Ketika seseorang bertanya, adakah orang yang mampu membenci hingga seumur hidupnya, maka jawaban apa yang akan kau beri?

Tidak akan ada orang sejahat itu. Bahkan orang terburuk di atas bumi ini pun masih memiliki hati untuk mencintai. Memaafkan meski kata itu tidak pernah diutarakan secara langsung. Karena hati manusia bukanlah batu, iya kan?

Waktu akan memaafkan.

Tapi jika seseorang bertanya, mampukah kau menyimpan rasa sakit hati untuk dirimu sendiri, mendekapnya kuat-kuat sebagai bagian dari tujuan hidupmu, dan menyimpannya sebagai dendam tak berkesudahan seumur hidup, maka jawabannya adalah…

.

.

.

Mungkin.

Still the Same Rain

CHAPTER 7: FESTIVAL

Ia duduk dalam ruang latihannya yang sepi. Benar-benar sepi, karena bahkan CD musik klasik yang selalu ia dengar ketika ingin menyendiri tidak ia putar kali ini. Ia hanya ingin berdiam dan menenangkan diri, menjernihkan pikirannya. Grand piano yang terletak di ruangan itu tak disentuhnya sama sekali. Ia hanya duduk disana, memandang keluar jendela dengan wajahnya yang selalu datar, dan tidak melakukan apa-apa lagi.

Lee Sungmin, seorang senior dari divisi Piano yang akan segera lulus. Lee Sungmin, yang diharapkan akan menjadi lulusan terbaik di tahun ajaran ini. Lee Sungmin, yang tinggal beberapa bulan lagi akan melepas title pelajarnya dan beralih menjadi pianist ternama seantero Korea. Lee Sungmin, yang beberapa menit lalu meminta pembatalan ujian kelulusannya tahun ini.

Ada yang salah. Ada yang tidak bisa dipahami disini. Kenapa Lee Sungmin-orang yang sedemikian ambisius untuk menjadi sang terbaik-membatalkan ujian kelulusannya? Kenapa ia mengambil tindakan seceroboh-atau bisa dikatakan sebodoh itu? Kenapa ia mencemarkan nama baiknya sendiri yang telah susah payah ia bangun selama bertahun-tahun?

Ada sesuatu yang salah disini. Sesuatu yang bahkan tidak dipahami oleh Sungmin sendiri. Suatu perasaan yang bergumul di hatinya. Kemarahan… Sakit hati…

Sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang dingin seperti dirinya…

"Hyung!"

Pintu ruang latihan menjeblak dengan kasar. Langkah kaki berat memasuki ruangan itu, tapi Sungmin tidak merasa perlu menoleh untuk melihat siapa yang datang.

"Kenapa kau membatalkan ujian kita? !" Kyuhyun berseru marah. Tak habis pikir kenapa orang seteliti Sungmin bisa mengambil keputusan bodoh secara sepihak tanpa sepengetahuannya.

"Kenapa kau tidak meminta pendapatku? Kenapa kau mengambil tindakan sendiri? !" Kyuhyun menarik tangan Sungmin kasar, yang ditepis oleh pemuda bertipe darah A itu dengan kasar pula.

"Seingatku aku sudah menyuruhmu untuk tidak pernah datang latihan lagi." Datar. Dingin. Khas seorang Lee Sungmin. Ia bahkan tak sudi menatap wajah orang yang diajaknya bicara.

"Berhentilah bersikap egois! Kenapa kau jadi seperti ini? ! "Kyuhyun berteriak keras, membuat Sungmin hampir berjengit.

"Kenapa kau selalu membuat segalanya semakin sulit? Kenapa kau tidak juga berubah?" Berdentum-dentum pertanyaan Kyuhyun menyerang pertahanannya. Ditatapnya wajah pemuda yang lebih muda itu. Wajah yang dulu sangat ia cintai. Wajah yang dulu selalu terbayang sebelum tidur. Wajah yang kini menghantui mimpi-mimpi buruknya….

Sungmin mendesis marah, "Pergilah selagi kau bisa…"

"Aku tidak akan pergi!" Kyuhyun berseru penuh percaya diri. Bola mata hitamnya tajam menatap Sungmin,

"sejak aku menjejakkan kakiku disini, aku telah berjanji untuk membawamu pulang," Ia menarik napasnya dalam kesakitan yang samar, "Pulang bersamaku, dan kenangan kita tentang hujan."

Pada akhirnya.

Kejujuran yang menyakitkan itu terungkap. Penyesalan yang terbalut dalam kata-kata cinta, yang diutarakan dari sudut hati terdalam penuh luka dan sakit hati.

Tapi hati manusia bukan sesuatu yang bisa dipermainkan begitu saja.

Sungmin tertawa. Manis sekali.

"Berhentilah bersikap konyol, Cho Kyuhyun-sshi." Ia mendengus pelan, tak ada lagi minat meneruskan percakapan itu. Dengan pandangan merendahkan ia melewati Kyuhyun dan hendak keluar dari ruangan itu. Ruangan yang sama dengan orang yang paling dibencinya di atas muka bumi ini. Ruangan yang telah menyiksa batinnya selama beberapa minggu ini. Disinilah mereka bertemu setelah beberapa tahun menyakitkan berlalu. Dan disini pula, semuanya akan berakhir. Sebelum semuanya semakin terlalu jauh, saat ini juga.

"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan, Minnie-ah." Kyuhyun berjalan tertatih dalam luka yang samar-samar.

"Berhentilah menghukum orang lain…" Bahunya bergetar menahan emosi. Tapi ia tidak menangis.

"Berhentilah menyalahkan orang lain atas kemalangan yang menimpamu... Aku tidak pernah berselingkuh dengan Hankyung hyung…"

Pertahanan itu runtuh. Mata Sungmin berkaca-kaca. Hatinya terpilin oleh jutaan rasa sakit yang mendera begitu cepat, membuatnya merasa begitu membenci pemuda yang ia belakangi itu di atas segalanya. Tapi Sungmin tidak menangis. Sungmin tidak pernah bisa menangis lagi sekarang. Hatinya sudah menjadi batu.

"Jangan berbicara omong kosong."

Dan berlalu meninggalkan Kyuhyun yang terdiam menahan pilu.

Lee Sungmin berjalan tergesa-gesa dari ruangan itu, melewati pintu utama Divisi Piano yang terbuka lebar. Seperti seorang profesional dilupakannya kejadian yang menguras emosi tadi. Berjalan penuh elegansi dan arogansi di saat yang bersamaan, seperti biasanya. Matanya melirik pada sekumpulan orang yang begitu sibuk menata panggung di tengah lapangan atas Akademi. Dilihatnya seorang senior dari Divisi Vokal yang sangat dikenalnya tersenyum ke arahnya.

"Kau lihat?" Pemuda itu berkata dengan sedikit keras mengingat jarak antara mereka cukup jauh. Sungmin meliriknya tanpa minat. Pemuda tadi pun akhirnya berlari kecil ke arahnya.

"Hmm… Pemandangan yang langka bukan?" tanya Yesung, pemuda yang sedari tadi mengusik ketidak pedulian Sungmin. Sungmin hanya mengangkat bahunya.

"Tidakkah kau lihat? Panggung-panggung terbuka itu akan dibangun! Gedung-gedung pertunjukan akan digunakan dalam waktu yang lama! PESTA BESAR AKAN SEGERA DIMULAI, WOHOOOO!" Yesung mengepalkan tinjunya ke atas, ia tampak bersemangat sekali.

"Pesta?" tanya Sungmin pendek hanya untuk sedikit menghargai orang yang sedang mengajaknya bicara. Ia bukan tipe orang yang suka berpesta atau hura-hura.

"FESTIVAL ITU! Ya ampun! Jangan bilang kau belum tahu?" Yesung berseru tepat dekat telinganya, membuatnya harus menyingkir beberapa senti.

Sungmin menggeleng, "Tidak."

Senior dari divisi vokal itu menatapnya tak percaya.

"Aisshh… Kenapa kau kuper sekali sih?" cela Yesung spontan, membuat pemuda bermarga Lee itu melotot.

"Festival Musik tahunan Korea akan diselenggarakan disini! Di Akademi kita!" Yesung mengatakannya dengan penuh semangat, bola matanya bersinar-sinar.

"Oh." Hanya reaksi kecil macam itu saja yang diberikan Sungmin, membuat Yesung kesal.

"Dan tahu tidak? Aku Ketua Panitia dari pihak Akademi!" tambah pemuda itu menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.

"Oh."

"Aisshh…! Kenapa sih Ryeowookie bisa menyukai pemuda tanpa ekspresi sepertimu?" pemuda yang lebih tua itu berdecak-decak kesal. Sungmin tak berminat menanggapinya, hanya kemudian kata-kata itu tercetus,

"Oh, jadi ini demi ini kau menunda ujianmu? Mengurusi panggung musik murahan? Menggelikan." Sungmin tersenyum sinis, hal yang sudah biasa ia lakukan pada orang lain.

Yesung mendengus, "Urusi saja urusanmu dengan bocah yang sama sekali tidak bisa bermain piano itu."

Keheningan mengerikan tercipta sebelum Sungmin menatapnya tajam, "Bagaimana kau tahu?"

Dengan tatapan mencela Yesung menjawab, "Bagaimana aku bisa tahu?" Ia memandang ke penjuru lapangan dimana gedung dari semua divisi dapat terlihat jelas, lalu tersenyum sinis.

"Pastikan saja kau tidak melupakan kekasihmu sendiri hanya untuk mengajari bocah itu terus."

Telak, Yesung telah berhasil menyinggung topik sensitif untuk Sungmin. Ia tertawa penuh kemenangan.

XxXxXxX

"Dan kau bisa memakai sarung tangan hangat saat cuaca sedang tidak baik, itu akan lebih memudahkan proses penyembuhan."

Hankyung melirik pemuda mungil di sampingnya, tiga puluh menit lebih ia memberikan saran-saran bagi pemuda itu. Diambilnya biola yang sedari tadi digeletakkannya di meja.

"Nah, sekarang bolehkah aku mendengarkan musikmu?" pinta Hankyung dengan senyum manis di wajahnya. Ryeowook tidak langsung menjawab. Diangkatnya wajahnya dengan sedikit tidak yakin.

"Apa penyakit ini bisa sembuh?" tanyanya hati-hati.

Hankyung tersenyum pelan, "Sindrom," koreksinya, "Tidak ada jaminan untuk itu. Tapi kau bisa melakukan tindakan-tindakan pencegahan dan pengobatan bila gejala itu datang."

"Kau bilang kau pernah mengalaminya, dan sekarang kau sembuh."

"Aku terkena sindrom itu saat masih semester dua," Hankyung berhenti perlahan.

"Sekarang aku sudah berada pada tahun kelimaku belajar, sudah dua tahun penyakit itu tak menghampiriku."

Ryeowook masih menatapnya ragu, tapi ia tidak menolak.

"Hanya satu lagu pendek saja," ujarnya pelan. Hankyung menampakkan ekspresi kecewa yang sungguh-sungguh, tapi tetap saja diulurkannya biola itu ke tangan Ryeowook. Ryeowook menerimanya dengan hati-hati. Dielusnya senar biola dengan penuh kasih sayang. Ia memejamkan matanya pelan, menumpu biola dengan dagunya, dan musik indah pun dimulai…

XxXxXxX

South Korean Music Festival. Festival Musik Korea Selatan terbesar yang diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat penikmat musik, terutama musik klasik. Event yang diadakan dua tahun sekali itu menarik ribuan pecinta musik berstandar tinggi, terutama civitas akademia musik, dan untuk beberapa tahun terakhir telah menjadi event bergengsi di kalangan musisi Korea Selatan. Kali ini, mengambil tema 'Music for Your Soul', festival high class ini akan diselenggarakan di Akademi Musik SM.

Ya, salah satu akademi paling top dan berstandar tinggi, tidak jauh dengan agency-nya yang juga memiliki nama. Festival yang akan diadakan lima hari berturut-turut akan menjadi ajang unjuk gigi bagi musisi dari segala genre musik dan segala kalangan, baik pro ataupun amatiran, dari musik klasik hingga modern k-pop. Di festival inilah semua penikmat musik akan berkumpul, berkompetisi, dan bersenang-senang.

Yesung, seorang senior dari Divisi Vokal yang didaulat sebagai ketua panitia dalam salah satu sub event dalam festival ini sedang mengerutkan keningnya. Tangannya mencoret-coret beberapa daftar peralatan yang harus disiapkan dalam kegiatan, dan beberapa nama yang akan membantunya kelak. Yesung akan ikut serta sebagai tim sukses festival, sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh sembarang orang, mengingat kedudukannya yang masih berstatus pelajar. Wajar saja ia merasa bangga. Tapi kebanggaan itu harus disimpannya sampai festival itu sukses, kali ini ia harus berkonsentrasi pada sub event yang akan dihandle-nya secara penuh, sub event dengan acara 'Amateur Musician Competition'. Sebuah kompetisi yang terselenggara bagi musisi yang masih pemula. Ia yakin sebagian besar dari peserta kompetisi yang akan mendaftar adalah murid-murid yang masih belajar di akademi musik ataupun pemain musik lepas, mungkin akan didominasi oleh murid-murid Akademi Musik SM mengingat tempat dimana kompetisi itu diselenggarakan. Bukan acara yang main-main, karena mungkin jumlah peserta akan membludak dibanding dua tahun lalu. Yesung tersenyum kecil. Kali ini, acaranya harus benar-benar berhasil.

"Kau bekerja keras ya, Sunbae."

Yesung berjengit kaget. Ia menoleh, dilihatnya Zhoumi yang sedang tersenyum kecil.

"Mengagetkan saja," Yesung bersungut-sungut. Zhoumi terkekeh. Ia ikut duduk di samping Yesung, memperhatikan kesibukannya.

"Kyuhyun belum pulang." Zhoumi mendesah pelan. Dilihatnya jarum jam di ruangan yang masih terang itu sudah menunjukkan jam delapan malam. Tidak mungkin Kyuhyun masih berlatih selama itu. Pintu gerbang akademi sudah ditutup saat jam tujuh malam, Kyuhyun pasti sudah tidak berada disana. Dan diluar sedang hujan deras, membuat Zhoumi sedikit cemas.

"Sunbae sudah makan?" tanya Zhoumi lagi, yang hanya dijawab dengan gelengan samar Yesung. Ia masih berkutat dengan pekerjaannya.

"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan makan malam." Zhoumi beranjak dari duduknya setelah menaruh tasnya ke atas meja. Dilepaskannya jas resmi akademi yang sedari tadi pagi dipakainya. Hari itu setelah mengikuti salah satu ujian praktek untuk murid kelas tiga di Divisi Vokal ia pergi bersama Henry seharian. Hal yang menyenangkan, cukup membuat pipinya memerah hanya karena mengingatnya.

"Tolong siapkan juga untuk Kyuhyun," pinta Yesung pelan. Zhoumi menoleh tidak yakin.

"Siapkan juga untuk Kyuhyun," ulang Yesung, masih tidak beranjak dari kesibukannya.

"Oh. Kalian sudah berbaikan, ya?" celetuk Zhoumi berusaha terdengar tidak begitu tertarik, walau sebenarnya cukup penasaran antara masalah dua orang teman asramanya itu. Dilangkahkannya kakinya ke dapur, membuka lemari makanan untuk melihat-lihat apa saja yang bisa dimasak. Hanya tinggal beberapa cup ramen instan disana.

"Apa kami terlihat seperti dua orang yang berseteru?" tanya Yesung acuh.

"Well…" Zhoumi membuka-buka persediaan beras yang ada di dalam toples besar, "pemilihan kata-katamu berlebihan lho, Sunbae. Tapi dari kacamata seorang yang innocent sepertiku, kalian memang seperti ada masalah," jawab Zhoumi cuek. Matanya bersinar menemukan beberapa kimchi yang masih tersedia di lemari itu, "Kubuatkan nasi goreng kimchi saja, ya!"

"Innocent?"Yesung mendengus. Ia memutar bola matanya.

"Oh ya, bagaimana konsep festival yang akan datang?" tanya Zhoumi lagi sedikit lebih keras. Ia menggulung lengan bajunya dan mulai menyalakan kompor. Disiapkannya bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk membuat nasi goreng kimchi dengan cekatan. Suara minyak yang beradu dengan dentingan pisau mulai terdengar.

"Masih rahasia," jawab Yesung jahil. "Tapi karena kau dongsaeng-ku yang paling menyebalkan, akan kuberitahu." ia sedikit meninggikan suaranya karena kegaduhan yang dibuat Zhoumi di dapur.

"Akan ada kompetisi untuk orang-orang berbakat seperti kita!" teriaknya senang. "Dan bagian terbaiknya, itulah acara yang sedang kutangani sekarang!"

"Sungguh? Hebat sekali, sunbae!" Pemuda itu berseru turut semangat. Mungkin itulah karisma tersendiri Yesung yang tidak bisa dilihat orang lain. Ketika ia bersemangat, semangat itu pun menular ke orang di sekitarnya. Benar-benar orang yang cocok dengan kepribadian Zhoumi yang ceria dan penuh warna hidup. Tak heran keduanya sudah menjadi teman sekamar selama dua tahun.

Suara pintu yang terbuka menghentikan percakapan mereka.

"Aku pulang."

Kyuhyun masuk dengan lesu. Pakaiannya tampak basah kuyup. Mukanya pucat pasi.

"Kyuhyun?" Yesung segera berdiri menghampiri adik tingkatnya itu.

"Kenapa bisa kehujanan?" ia meninggikan suaranya. Cemas. "Zhoumi tolong ambilkan handuk kering untuk Kyuhyun!" teriaknya.

"Orang yang sedang memasak tidak boleh diganggu!" teriak Zhoumi tak kalah keras dari dapur yang hanya berjarak beberapa meter itu. Tapi bagaimanapun didengarnya Zhoumi menghentikan kegiatan memasaknya sebentar.

"Ceritanya panjang…" jawab Kyuhyun lemah. Ditaruhnya tas hitamnya yang telah basah ke lantai kayu yang dingin. Ia tampak kelelahan.

"Kau tampak sakit, sebaiknya kau beristirahat," saran Yesung melihat keadaan adik tingkatnya yang menyedihkan itu. "Makan malamlah dulu," tambahnya ketika dilihatnya Kyuhyun berjalan tersaruk-saruk menuju kamarnya.

Zhoumi sudah datang untuk memberikan handuk kering untuknya ketika dilihatnya magnae di antara mereka itu kehilangan keseimbangan.

"Ya Tuhan! Kyuhyun, hidungmu berdarah!"

XxXxXxX

Sungmin membuka pintu apartment-nya yang terkunci password. Begitu masuk segera diletakkannya sepatu dan tas jinjingnya ke rak, lalu melepas kemeja yang ia pakai dari tadi pagi. Hari itu sudah malam, ia melirik jam tangan putih gadingnya-jam tangan yang sewarna dengan warna favorit Ryeowook-menunjukkan pukul delapan malam. Ia hanya ingin mandi air hangat malam itu, melepaskan kepenatan yang ada.

"Sungmin-ah…"

Matanya menoleh pada sumber suara, pada seorang pemuda mungil yang tadi tadi duduk di sofa kesayangannya.

"Maaf aku masuk apartment-mu sembarangan, tidak kusangka passwordmu masih sama…" Ryeowook menunduk. Ia berdiri mendekati Sungmin.

"Jangan meminta maaf," sergah Sungmin tidak suka. "Kau ini kan pacarku. Tentu saja kau bebas keluar masuk apartment-ku sesukamu." Ia merengkuh pemuda yang lebih pendek itu lembut, mengelus pipinya pelan. Hal yang serta merta membuat Ryeowook bersemu merah dan tampak semakin manis. Sungmin tertawa.

"Aku tidak tahu kalau passwordmu masih memakai tanggal lahirku," aku Ryeowook, berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia memiringkan kepalanya, menunggu jawaban.

"Apa ada alasan bagiku untuk menggantinya?" tanya Sungmin retoris, sekaligus menggoda kekasihnya. Ryeowook menggeleng tersipu. Lagi-lagi Sungmin tertawa pelan.

"Kau sudah makan?" tanya Ryeowook, merenggangkan pelukan diantara mereka.

"Sudah tadi saat akan pulang kemari. Tunggu sebentar," Sungmin berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Hanya beberapa menit ia sudah kembali dengan wajah yang sedikit lebih segar dan rambut yang telah basah, tangan kanannya membawa sepotong handuk kecil.

"Kau sendiri?" tanya Sungmin mengajak Ryeowook duduk di sofa kecil di kamarnya. Dikeringkannya rambutnya yang berantakan dengan handuk itu.

Ryeowook mengangguk kecil.

"Tadi aku bertemu seseorang," katanya pelan. Sungmin menaikkan alisnya.

"Seorang senior dari divisi yang sama denganku. Han Seonsaengnim yang menyuruhnya menemuiku."

"Lalu?"

Ryeowook menyandarkan tubuhnya ke dada Sungmin. Saling menautkan jari mereka, hal yang sudah menjadi kebiasaan mereka ketika berduaan.

"Ia bilang…" Ryeowook berujar lirih, "ia juga pernah mengalami penyakit yang sama sepertiku…" Ada jeda sebelum ia melanjutkan, "Dan sekarang ia sembuh."

Sungmin tidak langsung menjawab. Ia tampak terpekur dalam pemikirannya sendiri.

"Dia bilang dia akan membantuku sembuh," kata Ryeowook lagi. Dan–apa itu tadi? Ryeowook berkata dengan ceria, hal yang jarang dilakukannya kecuali bersama orang yang benar-benar dekat dengannya. Dan orang yang benar-benar dekat dengan Ryeowook adalah Sungmin seorang.

"Apa dia dokter?" tanya Sungmin sarkastis.

Ryeowook menggeleng. "Setidaknya ia pernah mengalami apa yang kualami. Ia bisa mengerti." Ia menutup matanya pelan.

Sungmin mendecih. "Aku tidak menyukainya."

"Kenapa?" Pemuda yang lebih kecil itu terbangun, raut wajahnya sedikit tidak setuju.

"Dia seperti penggemar-penggemarmu yang lain yang hanya ingin mendekatimu," Sungmin mendesis lirih. Ryeowook menatap kekasihnya dengan pandangan bingung, kemudian terkekeh kecil.

"Dia tidak seperti itu." Tawanya yang renyah bagaikan melodi di telinga Sungmin. Tawa yang tidak terlalu keras atau berlebihan. Tawa sopan dan berkelas, benar-benar sesuai dengan kepribadiannya.

"Dia hanya ingin membantu," tambah Ryeowook lagi.

"Entahlah, hanya insting seorang kekasih."

Ryeowook memutuskan untuk tidak melanjutkan topik yang tidak disukai Sungmin itu. Ia berceletuk pelan,

"Aku baru saja membeli tiket pembukaan festival untuk dua hari lagi. Kau mau datang?"

"Festival?"

Ryeowook mengangguk. Diambilkannya dua carik tiket yang sedari tadi terselip di dompet lalu menunjukkan pada Sungmin.

"Sebuah orchestra dari luar negeri akan datang, itu pasti akan menjadi pembukaan yang bagus. Kau mau datang?" tanyanya hati-hati.

Sungmin tersenyum pelan. "Tentu saja. Aku pasti datang."

XxXxXxX

"Badanmu panas."

Hankyung mengeluarkan termometer dari mulut Kyuhyun yang masih tergeletak lemah di tempat tidurnya. Pemuda yang lebih tua itu berdecak-decak ketika melihat angka yang tertera di termometer.

"Tiga puluh delapan koma lima derajat. Pantas saja kau pingsan semalam." Dibantunya Kyuhyun meraih gelas di meja pinggir tempat tidur dan meminumkannya pelan, Kyuhyun bergumam kecil mengucapkan terimakasih.

"Apa masih pusing?" tanya Hankyung lagi. Kyuhyun menggeleng lemas.

"Maaf sudah merepotkan," ujarnya lirih dengan mata terpejam. Kepalanya entah kenapa masih pening meski sudah meminum obat setengah jam yang lalu.

"Simpan maafmu untuk nanti, aku benar-benar kaget saat Zhoumi meneleponku kalau kau pingsan dan sakit parah." Hankyung berkata serius. Dibereskannya botol-botol obat di atas meja serta mangkuk bubur sisa Kyuhyun sarapan tadi yang baru dimakan beberapa sendok saja.

"Jangan salahkan reaksi berlebihan Zhoumi. Kalau jadi dia mungkin reaksiku bisa lebih parah lagi," tambah Hankyung ketika didengarnya Kyuhyun mengerang protes.

"Apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Hankyung lagi. Sorot matanya terlihat masih khawatir.

Kyuhyun terdiam. Perlahan ingatannya tentang peristiwa semalam pun berkelebat. Bayangan dirinya yang berteriak-teriak marah pada Sungmin karena telah meminta pembatalan ujian, Sungmin yang melengos tak peduli saat ia membeberkan perasaannya, dan dirinya yang menunggu Sungmin hingga malam menyergap. Tapi Sungmin tidak kembali-tentu saja. Malam itu hujan deras dan Kyuhyun bersyukur ia bisa berjalan di bawah hujan, menangis tanpa suara, tanpa perlu menyembunyikan airmatanya di bawah tetesan hujan.

Hal yang sering dilakukannya ketika merindukan Sungmin begitu hebat ia lakukan sekali lagi semalam.

"Aku hanya kelelahan…" Kyuhyun menjawab lemas.

"Aku tahu. Kau kan selalu pingsan dan mimisan tiap kelelahan sedikit saja," Hankyung berdiri, "makanya aku mencemaskanmu." Ia pergi dari kamar asrama itu sebentar untuk meletakkan mangkuk bubur dan peralatan makan lain ke dapur. Selang beberapa detik pria Cina itu sudah kembali.

"Aku tidak apa-apa, sungguh. Hyung lebih baik pulang dan mengurusi keperluan ujian hyung saja…"

Hankyung memandang Kyuhyun tidak yakin.

"Sungguh," tegas Kyuhyun sekali lagi. "Istirahat sehari saja aku sudah sembuh kok nanti."

Butuh beberapa detik bagi Hankyung untuk menimbang-nimbang sebelum ia memutuskan.

"Baiklah, sebenarnya aku ada latihan dengan pembimbingku satu jam lagi," akunya pelan.

"Kau yakin tidak apa-apa ditinggal? Zhoumi dan teman sekamarmu yang satunya lagi masih belum pulang."

Kyuhyun mengangguk sungguh-sungguh. Sudah cukup sering ia merepotkan pemuda itu. Ia tidak ingin semakin menjadi bebannya lagi.

"Yasudah kalau begitu," Hankyung berdiri sembari mengemasi tasnya. "Istirahatlah. Telpon saja kalau ada apa-apa, oke?"

Sekejap Hankyung sudah hilang dari pandangan. Kyuhyun mendesah pelan. Kamarnya terasa redup dan sempit, apalagi dalam keadaan pusing seperti itu. Dengan susah payah ia mencoba berdiri, dan berjalan menuju ruangan di sebelah kamarnya. Ruang latihan dimana grand piano yang selalu ia mainkan terletak di pojok.

Kyuhyun berjalan tertatih. Pusing di kepalanya sungguh tidak bisa ditolerir. Tapi ia tidak mau beristirahat. Ada hal penting yang harus diselesaikannya dulu. Dengan susah payah ia membuka grand piano itu, membuka halaman partitur dari Sonata for Two Pianos, dan duduk disana.

Dalam sakit ia berlatih.

Ia harus tetap berlatih, karena ujian duetnya kurang dari dua minggu lagi.

Ia harus tetap berlatih dengan keras, untuk memberikan yang terbaik. Untuk membuktikan pada Sungmin bahwa ia masih sebanding dengannya, untuk memperlihatkan bahwa ia benar-benar menyesal. Meskipun Sungmin telah meminta agar ujian tersebut dibatalkan, selama hal buruk itu belum benar-benar terjadi, Kyuhyun akan tetap berusaha mengejarnya.

Karena ia tidak berhak menyakiti Sungmin lebih jauh lagi.

Ia tidak berhak membiarkan Sungmin memendam perasaan bencinya lebih lama lagi.

.

Entah sudah berapa jam Kyuhyun berlatih serius, ketika gerendel pintu asramanya terbuka pelan. Ia berhenti memainkan piano itu untuk melihat siapa yang datang.

"Kyuhyun?" Didengarnya Yesung memanggil namanya. Suara langkah kaki yang tak asing itu menuju ruang dimana ia berada sekarang.

"Sudah kuduga kau akan disini," kepala besar Yesung menyembul perlahan. Dilihatnya pemuda itu membawa sebungkus plastik transparan sedang berisi buah-buahan. Ditaruhnya bungkusan plastik itu di salah satu meja disana.

"Kalau kakak laki-lakimu tahu kau tidak beristirahat dia pasti marah besar." Yesung mendekatinya, memperhatikan partitur yang tadi dimainkan Kyuhyun sebelum ia datang.

"Itu Hankyung hyung, dan dia bukan kakak kandungku. Hanya teman akrab," terang Kyuhyun.

Yesung tak merespon. Matanya masih lekat memperhatikan melodi-melodi Sonata und Fuge dalam partitur tersebut.

"Ini partitur yang cukup susah," ujarnya perlahan. Kyuhyun tak menjawab.

"Kau tidak akan berhenti kan?" Ditatapnya wajah adik tingkatnya yang tampak pucat dan kelelahan itu. Kyuhyun menggeleng dalam diam.

Hanya terasa hening yang menyesakan, keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

"Tolong jangan memintaku berhenti," kata Kyuhyun kemudian. Jemarinya bermain di sepanjang not-not balok piano itu dengan asal-asalan, menghasilkan bunyi yang beragam.

"Karena aku sudah tidak bisa berhenti sampai disini," katanya lagi. Ada jejak ketakutan dalam suaranya yang lemah.

Yesung menelan ludahnya. Dialihkannya pandangan ke tempat lain.

"Aku tidak akan menyuruhmu berhenti," Ia berhenti sejenak ketika dilihatnya Kyuhyun melirik tegang ke arahnya. Sebentuk penyesalan tersirat dalam suaranya,

"Tapi aku juga tidak akan berdiam diri melihatmu merebut Sungmin dari Ryeowookie."

XxXxXxX

Dalam hidup, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus percaya ada satu kekuatan besar yang mendalangi semua hal yang terjadi. Baik adegan-adegan kecil dalam hidup manusia, hingga menuju babak yang lebih besar dan sampai pada ujung penyelesaian, semuanya sudah diatur dengan baik. Manusia hanya berusaha, Tuhan lah yang menentukan. Kita berhak merencanakan, namun takdirlah yang menjadikan segalanya benar-benar nyata. Tapi meski hidup dalam cerita yang sudah terkonsep sedemikian rumit ini, kita juga tidak berhak hanya menunggu dan berharap takdir baik menghampiri.

Konsep tentang kemanusiaan dan kehidupan begitu rumit, dan manusia terlalu sibuk dengan permainan yang sedang diberikan padanya hanya untuk duduk dan merenung. Hidup dalam kecemasan akan akhir yang akan terjadi, hidup dengan menggenggam sebentuk kecil harapan… Begitulah manusia bersikap. Jarang ada yang memperhatikan bagaimana detil-detil adegan itu terangkai bagaikan puzzle, membentuk suatu gambar satu sama lain, gambar yang tidak akan pernah jadi jika salah satu bagian kecil darinya menghilang. Jarang ada yang memperhatikan bagaimana sebuah kejadian kecil dan sepele kadang berpengaruh besar dalam hidupnya. Bagaimana hal yang mereka sebut kebetulan yang beruntun ternyata bukanlah kebetulan, melainkan sebuah takdir yang memang sudah terencana dengan baik.

Dan terkadang, jarang di antara kita yang memperhatikan… Bagaimana wajah-wajah yang dulu asing ternyata menjadi bagian besar dalam penentuan hidup kita, untuk bersama-sama membentuk suatu kisah...

Acara Festival Musik di akademi ternama itu dibuka dengan pesta kembang api yang sangat semarak. Bunga-bunga api di langit malam itu bergemerlap dengan indahnya, warna-warninya menghiasi langit yang hari itu tampak suram. Bunyinya yang ramai berkejaran dengan bunga api lain, menambah keindahan malam itu. Kerlipnya tersimpan indah dalam hati semua orang yang melihatnya, membuat penonton merasa sedih ketika pesta kembang api itu berakhir.

"Kyuhyun! Ayo!" Hankyung menarik Kyuhyun ketika dilihatnya bocah itu masih ternganga memandangi langit malam yang sudah kosong, karena cahaya kembang api sudah lenyap.

"Ayo! Nanti kita kehabisan tempat duduk!" serunya lagi. Diseretnya Kyuhyun menuju gedung pertunjukan utama dari akademi itu, tempat dimana orchestra pembukaan dari acara bergengsi itu akan segera tampil.

Kyuhyun menangguk. Dilihatnya suasana malam itu benar-benar berbeda dari biasanya. Orang-orang yang berlalu lalang, puluhan stand-stand musik yang menjual alat-alat ataupun buku-buku musik, stand makanan dan minuman yang hampir tersebar sepanjang mata memandang, serta tawa dan celoteh riang dari tiap orang yang menghadiri acara itu. Menakjubkan, pikirnya. Bagaimana musik dapat menyatukan setiap orang, memberi alasan tersendiri bagi semua orang untuk bahagia.

Hankyung menggenggam tiket masuk pertunjukan di tangan, setengah berlari menuju gedung pertunjukan utama. Lima belas menit lagi acara mulai, ia tidak boleh ketinggalan moment ini sedikitpun. Apalagi orchestra yang akan tampil adalah Maxum Orchestra dari Rusia, salah satu dari orchestra favoritnya.

"Apa itu Zhoumi?" Kyuhyun menunjuk pada seorang pemuda yang berjalan berdampingan dengan satu pemuda manis lain menuju gedung pertunjukan utama. Ia tampak keren dalam balutan jas hitamnya itu.

"Dan Henry, agaknya," timpal Hankyung pelan. Disusulnya pasangan baru itu.

"Ah, Gege! Kyuhyun!" Zhoumi berseru senang melihat kedatangan Hankyung dan Kyuhyun. Tapi tatapan Kyuhyun tak tertuju kesana, melainkan pada orang di belakangnya. Seorang pemuda dengan jas hitam yang tampak serasi dengan kulit putihnya yang alami, dan pemuda lain yang lebih pendek serta manis, dua orang pasangan yang serasi...

Dua pemuda itu berjalan mendekati kerumunan mereka tanpa memperhatikan sekitar, hanya mempedulikan satu sama lain. Dua pemuda yang tampak begitu serasi dan elegan hingga membuat hati Kyuhyun terasa sakit. Dua pemuda kebanggaan Akademi...

"Ryeowook-sshi?"

Adalah Hankyung yang pertama tersadar melihat Kyuhyun yang terpana. Pemuda yang dipanggil sebagai Ryeowook itu menoleh,

"Sunbae?"

Kyuhyun tak sanggup berkata-kata. Dari ujung matanya dilihatnya pemuda yang datang bersama Ryeowook melirik kerumunan mereka lalu menggumamkan sesuatu yang tak ia dengar. Ryeowook mengajak pemuda itu mendekati mereka.

"Aku tidak menyangka kita bertemu disini." Pemuda bernama Ryeowook itu tersenyum, lalu menoleh pada pemuda yang tadi bersamanya.

"Ini sunbae yang kuceritakan padamu kemarin, namanya Hankyung," kata Ryeowook pada kekasihnya, Sungmin.

Ya, mereka adalah Sungmin dan Ryeowook.

Raut muka Sungmin tidak dapat ditebak, tapi siapapun bisa melihat ia tidak begitu menyukai suasana sekarang.

"Sebaiknya kita masuk, sebentar lagi pertunjukan dimulai." Ia menggandeng Ryeowook ketika tiba-tiba Zhoumi berceletuk.

"Hei Kyuhyun, mana sopan santunmu? Ini sunbae yang akan melakukan duet piano denganmu kan?"

Tubuh Kyuhyun menegang. Bodoh! Kenapa ia tidak bisa berkata sedikitpun sekarang? Ada sesuatu yang aneh melihat Sungmin begitu tampak cocok dengan Ryeowook, ada kecemburuan dalam hatinya...

Tunggu dulu, cemburu?

"Duet piano?" Ryeowook menaikkan alis. Niatnya untuk mengakhiri pembicaraan itu terhenti sesaat. Diliriknya pemuda yang tadi dimaksud oleh Zhoumi itu. Kyuhyun masih membatu menatap dua sejoli itu.

"Kau dan Sungmin?" tanyanya pelan. Tidak ada nada mencurigakan dalam suaranya, hanya sebuah pertanyaan formal. Ryeowook menoleh pada Sungmin, meminta penjelasan.

"Kenapa tidak pernah cerita?" tanya Ryeowook pada kekasihnya itu.

"Tidak ada yang perlu diceritakan," sahut Sungmin dingin. Ia tidak memandang Kyuhyun sedikitpun.

Ryeowook tidak membuka suara, ditatapnya Kyuhyun sekali lagi. Lalu menoleh pada Hankyung. Hankyung refleks memeluk punggung Kyuhyun, ia tahu apa yang sedang pemuda itu rasakan sekarang. Sedikit ingin memberi Kyuhyun semangat ia berkata senang,

"Kebetulan sekali ya? Kau dan aku berencana menjadi teman duet, dan orang di sampingmu ternyata teman duet orang di sampingku sekarang."

Sungmin menaikkan alisnya.

"Aku dan Hankyung-sshi berencana akan melakukan duet biola di kompetisi luar akademi ketika dia sudah selesai ujian nanti," terang Ryeowook sebelum Sungmin bertanya.

"Kebetulan sekali..." lanjutnya bergumam pelan.

"Tidak ada hal yang bernama kebetulan di dunia ini."

Semua menoleh padanya ketika Kyuhyun membuka suara. Pemuda itu menguatkan hatinya melihat genggaman tangan antara Sungmin dan Ryeowook yang begitu mesra, seakan-akan mustahil bagi siapapun untuk memisahkan.

"Oh ya?" Ryeowook memandangnya penasaran, "Jadi ini, anak yang membuatmu kewalahan, Sungmin-ah?"

Untuk sejenak Kyuhyun bisa melihat mata cerah semanis madu milik Ryeowook itu berkilat tidak suka padanya. Entah kenapa.

Sungmin tak menggubris, digenggamnya lebih erat jemari Ryeowook. "Ayo masuk," ia berbisik pelan.

"Tidak ada yang namanya kebetulan, yang ada hanya takdir yang telah disusun untuk manusia seperti kita." Entah keberanian apa yang membuat Kyuhyun berkata sangat yakin. Zhoumi bersumpah ia dapat melihat raut menantang di mata Kyuhyun.

"Jadi menurutmu semua ini takdir, begitu?" tanya Ryeowook tenang. Ketenangannya tidak bisa goyah meskipun ada rasa tidak suka timbul di permukaan hatinya. Tapi Ryeowook bukanlah Kyuhyun yang emosinya dapat dibaca seperti buku yang terbuka, Ryeowook selalu bisa menutupinya dengan baik.

"Err.. Ano.. Kurasa pertunjukan sudah akan dimulai..." itu suara Henry yang terdengar lirih, memecah ketegangan yang tersirat diantara Kyuhyun dan Ryeowook.

"Henry benar, ayo kita semua masuk," ajak Zhoumi. Ia menggandeng kekasihnya itu menuju pintu utama gedung pertunjukan. Hankyung menghela nafas lega.

"Ayo," ajaknya pada Kyuhyun yang masih tak bergeming. Dari sudut matanya dilihatnya Sungmin dan Ryeowook yang juga telah beranjak menuju pintu utama.

"Kyuhyun?" ia menepuk bahu dongsaeng-nya itu pelan, Kyuhyun masih tak bergeming, menatap hampa ke arah lain.

"Kyuhyun! Ayo!" serunya kesal. Kyuhyun masih membatu. Matanya terasa panas, bahunya bergetar. Karena penasaran Hankyung pun ikut menoleh.

Tiga meter di depan mereka, dilihatnya Sungmin mencium bibir Ryeowook dengan mesra.

TBC~

Author's Note:

Hellooo saya datang lagi dengan update-an yang terlambat ini~~ Kekeke #ditabok

Maaf yah telat, habis tau lah, kesibukan mahasiswa kayak gimana (cielah)

Mungkin untuk seterusnya saya akan berusaha update seminggu sekali, tapi gak tau juga bisa maju apa malah mundur .

Yah, semoga saja kalian semua masih sudi membaca cerita ini sampai akhir. Karena mulai dari sini permasalahan akan semakin kompleks. Tokoh-tokoh akan mulai sedikit 'berbeda dari kebiasaan', sebagai bentuk pertahanan diri. Mereka akan terlena oleh emosi dan keadaan masing masing. Tokoh yang biasanya tenang akan mulai tidak berpikir jernih dan berbuat kesalahan. OOC-ness akan semakin sering terjadi, yang disesuaikan dengan perkembangan emosi sang tokoh. Dan takdir pun mulai membuktikan keberadaannya…

Tapi sebelumnya, review dulu?