Title : Still the Same Rain
Disclaimer : They're not mine. I only own the story.
Pair : KyuMin and slight MinWook, I've warned you.
Genre : Romance, Friendship
Rate : T
Warning : Shounen Ai, AU, OOC.
Summary : Tuhan sedang bermain-main dengan kita. Meskipun kini kau membenciku, meskipun kini semuanya berubah, setidaknya ini masih hujan yang sama, kan? Sekuel Me and Mr. Rain Hater.
~Still the Same Rain~
~A Super Junior fanfic~
CHAPTER 2: The Meeting
Selembar daun maple kering jatuh di dekat sepatu kets-nya. Pemuda itu tampan. Ia hanya memakai kemeja berwarna putih, yang tampak serasi dengan celana hitam polos dan rambut hitam jetblacknya yang ditata asal-asalan. Tangannya menjinjing sebuah tas hitam kecil, sebuah senyum melengkung di wajahnya.
Di hadapannya tampak bangunan akademi berdiri megah. Akademi Musik SM, dengan dominan cat berwarna merah maroon berdiri dengan gagahnya di tengah gemerlap kota Seoul. Merupakan sebuah polesan indah bagi Korea, pikir pemuda itu. Itu adalah akademi musik terbaik di negaranya, dibawah bimbingan Lee Soo Man sebagai pemilik akademi sekaligus pemilik management artis terbaik di Korea: SM Entertainment. Management yang menuntut kesempurnaan dari artis yang dibawahinya, management yang bergelimang prestasi, meskipun sering menuai catatan kelam dalam perjalanannya.
Dari akademi itu musisi-musisi berbakat lahir. Tak ketinggalan artis macam BoA, Rain, TVXQ, dan sejumlah nama besar lainnya yang tak mungkin ia hafal. Dari akademi itu, sebagian besar orang-orang berpengaruh di dunia musik lahir. Dari akademi itu pula, ia akan memulai pencariannya.
Pemuda bernama Kyuhyun itu tersenyum simpul. Ini dia. Inilah hari-hari yang ia tunggu selama lima tahun ini bekerja keras. Inilah hari dimana pencariannya akan mencapai berakhir, sekaligus akan semakin sulit. Hanya untuk berada di akademi ini ia menekuni dunia menyanyi selama ini, mengikuti puluhan audisi, dan pada akhirnya menurunkan harga dirinya di hadapan Lee Soo Man dengan rela diorbitkan dibawah managementnya nanti. Hanya untuk ini ia rela melakukan kontrak dengan syarat ditempatkan di Divisi Piano, Divisi yang benar-benar melenceng dari bakatnya: menyanyi. Divisi yang asing, hanya untuk alasan satu itu ia sampai di tempat ini. Dan alasan itu tampak semakin mendekati kenyataan sekarang.
Ia mencarinya selama lima tahun. Lima tahun yang tidak mudah. Lima tahun yang penuh penyesalan.
Dan disini, ia akan menemukannya.
Kyuhyun melewati gerbang akademi yang megah itu dengan penuh percaya diri. Saat itu ia tidak sadar, takdir telah menggoreskan sesuatu yang berbeda untuknya.
XxX
Sayup-sayup alunan piano terdengar dari ruang 23 di lantai tiga gedung Piano Division itu. Sebuah lagu yang romantis begitu denting pertamanya diperdengarkan. Not-not balok itu tampak beragam, meloncat-loncat liar dalam imajinasi pianisnya, kemudian temponya turun dan bergerak lambat namun indah. Romantis. Lembut. Halus. Meluap-luap. Penuh cinta. Sangat tipikal seorang Debussy.
Tepuk tangan terdengar saat lagu Valse Romantique L.71 itu berakhir.
"Seperti biasa, kau bermain dengan penuh perasaan."
Sungmin berdiri, lalu menunduk hormat pada guru di hadapannya. Senyum lembut tergurat di wajah gurunya yang sudah tua itu.
"Sebentar lagi kau akan lepas seperti merpati yang baru keluar dari sangkar emasnya, kau akan menjelajahi dunia baru yang selama ini belum kau temui, kau akan menjelajahi dunia yang beragam emosi dengan musikmu." Sungmin tersenyum. Gurunya yang satu ini memang sangat suka berkata-kata indah, bakat seni itu tidak hanya berada pada kelincahan jemari dan ketepatan pendengarannya, tapi juga kemampuannya menciptakan syair di setiap kesempatan.
"Tapi sebelumnya, kita harus melewati salah satu aturan dari akademi untuk meluluskanmu, bukan begitu?" Sungmin bersumpah dapat mendengar nada keluhan dalam suara gurunya itu. Ya, gurunya yang satu itu memang unik. Tipikal orang-orang yang bebas dan membenci aturan.
"Apakah anda sudah mendapatkan hoobae yang tepat untuk warna musik saya, Seonsaengnim?" Tanya Sungmin hati-hati. Ia tahu peraturan pertama untuk dapat lulus di Divisi yang diambilnya itu. Selain setelah mengikuti minimal empat tahun bimbingan dan prasyarat nilai minimal yang diajukan oleh akademi dalam setiap ujian praktek semester-yang sesungguhnya dilewati Sungmin dengan sangat mudah-hal pertama yang dilakukan sebelum lulus adalah melakukan duet piano dengan junior. Hal itu tidak mudah, tapi juga tidak terlalu sulit. Masalahnya hanya mencari hoobae yang warna musiknya dapat disandingkan dengan sunbaenya, dan menemukan komposisi yang cocok untuk mereka berdua. Tidak hanya itu, kali ini seorang pembimbing tidak boleh turun tangan. Sunbae itulah yang harus membina hoobae-nya dari awal hingga ujian. Dalam artian lain, ini merupakan salah satu cara akademi untuk menghasilkan lulusannya tidak hanya pandai bermain musik, tapi juga mengajarkannya pada orang lain. Sang senior dapat meluruhkan kewajibannya, dan junior mendapatkan ilmu baru. Suatu simbiosis yang menguntungkan.
"Akademi sudah menentukan orangnya sendiri khusus untukmu," jawab gurunya.
Sungmin mengernyit. "Maksud anda?"
Mr. Bard, gurunya yang didatangkan dari luar negeri itu mendesah. "Yeah, seperti yang kau ketahui, nak. Orang-orang dibalik kursi itu suka sekali mengadakan percobaan pada tikusnya yang berbakat."
Sungmin menghela nafas pelan. Ia teringat kejadian di semester keempatnya saat ia dinobatkan sebagai siswa terbaik seangkatannya di Divisi. Ia diikutkan dalam kompetisi nasional tanpa sepengetahuannya, dan harus menghafal salah satu komposisi piano tersulit Tchaikovsky dalam sehari sebelum kompetisi. Cara yang gila untuk seorang anak jenius, kekeh gurunya kali itu. Sungmin tidak bisa lupa bagaimana ia bekerja seperti orang gila saat itu, dan tentu saja, ia mempertahankan nama baik akademi dengan membawa pulang juara pertama.
"Jadi?" Tanya Sungmin lagi. Ia sebenarnya cukup antusias dengan tugas kali ini, meski akademi menyiapkan 'kejutan' untuknya sekalipun. Tapi skillnya yang diatas rata-rata sulit menerima corak musik lain yang tidak sepadan. Musiknya adalah musik yang elegan, berkelas. Dan di atas segalanya, Sungmin bukan tipe yang mudah menerima kehadiran orang lain di dekatnya. Tapi ini adalah tantangan. Dan seperti tantangan-tantangan sebelumnya, ia yakin dapat melewatinya dengan sempurna.
"Ia akan datang sebentar lagi." Mr. Bard melirik jam di pergelangan tangannya. Tak berapa lama terdengar pintu ruang latihan diketuk. Mr. Bard tersenyum, "Itu pasti orangnya." Guru itu tergopoh-gopoh membuka pintu, dan senyuman hangat menghiasi wajahnya begitu melihat seorang pemuda berdiri di hadapannya.
"Annyeong haseyo. Nama saya Cho Kyuhyun. Saya ditunjuk oleh Lee Soo Man Seonsaengnim untuk menemui anda, err…" pemuda itu melirik name tag orang di depannya.
"Mr. Bard. Panggil saja aku Seonsaengnim," Mr. Bard mengulurkan tangannya. Kebiasaannya yang easy going di luar negeri tidak berubah.
Kyuhyun menjabat tangan gurunya dengan kikuk. Mr. Bard mengajak Kyuhyun masuk dan memperkenalkan Sungmin padanya.
Sungmin mendongakkan kepalanya, seorang pemuda tampan muncul dari balik pintu bersama pembimbingnya.
"Annyeong haseyo. Namaku Cho Kyuhyun. Mohon bantuannya."
Sungmin melihatnya. Tidak ada yang salah dengan penglihatannya, tidak juga dengan apa yang ia dengar tadi. Wajah dinginnya tetap saja tak memperlihatkan ekspresi apapun, seperti biasanya-sejak lima tahun yang lalu. Tapi ada satu hal yang berbeda. Karena untuk pertama kalinya sejak lima tahun ini berlangsung, dendam di hatinya bergejolak begitu hebat….
XxXxXxXxX
"Tadi itu bagus sekali, sunbae."
Yesung menoleh. Ia baru saja selesai latihan dengan pembimbingnya. Dilihatnya Zhoumi sedang tersenyum ke arahnya. Anak itu pasti tidak sengaja melihatnya latihan tadi.
"Apa sunbae jadi mengikuti ujian kelulusan tahun ini?" Tanya Zhoumi lagi.
"Kurasa belum," Yesung menghela nafas seraya memamerkan senyumnya, "masih ada yang harus kuselesaikan disini."
"Wah, wah, sunbae tidak berencana untuk membuat debut sendiri sebelum keluar dari sini kan?" Yesung tertawa mendengar candaan dari adik tingkatnya yang sama-sama dari Divisi Vokal itu.
"Tidak, tidak," ia terkekeh pelan, "akan ada kejadian menyenangkan di Akademi sebentar lagi, aku tidak bisa melewatkannya dengan mengungkung diri dengan latihan lantaran mengikuti ujian, bukan?"
Zhoumi menatapnya penasaran.
"Kejadian menyenangkan?"
"Aku belum bisa memberitahumu," ia mengedipkan matanya nakal, "ngomong-ngomong, kau tidak latihan?"
"Ah, ya..." Zhoumi menggaruk-garuk kepalanya, lalu melirik jam tangan berwarna gading yang melingkar di pergelangan tangannya. "Masih satu jam lagi menuju latihan, jadi kumanfaatkan saja waktuku untuk melihat anak-anak dari Divisi Biola latihan tadi."
"Henry, eh?" tebak Yesung tepat sasaran. Sementara Zhoumi hanya bersemu merah dan salah tingkah. Kontan tawa berderai dari mulut Yesung.
"Sudah jadian dengannya, ya?" goda Yesung menyikut perut juniornya yang lebih tinggi darinya itu. Yang ditanya malah menampakkan ekspresi seperti ingin sembelit.
"Puh… Jangankan jadian, untuk mengobrol dengannya saja aku masih kesulitan," gerutu Zhoumi. Ia teringat bagaimana Henry seperti terkejar waktu saat mengobrol dengannya tadi.
Yesung tertawa. "Bersabarlah. Bukankah anak-anak dari Divisi Biola sebentar lagi akan ada kompetisi tahunan? Mereka pasti sibuk. Kau harus bisa mengerti kesibukannya."
Zhoumi mengangguk. "Aku akan terus menunggunya sampai ia mau melihatku kok, Sunbae."
"Bagus itu."
Hening sebentar sebelum Zhoumi membuka percakapan lagi,
"Ngomong-ngomong, apa terjadi sesuatu pada Ryeowook-sshi? Henry bilang ada desas-sesus yang mengatakan kalau dia tidak jadi mengikuti kompetisi tahun ini."
Yesung terdiam. Ada desir khawatir dalam hatinya. Sudah tiga hari ia tidak melihat orang yang sudah dianggapnya adik itu menampakkan diri Akademi. Ia sudah mencoba menghubunginya namun nomornya tidak aktif. Setiap pulang latihan ia mengunjungi apartement-nya namun selalu kosong. Tapi kemarin ia mendapatkan sms dari Ryeowook yang mengatakan kalau ia berada di rumah Sungmin, jadi Yesung tidak perlu khawatir. Tapi bagaimana ia bisa tidak khawatir jika sudah tiga hari ia tidak melihat keadaan Ryeowook yang sebenarnya dan ditambah desas-desus itu?
"Entahlah… " jawab Yesung lirih. Apapun yang terjadi, hari ini ia harus menemui Ryeowook.
XxXxXxXxX
"Seorang murid baru?" Sungmin sebisa mungkin mencoba tidak berteriak. Tapi bagaimanapun kemarahan dalam suaranya tetap kentara. Gurunya hanya tersenyum kecil dan mengangkat bahu. Sementara Kyuhyun yang tidak mengerti posisinya sekarang hanya terdiam polos.
Brengsek, umpat Sungmin dalam hati. Lama-lama akademi ini terasa menyebalkan. Menantang murid berbakatnya mengajari orang yang masih semester satu untuk sebuah pertunjukan piano satu bulan ke depan? Gila! Bahkan guru terbaik pun belum tentu bisa melakukannya. Dan diatas segalanya, Sungmin berharap murid yang akan menjadi teman duetnya bukanlah pemuda di hadapannya. Tanpa melirik Kyuhyun ia sudah menarik gurunya keluar ruangan.
"Apa yang sedang Akademi rencanakan?" Sungmin mendesis kesal ketika tak seorangpun melihat mereka. Mr. Bard terkekeh.
"Seperti yang kau ketahui, dalam sebulan kau adalah tutor pemuda itu. Seragamkan warna musik kalian dan cari komposisi yang tepat, ok? Selamat berjuang!" Tidak bisa dipercaya, gurunya masih sempat-sempatnya bercanda.
"Tapi dia murid baru, Seonsaengnim!" Sungmin mendecih gusar , "Setidaknya anda harus dengar permainannya dulu baru menentukan siapa yang akan menjadi teman duet saya. Bukankah itu tugas seorang pembimbing?"
Gurunya tersenyum arif, lalu berkata, "Ini prosedur dari akademi, nak. Soo Man sendiri yang menentukan. Aku tidak bisa apa-apa."
Sungmin berani bertaruh kalau sebenarnya gurunya senang ia terpojok seperti ini. Mungkin dia sedang menanti permainan apa yang akan terjadi, dan sepak terjang apa lagi yang akan Sungmin lakukan untuk menyelesaikan masalah, seperti sebelumnya. Seperti biasanya. Tapi khusus kali ini, benar-benar tidak biasa.
"Saya menolak," ujar Sungmin pendek, sedikit tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Tapi sebisa mungkin ia akan mencari celah untuk mengelak dari aturan, meskipun itu SANGAT bukan dirinya.
"Oh, kau tidak bisa." Mr. Bard tertawa pelan, "Kau tidak dalam posisi yang tepat untuk menolak, nak." Ia menepuk bahu Sungmin pelan, "Sampai jumpa di ujian bulan depan." Ia mengedipkan sebelah matanya, lalu meninggalkan Sungmin-yang untuk pertama kalinya-terbengong seperti orang bodoh.
Brengsek! Brengsek!
Seribu makian Sungmin lontarkan dalam hati. Akademi macam apa yang membuat percobaan mematikan seperti ini pada muridnya? Ia benar-benar seperti tikus yang sengaja digiring dalam perangkap, dan tidak bisa keluar. Sial!
Sungmin menghela nafas. Bagaimanapun ia harus bisa mengatasinya. Orang-orang di balik kursi itu sedang mengujinya, kali ini Sungmin memang harus mengeluarkan taringnya. Ia harus tetap tenang. Ia harus berhasil kali ini. Gemilang prestasinya selama empat tahun tidak boleh hancur karena tugas ini. Dengan penuh ketenangan Sungmin memasuki ruang latihan itu.
Kyuhyun sedikit tersentak saat pintu ruang latihan itu dibuka. Ia menunduk hormat. Sungmin mengacuhkannya.
"Mainkan sebuah lagu," perintahnya dingin.
Kyuhyun tergagap kaget. "De-dengan piano itu?" tanyanya bodoh.
Sungmin tak menjawab, hanya memandang ke arah lain dengan tatapan merendahkan. Kyuhyun segera duduk di depan grand piano yang baru saja dipakai Sungmin beberapa menit yang lalu. Dengan sedikit tak percaya diri ia memainkan musiknya.
Sebuah melodi yang indah mengalun.
Sendu.
Namun asing.
Musik apa ini?
Mata Sungmin menyipit. Bukan! Bukan ini yang ia inginkan!
Geureul itji motaeseo apahanayo
Geudaega isseul jariga yeogin aningayo
Nareul wihan georamyeon chameul pillyo eobtjyo
Eonjengan kkeutnabeoril teni…
Dan Kyuhyun bernyanyi dengan indahnya. Siapapun yang mendengar lagu penuh kepedihan dan kerinduan itu dinyanyikan olehnya pasti akan trenyuh.
Tapi bagi Sungmin, itu salah.
"Berhenti," perintah Sungmin pelan. Kyuhyun menoleh. Ia menunduk melihat wajah Sungmin yang tak terbaca.
"Apa aku menyuruhmu bernyanyi, anak baru?" Tanya Sungmin dingin, sekaligus mematikan.
"Namaku Cho Kyuhyun, sunbae," koreksi Kyuhyun sopan. Sungmin melotot.
"Aku memintamu memainkan sebuah lagu, Cho Kyuhyun-sshi. Sebuah lagu klasik. Beethoven, Mozart, Debussy, apapun! Tapi apa yang kau mainkan tadi?" Ups, Sungmin meledak.
Kyuhyun hanya tersenyum nervous. "Maaf," ujarnya hati-hati. Tapi bibirnya menahan tawa.
Sungmin mengacuhkankannya. "Mainkah sebuah karya Liszt," perintahnya.
"Aku tidak bisa," jawab Kyuhyun menunduk.
"Rachmaninoff."
"Itu bukan keahlianku."
Telinga Sungmin berkedut merah, "Debussy-Clair de Lune! Semua siswa di Divisi ini pasti bisa memainkannya!"
Kyuhyun tertawa kecil memandang Sungmin yang menatap marah ke arahnya, "Aku tidak bisa memainkan lagu klasik," ujarnya, seolah-olah ada yang lucu dengan itu. Lalu menambahkan, "Sedikitpun."
Muka Sungmin terangkat, apakah itu kemarahan atau kebencian yang sedang ditahannya, Kyuhyun tidak bisa menebak.
Dan dua detik kemudian terdengar pintu ruang latihan ditutup dengan sangat kasar.
TBC~
#Curhatan Author
Well… Banyak hal yang terjadi, hingga saya lama sekali mengupdate cerita ini. Apa ya? Oh iya, saya pernah bilang saya mau berhenti menulis di SPI. Banyak alasan yang membuat saya mengambil keputusan itu. Banyak juga yang kecewa karena keputusan saya hingga mengirimi saya banyak PM meminta saya untuk tetap menulis dan membuat saya terharu.
Maaf sudah mengambil keputusan sepihak. Saya hanya berfikir, untuk apa saya menulis di fandom yang tidak diakui keabsahannya di ffn ? Saya mendengar banyak cibiran yang dilontarkan orang-orang tentang betapa keras kepalanya mereka yang berkarya di SPI, dan saya setuju dengan mereka.
Tapi kemudian… Saya sadar. Ah, bukan sadar, tapi teringat kembali.
Saya teringat saat pertama kalinya saya menulis fanfic, dan tujuan apa yang ingin saya raih.
Review yang melimpah? Tidak. Reader yang setia? Tidak juga. Fans yang selalu meneror untuk update fic? Sama sekali tidak:)
Saya menulis, karena saya INGIN.
Itu saja. Tidak lebih. Jika ada nilai positif lain yang didapat, itu BONUS. Jika ada nilai negative yang harus diterima, itu RESIKO.
Dan beginilah.
Saya ingin menjadi diri saya sendiri saja. Tidak peduli tentang baik dan salah yang digembar-gemborkan manusia di luar sana.
Saya hanya ingin menulis dengan sepenuh hati, sepanjang usia, karena itu membuat saya bahagia.
About this chapter
Well… how is it? Makasih buat yang udah review di chap sebelumnya ya. Bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini? Like or dislike it?
Suarakan pendapat kalian dengan memencet tombol review dibawah
V
V
V
V
v
