Gomennasai….
Saya telat update lagi *memang sudah kebiasaan*. Hehehehe….
Ah…hari ini saya update cerita ini lagi. Cerita ini juga banyak yang minati yah, padahal gaje gini. Hehehhehe….
Ow yah, mau promosi fic yang baru saya update tadi. Dengan chara Ichigo, Kaien dan Hisagi. Genre nya Friendship dan Crime. Diambil dari MV nya DBSK yang "Before You Go". Di fic itu hanya menceritakan tentang persahabatan mereka dan pengkhianatan salah satu dari mereka. No romance dan tidak ada chara wanita, seperti di Mv asli nya. Saya hanya ingin fokus ke persahabatan mereka bertiga. Jika berkenan, mohon dibaca dan tinggalkan review. Terima kasih.
Sip…enjoy for chapter 3.
.
.
Disclaimer : Bleach bukan punya saya. Bleach tetaplah punya Tite Kubo seorang sampai kiamat pun.
Rated : T
Genre : Romance, Drama
Pairing : Kurosaki Ichigo x Kuchiki Rukia
Summary : "Kalau aku buta bagaimana?". "Aku akan menjadi matamu," . "Kalau tangan kananku putus?". "Aku akan menjadi tangan kananmu," . "Kalau aku hamil bagaimana?". "Hah?"
Warning : Semua karakter disini sangat OOC. Ide juga contek. Cerita abal. Harap maklum. Oleh sebab itu, don't like don't read.
.
.
.
Chapter 3
.
"Lepaskan Ichigo, gadis genit,"
Perkataan Rukia tadi membuat Nel menoleh padanya. Entah ia memang tidak sadar atau berpura-pura buta dengan keberadaan Rukia. Ia menoleh pada Rukia yang memandangnya dengan tatapan benci, sangar dan entah apa lagi yang bisa diungkapkan. Ichigo yang melihat Rukia pun hanya bisa menyimpulkan satu hal. Rukia ingin memakan Nel. Habislah dia.
"Kau bilang apa tadi, Rukia-chan?" Nel bertanya pada Rukia dengan tampang polosnya. Hei, tidakkah dia sadar kalau ia dalam bahaya karena sudah cari masalah dengan Rukia?
"Aku bilang, lepaskan Ichigo, ga-dis ge-nit," jawab Rukia mengulang perkataannya tadi. Sepertinya Rukia sedang berusaha mengontrol emosinya dengan bukti wajahnya yang semakin memerah.
"Nel, lepaskan aku," ujar Ichigo dan mencoba menghentakkan tangan Nel yang daritadi mengamit lengannya. Berhasil. Ichigo berhasil melepaskan genggaman Nel padanya.
"Rukia, sudahlah, jangan dihiraukan. Ayo, kembali jalan," ajak Ichigo pada Rukia. Ia tidak mau melihat Rukia membuat keributan. Sejak ia menjadi kekasih Ichigo, Rukia memang sensitive terhadap Nel yang memang belum berhenti mengejar Ichigo.
Kali ini Rukia mennurut. Ia meninggalkan Nel dan ikut bersama Ichigo. Ia pun sedang tidak ingin menghajar wajah cantik Nel sekarang. Marah-marah saja sudah membuat energinya habis seketika.
"Aku heran kenapa Ichigo begitu menyukai perempuan pendek, jelek dan juga berdada rata sepertimu," perkataan Nel di belakangnya membuat Rukia berhenti berjalan. Ini membuat telinganya menjadi panas.
"Nel! Hentikan. Jangan mencari masalah!" Ichigo menoleh dan berusaha mencairkan suasana. Kata-kata Nel membuat Ichigo yakin bahwa Rukia sekarang pasti sudah tersinggung. Rukia ppaling anti kata 'pendek' dan juga 'dada rata'.
"Biarkan saja. Daridulu aku memang ingin mengatakannya. Agar dia sadar diri, siapa dia sebenarnya dan berhenti mendekati pamgeran sekolah sepertimu, Ichigo," balas Nel dan menyeringai.
"Kenapa Kuchiki Rukia? Kau takut padaku? Kau pasti sudah sadar dengan kata-kataku tadi,"
"….."
"…."
Suasana menjadi hening kali ini. Ichigo hanya menonton Nel yang menunggu reaksi Rukia, sedangkan Rukia masih belum membalikkan badannya untuk merespon, tapi Ichigo tahu, Rukia sedang marah.
Sedangkan anak-anak lain sudah berada disitu karena penasaran dengan aksi selanjutnya. Grimmjow, Renji dan Ishida pun sudah disitu, begitu pun Sun-Sun, Hinamori dan Nemu. Pandangan mereka penasaran dan juga serius. Tiba-tiba hawa disitu menjadi tegang.
"Ah…sudahlah. Percuma bicara denganmu,"
"Hei, Neliel," Rukia membalikkan tubuh Nel agar berhadapan lagi dengan dirinya, karena Nel tadi hendak pergi.
"Aku memang pendek, jelek dan berdada rata. Aku juga tidak percaya bisa menjadi kekasih Kurosaki Ichigo. Tapi, satu hal yang perlu kau tahu. AKU TIDAK PERNAH TAKUT PADAMU, PEREMPUAN PENGGODA!" teriak Rukia kemudian menjambak rembut Nel yang panjang. Yang Nel jaga kehalusannya dan juga kelembutannya. Rambut yang Nel rawat hampir setiap hari. Hari ini sepertinya ia harus kembali menata rambutnya.
"AWWWW….APA YANG KAU LAKUKAN PADA RAMBUTKU, PEREMPUAN JELEK?" teriak Nel dan berusaha menarik rambutnya yang dijambak oleh Rukia. Sementara yang melihat perkelahian tersebut malah bersorak gembira.
"Ayo teruskan,"
"Teruskan saja,"
"Hajar saja,"
Entah siapa yang mereka bela dalam perkelahian ini, yang jelas mereka sangat menikmati perkelahian Rukia vs Nel. Yang namanya juga perkelahian sesama wanita, saling menjambak rambut adalah cara mereka bertengkar. Belum lagi dengan adu mulut yang masih terdengar.
"KAU GADIS PENGGODA SIALAN!"
"KAU YANG TERLALU PD DENGAN DADA RATAMU!"
"KAU SAMA SEKALI TIDAK PANTAS UNTUK ICHIGO!"
"KAULAH YANG TIDAK PANTAS. SADAR DIRI, KUCHIKI!"
.
.
.
"KUROSAKI! Apa yang kau lihat. Segera pisahkan mereka," teriak Ishida dari pinggir lapangan tempatnya berdiri.
"Aku juga mau memisahkan mereka, tapi kau tidak lihat apa yang kuterima?" tanya Ichigo pada ketiga temannya yang ada disitu. Ketiga temannya terkekeh melihat Ichigo yang sekarang berantakan akibat dari berusaha melepaskan dua orang gadis ganas yang sedang bertengkar.
"Tapi tetap saja kau harus menghentikan mereka, Ichigo bodoh!" seru Grimmjow.
"Kami akan membantumu. Kau pisahkan saja Rukia dari Nel," ujar Renji.
Ichigo melangkah maju dan segera menarik Rukia. Sementara Grimmjow, Renji dan Ishida menarik Nel, dan menjauhkan ia dari Rukia. Melihat Ichigo yang kesulitan menjauhkan Rukia dari Nel, Hinamori, Sun-sun dan Nemu juga ikut menarik Rukia.
"Nel, daripada kau terus saja mengejar Ichigo, lebih baik pacaran denganku saja," tawar Renji menyeringai.
"APA KAU BILANG BABON? AKU TIDAK SUDI PACARAN DENGAN PENYUKA PISANG SEPERTIMU!" teriak Nel masih berontak minta dilepaskan.
"Kalau begitu denganku saja," kali ini, Grimmjow menawarkan diri.
"AKU JUGA TIDAK MAU DENGAN KAU, MANUSIA KUCING," teriak Nel pada grimmjow yang ada disampingnya.
"DAN KAU JUGA JANGAN MENAWARKAN DIRI PADAKU. AKU TIDAK SUKA PRIA MATA EMPAT," teriak Nel pada Ishida. Sementara Ishida sweetdrop. Renji dan Grimmjow hanya menahan tawa melihat ekspresi Ishida.
"Aku tidak perlu repot-repot menawarkan diri padamu. Kau juga bukan tipe gadis yang aku suka. Kau gadis pesolek," jawab Ishida tenang
BUUKK
Serasa batu sebesar satu ton menjatuhi kepalanya, membuat Nel diam memberontak. Ia baru tahu ada laki-laki yang berani menolaknya mentah-mentah. Hahahahhaha….sakit hati sekali mendengarnya.
.
.
.
"Lepaskan aku, Ichigo. Aku akan kembali dan menghajarnya," ronta Rukia dalam pelukan Ichigo. Kali ini ia berada dalam gendongan Ichigo. Karena tadi ia meronta terus, maka Ichigo menggendongnya dan membawa ke atap.
"Duduklah disini. Ayo kita bicarakan masalah yang tadi. Apa yang membuatmu begitu marah pada Nel?" tanya Ichigo setelah mendudukkan Rukia, dan dia sendiri sudah duduk di samping Rukia. Mereka sudah berada di atap dan menikmati angin sepoi-sepoi.
"Dia mengatakan aku jelek, berdada rata dan juga pendek," jawab Rukia.
"Tapi itu kenyataannya, Rukia,"
"Ichigo…jangan membelanya," seru Rukia mulai kesal.
"Aku tidak bermaksud membelanya. Hanya saja Nel memang benar. Kau pendek, berdada rata dan juga jelek. Tapi, itu yang aku sukai darimu, baka," jawab Ichigo lembut.
"Aku tahu," jawab Rukia mulai meremas roknya. Jika ia mengataiku seperti itu, aku tidak apa-apa. Hanya saja ia menghinaku dan mengatakan bagaimana mungkin aku bisa pacaran denganmu. Kalau ia iri, bilang saja, jangan menghina seperti itu,"
"Kalau begitu seharusnya kau tidak marah dan mencoba membuatnya babak belur,"
"Kan! Kau membelanya lagi! Sebenarnya kau dipihak siapa?" kali ini Rukia benar-benar emosi.
"Aku belum selesai bicara, Rukia. Kenapa kau harus marah? Kenyataannya kau pacarku. Aku menyukaimu dan tidak menyukai Nel. Aku pacaran denganmu dan bukannya pacaran dengan Nel. Jadi, tidak ada alasan kau marah karena ia mengatakan kenapa kau bisa menjadi pacarku. Aku tidak butuh alasan kenapa aku menyukaimu. Yang jelas, dari awal aku sudah menyukaimu. Jadi, mulai sekarang jangan suka marah-marah lagi. Apabila ada yang mengejekmu dengan mengatakan kau tidak pantas menjadi pacarku, katakan saja pada mereka bahwa aku mencintaiku. Katakan, Ichigo mencintaiku sehingga ia tidak perlu alasan kenapa ia menyukaiku. Mudah kan?" jelas Ichigo. Jujur saja, Rukia merupakan tipe gadis pencemburu, namun ia merasa tidak terganggu dengan sikap Rukia yang seperti itu.
"Benarkah aku hanya perlu menagatakan itu?" tanya Rukia polos.
"Hm….tentu saja, daripada kau menghabiskan banyak energy dan tenaga karena meneriaki orang yang sama sekali hanya ingin memisahkan kita berdua," jawab Ichigo mantap.
"Hm….benar juga yah. Ah…aku bodoh sekali. Jujur saja, aku malu dilihat satu sekolah sedang bertengkar. Dan lihat, rambutku sampai berantakan begini," ujar Rukia melihat rambutnya yang kusut.
"Sisir saja. Rambutmu kan mudah di sisir," jawab Ichigo asal.
"Arigatou, Ichigo. Kau yang terbaik di dunia," ujar Rukia dan mencium pipi Ichigo.
"Kau juga yang terbaik di dunia," balas Ichigo dan mencium pipi Rukia.
.
.
.
"KIREIIII! Tempat ini indah sekali," seru Rukia memandang pemandangan yang ada di depannya. Sebuah danau besar yang terasa sejuk sekali. Rukia menghirup nafas dan mengambil udara segar sebanyak-banyaknya.
"Kau senang?"tanya Ichigo. Wajahnya tampak bersinar melihat Rukia yang gembira karena kedatangan mereka kesini.
"Tentu saja. Tapi, untuk apa mengajakku kesini? Hari ini bukan ulang tahunku," tanya Rukia bingung. Jarang-jarang Ichigo mengajaknya ke tempat sebagus ini.
"Anggap saja kita kencan bertiga. Aku, kau dan anak kita. Bagaimana?" jawab Ichigo. "Ayo, naik kita naik perahu sampai puas," ajak Ichigo menuju pinggir danau. Disana ada perahu kecil lengkap dengan kayuhannya.
"Ahahhaha..sungguh heran melihatmu seromantis ini," ujar Rukia terkekeh.
"Jangan mengejekku, Midget! Bersyukurlah aku bisa seromantis ini," jawab Ichigo dan mulai mengayuh perahunya.
"Kau mau kemana? Apa kita hanya mengelilingi danau ini saja?" tanya Ichigo. Jujur saja, tangannya sudah pegal sedari tadi mengayuh perahu.
"Katakan saja kau lelah mengayuh. Kau terlalu malu, Ichigo," ejek Rukia membuat wajah Ichigo mengeras. "Bagaimana kalau kita berhenti disana? Aku mau duduk sebentar disana," tunjuk Rukia tidak peduli pada ekspresi Ichigo pada sebuah tempat yang berdiri di tengah danau. Tempat yang terbuat dari kayu, tapi cukup kuat untuk dipakai duduk. Disana terlihat kayu yang lain untuk mengikat perahu.
Ichigo pun segera mengayuhkan perahunya disana. Ia lalu mengikat perahunya dan membantu Rukia untuk naik menuju rumah kayu sederhana tersebut.
"Angin disini sejuk sekali. Nyamannya…" seru Rukia yang mulai duduk dan menggoyangkan kakinya yang bergelantungan di bawah.
"Aku rasa begitu. Tapi sayang, tempat sejauh ini begitu jauh dari tepi danau. Bagaimana jika perahu yang diikat disana terlepas? Apa yang duduk disini akan seharian disini sampai besok pagi?" Ichigo membayangkan suasananya. Ia sempat bergidik ngeri jika membayangkannya.
"Jangan bicara sembarangan Ichigo. Bagaimana kalau kita yang seperti itu? Aku tidak mau tidur di bawah langit seperti ini semalaman," ujar Rukia yang sejujurnya takut dengan ucapan Ichigo. Bagaimana mungkin Ichigo bisa membayangkan hal bodoh seperti itu.
"Tentu saja kita tidak akan terperangkap disini? kau lihat? Aku sudah mengikatnya dengan sangat kencang. Dorong aku ke danau kalau sampai ikatannya lepas.
.
.
.
Hari makin sore. Matahari sebentar lagi akan tenggelam. Burung-burung pun berkoak menandakan akan segera malam. Namun, kedua sejoli yang berada di tempat yang berada di tengah danau ini, belum kunjung mau pergi dari situ. Entah apa yang mereka bicarakan sampai mereka lupa waktu.
"Rukia, ayo pulang. Hari sudah sore sekali, nanti kita pulang kemalaman. Ayahmu bisa marah padaku, jika kau pulang terlambat," ajak Ichigo dan segera menuju perahu yang sedang diikatnya.
"Baiklah. Sesudah ini, kita makan es krim yah. Aku ingin makan es krim," jawab Rukia dan berdiri dari duduknya.
Ichigo melepaskan ikatan perahu yang masih mengambang di danau. Dia tersenyum, karena Rukia makin hari makin banyak makan saja. Setelah ini, ia akan makan es krim lagi. Biasanya kalau ia menemani Rukia makan, ia yang akan kenyang sendiri akibat Rukia yang makan banyak.
"Ichigo! Lihat disana" Ichigo kaget dan menoleh pada Rukia yang menunjuk sesuatu dan ternyata sepasang kupu-kupu hitam. Ia tidak merasa pegangannya pada tali perahunya sekarang sudah terlepas.
"Aku jarang melihat kupu-kupu hitam seperti itu," ujar Rukia senang dan tidak berhenti tersenyum.
"Aku juga jarang melihatnya," Ichigo masih belum sadar apa yang sudah terjadi padanya. Perahu yang dibelakangnya sudah menjauh dari tempat mereka.
"Hm…mereka indah sekali dengan warna hitam. AKH….Ichigo! Perahunya!" Ichigo kaget lagi, dan menoleh pada direksi yang ditunjuk Rukia. Ichigo hanya bengong dan tidak bisa mengatakan apapun.. perahunya menjauh. Sekarang, ia harus melakukan apa? Perahunya sudah jauh dari tempat mereka berada. Mereka harus pergi menepi menggunakan apa sekarang?
"Sekarang kita harus ke tepi menggunakan apa, Ichigo? Kita tidak bisa pulang kalau begini," Rukia mulai lemas. Hah….ia tidak mau tidur di bawah bintang dengan udara dingin seperti ini.
"Aku juga tidak tahu. Lagipula, ini karena kau. Jika kau tidak menyuruhku melihat kupu-kupu itu tadi, aku tidak mungkin menoleh," ujar Ichigo dan masih menatap perahu yang menjauh.\
"Hei, jangan menyalahkanku. Kau juga salah. Siapa suruh kau melepas ikatan saat kau melihat kupu-kupu itu? Kau yang salah, Baka!" jawab Rukia tidak mau disalahkan.
"Teriakanmu memanggilku mengejutkanku. Aku pikir terjadi apa-apa padamu. Kau begitu histeris saat melihat kupu-kupu," bantah Ichigo tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
"Jadi, kau menyalahkanku, Ichigo? Tega sekali kau," Yup. Rukia kali ini mulai berkaca-kaca yang langsung membuat Ichigo merasa bersalah.
"Bukan begitu Rukia. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu," Ichigo kali ini panik. Sejak hamil Rukia menjadi gadis cengeng. Sedikit saja Ichigo menyinggungnya, maka ia akan menangis.
"Tapi kau menyalahkanku. Kau jahat," Rukia makin menangis. Ichigo hanya menghela nafas. Sepertinya kali ini ia harus mengalah.
"Aku minta maaf. Aku yang salah. Maafkan aku yah, Rukia. Jangan menangis lagi," bujuk Ichigo akhirnya. Huh…apa boleh buat. Lebih baik ia mengalah, daripada Rukia tambah menangis.
.
.
.
"Maafkan aku. Karena kesalahanku, kita jadi tidur disini dan kedinginan, Rukia," ujar Ichigo. Hari sudah semakin larut. Bintang-bintangpun makin banyak diatas langit, belum lagi suara-suara binatang malam yang hanya menemani mereka kali ini.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula, aku juga bersalah. Aku sampai berteriak karena kupu-kupu," jawab Rukia dan duduk disamping Ichigo dan merapat.
"Kau kedinginan?" Rukia tidak menjawab. Tapi, Ichigo tahu. Ichigo melepas jaket tebal hitamnya yang ia pakai dan ia pakaikan pada Rukia.
"Ichi…bagaimana denganmu?" tanya Rukia gusar. Ichigo bisa kedinginan kalau dia duduk tanpa jaket seperti itu.
"Tenanglah aku akan baik-baik saja. Sekarang, tidurlah. Aku akan menemanimu sampai pagi. Besok, jika orang-orang sudah datang, aku akan memanggil mereka," ujar Ichigo dan mendekap Rukia agar tidak lebih kedinginan.
"Seandainya sinyal HP disini tidak buruk. Kita masih menelepon orang tua kita," keluh Rukia.
"Mau bagaimana lagi. Kita tidur saja. Besok kan hari minggu, setelah kembali dari sini, kita bisa tidur lagi keesokan harinya," jawab Ichigo dan mulai memejamkan mata. Sementara Rukia yang melihat Ichigo memejamkan mata pun ikut memejamkan mata.
.
.
.
Ting…tong…
Bel rumah keluarga Kuchiki berbunyi menandakan ada orang yang datang.
"Ya ampun, Rukia! Kenapa baru pulang? Dimana kau semalam?" Orihime yang membuka pagar rumahnya langsung memeluk Rukia.
"Nee-san, lepaskan aku. Sesak…." Jerit Rukia tertahan dalam pelukan Orihime.
"Hime, yang datang Rukia-chan?" Hisana keluar dan segera melihat ke luar pagar. Ia menghela nafas lega melihat anaknya pulang dengan selamat.
"Ibu, maafkan aku," ucap Rukia memelas yang hanya dibalas senyuman oleh sang ibu. Yang penting anaknya selamat, ia tidak merasa khawatir lagi.
"Semalam kau bawa anakku kemana, Kurosaki Ichigo?" ucapan dingin sang kepala keluarga membuat semuanya membatu. Terlihat bahwa sang ayah sangat marah akibat perbuatan kekasih anaknya tersebut.
Kali ini, matilah Ichigo. Mungkinkah ia selamat dari amukan Byakuya?
.
.
TBC
.
.
Ah….
Saya gak bisa banyak comment lagi. Makin lama makin gaje ajah ini fic. Maafkan saya, jika fic saya ini makin gak bermutu.
Sekian dan terima kasih. Jangan lupa, mohon reviewnya walau fic ini jelek. Hehehhe….
