Galerians, in.
Oke, sudah berapa lama hamba telat? Hm? Hampir dua tahun? Oke, hamba nggak akan bikin alasan. Ini adalah sepenuhnya kesalahan hamba, dan hamba meminta maaf karenanya. Hamba tak tahu apa readers sekalian bisa memaafkan hamba yang tidak becus menulis cerita ini tapi hamba tetap ingin meminta maaf, karena telah membuat kalian semua menunggu begitu lama (jika kalian memang masih menunggu).
Tanpa banyak basa-basi lagi, silakan menikmati!
Warning:
Abal, aneh, jelek, dan mungkin OOC
Disclaimer: This is purely a work of fiction. This crazy author gets zero profit and maximum delight from writing it. Thank you very much.
~••~
Epilogue
He Always Keeps His Promises
Naruto Uzumaki bukanlah seorang penakut. Yah, mungkin dia memang sedikit payah kalau berurusan dengan hal-hal bertajuk horor, mistik, apalagi gaib (ingus meler, gigi gemeletuk, kaki gemetaran... bisa kau bayangkan sendiri lah reaksinya), tapi setidaknya dia selalu bisa berdiri tegak setiap kali dia harus menghadapi lawan-lawannya.
Tapi pada saat ini, mau tak mau Naruto harus meragukan asumsinya tersebut.
Padahal di luar hari begitu cerah, matahari sudah bermurah hati menyebarkan cahayanya, menghangatkan semua yang ada di bawah pancaran sinarnya. Awan-awan putih serupa kapas berkelana dalam gumpalan-gumpalan kecil di bawah kanvas azure yang melingkupi segalanya, terlihat begitu empuk dan menggiurkan sampai-sampai seorang Jounin pemalas dengan potongan rambut nenas benar-benar mempertimbangkan untuk pergi ke sana dan mencoba tidur di atasnya.
Tapi situasi yang sedang dihadapi oleh Naruto sekarang benar-benar menghilangkan efek-efek positif cuaca, membuat Naruto kehilangan salah satu pilar yang bisa menyangga tekadnya. Walaupun tubuhnya bermandikan sinar matahari yang hangat, entah kenapa Naruto malah merasa sedang berendam dalam kolam es pada puncak musim dingin. Keringat dingin mengucur membasahi sekujur wajahnya dan tetes demi tetes terus berjatuhan dari ujung dagunya.
"...Jadi..." suara yang mengandung bahaya dan ancaman itu terdengar kembali, dan lagi-lagi, Naruto merasa sekelumit syaraf dan sendi tubuhnya seperti disapu oleh taifun, membuatnya oleng dan goyah. Tapi Naruto bertahan. "Bisa kau ulangi lagi kalimatmu tadi?"
~•~
Hari itu adalah hari bahagia bagi Konoha, hari di mana langit dipenuhi oleh warna-warni kembang api, hari di mana sorak sorai dan gegap gempita memenuhi hampir setiap penjuru desa, dan hari di mana kebahagiaan menjadi tema.
Hari itu, Naruto diangkat sebagai Hokage termuda sepanjang sejarah Konoha.
Walaupun hal ini telah diantisipasi sejak jauh-jauh hari, namun tetap saja terjadi kehebohan saat peristiwa resmi itu benar-benar terjadi. Bau manis arak dan sake memenuhi udara, aroma harum lagi menggiurkan berbagai jenis makanan yang tersaji gratis bagi siapapun yang menginginkan menggerayangi lubang hidung semua orang pada hari di mana tembok derajat di antara orang-orang runtuh berantakan, menyisakan hanya sesama penduduk Konoha yang tenggelam di dekapan sukacita luar biasa.
Betapa tidak? Pengangkatan Hokage Ketujuh ini tidak hanya memiliki arti perpindahan kekuasaan, namun juga sebagai pertanda berakhirnya perang dan permusuhan yang telah lama menggelayuti dunia shinobi. Hari ini, seluruh Kage berkumpul di satu desa, tak hanya demi memberikan selamat bagi sang Nanadaime tapi juga sebagai sebuah bukti titik final perselisihan yang telah memakan korban yang sudah tak terhitung jumlahnya selama beberapa dekade ini.
Kegaduhan yang menyelimuti Konohagakure menyurut dalam sekejab seiring munculnya sang Nanadaime di puncak Menara Hokage. Sosoknya yang bermandi cahaya matahari dan dibelai angin terlihat begitu agung dan mengesankan, raut wajahnya yang telah matang oleh pengalaman dan senyumnya yang kini nampak semakin menawan seakan menjadi sebuah pembuktian bahwa dia adalah seorang bocah yang telah tumbuh menjadi pria dewasa.
Dan kini di tangannya tergenggam sebuah mikropon, pertanda bahwa pidato pertama sang Hokage akan segera dimulai.
...Atau setidaknya itulah sangkaan mereka semua. Karena alih-alih menyampaikan pidato, sang Nanadaime itu malah mengatakan bahwa segala hal yang rumit bukanlah keahliannya. Lagipula, dia adalah seorang pria yang lebih suka membuktikan dirinya melalui perbuatan dan bukan perkataan.
Sehabis mengatakan itu, dan seakan tak menghiraukan rasa heran dan kebingungan yang tergambar di wajah-wajah penduduknya, Naruto tiba-tiba saja melompat dan mulai pergi menuju suatu arah. Sosoknya yang dibalut jaket jingga dan jubah berwarna merah tua―yang kini sudah menjadi ciri khasnya―diikuti oleh banyak mata, dan banyak tanda tanya tentang mau pergi ke mana dan mau apa kah sang Nanadaime yang baru diangkat ini?
~•~
Dan di sinilah ia sekarang, di halaman rumah utama salah satu klan dengan pengaruh tertinggi di desa: Klan Hyuuga. Dengan dua tangannya membentuk kepalan, pria yang secara tidak resmi diakui sebagai ninja terkuat di seantero jagat shinobi itu bersujud di hadapan seorang pria yang bersidekap dengan wajah cemberut sehingga membuat lipatan-lipatan keriputnya semakin terlihat.
"...Jadi..." pria dengan mata berwarna nila abu-abu dan rambut lurus sepanjang punggung itu membuka suara sambil menatap tajam-tajam pada pemuda yang bersujud di hadapannya. Suaranya dingin, tidak membiarkan sedikitpun celah bagi emosi. "Bisa kau ulangi lagi kalimatmu tadi?"
Naruto kembali mengangkat kepalanya―yang tadi ditundukkan begitu rendah sampai hampir menyentuh tanah―hingga tatapan mereka bertemu. Sadar kalau dia perlu mengumpulkan keberanian, pemuda berambut pirang jabrik itu menarik napas panjang. "Aku kemari untuk meminta restu."
"...Restu." Pria yang dikenal dengan nama Hyuuga Hiashi itu mengulangi satu kata yang menjadi pikiran utama kalimat Naruto, seakan-akan kata itu terasa asing di lidahnya. Setelah melihat anggukan Naruto, Hiashi menutup matanya, dan untuk sesaat, ada kesunyian yang menyesakkan.
Dia sebenarnya sudah tahu apa sebenarnya maksud Naruto, tapi toh tak ada salahnya memastikan. "Untuk?"
Naruto sampai harus menelan ludah dua kali. "M-m-menikahi... p-p-putrimu."
Dalam hati, Naruto menampar dirinya sendiri. Apa yang akan dikatakan oleh ayah dan ibunya di alam sana kalau mereka melihat anak mereka yang biasanya selalu blak-blakan kini malah bicara gagu di hadapan sang ayah mertua?
...Oke, mungkin di sini perlu koreksi. CALON ayah mertua.
Sementara itu, si bapak yang sedari tadi diam saja tiba-tiba saja menjentikkan jarinya. Dalam sekejab, sebentuk bayangan berkelebat dan detik berikutnya Hyuuga Neji telah muncul di hadapannya.
"Ya, Hiashi-sama?"
"Neji," dari nada suara itu saja hati Naruto sudah kebat-kebit. "Bisa tolong ambilkan 'benda itu'?"
Wajah Neji nampak kalem-kalem saja seakan dia sudah mengetahui ini sejak lama. Walaupun dia sempat juga melempar pandangan kasihan pada Naruto. "Baik, Hiashi-sama."
Naruto yang masih bersujud di tanah memandang Hiashi dengan kebingungan sepeninggal Neji. Apa yang dimaksud 'benda itu'? Sake untuk perayaan? Atau mungkinkah harta pusaka yang ingin diwariskan? Atau jangan-jangan surat nikah?
Mata birunya langsung melebar ketika sosok Neji muncul kembali dalam pandangan.
Ohh, coba lihat itu, sodara-sodara, ternyata dia membawa pedang.
"Em, Neji? Kenapa kau membawa pedang itu?" suara Naruto terdengar gugup. "Kenapa kau menyerahkannya ke Hiashi-san? Eh, Hiashi-san? Kenapa kau melihatku seperti itu? Kenapa kau berjalan ke sini? Kenapa kau mencabut pedang itu?"
Hanya perlu sepersekian detik sebelum seluruh penduduk Konoha tiba-tiba disuguhi pemandangan Hokage termuda mereka kini berlarian di atas atap rumah, dikejar-kejar oleh seorang bapak yang mengayun-ayunkan pedangnya dengan penuh nafsu.
"KUBUNUH KAU, DASAR MAKHLUK PIRANG BERKUMIS SIALAN!"
"GYAAA! T-TOLONG! SIAPAPUN, TOLONG AKU!"
Sementara itu di halaman rumah utama klan Hyuuga, sepeninggal kedua lelaki yang kini dengan mesranya berkejar-kejaran di atas atap rumah itu, Neji menghembuskan napas panjang. Ia berbalik, sebelum melemparkan pertanyaan pada seorang wanita yang kini berdiri di belakangnya.
"Apa kau tidak merasa kita perlu menyelamatkannya? Kalau kau tanya pendapatku, sepertinya ayahmu benar-benar berniat membunuhnya."
"Oh, kurasa itu tidak perlu," wanita dengan rambut panjang berwarna nila itu menjawab lembut sambil melihat ke arah sosok pria berambut pirang yang kini mati-matian menghindari maut di kejauhan. "Aku yakin dia akan baik-baik saja."
Neji melirik tangan kiri gadis itu, seberkas senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kau benar-benar percaya padanya ya, Hinata."
"Tentu saja," Hinata menjawab sambil tersenyum. Tangan kirinya bergerak naik sebelum berhenti di perutnya yang mulai membesar, mengakibatkan sekerling cahaya mentari terpantul dari cincin yang terpasang di jari manisnya. "Karena dia sudah berjanji akan menjadi ayah yang baik dari anak ini."
"Dan kita tahu kalau Naruto selalu menepati janjinya, ya kan?"
The End
~0~
-Aku adalah Milikmu-
A Work of Romance by The Wacky Author
June 2012
That's it, folks! This is the end of fic 'Aku adalah Milikmu'! Hamba sangat berharap ini bisa memuaskan sedikit dari dahaga yang telah 2 tahun hamba bebankan pada kalian. Terima kasih untuk semua review yang telah kalian anugerahkan pada hamba. Terima kasih untuk semuanya.
Semoga kita bisa bertemu lagi. Di waktu yang lain. Melalui fic yang lain.
Galerians, out and over.
