Chapter 8: A Lonely Song

Manusia adalah makhluk yang kompleks. Gelak tawa dan senyuman manis yang terpasang di wajah belum tentu menandakan hati yang sungguh-sungguh bahagia. Bisa jadi senyuman yang ada hanyalah manifestasi dari isak hati yang sengaja ditutupi. Keramaian dan hiruk pikuk bisa jadi adalah dunia yang paling sepi, dunia yang paling bisu bagi seseorang di luar sana. Ambisi yang menggebu-gebu sering kali tak mau memperlihatkan keletihan luar biasa yang terus saja disembunyikan. Denting-denting piano yang merdu yang ceria bisa jadi hanya refleksi hati yang suram dan tenggelam dalam kesunyian menakutkan karena telah hilangnya harapan hidup.

Ia masih muda saat itu. Ketika dengan labilnya ia sering mengatakan ia membenci tetes-tetes hujan saat mengenai tubuhnya. Ia masih sangat muda, 16 tahun, saat untuk pertama kalinya ia merasakan cinta.

"Hyung! Kesini!"

Lee Sungmin merengut. Dilihatnya Kyuhyun yang sedang tertawa dengan riangnya karena hujan turun. Pemuda itu sudah mencopot sepatunya dari tadi, dan sekarang sedang berputar-putar konyol di bawah derasnya hujan yang turun tepat saat mereka pulang sekolah.

"Hyung, ayo!" Kyuhyun tersenyum lebar merentangkan tangannya, mengajak Sungmin ikut bergabung.

"Tidak mau! Dingin!" balas pemuda manis itu dengan kesal. Ia lebih memilih berteduh di halte bus daripada mengikuti perbuatan Kyuhyun yang dianggapnya konyol.

"Kkkk~ Sampai kapan mau takut hujan seperti itu, heh? Airnya hangat kok, coba saja, Hyung!"

Sungmin makin kesal.

"Dasar pembohong!" teriaknya nyaring. "Mana ada air hujan yang hangat, huh?" Melihat Sungmin yang semakin cemberut Kyuhyun malah tertawa-tawa.

"Lagipula," tambah Sungmin lagi, "mana ada orang bodoh yang mencopot sepatunya untuk bermain hujan kalau tahu bajunya juga akan tetap basah heh?" semprotnya. Kyuhyun semakin tergelak.

"Sudah cepat kesini! Nanti kau kedinginan, Kyuhyun! Aku tidak mau tanggung jawab kalau kau terkena flu!" Meski tampak marah-marah wajahnya tetap terlihat khawatir.

Kyuhyun semakin gembira melihat Sungmin yang selalu uring-uringan kalau hujan seperti ini. Dihampirinya pemuda manis itu.

"Hyung cemen ah, begini saja takut." Ia tertawa geli.

Sungmin memukul lengan Kyuhyun dengan tasnya.

"Dasar menyebalkan!" Bibir imutnya merengut, membuatnya tampak semakin manis di mata Kyuhyun.

"Aku cuma bukan orang bodoh yang mau-maunya mengumpankan diri pada musim dingin seperti ini, Kyu!" Dijitaknya kepala Kyuhyun dengan kesal.

"Aw!" Kyuhyun (pura-pura) mengaduh kesakitan, "jangan jitak-jitak dong, Hyung! Nanti kalau otakku yang luar biasa jenius ini bermasalah kau mau tanggung jawab heh?"

Sungmin menjitaknya makin keras, "Dasar! Sejak kapan kata jenius jadi bagian dari dirimu heh?"

Kyuhyun berhenti tertawa. Ia tersenyum tulus.

"Sejak kau menjadi milikku sepenuhnya, Minnie-ah." Dipeluknya pemuda pirang itu dengan hangat. Membagi jarak diantara mereka. Jarak yang sedari tadi terpisahkan hanya karena cara pandang yang berbeda.

"Hyaa, dingin! " Sungmin mengelak karena tubuh Kyuhyun yang basah karena hujan itu ikut membasahi tubuhnya. Ia benci hujan. Ia benci dingin. Ia benci kelembaban, benci ketika tetes-tetes air langit itu membuatnya basah dan sakit karenanya. Tapi Kyuhyun malah memeluknya semakin erat.

"Kyuhyun..."

Sensasi aneh menguasai tubuh Sungmin saat pemuda itu mencium keningnya dengan lembut. Rasanya ada bagian dari tubuhnya yang meledak dan bersorak gembira. Pipinya memerah parah. Entah kenapa, saat itu ia merasa hujan tidak seburuk yang ia pikirkan.

"Saranghae, Kyuhyun-ah..." bisiknya lirih. Kyuhyun tersenyum hangat.

"Nado saranghae, Minnie-ah."

Lee Sungmin terbangun dari tidurnya ketika gumuruh guntur di luar menggetarkan kaca apartment-nya. Wajahnya terlihat samar dalam kamar yang gelap itu. Hanya ada nyala lampu redup di sudut ruangan, dan di luar sedang hujan deras. Kilat menyambar-nyambar, membuatnya terpaksa membuka mata sepenuhnya.

Mimpi itu lagi.

Kenangan menyakitkan itu mendatanginya lagi.

Lee Sungmin termenung. Ia tidak pernah lupa sedikitpun, dan ingatannya bersama pemuda di masa lalu itu tidak pernah absen mendatangi malam-malamnya walau hanya sekali. Dalam kegelapan ia menggigit bibirnya, hal yang sering dilakukannya jika mengalami emosi yang berat. Dulu pemuda itu selalu melarangnya melakukan itu karena takut bibirnya akan berdarah. Pemuda itu yang selalu berusaha menjaganya terhindar dari rasa sakit yang dulu ditakutinya.

Tapi justru pemuda itu pulalah orang pertama yang telah menyakitinya begitu dalam...

Kemarahan merasuki hatinya. Rasa sakit yang bertumpuk-tumpuk selama bertahun-tahun, rasa sakit yang tak pernah bisa dibaginya dengan siapapun karena dia memang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Rasa sakit yang rutin membuatnya ingin mati saja hanya karena mengingatnya. Rasa sakit yang telah membuatnya bertahan hidup hingga sejauh ini.

Pemuda itu telah membuangnya... Menjatuhkannya ketika ia benar-benar merasa berada di titik kebahagiaan tertinggi. Membuatnya ingin memeluk dan membunuhnya di saat yang bersamaan. Membuatnya tidak akan bisa sama lagi seperti dulu...

Matanya menatap nanar pada jendela bening di mana air langit itu masih mengguyur kota dengan deras di luar sana. Hujan. Ia adalah pemuda bodoh dulu, saat mengatakan betapa ia sangat membenci hujan yang turun dan membuatnya sakit. Tapi itu sudah lima tahun yang lalu, saat ia belum mengerti apa-apa tentang kehidupan yang sesungguhnya.

Tapi sekarang semuanya berubah. Tidak ada lagi keluhan jika air hujan itu membasahi tubuhnya, membuatnya kedinginan dan mengacaukan apa pun yang telah ia rencanakan. Tidak ada lagi Sungmin yang manja dan lemah hanya karena guyuran hujan.

Sungmin sudah tidak membenci hujan sekarang.

Karena ia memang sudah tidak peduli lagi pada apapun.

XxXxXxX

Sepuluh hari lagi menjelang ujian.

Beberapa sunbae dari divisi piano yang akan menempuh prasyarat ujian sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Semua benar-benar berusaha menjadi pasangan duet yang terbaik untuk memperoleh skor tertinggi. Beberapa malah berusaha menampilkan duet dari komposisi dengan tingkat kesulitan yang tinggi untuk mendapatkan nilai lebih.

"Maaf tapi bukan kuasaku untuk menangguhkan ujianmu, Sungmin-sshi." Mr. Bard berusaha memberikan pengertian pada Sungmin dan Kyuhyun yang sengaja dipanggilnya ke ruang kantornya pagi itu, untuk memperjelas masalah yang dialami mereka.

"Bukankah setahu saya ujian adalah hak siswa untuk mengikuti atau tidak?" Sungmin tetap berusaha membantah. Kyuhyun yang tidak mengerti tentang segala tata cara pendidikan yang berlangsung di Akademi itu hanya bungkam, tidak berani komentar.

Mr. Bard menghela nafas pelan. "Memang. Tapi kau juga harus bertanggung jawab dengan hak yang sudah kau pilih itu." Ia mengambil rokok di kantung jasnya lalu menyulutnya pelan. Dihembuskannya asap rokok itu, lalu berjalan membelakangi Sungmin.

"Lagipula, aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan segala yang telah kau raih." Ia memandang pada tumpukan tugas-tugas akademiknya yang tertumpuk rapi di atas meja kantornya.

"Memastikan murid tetap berada jalan yang benar dan menegurnya ketika ia salah, bukankah itu tugas sesungguhnya seorang pembimbing?" Ia menghembuskan rokoknya lagi. Lalu menatap Kyuhyun yang masih duduk menunduk menjauhi mereka.

"Cho Kyuhyun-sshi," panggilnya, membuat Kyuhyun mendongak cepat-cepat.

"Ya, Seonsaengnim?" tanyanya takut-takut. Diliriknya Sungmin yang kini menatapnya sengit.

"Tolong bantu Lee Sungmin-sshi menyelesaikan ujiannya, ne?"

Wajah Sungmin membatu mendengar keputusan gurunya. Untuk pertama kalinya Sungmin begitu membenci prosedur di Akademi yang mengangkat namanya itu.

"Tentu saja!" Kyuhyun berseru senang-lebih dari seharusnya. Ia buru-buru menyadari. "Ah, maksudku, tentu saja aku akan berjuang keras." Ia tersenyum lebar, matanya bersinar-sinar.

Mr. Bard terkekeh melihatnya begitu semangat. Ia menoleh pada Sungmin yang masih terlihat tidak suka dengan keputusan ini.

"Baiklah, semua sudah diputuskan." Ia mendekati Sungmin lalu menepuk bahunya pelan sembari tersenyum,

"Berjuanglah, Sungmin-sshi. Mainkan musik dengan sepenuh hati karena kau menyukainya, bukan untuk tujuan lain."

XxXxXxX

Hari pertama festival setelah pembukaan yang luar biasa kemarin malam berlangsung meriah. Seperti yang diharapkan banyak orang, lebih dari sepuluh kompetisi musik dengan genre yang berbeda diadakan, menantang jiwa-jiwa musisi sejati untuk ikut tampil dan menjadi pemenang. Tak terkecuali Kompetisi Biola, yang menjadi salah satu kompetisi favorit di hari pertama ini.

"Kau datang sendiri?" Yesung menyapa Ryeowook yang tampak canggung di depan gedung pertunjukan untuk Kompetisi Biola malam nanti. Pemuda yang lebih muda itu sedikit kaget melihat Yesung mempergokinya disana.

"Sungmin sedang sibuk mempersiapkan ujiannya..." jawabnya pelan. Ia menunduk menatap lantai marmer di lantai tiga gedung pertunjukan utama itu.

Yesung menatap poster besar yang tertempel disana, poster tentang kompetisi biola nanti malam. Ia mengerti. Ryeowook pasti kecewa karena ia tidak bisa berkompetisi. Menonton pertunjukan biola akan membuatnya merasa semakin minder. Ditatapnya Ryeowook perlahan.

"Aku sedang membantu temanku mengurusi panggung vokal di sebelah sana," Ia menunjuk gedung dari divisi vokal yang terletak di paling ujung akademi itu, "kau mau ikut?"

Ryeowook mengerutkan keningnya.

"Aku akan ikut mengisi acara disana bersama temanku," terang Yesung lagi, berharap Ryeowook mau mengangguk.

Pemuda manis itu berfikir sejenak, "Kurasa itu bukan pilihan yang buruk..."

Wajah Yesung berubah cerah. Digandengnya orang yang sudah dianggapnya adik itu, "Ayo! Kita harus cepat-cepat agar tidak ketinggalan."

Yesung tersenyum samar melihat Ryeowook yang juga tersenyum. Setidaknya ada gunanya ia berada di sampingnya untuk sekarang. Meskipun hanya bisa menatapnya dari jauh ketika ia bersama orang lain, setidaknya ia akan terus berada di sampingnya ketika pemuda itu mempunyai masalah. Akan selalu ada untuk menyemangatinya, selalu ada untuk membuatnya tersenyum, menjaganya seperti seorang kakak yang baik. Walaupun tidak ada hal yang bisa dilakukannya selain itu, setidaknya ia bisa melihat Ryeowook bahagia. Yah, begitu pun cukup.

"Sunbae! Tolong siapkan sound system-nya!" Zhoumi sudah berteriak-teriak begitu Yesung datang. Ternyata ia juga ikut menjadi panitia dalam acara ini.

"Yak! Hoobae macam apa kau berani-beraninya menyuruh sunbaemu, hah?" teriak Yesung tak kalah keras. Tapi tak urung juga ia memandang sekitar. Pada barisan kursi yang sudah tertata rapi di ruang pertunjukan itu.

"Tunggu disana," ia menunjukkan deretan kursi itu pada Ryeowook, "aku akan kembali setelah beberapa menit lagi, ok?"

Ryeowook menurut. Dilihatnya Yesung yang mulai berkoordinasi dengan beberapa teman panitianya, entahlah ia tak peduli. Dipandangnya panggung yang sudah penuh hiasan dan peralatan yang dibutuhkan, ia menghela nafas pelan, tampak tidak begitu tertarik. Untuk beberapa hal ia sangat mirip dengan Sungmin. Sulit menyesuaikan diri dengan orang baru, sulit tertarik pada hal-hal baru, dan sulit memandang dunia dari sisi yang berbeda...

Keduanya seperti mempunyai genotif yang hampir mirip, hampir tidak bisa dibedakan. Bagaimana cara mereka tersenyum, intonasinya ketika berbicara satu sama lain, dan cara mereka memandang orang lain begitu sama. Begitu serasi. Seolah Sungmin memang diciptakan untuk mendampingi Ryeowook selamanya.

"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini."

Ryeowook menoleh. Ia menaikkan alisnya melihat pemuda yang ia jumpai kemarin malam kini ia temui lagi disini. Ryeowook berusaha tersenyum formal. Ia memberi tatapan menilai pada Kyuhyun yang tampak biasa sore itu sembari berkata,

"Apa kau mau mengatakan bahwa pertemuan ini juga takdir yang sudah digariskan?"

Kyuhyun tersenyum. Didekatinya pemuda itu dan duduk di kursi sampingnya. Ia memandang panggung yang kini sudah tertutup tirai.

"Benar sekali. Aku percaya kalau ini memang takdir."

Ryeowook membuang mukanya, tersenyum melecehkan.

"Tidak ada hal seperti itu. Apa yang terjadi pada manusia adalah apa yang harus mereka dapat karena perbuatannya, bukan karena rencana yang memang sudah ada." Berpikir realistis seperti biasanya, Ryeowook sangat membenci orang-orang yang percaya pada hal irasional seperti itu.

"Oh," Kyuhyun berseru kecil dan menoleh padanya.

"Kau fikir begitukah?" Ia mengalihkan pandangan pada kerumunan orang yang masuk ke gedung itu, pertunjukan akan segera dimulai. Lalu berkata, "Kalau takdir mengatakan pertunjukan ini tidak akan berhasil, maka bisa saja lampu gedung yang besar itu menimpa kerumunan penonton yang sedang berjalan kemari. Tapi hal itu tidak terjadi, karena takdir tidak berkata begitu."

Ia berhenti sebentar untuk melirik Ryeowook. "Kalau takdir mengatakan kau tidak akan datang disini, maka kau tidak akan pernah datang."

"Tapi aku datang," potong Ryeowook. "Apa takdir melakukan kesalahan sekarang?" Kata-kata manisnya terasa sinis dan menantang keyakinan Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tersenyum.

"Kau datang karena takdir yang mengaturnya begitu." Ia merasa senang melihat Ryeowook mengerutkan kening tidak setuju, "apa kau punya alasan kuat untuk datang kemari?" Ditatapnya pemuda itu dengan intens, Ryeowook tidak bisa menjawab. Ia datang kemari tanpa alasan yang pasti, tanpa tujuan apapun, hanya karena ajakan Yesung. Ia bukan orang yang mudah tertarik pada hal-hal baru, tapi ia menurut saja saat Yesung mengajaknya kemari. Seperti bukan dirinya saja. Seperti bukan Ryeowook yang biasanya saja. Benarkah ini takdir? Tapi tentu saja ia tidak akan membuat pemuda yang sedang menantang keyakinannya itu merasa menang.

Seperti bisa membaca ekspresi matanya, Kyuhyun menambahkan,

"Aku punya alasan datang kesini karena Yesung hyung memintaku menonton pertunjukannya, tapi tidak menyangka bertemu lagi denganmu. Kurasa ini memang takdir, benar kan?"

"Kalian sudah akrab ya."

Keduanya menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Yesung mendekati mereka. Beberapa penonton tampak sudah duduk di kursinya masing-masing. Pertunjukan akan segera dimulai.

"Hanya berdebat kecil untuk membunuh waktu." Itu suara Kyuhyun. Diliriknya Ryeowook yang tak merasa perlu menjawab kata-kata Yesung tadi.

Yesung segera menginterupsi sebelum perdebatan kecil itu berujung runcing pada ucapan ketus yang saling dilemparkan.

"Aku akan segera ke belakang panggung. Tidak apa-apa kalau kau menonton dari sini bersama Kyuhyun, kan?" tanyanya pada Ryeowook. Yang dimaksudkan hanya mengangguk kecil.

"Baiklah, tolong jaga Ryeowookie ya, Kyuhyun." Ia tersenyum kecil sebelum meninggalkan mereka berdua.

Hanya keheningan sepanjang acara yang dirasakan baik oleh Kyuhyun maupun Ryeowook, keduanya larut dalam pemikiran masing-masing. Tentang perdebatan kecil mereka tentang takdir, ataupun masalah-masalah lain yang lebih besar. Sampai pada akhirnya si pembawa acara dari pertunjukan itu mengatakan bahwa Yesung akan tampil.

"Itu dia!" Kyuhyun berseru, menunjuk pada seorang pemuda yang membawa mic ke tengah panggung. Ryeowook ikut menoleh. Lighting ruangan itu semakin gelap, hanya tersorot pada pemuda tampan dengan jas biru gelapnya di atas panggung. Dentingan piano yang lirih memulai lagu yang dibawakannya. Yesung sang pemilik suara indah itu mulai bernyanyi.

Sebuah lagu balad yang diiringi dengan instrument piano dengan sangat indah. Benar-benar melukiskan lirik dari lagu yang sedang dinyanyikan: It has to be you.

"Suaranya indah sekali..." Kyuhyun bergumam tulus.

Ryeowook tak menanggapi. Mereka ikut bertepuk tangan ketika lagu itu berakhir. Dilihatnya Yesung yang menatap ke arah mereka lebih lama sebelum benar-benar meninggalkan panggung. Menatap ke arah Ryeowook hanya untuk memastikan pemuda itu mendengarkan lagunya, mendengarkan isi hatinya yang terpendam. Isi hati yang tidak pernah dan ia rasa tidak perlu diungkapkan. Karena ia tahu, seperti Kyuhyun dengan Sungmin, ia dan Ryeowook tidak akan pernah sebanding.

Yesung menemui mereka setelah acara berakhir. Kyuhyun masih disana, mengingat amanat Yesung untuk menjaga 'adik'nya itu.

"Kalian lihat tadi kan?" Ia tersenyum cerah pada Ryeowook dan Kyuhyun, berharap Ryeowook dapat meraba maksud hatinya.

Ryeowook hanya bergumam pendek. "Aku ingin pulang," ujarnya pelan. Yesung merasa sedikit kecewa, tapi ia tetap mengangguk penuh perhatian.

"Ryeowook-sshi sangat mirip dengan Sungmin hyung..." keluh Kyuhyun tiba-tiba. Ryeowook sedikit tersentak mendengar Kyuhyun memanggil Sungmin dengan embel-embel 'hyung'.

"Sepanjang acara dia hanya tertarik pada penyanyi yang benar-benar bernyanyi dengan baik. Mereka tampak serasi." Kyuhyun mengatakan itu dengan nada ringan, tapi Yesung tahu bocah itu hanya berusaha memancing perdebatan.

"Tentu saja." Ryeowook menjawab dengan tenang, ia tersenyum arogan ketika melihat ruangan itu mulai sepi oleh penonton, "Karena aku tidak akan bersanding dengan orang yang tidak sebanding denganku."

Dan menyisakan Yesung yang hanya terdiam membatu.

XxXxXxX

Pada akhirnya disini lagi. Ia terjebak dalam ruangan yang sama dengan pemuda itu lagi untuk sebuah prosedur konyol yang harus dijalaninya. Ia terjebak bersama orang yang paling dibencinya di atas bumi ini lagi.

"Apa kita bisa berlatih lagi dari sekarang?"

Sungmin menatap datar pemuda yang baru membuka mulutnya itu. Ia tak menjawab, menganggap pertanyaan itu hanyalah hal lalu saja.

"Kurasa aku sudah berlatih keras beberapa hari ini, aku sudah hafal di luar kepala semuanya sekarang," kata Kyuhyun lagi, seperti tidak sensitif dengan raut muka Sungmin yang tidak menunjukkan ketertarikan sedikitpun.

"Jangan terlalu percaya diri," gumamnya ketus. Dialihkannya pandangannya pada dua grand piano di ruang latihan mereka. Grand piano yang untuk beberapa hari ini sudah tak disentuh oleh mereka berdua.

"Yesung sunbae bilang permainanku lumayan kok..." ujar Kyuhyun lirih. Sungmin menaikkan alisnya.

"Yesung dari Divisi Vokal?"

"Yup. Dia teman sekamarku di asrama."

"Oh," Sungmin tampak berfikir. Tampaknya ia mulai mengerti apa yang sedang terjadi sekarang. Yesung dan Kyuhyun saling mengenal. Bisa jadi Yesung lah yang memberi akses pada Kyuhyun untuk masuk di Akademi itu, mengatur segalanya agar Kyuhyun bisa bertemu dengannya.

Ya, Lee Sungmin tidak bodoh. Ia tahu Yesung sudah lama memendam rasa pada kekasihnya, Ryeowook. Semua orang yang punya mata akan tahu bagaimana perlakukan Yesung pada Ryeowook sudah melebihi perlakuan seorang senior pada juniornya. Sungmin tidak buta. Tapi ia juga tidak pernah menegurnya, karena Yesung tidak pernah menampakkan gelagat ingin merebut Ryeowook darinya. Selama tidak mengganggu, Sungmin tidak akan menghiraukannya.

Tapi siapa yang akan tahu isi hati seseorang?

Tidak menunjukkan keinginan memiliki bukan berarti tidak berhasrat untuk itu. Bukan hal yang tidak mungkin Yesung mengatur segalanya agar hubungan Sungmin dan Ryeowook retak karena kedatangan Kyuhyun. Dan ia akan tampil sebagai orang baik, sebagai kakak yang akan melindungi Ryeowook ketika ia bersedih, sebagai pengganti dirinya saat ia berseteru dengan batinnya karena Kyuhyun yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya.

Ya, semua masuk akal sekarang.

Tapi bagaimana Yesung bisa tahu tentang Kyuhyun dan dirinya?

"Apa kita bisa mulai berlatih sekarang?" tanya Kyuhyun lagi, membuyarkan lamunan Sungmin. Sungmin menatapnya tajam, tapi tidak ada kebencian ekstrim seperti sebelumnya. Hanya tatapan penasaran kenapa semua bisa seperti ini. Seperti ada sesuatu yang mendalangi semua kejadian ini.

"Ya. Kita mulai sekarang."

Irama yang ceria terdengar begitu jemari dua pianist itu menyentuh balok-balok piano. Menari dalam harmoni, bersama-sama membentuk lukisan indah yang tersirat dalam komposisi Sonata untuk dua piano yang tercipta dari tangan dingin sang maestro Mozart itu. Sebuah imajinasi tentang gelak tawa gadis desa yang menyambut indahnya musim semi, kelincahan dan semangatnya yang tergambar dalam balutan melodi bertempo cepat, dan kelembutan hatinya terefleksikan dari keharmonisan nada-nada rendah yang terdengar ketika memasuki bagian kedua komposisi yang menurut banyak orang dapat mencerdaskan IQ pendengarnya dalam beberapa detik.

Kyuhyun menahan nafasnya ketika pada menit keenam permainan mulai melambat, konsentrasinya masih terjaga penuh pada melodi yang sudah sangat ia hafal untuk beberapa minggu itu saat melirik ke arah Sungmin yang bermain dengan sangat profesional. Permainan yang sangat indah, membuatnya begitu mencintai nada-nada yang terdengar kala jemari halus itu menyentuh piano yang dimainkan bersamanya. Permainan yang membuatnya semakin merindukan pemuda itu.

Betapa Sungmin sangat berbeda ketika ia hanya berhadapan dengan melodi yang menenangkan itu, betapa ia terlihat sangat menikmati apa yang sedang dilakukannya. Betapa ia terlihat lebih manusiawi, ketika topeng dingin dan ketusnya itu dibuang dan berganti dengan sebuah wajah baru yang tercermin dari not-not yang berdenting-denting manis itu. Betapa ia terlihat seperti Sungmin yang sangat dikenalnya dulu...

Kyuhyun tersenyum dalam haru yang sengaja ia sembunyikan. Dengan lebih semangat ia memainkan tempo cepat pada bagian penutup, ketika diliriknya Sungmin terlihat sangat serius memainkan alat musik di hadapannya untuk menghasilkan sebuah karya seni bernilai tinggi. Keduanya menahan nafas menyadari mereka akan segera mencapai akhir tanpa interupsi seperti sebelumnya, Kyuhyun hampir ingin meledak saat ia berhasil menjaga keindahan musik itu hingga akhir.

"Daebak!" serunya tak terbendung saat mereka telah selesai. Ditatapnya Sungmin yang masih tak bereaksi, tapi Kyuhyun bersumpah ada gurat kekagetan dalam wajah manis itu. Mereka berhasil... Ia menunggu Sungmin membuka suara. Sungmin beranjak dari duduknya, tidak memandang Kyuhyun sedikitpun.

"Berlatihlah lagi besok," katanya, tampak sedikit keras dari biasanya. Kyuhyun tersenyum, seolah-olah mulai terbiasa dengan sifat dingin Sungmin.

"Dia pemuda yang manis." Kyuhyun mengangkat suaranya. Ditatapnya Sungmin yang untuk sejenak menghentikan kegiatannya mengemasi kertas-kertas partitur yang berserakan di meja.

"Namanya Kim Ryeowook, kan? Ia tampak baik untukmu," katanya lagi. Sungmin tak menjawab, berusaha menerka-nerka apa maksud Kyuhyun membicarakan kekasihnya itu.

"Dia tampak..." Kyuhyun berhenti sebentar untuk menemukan kata yang tepat, "sebanding denganmu." Tanpa sadar ia tersenyum dalam perih. Kejadian kemarin saat bertemu Sungmin dan Ryeowook menggoyahkan hatinya lagi, seolah-olah ada pisau kecil yang menusuk hatinya.

"Bagus kalau kau sadar itu."

Sungmin membuka suaranya untuk setelah lama hanya terdiam. Ruang itu hening, bahkan hembusan angin kencang di luar terdengar amat jelas dari sana.

"Apa kau baik-baik saja?" Matanya terlihat sangat terluka. Ada ketakutan yang sangat besar dalam getar suaranya.

"Apa kau sudah sembuh?" tanya Kyuhyun lirih. Padahal baru beberapa detik yang lalu ia tersenyum, sekarang wajah pilunya sudah dipenuhi airmata yang mengalir.

"Kau ingat ahjussi di tempat es krim favoritmu? Dia satu-satunya orang yang memberitahuku tentang kepergianmu. Setelahnya tak ada satu pun kabar yang datang padaku setelah kau menghilang tiba-tiba..." Bahunya bergetar menahan isakan.

"Menunggu kau kembali... Menunggu jawaban atas apa yang belum kuketahui... Menunggu dalam hari-hari tanpa bisa memaafkan diriku sendiri yang telah memperlakukanmu dengan buruk..." Menangis kalut dengan menggenggam hatinya yang berantakan. Menangis dalam penyesalan yang terlanjur sia-sia untuk sekarang.

"Jangan berbicara omong kosong..." Alih-alih bersikap ketus Sungmin malah terbata, suaranya bergetar melihat Kyuhyun yang begitu kesakitan dengan dosa masa lalunya sendiri. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat.

"Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesal..." Suara Kyuhyun semakin serak. Ia menunduk, merasa tak pantas melihat wajah orang yang pernah disakitinya dulu.

"Maaf jika aku pernah menyia-nyiakan cinta yang kau berikan padaku... Maaf jika aku tidak pernah peka dengan keadaanmu... Maaf tentang Hankyung hyung—"

"DIAM!"

Kyuhyun tersentak kaget. Ditatapnya wajah pemuda bermarga Lee itu dengan nanar.

Sungmin memandang Kyuhyun penuh kebencian. Raut wajahnya seakan berkata betapa ia ingin membunuh pemuda itu sekarang.

"Minnie-ah..."

Sungmin mengalihkan pandangannya ke arah lain begitu mendengar Kyuhyun memanggilnya dengan nama itu. Nama yang amat dibencinya. Dengan dingin ia berkata, "Kau sangat mengganggu."

Tajam. Mengiris-iris hati Kyuhyun yang belum sembuh benar dari sakitnya.

"Kau pikir kau siapa? Datang dan berusaha mengacaukan hubungan orang lain semaumu sendiri? Kau pikir sehebat apa dirimu?"

Sungmin memandangnya dengan tatapan menusuk. Untuk pertama kalinya Kyuhyun merasa takut pada pemuda yang selama ini mengisi hatinya itu.

"Lihat dirimu sekarang! Apa kau pikir kau pantas? "

Kyuhyun masih tak menjawab. Kediaman yang menakutkan mengisi ruangan yang penuh ketegangan itu.

"Takkan kubiarkan kau mengganggu kami lebih jauh lagi, Cho Kyuhyun-sshi." Sengit. Tak ada sedikitpun perasaan iba tersirat dalam mata Sungmin. Hanya ada arogansi yang berdiri dengan gagahnya, hanya ada kebencian...

Kyuhyun mengangguk, meyakinkan hatinya.

"Begini lebih baik," ujar Kyuhyun pada akhirnya. Ia menutup matanya. Bibirnya membentuk sebuah senyum meskipun ekspresinya masih terlihat sangat menyedihkan.

"Dibenci seseorang seperti ini, lebih baik daripada dilupakan sama sekali." Ia menatap Sungmin dengan cerah, menerima semua takdir yang terjadi. Karma yang harus ditanggungnya karena kesalahannya masa lalu.

"Dan ya, aku menyerah untuk kembali memilikimu." Ia terhenti sebentar, menatap dua grand piano yang ada disana.

"Aku akan menerima apa yang telah direncanakan takdir untuk kita. Ayo kita selesaikan semuanya di ujian nanti."

XxXxXxX

"PENGUMUMAN PENTING

UNTUK SELURUH SISWA DARI DIVISI ORCHESTRA DIHARAPKAN BERPARTISIPASI DALAM ACARA INTI FESTIVAL MUSIK YANG AKAN DIADAKAN PADA TANGGAL 23 DESEMBER 2011.

BEBERAPA SISWA AKAN DIPILIH SECARA KETAT UNTUK BERKOLABORASI DENGAN BEBERAPA ARTIS DARI SM ENTERTAINMENT.

NB: INFO MENYUSUL.

TERTANDA

KEPALA DIVISI ORCHESTRA

LEE HYUNWOON"

"Tidak mungkin!"

Seorang pemuda cantik melotot pada selebaran yang ditempelkan di papan pengumuman sepanjang Divisi Orchestra.

"Kolaborasi dengan management bodoh itu? Siapa yang sudi!" Ia mendecih kesal, membuat beberapa murid menoleh terganggu ke arahnya. Tapi ia tidak peduli. Dengan penuh percaya diri ia berlalu dari tempat itu.

Ia adalah Kim Heechul, seorang pemuda yang cukup unik dan terkenal di Divisi Orchestra. Bukan karena bakatnya sebagai seorang conductor atau prestasi yang pernah ditunjukkan, melainkan karena kepribadiannya yang 'sedikit berbeda'. Heechul tidak pernah sekalipun mengikuti kompetisi. Ia bermain musik hanya untuk bersenang-senang, bukan untuk memenangkan pertandingan dan menjadi terkenal seperti apa yang dicita-citakan teman-temannya. Baginya musik bukanlah sesuatu yang patut dipertandingkan, musik adalah sesuatu yang kau sukai. Yang kau mainkan dengan sepenuh hati karena kau mencintainya. Sesederhana itu. Ceritanya tentang bagaimana ia masuk ke Akademi itu juga sangat unik. Ia bilang ia dulu hanya seorang penyanyi club malam, dan tiba-tiba tertarik dengan salah seorang pemuda yang juga masuk di Akademi yang sama. Tapi bukan berjuang untuk masuk Divisi Vokal yang sesuai dengan bakatnya, ia malah masuk Divisi Orchestra untuk menjadi conductor yang masih terhitung baru untuknya. Alasannya adalah, karena orchestra concerto memiliki banyak pemain biola, dan dengan salah satu pemain biola di Akademi itu lah ia jatuh cinta. Pada Hankyung, pemuda yang sudah resmi empat tahun ini menjadi pacarnya.

"Chullie-ah!"

Ia menoleh. Keningnya mengerut melihat seorang senior dari divisi yang sama melambai ke arahnya.

"Ah, Teukie hyung," ujarnya malas-malasan, tidak begitu bersemangat.

"Kenapa?"

Leeteuk menepuk bahu pemuda itu dengan keras, terlalu bersemangat tampaknya.

"Sudah melihat pengumuman? Tertarik ingin ikut?" tanyanya beruntun. Keduanya menuju salah satu taman kecil di Akademi itu, mendudukkan tubuh perlahan.

"Sama sekali tidak." Heechul menjawab asal-asalan.

Leeteuk tertawa pelan.

"Sampai kapan kau mau bermain musik hanya untuk bersenang-senang, Chullie? Kau harus mulai memikirkan karirmu dari sekarang."

Heechul mendengus. Dikeluarkannya minuman isotonik dari dalam tasnya lalu meneguknya pelan.

"Hah, diucapkan oleh seseorang yang sudah mendapatkan pekerjaan tetap di Akademi..." Ia mengomel.

Leeteuk semakin tergelak.

"Jangan begitu, aku benar-benar dalam masalah serius sekarang." Ekspresi wajahnya berubah serius,

"Aku butuh salah satu pemain piano dari anggota orchestra binaanmu untuk membantuku menyiapkan perayaan natal di gereja beberapa hari lagi."

"Heh?" Heechul menaikkan alis, "sejak kapan kau kekurangan pemain, heh? Bukankah kau punya si jenius dari divisi piano itu di orchestra bentukanmu hm?" ia bertanya sangsi. Leeteuk adalah salah satu conductor paling berbakat di Divisi mereka, satu dari sedikit conductor di Akademi yang mempunyai orchestra resmi sendiri sejak Akademi itu berdiri.

"Kalau Lee Sungmin yang kau maksud, ia sedang cuti untuk persiapan ujiannya. Dan semua pemain pianoku menolak untuk mengisi acara solo di malam natal karena ingin merayakan natal bersama keluarganya," jelas Leeteuk panjang lebar, tampak sekali berusaha membuat Heechul prihatin.

"Kau tahu jawabannya kalau begitu. Tidak akan ada pemain piano dari orchestraku yang mau bermain solo di malam natal, kecuali itu adalah sebuah orchestra concerto," jawabnya diplomatis. Leeteuk mengerang.

"Ayolah, bantu aku Chullie..." rengeknya.

"Hei, kenapa harus aku? Kau punya banyak relasi dari Divisi Piano! Ajak saja mereka!" Heechul tetap menolak permintaan sahabatnya itu.

"Ayolah Chullie, hanya kau satu-satunya yang kupercayai disini," Leeteuk semakin memelas. Harga dirinya yang biasanya jual mahal saat menjadi conductor dibantingnya miring. Heechul berdecak-decak. Ia paling tidak tahan melihat Leeteuk yang menyebalkan seperti itu.

"Baiklah, baiklah." Ia mendesah kesal.

"Hankyung punya teman akrab dari Divisi Piano, aku akan meminta bantuannya."

Diliriknya Leeteuk yang mengerutkan kening.

"Teman pacarmu? Siapa namanya?"

Heechul berfikir sejenak untuk mengingatnya.

"Kurasa Kyuhyun... Ya, Cho Kyuhyun."

TBC