakukan itu untuk belasan menit, dengan geraman Naruto dan rintihan Hinata yang memecah kesunyian malam. Tak perlu berapa lama sampai akhirnya percintaan mulai menciptakan suara becek yang disebabkan oleh banjirnya madu cinta Hinata, dan semakin basah permukaan kulit mereka, semakin nyaring pula suara "Plak!" yang terdengar setiap kali selangkangan mereka bertemu dengan kekuatan dahsyat.

Naruto, yang bertekad membuat kesempatan kali ini layak untuk diingat, segera kembali mencengkeram dada Hinata sesegeranya setelah otaknya kembali bisa fokus pada hal selain kenikmatan yang menjalar di sepanjang batang kejantanannya. Dia mengusap, mengacak-acak, bahkan mulai meremas kuat-kuat kedua bukit yang padat tersebut sambil melahapnya dengan kerakusan menggila.

Merasakan rangsangan tak tertahankan yang menyerang dadanya, Hinata tak kuat hanya sekedar merintih dan mengerang saja. Kedua tangannya dikalungkan ke kepala Naruto yang penuh rambut pirang, mendekapnya erat-erat bagaikan itu adalah benda paling berharga di dunia baginya. Setiap kali lidah Naruto menyapu atau gigi pemuda itu menggigit puting payudaranya, Hinata selalu membalas dengan sebuah jeritan lepas atau menarik rambut pemuda itu keras-keras.

"Ahh—AHN~! Naruto-kun, tolong…! Tolong katakan…!"

"Apa?" tanya Naruto sambil melepaskan pegangannya pada dada Hinata, menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih tersimpan dalam kata-katanya tadi. "Apa, Hinata?"

"K-katakan kalau kau mencintaiku…! Ungggh!" perkataan Hinata terhenti ketika tusukan Naruto membuatnya memekik kencang. "Masihkah kau mencintaiku…? Katakan kalau kau masih mencintaiku…!"

"Tentu saja, dasar bodoh…! Tak ada apapun di dunia ini yang bisa membuatku berhenti mencintaimu…!"

"K-kalau begitu, kau hanya boleh mencintaiku…!" pelukan Hinata semakin erat, seakan menekankan keinginannya untuk memiliki sang pemuda. "Kau adalah milikku…! Karena itu, berjanjilah tidak akan mencintai wanita manapun kecuali diriku…!"

"Hinata…!" Naruto memberikan sebuah kecupan di dahi dan pipi Hinata, sebelum melumat bibirnya dengan panas, melepaskan sensasi yang membuat tubuh gadis itu menggeliat-geliat tak karuan dan tangannya mencakar-cakar kulit kepala Naruto, sebelum membuka matanya untuk menatap Hinata tajam-tajam.

"Naruto-kun…!"

"…Aku janji…" bisik pemuda itu pelan, sebelum tiba-tiba memindahkan tubuh gadis itu menjadi telentang di bawahnya dengan kekuatan yang seharusnya tak dimungkinkan oleh tubuhnya yang setengah lumpuh. Naruto sendiri tidak tahu ada apa, tapi yang pasti, sekarang dia dipenuhi hasrat untuk menghabisi gadis itu seluruhnya. "Aku janji…! Janji…! Janji!"

"Ohh, Naruto-kun….! Unnh… Ahhnn!" Hinata merepet semakin tidak karuan ketika pemuda itu menghempaskan pinggulnya dengan kecepatan dan kekuatan sebuah piston, membuat kepalanya terasa kosong melompong dan nyawanya serasa melayang dengan setiap siraman kenikmatan. "T-tidak… hentikan…! N-Naruto-kun, kau akan membuatku terbelah dua…!"

Meskipun bibirnya berucap demikian, Hinata memastikan pemuda itu tak akan berhenti dengan menyilangkan dua kakinya di pinggang sang pemuda, menghapus setiap kemungkinan badan mereka bisa terpisah.

"Ahhh…! Mmnh… iyaanmm…!

Puncak yang Hinata dambakan terasa kian, dan kelihatannya itu jugalah yang dirasakan oleh kekasihnya, melihat bagaimana pemuda itu terus menggeramkan namanya dengan mesra. Naruto mendekap badan Hinata dengan sikap posesif yang seakan mengatakan kalau gadis itu adalah miliknya, sebuah keindahan yang hanya dia yang boleh menikmatinya seorang, sebuah santapan duniawi yang hanya boleh ia yang melahap seorang.

Hinata adalah gadisnya, pacarnya, kekasihnya, cintanya, dan Naruto takkan menyerahkannya pada siapapun. Selamanya.

"Ahhnn…! N-Naruto-kun…! Naruto-kun!" sedetik kemudian, napas gadis itu berhenti seakan jantung dan paru-parunya gagal bekerja. Wajahnya berkeriut menahan sebuah sensasi luar biasa yang membuatnya seperti gambar yang terdistorsi, namun Naruto sangat tahu bahwa itu hanyalah sebuah usaha sia-sia.

Untuk sebuah sentuhan terakhir yang elegan, pemuda itu menarik pinggulnya jauh-jauh ke belakang sebelum menghentakkannya dengan semua kekuatannya yang tersisa, suatu tindakan yang berhasil menghancurkan pertahanan terakhir Hinata.

"Iyaanh…! Ah-ah-AH…! AANHH!"

"K-kuh…!" kenikmatan yang mencambuk syarafnya saat semburan hangat membasuh dan dinding koridor kewanitaan Hinata menjepit rudalnya tanpa ampun membuat Naruto tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Naruto bergabung bersama Hinata, di sebuah puncak tertinggi yang memberi mereka kenikmatan jauh di atas batas duniawi, tak terdefinisikan oleh kata-kata dalam kamus bahasa manapun juga. "GUH!"

Tubuh sang gadis bergetar semakin kencang ketika Naruto menyemburkan benihnya dalam-dalam ke rahimnya, menghadiahkan kenikmatan, kebahagiaan, serta cinta dan kasih sayang. Menyatukan jiwa dan raga, sinkronisasi antara dua manusia menjadi satu makna yang merupakan definisi sesungguhnya dari intisari kehidupan.

Hampir dalam hal apapun, mereka saling melengkapi. Jika Naruto terlalu berapi-api, maka ketenangan Hinata-lah yang akan meredakannya. Jika Naruto terlalu cepat dan mudah marah, maka sifat pemaaf Hinata-lah yang akan memadamkan panas membaranya. Jika aura Naruto terang dan menyilaukan, maka aura Hinata adalah lembut dan menyejukkan.

Yin dan Yang. Putih dan Hitam. Laki-laki dan Perempuan.

Itulah mereka. Seperti itulah hubungan Naruto dan Hinata.

~•~

"Hinata, kau sudah siap? Kita harus segera pergi."

Naruto, dengan pakaian lengkap, kini telah berdiri menunggu di depan pintu kamar, tangannya memutar kunci yang sudah terpasang pada lubangnya.

"Aku segera ke sana…" sebuah jawaban pelan terdengar dari kamar tidur. "Tunggu sebentar lagi…"

"Oke, tapi cepat ya…" kata Naruto sambil bersandar ke dinding, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. Pemuda itu menunggu sambil bersenandung rendah, tangannya yang lain berkelana ke bibirnya dan mulai merabanya seakan mengingat kembali sudah digunakan untuk apa mereka tadi malam.

"Baiklah, aku sudah siap," perhatian Naruto tercuri oleh suara Hinata, yang kini sudah berdiri di sebelahnya, tanpa bekas apapun yang bisa menceritakan tentang kegiatan tadi malam, walaupun Naruto sangat tahu apa yang tersembunyi di balik pelindung dahi yang dikalungkan sang gadis ke lehernya itu. Hinata memiringkan kepalanya, merasa heran saat melihat Naruto meraba-raba bibirnya sendiri. "Naruto-kun, kenapa kau menyentuh bibirmu…?"

"Ah, tidak, aku hanya teringat…" Naruto berhenti, kemudian secepat kilat merampas sebuah kecupan singkat dari bibir Hinata yang berwarna pink dan manis bukan buatan, membuat wajah kekasihnya itu langsung dibakar warna merah membara. "…Itu."

"B-b-baka…" kata gadis itu sambil menutupi bibirnya dan berbalik, menyembunyikan wajah yang merah tersipu. "Sekarang apa yang harus kulakukan dengan rona wajahku ini…?"

"Oh, mudah saja…" bisik Naruto dengan nakal sambil menangkap pinggang Hinata dengan kedua tangannya, membuat gadis itu memekik pelan saat tubuh mereka bertemu, wajah mereka kini dalam jarak berbahaya. "Ayo kemarikan bibirmu itu."

"N-Naruto-kun, hentikan~!" rengek gadis itu sambil menahan muka Naruto, yang kini memonyong-monyongkan bibirnya dengan lucu seakan berusaha mencium Hinata. Wajah gadis itu boleh saja terlihat sebal, namun nada suaranya jelas menunjukkan kalau dia harus berusaha keras agar tidak tertawa. "Naruto-kun no baka…!"

"Kh-khau chufang, bhei…!" seru Naruto ketika Hinata mencubit dan menjewer dua pipinya sampai bibir pemuda itu terentang menjadi sebuah garis mendatar. "Nffakh fholeh mhenchubith dhong…!"

"Maaf," sebuah suara yang bukan milik Naruto maupun Hinata membuat dua kekasih itu langsung membeku dalam canda kecil mereka. Memutar kepala perlahan-lahan, mereka berdua menoleh ke samping, ke arah pintu yang kini terbuka lebar.

'Oh sialan, aku lupa tadi kuncinya sudah kubuka…' rutuk Naruto dalam hati.

"Maafkan saya," kata pelayan perempuan yang terlihat sudah paruh baya itu, wajahnya yang cukup keibuan terlihat begitu tenang walaupun sedang menatap kemesraan pasangan di depannya. "Tapi kamar ini harus segera dibersihkan…"

"A-ah, b-baik…!" kata Naruto sambil melepaskan pelukannya pada Hinata, yang wajahnya tak bisa lebih merah lagi dari sekarang. Pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, sedangkan Hinata sekarang bersembunyi di belakangnya, merasa terlalu malu untuk membalas tatapan sang pelayan. "A-anu, kami tadi cuma sedang siap-siap kok…!"

"…" ibu tersebut hanya mengangguk-angguk dengan sikap yang menurutnya perlu disebut pengertian, walaupun bagi pasangan di depannya itu malah membuat mereka makin dan makin tersipu saja. Akhirnya, tanpa banyak kata lagi, Naruto menggandeng tangan Hinata dan berjalan melalui pelayan itu, namun tidak tanpa satu halangan lagi. "Ah, tunggu sebentar, Tuan dan Nona?"

"Y-ya?" Naruto sudah langsung tahu dari nada suara ibu itu bahwa ini tak akan menjadi sesuatu yang bagus, tapi kurang ajar namanya kalau dia pergi begitu saja. "Ada apa…?"

"Bolehkah saya menyarankan sesuatu?" ibu itu tersenyum, sebuah senyum yang membuat Naruto tak tenang. "Nanti, mungkin jika Anda pergi menginap di suatu tempat lain…"

"A-apa…?"

"Cobalah untuk lebih tenang di saat malam ya," dia tersenyum menggoda. "Anda tak pernah tahu, mungkin saja kamar Anda tepat berada di atas kamar istirahat untuk para pelayan…"

Kaki Naruto sudah benar-benar gatal ingin segera lari sekarang…

"…Seperti kesempatan kali ini."

"A…ah…a…" Naruto hanya bisa mangap-mangap seperti ikan arwana ketika sosok ibu itu menghilang di pintu, walaupun cekikikannya masih bergema di telinganya. Pemuda itu berbalik untuk menghadap Hinata, sangat yakin bahwa rona di wajahnya sendiri pasti bisa menandingi apa yang dimiliki gadis itu. "…Tuh kan. Sudah kubilang kita bakal ketahuan…"

"…" Hinata yang masih menyembunyikan wajahnya di balik punggung Naruto merasa begitu malu sampai sekarang air matanya mulai keluar. "Kurasa juga begitu…"

To be Continued…

~••~

Baiklah, saatnya untuk peringatan kedua. Bagian angst cerita ini mungkin akan dimulai dari chap depan, mengingat cerita akan mulai bertambah serius. Doakan hamba agar bisa membawakan cerita ini sampai akhir ya.

Review chapter ini juga ya? Butuh usaha yang cukup menguras tenaga lho untuk menulis chapter ini, karena jujur saja, setiap kali menulis setidaknya 3 paragraf, hamba musti melakukan hal lain dulu untuk melenyapkan semua pikiran dan bayangan-bayangan mesum yang ada di kepala hamba, karena jika sampai hal tersebut mencapai tingkat tertentu, hasilnya DIJAMIN tak akan menyenangkan.

Seperti biasanya, terima kasih sudah membaca! Hamba sangat menunggu komentarnya!

Galerians, out.