Berkaca pada review chapter lalu, tampaknya saya belum menjelaskan jenis fanfic ini hingga banyak yang salah paham.

Dearest readers, ini memang fanfic musik. Tapi saya ingin memberitahu kalau ini lebih dari sekedar fanfic, sekedar cerita romantis tentang cinta yang dibumbui musik. Saya ingin FF ini lebih dari itu.

Ini adalah kisah tentang kehidupan yang sesungguhnya, dimana Anda harus berjuang untuk memperoleh apa yang Anda mau. Dan sekaligus, belajar merelakan apa yang telah pergi. Semua orang pernah merasakan sakit hati, kebencian, jatuh bangun mengejar impian, dan berada di atas angin setelah sukses. Ini bukan cerita manis dimana tokoh jahat tiba-tiba berbuat manis dan menyentuh hingga menghasilkan ending yang bahagia, atau tokoh baik tiba-tiba melakukan sesuatu yang membuat tokoh jahat terkesima dan mengalah dengan indahnya. Karena hidup tak semudah itu. Tidak ada baik dan jahat disini. Semua punya andil untuk melakukan kejahatan untuk melindungi dirinya masing-masing, semua punya alasan.

Ini fanfic tentang kehidupan yang sesungguhnya.

Dimana tak selamanya akhir yang bahagia adalah hal yang baik, dan penderitaan ternyata hal yang menyenangkan agar kita bisa belajar. Dimana semua orang punya alasan untuk menjadi jahat atau baik, semua orang punya hak untuk memilih, tapi Takdir juga punya andil besar untuk mempengaruhi.

Jika anda mengharapkan kisah yang romantis, fluffy, penuh kata-kata mesra, maka saya sarankan berhentilah sampai disini :)

Tapi, saya bisa menjanjikan satu hal. Bahwa Tuhan itu adil, dan manusia berhak bahagia. Tolong percayalah pada saya, oke?

Without further more ado, ladies and gentlemen…

Please welcome…

~Still the Same Rain~

~A Super Junior fanfic~

Note:

Coba ingat-ingat detil adegan di fanfic Me and Mr. Rain Hater.

CHAPTER 6: RAIN LOVER

Saranghae geudaen naege olsun eobnayo

[I love you, can't you come back to me?]

Geudaega bogopaseo jukeul geotman gateunde

[I'm dying to see you]

Nae gaseumi dalaseo apeumdo neugilsu eobseo

[My heart cannot feel the pain anymore]

Jebal dolawajwoyo saranghaeyo…

[Please come back to me, I love you…]

Lembut lagu balad yang ia nyanyikan terdengar samar dalam kamarnya yang sempit. Deras air langit yang turun di luar menciptakan melodi yang khas, melodi yang hanya bisa didengarnya ketika hujan datang.

Ia mencintai hujan. Ia mencintai bagaimana tetesan air langit itu jatuh menimpa bumi, membasahinya dengan sensasi yang berbeda. Ia mencintai bagaimana deru air langit itu berkejaran satu sama lain, bagaimana hujan membuat nuansa tanah dan udara yang basah menjadi sesuatu yang segar untuk ia hirup, bagaimana hujan menciptakan suasana romantis dengan caranya sendiri, membungkus sepi dengan dinginnya yang menenangkan.

Ia begitu mencintai hujan dan segala hal yang berhubungan erat dengannya.

Karena ketika hujan ia dapat menjadi dirinya sendiri, menyanyikan elegi kehidupannya yang sepi, dan untuk sejenak berhenti memandang dunia sebagai tempatnya harus berlari. Dengan hujan, ia menemukannya. Karena hujan, ia mencintainya. Bersama hujan, ia terus mengingatnya.

"Suaramu bagus."

Kyuhyun tidak menoleh. Ia tetap memandang keluar jendela, menatap rintik hujan yang menghempas debu-debu jalanan di luar sana. Tatapan mata itu sendu, merindukan orang yang selalu diingatnya kala hujan turun.

"Kau tahu, dengan suara seperti itu kau bisa masuk Divisi Vokal dengan mudah."

Dalam ruangan yang redup Yesung mendekatinya. Ikut menyandarkan dinding, ia bernyanyi kecil.

Amu maldo eopseotdeon niga, tteonagan geon niga

Anigil jebal

Dorawado gwaenchana…

Dorawado gwaenchana…

Suara artistiknya sengaja berhenti disitu, di lirik yang menyindir perasaan Kyuhyun sekarang.

It's ok if you come back…

It's ok if you come back…

"Hujan." Lirih suara Kyuhyun keluar setelah sekian lama.

"Dari dulu, hujan selalu berusaha mengingatkan tentang perbedaan diantara kami."

Yesung tak menjawab. Ia hanya terpekur mendengarkan.

"Tapi ia berusaha. Ia berusaha untuk terus bersamaku, meskipun itu akan membuatnya sakit…" Hanya keheningan, getar suaranya kalah oleh deras hujan diluar.

"Ia selalu berusaha… Karena ia percaya," suaranya tercekat untuk beberapa detik, "aku tak akan pernah menyakitinya."

Gemuruh guntur terdengar memekakkan telinga.

"Tapi aku…" Kyuhyun menatap Yesung pilu, "aku telah menyakitinya terlalu dalam. Sakit yang bahkan tak dapat dilalui oleh orang seperti ia dulu."

Dengan lidah yang kelu Yesung mencoba berkata, "Tidak bisakah, kau berhenti?"

Sebentuk senyum miris terbentuk di wajah Kyuhyun, ia menggeleng dalam diam. Wajahnya terangkat, ada gurat penyesalan terlihat jelas disana. Yesung menatapnya iba.

"Apa kau mencintainya, Kyuhyun?"

Kilat menyambar-nyambar, untuk beberapa detik mereka diam saat guntur di luar mengamuk.

Kyuhyun tersenyum pedih, airmatanya meleleh dan jatuh di lantai yang dingin.

"Selalu."

XxXxXxX

Ia adalah sang terbaik di Akademi. Ia adalah pangeran tampan dari Divisi Piano, satu-satunya yang mendapat julukan the Piano Ice Prince. Salah satu yang ditaksir akan menjadi legenda di akademi ternama itu. Ia adalah kekasih dari mutiara divisi biola. Ia dan kekasihnya, adalah pasangan terbaik disana.

Ia sudah membuktikan.

Ia adalah orang yang kuat.

Ia bukan Sungmin yang lemah, ia tidak manja.

Dulu, dulu sekali-ia sudah lupa itu kapan, Sungmin pernah menggantungkan harapannya pada seorang pemuda. Satu-satunya orang yang ia cintai. Karena ketika dunia bahkan tidak berada di pihaknya, pemuda itu masih setia berada di sampingnya. Tertawa bersamanya ketika ia bahagia. Menggodanya ketika ia merengek. Memeluknya ketika ia menangis. Pemuda itu, adalah cahaya baginya. Ia tidak lagi membutuhkan siapapun jika ia memilikinya. Meskipun keluarganya pecah berantakan, meskipun ia tak pernah memiliki teman, ia masih memilikinya.

Cinta pertama yang indah, bukan begitu?

Sayangnya terkadang takdir itu amat kejam. Pemuda yang menjadi satu-satunya cahaya, meninggalkannya dengan pria lain. Pria yang bahkan tidak lebih baik darinya. Meninggalkannya dengan senyum di bibir tanpa rasa bersalah.

Ia hanya pemuda polos saat itu. Maka ketika satu-satunya hal yang dapat ia pegang melepaskan diri, ia tidak punya sandaran lagi. Ia terjatuh. Ia terhimpit dalam luka yang menganga. Sebagian dari jiwanya mati.

Kematian selalu mengintainya kapan saja, bahkan sebelum pemuda itu datang dalam kehidupannya. Terlahir sebagai bocah dengan segala kelemahan fisik, membuatnya harus ekstra hati-hati terhadap tubuh dan perasaannya.

Tapi bagaimana jika ia tidak peduli? Bagaimana jika Sungmin benar-benar ingin mati saja?

Pemuda itu selalu menyia-nyiakan cintanya. Salahkah Sungmin jika ia membencinya sekarang?

Bertahun-tahun hidup dalam dendam yang sama hingga hampir gila karenanya. Bertahun-tahun menempa dirinya dengan keras, karena senyum pemuda itu selalu menjadi mimpi buruknya. Bertahun-tahun mengubur jati dirinya yang dulu…

Sungmin tidak pernah lupa. Ketika pemuda itu melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang sama dengannya setelah beberapa tahun, ia tidak lupa dengan sensasi aneh yang menyengat hatinya. Dendam yang berkecamuk dan kebencian hebat. Sungmin tidak pernah lupa tentangnya sedikitpun, karena ia selalu datang dalam mimpi buruknya. Sungmin tidak pernah berhenti mengingatnya.

Namun lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ia mendapatkan cukup waktu untuk sekedar menyembuhkan hatinya. Bersama Ryeowook, pemuda manis yang dikenalnya di tahun kedua di Akademi, ia semakin menjadi pemuda yang kuat. Saling memberi semangat satu sama lain, saling merengkuh satu sama lain…

Selalu ada alasan buruk kenapa seseorang bisa menjadi tegar. Sungmin pemuda yang dingin, karena masa lalunya yang hangat terenggut begitu saja, telah menempanya menjadi pemuda yang kuat dan sempurna.

XxXxXxX

Ryeowook suka sekali pada bunga sakura. Setiap kali Sungmin datang ke rumahnya, yang pertama kali tercium adalah pengharum ruangan bunga kebanggaan bangsa Jepang itu. Wewangian sakura telah menjadi favoritnya. Semenjak itu, Sungmin secara tidak langsung ikut menyukai bunga sakura. Mungkin itulah yang disebut cinta. Tanpa kau sadari, hal-hal yang menjadi kesukaan orang yang kau cintai akan menular padamu. Bahkan sekarang Sungmin selalu meminta Ryeowook untuk menaruh wewangian sakura itu di apartment Sungmin. Sebuah cara romantis kecil untuk selalu teringat pada Ryeowook, katanya kala itu.

Mungkin begitulah cinta mereka. Cinta yang tumbuh karena kebiasaan yang sama, minat yang sama, derajat yang sama. Keduanya selalu cocok dari sisi manapun. Layaknya mempunyai benteng tak terlihat, ia dan Ryeowook sudah seperti pasangan lovebird, yang satu tidak akan bisa tanpa ada yang lain. Mereka tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam zona nyaman mereka, karena memang sesederhana itulah cinta.

"Sungmin-ah…"

Ryeowook memanggil nama kekasihnya lembut. Disandarkannya tubuhnya ke dada Sungmin, menikmati pelukan hangat pemuda tampan itu. Pemuda yang telah menjerat hatinya sejak dua tahun yang lalu.

Hanya gumaman yang diberikan Sungmin untuk merespon kekasihnya. Pikirannya masih serius bergelut dengan nada-nada yang tercatat dalam partitur yang dibacanya, beberapa tawaran beasiswa di luar negeri yang ia cari tadi, dan beberapa majalah musik terbaru.

"Kau sibuk sekali akhir-akhir ini?" Ryeowook bertanya kalem. Tidak ada keegoisan seperti orang yang ditinggal sibuk kekasihnya, atau rasa cemburu di dalamnya. Hanya sebuah bentuk perhatian yang tulus.

Sungmin menatap bola mata cokelat terang pemuda yang lebih mungil darinya itu. Meletakkan partitur musik yang sedang dibacanya ke sofa, lalu mengelus lembut rambut Ryeowook.

"Aku kangen." Semburat merah muncul di pipi pemuda manis bermarga Kim itu. Sungmin tersenyum, menatap kekasihnya dalam-dalam. "Aku juga."

"Bagaimana kabarmu?" tanya Ryeowook lagi.

"Hanya sedikit kesulitan dengan bocah yang sedang menjadi teman duetku." Sungmin menjawab datar. Ia memainkan gantungan kunci apartment-nya dengan inisial SR. Sungmin dan Ryeowook.

"Kau sendiri? Bagaimana kabarmu? Maaf akhir-akhir ini aku terlalu sibuk hingga jarang bisa jalan berdua denganmu lagi." Sungmin menyesal dengan wajah yang masih datar. Atau begitulah standar penyesalan bagi seorang Lee Sungmin.

Ryeowook tersenyum tipis, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sungmin.

"Aku selalu baik-baik saja…"

XxXxXxX

Sungmin memasuki Ruang Pertunjukan Orchestra di Akademi itu dengan hati-hati. Ditutupnya pintu di belakangnya, lalu memandang ke penjuru ruangan. Pagi itu masih sepi, hanya ada seorang pemuda yang sedang duduk di barisan depan kursi penonton. Sungmin berjalan ke arahnya, kemudian ikut duduk di samping kursi sofa berwarna merah maroon itu.

"Kau semakin sibuk saja semenjak menjadi nomor satu."

Pemuda itu mengeluarkan suaranya tanpa memandang Sungmin. Matanya terfokus pada lembaran partitur konduktor yang sedang ditandainya. Sesekali keningnya mengerut ketika ditemuinya kombinasi nada yang sekiranya sulit.

Sungmin tersenyum kecil, "Aku mengambil cuti pun orchestra mu tetap saja berkembang pesat, Hyung." Semenjak mengambil langkah untuk mengikuti sejumlah prasyarat ujian, Sungmin memilih cuti dari Star Orchestra, sebuah orkestra musik yang membesarkan namanya sebagai seorang pianist pengiring orchestra concerto sejak dua tahun lalu. Dan orang di hadapannya ini, adalah konduktor sekaligus pemilik resmi orchestra bentukan murid di Akademi Musik itu.

Leeteuk, pemuda yang dipanggil Hyung oleh Sungmin itu menoleh, senyum kecil menghiasi wajahnya.

"Kapan ujianmu?"

"Dua minggu lagi." Sungmin menjawab sekenanya. "Apa akan ada pertunjukan dalam waktu dekat?" tanyanya memperhatikan partitur yang dibawa Leeteuk.

"Begitulah, grafik tawaran bermain Star Orchestra cukup meningkat tahun ini." Ia membenahi kacamatanya.

"Itu karena hyung yang menjadi conductor."

"Itu karena kekompakan pemain yang kita miliki," koreksi Leeteuk. Sejenak ia menutup partitur yang sedari tadi ditekuninya, lalu menatap Sungmin lekat-lekat.

"Ada masalah? Kau tidak akan datang tanpa membawa masalah kemari."

Sungmin tertawa mendengar gurauan Leeteuk. "Intuisimu mengagumkan juga."

Leeteuk hanya mengangkat bahu.

"Bagaimana kabar kekasihmu?" tanyanya pelan.

"Kau masih menjaganya dengan baik kan, Sungmin?"

Sungmin tak langsung menjawab., jemarinya meraih partitur konduktor yang tadi dipelajari Leeteuk.

"Aku mencintainya. Dia duniaku sekarang." Ada ketegasan di bola mata obsidian itu.

Leeteuk tersenyum lega mendengarnya.

"Baguslah." Kemudian pemuda itu membuka tas jinjing yang dibawanya lalu mengeluarkan sebuah kertas.

"Ini." Ia menyerahkan selembar pamflet. Sungmin menaikkan alisnya.

"Kau masih ingat Lee Hyukjae? Di pamflet itu tertulis kabar dia akan debut sebentar lagi."

Sungmin melirik pamflet yang kini berada di tangannya. Sebuah penyataan resmi dari artist management SM Entertainment mengenai debut boyband baru.

"Anak itu sudah bekerja keras sampai sejauh ini." Leeteuk menerawang.

Sungmin terdiam sebentar, "Selamat untuknya, kalau begitu."

"Hei, kau harus mengatakan itu langsung padanya," tegur Leeteuk, ia mengambil paksa pamflet di tangan Sungmin lalu memasukkannya ke tas jinjingnya.

"Aku tidak akan sempat untuk itu," sahut Sungmin arogan. Ia berdiri, diliriknya grand piano yang terletak di sudut ruang pertunjukan. Ingatannya melayang pada sesi latihan tempo hari. Ingatan tentang kebencian yang begitu besar, dendam yang tak pernah padam pada orang yang telah menyakitinya lima tahun lalu. Lima tahun yang sudah berlalu, tapi sakit di hatinya tak pernah berkurang sedikit pun. Rasa sakit yang selalu menyiksa dimanapun ia berada, rasa sakit yang sudah membentuknya sedemikian rupa.

"Dia banyak membantumu dulu," celetuk Leeteuk pelan. Ia mengemasi tasnya karena sebentar lagi akan ada reherseal.

"Dulu." Sungmin memberi penekanan pada kata yang diucapkannya. Ada ketegasan yang tersurat, ketidaknyamanan setiap kali mengingat sesuatu yang berhubungan dengan masalalu.

Leeteuk ikut berdiri, "Yeah, benar sekali. Dulu. Dulu dan sekarang sudah berbeda, bukan begitu?"

Sungmin tak langsung menjawab. Diliriknya Leeteuk yang menyeringai kecil ke arahnya.

"Ya." Ia melangkah keluar dari ruangan yang sepi itu. Suaranya semakin terdengar lirih di telinga Leeteuk saat pemuda itu menjauh, "Dulu dan sekarang sudah JAUH berbeda."

XxXxXxX

Ryeowook masih terduduk di ruang latihannya yang sepi. Saat itu senja, waktu belajarnya sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Tapi ia masih disana, memeluk biolanya erat-erat.

Ryeowook mencintai musik sejak kecil. Kedua orang tuanya adalah seniman yang mempunyai nama besar di negara ini. Ayahnya seorang conductor dari sebuah orchestra populer pada tahun 90'an, dan Ibunya merupakan violinist yang pernah mendapatkan peringkat pertama di sebuah kompetisi biola di Paris saat masih muda dulu. Sejak kecil ia sudah begitu dekat dengan musik, melodi-melodi indah selalu didengarnya begitu ia bangun tidur. Ia tidak bisa lepas dari musik, musik adalah dunianya. Dan orang tuanya berharap besar padanya. Alat musik yang sedang dipeluknya sekarang adalah pemberian orangtuanya di ulang tahunnya yang kelima belas. Salah satu dari biola kesayangannya. Ia tersenyum kecil mengingat itu semua.

Ryeowook tidak bisa lepas dari musik, dari biolanya, dari melodi-melodi yang ditangkap telinganya saat ia menggesek alat musik itu penuh cinta…

Tapi sekarang cinta itu terbatasi. Ia tidak bisa lagi berlatih setiap hari semaunya. Penyakit itu sudah bercokol dalam tubuhnya, membuatnya merasa tidak sanggup lagi melakukan apa-apa. Sesering apapun ia berlatih, sekuat apapun ia mencoba, Ryeowook tidak akan pernah bisa mengikuti kompetisi dan membanggakan orangtuanya.

Tidak akan pernah lagi.

Miris sekali, ketika ia sedang berada di puncak kemenangannya, ia harus jatuh tersungkur karena takdir. Bahkan kata-kata penenang dari gurunya tidak bisa membuatnya bangkit kembali. Ia sudah menyerah sekarang. Ia sudah kalah oleh takdir.

"Kalau ingin menangis, menangis saja."

Ryeowook menoleh. Dilihatnya seorang pemuda yang lebih tua sedang menatapnya prihatin. Ryeowook segera berdiri.

"Kalau ingin berlatih, kau salah masuk ruangan, sunbae," katanya, melirik jaket berlambang biola dan tulisan Violin Division di lengan kanannya, pertanda orang yang sedang diajaknya bicara adalah seorang senior di Divisi yang sama dengannya.

Orang itu tersenyum pelan, "Han Seonsaengnim memintaku menemuimu." Ia mendekati Ryeowook, lalu duduk di salah satu kursi yang ada disana.

"Kau bukan satu-satunya yang pernah kecewa." Ia berkata datar, matanya memandang ke arah lain. Pada tumpukan partitur musik yang ada di meja pojok ruangan.

Ryeowook tersenyum dingin, seperti biasanya ketika ia menanggapi orang asing.

"Tentu saja, dan aku tidak meratap untuk itu, asal kau tahu." Ia berhenti sejenak untuk berpikir, "Kenapa Han Seonsaengnim menyuruhmu kemari?"

"Kau tidak mengikuti kompetisi," potong pemuda tadi.

"Ya."

"Kenapa?" Tajam, kata-kata itu mengintimidasi Ryeowook.

"Karena setahuku itu adalah hakku," ia menjawab setegas yang ia bisa. Rasanya tidak nyaman ketika seseorang yang bahkan tidak kau kenal bertanya tentang masalah pribadimu.

"Hakmu kah…" Orang itu menoleh dan menatapnya tajam, "untuk menghancurkan impianmu sendiri? Hakmu kah untuk mengecewakan orang-orang yang merindukan musikmu?"

Kata-kata itu berdengung di telinga Ryeowook, memberondonginya dengan pertanyaan yang membuat lidahnya kelu. Ia tak sanggup menjawab. Ia tidak mau menjawab…

"Kau tidak berhak membuat dirimu sendiri jatuh dan kalah. Kau tidak berhak mengubur impianmu." Final, pemuda tadi berkata tegas. Perlahan ia mendekati Ryeowook, "Kau bukan satu-satunya yang pernah terkena penyakit itu."

Ryeowook mengangkat wajahnya kaget, kemarahan dan ketidak tahuan menguasai hatinya.

"Bagaimana…. Bagaimana kau bisa tahu?" Suaranya tercekat.

Pemuda itu tersenyum.

"Aku akan membantumu. Percayalah, kau masih bisa sembuh sepertiku." Senyum itu damai, seolah menjaminkan ketenangan dalam kata-katanya. Ia mengulurkan tangannya,

"Perkenalkan, namaku Hankyung."

XxXxXxX

Empat belas hari lagi menuju ujian. Kesuksesan masih terasa mustahil untuk diraih melihat keadaan yang ada. Permainan Kyuhyun masih jauh dari profesional, tempo yang dimiliki masih parah, selalu berkejar-kejaran dengan permainan Sungmin yang sempurna.

Urat di kening Sungmin berkedut-kedut ketika dilihatnya Kyuhyun bahkan tidak serius belajar dengannya.

"Tidak bisakah kau berhenti mempermalukan dirimu sendiri?" Meskipun kemarahannya sudah di ubun-ubun, Sungmin tidak meledak. Harga dirinya yang tinggi memaksanya untuk tetap bersikap tenang.

Kyuhyun mendesis kesal, "Padahal aku sudah susah payah seminggu tidak bermain game…"

Oh, Kyuhyun telah membangunkan harimau tidur.

"Jadi," Sungmin tersenyum mengerikan, "begitukah? Kau merasa keberatan untuk ini? Kau pikir aku tidur dengan nyenyak selama ini?" Bibirnya membentuk senyum sinis, membuat Kyuhyun mundur selangkah.

"Err, hyung…"

Sungmin memandangnya rendah, arogansinya muncul.

"Jangan pernah datang latihan lagi, Cho Kyuhyun-sshi." Ia berbalik setelah mengucapkan kata-kata itu. Tubuh Kyuhyun panas mendengarnya, seolah semua aliran darahnya naik ke kepala, ia merasa bodoh…

"Hyung! Tunggu!"

Kyuhyun mengejarnya. Tapi Sungmin bahkan tidak sudi berhenti. Ia mengumpat dalam hati.

"Hyung!" Kyuhyun mencekal tangan pemuda manis itu erat-erat, terlalu kasar hingga membuat keduanya terjatuh. Kyuhyun mengumpat pelan saat tubuhnya bersinggungan dengan tubuh Sungmin. Suara gedebuk ketika badan mereka menimpa lantai terdengar keras.

"Apa yang kau lakukan?" desis Sungmin murka. Tanpa sudi menatap wajah Kyuhyun yang tadi begitu dekat dengannya, ia segera berdiri.

"Hyung!"

Sungmin tak menjawab, langkahnya semakin menjauhi Kyuhyun.

"Hyung!"

Menoleh pun tak sudi.

"Hyung…" Kyuhyun memanggilnya pilu, "Apa kau memang tidak mau menoleh ke belakang?"

Langkah Sungmin terhenti sesaat. Tangannya mengepal kuat-kuat.

"Aku ada disini, menunggumu … Apa kau benar-benar tidak mau menoleh?"

Sungmin mengigit bibirnya kuat-kuat. Tanpa ia sadari, bola matanya terasa panas karena kebencian yang mendera. Tapi Sungmin bukan orang lemah. Demi Tuhan, Sungmin tidak akan pernah memaafkannya. Orang yang membuangnya tidak akan pernah ia maafkan…

"Ini aku… Kyunnie-mu yang dulu…"

Seseorang, tolong hentikan pemuda itu! Sungmin menggigit bibirnya hingga terasa perih. Dengan dingin ia menoleh tajam.

"Kau…"

Ia menyusun kata-katanya dengan susah payah,

"Aku sangat membencimu sejak awal, Kyuhyun-sshi. Melihatmu saja sudah membuatku gila. Kau bisa memakluminya kan?"

Telak, senyum sinis menghiasi wajahnya. Dendam bergulung-gulung di raut wajahnya terlihat jelas, membuat Kyuhyun bahkan tak sanggup bernapas.

XxXxXxX

"FESTIVAL MUSIK?"

Yesung membekap mulut bocah slengean itu dengan kasar sebelum ada orang yang mendengar. Keduanya sedang berada di kantin sekarang,

"Ssstt! Jangan keras-keras!" desis Yesung memelototi dongsaengnya, yang dimarahi hanya mengangguk cepat-cepat.

"Festival musik?" suara Zhoumi lebih lirih sekarang, "darimana Hyung bisa tahu?" bisiknya penasaran.

Yesung tersenyum bangga, "Aku kan ketua panitianya!"

"BOHONG!"

Yesung malah cengar-cengir melihat mata hitam dongsaengnya membulat maksimal. Dengan jahil ia berbisik, "Permainan akan dimulai sebentar lagi. Siapkan dirimu, ne?"

TBC~

Author's Note:

Yak! Ini dia, chapter pembukaan telah sampai disini. Chap 6 dan konflik sesungguhnya belum muncul ya? Hum, maaf kalau bertele-tele, tapi saya merasa saya perlu menjelaskan latar belakang tokoh-tokoh di sini.

Seperti dalam kehidupan nyata, tidak ada hal yang benar-benar jahat, dan tidak ada pula orang yang sepenuhnya baik. Semua orang di fanfic ini punya motif dan potensi untuk menjadi tokoh antagonis, sekaligus punya alasan untuk menjadi pihak protagonis. Tidak ada yang sempurna disini. Semuanya akan melakukan kesalahan, menyakiti dan disakiti, meninggalkan dan ditinggalkan.

Tokoh-tokoh yang sepertinya kurang begitu penting dan dianggap sepele pada akhirnya mempunyai pengaruh besar terhadap keputusan ending yang akan diambil tokoh utama.

Dan jalinan benang merah sang takdir itu pun akan segera terungkap…

But first, mind to review?