Untuk kak Ruri, Leeteuk-ku, terima kasih untuk selalu menguatkanku.

.

.

.

.

.

.

.

.

~Still the Same Rain~

~A Super Junior fanfic~

Terkadang mendengarkan memang lebih mudah daripada mengalami kejadian secara langsung. Dibesarkan di lingkungan sosial yang menuntut komunikasi antar sesamanya, Hankyung tumbuh menjadi pemuda baik yang penuh empati pada teman-temannya. Ketika satu temannya mengalami masalah, Hankyung mungkin akan menjadi orang pertama dalam daftar orang paling dicari untuk mendengarkan masalah mereka. Hankyung memang bukan orang yang akan mengulurkan tangan dan dengan segera membantu temannya memecahkan masalah, tapi Hankyung selalu berusaha ada untuk mereka. Sekedar mendengarkan, sekedar ikut merasakan apa yang mereka alami, dan menggenggam tangan mereka untuk menyongsong hari esok yang lebih baik.

Terbiasa menjadi pendengar yang baik membuat sensitivitasnya semakin tinggi dalam menilai sekitar. Tentang manusia yang berlalu lalang dalam kehidupannya, tentang permasalahan mereka yang kompleks dan berbeda-beda. Hankyung telah menjalani dua puluh tahun lebih hidupnya dengan berpegang pada prinsipnya sendiri. Prinsip untuk mau berbagi, namun tetap terbatas pada zona kepemilikan dalam limit yang dibuatnya sendiri. Tapi sekarang ia sadar, tak selamanya hanya mendengarkan dapat berarti membantu.

Hankyung telah mengenal Kyuhyun sejak mereka SMA, memahami sifat-sifatnya dan bagaimana bocah itu berkembang menjadi pemuda yang-well, sedikit bertanggung jawab sekarang. Hankyung mengenalnya sebagai adik kelas, teman, teman dekat, hingga kekasih lalu kembali lagi sebagai adik kelas seperti sekarang. Hankyung tahu masa lalunya, walaupun tidak semuanya karena Cho Kyuhyun bukanlah tipe orang yang akan menceritakan tiap detail kehidupannya. Hankyung tahu bagaimana sifat kekanakan dan menyebalkan seorang Cho Kyuhyun berangsur-angsur menghilang, berganti menjadi seseorang yang bisa dipercaya dan sekaligus ia sayangi seperti sekarang. Sedikit banyak pengalaman buruk telah membuat bocah itu belajar, walaupun kebanyakan memang semuanya disebabkan karena sifat buruknya sendiri. Tapi itu tidak masalah, selama bocah itu mau memperbaiki. Bukankah esensi dari kehidupan adalah untuk sedini mungkin memperbaiki kesalahan dan terus belajar dari itu?

Ya, waktu tujuh tahun lebih telah membuat Hankyung menjadi orang terdekat seorang Cho Kyuhyun-untuk hal-hal tertentu. Menjadi orang terdekat berarti membuatnya harus ekstra sabar dan mempunyai sedikit jiwa malaikat agar dapat bertahan dengan sifatnya yang-terkadang-benar-benar menyebalkan. Menjadi orang yang akan tetap di sampingnya saat ia salah, menjadi orang yang selalu mendukungnya bila ia punya masalah, ikut bahagia bila ia bahagia, Hankyung sudah melakukan itu semua selama ini. Tapi tetap saja, waktu tujuh tahun tetap tidak dapat membuat Hankyung mengerti isi hati terdalam pemuda bersuara emas itu. Bahkan setelah menjadi kekasihnya dulu, Hankyung tidak pernah benar-benar yakin, siapa yang sesungguhnya memiliki hati Kyuhyun sepenuhnya.

Mungkin itu kesalahan yang pernah diperbuatnya kepada Kyuhyun.

Hanya mendengar—

Hanya ikut simpati dan merasakan—

Hanya selalu mendukung apa yang Kyuhyun inginkan—

Hankyung tak pernah sadar, terkadang melewati batas sebagai pendengar dan menyuruh seseorang melakukan sesuatu bisa jadi adalah perbuatan yang bijak untuk menyelamatkan hidup orang lain.

Hankyung masih ingat betul saat itu, ketika pemuda menyebalkan bernama Kyuhyun itu bercerita kalau ia baru saja diputus pacarnya. Hankyung tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan, ia masih tujuh belas tahun saat itu, saat pertama kalinya Kyuhyun mengajaknya berpacaran.

Itu cukup memalukan karena Hankyung tidak pernah berpacaran sebelumnya. Dan ia menerima tawaran Kyuhyun dengan sangat mudah, semudah Kyuhyun mentraktirnya makan siang sebagai pengganti kencan romantis yang harusnya dilakukan oleh sepasang kekasih. Hubungan from friends to be lovers itu tidak berjalan baik, karena pada akhirnya keduanya sadar bahwa mereka memang lebih baik hanya menjadi teman. Tidak ada yang menyesal, karena keduanya memang masih sangat muda saat itu. Pertemanan mereka kembali dengan baik. Kehidupan keduanya juga kembali seperti semula. Tapi beberapa tahun kemudian Hankyung tahu, permainan kecil yang ia lakukan dengan Kyuhyun telah tanpa sadar hampir membuat orang lain kehilangan harapan.

Kyuhyun jarang bercerita tentang Sungmin saat mereka masih pacaran. Hankyung selalu berpikir hubungan keduanya tak lebih dari sepasang remaja yang dimabuk asmara tingkat SMA. Dan Kyuhyun memang mengiyakan seperti itu. Saat berpisah pun Hankyung tidak menangkap gelagat aneh dari orang yang sudah dianggapnya dongsaeng itu. Baru ketika beberapa bulan berlangsung Kyuhyun tak pernah lagi berbagi tentang permasalahannya, Hankyung sadar pemuda itu telah kehilangan orang yang ternyata sangat dicintainya.

Hankyung memang tidak mengenal Sungmin. Tapi Hankyung selalu tahu malam-malam dimana Kyuhyun memanggil nama Sungmin dengan lirih, tergugu dalam tangis yang ia tahan sedemikian rupa. Hankyung tahu Kyuhyun sangat menyesal dan merindukannya, melakukan tindakan bodoh dengan menunggu kedatangan Sungmin di taman yang sangat disukainya dulu, lalu kembali dengan tangan kosong di bawah hujan yang menyembunyikan air matanya. Hankyung tahu, sangat tahu, Kyuhyun benar-benar mencintai Sungmin.

Tapi lagi-lagi, ia hanya bisa duduk dan mendengarkan.

*Chapter 11: The Truth*

"Aku tidak mengerti."

Kyuhyun mengeryitkan keningnya pada pemuda Cina yang sekarang sedang menatapnya bingung.

"Apanya?" tanya Kyuhyun heran. Malam itu ia berkunjung ke apartment Hankyung dimana Heechul ternyata berada disana. Jadilah ia datang sekaligus ikut makan malam bersama.

"Kenapa kau mau-maunya menerima tawaran Leeteuk kalau itu adalah sebuah solo piano?" Pemuda itu meninggikan suaranya.

"Kupikir Hyung sudah tahu." Kyuhyun mengangkat bahunya, meneruskan acara makannya yang tertunda. Ia mengumpat pelan saat kuah ramen yang masih panas itu mengenai kulit tangannya.

"Aku kira Chullie hanya menawarimu untuk membantu sedikit," Hankyung mengulurkan serbet kecil pada Kyuhyun, "tidak kusangka malah jadi seperti ini." Ia menghela napasnya lelah, lalu menoleh pada Kyuhyun yang masih menyuapkan ramen ke mulutnya dengan sangat lahap.

"Kau masih ada ujian duet piano, Kyu. Dan bermain piano untuk malam natal bukan hal yang mudah."

Kyuhyun memutar bola matanya, "Langsung saja bilang permainan pianoku payah dan aku tidak ada waktu untuk itu." Mulut pedasnya memang tidak bisa dikontrol.

"Aku sudah bilang setuju pada Leeteuk sunbae. Mau ditaruh dimana mukaku kalau aku membatalkannya?"

Sebenarnya Hankyung ingin berkata seharusnya Kyuhyun lebih mencemaskan untuk menaruh mukanya dimana jika pertunjukkannya gagal nanti, tapi ditahannya.

"Berhentilah bersikap berlebihan, Hannie. Kyuhyun juga berhak mendapat kesempatan untuk menunjukkan bakatnya."

Heechul datang membawa sepanci jjangmyeon dari dapur. Aromanya langsung menjerat hidung Hankyung yang memang sudah kelaparan dari tadi. Ia beranjak membantu Heechul membawakan panci tadi sembari menggumamkan terima kasih kecil dengan mesra.

"Bukannya tidak mau memberi Kyuhyun kesempatan, tapi kita juga harus memperhatikan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, Chullie-ah..." Hankyung memulai percakapan lagi.

"Ckck, kau hanya melihatnya dari sisi Kyuhyun. Aku percaya kok Leeteuk bisa membimbing Kyuhyun dengan baik. Dia sudah tahu kalau Kyuhyun tidak bisa bermain piano, paling-paling dia meminta Kyuhyun untuk bernyanyi." Heechul menanggapi ucapan kekasihnya itu dengan santai lalu ikut duduk di meja makan bersama Kyuhyun dan Hankyung.

"Kalau Kyuhyun memang ingin bernyanyi aku bisa memintanya bernyanyi di gereja dekat asramanya sendiri. Kenapa harus melibatkan Leeteuk?" Hankyung mendebat lagi.

Heechul tampak gusar dengan kekhawatiran kekasihnya yang berlebihan itu. Dengan tegas ia berkata, "Dengar, Hannie. Kita berdua harus berhenti mencemaskan Kyuhyun seolah-olah kita adalah orang tuanya. Kyuhyun berhak membuat pilihannya sendiri. Aku yakin Leeteuk akan menjaga Kyuhyun dengan baik, jadi jangan membantah lagi, ne?"

Kyuhyun hanya melongo. Terjebak dalam situasi panas sepasang kekasih dimana satu pihak lebih powerfull dan cerewet seperti Heechul memang tidak mengenakkan.

Biasanya jika sudah begini Hankyung akan lebih memilih untuk mengalah. Tapi sekarang ia sudah memutuskan, ia tidak akan membuat Kyuhyun terlibat terlalu jauh. Ia tidak ingin hanya duduk dan mendengarkan, lalu membiarkan seseorang melakukan kesalahan lebih jauh lagi.

"Leeteuk mengenal Sungmin," celetuknya pelan. Kyuhyun dan Heechul menoleh dengan ekspresi yang berbeda.

"Memang," timpal Heechul santai. Diliriknya Kyuhyun, "kau juga sudah tahu itu kan, Kyuhyun?"

Keduanya melihat Kyuhyun yang menggeleng dengan sangat pelan. Heechul memperhatikan perubahan di wajah Kyuhyun yang sekarang muram itu.

"Kenapa?" tanyanya pelan.

Kyuhyun mengangkat wajahnya.

"Sedekat apa? Sedekat apa hubungan Sungmin dengan Leeteuk?" Ia tak habis pikir dengan semua hal yang menimpanya sekarang. Bertemu orang-orang yang ternyata sangat berhubungan dengan apa yang ia cari dengan penuh kebetulan. Kebetulan yang beruntun, yang seolah-olah mengisyaratkan sesuatu yang masih samar-samar.

"Oh, kukira kenapa," Heechul yang tidak mengerti hubungan antar Kyuhyun dan Sungmin di masa lalu kembali terfokus pada makanan di depannya, "kukira sudah sangat dekat. Pertama kali ia mengenalkan Sungmin padaku, ia bilang Sungmin adalah adik jauhnya."

Kyuhyun menoleh tegang pada Hankyung yang tak bereaksi. Sekarang ia tahu kenapa Hankyung melarangnya.

Dulu tujuan Kyuhyun hanya untuk mendekati Sungmin dan membawa pemuda itu kembali padanya. Tapi yang terjadi sekarang—

Kebetulan sekali.

Hankyung mengenal Ryeowook, yang ternyata adalah kekasih Sungmin.

Ia ditempatkan di asrama yang sekamar dengan Yesung, yang ternyata memendam cinta pada Ryeowook.

Ia bertemu Leeteuk, yang ternyata orang dekat Sungmin.

Heechul ternyata teman dekat Leeteuk, yang ternyata juga mengenal Sungmin.

Selama ini Sungmin mengenal kekasih dari Hankyung, orang yang pernah menjadi kekasih Kyuhyun.

Selama ini kehidupan Sungmin ternyata masih berhubungan dengan kehidupan Kyuhyun.

Apa maksudnya semua ini? Apa benar ini adalah takdir yang ia percayai? Kyuhyun selalu percaya pada takdir dan tidak percaya dengan hal yang hanya kebetulan semata. Tapi kebetulan beruntun seperti ini bisa jadi adalah awal sebuah bencana...

-x-

Pagi hari, di Akademi Musik

Kyuhyun melangkahkan kakinya cepat-cepat menuju Divisi Biola dimana Hankyung masih belajar. Hari ini Hankyung bebas dari latihan dan pra ujian, ia sudah memberi sms pada Kyuhyun untuk menemuinya di perpustakaan musik Divisi Biola. Tanpa disuruh oleh Hankyung pun Kyuhyun sudah pasti akan meminta penjelasan lebih pada Hankyung tentang ucapan Heechul semalam. Ia harus tahu apa yang sedang terjadi. Ia harus tahu dan memastikan Sungmin tidak akan tersakiti olehnya lagi.

"Cho Kyuhyun."

Kyuhyun menoleh. Seorang pemuda dengan biola di tangan menatapnya angkuh.

"Ryeowook-sshi." Kyuhyun menatapnya datar, tidak ingin membalas sikap dingin yang yang diberikan Ryeowook kepadanya. Ia punya urusan yang lebih penting daripada mengurusi ini.

"Aku bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh anak divisi piano di tempat seperti ini."

Ryeowook tersenyum misterius sembari mengitarkan pandangannya, seolah-olah menegaskan gedung biola dimana Kyuhyun berdiri tidak pantas bagi siswa divisi piano seperti dirinya.

"Aku hanya mencari dimana perpustakaan musik berada. Kau bisa memberitahuku?" Kyuhyun mencoba bersikap ramah.

Ryeowook terdiam sejenak, lalu menjawab, "Dari tangga ke lantai tiga lalu belok ke kiri, tempat paling pojok." Ia tersenyum kecil.

"Ah, terima kasih. Kalau begitu aku pergi sekarang." Ia baru saja akan berbalik ketika Ryeowook memanggilnya lagi.

"Kyuhyun-sshi."

Kyuhyun menoleh, keningnya sedikit mengerut, "Ya?"

"Lusa adalah pertunjukkan duet kalian. Sungminnie sudah berusaha keras untuk mencapai ini."

Kyuhyun tidak mengerti apa maksud Ryeowook mengatakan itu. Ia menunggu hingga Ryeowook melanjutkan.

"Sungminnie sudah terbiasa menjadi terbaik. Kuharap kau mengerti," Ryeowook mengangkat wajahnya dengan anggun, lalu melanjutkan, "dan tidak mempermalukannya nanti." Pemuda mungil itu menyunggingkan senyumnya lagi, lalu berbalik meninggalkan Kyuhyun yang membisu.

.

Kyuhyun menyusuri lantai tiga Divisi Biola dengan tersaruk-saruk. Tubuhnya terasa lemas mengingat ucapan Ryeowook tadi. Dua hari lagi menuju pertunjukkan, dan ia masih tidak yakin dengan kemampuannya sendiri. Ia dan Sungmin memang sudah berusaha sangat keras, tapi siapa yang akan tahu hasilnya besok. Memikirkan bagaimana bermain piano di atas panggung saja sudah membuatnya mual.

Kyuhyun memasuki perpustakaan musik dengan gurat wajah lelah. Matanya berkeliaran mencari sosok Hankyung ke segala penuju. Ia menemukannya. Hankyung sedang duduk di bangku kecil, tampak serius mendengarkan musik dari headset-nya. Kyuhyun mendekatinya.

"Hankyung hyung." Kyuhyun menepuk pundak Hankyung pelan dari belakang. Hankyung refleks menoleh, ia mendesah lega karena ternyata itu adalah Kyuhyun. Dilepaskannya headset yang masih menempel di telinganya tadi.

"Hyung, ada yang ingin kutanyakan," ujar Kyuhyun pelan. Belum sempat Kyuhyun berkata lagi Hankyung sudah berdiri dan menarik pemuda itu keluar ruangan.

"Kita mau kemana?" tanya Kyuhyun heran tangannya ditarik-tarik Hankyung.

"Ikuti saja," jawab pemuda Chinese itu sekenanya.

Kyuhyun mendengus sebal ketika Hankyung mengajaknya turun ke lantai satu.

"Hyung memintaku naik ke lantai tiga hanya untuk turun kembali ke lantai satu?" gerutunya.

Tapi Hankyung tetap tak terpengaruh, ia baru kembali menatap Kyuhyun saat mereka sudah sampai disini.

Di Ruang Reherseal dari Divisi Orchestra.

"Jangan bertanya dulu," potong Hankyung sebelum Kyuhyun bahkan mau membuka mulutnya, "Diam dan ikuti saja, oke?" Hankyung membimbing Kyuhyun memasuki ruangan tersebut.

Ruang itu tampak gelap. Hanya ada sinar dari teralis jendela yang cahayanya jatuh ke tengah panggung dan menimbulkan efek sepi. Kursi-kursi penonton tampak kosong, beberapa instrument orchestra yang diletakkan di samping panggung tampak banyak sekali, namun tak seorang pun ada disana kecuali mereka berdua. Dan satu pemuda yang tampak serius di pinggir kursi penonton paling depan.

Suara sepatu dari keduanya bergema di ruangan. Keduanya berjalan menuju pemuda yang masih serius dengan pekerjaannya, tampak tidak peduli dengan kedatangan mereka.

"Leeteuk sunbae."

Kyuhyun tercengang ketika Hankyung memanggil nama itu. Dilihatnya orang itu menoleh dan berdiri—

"Ya?"

Itu memang Leeteuk.

Hankyung mengajak Kyuhyun mendekat, lalu berkata pelan pada Leeteuk yang menatap mereka hati-hati.

"Aku yakin kau belum lupa siapa diriku, sunbae."

Leeteuk mundur selangkah melihat kedatangan Hankyung dan Kyuhyun yang tiba-tiba. Ia menyusun kalimatnya dengan sangat hati-hati,

"Apa yang kau inginkan, Hankyung-sshi?"

Hankyung tersenyum. Ia menarik Kyuhyun ke hadapan Leeteuk. Lalu kembali menatap pemuda itu dengan senyumnya yang misterius. Senyum yang menyimpan suatu rahasia yang hanya diketahui mereka berdua...

"Apa kabar Lee Hyukjae baik-baik saja?"

Leeteuk tampak terkejut dengan pertanyaan dadakan itu. Sementara Kyuhyun menatap keduanya dengan penuh ketidak mengertian.

"Apapun yang kau rencanakan, lebih baik hentikan sekarang juga, sunbae. Kau tahu Kyuhyun sudah hampir berhasil sekarang." Kata-kata Hankyung terdengar sangat tajam, memojokkan pemuda conductor kebanggaan Akademi tadi.

Tapi bagaimanapun Leeteuk adalah refleksi Sungmin yang mampu menutupi perasaannya dengan sangat mudah.

"Jangan bercanda," ia tersenyum kecil, memperlihatkan lesung pipitnya yang amat manis.

"Jangan bermain-main lagi," Hankyung mendesis geram, "kau tahu akan banyak pihak yang tersakiti nanti." Ia menoleh pada Kyuhyun, lalu kembali menatap Leeteuk tajam.

"Tidak hanya dia," Ia menunjuk pada Kyuhyun yang masih bungkam, "tapi Sungmin dan Ryeowook, semuanya akan ikut terluka."

-X-

Suasana ruang galeri musik bercat dominan biru itu tampak lenggang. Beberapa anak baru saja keluar dari situ untuk kembali ke kelas atau ruang latihan, beberapa malah sudah selesai dengan pelajaran hari ini dan berbondong-bondong menuju kantin untuk makan siang. Yang tertinggal hanyalah seorang pemuda mungil yang masih memegang biolanya dengan sayu, tampak memikirkan sesuatu.

"Tidak makan siang?" sebuah suara menyeruak dari keheningan.

Pemuda itu menoleh pada sumber suara lalu kembali menunduk. Ia menjawab lirih, "Aku tidak lapar..."

"Kulihat kau belum makan dari tadi pagi. Kau bisa sakit kalau terus begitu. Makanlah sesuatu, Wookie-ah."

Ryeowook tidak menyahut. Yesung, pemuda yang sedari tadi membujuknya itu pun akhirnya menghela napas pelan.

"Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Yesung lagi. Ia ikut duduk di samping Ryeowook, pandangannya tertuju pada biola yang masih dipeluk Ryeowook erat-erat.

" Bukan apa-apa..." Meski begitu wajah Ryeowook tampak gundah. Tanpa sadar ia meremas-remas ujung kemejanya.

Yesung menatapnya dalam-dalam, "Jangan samakan aku dengan pacarmu yang tidak bisa membaca sedikitpun ekspresi kegelisahan di matamu itu, Wookie-ah. Aku tahu betul kau sedang memendam sesuatu."

Kelopak mata Ryeowook melebar mendengar ucapan yang dilontarkan Yesung dengan sedikit ketus itu. Ia mengerutkan keningnya. "Apapun yang kupendam... Itu adalah urusanku..."

"Kau selalu begitu." Yesung menarik napas lelah, lalu memutar pandangannya ke arah lain.

"Selalu tidak mau berbagi dengan siapapun, selalu hanya bersama Sungmin dan Sungmin. Apa kau pikir dunia ini hanya milik kalian berdua? Apa menurutmu aku bukan siapa-siapa?"

Meski diucapkan dengan datar, Ryeowook tahu Yesung mengatakan itu semua dengan sangat kesal.

"Hanya karena Sungmin itu kekasihmu, bukan berarti tidak ada orang lain lagi di dunia ini yang peduli padamu."

Ryeowook mendongakkan wajahnya. Butuh beberapa detik baginya untuk menanggapi ucapan penuh tuduhan dari Yesung tadi.

"Hyung ingat hari itu, ketika badai menyerang Seoul di malam hari dan hujan sangat lebat menahanku keluar dari Akademi?" Bola matanya menggelap saat mengatakan itu. Yesung hanya menunduk mendengarkan.

"Aku melihat kekasihku sendiri berlatih hingga malam dengan seorang pemuda yang bahkan belum bisa memainkan gerakan pertama dari sebuah komposisi dengan benar, mencemaskan pemuda itu, bahkan mengantarkannya pulang dengan mobilnya sendiri.

"Bayangkan Hyung berada di posisiku. Melihat kekasihmu sendiri bersama orang lain, kekasihmu yang selama ini sangat hati-hati menjaga jarak dengan orang lain kini malah akrab dengan orang asing yang baru saja dikenalnya, mengkhawatirkannya."

Yesung melihat bola mata Ryeowook berkilat sedih.

"Aku mengerti—"

"Itu belum apa-apa," Ryeowook memotong. Suaranya meninggi, "Hyung lihat sekarang? Sungmin, Sungmin-ku yang selama ini tidak pernah peduli pada orang lain, tidak pernah menunjukkan raut bahagianya dengan sangat jelas, kini sangat mudah mengekspresikan kegembiraan itu dengan baik. Sungmin yang selama ini dingin kini mulai melebur dengan dunia yang selama ini ia pandang sebelah mata. Mungkin Hyung belum menyadarinya, tapi aku tahu.

"Aku tahu pasti... Perlahan ia mulai berubah... Hanya karena seorang pemuda ia berubah seperti itu. Pemuda yang bahkan tidak layak berada di tempat seperti ini! Apa aku harus senang? Apa aku harus ikut senang melihat kekasihku bahagia jika kebahagiaannya itu bukan karenaku?"

Airmata mulai menggenang di wajah manis itu. Hanya dengan menatapnya, Yesung ikut merasakan perih yang Ryeowook rasakan kini.

"Aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja? Diam dan membiarkan kekasihku direbut oleh orang lain? Diam dan membiarkan orang yang kucintai meninggalkanku begitu saja?"

Yesung ingin sekali memeluknya, tapi kali ini bukan hanya Ryeowook yang merasa terluka. Ia juga ikut terluka. Karena apa yang dikatakan Ryeowook barusan, benar-benar sesuai dengan apa yang ia lakukan: diam dan membiarkan orang yang dicintainya meninggalkannya begitu saja.

"Apa aku yang egois jika aku ingin mempertahankan apa yang kumiliki? Apa aku jahat bila aku berusaha menyingkirkan pengganggu di antara kami?"

Yesung menoleh, ditatapnya wajah orang yang sangat disayangnya dengan lembut.

"Kyuhyun tidak melakukan apa-apa..."

Ryeowook mengalihkan pandangannya dengan sedikit sinis.

"Melakukan atau tidak, faktanya dia sudah mengganggu hubungan kami! Aku memang belum melihat dia mencoba menggoda kekasihku, tapi apa aku harus menunggu itu terjadi?"

"Jangan bertindak berlebihan, Wookie-ah. Jangan keterlaluan—"

"Hyung seolah-olah mengatakan kalau aku ini orang jahat saja!" Ryeowook berdiri dan menatapnya marah.

"Aku hanya ingin mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku! Apa itu juga tidak boleh? Aku ini juga manusia, aku juga punya perasaan. Atau hyung memang lebih membela bocah itu daripada aku? Terus saja semuanya begitu. Kemarin Sungmin, sekarang Hyung yang datang untuk membelanya. Lalu siapa yang aku punya? Apa merebut kekasih orang lain memang lebih mulia dibandingkan mempertahankan kekasihnya dengan cara apapun?"

Tangis Ryeowook pecah. Pemuda itu jatuh tertunduk, lututnya bersentuhan dengan lantai marmer yang dingin. Hangat airmata merembes di kedua pipinya, semakin menegaskan bahwa ia memang pihak yang paling terluka.

Yesung memeluknya. Airmata Ryeowook itu jatuh di bahunya, membasahi kemejanya.

"Aku mengerti perasaanmu..." Dielusnya rambut pirang pemuda yang amat disayanginya.

"Bantu aku kalau begitu... Bantu aku menyingkirkan bocah itu dari kehidupan kami..." Airmatanya meluncur makin deras, menenggelamkannya dalam perih yang amat jelas.

Yesung menelan ludah, tak sanggup menjawab lagi. Dalam hening ia mengangguk pelan.

-X-

"Jadi maksudnya, dari awal Leeteuk sunbae memang sudah mengenalku?"

Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya pada salah satu kursi disana. Semua kenyataan yang tiba-tiba ini benar-benar membuatnya pening. Kenyataan bahwa Leeteuk tidak hanya mengenal Sungmin, melainkan telah menjadi orang Sungmin luar-dalam, satu-satunya kunci menuju ingatan masa lalu Sungmin, sekaligus kunci yang mengantarkan Sungmin pada kehidupannya yang berubah drastis seperti sekarang.

"Leeteuk bahkan mengetahui asal usulmu."Hankyung mendengus sarkastis, ditatapnya Leeteuk yang masih tidak bergeming.

"Kau terlalu berani, Hankyung-sshi..." Leeteuk membuka suaranya setelah lama terdiam.

"Setelah memberitahu Kyuhyun semua ini, kau telah memberinya akses untuk menyakiti orang lain lebih jauh lagi."

"Kenapa sunbae tidak mengaku saja kalau sunbae mengenalku sebagai mantan kekasih Sungmin?" Kyuhyun bertanya lirih, wajahnya terlihat pucat dan miris.

"Untuk memastikan kau tetap tidak merusak segala yang direncanakannya lebih jauh lagi." Itu Hankyung yang menjawab. Ia menoleh tajam pada Leeteuk lagi, "benar begitu kan, Leeteuk sunbae?"

Leeteuk tak menarik napasnya dalam-dalam.

"Mata dan telingamu memang terlalu jeli, Hankyung-sshi..."

Tidak ada yang membalas, Kyuhyun dan Hankyung sama-sama menahan napas untuk mendengarkan pengakuan orang luar-dalam Sungmin itu.

"Aku memang menemukan Sungmin. Aku yang membentuknya menjadi seperti sekarang. Aku juga yang memperkenalkannya pada Ryeowook, dan membuat keduanya menjadi sepasang kekasih seperti sekarang. Tapi pernah sekali Sungmin meminta satu hal padaku, satu-satunya hal yang membuatku tercengang dan sadar, bahwa ia tidak seratus persen berubah... Belum sepenuhnya berubah.

"Ia memintaku menyewa Hyukjae untuk memata-mataimu, Kyuhyun-sshi. Ya, ia sendiri yang memintaku, karena ia begitu ingin tahu tentang keberadaanmu. Itu dua tahun lalu, saat ia baru saja menjadi kekasih seorang Kim Ryeowook."

"Tapi sebulan kemudian Sungmin memintaku berhenti untuk menyewa Hyukjae lagi. Kupikir itu berarti sesuatu, kupikir ia sudah sepenuhnya berubah." Leeteuk menoleh pada Kyuhyun. Matanya menatap Kyuhyun tajam, membuat Kyuhyun entah kenapa merasa berslah.

"Tapi kau datang. Kau datang dan merusak segala rencana yang kubuat untuk membuat Sungmin dan Ryeowook bahagia. Kau merusak segalanya begitu saja, bahkan tanpa melakukan apa-apa."

Napas Kyuhyun tercekat, dialihkannya pandangan pada Hankyung yang juga menunggu ucapan Leeteuk.

"Aku benar-benar minta maaf, tapi aku tidak bisa membuatmu menyakiti Sungmin kami lebih dalam lagi."

"Kau salah, Sunbae." Untuk pertama kalinya Hankyung ikut membuka suara.

Leeteuk menoleh, ia menaikkan alisnya bingung.

"Kalau yang kau maksud dengan membuat Sungmin bahagia adalah dengan membuatnya terjebak cinta dengan Kim Ryeowook, kau salah besar."

Leeteuk menelan ludahnya.

Hankyung meneruskan, "Hanya mengenal Ryeowook beberapa hari saja aku sudah tersadar akan sesuatu. Bukan Ryeowook yang membutuhkan Sungmin, bukan Ryeowook yang menjadi tanggung jawab Sungmin. Melainkan kebutuhan Sungmin sendiri yang mengikatnya dalam hubungan itu. Mereka pikir itu cinta, tapi bukan. Itu hanya ketakutan Sungmin, itu hanya caranya untuk berlindung dibalik kenyamanan. Sungmin hanya takut terluka, dan kasih sayang Ryeowook lah yang melindunginya. Bukan Ryeowook yang membutuhkan hubungan itu, melainkan Sungmin sendiri.

"Keduanya hanya berdiam dalam keheningan sakit masing-masing. Keduanya pikir itu cinta, nyatanya, mereka tak lebih dari saling menjilat luka. Keduanya saling membutuhkan bukan karena perasaan, tapi karena sudah terlanjur nyaman dengan keadaan itu.

"Kau telah melakukan kesalahan besar karena salah mengerti, Sunbae. Tapi sekarang kita tidak bisa membuat semua ini berhenti, karena Kyuhyun memilih datang ke Akademi ini dan menyelesaikan semuanya. Pada akhirnya kita tidak bisa melakukan apapun. Semua ini akan menjadi tanggung jawab Kyuhyun, Sungmin dan Ryeowook. Bagaimana cara mereka menyelesaikan semuanya, ini bukan tentang siapa yang akan bersama. Pilihan Kyuhyun telah membuat kita tidak bisa membantu, kita hanya bisa menunggu siapa yang pada akhirnya terluka."

Pedih yang berdenyut-denyut menguasai seluruh sendi Kyuhyun mendengar kenyataan itu. Matanya berkunang-kunang dan kepalanya sangat pening. Tapi ia malah berdiri. Samar ia mendengar Hankyung bertanya apakah ia baik-baik saja lalu memegang lengannya. Tapi Kyuhyun malah menjauhi tempat itu. Entah kekuatan apa yang membuatnya sanggup berlari seperti itu, yang ia tahu hanya, ia harus menemukan Sungmin secepatnya.

Hankyung melihat punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Ia ingin mencegahnya sebelum pemuda itu kenapa-kenapa, tapi lengan Leeteuk menahannya. Hankyung memandang Leeteuk tak mengerti.

"Biarkan saja," sahut pemuda conductor itu lirih.

"Kupikir kau benar. Aku tidak tahu apa itu bahagia yang sesungguhnya. Kupikir selama ini aku bertindak benar dengan membiarkan Sungmin tetap dalam perlindunganku yang aman. Ternyata aku telah melakukan kesalahan fatal dengan membentuknya menjadi seperti sekarang."

Hankyung mendesah lega mendengar ucapan Leeteuk. Ditepuknya bahu Leeteuk pelan, memberinya sedikit semangat.

"Tidak apa, manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Kalau selamanya benar dan baik itu bukan manusia namanya. Aku juga pernah melakukan kesalahan dengan hanya duduk dan mendengarkan tanpa mengusahakan apapun. Yang terpenting adalah, kita mau menyadari kesalahan itu dan memperbaikinya sedini mungkin."

Ia tersenyum hangat, membuat Leeteuk mau tak mau tertular oleh semangatnya.

Leeteuk berceletuk pelan, "Aku masih penasaran bagaimana kau bisa tahu semuanya."

Hankyung tersenyum dikulum mendengar pernyataan Leeteuk. Ia mengalihkan pandangannya pintu keluar dari ruang reherseal itu.

"Hanya butuh sedikit keobjektifan dalam melihat sesuatu, dan sensitivitas untuk mengaburkan asumsi di sekitarmu. Sisanya, tergantung pada keberanian untuk mau membantu orang lain keluar dari jaring-jaring permasalahan yang dibuatnya sendiri, atau tidak."

-X-

Kyuhyun menapaki lantai-lantai marmer dari Divisi Piano itu dengan serampangan. Sudah beberapa kali ia menabrak orang menuju tempat itu, tempat dimana Sungmin dan dirinya selalu bertemu untuk latihan selama hampir satu bulan sekarang. Baru kali ini ia merasa jarak dari gedung divisi orchestra dengan divisi piano sangat jauh. Setiap detik yang dilaluinya begitu menyiksa, membuat tubuhnya terasa panas oleh sengatan luka yang memenuhi tiap sudut hatinya. Tapi itu tidak penting lagi. Karena satu-satunya yang ia butuhkan sekarang adalah kejujuran dari bibir Sungmin sekarang, kejujuran yang mampu membuatnya yakin bahwa apa yang ia dengar barusan memanglah kenyataan. Bahwa selama ini Sungmin ternyata masih peduli padanya...

Kyuhyun membuka pintu ruang latihan itu dengan keras. Dilihatnya pemuda yang sangat dicintainya itu sudah berada disana.

"Darimana saja kau, Cho Kyuhyun? Dua hari lagi kita ujian dan kau malah terlambat setengah jam untuk latihan?"

Rasa haru itu meledak dalam dadanya. Hyung-nya menunggunya... Padahal sebelumnya Sungmin bahkan mengancamnya jika ia terlambat lima menit saja, tapi sekarang Sungmin malah menunggunya lebih dari setengah jam...

Ia memasuki ruangan itu dengan sangat pelan.

"Selama ini kau mengkhawatirku."

Ada hening yang terasa amat jelas setelah Kyuhyun mengucapkan kalimat itu.

"Aku benar, makanya Hyung tak menjawab? Iya kan?"

Sungmin mendengus sarkastis.

"Kau mengoceh seperti bayi, Cho Kyuhyun."

"Aku tidak akan berhenti sebelum kau menjawab pertanyaanku, Hyung."

Sungmin tak menjawab, sedikit tak percaya dengan ancaman Kyuhyun ia tersenyum merendahkan.

"Aku bahkan tidak peduli kau mati atau tidak, Cho Kyuhyun."

"Aku tahu Hyung bohong." Kyuhyun terus mendesaknya. Ia mendekati Sungmin yang tampak kesal. Tapi Kyuhyun tidak peduli. Ia memang sudah merasa harus menyerah kemarin dan membiarkan semuanya berjalan semestinya tanpa usahanya lagi. Tapi bagaimana ia bisa tidak melakukan apa-apa jika kenyataan itu sekarang sudah terpampang di depannya dengan begitu jelas?

"Aku merindukanmu, Hyung... Aku merindukan saat-saat dimana kau mengkhawatirkanku... Aku suka itu, Hyung..."

Sungmin masih tak berkata sedikitpun. Ia malah berbalik, membiarkan Kyuhyun tersiksa oleh rasa ingin tahunya lebih lama.

"Minnie-ah, jawab aku!"

"Diamlah, Cho Kyuhyun! Dan panggil namaku dengan benar!"

Sungmin menoleh nyalang, membuat pemuda yang lebih muda itu untuk sejenak merasa ngeri.

Tapi Kyuhyun tidak mau menyerah kali ini. Dengan suara yang tak kalah lantang ia berkata,

"Kalau kau tidak mengkhawatirkanku, mengapa kau meminta Eunhyuk hyung untuk selalu mengawasiku? !"

Diam.

Hanya diam yang yang bisa Sungmin berikan. Kebisuan yang lama-lama membuat Kyuhyun semakin gila.

Kyuhyun meraih bahu Sungmin dengan kasar.

"Jawab, Minnie!" Matanya memerah, berkas airmata tampak terlihat disana.

Sungmin tersenyum penuh arogansi.

"Bagaimana kau bisa sepercaya diri itu, Cho Kyuhyun?" Disingkirkannya tangan Kyuhyun dari bahunya dengan ekspresi benci, lalu melanjutkan, "Tak pernahkah terpikir olehmu, betapa aku begitu membencimu?"

"Hyung..."

Sungmin menyeringai sinis.

"Tak pernahkah? Lima tahun berlalu tapi kau tak berubah sedikitpun... Dangkal. Kau pikir untuk apa aku meminta Hyukjae memata-mataimu kalau bukan untuk memastikan bahwa kau menderita?

"Untuk memastikan bahwa kau memang pria bangsat yang masih menjalin hubungan dengan Hankyung, bahkan saat kau sepenuhnya sadar telah menyakiti orang lain?"

"Hyung, kau salah pa—"

"Ya, terimakasih untukmu. Beruntung aku tahu kau memang pria brengsek."

"Hyung, kau salah paham..."

Kyuhyun menatap Sungmin dengan penuh kepedihan. Luka yang menganga itu terlihat di setiap inci gerak yang dibuatnya. Tapi Sungmin bahkan tidak sudi peduli.

"Katakan itu pada Minnie masa lalumu. Sekarang jika kau tidak keberatan, berhentilah mengoceh dan mulai berlatih seperti seorang profesional."

Sungmin beranjak menjauhinya, mendekati salah satu grand piano disana. Mudah sekali baginya mengontrol emosi, tidak seperti Kyuhyun sekarang.

Tapi bagaimanapun Kyuhyun akan mengerti.

Dan menunggu, Kyuhyun akan terus menunggu.

Kakinya tersaruk-saruk menuju satu grand piano di samping Sungmin, memulai latihan seperti biasa.

TBC~

Author's Note:

Terimakasih untuk kalian semua yang telah mereview chapter 7-10, omg I was too excited even to say thanks, sorry!

Maaf lagi-lagi gak bisa bales review karena udah terlanjur numpuk #ditabok

Tapi percayalah, saya selalu membaca semua saran, kritik, pertanyaan, curhatan dll, serta berusaha mewujudkan apa yang kalian inginkan di FF ini. Karena bagi saya readers adalah oksigen dan tanpa readers saya bagaikan cangkang yang kosong, seriously :')

Semoga chapter ini menjawab semua pertanyaan kalian ya, dan semoga tidak mengecewakan

Dan whoaa. Emosi begitu tak terkontrol saat membuat chapter ini! Sepertinya ini chapter penghabisan untuk menjelaskan beberapa plot holes yang saya sebar di chapter-chapter sebelumnya. Entah kenapa saya benar-benar sedih saat membuat part curhatan Ryeowook ke Yesung.

Sekarang saya ingin dengar pendapat kalian aja, menurut kalian siapa yang paling menderita di cerita ini?

Apakah Kyuhyun yang begitu dibenci Sungmin dan dipandang sebelah mata? Apakah Sungmin yang masa lalunya begitu menderita hingga membuatnya seperti sekarang? Apakah Ryeowook yang tidak tahu apa-apa tapi terjebak dalam masalah rumit yang membuatnya harus mati-matian mempertahankan hubungannya? Atau malah Yesung, orang luar yang tidak tahu apa-apa, yang selalu berusaha menjadi orang pertama untuk Ryeowook menumpahkan kesedihannya, namun apa yang ia lihat dan ia dengar sudah cukup menyakiti perasaan yang sudah dipendamnya bertahun-tahun, dan tetap saja harus berusaha menempatkan dirinya sebagai kakak yang baik-tidak lebih-bagi Ryeowook?

Kebenaran mulai terungkap... Tapi bukan berarti jalan menuju apa yang diinginkan Kyuhyun lebih mudah. Kebahagiaan itu hak semua orang, tapi siapakah yang paling mampu bertahan dari luka yang ditorehkan dan bangkit untuk meraih kebahagiaan? Siapa yang paling banyak belajar?

Semuanya akan terungkap di chapter depan...

Tapi sebelumnya, review dulu ok?