Title : Still the Same Rain

Disclaimer : They're not mine. I only own the story.

Pair : KyuMin and slight MinWook, I've warned you.

Genre : Romance, Friendship

Rate : T

Warning : Shounen Ai, AU, OOC.

Enjoy, kalau bisa.

~Still the Same Rain~

~A Super Junior fanfic~

CHAPTER 5: HARD WORK

"Sedikit lagi." Sungmin bergumam pelan. Mata bulatnya yang sudah sepenuhnya mengantuk melirik jam dinding ala Inggris yang berada di dinding kamarnya. Jam setengah dua dini hari.

Ia duduk di depan grand piano mahalnya, sedikit terkantuk-kantuk. Tangannya membuka-buka buku tebal yang baru ia pinjam di perpustakaan sore tadi. Sebuah buku biografi musik berjudul 'Mozart and His Lifetime'. Di halaman 213, ia membaca dengan serius. Di halaman itu menceritakan salah satu karya Mozart yang bernama Sonata und Fuge, Sonata untuk duet piano klasik.

Sungmin pikir lagu yang dipilihkan gurunya untuk ia dan Kyuhyun ini tidak cukup sulit. Tapi ternyata ia salah. Mozart menghasilkan karya itu bukan untuk menghibur raja-raja dan bangsawan sebagaimana karya-karyanya yang lain. Karya itu dibuatkannya untuk muridnya tersayang. Muridnya yang paling cerdas. Karyanya yang paling sentimentil. Satu-satunya duet piano yang dihasilkan Mozart seumur hidupnya. Lagu yang butuh konsentrasi lebih, kemahiran bermain piano di atas sempurna, dan jiwa seni yang tinggi.

Sekarang satu bulan adalah waktu yang mustahil untuk seorang yang bahkan belum bisa disebut pemula seperti Kyuhyun. Pemuda itu bahkan belum bisa memainkan bagian awal dengan lumayan. Sungmin berpikir keras. Ia tentu tidak dapat mengubah lagu yang akan dimainkannya. Nama peserta dan lagu yang akan dibawakan sudah tercatat di agenda ujian Akademi, terlalu beresiko untuk mundur.

Dan ia tahu ia tidak akan mundur untuk sebuah hal kecil. Ia sudah pernah mengalami masa-masa sulit sebelum ini. Masa-masa sulit yang hampir terkesan mustahil untuk dapat membuatnya hidup kembali seperti sekarang. Kalau hal yang mustahil saja sudah pernah ditaklukannya, ia yakin kali ini ia akan berhasil lagi.

Semoga.

XxXxXxX

Zhou Mi bangun dari tidurnya. Samar-samar telinganya menangkap alunan piano dari kamar sebelah. Aneh, memangnya jam berapa sekarang? Dengan sedikit menguap ia bangkit, membenahi rambutnya yang berantakan. Langkah kaki panjangnya membawanya menuju ruang musik khusus yang disediakan di tiap kamar asrama untuk penghuninya.

Di ruangan yang redup itu, mata Zhoumi menyipit ketika melihat seorang pemuda tanggung sedang bermain di atas grand pianonya. Permainan yang ceria sebenarnya, hanya saja telinga sensitif Zhoumi menangkap nada-nada yang dimainkan dengan salah kaprah.

"Kyuhyun?"

Kyuhyun menoleh. Tampak Zhoumi yang menatapnya penasaran.

"Kenapa belum tidur?" Tanya Zhoumi. Ia menguap lagi.

Senyum lembut muncul di wajah Kyuhyun yang letih.

"Aku harus berlatih mati-matian untuk pertunjukan 26 hari lagi nanti." Ia menunduk lagi untuk membaca partiturnya dengan serius. Jemarinya mulai terbiasa memainkan piano itu.

"Kalau mengantuk tidur saja, Sunbae," saran Kyuhyun tanpa menoleh. Zhoumi hanya berdecak-decak heran. Anak ini keras kepala juga, pikirnya.

"Aku tidak bisa tidur." Ia berjalan ke sisi dapur, tangannya membuka kulkas kecil di pojok dan mengambil minuman lalu meneguknya pelan.

"Sunbae." Kyuhyun memanggilnya tidak yakin.

"Ya?" Zhoumi menoleh.

"Apa sunbae dekat dengan Kim Ryeowook?" Tanya Kyuhyun lirih.

"Hm… Tidak juga. Kenapa?" Zhoumi menatap Kyuhyun menyelidik. Membuatnya tak nyaman.

"Err.. Tidak apa-apa." Kyuhyun memutuskan untuk tidak membuka rahasianya pada pemuda di hadapannya ini.

"Kau menyukai Sungmin, eh?"

Jleb!

Untuk orang yang slengean seperti itu, Zhoumi bahkan dapat menebak perasaannya dengan tepat sasaran.

Zhoumi tertawa kecil, mendekati Kyuhyun.

"Untuk seseorang dari Divisi Piano, skill-mu itu benar-benar parah lho," ejek Zhoumi, meskipun pada akhirnya ia menepuk bahu Kyuhyun.

Kyuhyun menatapnya heran. Zhoumi ikut duduk di sampingnya.

"Kau tahu, ayahku hanya seorang pedagang kecil-kecilan di Cina." Ia menatap Kyuhyun dengan senyumnya yang misterius, seperti ada sedikit gurat kepedihan disana.

"Kami bukan keluarga yang berkecukupan. Suatu hari, Ayah menemukan bakat menyanyiku saat aku ikut perlombaan di sekolah. Ayah senang sekali aku menang, rasanya seperti mendapatkan uang yang sangat banyak." Ia berhenti sebentar, matanya menerawang.

"Aku sudah bercita-cita menjadi penyanyi opera saat masih kecil. Dan keluargaku benar-benar mendukung keinginanku. Hanya saja," Ia melirik Kyuhyun, "keadaan tidak mendukung."

"Kami tidak cukup kaya untuk menyekolahkan adikku yang lain. Akhirnya aku berhenti sekolah dan bekerja sebagai penyanyi café. Bukan hal mudah, tentu saja. Terkadang aku bahkan tidur di emper-emper toko dan makan seadanya di musim dingin." Ia terkekeh pelan mengingat masa lalunya.

"Adalah sebuah keajaiban seorang teman menyuruhku datang ke audisi pencari bakat di Korea yang mempertemukanku dengan Lee Soo Man. Orang tua itu menawariku untuk menjadi artis di bawah management-nya, tapi aku memilih untuk belajar dulu di Akademi ini. Dengan syarat aku harus berada di bawah kontrak management-nya untuk selamanya. Mulai saat itu, aku berjanji demi masa depan keluargaku yang lebih baik. Aku berjanji untuk memperjuangkan impianku."

Zhoumi selesai bercerita. Ia menatap Kyuhyun sambil tersenyum simpul.

"Aku tahu kau datang kesini untuk sesuatu. Maka dari itu, perjuangkanlah impianmu."

.

"Wajahmu pucat, Kyuhyun." Yesung mengambil setangkup roti di kulkas, lalu mengolesinya dengan selai jeruk untuk sarapan.

"Wajahku kan memang begini dari dulu ," jawab Kyuhyun asal-asalan. Ia menguyah sandwich-nya dengan nikmat.

Yesung menatapnya kesal, tapi tersirat kekhawatiran juga di matanya. Bagaimanapun, ia yang dituakan disini. Kesehatan dongsaeng-nya adalah tanggung jawabnya.

"Jadi semalam bukan mimpi, ya?" celetuk Zhoumi. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk menutupi tubuhnya. Yesung menoleh, menatapnya tak mengerti.

"Itu lho, Sunbae. Jam dua pagi tadi aku melihat Kyuhyun berlatih piano. Tampaknya ia tidak tidur semalaman," terang koala itu acuh, merebut roti yang sedari tadi dipegang Yesung tapi belum juga dimakan. "Nyam~ Sepertinya dia benar-benar berusaha." Ia memakan roti itu dengan nikmat sementara Yesung mendelik kesal.

Yesung duduk lalu menoleh pada Kyuhyun.

"Jangan terlalu memaksakan diri. Lee Sungmin memang orang yang perfeksionis, tapi kau tidak perlu memaksakan diri untuk dapat sebanding dengannya."

Yesung memang hanya menasehati Kyuhyun sebagai seorang kakak tingkat, tapi kata-kata itu menusuk perasaannya. Ya, Kyuhyun dan Sungmin memang tak akan pernah sebanding…

"Sunbae jahat sekali! Dia itu kan menyukai Sungmin, sunbae!"

Kyuhyun tersedak. Ia melotot pada Zhoumi yang masih cengar-cengir tanpa dosa. Lalu menoleh pada Yesung, yang kini menatapnya tajam.

"Apa itu benar?" Tanya Yesung hati-hati. Kyuhyun tidak menjawab.

Yesung menghela napas. "Kau tahu kan Sungmin itu sudah lama berpacaran dengan Wookie? Jangan mengganggu hubungan orang lain, Kyuhyun. Berhentilah selagi kau bisa." Kata-kata itu terdengar sengit, dan juga menusuk.

"Kau yang harus berhenti, sunbae." Kedua orang yang sedang bersitegang itu menoleh pada Zhoumi yang sedang menambahkan irisan keju di atas rotinya.

Zhoumi tersenyum cuek. "Berhentilah memendam perasaanmu sendiri pada Ryeowook, ne?"

XxXxXxX

"Hyung dimana?"

Kyuhyun menempelkan ponsel flip berwarna hitam itu ke telinganya. Suara dari seberang terdengar.

"Di ruang pertunjukan Divisi Biola lantai tiga. Cepat datang kesini ya. Lima menit lagi acaranya dimulai."

Orang dari seberang telepon itu itu mematikan hubungan secara sepihak, tidak menerima penolakan. Kyuhyun mendengus kesal. Ia baru saja selesai latihan dengan Sungmin. Otaknya mengingat kata-kata sinis Sungmin saat ia salah memainkan nadanya tadi, 'Kalau seseorang memainkan karyanya seperti ini, mungkin Mozart akan bangkit dari kuburnya.' Cih, harusnya tidak perlu begitu, 'kan. Setidaknya Kyuhyun sudah berusaha. Ia merengut kesal mengingatnya.

"Kyuhyun!"

Kyuhyun mendengar suara yang amat familiar memanggil namanya saat ia sampai di tempat yang dituju. Lima meter di depan dilihatnya Hankyung melambaikan tangan.

"Hyung." Kyuhyun mendekat, ia memandangi hyung-nya dari atas sampai bawah. Hyung-nya kali ini tampak tampan dengan kemeja biru laut dan celana hitamnya yang cool. Rambutnya disisir rapi dengan gaya rambut terbaru.

"Hyung tampak keren," puji Kyuhyun.

Hankyung hanya tertawa. "Harus dong, Kyuhyun. Aku harus tampak memukau di pertunjukan kali ini," katanya narsis.

"Tapi kan hyung tidak tampil?" Tanya Kyuhyun heran. Kali ini ia diajak Hankyung hyung untuk menonton Kompetisi Biola interdivisi. Hankyung akan menempuh ujian akhirnya beberapa minggu lagi, dengan kata lain ia tidak ada waktu untuk mempersiapkan diri mengikuti kompetisi. Lagi pula, sudah menjadi tradisi di Divisi Biola, sunbae yang hampir lulus akan lebih memfokuskan diri pada ujian dan mengalah untuk tidak mengikuti kompetisi, memberi kesempatan pada adik-adik tingkatnya.

"Iya sih, tapi sebentar lagi kau akan melihat mutiara dari Divisi Biola yang sesungguhnya. Ayo!" Hankyung menyeret Kyuhyun memasuki ruang pertunjukan itu.

Cahaya di gedung itu meredup saat semua penonton sudah duduk di kursinya masing-masing. Hankyung telah memesan tempat duduk di baris ketiga, Kyuhyun bersyukur ia dapat melihat panggung itu dengan lebih dekat.

Panggung itu tampak megah meski dalam ruangan tertutup. Lighting semakin gelap saat tirai di atas panggung di buka. Permainan cahaya di atas panggung sangat mengagumkan. Penonton memberikan tepuk tangan untuk pembukaan yang indah itu. Mereka menanti dengan penuh penasaran.

Peserta pertama keluar, memberikan salam hormat pada penonton yang hadir.

"Itu Henry dari kelas 3-A. Ia dikenal sebagai the Poppin Master."

Kyuhyun menoleh heran, "The Poppin Master?"

Hankyung tersenyum. "Kau akan tahu setelah melihatnya."

Pemuda bernama Henry itu maju selangkah, biolanya ia tumpu di bahu dengan profesional.

Sebuah musik indah mengalun.

"Beethoven, Violin Sonata no 5 in F major." Hankyung berbisik pelan.

Tak tahu harus menjawab apa, Kyuhyun hanya terus mendengarkan permainan pemuda bernama Henry itu.

Kyuhyun tak sering mendengarkan biola dalam hidupnya, namun ketika mendengarkan permainan Henry, ia merasa jatuh cinta.

Gesekan piano yang dihasilkan begitu halus dan telaten, menyayat hati hingga ke kerak yang paling dalam. Kyuhyun memejamkan mata. Belum pernah ia mendengar permainan sejenius ini…

Melodi yang dihasilkannya begitu indah, romantis, sensitif…

"Seperti lagu musim semi," komentar Kyuhyun takjub ketika musik manis itu mencapai tengah.

"Spring memang nama lain lagu ini." Hankyung mengiyakan.

Kyuhyun tak mengedipkan mata sedikitpun ketika pertunjukan itu. Tiba-tiba dilihatnya pemuda berkulit putih di atas panggung yang lebar itu menari. Tepatnya menari dengan kedua kakinya, seirama dengan lagu yang sedang dimainkan. Sementara tangan dan bahunya masih digunakan untuk memainkan biola itu dengan baik!

Riuh tepuk tangan penonton yang takjub terdengar.

"Dan itulah kenapa dia dijuluki the Poppin Master." Senyum Hankyung bangga.

.

Pertunjukan itu berlangsung selama dua jam lebih. Hampir dari sepuluh penampil menghibur penonton yang ada dengan sangat memukau. Sangat tidak menyangka yang baru disaksikan tadi adalah sebuah Kompetisi, karena semua penampil benar-benar memberikan pertunjukan terbaik layaknya seorang profesional. Tapi dari semua penampil itu, ada satu yang membuat Kyuhyun penasaran.

"Kim Ryeowook tidak tampil?" Mereka berjalan keluar dari ruang pertunjukan.

Hankyung menoleh. "Eh? Darimana kau tahu tentang dia?"

"Temanku." Kyuhyun mengendikan bahunya.

Pria Cina itu menghela napas, "Well… Sebenarnya dia tadi yang kusebut Mutiara dari Divisi Biola. Tapi sepertinya terjadi sesuatu…" Kata-katanya mengambang ketika melihat Zhoumi mendatangi mereka.

"Gege!"

"Mimi!" Hankyung melambaikan tangan.

Sehebat itukah Ryeowook? Pikir Kyuhyun miris. Mungkin itulah alasan kenapa Sungmin dan Ryeowook bersama. Karena mereka begitu serasi…

"Kyuhyun juga disini?" Tanya Zhoumi ketika ia sampai.

"Dia bersamaku," Hankyung yang menjawab. "Kau sendiri?"

"Well…" Zhoumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlihat grogi. Tak lama kemudian seorang pemuda mungil mendekati mereka. Pemuda di pertunjukan tadi yang membuat Kyuhyun terpana.

"Ah, Henry." Zhoumi memeluk lengan pemuda itu.

"I'm so nervous…" Henry bergumam kecil, ia menatap Zhoumi resah. Tatapan yang untuk beberapa saat membuat Hankyung dan Kyuhyun aneh.

"It's alright, dear. Just be relax, ok? Aku yakin kau pasti akan memenangkan kompetisi ini." Zhoumi mencubit pipi chubby pemuda itu dengan gemas, membuat pemuda keturunan Canada itu bersemu merah.

"Ehem. " Hankyung pura-pura batuk hanya agar kedua orang itu sadar ia dan Kyuhyun masih disini.

"Eh… maaf." Zhoumi meringis kecil, sedikit merasa malu juga.

"Jadi sudah jadian, ya?" goda Hankyung kecil, melirik Henry yang menunduk malu.

"Begitulah, hehehe…" Zhoumi menjawab dengan slengean seperti biasanya.

"Oh ya, Kyuhyun. Kenal kan, ini Henry. Henry, ini teman seasramaku, Kyuhyun."

"Annyeong haseyo."

"Hallo." Henry membalas sapaan Kyuhyun dengan canggung, ternyata pemuda manis yang jenius bermain biola itu adalah seseorang yang pemalu.

"Henry ini dari Canada, bahasa Koreanya belum terlalu lancar, jadi tolong dimaklumi," jelas Zhoumi. Kyuhyun mengangguk paham.

"Apa kalian tahu kenapa Ryeowook tidak mengikuti Kompetisi?" Tanya Hankyung.

Baik Henry dan Zhoumi sama-sama mengangkat bahu.

"Kudengar ia juga batal mengikuti kompetisi di luar," sahut Henry dengan bahasa Koreanya yang pas-pasan.

Hankyung mengerutkan kening. Sementara Kyuhyun berpikir keras, mengira-ira sehebat apa Kim Ryeowook itu.

XxXxXxX

Sungai itu tenang. Permukaan airnya yang luas bagai tumpukan balok kaca yang amat kelam. Malam itu dingin. Dingin sekali karena itu musim salju. Angin berhembus kencang, meniup ke segala arah. Langit malam tampak gelap pekat karena mendung.

Ryeowook berdiri di tepi sungai itu. Bola matanya yang hangat menatap kosong pada titik-titik kristal yang seolah-olah muncul ketika sungai itu terkena cahaya. Pada bayang-bayang lampu jalan yang berpendar di permukaannya. Pada alirannya yang sepi.

Malam itu musim dingin, dan Ryeowook tetap memaksakan diri keluar hanya untuk berada disana. Kedua jemarinya sudah memucat sempurna, karena sindrom sialan itu. Tapi Ryeowook tidak peduli. Ia merasa aliran darahnya berhenti di telapak tangannya yang membeku karena dingin. Kaku.

Andai saja…

Andai saja ada seseorang yang berbaik hati mendorongnya hingga jatuh ke sungai…

Satu dorongan saja. Dan ia akan mati. Ia tidak perlu menahan rasa sakit itu lagi. Ia tidak perlu berpura-pura kuat lagi. Ia tidak perlu memikirkan impiannya yang mesti terkubur dalam-dalam itu lagi.

Cukup satu dorongan saja, dan ia akan berakhir dengan tenang.

Tapi Ryeowook tidak bergeming. Meskipun angin malam hampir membuat pertahanannya jatuh, ia tidak bergeser seinci pun. Ia tidak juga mati.

Airmata hangat meleleh sejak tadi. Kedua bahunya bergetar menahan tangis yang menggugu. Tapi tidak ada yang menghentikan tangisnya kali ini. Impiannya sudah berakhir. Masa-masa keemasan untuknya sudah berakhir…

Sekarang yang tersisa hanyalah jalan yang gelap.

"Jadi ini, yang dilakukan mutiara dari divisi biola itu, ketika namanya tidak disebut sebagai pemenang kompetisi tahun ini?"

Ryeowook menoleh. Dilihatnya Yesung berdiri disana dengan nafas terengah-engah.

"Aku mencarimu, dan ini yang kau lakukan untuk membalas kebaikanku?" nada suara Yesung meninggi, membuat Ryeowook makin menunduk.

"Dimana Sungmin?"

Pemuda mungil itu mengigit bibirnya, tidak menjawab apapun.

"Sesibuk apa dia hingga tidak tahu kalau kekasihnya menghilang?"

Yesung mendekati pemuda mungil itu, lalu memeluknya hangat. Hanya pelukan seorang kakak pada adiknya. Hanya sebuah pelukan yang menenangkan…

"Dimana si brengsek itu saat kau membutuhkannya?" Yesung mendesis lirih, mengusap kepala Ryeowook yang kini terisak di bahunya.

"Dia tidak brengsek, hyung…"

"Dimana dia saat kekasihnya jatuh? Kekasih macam apa dia…"

Ryewook hanya semakin menggugu. Yesung semakin mengeratkan pelukannya pada pemuda malang itu. Di malam yang semakin dingin itu, sayup-sayup tangisnya masih terdengar pilu.

XxXxXxX

Hujan lebat mengguyur Seoul pagi itu. Kyuhyun bersyukur setidaknya cuaca tidak begitu dingin hingga ia harus berada di dalam asrama untuk menghindari badai. Ia menaruh jas hujannya di loker penyimpanan begitu sampai di akademi. Ia telat sepuluh menit, semoga saja Sungmin tidak membunuhnya.

"Hyung, maaf aku terlamb-"

Ruang latihan itu kosong. Sungmin tidak ada. Tapi tas jinjing hitamnya masih berada disana. Kemana dia? Pikir Kyuhyun bingung.

Pintu ruang latihan itu dibuka kasar, membuat Kyuhyun refleks menoleh.

"Hyung?"

Dilihatnya Sungmin dengan kemeja putihnya yang basah. Pemuda yang lebih pendek itu bersin.

"Hyung kehujanan? Darimana saja tadi? Apa hyung sakit?" Tanya Kyuhyun beruntun.

Tersadar Kyuhyun sudah ada disana, Sungmin menatapnya sinis. Tatapan yang lebih dingin dari hujan deras di luar sana.

"Cemaskanlah pertunjukanmu 20 hari lagi, anak muda." Sungmin mendengus sarkastis, mengambil jaket hitamnya yang tergeletak di atas meja piano.

"Pastikan saja kau mengalami kemajuan, jika tidak ingin mati muda."

.

"Apa ada yang salah?" Kyuhyun bertanya takut-takut ketika ia selesai memainkan lagunya.

"Aku sudah menghafalkan semuanya. Apa ada nadaku yang salah?"

Sungmin tak langsung menjawab. Sebenarnya, kemajuan Kyuhyun cukup pesat. Ia sudah menghafalkan semua catatan dalam partitur itu kurang dari sepuluh hari. Melodi yang dihasilkannya tidak buruk, sungguh. Dan musiknya mulai menampakkan 'jiwa', sesuatu yang hanya bisa terjadi jika seorang pianist benar-benar bermain dengan sepenuh hatinya. Tapi itu hanya permulaan. Itu bukan apa-apa.

"Tempo," sahut Sungmin pelan.

"Apa?"

"Tempo." Sungmin mengulangi.

"Tempo-mu masih berantakan. Yang kau mainkan adalah lagu yang ceria, bukan musik pengiring kematian."

Kyuhyun merengut, kata-kata Sungmin menyakiti hatinya. Padahal kan ia sudah berlatih semalaman selama ini.

"Kau harus bisa memainkannya dengan cepat dan tepat. Jangan lembek seperti seorang gadis." Sungmin berjalan mendekatinya, lalu mendudukan diri di piano sebelahnya.

"Aku akan mengiringi musikmu. Mulai hari ini kita berlatih bersama." Ia melirik Kyuhyun ketika dilihatnya pemuda itu meringis ceria, "Jangan senang dulu," tambahnya sarkastis, "ini berarti kau bekerja dua kali lipat untuk dapat setara dengan permainanku."

-TBC-