Title : Still the Same Rain

Disclaimer : They're not mine. I only own the story.

Pair : KyuMin and slight MinWook, I've warned you.

Genre : Romance, Friendship

Rate : T

Warning : Shounen Ai, AU, OOC.

~flashback~

"Minnie itu lucu sekali. Masa anak cowok suka warna pink?"

"Hey jangan begitu, Kyuhyun-ah."

"Tapi Hyung, dia itu benar-benar aneh!"

"Aku tidak aneh!"

"Hahaha! Kau itu aneh Minnie."

"Panggil seniormu dengan sapaan yang lebih sopan, ppabo!"

"Hyung juga aneh, Sungmin saja tidak protes kupanggil begitu. Iya kan Minnie?"

"Kyuhyun pabo…."

Apa yang aneh?

"Minnie-ah…"

"Ne, Kyunnie?"

"Saranghae…"

Apa yang benar?

"Aku benci hujan!"

"Aku cinta hujan, kok."

"Huh."

"Hahaha, jangan begitu Minnie. Kau harus bisa mencintai hujan seperti kau mencintaiku."

"Huh, mana bisa! Hujan selalu membuatku sakit, Kyu! Kau lihat sendiri kemarin aku demam gara-gara kehujanan."

"Heh? Lalu apa hubungannya, hyung?"

"Kalau untuk Kyuhyun… Kau pasti tidak akan membuatku sakit… Iya kan, Kyu?"

Apa yang salah?

"Lain kali jangan paksakan dirimu, Minnie."

"Aku kangen Kyuhyun… Hiks…"

"Dan membiarkan dirimu sendiri kedinginan di tengah malam badai? Bagaimana jika aku tidak di rumah tadi? Jangan bertindak bodoh, Minnie…"

Kenapa begitu peduli?

"Kyuhyun… kau…"

"Maafkan aku, Sungmin."

"Kau—dan Hankyung hyung?"

"Ya. Kau baik-baik saja kan?"

"Ah, tentu saja. Selamat^^"

Kenapa begitu menyakitkan?

~flashback end~

Memori.

Setiap orang mempunyai memorinya masing-masing, diantara bersifat sangat pribadi, dan tersimpan di ingatannya masing-masing. Orang bilang, ingatan manusia itu seperti saringan. Waktu akan menyembuhkan segalanya, termasuk kenangan pahit. Waktu akan memperbaikinya.

Tapi yang jarang orang ketahui, ada satu jenis memori menyakitkan, yang tak melekat di ingatan. Memori itu tersimpan, jauh sekali, di sudut hati paling dalam. Memori yang membuatmu terlihat baik-baik saja dari luar, seolah tidak ada apa-apa, tapi perlahan, akan berpengaruh padamu. Pada kehidupanmu. Pada seluruh sendi keseharianmu.

Memori itu bernama,

Cinta.

~Still the Same Rain~

~A Super Junior fanfic~

CHAPTER 4: TEAM

Tap. Tap. Tap.

Sesosok pemuda tampan berjalan tegap di salah satu lorong Divisi Piano Akademi Musik SM. Ia tidak tampak tergesa-gesa, tapi bagaimanapun raut wajahnya yang datar tidak dapat ditebak. Di salah satu tikungan ia berbalik, dan berhenti di sebuah ruang yang di pintunya tergantung papan nama dari kayu eboni bertuliskan, 'Ruang Kantor Mr. Bard Middleford'.

Pemuda itu membuka pintu seolah kantor itu sudah sering dikunjunginya. Matanya menangkap gurunya yang sedang memainkan sebuah lagu dengan grand piano di hadapannya. Tak sedikitpun melirik Sungmin yang mematung di depan pintu.

"Aku masih ingat saat kau pertama kali datang kesini." Seperti sudah mengetahui muridnya akan menemuinya, ia tersenyum misterius.

Sungmin tak bergerak. Ia sudah merencanakan semua. Hari ini, ia akan memberitahu gurunya tentang kegagalannya sebagai seorang tutor. Ia akan memberitahu gurunya kalau Kyuhyun sama sekali tidak bisa bermain musik klasik. Ia tidak perlu repot-repot menyembunyikan itu lagi, dan meminta gurunya mencari pasangan duet baru untuknya.

Ya, Sungmin telah memutuskan. Dan tidak ada alasan lain yang mampu menggoyahkan keputusannya.

"Sonata for Two Pianos…" Gurunya mulai bergumam, "adalah satu-satunya Partitur untuk duet piano yang dibuat Mozart sepanjang hidupnya." Jemarinya dengan lincah mulai menyenandungkan lagu itu. Hanya sampai Allegro con spirito, lagu itu dihentikan. Lalu ia menoleh pada Sungmin.

"Sebuah irama yang ceria, bukan begitu?" Senyuman itu lagi.

"Ada yang ingin saya bicarakan," sela Sungmin tegas. Ia memilih untuk segera mengakhiri permainan ini sampai disini.

Gurunya menghela nafas, "Aku tahu tugas kali ini cukup menyulitkanmu, tapi aku memahami benar kapasitasmu sejauh apa, Sungmin-sshi." Ia menatap Sungmin penuh harapan, seolah-olah optimis Sungmin akan menyelesaikan tugasnya dengan sempurna lagi-seperti sebelumnya. Tapi tidak kali ini.

"Anda tidak tahu kalau—"

"Bagaimana kalau kita memainkannya?" tawar gurunya memotong ucapan Sungmin. Ia tersenyum sebentar, lalu menarik Sungmin untuk duduk di kursi piano di sampingnya tanpa menunggu persetujuannya.

"Kita mulai dengan tempo seperti ini: tat-tat-tat," Mr. Bard memberi contoh dengan mengetukkan dua jemarinya di meja piano, Sungmin terpaksa menurut, lalu mengamatinya dengan penuh konsentrasi, mereka menahan nafas bersamaan,

"Mulai."

Jemari dari kedua orang berbakat itu bermain bersama, dalam satu harmonisasi yang apik. Musik yang ceria mengalun. Tinggi. Ceria bagaikan lagu musim panas. Lalu turun dengan lembut bagaikan hembusan angin di musim semi. Sonata und Fuge.

Ah, ini indah….

Kali ini gerakan Adante. Temponya lebih cepat dari gerakan sebelumnya. Kedua jemari itu seperti menari di atas tuts-tuts piano, dan kemudian… Molto Allegro, part dimana sinkronisasi antara dua piano sangat dibutuhkan dengan tingkat kejelian yang tinggi. Sungmin menahan nafas saat musik indah itu mencapai akhir.

Gurunya bertepuk tangan untuk permainan mereka.

"Pada akhirnya," Gurunya memulai, "komposisi ini tidak dibuat Mozart untuk muridnya yang berbakat."

Mr. Bard berdiri dan menuju jendela kecil yang terletak di pojok ruangan. Dari lantai lima gedung Divisi Piano itu ia memandang ke bawah, beberapa murid baru saja keluar dari gedung itu untuk latihan. Matanya menerawang. Sungmin menatapnya heran.

"Komposisi ini, lebih kepada tujuan untuk menikmati musik dengan sepenuh hati, dengan memainkannya bersama murid kesayangannya."

Mr. Bard menoleh, wajahnya membentuk sebuah senyum bijaksana, senyum seorang guru pada umumnya ketika menyemangati murid.

Sungmin terpaku. Lidahnya kelu. Otak jeniusnya mencerna perkataan bijak sang guru yang dibaliknya tersembunyi maksud tertentu.

"Nah," kata-kata Mr Bard seperti menyandarkan Sungmin ke alam nyata, "apa ada yang ingin kau katakan, muridku?" Ia tersenyum. Menunggu jawaban Sungmin. Menunggu ucapannya yang tadi terpotong.

Sungmin menggigit bibir bawahnya, berpikir keras.

"Tidak. Tidak ada."

XxXxXxX

Orang bilang, hidup ini adalah pilihan. Kemana kau akan melangkah, kemana nasib akan membawamu ditentukan oleh pilihanmu sendiri. Pilihanmu yang bertanggung jawab atas hidupmu sendiri. Apa kau akan tersenyum, tertawa, menangis, atau terluka, semua itu tergantung atas pilihanmu. Tapi bagi seorang Lee Sungmin, hidup tidak semudah itu.

Andai Sungmin diperbolehkan menentukan pilihan sejak awal, ia akan memilih untuk tidak pernah dilahirkan.

Sungmin lahir dari keluarga baik-baik, sungguh. Dengan orang tua dan dua kakak yang mencintainya, ia terbiasa hidup sebagai adik bungsu yang manja. Tidak pernah ada yang protes ketika Sungmin menginginkan sesuatu. Sungmin kecil selalu mendapatkan apa yang ia mau, karena ia begitu menggemaskan ketika ia tersenyum manis. Sungmin remaja selalu dipantau oleh keluarganya. Ia bagaikan permata yang selalu dijaga baik-baik. Karena ia adalah Lee Sungmin, si adik bungsu yang manis. Sesederhana itu.

Hidup yang sempurna, benarkah begitu?

Salah.

Karena Sungmin bahkan terlalu lemah untuk terkena angin malam. Tubuhnya terlalu rapuh untuk terkena penyakit. Sungmin hanya anak kecil. Ia jarang mengerti kenapa orang tuanya sering membawa ke tempat orang-orang berbaju putih itu, kenapa orang-orang itu melakukan sesuatu pada tangannya yang putih pucat dan memasukkan cairan yang membuatnya kesakitan, kenapa ia sering pingsan ketika hanya bermain bola setengah jam di sore hari bersama kakaknya, kenapa ia begitu lemah…

Sungmin hanya anak kecil.

Sampai pada saatnya ia beranjak remaja, dan orang tuanya terpaksa menuruti keinginan Sungmin untuk bersekolah di sekolah umum karena Sungmin tidak pernah punya teman sebelumnya. Dan rentetan kejadian yang terlalu cepat itu—

Kedua kakaknya meninggal karena kecelakaan.

Perusahaan keluarganya bangkrut.

Orangtuanya bercerai.

Ia ditinggalkan semua orang yang dicintainya.

Kesepian.

Kehidupan berubah. Manusia berproses. Dan Sungmin remaja pun tumbuh. Bukan kah hidup itu pilihan? Maka ketika tawaran itu datang, ia harus memilih untuk melanjutkan atau mengakhiri. Dan Sungmin itu pemberani. Dengan mendekap kesepian dalam hari-hari yang berlalu, ia memilih untuk bertahan.

Yang tidak orang-orang ketahui, pilihan itu tidak hanya merubah hidupnya. Terkadang, pilihan itu merubah segala kepribadiannya.

XxXxXxX

"Sonata for Two Pianos?"

Kyuhyun tak menjawab. Ia menyuapkan ramen ke mulutnya dengan tergesa-gesa.

"Awas masih panas," tegur Zhoumi. Kyuhyun hanya mengangguk, sambil sedikit-sedikit meniupi makanannya.

"Jadi lagu ini yang membuatmu berlatih semalaman?" Tanya Zhoumi lagi melirik lingkaran hitam di mata Kyuhyun.

Seteguk air masuk dalam kerongkongan Kyuhyun ketika ramen di mangkuknya habis.

"Yeah, begitulah hyung."

"Kau beruntung. Kau pasti hebat sekali hingga dipasangkan dengannya."

Kyuhyun tersenyum kecut. Beruntung? Padahal rasanya ia telah jadi orang paling sial di dunia. Ia menyampirkan tasnya ke bahu.

"Aku berangkat duluan, hyung. Annyeong."

Kyuhyun melangkahkan kakinya ke Akademi dengan lesu. Ia tidak tidur semalaman gara-gara lagu klasik sialan itu, tapi permainannya tetap saja payah. Jemarinya tidak biasa bermain musik klasik yang ceria dan bertempo cepat. Lagipula, piano memang bukan bidangnya. Itu hanya hobi. Ah, Kyuhyun bodoh. Nekat sekali ia. Dan ia kembali down mengingat ucapan Sungmin kemarin. Ia tidak yakin kalau hari ini Sungmin masih sudah menemuinya. Salah Kyuhyun, kenapa ia bisa kehilangan kendali seperti itu? Harusnya ia bisa bersabar. Harusnya ia tidak mengungkit-ungkit masalalu mereka ketika Sungmin masih membencinya. Sungmin pasti lebih membencinya sekarang.

Di depan pintu ruang latihan itu ia berhenti. Tidak mungkin Sungmin mau melatihnya lagi. Itu tidak mungkin. Dengan lesu dibukanya pintu kaca itu.

"Kau terlambat lima menit."

Sungmin berdiri disana, dengan setelan kemeja putih dan celana hitam yang rapi. Elegan seperti biasanya. Kyuhyun hampir saja membelalak di tempat.

"S-sunbae…"

Dengan sikapnya yang dingin Sungmin berkata, "Hari ini, kau dalam masalah besar jika belum berlatih apa yang kuperintahkan kemarin."

Meski ekspresi Sungmin menakutkan, senyum Kyuhyun tetap mengembang.

XxXxXxX

Have you noticed how love's begun?

It doesn't always start with a perfect met

Nor with good relationship in short time

It just needs time, a simple little time

For you realize it…

Salju musim dingin kembali turun di pagi hari itu. Beberapa pohon yang menggersang karena musim gugur kemarin kini berkilat tertutup putihnya salju. Seorang pemuda mungil keluar dari mobil hitamnya dengan tergesa-gesa. Tak seperti biasanya, hari itu ia tak membawa biolanya ke akademi. Dengan hoodie berwarna cokelat hangat senada dengan jaket yang menyelimuti tubuh mungilnya, ia sedikit berlari ke Gedung Divisi Biola dari akademi ternama itu.

"Wookie-ah!"

Pemuda mungil itu menoleh. Dilihatnya seorang pemuda berkepala besar mendekatinya.

"Yesung hyung…" Ia menunduk, mencoba menyingkirkan rasa tak nyamannya dengan membenahi poninya yang terjatuh.

Yesung menatapnya intens. Tatapan yang mengintimidasi bola mata cokelat itu hingga pemiliknya tak berani menatap balik.

"Kau datang."

"Ya, aku datang." Masih dengan canggung Ryeowook menjawab seadanya.

Hening beberapa saat.

"Syukurlah kalau begitu."

Suara serak Yesung memecah kebekuan diantara mereka.

"Jangan canggung begitu," kata Yesung lagi. "Kau tidak perlu bersikap begitu, aku tidak akan memarahimu, sungguh." Ada penekanan dalam kata-kata terakhirnya.

"Aku…"

"Kau juga tidak perlu minta maaf kalau memang tidak merasa bersalah Wookie-ah." Senyum seindah matahari itu mengembang, mengetahui lawan bicaranya bukanlah seseorang yang mudah menjatuhkan harga dirinya untuk meminta maaf.

"Cuma, pastikan saja lain kali kau tidak akan membuatku khawatir dengan menghilang seperti kemarin, arrachi?"

Ryeowook makin menunduk. Yesung mengacak rambut dongsaeng kesayangannya dengan gemas.

"Yasudah, aku pergi latihan dulu. Sampai nanti, Wookie-ah."

Pemuda bersuara artistik itu tersenyum melambaikan tangannya, lalu menjauh.

Pada akhirnya, sifat perfeksionis Ryeowook tidak mentolerirnya untuk mengucapkan sepatah kata itu.

Mianhae, hyung…

XxXxXxX

"Masih salah." Sungmin mengoreksi permainan piano Kyuhyun.

Kyuhyun mengeluh pelan, lalu memainkan musiknya lagi. Sonata und Fuge.

"Mozart tidak membuat lagu ini untuk dimainkan dengan asal-asalan," tegur Sungmin lagi ketika intonasi permainan Kyuhyun semakin lambat.

"Jangan memainkan bagianku!"

"JANGAN MENGARANG NADA SESUKAMU!"

JREENG!

Sungmin menbanting kedua jemarinya dengan kesal tepat di atas not-not piano itu. Kepalanya berdenyut-denyut kesal, menatap Kyuhyun dengan penuh murka.

"M-mian…" Kyuhyun menunduk, walau alih-alih ia merasa wajah marah Sungmin itu terlihat lucu di matanya.

Sungmin menghela napas pasrah. Bola mata obsidian itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain, apapun selain melihat Kyuhyun. Karena hanya dengan melihat bocah itu saja kebencian di hatinya sudah demikian menjadi-jadi. Ia mencoba bersabar.

"Mulai dari awal lagi," kata Sungmin setelah beberapa lama. Kyuhyun menatapnya penuh haru.

.

Kedua jemari itu bermain indah. Melodi yang keluar dari permainan itu bagaikan magis, seolah-olah membuat pendengarnya benar-benar berada di tempat lain. Riang dan damai. Pianist itu benar-benar memainkannya dengan sepenuh hati.

Kyuhyun menepuk tangannya ketika lagu itu berhenti.

"Ini yang terakhir aku memberimu contoh." Sungmin melirik Kyuhyun penuh kebencian, tapi yang diajak bicara hanya meringis konyol. Baru kali ini ia menyadari permainan pianonya benar-benar payah. Sungmin lebih hebat dalam segi apapun. Miris sekali.

Sungmin melirik jam tangan berwarna silver di tangannya.

"Jam latihan sudah habis." Kyuhyun mengeluh dalam hati mendengarnya. Padahal ia benar-benar masih ingin bersama Sungmin, meskipun pemuda itu selalu bersikap dingin terhadapnya.

"Satu bulan tidak akan cukup memoled skill-mu yang pas-pasan itu menjadi emas, kuwajibkan kau untuk terus berlatih setiap hari." Sedikit menohok memang, tapi Kyuhyun merasa perkataan Sungmin itu benar-benar sesuai dengan keadaan.

"Tidak ada yang mengajariku di rumah," aku Kyuhyun.

"Aku tidak menerima penolakan."

Sungmin berdiri. Membereskan partiturnya lalu memasukkannya ke tas jinjing hitam yang selalu ia bawa. Tanpa salam, tanpa mengatakan apapun Sungmin menutup latihan hari itu.

"S-sunbae…"

Langkah Sungmin terhenti sejenak. Ia menoleh sedikit hanya untuk memberitahu kalau ia mendengar Kyuhyun memanggil namanya.

Bola mata hitam Kyuhyun bersinar penuh harap saat berkata, "Bolehkah mulai dari sekarang, aku memanggilmu hyung?"

Ekspresi pemuda yang lebih tua itu mengeras. Untuk sesaat tak ada yang berbicara.

"Dan oh ya, aku tidak menerima penolakan." Senyum Kyuhyun final.

TBC~