CHAPTER 3: RAIN HATER
~flashback~
Hujan selalu mengingatkanku kepadanya. Membuatku terjebak dalam debat kusir yang melelahkan, tanpa interupsi, dan terkadang berakhir dengan raut kesal-setengah mengambek-di wajah imutnya. Ya, aku sering menghabiskan waktu hanya untuk membicarakan butir-butir air yang turun dari langit itu dengannya. Dulu. Dulu sekali, sebelum semua hal buruk terjadi di antara kami.
"Hujan itu menyebalkan, Kyu!"
Ia mulai lagi, tangan kanannya meraih sebungkus snack di meja belajar, padahal lollipop yang sedari tadi dikulumnya masih belum habis benar. Ah, si mungil yang rakus.
"Kalau Kyu kehujanan, nanti Kyu bisa sakit!" dengusnya. Aku hanya tersenyum samar sembari mengeringkan rambutku yang basah. Sepulang sekolah tadi, aku nekat menerobos derasnya hujan tanpa memakai pelindung apapun. Jarak dari rumah dan sekolah tidak cukup jauh, akan tetapi hujan kali ini benar-benar lebat. Aku berlari sepanjang perjalanan. Alhasil seragam sekolahku pun dengan suksesnya basah kuyup. Dan Sungmin, selalu Sungmin yang cerewet akan hal ini.
"Aku cuma tidak mau Kyu sakit!" Ia meraih handuk di tanganku, lalu mengusapkannya ke rambutku dengan lembut.
"Aku tidak mau Kyu sakit sepertiku…" ulangnya. Lirih. Ada nada cemas dalam suaranya. Sungmin pernah memergokiku mimisan karena terlalu kelelahan setelah mengurusi acara di sekolah selama hampir seminggu dan kurang tidur karenanya. Mungkin karena itu ia takut pertahananku akan roboh dan jatuh sakit lagi. Aku memeluknya. Aku sangat menyayanginya.
~flashback end~
Kyuhyun menghempaskan badannya ke sofa. Hari ini benar-benar melelahkan. Hari ini ia telah membuat gebrakan baru dalam hidupnya, dengan belajar di Akademi Musik. Dan disana, ia menemukan Sungmin-nya… Sungmin yang menghilang lima tahun lalu. Sungmin yang mencintainya tapi selalu ia sia-siakan dulu.
Dan airmata bahagia itu pun turun perlahan. Kyuhyun menangis. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun ini ia menangis bahagia. Selama ini, tidak ada satu pun hari yang ia lalui tanpa merindukannya. Lima tahun berlalu, tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama, sesak yang ia rasakan masih sama seperti Sungmin baru meninggalkannya kemarin. Ia bahkan semakin menyedihkan kini. Kyuhyun semakin tidak bergairah hidup, ia sering melakukan tindakan konyol dengan berjalan di bawah hujan deras hanya karena merindukannya. Ia pikir, dengan menyiksa diri seperti itu, Sungmin akan kembali dan memarahinya seperti dulu. Mengeluh kenapa Kyuhyun begitu keras kepala dan susah diatur. Kyuhyun tersenyum kecil dalam tangis.
Sekarang Sungmin-nya telah kembali, meskipun ia tidak yakin dengan apa yang terjadi hari ini. Itu memang Sungmin, dengan gigi kelincinya yang imut, matanya yang bersinar, pipinya yang menggemaskan, wajahnya yang cute… Tapi itu bukan Sungmin dalam ingatannya. Sungmin yang ia kenang bukanlah seseorang yang dingin, seseorang dengan tatapan tajam dan merendahkan orang lain tadi, seseorang yang tidak peduli pada apapun, seseorang yang tampak… Elegan. Tegar. Kuat. Seperti ada hal buruk yang terjadi di masalalunya, dan membentuknya menjadi manusia yang tabah. Sungminnya yang dulu adalah Sungmin yang rapuh, bukan seseorang yang ia temui tadi. Sungmin yang tadi, seperti tidak pernah mengenalnya.
Suara pintu yang dibuka membuat Kyuhyun menyeka airmatanya cepat-cepat.
"Sudah pulang, hyung?" sapa Kyuhyun melihat Hankyung masuk dengan tampang lelah.
"Yeah, tapi tetap saja malam ini aku harus latihan ekstra. Ada beberapa gesekan nadaku yang masih parah. Semoga itu tidak mengganggu tidurmu." Hankyung adalah seorang murid di Akademi Musik SM juga, yang berada di Divisi Biola. Tahun ini adalah tahunnya mengajukan ujian akhir, dan oleh karena itu ia menjadi semakin sibuk berlatih demi kesuksesan ujian. Dan di atas segalanya, Hankyung adalah-mungkin-satu-satunya teman terbaik yang Kyuhyun miliki. Mereka sudah akrab sejak SMA hingga sekarang, Hankyung sudah seperti kakak yang selalu menjaganya. Meskipun tidak ada seorang pun yang tahu, mereka juga pernah berpacaran sebentar saat SMA. Hubungan itu selesai karena Hankyung tergila-gila pada Heechul, seorang penyanyi club yang kini berada di Akademi yang sama dengannya, juga karena Kyuhyun yang pada akhirnya sadar rasa sayangnya pada Hankyung hanya karena pelariannya setelah putus dengan Sungmin saat dulu. Hankyung juga lah yang memaksa Kyuhyun mengikuti puluhan audisi menyanyi dan akhirnya hampir dikontrak Lee Soo Man untuk berkarir di agency-nya tapi Kyuhyun menolak. Ia yang memberitahu Kyuhyun kalau Sungmin berada di Akademi Musik ini, hingga Kyuhyun mengajukan perjanjian dengan Soo Man agar bisa melihat Sungmin kembali. Hankyung lah yang mengurus registrasi Kyuhyun dan segalanya, dan juga memberinya tempat tinggal sementara di rumahnya. Seumur hidup Kyuhyun berhutang budi pada pemuda China ini.
Kyuhyun tersenyum pelan. "Aku tidak keberatan kok, ini kan rumahmu sendiri, Hyung." Ia nyengir.
Hankyung ikut tertawa. Ia mengambil minuman isotonik di kulkas lalu menenggaknya pelan.
"Hum, ngomong-ngomong, aku sudah menemukan tempat tinggal untukmu. Ada kamar di salah satu asrama laki-laki Akademi yang masih kosong. Kau bisa menempatinya besok kalau mau." Hankyung menghampiri Kyuhyun dan mengulurkan selembar kertas berisi alamat asrama yang dimaksudkan.
"Terima kasih banyak, Hyung." Kyuhyun menerimanya dengan senang hati.
Pemuda Cina itu mengangguk tulus. "Bagaimana pelajaranmu hari ini?"
Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Well… tidak berjalan mulus, kurasa…" keluhnya.
"'Kan sudah kubilang kau tidak perlu memaksa diri masuk Divisi yang tidak kau kuasai, Kyuhyun-ah." Ia mengacak rambut Kyuhyun, yang diajak bicara hanya tersenyum kecut.
"Lalu bagaimana? Kau menemukannya?" Tanya Hankyung lagi.
Kyuhyun mendongak. Ia menghela nafas lelah. "Lebih dari yang kau bayangkan. Aku sudah meminta Soo Man Seonsaengnim tanpa sepengetahuanmu, Hyung."
Mata Hankyung menyipit. "Maksudmu?"
"Aku teman duet piano Lee Sungmin untuk ujiannya bulan depan," ujarnya lesu, "apa menurutmu aku keterlaluan? Aku sama sekali tidak bisa bermain musik klasik…" Kyuhyun menutup mukanya dengan tangan. Ia baru sadar kalau ia dalam masalah yang melibatkan Sungmin.
Dan Kyuhyun heran kenapa Hankyung malah tertawa renyah.
"Tenang saja, Kyuhyun-ah. Sungmin itu handy hand, kesempurnaannya sudah terdengar di seluruh Divisi di Akademi. Bukankah menyenangkan bila melihat idola semua gadis dan murid teladan itu gagal kali ini, hm? Aku benar-benar tidak sabar."
"Hyung!" Kyuhyun cemberut. Hankyung terkekeh.
"Ceritakan padaku Kyuhyun-ah, bagaimana reaksinya saat melihatmu?" Tanya Hankyung penasaran.
"Ia…" suara Kyuhyun tercekat untuk beberapa saat, "Dingin." Tidak ada kata-kata yang lebih mampu mendeskripsikan Sungmin dari itu kali ini.
Hankyung mengangguk. "Tenang saja, ia memang terkenal sebagai Pangeran Gunung Es disini. Kau harus membiasakan diri, Kyuhyun-ah."
Kyuhyun menghela nafas pelan. Bertanya-tanya kenapa Sungmin bisa berubah seperti ini. Sepertinya karma dari dosanya di lima tahun lalu akan segera ia terima.
XxXxXxX
Ryeowook terbangun dari tidurnya. Kamar itu gelap. Ia memijit-mijit kepalanya yang terasa pening dan mencoba duduk. Ia merasa ada yang aneh, seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin hari ini datang. Sesuatu yang membuat dadanya sesak. Ia meraih ponsel yang tergeletak di meja.
13 miscalls and 21 messages from Yesung hyung.
1 message and 3 miscalls from Sungminnie.
1 messages from Han Seonsaengnim.
Dibacanya pesan dari gurunya dulu.
From Han Seonsaengnim:
'Latihan.'
Ryeowook tersenyum kecil. Sudut hatinya merasa sedikit bersalah karena melewatkan latihan tempo hari. Kepalanya mendadak pening lagi. Ah, akhirnya ia tahu kenapa ia berharap pagi ini tidak pernah datang. Penyakit itu… Ryeowook memandang sedih pada jemari tangannya. Jemarinya sudah normal sekarang. Kemarin Sungmin mengantarkannya ke dokter. Hasilnya menunjukkan kalau penyakit itu adalah jenis penyakit yang datang kapan saja, tanpa gejala. Gurunya pasti mengkhawatirkannya sekarang.
Ryeowook kembali membaca sms yang tertera di gadget berwarna topaz itu.
From Yesung hyung
'Kau kemana saja?'
From Yesung hyung
'Kenapa apartement-mu kosong?'
From Yesung hyung
'Kenapa nomormu tidak aktif?'
From Yesung hyung
'Jangan buat hyung cemas, Wookie-ah.'
From Yesung hyung
'Hyung bersungguh-sungguh! Jangan buat hyung cemas!'
Dan masih banyak lagi. Ryeowook tertawa kecil. Hyung-nya yang satu itu benar-benar berlebihan. Ia hendak membalas sms dari Yesung ketika teringat masih ada satu orang lagi yang mengkhawatirkannya.
From Sungminnie
'Aku ingin bertemu, tapi pekerjaanku menumpuk. Kalau sudah lelah membolos dan menangis semalaman, cepat telpon aku.
Aku kangen.'
Dan jemari lentik itu segera memencet tombol hijau untuk menghubungi kekasihnya, melupakan sms sebelumnya tadi.
XxXxXxX
Pagi hari, di Akademi Musik SM~
Sungmin melemparkan sebuah buku tipis ke arah Kyuhyun.
"Mozart's Sonata for two pianos?" Kyuhyun mengernyit. Mereka sedang berada di ruang latihan seperti kemarin. Bedanya sekarang sudah ada dua piano disana. Kyuhyun bertanya-tanya siapa yang menyuruh orang menaruh piano itu, mungkinkah Sungmin?
"Pelajari itu," perintah Sungmin pendek. Ia duduk di salah satu grand piano, tangannya dengan cekatan membuka-buka kertas partitur.
"Itu adalah salah satu komposisi piano yang dibuat oleh Mozart dan dimainkan bersama muridnya, Josephine von Aurnhammer. Terdiri dari tiga gerakan: Allegro con spirito, Adante, dan Molto Allegro. Gerakan pertama terdiri dari D mayor,"
Sungmin meletakkan kedua jemarinya di atas tuts-tuts grand piano, lalu memainkannya.
Sebuah melodi yang lincah mengalun. Kyuhyun seperti berada dalam padang ilalang dengan angin yang berhembus lembut menerpa telinganya.
Sungmin berhenti, "Kuncinya dengarkan harmonisasi bunyi antara kedua piano. Jangan memainkan bagianku. Di buku itu sudah kuberi CD untuk kau dengarkan, hari ini cukup hafalkan bagianmu."
Sungmin berdiri, "Latihan hari ini selesai. Kuharap besok kau mampu memainkan bagianmu dengan baik."
Dan ia beranjak pergi. Meninggalkan Kyuhyun yang masih melongo. Lima detik kemudian ia baru tersadar.
"Sunbae-nim! T-tunggu!"
Ia mengejar Sungmin.
"Tunggu!" Refleks ia menahan tangan Sungmin, yang ditepis pemuda yang lebih tua itu dengan sengit.
"Apa?" tanyanya dingin.
"K-kau tidak mau mendengar musikku?" Kyuhyun tergagap, sedikit tidak percaya diri dengan kata-katanya.
"Kita sudah melakukannya kemarin." Ada nada mencela dalam suara Sungmin. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin, saat Kyuhyun malah memainkan sebuah lagu di luar ekspektasinya.
"Tapi kau belum mendengarku memainkan musik klasik 'kan? Walaupun kau juga tahu aku tidak bisa… Tapi setidaknya, sebagai tutorku, kau yang harus mengajariku. Benar begitu, kan?" rentetan pertanyaan itu keluar, menusuk pertahanan diri Sungmin.
"Dengarkan aku, Cho Kyuhyun-sshi." Matanya tajam menusuk Kyuhyun, "Pertunjukan piano macam apa yang bisa kau harapkan dari seseorang yang bahkan tidak bisa memainkan sebuah musik klasik? Apa kau sedang berusaha mempermalukan dirimu sendiri?"
Kyuhyun menahan nafas. Lidahnya kelu mengucap, "Aku hanya ingin menemukanmu. Dan aku bersyukur sudah sejauh ini. Untuk selanjutnya, aku tidak peduli."
Pada akhirnya, pertahanan itu roboh. Ia menatap Sungmin pilu, "Minnie-ah…"
Sungmin mendengus sarkastis. Bibirnya mencibir ucapan Kyuhyun, lalu meninggalkannya. Sebelum menutup pintu ia berkata tajam tanpa menoleh, "Ini cukup."
Sungmin menggeretakkan giginya, "aku akan meminta Seonsaengnim untuk menggantikanmu. Akan kukatakan yang sebenarnya kalau kau tidak bisa memainkan musik klasik. Semua lelucon ini cukup sampai disini," putus Sungmin final.
XxXxXxX
Apartement Ryeowook, saat senja~
"Apa ada masalah?" Tanya Ryeowook pelan. Ditaruhnya secangkir cappuccino di atas meja, lalu duduk di samping Sungmin. Mereka sedang menikmati sore santai bersama. Sayup-sayup terdengar alunan orchestra dari CD Ryeowook mainkan. Sebuah orchestra dengan piano dan violin concerto dari Niccolo Paganini, Cantabile.
"Kemampuanmu membaca wajah orang masih tak berubah," ujar Sungmin pelan, menyesap sedikit cappuccino yang diberikan Ryeowook kepadanya. Ryeowook tersenyum kecil.
"Sedikit kesusahan dengan prasyarat ujianku kali ini kurasa," gumam Sungmin pendek. "Bagaimana jemarimu? Apa kau berlatih hari ini?" tanyanya lagi. Ditatapnya wajah Ryeowook itu lekat-lekat.
"Aku baik-baik saja." Singkat, anggun, dan manis. Khas seorang Kim Ryeowook. Pemuda itu selalu bisa mengontrol emosi, dan menempatkan dirinya dengan baik. Kesan elegan dan berkelas selalu mengikuti langkahnya. Sungmin tersenyum seraya menarik tubuh Ryeowook ke pelukannya dengan lembut. Hanya dengan pemuda itu saja, ia mampu merasa nyaman. Kemiripan sifat mereka menciptakan kedekatan yang tidak bisa dipahami orang lain, kenyamanan hingga membuat keduanya menarik diri dari dunia. Bagi mereka, orang lain tidak penting. Selama mereka memiliki satu sama lain, keduanya akan baik-baik saja.
Bunyi bel dari apartment Ryeowook menghentikan kemesraan mereka.
"Biar kubuka," ujar Ryeowook lembut. Ia beranjak dan membuka pintu apartment.
"KENAPA TIDAK MENJAWAB PESANKU?"
Kepala besar berwarna hitam itu menyembul. Dilihatnya wajah Yesung yang memerah karena marah.
"A-ah… Maaf, Hyung…" Ryeowook salah tingkah. Sepertinya ia harus menyiapkan puluhan alasan untuk mereda kemarahan Yesung.
XxXxXxX
Asrama Laki-laki Akademi Musik, kamar no 43
Kyuhyun menaruh tasnya di atas meja dengan lesu. Hari ini benar-benar payah. Kenapa bisa-bisanya ia lepas control di hadapan Sungmin tadi? Dan di atas segalanya, ia kecewa… Ia kecewa dengan reaksi Sungmin yang tak menganggapnya sedikitpun. Ia kecewa dengan sifat Sungmin yang berubah. Ia sakit hati.
"Kui Xian!"
Kyuhyun menoleh. Dilihatnya Zhoumi yang baru datang. Zhoumi ini lah teman Hankyung hyung yang telah mencarikan asrama untuknya. Dan disinilah Kyuhyun sekarang, tinggal sekamar dengan Zhoumi di asrama khusus laki-laki Akademi Musik SM. Sebenarnya tidak hanya dengan Zhoumi, tapi juga dengan satu murid dari Akademi lagi yang belum ia temui.
"Zhoumi hyung. Baru pulang?" sapa Kyuhyun basa-basi. Sebenarnya ia lelah dan segera ingin berlatih.
"Hum. Apa Yesung hyung sudah pulang?" Tanyanya pendek. Ia meraih selembar handuk yang tergantung di belakang pintu.
Kyuhyun menggeleng. "Belum bertemu dengannya, malah."
"Oh. Yasudah, aku mandi dulu." Lalu menghilang menuju kamar mandi. Kyuhyun hanya geleng-geleng. Teman sekamarnya yang satu itu memang sedikit slengean, tapi menyenangkan. Baru kenal tadi pagi saja tapi sudah akrab seperti teman lama.
Pintu dibuka lagi. Itu pasti yang bernama Yesung. Benar saja, pemuda yang baru masuk itu sedikit kaget melihat Kyuhyun di kamarnya.
"Ah, kau pasti anak baru itu ya?"
Kyuhyun mengangguk. "Anneyonghaseyo, namaku Cho Kyuhyun."
Yesung menjabat tangannya. "Aku Yesung. Panggil saja sunbae—"
"Jangan dengarkan dia, Kui Xian!" teriak Zhoumi dari kamar mandi.
"Panggil saja dia Big Head, hahahahaha!" Ternyata percakapan mereka terdengar oleh Zhoumi dari tadi. Yesung menggumamkan kata-kata seperti, 'dongsaeng sialan', sementara Kyuhyun hanya terkikik pelan. Sepertinya teman-teman baru ini tampak menyenangkan.
.
"Jadi kau dari Divisi Piano?"
Kyuhyun mengangguk. Ia mengambil ikan tuna di meja dengan sumpit, lalu melahapnya. Sementara Zhoumi dan Yesung hanya ber'oh' ria. Mereka sedang makan malam bersama sekarang. Dari mereka Kyuhyun jadi tahu kalau keduanya ternyata berasal dari Divisi yang sama, yaitu Divisi Vokal.
"Apa kau bertemu The Piano Ice Prince itu?" Tanya Zhoumi lagi. Yesung mendadak tersedak. Kyuhyun menuangkan air untuk Yesung, yang diterima Yesung penuh haru.
"The.. Piano Ice Prince..?" ulang Kyuhyun tidak mengerti.
"Ah, kukira kau sudah tahu. Pangeran Gunung Es dari Divisi Piano, pianis terbaik yang Akademi miliki sekarang," terang Zhoumi panjang lebar. Kyuhyun bersumpah ia melihat Yesung memutar bola matanya.
"Omong kosong, dia tidak sehebat itu." Yesung mendecih.
"Dia cukup hebat untuk memenangkan Kompetisi tahun ajaran lalu, Sunbae. Kudengar ia bahkan tanpa persiapan saat itu."
"Hanya seseorang yang suka pamer dan berusaha tampil cool, jangan terpancing gosip, Kyuhyun." Yesung menoleh ke arah Kyuhyun. Yang diajak bicara semakin tidak mengerti.
"Kau hanya tidak mau mengakui kepopuleran murid dari Divisi lain, Sunbae," kekeh Zhoumi geli.
"Aku hanya merasa orang-orang terlalu melebihkan, dan hei! Itu ikanku!" Yesung segera mencomot tuna terakhir di piring saji sebelum diambil Zhoumi. Pemuda yang lebih muda itu hanya merengut kesal.
"Uhm… Sebenarnya siapa yang kalian bicarakan?" Tanya Kyuhyun pelan.
Zhoumi tertawa. "Lee Sungmin. Sunbae dari Divisi Piano yang sebentar lagi memulai debutnya. Dia kekasih dari Kim Ryeowook. Keduanya selalu lengket seperti perangko."
Tenggorokan Kyuhyun tercekat.
"K-kekasih..?"
Zhoumi mengangguk. "Yup! Mereka pasangan paling sempurna di Akademi. Itu karena Kim Ryeowook adalah Mutiara dari Divisi Biola yang luar biasa cemerlang itu. Dia orang yang Yesung sunbae taksir sejak Ryeowook pertama masuk Akademi ini, haha!"
Yesung segera membungkam mulut Zhoumi. "Jangan bicara sembarangan! Aku hanya menganggapnya adik!"
Kyuhyun terdiam. Otaknya seperti terlalu lambat memproses. Lee Sungmin… Kim Ryeowook... Mereka ternyata sepasang kekasih…
TBC
