CHAPTER 9: In the Raining

Ia selalu merasa ia tidak pernah cukup baik untuk dunia yang luas ini. Tidak pernah sekalipun ia berfikir untuk meraih apa yang ia inginkan, bermimpi pun tidak. Lahir dalam keluarga yang biasa, Yesung selalu mengira dunia terlalu hebat untuk ia taklukan sendiri. Maka ketika pertama kali ia melangkahkan kaki di Akademi yang sama sekali tidak pernah ia impikan ini, ia hanya bisa merasa takjub dengan keajaiban yang ada.

Yesung bukan orang yang tidak pernah berjuang untuk meraih impiannya. Ia juga bukan seseorang yang hidup dalam dunianya sendiri yang pesimis tanpa gairah hidup. Ia hanya terlalu realistis memandang dunia dari sisi yang kadang tidak sama dengan orang lain. Ia punya bakat. Ia punya suara yang indah. Tapi manusia-manusia berbakat di atas bumi ini juga tak terhitung. Akan selalu ada yang namanya seleksi. Sejak awal dia tahu dia tidak akan menjadi orang hebat. Tapi ketika Ibunya sendiri tanpa sepengetahuannya mendaftarkannya di Akademi Musik SM dan-tanpa diduga-ia berhasil lolos, baginya, ia pasti sangat beruntung.

Yesung melihatnya ketika murid baru itu pertama kali masuk dan dibully oleh seniornya. Datang sebagai keturunan musisi ternama negara ini membuatnya tertekan dengan segala ekspektasi yang dilimpahkan orang-orang kepadanya. Yesung yang pertama kali menyapanya dengan hangat kala itu, meskipun-tentu saja-dibalas dengan acuh oleh junior bernama Kim Ryeowook dari Divisi yang berbeda darinya. Tapi Yesung tidak menyerah. Dan empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka beradaptasi satu sama lain. Sekarang-bahkan-Yesung menjadi orang terdekat kedua dari Mutiara dari Divisi Biola yang terkenal high class itu.

Kedua, karena orang pertama-dan mungkin satu-satunya-yang dianggap dekat oleh Ryeowook hanyalah Sungmin. Orang mungkin mengira Yesung hidup dalam ekspektasinya sendiri, mengira Ryeowook akan menatapnya seperti Yesung menatapnya. Dan ia memang membiarkan orang berpikir seperti itu, membiarkan mereka menilainya seperti apa yang terlihat. Karena tanpa diingatkan sekalipun, Yesung selalu sadar, Ryeowook tidak akan pernah memandang lebih pada orang tanpa bakat seperti dirinya.

XxXxXxX

"Sebuah solo piano?"

Leeteuk melirik junior dari Divisi Piano yang tampak tidak percaya itu, lalu mengangguk perlahan.

"Tidak salah. Bukankah Heechul dan Hankyung sudah memberitahumu sebelumnya?"

"Aisshh..." Kyuhyun mengacak-acak rambutnya sedikit frustasi. "Mereka bilang aku hanya akan membantu sedikit, tapi kenapa sekarang malah solo piano?"

Leeteuk menatapnya dengan pandangan menilai, "Apa itu masalah? Kau murid dari Divisi Piano kan?"

Kyuhyun mengangguk lemas. "Tapi aku masih semester satu."

"Oh, tidak masalah. Selama kau sudah diterima dari Divisi Piano maka meskipun kau baru masuk seharipun siapapun akan menjamin permainan pianomu cukup hebat. Aku hanya mencari orang yang loyal untuk acara kali ini, dan tidak ada kegiatan selama natal, tentunya."

"Oh, kau tidak mengerti!" Kyuhyun mengerang pelan.

"Aku sama sekali tidak bisa memainkan piano dengan baik!"

Leeteuk mengernyit, "Kau tahu? Kau tidak perlu berbohong untuk menolak tawaranku." Ia berujar sarkastis. Sifat superiornya sebagai seorang maestro muncul ke permukaan.

"Aissh... Bukan begitu," Kyuhyun merasa bersalah, "Aku benar-benar ingin membantu. Tapi bagaimana aku bisa membantu kalau musik klasik yang kutahu hanya Sonata Dua Piano saja?" Lagi-lagi ia mengerang. Leeteuk menaikkan alisnya, mencoba membaca kejujuran dari wajah junior yang baru ditemuinya itu. Tak perlu waktu lama ia pun bisa menyimpulkan, Kyuhyun berkata jujur.

Hanya keheningan canggung yang terasa ketika keduanya terdiam berpikir.

"Apa kau..." Leeteuk yang pertama kali membuka suara, "masuk ke sini secara ilegal?"

Kyuhyun mendongak. Otaknya mencerna kata-kata Leeteuk dengan sangat lambat.

"Maksud sunbae?"

Pemuda conductor itu menghela nafas pelan, lalu menjelaskan.

"Setahuku Akademi Musik ini tidak akan pernah menerima murid-murid yang tidak berbakat, sekaya apapun mereka. Selalu ada seleksi ketat untuk masuk kesini." Ia menerawang. Mengingat masa tujuh tahun yang lalu ketika ia dengan susah payah mengikuti audisi hanya untuk berada di akademi yang diimpi-impikan semua musisi di Korea. Untuk sejurus ia menoleh tajam pada pemuda bermarga Cho itu.

"Katakan, siapa kau sebenarnya? Berapa uang yang kau berikan hingga mereka mau menerimamu?"

Kyuhyun menaikkan alisnya. Butuh tiga detik baginya untuk memahami bahwa ucapan Leeteuk bukan hanya sekedar pertanyaan.

"Kau..." Tenggorokannya sedikit tercekat, "mengira aku menyuap?" Dengan bingung ia menyusun kalimat yang sekiranya ingin dikatakan Leeteuk sedari tadi. Pemuda di hadapannya hanya tersenyum dikulum.

"Bagaimanapun," potong Leeteuk akhirnya, "akhirnya aku tahu kebijakan di Akademi yang membesarkan namaku ternyata sudah berubah." Ia tersenyum hangat seolah tidak terjadi apa-apa, begitu pintar menyembunyikan ekspresi ketidak setujuannya. Sekilas, Kyuhyun seperti melihat Sungmin di gelagat Leeteuk itu.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan..." gumam Kyuhyun perlahan, sedikit tidak terima dengan apa yang dituduhkan Leeteuk terhadapnya.

Leeteuk tersenyum.

"Kau tahu? Aku tidak peduli dengan hal-hal semacam itu, selama itu tidak menggangguku." Seperti seorang profesional ia menempatkan dirinya sebagai orang lain sekarang, orang yang tidak akan mencampuri urusan siapapun, tipe orang yang benar-benar melibatkan diri hanya untuk bisnis. Tipe orang yang benar-benar seperti Sungmin dan Ryeowook. Jadi beginikah tipe-tipe orang yang memang ditakdirkan sebagai seorang yang akan mempunyai nama besar? Cerdas, bertalenta, tapi di satu sisi juga hanya melihat dunia dari sisinya sendiri, tanpa peduli terhadap orang lain, pikir Kyuhyun miris. Sikap itulah yang sangat dibenci Kyuhyun. Sikap seolah menjadi pusat dunia, sikap yang membuatnya sangat muak.

"Aku tidak perlu sesumbar kalau aku juga lolos audisi dan akan diorbitkan di bawah management Soo Man nanti." Ia bergumam acuh, mencontoh sikap dingin yang selalu diberikan Sungmin kepadanya. Untuk alasan tertentu ia merasa bangga.

Leeteuk menatapnya penasaran, lalu kembali tersenyum tenang.

"Setahuku SMEnt tidak pernah mengorbitkan pianist sebagai artist, sehandal apapun mereka." Kembali bersikap santai, Leeteuk bagaikan seorang besar yang tak bisa digoyahkan kepercayaannya.

Untuk sekarang, sepertinya keberuntungan sedang mencintai Kyuhyun. Dengan cerah ia tersenyum,

"Oh ya? Aku juga tidak mengatakan kalau aku lolos audisi piano lho, Sunbae."

XxXxXx

Hujan berderap-derap menghantam atap akademi yang berwarna coklat gelap sore itu. Airnya mengalir jatuh membasahi sudut-sudut dinding yang tak terlindungi oleh penutup dari gedung megah yang terletak di tengah gemerlap kota Seoul yang padat. Angin yang berhembus kencang di tengah hujan deras itu membuat sebagian murid kewalahan, dan pada akhirnya memilih untuk pulang daripada terus berlatih jika pelajaran hari itu telah selesai. Ramalan cuaca pagi tadi mengatakan akan ada badai malam nanti, tapi cuaca yang ekstrim itu bahkan tidak menghalangi dua pemuda yang amat berbeda karakter di dalam ruang yang hangat dari gedung Divisi Piano itu untuk terus berlatih.

Kyuhyun dan Sungmin terus berusaha dengan keras, karena hari pertunjukkan mereka hanya kurang dalam hitungan jari lagi. Mereka memang harus berusaha jika tidak ingin mempermalukan diri sendiri. Dan Kyuhyun memang sudah berjanji pada Sungmin-dan pada dirinya sendiri, ia akan memberikan terbaik. Ia akan menyelesaikan segalanya di pertunjukkan nanti.

Pada akhirnya, ia belajar.

Ada hal yang lebih penting daripada mengejar sesuatu yang melukai egonya selama lima tahun belakangan ini. Rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam, membuatnya terdampar dalam kenyataan yang harus dihadapinya sekarang.

Kenyataan bahwa Sungminnya memang tidak seperti dulu lagi. Mungkin sudah tidak mencintainya seperti dulu lagi. Mungkin pula bahkan sudah tidak peduli tentang mereka lagi. Manusia tumbuh dan berubah. Yang tersisa sekarang hanya waktu baginya untuk menyesali kesalahan di masa lalu, mengikis sifatnya (yang menurut Sungmin) kekanak-kanakan untuk terus menerus mengejarnya, dan turut tumbuh bersama. Karena bagaimanapun, seperti yang telah Sungmin lakukan padanya, Kyuhyun juga harus bersikap dewasa. Bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan dulu, dan atas apa yang ia pilih sekarang.

Itu mungkin hujan terderas yang diingat Kyuhyun selama seminggu terakhir ini. Cuaca yang buruk, ditambah suasana hati yang terpuruk membuat kondisi badannya tidak begitu baik. Ia cukup memaksakan diri untuk berlatih sepanjang hari bersama Sungmin, mengacuhkan nasehat Yesung dan Zhoumi untuk beristirahat di kamar seharian karena badannya panas lagi semalam. Kyuhyun bersyukur ruangan itu hangat, meskipun kehangatan itu tidak mengurangi sikap dingin Sungmin walau untuk satu derajat.

"Nadamu salah."

Samar-samar Kyuhyun mendengar Sungmin bergumam pelan. Derasnya hujan di luar membuat suara Sungmin terdengar sangat pelan di telinganya, ditambah ia memang merasa tidak begitu sehat hari ini. Berusaha tak memperlihatkan keletihan yang sedari tadi dirasakannya Kyuhyun berkata,

"Maaf, akan kucoba lagi."

"Kau sudah berkali-kali salah," ujar Sungmin lagi. Pemuda itu tampak tidak terlalu kesal-mungkin sedang menahan diri untuk tidak memarahi Kyuhyun lagi kali ini, tapi bagaimanapun desahannya membuat Kyuhyun merasa bersalah.

"Lebih baik latihan hari ini selesai."

Sungmin berdiri, dibereskannya kertas partitur di atas grand piano dan meraih tas yang ia taruh di atas meja kecil yang merepet ke dinding krem ruangan itu. Hanya sedetik hingga Kyuhyun menyela,

"Maaf." Ia menggigit bibirnya, "Aku tahu permainanku buruk, tapi kumohon jangan berhenti sekarang." Ia terdiam sebentar hingga menyadari Sungmin tidak menyanggahnya seperti biasa. Kyuhyun menunduk.

"Pertunjukkan kurang sebentar lagi dan aku masih saja seperti orang bodoh. Aku ingin bisa bermain sepertimu. Kumohon ajari aku lagi, Hyung." Diliriknya pemuda yang lebih tua darinya itu. Sungmin masih tak menjawab. Hujan di luar masih turun dengan derasnya.

"Jangan bercanda." Akhirnya Sungmin berkata. Dingin seperti biasa.

"Sekeras apapun kau berlatih, kau tidak akan bisa bermain sepertiku." Tajam kata-kata itu keluar dari bibir mungil sang calon maestro piano itu. Menusuk dan menjatuhkan semangat Kyuhyun yang benar-benar berharap dapat bermain dengan baik.

Kyuhyun terhenyak. Setajam apapun, sesinis apapun ucapan itu, jauh dalam lubuk hatinya ia tahu, Sungmin memang benar. Bagaimanapun Kyuhyun memang tidak akan bisa bermain seperti Sungmin...

Tapi tidak ada yang tahu kalau Kyuhyun itu keras kepala.

"Aku tahu kok," Ia tersenyum kecil, berusaha tidak terlalu mengambil hati ucapan Sungmin tadi.

"Tapi bagaimanapun, aku juga boleh berharap kan?"

Sungmin menoleh pada Kyuhyun yang menatapnya dengan senyum tipis di wajahnya yang letih. Senyum yang amat dibenci Sungmin. Ia balas tersenyum sinis.

Pandangan Kyuhyun melunak.

"Tolong ajari aku ya, Hyung?"

Sebentuk perasaan aneh menyergap lubuk hati Sungmin. Ia terburu-buru mengalihkan pandangannya, lalu seperti biasa mengacuhkan ucapan Kyuhyun yang dianggapnya remeh.

"Hyung, jebal..." kata Kyuhyun lagi.

Dan sungguh, Sungmin benar-benar membenci sifat Kyuhyun yang sangat keras kepala.

"Berhentilah memaksakan diri untuk sebanding denganku." Diraihnya mantel hangat yang terletak di samping tas jinjing hitamnya. Ia hampir keluar dari ruangan itu ketika tiba-tiba kakinya berhenti melangkah. Ia menunduk, lalu mengerling sebentar pada Kyuhyun yang sedang menatapnya bingung.

"Aku tidak akan mengajari hoobae yang wajahnya sudah sangat pucat karena kelelahan berlatih sepanjang hari."

Untuk sekilas, hanya sekilas, Kyuhyun melihat ada kepedulian dalam bola mata obsidian itu.

.

Pemuda manis itu keluar dari ruangan dan berjalan cepat-cepat melewati tangga yang kosong melompong menuju lantai paling bawah dari gedung divisi piano. Suasana sudah sangat sepi, ia bahkan tidak menjumpai siapapun di lantai dua tadi. Ingatannya tentang kejadian beberapa detik tadi mengusik hatinya. Ia tahu itu salahnya. Memaksa Kyuhyun untuk terus berlatih sepanjang hari dan membuatnya bekerja terlalu keras hingga tampak seperti orang sakit tadi, itu semua salahnya. Sebagai seorang sunbae sekaligus tutor dari pemuda itu, ia merasa bertanggung jawab. Sungmin memang tidak peduli pada Kyuhyun, tapi Sungmin bukan orang jahat yang akan memaksakan kehendaknya pada orang lain. Ia akan memastikan hal seperti tadi tidak terjadi lagi.

Dengan berlari kecil di bawah guyuran air hujan yang amat deras ia menuju tempat parkir yang sudah sepi. Mercedes hitamnya sudah menunggu disana. Dengan tergesa-gesa Sungmin membuka mobil, begitu masuk ia tahu badannya sudah basah karena hujan tadi. Ia mengumpat pelan. Distaternya mobil itu, cipratan air di tanah beraspal dari lapangan parkir mengotori bagian bawah mobil kesayangannya, membuat Sungmin benar-benar kesal. Yang ada di pikirannya sekarang hanya pulang menuju apartment-nya secepat mungkin.

Hujan semakin deras ketika ia menyetir mobilnya keluar dari Akademi itu. Langit malam sudah begitu gelap meskipun jam digital di dasbor mobilnya baru menunjukkan jam lima sore. Sungmin baru akan menaikkan kecepatan mobilnya ketika matanya menangkap sesosok pemuda yang sedang berjalan gontai keluar gerbang akademi di bawah derasnya hujan. Ia tak habis pikir. Apa pemuda itu bodoh? Berjalan di bawah hujan deras dan cuaca ekstrim yang bisa membunuh siapapun seperti ini, apa orang itu sudah gila? Bahkan pandangan Sungmin tampak buram memperhatikan pemuda itu, lantaran terhalang air hujan yang amat deras menghantam kaca mobilnya. Sungmin memang bukan orang yang akan peduli dengan orang lain di sekitarnya, dan selama ini ia memang terus menjaga sifatnya seperti itu. Tapi nalurinya sebagai manusia membuatnya harus berpikir dua kali tentang prinsip untuk menjaga jarak dengan orang lain melihat pemandangan tadi. Siapapun orang itu, dia bisa mati jika terus bertahan di cuaca seburuk ini. Tanpa pikir panjang ia mengarahkan mobilnya mendekati pemuda itu. Ia memberhentikan mobilnya di samping pemuda yang sedang berjalan itu.

Sungmin membuka jendela mobilnya sebagian. Dan mungkin untuk alasan itu Sungmin menyesal telah bersikap keluar dari batas yang dibuatnya sendiri selama ini.

Pemuda yang dimaksud Sungmin itu sedikit terkejut ketika mobil hitam itu memblokir jalannya, ia menoleh. Keningnya mengernyit melihat Sungmin yang menatapnya kaku.

"Sungmin Hyung?"

Itu adalah Kyuhyun.

Pemuda yang berjalan di bawah hujan deras dengan bodohnya itu adalah Kyuhyun. Pemuda yang membuat Sungmin berjalan keluar dari batasan sikap yang dibangunnya kokoh, pemuda yang membuat Sungmin bersikap out of character, pemuda yang akhirnya membuat Sungmin menghentikan mobil untuk memberikannya tumpangan hanya agar ia tidak mati kedinginan, pemuda yang membuat Sungmin, untuk pertama kalinya selama lima tahun terakhir ini, bersikap peduli pada orang lain, adalah Kyuhyun. Orang yang tak lain telah membuatnya menjadi sedingin sekarang.

Kyuhyun benar.

Mungkin, tanpa mereka ketahui, sang Takdir sedang tertawa memperhatikan mereka berdua dari atas sana.

"Masuklah."

Akhirnya Sungmin berkata. Kyuhyun masih tak bergerak. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Hanya baru beberapa menit yang lalu ia meratapi apa yang sedang takdir rencanakan untuknya di bawah hujan, mengenang masa-masa itu bersama pemuda yang malah membencinya sekarang, mengingat betapa ia sangat merindukan Sungmin...

Dan sekarang,

Sungmin berada tepat di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan?" suara Sungmin meninggi, membuat Kyuhyun tersadar dari lamunannya.

Kyuhyun menjawab canggung, "Aku hanya senang berjalan di bawah hujan seperti ini. Membuatku melupakan kesedihanku." Ia tersenyum idiot, membuat Sungmin semakin kesal.

"Masuklah," desis Sungmin pelan, "sebelum kau mati kedinginan disana." tambahnya dingin. Kyuhyun bisa melihat raut kebencian disana. Ia segera menurut dan masuk ke dalam mobil, mengambil duduk di sebelah Sungmin yang menyetir. Sungmin langsung menancap gas dan mengebut begitu Kyuhyun sudah masuk.

"Terimakasih," ujar Kyuhyun setelah sekian lama. Suaranya sedikit bergetar. Ia memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan, Wajahnya sudah begitu pucat dan bibirnya tampak memutih. Keheningan yang tidak nyaman melingkupi mereka, membuat Kyuhyun semakin canggung. Sungmin melengos tak peduli. Dihidupkannya radio di dasbor mobil. Siaran musik korea terdengar dalam mobil itu, membuat ketidaknyamanan diantara mereka tertutupi sejenak.

"Dimana asramamu?" Sungmin bertanya pelan tanpa melirik Kyuhyun.

"Ah, dekat belokan setelah jalan ini, sebelum jembatan," jawab Kyuhyun sedikit tergagap. Ia bersin hebat, membuat Sungmin menoleh sedikit padanya.

"Hanya orang bodoh yang akan berjalan di bawah hujan deras seperti itu." Sungmin berceletuk pelan. Matanya masih fokus pada jalanan di depan, ia masih menyetir dengan baik.

Kyuhyun tidak langsung menyanggah.

"Hujan membawa kenangan indah bagiku..." Ia bergumam pelan.

Sungmin tak menjawab, tampak berusaha tidak peduli dengan ucapan Kyuhyun.

"Aku sangat menyukai hujan," kata Kyuhyun lagi. Kali ini senyum terpasang di wajahnya.

"Membuatku selalu merasa lebih baik." Ia menatap Sungmin yang masih membatu. Lalu mengalihkan pandangannya pada tetes-tetes air yang mengalir di kaca mobil, menerawang.

"Tapi bagian terbaik, hujan selalu mengingatkanku padanya..." Kyuhyun menyentuhkan jemarinya yang tampak pucat ke kaca yang dingin itu, mengikuti alur air yang mengalir ke bawah. Ia tersenyum pelan.

"Pada orang yang dulu sangat membenci hujan..."

Kyuhyun menutup matanya. Memori tentang pemuda yang selama lima tahun belakangan ini mengusik hari-hari sepinya berkilas cepat. Ingatan saat ia pertama kali bertemu dengannya, tentang senyum manisnya, wajah imutnya yang merengut marah ketika mereka acap kali berdebat tentang hujan...

Untuk sejenak Kyuhyun merasa de javu itu datang.

Hujan di luar masih turun dengan lebatnya.

Keduanya terdiam dalam pemikiran masing-masing.

Serak suara Kyuhyun memecah keheningan di antara mereka.

"Apa kau masih membenci hujan?"

Dipandangnya Hyung-nya yang masih menyetir, menunggu jawabannya. Tapi Sungmin tidak bergeming sedikitpun. Tahu bahwa Sungmin sudah pasti tidak akan merespon, Kyuhyun mengalihkan pandangannya keluar. Pada hujan di sore yang gelap itu. Tidak ada suara apapun selain lagu ballad yang mengalun dari radio samar-samar dan derasnya air langit yang tumpah di luar sana.

Kyuhyun menunduk pada kedua sepatunya yang basah kuyup.

"Sekarang aku sudah tidak mencopot sepatu lagi kalau mau bermain hujan." Ia tersenyum kecil mengatakannya, merasa konyol atas kenangannya tentang kebiasaan buruknya yang selalu diprotes Sungmin dulu.

"Tapi kupikir semuanya sama saja..." Ia terdiam. Melirik Sungmin yang fokus menyetir, sama sekali tak berniat menyahut.

Kyuhyun tersenyum hangat dalam perih yang disembunyikan begitu dalam. Rasa sesak itu begitu kasat mata hingga merasuki otaknya, mengabutkan seluruh kekuatannya hingga sendinya terasa lemas. Lambat ia sadari matanya terasa berkaca-kaca.

"Kupikir Tuhan sedang bermain-main dengan kita," Suaranya bergetar, terdengar begitu lambat dan pelan di tengah hujan yang bising itu, "tapi meskipun kini kau membenciku, meskipun kini semuanya berubah, setidaknya ini masih hujan yang sama, kan?"

Decitan mobil yang cukup keras sedikit membuyarkan kegalauan Kyuhyun.

"Sudah sampai." Sungmin berkata datar pada Kyuhyun. Sedikit merasa canggung Kyuhyun menoleh sekitar. Hujan di luar malah semakin deras, dan Hyung-nya memberhentikannya sebelum benar-benar sampai di gerbang asrama. Ia pasti sudah melakukan kesalahan yang membuat Sungmin kesal. Tapi bagaimanapun ia tetap tidak memprotes.

"Terimakasih sudah mengantarku."

Sungmin tak menjawab. Diliriknya Kyuhyun yang membuka pintu mobil dan langsung diserang guyuran air hujan yang sangat dingin begitu ia keluar. Ada rasa bersalah bersarang di hatinya membiarkan Kyuhyun mengigil kedinginan, tapi ia sama sekali tidak beranjak. Kyuhyun menutup pintu mobil cepat-cepat agar Sungmin tidak ikut basah, lalu berlari menuju gerbang asrama yang masih sepuluh meter lagi dari tempat ia turun. Sungmin memperhatikan punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Dan ya, ia menyesal telah berbuat jahat.

'Badai besar menghantam pinggiran kota Seoul dan membuat sebagian besar infrastruktur rusak. Beberapa pohon besar di tepi jalan ambruk dan jembatan Gyeodeok di tengah kota yang menghubungkan beberapa jalan utama rusak parah. Polisi menyatakan jembatan tidak dapat dilalui terlebih dahulu untuk sekarang. Sebagai gantinya masyarakat yang ingin melewatinya harus memutar melewati jalan lain yang lebih jauh. Kemacetan besar tak bisa dihindari—'

Sungmin mendengarkan dengan seksama berita dari radio yang baru saja disiarkan itu. Jembatan Gyeodeok, satu-satunya jalan besar menuju apartment-nya rusak parah. Dan Sungmin tidak berpengalaman dalam melewati jalan alternatif lain. Untuk sebentar ia sadar, ia tidak akan bisa pulang. Cuaca di luar sudah demikian gelap, hujan tak juga berhenti. Badai di luar mungkin saja akan terjadi lagi. Ia terjebak. Dalam keadaan seperti itu, seseorang pasti akan membutuhkan orang lain. Ia mungkin akan menelpon temannya untuk sekedar bertanya tentang jalan alternatif atau untuk mengantarnya pulang. Tapi Sungmin tidak. Hidup sebagai seorang anti-sosial yang selalu menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa bantuan orang lain, membuatnya mandiri, tapi juga tidak mempunyai teman. Sungmin terkena batunya. Sekarang ia akan mendapat ganjaran atas perlakuan dinginnya pada semua orang itu. Sungmin mungkin harus menunggu sampai esok pagi.

Ketukan pelan pada kaca mobilnya membuatnya menoleh. Diturunkannya kaca mobil itu setengah, membuat air hujan masuk sebagian ke dalam mobil dan membasahi wajahnya.

Kyuhyun berdiri disana masih dengan tubuh yang basah kuyup, dan menggenggam erat-erat sebuah payung.

"Kudengar jembatan diblokir karena badai! Hyung tidak bisa menunggu disini! Lebih baik menginap saja di tempatku!" Kyuhyun berteriak keras agar Sungmin mendengarnya, karena hujan benar-benar deras. Suaranya timbul tenggelam bagi pendengaran Sungmin. Ia tidak bergeming. Orang itu, Cho Kyuhyun, orang yang baru saja ia perlakukan dengan tidak baik, baru saja menawarinya bantuan tanpa diduga. Hatinya berseteru.

"Hyung, ayo!" Teriak Kyuhyun makin keras. Ia menunggu.

Sungmin menggeleng tak percaya, dimatikannya mobilnya dan meraih kunci mobil disana. Ia tidak percaya ia keluar dari mobil itu dan mendekati Kyuhyun, berbagi payung bersama pemuda itu di bawah hujan lebat. Ia tidak percaya ketika kulitnya yang hangat tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Kyuhyun yang dingin seperti es. Untuk sekejap saja Sungmin sudah menggigil.

Kyuhyun tersenyum. "Ayo," katanya sembari meraih tangan pemuda yang dicintainya itu.

.

"Maaf kalau berantakan." Mereka memasuki kamar asrama itu, Sungmin melirik keadaan sekitar yang tampak sepi.

"Zhoumi hyung bilang akan menginap di tempat Henry, dan Yesung sunbae masih sibuk dengan urusan festival, jadilah kamar ini sepi," terang Kyuhyun pada Sungmin. Ia melanjutkan, "tapi kunci kamar mereka masing-masing tidak ditinggal, jadi Hyung tidur di kamarku saja ya. Sebentar, aku ganti baju dulu." Ia berjalan menuju kamar mandi dan meninggalkan Sungmin di kamarnya.

Sungmin duduk di kasur Kyuhyun yang empuk itu. Sebentar saja Kyuhyun sudah kembali dengan pakaian yang sudah kering. Dilihatnya pemuda itu mengambil tisu yang terletak di atas meja, lalu menggunakannya untuk mengusap hidungnya perlahan. Sungmin terkejut melihat darah mengalir dari hidung sang junior, lebih terkejut lagi melihat wajahnya yang sudah sedemikian pucat seperti orang sakit itu.

"Kau..." suaranya terdengar parau melihat keadaan Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh dan tampak salah tingkah. "Ah, ini tidak apa-apa. Hanya sedikit kelelahan." Kyuhyun ikut duduk di sisi kasurnya yang lain. Ia sedikit tergesa-gesa mengelap hidungnya yang masih mimisan, tapi darah tidak berhenti juga. Sungguh, kepalanya sudah sangat pening sekarang. Tapi ia tidak boleh pingsan di depan Sungmin. Sungmin pasti akan merasa tidak nyaman melihatnya seperti itu. Kyuhyun harus kuat.

Sungmin melirik hoobae-nya itu samar-samar. Perasaan aneh berdesir di hatinya. Tentang rasa bersalah, menyesal, marah, kasihan, dan perasaan lain yang tidak ia mengerti. Dihelanya nafas dalam-dalam, lalu menghampiri Kyuhyun. Matanya tampak kesal.

Kyuhyun terkejut melihat Sungmin yang mendekatinya dengan tatapan tidak suka.

"Hyung maaf aku—"

Tapi Sungmin malah duduk di sampingnya. Diambilnya tisu lain di genggaman Kyuhyun. Dengan telaten Sungmin membantu Kyuhyun mengelap darah yang keluar dari hidungnya.

TBC~