Yeai...

Saya datang lagi dengan fic lanjutan saya. Fuh...kalau dipikir-pikir, saya ini orang paling lelet dan lemot kalau soal update fic. Hontouni gomenasai...

Saya telat karena ada alasan. Tapi alasan kali ini bukan karena kesibukan saya kuliah dan juga kerja. Saya sering nunda buat fic karena emang bingung cerita apa lagi atau konflik apa yang bakal saya buat di chapter selanjutnya, gak kunjung-kunjung saya dapat. Alias, otak saya buntu total. Jadi seperti inilah. Fuh...

Yah...saya putusin buat ngetik lanjutin fic saya pelan-pelan. Konsekuensi dan resiko karena buat fic in progress yang banyak.

Arigatou gozaimasu buat yang sudah review chapter pertama lalu. Buat yang login, sudah saya kirimkan balasannya di akun masing-masing. Untuk yang gak login, ini balasannya.

ghie : Ini udah lanjut kok. Makasih reviewnya. Mampir lagi yah...

kokota : Hm..untuk saat ini keluarga mereka belum tahu. Untuk tahu gimana reaksinya, dibaca terus yah, dan mohon reviewnya lagi. Happy Valentine, too..

Hiruma Yuki-chan : Sun-sun itu, fraccion nya Tia Hallibel, espada ke tiga waktu itu. Udah ingat? Yosh... ini udah update kok.

Cherry-chan : Benarkah Cherry juga dari Bali? Kapan-kapan ketemuan yuk. Hehehehe... ini udah update, mohon reviewnya.

Juicy Cola : Hohohoho...silahkan baca chapter ini untuk tahu Rukia ngidam apa ajah...

Ruki : Oh...romance pasti ada. Di chap ini, Rukia ngidam kok. Arigatou udah review. Review lagi yah...

Nenz kuchiki : lam kenal juga, Nenz. Ini udah lanjut kok. Review lagi yah...

Vvvv : Ini udah ada lanjutannya. Mohon reviewnya...

.

Ok...lanjut ajah. Saya gak mau banyak cerita apapun. Hope all of you enjoy...

.

Disclaimer : Bleach bukan punya saya. Bleach tetaplah punya Tite Kubo seorang sampai kiamat pun.

Rated : T

Genre : Romance, Drama

Pairing : Kurosaki Ichigo x Kuchiki Rukia

Summary : "Kalau aku buta bagaimana?". "Aku akan menjadi matamu," . "Kalau tangan kananku putus?". "Aku akan menjadi tangan kananmu," . "Kalau aku hamil bagaimana?". "Hah?"

Warning : Semua karakter disini sangat OOC. Ide juga contek. Cerita abal. Harap maklum. Oleh sebab itu, don't like don't read.

.

.

.

"Aku pernah membaca di suatu majalah kalau wanita hamil pasti banyak maunya. Makan ini, makan itu. Apa itu yang namanya ngidam?" Ichigo dan Rukia saat ini sedang berjalan pulang dari sekolah mereka seperti yang biasa mereka berdua lakukan sejak sebulan ini. Sejak sebulan pula mereka tidak pernah pergi maupun pulang menggunakan sepeda. Alasan Ichigo sih, karena kalau Rukia naik sepeda saat hamil, ia takut akan berdampak pada kandungannya.

"Kurang lebih seperti itu. Waktu itu ayahku pernah bercerita, saat ibuku hamil diriku, ibuku sering ngidam shiratama. Mungkin karena itu sampai sekarang aku suka memakan shiratama," jawab Rukia seraya tersenyum dan tetap memandang jalanan di depannya, tanpa memandang Ichigo.

"Hm...hm...hm...," Ichigo hanya mengangguk-ngangguk tanda mengerti dengan pernyataan Rukia barusan.

"Rukia," Rukia menoleh untuk melihat kekasihnya yang memanggilnya.

"Hm..ada apa?"

"Katakan padaku apapun yang kau inginkan. Katakan padaku apapun yang ingin kau makan. Jangan buat dirimu dan anakku kelaparan yah," Ichigo ikut memandang Rukia disampingnya. Kini mereka berhenti sejenak. Rukia terdiam mendengar perkataan Ichigo. Kalau sebulan lalu Ichigo menghindari Rukia karena anak yang ada di kandungan Rukia, maka kini Ichigo sudah lebih siap dari sebelumnya.

"Hei! Kenapa berhenti, ayo jalan. Matahari sudah mau terbenam," Ichigo membuyarkan lamunan Rukia dan langsung menggenggam tangan Rukia dan menariknya untuk mengikutinya.

Dalam tarikan Ichigo, Rukia hanya bisa melihat punggung lebar Ichigo yang akan selalu menjaganya.

.

.

.

"Kuchiki Rukia!" seru seseorang berambut coklat keorangean sambil menarik selimut chappy milik Rukia yang tengah menutupi tubuh pemiliknya.

"Ugh...apaan, Imouto Baka...," jawab Rukia masih dengan nada malas. Ya ampun, ini masih jam 6 pagi. Kenapa dia harus dibangunkan sich?

"Kau lihat dimana makanan yang aku simpan di atas meja semalam?" sekarang gadis yang tingginya lebih tinggi dari Rukia itu terlihat berkacak pinggang.

Rukia bangun dan langsung duduk di ranjangnya, dengan matanya yang masih setengah sadar. "Owh...sandwich aneh itu? Aku menyuruh Inu memakannya, Orihime Nee-chan," Rukia lalu menguap.

Gadis bernama Orihime itu hanya mengangguk-angguk. Sepertinya dia belum sadar penuh dengan perkataan Rukia. Beberapa detik kemudian

"A...APA! Kau menyuruh Inu memakannya? Sandwich itu aku buatkan khusus untuk Ulquiorra-kun. Aku mau memberinya apa nanti. Kau bodoh!" Orihime berteriak-teriak tidak jelas di depan wajah adiknya yang masih berantakan itu.

"Dengar, Kuchiki Orihime. Bau sandwich atau makanan apalah itu namanya, sangat menyengat. Daripada bau tidak sedap itu menyebar, maka aku berikan saja pada Inu. Untungnya Inu mau memakannya. Sebenarnya apa sih yang kau masukan dalam sandwich itu?" kali ini Rukia yang ikut-ikutan memarahi Orihime. Sungguh adik yang tidak punya hormat pada kakaknya.

"Owh...kalau itu aku memasukkan bahan seperti daun bawang, bawang putih, jahe, dll," jawab Orihime dengan bangganya dan tersenyum senang.

"Hoeek! Apa-apaan itu? Kau membuat sandwich atau apa sih? Kalau bahannya seperti itu, tidak mungkin Ulquiorra Nii-san mau memakannya," jawab Rukia yang kali ini sudah mual pagi-pagi. Alasannya memberikan sandwich atau percobaan Orihime itu pun pada Inu, anjing penjaga rumah mereka yang luar biasa malas itu pun karena baunya yang membuat Rukia mual luar biasa.

"Siapa bilang? Dia selalu memakannya kok," jawab Orihime dengan bangganya lagi.

"Sudahlah. Jangan bicara tentang itu lagi. Aku mau muntah sekarang. Keluar dari kamarmu sekarang," Rukia pun mendorong Orihime untuk keluar dari kamarnya.

"Kau seperti orang hamil saja. Pakai mau muntah-muntah segala," perkataan Orihime membuat Rukia berhenti mendorong Orihime. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Dia berpikir jangan-jangan kakaknya ini sudah tahu tentang kehamilannya. Namun, segera ditepisnya pikiran itu dengan cara menggelengkan kepalanya keras-keras. Ia kembali mendorong Orihime untuk keluar dari daerah privasinya.

"Cepat keluar, Baka Imoutou," serunya pada Orihime, dan membanting pintunya kuat-kuat. Sementara ia masih mendengar keluhan Orihime akan membuatkan bekal apa untuk Ulquiorra-kun nya.

.

.

.

"Ibu, bisa aku minta kantong plastik?" kali ini memperlihatkan suasana makan pagi di sebuah rumah bertuliskan Kurosaki. Terlihat tiga orang, yang terdiri dari anak, ayah dan ibu sedang menikmati sarapan yang disediakan oleh sang koki mereka. Siapa lagi kalau bukan Masaki Kurosaki.

"Ambil saja diatas kulkas, sayang," jawab sang ibu menanggapi pertanyaan anak lelakinya yang sangat ia sayangi itu.

"Kau sudah selesai, Ichigo?" tanya sang ayah, saat melihat anaknya yang bangun dari meja makan. Tidak biasanya Ichigo meninggalkan sarapannya secepat ini.

"Hn," hanya itu jawaban dari Ichigo. Saat ini ia berjalan menuju kulkas dan mengambil plastik yang ada di atasnya. Kemudian, ia membuka kulkas tersebut.

Pisang, apel, anggur, pir dan semua buah-buahan yang ada di kulkas dimasukkan semuanya, sehingga plastik yang ia pakai tadi sudah terisi semua. Saat memasukkan buah-buah tersebut, senyum Ichigo terus terukir.

"Ichi, apa itu semua mau kau bawa ke sekolah?" melihat anaknya yang memasukkan buah-buahan, membuat Masaki bertanya. Ini aneh. Biasanya Ichigo tidak pernah membawa makanan ke sekolah, apalagi buah-buahan.

"Tentu saja, Ibu. Kalau mau ku makan dirumah, tidak mungkin aku memasukkan ini semua kedalam kantong plastik begini," jawab Ichigo menoleh pada ibunya yang masih duduk di tempat duduk sambil memakan sarapan.

"Memangnya buah sebanyak itu bisa kau makan, Ichigo?" tanya Isshin heran melihat anaknya bertingkah tidak seperti biasanya.

"Baka Oyaji. Buah-buahan ini baik untuk kesehatan dan juga untuk tinggi badanku. Aku makan buah-buahan ini, agar tubuhku tambah tinggi. Kau tidak mau anakmu ini bertambah tinggi?" ujar Ichigo lalu mengikat plastik berisi buah-buahan tadi.

"Ow...tentu My Son! Aku akan merasa bangga kalau kau bisa bertambah tinggi lagi. Mungkin sepertiku ini, tinggi, besar dan berotot," jawab Isshin dengan bangganya.

"Aku tidak akan menjadi sepertimu, Baka Oyaji," jawab Ichigo lalu berlalu ke pintu depan.

"Huweeee...Masaki. Lihat anakmu itu, dia tidak ingin seperti ayahnya ini," Isshin mulai lebay dan memeluk Masaki. Sementara Masaki hanya tersenyum garing melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak tersebut.

"Ibu...aku berangkat. Oyaji...uang saku ku mana?" seru Ichigo dari beranda depan. Beberapa detik kemudian, Isshin dan Masaki sudah ada dibelakangnya.

"Jangan nakal di sekolah. Berlakulah yang baik pada semua," Masaki yang memang sebagai ibu, menasihati Ichigo seperti biasa.

"Baik, Ibu. Aku berjanji," jawab Ichigo. "Oyaji, uang saku ku mana?" ujar Ichigo lagi seraya menadahkan tangannya.

"Kau ini, anak durhaka. Tidak ingin seperti ayahmu yang ganteng ini. Tapi saat meminta uang, kau menadahkan tanganmu padaku," ujar Isshin seraya memberikan Ichigo selembar uang.

"Hah? Hanya segini? Mana mungkin cukup untuk aku belanja hari ini?" Ichigo menatap selembar uang yang ada di tangannya.

"Setiap hari kan, uang saku mu memang segini," jawab Isshin bingung.

"Sudahlah, berikan saja lagi, Isshin," kali ini seperti biasa, Masaki membela Ichigo. Sebenarnya Isshin enggan memberikan uang lagi pada Ichigo, hanya saja senyuman Masaki mengalahkannya.

"Baiklah, istriku tersayang," jawab Isshin dengan nada lebay nya dan membuat Ichigo nyaris memuntahkan makanan yang ia makan tadi pagi.

Ichigo tersenyum lebar saat menerima empat lembaran uang lagi dari dompet Isshin.

.

.

.

"Rukia-chan, kau sudah mengerjakan PR Sejarah modern dari Aizen-sensei?" tanya Hinamori dengan wajah panik.

"Sudah," jawab Rukia singkat dan tetap membaringkan kepalanya diatas meja. Entah apa yang ia pikirkan kali ini.

"Aku juga sudah," jawab Sun-sun, begitu Hinamori menoleh padanya yang sedang meminum jus yang baru saja dibelinya di kantin.

"Sudah," jawab Nemu singkat, jelas dan padat saat melihat tatapan Hinamori kepadanya.

"Bagaimana ini? Berarti hanya aku yang belum mengerjakan PR dari Aizen-sensei? Habisnya aku ketiduran tadi malam. Ah...image ku bisa rusak di depan Aizen-sensei," Hinamori mulai sesak napas yang dibuat-buat.

"Hinamori-chan, kau bisa menyalin PR ku kalau kau mau," tegur Sun-sun melihat Hinamori yang sepertinya sudah sekarat setengah mati hanya karena lupa mengerjakan PR dari guru kesayangannya, Sousuke Aizen.

"Benarkah, Sun-chan? Ah..arigatou," jawab Hinamori seraya memeluk Sun-sun karena mau memberikan PR nya. Sun-sun memang paling pintar diantara mereka dan juga paling tidak tegaan.

"Rukia, ada yang mencarimu," Nemu berbicara pada Rukia yang masih saja membaringkan wajahnya di atas mejanya.

"Rukia, kau tidak apa-apa?" saat ia mengangkat wajahnya, ia dapat melihat Ichigo yang berdiri di sampingnya dengan wajah cemas karena melihat Rukia yang membaringkan kepalanya di atas meja.

"Bodoh, aku tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk , karena kurang tidur saja. Nee-chan juga membangun ku pagi-pagi sekali karena hanya ingin menanyakan dimana sandwich baunya itu," jawab Rukia.

"Aku kira terjadi apa-apa padamu," jawab Ichigo lalu duduk di bangku milik Hinamori yang ada di depan bangku Rukia. Tentu saja dengan seijin Hinamori.

"Aku bawakan ini. Kau harus menghabiskannya, yah," Ichigo lalu menyodorkan plastik yang ia bawa dari rumah tadi.

"Ichigo...apa bibi Masaki dan Paman Isshin tidak marah kau mengambil semua ini? Lagipula, buah-buahan ini terlalu banyak untuk kumakan sendiri," kali ini Rukia berkata dengan nada selembut mungkin karena pemberian Ichigo. Ia merasa ia sudah merepotkan Ichigo akhir-akhir ini.

"Sudahlah. Dimakan saja, ok. Baiklah, aku kembali ke kelas dulu. Sampai jumpa."

"Tunggu, Ichigo."

Seketika pipi Ichigo memerah saat Rukia mencium pipi kanan dan kirinya. Bagaimana ia tidak memerah, ia dicium di depan teman-temannya yang ada di dekatnya.

"Sepertinya Ichigo-kun akan semangat mengikuti pelajaran nanti," Hinamori menyindir. Namun, ekspresinya terkagum-kagum dengan kemesraan mereka berdua.

"Kurosaki-kun dapat hadiah dari Rukia-chan pagi-pagi," kali ini Sun-sun ikut menimpali. Membuat wajah Ichigo semakin memerah. Wajahnya pun sama dengan Hinamori. Terkagum-kagum. Sementara Nemu terdiam, namun ia turut senang.

"Terima kasih, Rukia."

.

.

.

Drrttt...Drrrttt...

"Halo..."

"Ichigo..."

.

.

"Kalau ayahmu tahu kalau kau bangun selarut ini dan bertemu denganku, dia akan memarahimu, Rukia."

"Mereka tidak akan tahu. Kalau mereka sudah tidur, mereka akan seperti orang mati."

Jam 2 pagi. Semua seharusnya sudah tidur dan tidak akan ada lagi yang di luar rumah. Namun, sepertinya ini tidak berlaku bagi pasangan ini. Lihatlah mereka. Duduk di depan beranda rumah sang gadis. Si gadis tengah meminum susu bantalnya, sedangkan tangan yang satunya lagi sedang memegang es krim. Sedangkan si pemuda, hanya menemaninya.

"Kau sendiri? Apa paman dan bibi tidak akan marah kalau tahu kau keluar selarut ini?" tanya Rukia balik. Ia masih sibuk dengan kedua benda manis di kedua tangannya.

"Mereka pun tidak akan tahu," jawab Ichigo.

"..."

"Terima kasih sudah mau datang menemui ku selarut ini dan membelikan apa yang aku mau. Maaf, tidurmu jadi terganggu," Rukia meninggalkan aktivitas makannya sejenak dan memandang Ichigo yang ada di sampingnya.

"Aku memang terganggu," jawab Ichigo. Rukia cemberut. "Hanya saja, aku tadi memimpikan mu. Begitu kau menelponku, aku jadi bersemangat. Setidaknya mimpiku jadi kenyataan, aku tidak memimpikanmu, malah, aku dapat melihatmu" jawab Ichigo lagi yang langsung memasang wajah bahagianya.

"Dulu, aku suka berpikir, sebenarnya kegunaan mini market 24 jam itu apa? Orang-orang kan juga tidak mungkin mencari apa yang mereka inginkan tengah malam begitu. Akhirnya aku sadar, bahwa mini market 24 jam sangat berguna," Ichigo kembali membuka percakapan.

"Memangnya kegunaannya apa?" tanya Rukia polos dan kembali meminum susunya, sesekali menyendokkan es krim ke mulutnya. Ichigo sampai cengo melihatnya. Bayangkan saja, ia baru pernah melihat orang yang meminum susu dan memakan es krim sekaligus. Ibu hamil memang aneh.

"Karena aku bisa langsung membelikan apa yang kau mau, meski ini sudah jam 2. Bayangkan saja kalau tidak ada mereka? Malam-malam begini aku harus mendapatkan susu dan es krim dimana? Dirumahku susu sudah habis," jawab Ichigo.

"Hm...kau benar juga. Sebenarnya susu dan es krim ada di kulkas ku. Hanya saja, entah mengapa baunya aneh. Aku curiga kalau Nee-chan sudah menambahkan perasa baru kedalam susu dan es krim itu. Lagipula, aku ingin menemuimu," ujar Rukia seraya mengalungkan lengannya pada lengan Ichigo dan menyandarkan kepalanya di pundak Ichigo.

"Kakakmu itu, tidak pernah berhenti berbuat yang aneh-aneh. Kau ingin menemuiku? Hm...kau pasti berbohong," goda Ichigo.

"Aku tidak berbohong. Aku rindu padamu. Aku juga heran kenapa begitu. Padahal baru beberapa jam saja, tapi rasanya sudah seabad," jawab Rukia dengan wajah di tekuk dan langsung melepaskan lengannya pada Ichigo.

"Hahaha, aku mengerti. Aku percaya padamu. Jangan marah karena aku menggodamu. Habiskan es krim mu dan cepat masuk. Kau perlu tidur. Besok kita masih harus sekolah," ujar Ichigo dan mengambil tempat es krim dan mulai menyendokkan untuk Rukia.

"Baiklah," jawab Rukia yang langsung melahap es krim yang Ichigo sendokkan untuknya.

.

.

.

"Ohayou..," Ichigo kali ini sudah berada di depan rumah Rukia. Setelah sekian lama mengetuk, akhirnya ada yang membuka.

"Ah...Ichigo-kun. Sudah lama tidak bertemu. Kau jarang sekali main kesini akhir-akhir ini," akhirnya sang pembuka pintu menyapa dirinya juga.

"Begitukah, Bibi? Aku hanya sedikit sibuk dengan kegiatan OSIS ku saja. Jadi aku mulai jarang kemari," jawab Ichigo sekenanya.

"Ah...bibi lega sekali dengan jawabanmu. Bibi kira kau takut datang kemari karena Byakuya. Byakuya memang terlalu over protektif pada Rukia, sehingga kau yang kekasih Rukia pun jadi segan terhadap Byakuya," ujar Hisana yang secara tidak langsung menjelekkan suaminya sendiri.

"Siapa yang datang, Hisana? Oh..rupanya kau bocah orange," ujar Byakuya yang sudah bisa ditebak ekspresinya saat melihat Ichigo.

"O..ohayou, paman," sapa Ichigo sopan. Sebenarnya ia ingin membela diri karena dipanggil bocah orange. Hanya saja, ia tahu kalau yang di depannya ini akan menjadi mertuanya, saat ia dan Rukia siap mengatakan hal yang sebenarnya.

"Oh iya Bi, Rukia dimana?" tanya Ichigo. Kali ini pandangannya beralih pada Hisana. Ia malas melihat tampang Byakuya.

"Sepertinya masih tidur. Orihime pasti susah membangunkannya. Kalau begitu, kau saja yang keatas dan membangunkannya."

"Tidak boleh," hah...Byakuya bersikap seperti anak kecil sekarang. Entah dendam apa yang ia pendam pada Ichigo, sampai-sampai ia begitu tidak suka anaknya terlibat dengan Ichigo. Hei...Ichigo itu pintar, jenius se Karakura High School. Anak seorang dokter. Dan kelak mungkin ia akan menjadi dokter pula. Apa sih yang kurang?

"Naiklah keatas, Ichigo-kun. 'Anak kecil' ini, biar Bibi yang urus," Hisana memberi jalan pada Ichigo untuk masuk.

'Kalau saja dia bukan ayah Rukia, sudah kutendang dia sampai ke luar angkasa. Dia pasti belum percaya kalau rambutku ini asli,'

.

.

Sementara itu

"Kenapa sih kau selalu membenci Ichigo-kun, Byakuya?" tanya Hisana sambil menyiapkan roti untuk sarapan suaminya.

"Aku benci rambutnya. Orange dan mencolok."

Hisana cengo. Ia hanya bisa menahan diri untuk tertawa. Jujur, alasan suaminya sangatlah tidak logis. Mau sampai kapan ia membenci Ichigo hanya karena rambutnya?

.

.

"Suatu saat nanti akan kubuat kau memakan masakanku. Dan jangan menyesal karena kau telah mengatakan masakanku tidak enak. Kyaaa...," Orihime nyaris tersungkur saat baru menyadari Ichigo di belakangnya. Ia baru saja memarahi Rukia dan membanting pintu kamar Rukia yang sepertinya lagi-lagi membuang masakan anehnya untuk sang pacar, Ulquiorra.

"Kau mengagetkan ku, Kurosaki-kun," ujar Orihime yang terlihat mengatur nafasnya.

"Pagi-pagi begini kau sudah berisik sekali, Nee-san. Rukia membuang bekal untuk Ulquiorra-san lagi?" Ichigo tidak perlu menanyakannya. Ia tahu alasan Orihime marah karena apa.

"Yah begitulah. Dia memang adik durhaka. Naa...Kurosaki-kun, apa kau mau mencoba roti isi buatanku? Aku akan membuatkannya lagi. Sekalian untuk Ulquiorra-kun" tawar Orihime pada Ichigo. Wajah Ichigo memucat.

"Ti..tidak usah, Nee-san. Aku sudah makan tadi. Mungkin lain kali saja," tolak Ichigo halus. Dia tidak mungkin mengatakan hal sejujurnya di depan Orihime kan? Bisa-bisa Byakuya menendangnya keluar darisini karena sudah mengejek salah satu anaknya.

"Sayang sekali kalau begitu. Ya sudah aku kembali ke bawah. Bangunkan Rukia, ya," Orihime berlari kecil saat menuruni tangga. Ia harus cepat. Karena ia harus membuat ulang roti isi anehnya.

.

.

.

"Bangun. Gadis pemalas," bisik ichigo membuat seseorang yang masih di dalam selimut itu menggeliat.

"Ugh...Ichigo!" seru Rukia dan langsung bangun.

"Bersiaplah. Kita harus berangkat sekolah," ujar Ichigo dan mulai membuka jendela Rukia. Angin pagi yang sejuk memasuki kamar yang berisi gambar Chappy, si kelinci aneh yang sangat digilai Rukia.

"Hei Inu, apa kabar?" sapa Ichigo pada anjing milik keluarga Kuchiki. Anjing yang seharusnya galak. Namun entah mengapa anjing ini sangat malas. Ia hanya menggendutkan badannya saja. Percuma ia memiliki bulu berwarna hitam. Ia sama sekali tidak menakutkan. Anjing payah.

"Guk...guk..."

"Maaf, aku tidak membawa apa-apa. Aku hanya ingin menjemput kekasihku, bukan memberimu makan," respon Ichigo saat mendengar gonggongan Inu.

"Kau terlalu blak-blakan di depan seekor anjing," Ichigo menoleh dan mendapati Rukia yang sudah rapi.

"Dia kan tidak tahu apa-apa. Dia tidak akan mengerti apa artinya kekasih," jawab Ichigo yang berjalan mendekati Rukia.

"Bagaimana kabar anakku?" bisik Ichigo.

"Ia baik-baik saja. Tapi ia ingin ayahnya memberikan kecupan selamat pagi untuk ibunya," ujar Rukia.

"Akan kukabulkan," perlahan Ichigo menelusuri lekuk wajah Rukia, dan mendekatkan bibirnya pada bibir Rukia dan menciumnya perlahan. Dengan sangat pelan, lembut, tanpa nafsu. Yang ada hanyalah ciuman rasa cinta yang ingin ia berikan pada Rukia melalui kecupan tersebut. Kecupan yang menandakan betapa dua orang ini, Rukia dan calon anaknya, begitu berharga baginya.

.

.

.

"Aku ingin makan takoyaki," ujar Rukia pelan. Sekarang mereka sudah ada di halaman sekolah Karakura High School. Mereka berdua tetap bergandeng tangan.

"Pulang sekolah kita akan makan di kedai dekat rumahku. Okey. Bersabarlah," jawab Ichigo. Ia tahu, kali ini Rukia sedang ngidam lagi.

"Ehm, aku akan..."

"ICHIGO..."

Genggaman tangan Ichigo dan Rukia terlepas. Lebih tepatnya, dipaksa dilepas oleh seorang gadis yang berpakaian seragam seperti mereka. Tinggi semampai. Bertubuh seksi dengan dadanya yang diatas rata-rata yang sekarang sudah menggelayut manja di lengan Ichigo.

"Antarkan aku ke kantin."

"Lepaskan, Nel. Apa-apan kau," Ichigo berusaha untuk melepaskan pegangan Nel, namun sia-sia.

Sedangkan Rukia menatap Nel dengan garang. Ia marah kali ini. Aura membunuh pun sudah terasa kental. Ichigo miliknya. Tidak akan berpindah tangan pada siapapun. Termasuk pada gadis berambut hijau toska ini.

"Hei, gadis genit, lepaskan Ichigo!"

.

.

.

TBC

.

.

Sepertinya kualitas fic-fic saya kali ini sungguh menurun. Jalan cerita terlalu datar. Entah kenapa bisa begini.

Apapun itu saya hanya ingin meminta review dari reader sekalian. Karena dari review para reader, saya jadi tahu apa yang kurang dalam fic saya akhir-akhir ini.

Hm...saya buat karakter yang disini OOC yah. Emang OOC. Karena fic ini temanya gak berat, makanya saya sisipkan humor walaupun mungkin garing.

Akhir kata, review please.

Untuk chapter selanjutnya. Rukia marah karena Nel menggoda Ichigo. Kencan di tengah danau yang justru membuat mereka harus menginap semalaman disana.