Untuk kamu, ya, itu kamu, Rain Lover-ku, maafkan kesalahanku. Mari kita tumbuh bersama.
.
.
.
.
.
.
*Chapter 12: Sonata for Two Pianos*
Sayup-sayup biola yang lahir dari ruangan itu tampak damai dan tenang. Tiap nada yang dihasilkannya begitu merdu dan menggelitik telinga tiap pendengarnya untuk mencapainya, mencapai tingkat keindahan tertinggi dari sebuah maha karya dalam tempo lambat itu. Swan Lake dari Tchaikovsky, yang semula adalah sebuah partitur orchestra kini digubah dengan jenius menjadi sebuah permainan biola yang dimainkannya sendiri. Lagu yang sering dimainkan sebagai musik latar dalam permainan balet itu kini menjadi latar dari suasana hatinya sekarang. Harum musiknya seolah menceritakan sebuah pertunjukan kecil dari peri-peri hutan yang berkeliaran kesana-kemari, bagaimana dedaunan pohon yang bergemersik dan kecipak air danau yang jernih menciptakan sebuah musik alam yang menyatu dalam harmoni. Ekspresif dan dinamis. Penuh cinta dan kelembutan. Tak ada lelah, hanya ada keriangan kecil yang tersimpan abadi, keriangan yang terlukis dari permainan magis seorang pemuda dengan biolanya itu sekarang.
Tepuk tangan terdengar saat Swan Lake for Solo Violin itu selesai. Pemuda itu menunduk dan tersenyum kecil, mengenang sedikit keriangan yang tersisa dari permainan tadi.
"Keren sekali," pemuda lain berambut hitam yang bertepuk tangan tadi tersenyum senang, tampak sangat puas.
"Tampaknya sindrom itu berangsur-angsur menghilang."
Ryeowook, pemuda yang baru saja bermain biola itu mencopot sarung tangan hangat yang sedari tadi dipakainya. Ujung bibirnya melengkungkan sedikit senyum atas ucapan Hankyung tadi.
"Sudah hampir seminggu tidak datang," ujarnya pelan, "Dokter bilang aku harus sebisa mungkin menghindari stress dan udara dingin agar gejala ini tidak muncul lagi. Selebihnya kurasa tidak ada pantangan lain. Setidaknya belum."
Hankyung mengangguk. Tepat setelah itu ponselnya bergetar.
"Sebentar," kata Hankyung pada Ryeowook. Ia berbalik dan merogoh saku jeans-nya, mengangkat panggilan yang ternyata dari Kyuhyun itu.
"Ah, Kyuhyunnie."
Ryeowook sedikit menoleh ketika Hankyung memanggil nama Kyuhyun.
"Aku masih di Akademi. Ah iya, aku pasti datang."
Kening Ryeowook mengernyit pelan mendengarkan ucapan Hankyung, berusaha menerka apa yang sedang pemuda itu bicarakan dengan Kyuhyun di telepon. Beberapa saat kemudian ia merasa bodoh sudah tertarik pada hal yang konyol. Mengurusi masalah orang lain, seperti bukan dirinya saja. Ia berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain, tapi rasa penasarannya membuatnya terus ingin mendengar percakapan itu.
"Iya, iya. Aku akan datang bersama Chullie. Zhoumi, Henry dan Yesung juga akan nonton." Hankyung terkekeh pelan.
"Sudah ya, aku masih ada urusan. Beristirahatlah, jangan terlalu keras pada dirimu." Pemuda itu tersenyum lembut. Sekali lihat saja Ryeowook tahu, Hankyung sangat dekat dengan pemuda bernama Cho Kyuhyun itu.
"Iya, iya. Semoga berhasil untuk pertunjukkan besok. Yasudah, annyeong Kyuhyun-ah." Setelah itu Hankyung menutup flip ponselnya pelan, lalu tersenyum pada Ryeowook yang masih diam.
"Besok kau juga menonton pertunjukkan duet Sungmin, kan?"
Ryeowook mengangguk kecil. Dielusnya leher biola yang sedang dipegangnya, lalu menatap Hankyung lekat-lekat.
"Sebenarnya aku juga akan bermain di penutupan festival besok..." akunya sedikit lirih.
Pemuda Cina itu berhenti tersenyum. Ruang latihan dimana mereka berada tampak kosong dan hening. Dengan hati-hati ia mendekati Ryeowook dan ikut duduk di depannya, saling berhadapan.
"Kenapa?"
Ryeowook menggigit ujung bibirnya, sedikit gelisah dengan apa yang berkecamuk di pikirannya.
"Banyak hal di sekelilingku berubah..." Ia berhenti sejenak hanya untuk menghela napas pelan, lalu kembali menyusun kata-katanya.
"Aku melihat banyak pertunjukkan di festival. Pemain-pemain hebat bermunculan. Jika tetap terpaku pada hal lama dan tidak berani membuat gerakan baru, aku tidak akan berubah. Aku tetaplah aku yang lama, yang tidak akan berkembang. Dan aku telah memilih untuk tidak kalah. Sudah saatnya aku kembali dan meraih apa yang seharusnya kumiliki." Ada sedikit getar keraguan dalam suaranya, tapi ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Oh," ujar Hankyung setelah sekian lama. Ia sedikit berpikir sebelum bertanya lagi, "Baguslah. Apa itu di malam setelah ujian Sungmin selesai?"
"Ya, Yesung hyung yang membantuku bicara dengan penyelenggara festival untuk memperbolehkanku main." Ryeowook sendiri tidak menyangka akan menjawab secepat itu, seolah-olah kalimat itu sudah tersusun baik dalam skenario di kepalanya.
"Dengan lagu tadi?" tanya Hankyung lagi.
"Dengan lagu tadi," Ryeowook mengiyakan. Ia menoleh pada Hankyung untuk melihat reaksi pemuda itu.
Hankyung menelan ludahnya.
"Apa hanya karena ingin kembali bermain biola?" untuk terakhir kalinya ia merasa perlu bertanya, hanya untuk memastikan. Sedikit kekhawatiran akan hari esok merayapi hatinya.
"Tentu saja, memangnya ada lagi?"
Hankyung sedikit terhenyak ketika dilihatnya pemuda itu tertawa pelan. Tawa manis yang jarang sekali dilihatnya dari Kim Ryeowook, atau malah memang tak pernah dilihatnya. Tawa yang amat riang tanpa beban. Tapi kenapa tawa itu justru membuatnya merasa harus berhati-hati dan waspada? Atau mungkin itu hanya perasaannya yang kelewat sensitif dalam menilai sesuatu.
Mungkin.
-X-
Kyuhyun mengaduk melon float di hadapannya. Di siang yang cukup teduh karena mendung itu ia duduk di salah satu kantin di Akademi, menyendiri bersama problematika yang berkecamuk di pikirannya. Ia dan Sungmin telah selesai melakukan latihan hari ini, sekarang hanya tinggal menunggu ujian besok dan menuntaskan semuanya.
Itu tadi adalah latihan terakhir. Hari terakhirnya melihat pemuda yang sangat ia cintai di dunia. Ia bertanya-tanya kenapa hari terakhir datang secepat ini. Ujian besar yang dilaksanakan esok hari tinggal beberapa jam lagi dan pasti akan berakhir juga. Bersamaan dengan berakhirnya hari-harinya bersama Lee Sungmin selama satu bulan ini.
Ya, semuanya akan segera berakhir.
Kyuhyun menarik sudut bibirnya pelan, mencoba mereka tiga puluh hari yang mereka jalani selama ini. Kenangan ketika Sungmin memarahinya, ketika pemuda itu menatapnya dengan seringai yang dingin dan arogan, ketika bola mata rubah itu meliriknya dengan tatapan merendahkan, ketika Sungmin murka karena Kyuhyun selalu bermain dengan payah, ketika mereka tidur di kamar asrama Kyuhyun di malam hujan deras...
Pada akhirnya ia memang tidak berhasil membawa Sungmin pulang-menyentuh hatinya sedikit pun tidak.
Tapi setidaknya itu berarti sesuatu.
Ia sekarang tahu bahwa kehidupan memang tak bisa berputar seperti apa yang ia inginkan. Bahkan kalaupun Sungmin masih mencintainya, kesempatan untuk bersamanya adalah nol. Karena Sungmin sudah memiliki Ryeowook, pemuda yang mencintai Sungmin. Terlepas dari apa yang dikatakan Hankyung kemarin, Kyuhyun tahu bahwa Ryeowook lah yang menemani Sungmin selama ini saat ia tidak ada di sisinya. Ryeowook lah yang menguatkan Sungmin, Ryeowook lah yang selalu menjaga Sungmin. Bukan dirinya.
Hanya karena ia mencintai Sungmin, bukan berarti ia berhak memilikinya.
Karena cinta tidak begitu, cinta tidak seegois itu.
Kyuhyun hanya ingin Sungmin bahagia. Dan jika kebahagiaan Sungmin tidak ada padanya, maka itu berarti ia harus melepaskannya-sama seperti lima tahun lalu ketika ia membiarkan Sungmin pergi. Ya, benar. Kyuhyun harus menghormati pilihan yang dibuatkan Sungmin untuk mereka.
"Kyuhyun-sshi."
Kyuhyun terperanjat. Ia segera kembali dari lamunannya. Dilihatnya pemuda berambut pirang pendek mendekatinya.
"Leeteuk sunbae." Kyuhyun menyapanya sopan.
"Boleh aku duduk?" tanya Leeteuk kemudian. Kyuhyun mengangguk pelan mempersilahkan pemuda yang sangat dihormatinya itu duduk di hadapannya.
"Bagaimana kabarmu? Siap untuk ujian besok?" tanya pemuda manis bernama asli Park Jungsoo itu formal. Kyuhyun hanya mengulum senyum.
"Siap atau tidak semuanya pasti akan terjadi," jawab Kyuhyun diplomatis. Leeteuk ikut tersenyum kecil mendengarnya.
"Ah, sunbae..." ujar Kyuhyun sedikit hati-hati. Leeteuk memiringkan kepalanya, menunggu ucapan Kyuhyun yang tampak canggung.
"Sepertinya aku tidak bisa berpartisipasi dalam malam natal di gereja untuk bermain piano, maaf." Kyuhyun menunduk. Ia sudah memutuskan walau itu akan membuat dirinya tampak tidak bertanggung jawab di mata Leeteuk. Ia tidak akan mengikuti kegiatan apapun lagi yang berhubungan dengan Sungmin dan orang-orang yang mengenal Sungmin. Begitu ujian itu selesai, ia akan langsung pergi dan mengikuti training dari SM Ent seperti perjanjian yang dibuatnya dengan Lee Soo Man. Ya, Kyuhyun sudah memutuskan semuanya.
"Menyerah begitu saja?" tanya Leeteuk kemudian, tampak tidak suka dengan keputusan sepihak Kyuhyun. Bagaimanapun Leeteuk adalah seorang seniman profesional, ia tidak mentolerir kesalahan sedikitpun.
"Aku sudah memutuskan untuk langsung berkemas dan mengikuti training begitu ujian selesai. Aku akan langsung pergi, maafkan aku," aku Kyuhyun lagi, sedikit merasa bersalah.
Leeteuk menghela napasnya.
"Dan menyerah begitu saja?" ia kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama, sembari menatap Kyuhyun lekat-lekat.
Kyuhyun mendongakkan kepalanya, tapi yang dilihatnya bukanlah tatapan tajam yang akan mencecar keputusannya, melainkan sebuah tatapan lembut dan hangat layaknya seorang kakak, seorang senior pada hoobaenya yang memberikan semangat.
"Kau belum kalah."
Kyuhyun mengernyitkan keningnya, mencoba menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata Leeteuk. Kesenyapan menyelimuti keduanya sebelum Leeteuk membuka mulutnya lagi.
"Kau tahu maksudku."
"Dia sudah tidak mencintaiku... Dia terlalu membenciku," Kyuhyun mencoba memperlihatkan fakta, atau mungkin lebih bisa dibilang mencoba menghibur dirinya sendiri dengan bersikap lapang dada menerima kenyataan pahit yang ada.
Leeteuk tertawa pelan.
"Kalau dia sudah tidak mencintaimu lagi, mana mungkin dia masih membencimu." Ia terhenti untuk meneruskan, "Aku telah melakukan kesalahan, dan aku sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi."
Kyuhyun terdiam. Ingatannya tentang percakapannya bersama Hankyung dan Leeteuk tempo hari datang kembali.
"Kau juga harus begitu. Jangan melakukan kesalahan yang sama." Leeteuk berdiri seraya tersenyum pada Kyuhyun. Detik berikutnya ia menepuk bahu Kyuhyun pelan untuk memberikan semangat, matanya berkilat sedih lalu berujar pelan,
"Tolong selamatkan Sungmin kami."
-X-
"Zhoumi, tolong ambilkan presensi peserta di ruang panitia."
Zhoumi mengangguk. Ia bergegas berlari kecil ke ruang panitia dimana beberapa temannya dari berbagai divisi di akademi yang kali ini terpilih menjadi panitia Amateur Musician Competition harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk acara besok. Ia segera kembali ke belakang panggung terbuka yang sudah jadi itu.
"Apa kau yakin tidak apa-apa di ruangan terbuka seperti ini?" Seorang panitia yang tak begitu dikenalnya berceletuk.
"Ah, kurasa tidak. Ramalan cuaca bilang besok tidak akan hujan deras, lagipula kalaupun iya kita sudah punya penutup di atas panggung," jawab pemuda yang satunya, tampak puas dengan hasil kerjanya.
"Yah, semoga saja begitu." Panitia tadi kemudian pergi, meninggalkan pemuda berambut hitam tebal yang masih saja memandangi panggung yang mereka buat dengan perasaan takjub. Zhoumi mendekatinya.
"Sunbae, ini presensi pesertanya."
Yesung, pemuda yang dipanggil tadi menoleh.
"Ah, terimakasih Zhoumi." Ia mengecek daftar nama yang terpampang di kertas putih itu, "Tinggal dua puluh peserta untuk malam penutupan. Benar-benar seperti harapan kita. Semoga saja semuanya berjalan dengan baik."
Zhoumi mengangguk, "Ya, semoga saja."
Keduanya tersenyum senang. Tugas hari ini sudah hampir selesai. Semua kelelahan, rasa marah dan kesal, akhirnya terbayang dengan panggung yang telah berdiri megah itu. Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Ya, seindah apapun itu, festival tetaplah festival yang akan berakhir.
"Apa tidak apa-apa?" celetuk Zhoumi kemudian.
Yesung menyipitkan matanya, sedikit menoleh pada pemuda yang lebih muda darinya.
"Membiarkan Ryeowook-sshi mengikuti perlombaan seperti ini, apa tidak apa-apa?" tanya Zhoumi lagi, sedikit lebih lirih dari sebelumnya.
Yesung menunduk. Kertas presensi di tangannya digenggamnya erat-erat.
"Hanya ini yang bisa kulakukan untuknya. Apapun hal buruk yang terjadi di perlombaan besok, aku akan berusaha melindunginya. " Ia menelan ludahnya, sedikit berusaha membenarkan perkataannya sendiri.
"Begitu," Zhoumi mengangguk perlahan, berusaha meresapi sejuknya angin lewat yang membelai rambutnya.
"Tapi bukan itu yang aku ingin ketahui." Ia menoleh lagi. Senyum secerah matahari tak lepas dari raut wajahnya yang tenang.
"Apa perasaan sunbae tidak apa-apa? Membiarkan semuanya mengalir seperti ini?"
Yesung sedikit tersentak dengan pertanyaan Zhoumi. Pupil matanya melebar seiring perkataan hobae-nya itu,
"Bukankah sunbae terlalu baik? Membiarkan Ryeowook bersikap sekehendak hatinya... Memperbolehkannya melakukan ini tanpa pemikiran matang, tanpa kita tahu apa yang akan dilakukannya nanti. Bukankah itu terlalu baik hati?"
Yesung tak menjawab. Semilir angin mengalir memenuhi percakapan mereka sore itu.
"Maaf jika aku lancang, tapi kupikir diantara kalian harus ada orang yang mampu berpikiran jernih. Semua ini sudah berjalan terlalu jauh, tanpa kalian sadari perlahan menyakiti kalian sendiri."
Yesung menatap Zhoumi tajam, tapi pemuda Cina itu tetap meneruskan ucapannya.
"Jangan pikir aku tidak tahu. Hanya karena Sunbae terus melindunginya, berusaha menjaganya dengan cara apapun tanpa berusaha memperingatkan bahwa ia salah, terus menerus membelanya tanpa melihat dari sisi lain, apa Sunbae pikir aku tidak tahu apa yang sedang terjadi?"
Yesung tak menyahut.
"Itu bukan karena Sunbae terlalu baik hati. Bukan juga karena Sunbae terlalu menyayanginya. Manusia tidak begitu," kecam Zhoumi akhirnya.
Tak ada tanggapan. Keduanya hanya terus membiarkan keheningan menguasai segalanya.
"Untuk siapa Sunbae berkorban selama ini?" tanya Zhoumi lagi.
"Tentu saja untuk Ryeowookie..." Suara Yesung terdengar gemetar saat mengatakannya.
"Apa aku tampak seperti orang bodoh?" tanya Yesung kemudian, sedikit menoleh lesu.
"Tidak bodoh. Konyol lebih tepat," tuding Zhoumi kejam. Tapi Yesung tidak menyangkal.
"Aku hanya ingin dia bahagia... Meskipun kebahagiaannya bukan denganku..."
"Dengan membiarkan diri Sunbae sendiri menderita?" tuduh Zhoumi lagi.
"Membiarkan semuanya berjalan begitu saja tanpa penyelesaian, tanpa sedikitpun usaha untuk meraih apa yang memang Sunbae inginkan, apa itu yang Sunbae sebut kebahagiaan untuk dirinya? Apa Sunbae tidak sadar telah membentuknya menjadi anak manja yang terus-menerus merengek untuk mendapatkan apa yang ia mau?"
"Aku memang manusia yang tak lepas dari kesalahan," sahut Yesung pelan. Dikibaskannya tangan yang sedikit kebas karena cuaca dingin, "...dan juga kekurangan."
"Tapi manusia juga punya kesempatan dan kelebihan," desis Zhoumi lirih. Ia menatap Yesung lekat-lekat penuh tatapan iba.
"Apa? Kau mau menyalahkanku karena telah membiarkannya melakukan hal yang salah? Kau mau mengasihaniku karena tidak sebanding dengannya?" Yesung mengucapkan semua itu dengan sangat ketus, berusaha menumpahkan segala kegelisahan di hatinya yang jarang ia tampakkan.
"Kalian semua selalu hanya bisa menilai dari apa yang terjadi, tanpa memikirkan apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan. Sudah jelas-jelas aku tidak punya kapasitas apapun untuk dapat memilikinya, memangnya apa yang bisa aku lakukan?" Ia memuntahkan segala kemarahannya atas ekspektasi orang-orang yang melihat dirinya dengan sebelah mata, "Dari awal, aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa."
Diluar perkiraan Zhoumi tersenyum lembut.
"Itulah. Bukan salah siapapun jika tidak sebanding dengan orang yang dicintainya. Kesalahan terbesar Sunbae adalah membiarkan semua mengalir begitu saja tanpa melihat apa yang bisa Sunbae lakukan."
Kelopak mata Yesung melebar, tapi ia tidak mendongak. Batinnya sakit mendengar ucapan itu, ucapan yang seolah-olah memberinya harapan atas sesuatu yang selama ini tak pernah ia berani impikan.
"Sunbae menempatkan diri sebagai tokoh figuran yang akan selalu membantunya jika ia membutuhkan, selalu melindunginya, menyingkirkan segala pendapat dan keinginan pribadi dengan harapan dapat membuatnya bahagia. Sunbae akan selalu berada di sampingnya meskipun bukan sebagai orang yang ia cintai. Dan akhirnya terdampar pada kenyataan bahwa Sunbae memang bukan siapa-siapa untuknya. Lalu Sunbae akan bilang pada orang-orang, 'Lihat kan, aku memang tidak punya ruang sedikitpun dalam cerita ini!' kemudian membiarkan orang lain menilai bahwa memang begitu adanya. Sunbae hanya takut untuk ikut dalam permainan dalam memperebutkan dirinya, takut untuk kalah. Lalu Sunbae membuat skenario dengan berharap orang-orang akan mengangguk dan membenarkan bahwa Sunbae memang tokoh yang patut dikasihani karena selalu bertindak baik hanya karena alasan cinta. Padahal tidak begitu."
Lidah Yesung tercekat mendengar ucapan yang meluncur begitu saja dari bibir pemuda yang bahkan tidak pantas menilainya begitu. Tapi ia bahkan tidak membantah, karena semua itu memang benar.
"Sunbae terlalu baik hingga selalu memikirkan perasaannya seolah-olah ini semua demi kebaikannya—" Zhoumi menolehnya dengan tatapan prihatin,
"—atau karena memang tidak mau mengakui bahwa Sunbae terlalu takut untuk terluka."
-X-
Hari ujian yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. Sekitar dua puluh pasang peserta sudah berkumpul di depan gedung pertunjukan Divisi Piano sejak tadi pagi. Rencananya ujian akan dimulai dari jam 10 pagi hingga selesai. Sungmin dan Kyuhyun telah mendapatkan nomor urut mereka, nomor 13. Mungkin tinggal empat jam lagi mereka akan tampil.
Kyuhyun mematut dirinya di cermin. Memakai jas hitam dengan kemeja putih formal layaknya seorang musisi bukan hal yang tidak ia sukai, sungguh. Tapi memikirkan apa yang akan terjadi nanti benar-benar membuatnya nervous. Bagaimana jika ia salah satu nada saja? Bagaimana jika ia mengacaukan segalanya? Bagaimana jika Sungmin gagal karena kesalahannya?
"Kau siap?"
Suara bariton itu menyeruak. Kyuhyun menoleh. Dilihatnya Hankyung yang kemudian disusul Heechul, Zhoumi, Henry dan Yesung sudah menunggunya di depan ruang ganti belakang panggung.
Kyuhyun mengangguk. 'Apapun yang terjadilah,' pikirnya pasrah.
Ia keluar dengan dandanan dandy dan rambut yang disisir rapi, tampak lebih tampan dari biasanya.
"Masih ada waktu empat jam, cepat kabur dan larilah sebelum Sungmin sunbae datang," canda Zhoumi yang kemudian dijitak Yesung.
"Jangan dengarkan dia, kau pasti bisa melaluinya," Yesung menepuk bahunya pelan, memberinya semangat.
"Ya, Mozart tidak akan marah sekalipun kau mengacaukan lagunya," Hankyung menimpali. Heechul cepat-cepat membungkam mulut kekasihnya itu.
"Jangan dengarkan dua Cina aneh ini," Heechul melirik sengit pada Hankyung dan Zhoumi yang tertawa tertahan, "lakukan seperti biasanya saja, saat kau sedang latihan. Jangan terpaku pada hasil," senyum pemuda cantik itu mengembang.
"Ayolah, kapan lagi kita bisa menggoda Kyuhyun, Sunbae? Ya ampun, wajahnya tegang sekali, hahaha!" Tawa Zhoumi yang diikuti Hankyung meledak. Dua orang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala.
Tepat setelah itu dua orang yang amat Kyuhyun kenal mendatangi mereka.
Dua orang paling sempurna di Akademi ini, dua orang yang selalu unggul, saling melengkapi satu sama lain, saling membanggakan satu sama lain. Dua orang yang begitu mempersona hanya dalam pandangan mata, seolah tak ada ruang bagi siapapun untuk menjangkau mereka.
Sungmin dan Ryeowook.
Sungmin datang dengan jas hitam dan kemeja putih formalnya seperti Kyuhyun. Rambut hitamnya sudah disisir rapi, ditambah pita hitam di leher yang menimbulkan kesan elegan pada dirinya. Ryeowook tampak manis dengan kemeja kotak-kotak biru dan dark jeans yang dipakainya rapi, tampak serasi dengan Sungmin yang sedang menggenggam tangannya erat-erat.
Ryeowook tersenyum singkat ke arah mereka, sementara Sungmin masih tak berekspresi.
"Kyuhyun-sshi," sapa Ryeowook pelan.
Kyuhyun mengangguk sedikit memberi hormat.
"Kau sudah berusaha dengan baik." Pemuda manis itu meyuguhkan senyum andalannya. Senyum yang elegan dan berkharisma, senyum yang entah kenapa terasa memikat dan membahayakan di saat yang bersamaan.
"Terima kasih," ucap Kyuhyun canggung. Matanya tak lepas pada jemari Sungmin dan Ryeowook yang saling mengeratkan satu sama lain.
Bola mata semanis madu Ryeowook berkilat lembut. Beberapa detik kemudian keduanya berlalu dari tempat itu.
"Tidak apa-apa?" bisik Hankyung lirih kepada Kyuhyun.
Kyuhyun menoleh. Diliriknya Yesung yang terduduk di salah satu kursi tunggu, wajahnya tampak tak terbaca. Seketika itu pula ia sadar, bukan hanya ia yang terluka karena adegan tadi. Ia tak boleh lemah hanya karena itu.
"Tidak. Tidak apa-apa," jawabnya lirih.
Hankyung mengangguk.
"Ada barang Ryeowook yang ketinggalan saat kami latihan kemarin, aku akan pergi sebentar mengembalikannya," terangnya pada Heechul dan semua yang ada disitu.
Heechul ingin bertanya, tapi ia menangkap maksud lain di mata Hankyung yang berkilat gelisah itu. Ia mengerti.
"Baiklah. Cepat kembali setelah urusanmu selesai."
-X-
"Masih ingin berpura-pura tidak mengenaliku?"
Sungmin menoleh dan mengerjapkan matanya, tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ruang latihan itu seharusnya kosong, tak seharusnya ada orang lain yang datang di saat seperti ini.
"Mau mengenang apa yang terjadi selama satu bulan ini, eh?" tanya pemuda itu lagi dengan santai, sekaligus menusuk.
Sungmin tak menghiraukan sikapnya yang menurutnya sangat tidak ia sukai itu.
"Apa maumu?" tanya Sungmin dingin.
"Aku tidak percaya kau meninggalkan Ryeowook di ruang penonton hanya untuk datang kesini, ckckck." Pemuda tadi mencibirnya, tapi Sungmin tetap tidak menggubris.
"Apa maumu?" tanya Sungmin lagi, lebih dingin dari sebelumnya.
Pemuda yang sedari tadi masih berada di depan pintu ruang latihan dimana Sungmin dan Kyuhyun biasa berlatih itu menghampirinya. Sepatu pantofelnya berbunyi di atas lantai kayu dari ruangan yang lumayan luas itu. Berdiri berhadap-hadapan dengan Sungmin yang menatapnya sengit.
"Masih ingin berpura-pura tidak mengenaliku? Atau memang sudah lupa?" ucapnya lagi, kali ini dengan nada ketus.
"Bagaimana aku bisa lupa, Hankyung-sshi." timpal Sungmin tak kalah ketus.
Hankyung, pemuda yang dimaksudnya itu tersenyum kecil.
Ia melewati Sungmin dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Pada dua piano mahal yang terletak di samping kirinya, dan jendela kecil di pojok dimana ia bisa melihat ramainya ujian duet piano di lantai bawah divisi yang ditempati Sungmin hari ini.
"Jangan dekati Ryeowook lagi," suara dingin Sungmin memecah keheningan. Dipandangnya pemuda dari divisi biola itu dengan tajam.
Hankyung terkekeh pelan.
"Kenapa? Takut Ryeowook jatuh cinta padaku? Seperti bagaimana Kyuhyun lebih memilihku dulu?" Seringai kecil menghiasi wajah yang biasanya tampak baik hati itu.
Sungmin tercengang.
"Beraninya kau—"
"Atau takut Ryeowook akan mengetahui masa lalumu? Masa lalu kelam antara kau, Kyuhyun dan diriku?"
Hankyung menoleh. Seringai kecil tak lepas dari wajahnya, membuat Sungmin untuk sejenak tak sanggup berkata-kata.
"Jangan sakiti dia..." ujar Sungmin akhirnya, sedikit lebih lirih dari yang ia kira.
"Siapa? Kyuhyun atau Ryeowook?" tanya Hankyung menantang.
"Atau malah dirimu sendiri?"
Butuh waktu lama bagi Sungmin untuk menemukan kekuatannya kembali. Dengan tegas ia berkata,
"Antara aku dan Kyuhyun, semuanya sudah berakhir."
Hankyung tak membantah.
"Baik aku dan Kyuhyun, kami sudah memiliki dunia kami sendiri. Aku sudah memiliki Ryeowook yang harus kujaga, sudah tidak ada apa-apa lagi diantara kami, berpikir begitu pun tidak. Semuanya sudah berakhir, kesempatan terakhirnya sudah berakhir saat ia mengkhianatiku..." suaranya bergetar mengucapkan itu semua, matanya tampak basah, "Semuanya sudah berakhir," tukas Sungmin final.
"Semuanya sudah berakhir," timpal Hankyung membenarkan. Ia menoleh ke arah lain, pada dinding dingin diantara mereka.
"Tapi setelah ini, kalian tidak akan sama lagi." Meskipun kalimat itu diucapkan amat datar, efeknya amat besar bagi seorang Lee Sungmin. Bola mata rubahnya membelalak.
Hankyung meneruskan, "Kau ini benar-benar bebal."
Helai angin yang datang dari arah jendela memainkan rambut mereka, menjadi satu-satunya saksi atas percakapan penuh emosi yang tak berujung itu. Sungmin tetap terdiam dalam kecamuk pemikirannya sendiri.
"Disadari atau tidak, Kyuhyun telah masuk dalam kehidupan kalian. Setelah ujian ini berakhir, kalian semua tak akan sama lagi. Baik kau, Kyuhyun maupun Ryeowook tidak akan seperti satu bulan yang lalu lagi."
"Aku akan memastikan itu tidak terjadi. Aku akan terus menjaga hati Ryeowook, seperti yang biasa aku lakukan," tukas Sungmin datar.
"Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Siapa yang akan bertanggung jawab atas luka yang ia dapatkan?" Berdentum-dentum pertanyaan sengit itu menyerang pertahanan Sungmin.
Sungmin menelan ludahnya, apapun yang terjadi ia harus setegar sebagaimana biasanya.
"Dia berhak mendapatkannya," desisnya dingin.
"Sikap seperti itulah yang akan mengantarkanmu pada kehancuran." Hankyung menoleh tajam pada Sungmin. Yang diajak bicara hanya mengernyit tak mengerti.
"Selalu melimpahkan penderitaanmu pada orang lain, selalu merasa orang lain harus bertanggung jawab atas hal buruk yang kau lalui, kau tak ubahnya seperti orang jahat yang memanfaatkan kebaikan orang lain untuk mencapai apa yang kau inginkan.
"Membiarkan orang lain menjadi batu loncatan untuk meraih apa yang kau mau, lalu membiarkan orang lain merasa bersalah karena telah membuatmu seperti ini. Jangan pikir aku tidak memperhatikanmu, bertahun-tahun kau hidup dalam dendam yang kau bangun sebagai benteng pertahanan yang amat kuat, alih-alih mengajak orang lain membantu menyembuhkan lukamu, kau mengusir mereka semua agar mereka merasa bersalah telah membiarkanmu seperti ini. Hidup dalam dendammu sendiri... Hidup dalam kebencianmu sendiri..."
Sungmin terhenyak.
"Pada akhirnya, hatimulah yang akan membusuk karenanya."
Keheningan menyekap mereka dalam suasana yang tidak menyenangkan, menghimpit keduanya dalam pusaran labirin pemikiran yang tiada habisnya.
"Aku tidak bisa," ungkap Sungmin akhirnya. Ia terduduk di salah satu kursi di sana.
"Aku harus melindungi Ryeowook... Dia sangat berharga bagiku, aku tidak akan mengkhianatinya hanya karena alasan tak masuk akal dari masa laluku."
"Menyakiti perasaan orang lain demi orang yang kau cintai?" tebak Hankyung tepat sasaran. Sungmin tak menyahut.
"Atau orang yang kau anggap kau cintai?" tanyanya sarkastis.
Sungmin mendongak. Wajahnya penuh dengan ketakutan atas ucapan Hankyung barusan.
"Jangan pikir aku tidak mencium tindakan busukmu," sergah Hankyung sengit, "Sekali lihat saja aku bisa lihat kau dan Ryeowook bukan dua orang yang saling mencintai."
"Hah, siapa kau berani menilai arti cinta diantara kami?" dengus Sungmin tak terima.
"Apakah itu cinta saat kau membiarkannya terikat dalam hubungan gelap tanpa bisa tumbuh dan berkembang seperti itu?" Hankyung membalas tajam.
Sungmin tertawa sinis. Kepercayaan dirinya timbul lagi setelah topik sensitif antara ia dan Kyuhyun dihentikan.
"Kalau kau tidak tahu, aku dan Ryeowook sudah bertunangan. Dua tahun kami menjalin hubungan. Kau pikir siapa orang pertama yang akan datang dan memeluknya saat ia sedih? Siapa orang pertama yang ia hubungi saat ia bangun tidur dan merasa takut? Siapa satu-satunya orang yang ada dalam hatinya?"
"Sudah kuduga, kalian berdua seperti dua bocah kesepian yang tidak tahu caranya mencinta." Hankyung terkekeh pelan, lalu menatap Sungmin iba.
"Belajar dari kesalahan, Sungmin. Belajarlah." Bola mata Hankyung terlihat tulus menyatakan kesedihannya.
"Selama ini kau hanya hidup dalam asumsimu sendiri. Bertingkah seolah-olah memang ada cinta di antara kalian. Kau menyeret Ryeowook dalam kehidupanmu yang penuh luka batin dan kesepian, dengan harapan kau tidak lagi sendirian. Kau bawa dia dalam dunia kalian yang tak terjangkau orang lain, kau hancurkan ia perlahan-lahan agar ia tidak bisa melihat orang lain selain dirimu di hatinya. "
Sungmin tak menyahut, kelopak matanya membelalak lebar-lebar.
"Kau hidup dalam keyakinanmu sendiri bahwa kau memang mencintainya, sebagaimana ia mencintaimu. Tapi kau... Kau sebenarnya hanya takut terluka. Kasih sayang Ryeowook lah yang melindungimu. Bukan perasaan Ryeowook yang harus kau jaga, tapi perasaanmu sendiri. Ryeowook lah yang selama ini bertanggung jawab atas perasaanmu, bukan sebaliknya."
Sungmin mengepalkan tangannya yang gemetar. Untuk pertama kalinya-setelah lima tahun ini-ia merasa lemah.
"Kau berkata seolah-olah hubungan antara Kyuhyun dan dirimu akan menyakiti Ryeowook kelak... Tapi sebenarnya, kau lah yang akan tersakiti karena kesombonganmu sendiri."
Sungmin terkesiap.
Di sampingnya Hankyung hanya bisa menatapnya kasihan. "Belajar dari kesalahan, Sungmin. Belajarlah. Ini hari terakhirmu. Ini kesempatan terakhirmu."
Sungmin merasa seluruh dunia seolah berputar kencang. Yang ia lakukan hanya berlari dari tempat itu, berlari dari kenyataan yang ada, berlari dari luka yang menyelimutinya-luka yang tak ingin ia akui.
Hankyung menatap kepergian Sungmin dengan penuh rasa iba.
Tepat setelah itu seorang pemuda berambut pirang pendek mendekatinya.
"Caramu terlalu keras," protes pemuda itu pada Hankyung. Yang diprotes hanya menghela napas lelah.
"Cuma ini satu-satunya yang bisa kulakukan, Sunbae." Hankyung menoleh pada Leeteuk, pemuda yang baru saja datang tadi, lalu melanjutkan,
"Keras atau tidak, tidak penting sekarang. Keempat bocah itu harus segera dibantu."
-X-
Lincah dan dinamis, penuh dengan energi yang melingkupi, Sonata Dua Piano itu menari dalam harmoni. Dibuka dengan permainan jemari nan indah dari senior bernama Lee Sungmin yang terbiasa menampilkan kesan elegan dan berkarakter itu kini mengubah jenis permainannya. Bersama seorang junior bernama Cho Kyuhyun mereka menyamakan warna musik mereka, menjadikan satu dalam rangkaian cerita Sonata und Fuge yang penuh keriangan dan gelak tawa.
Mungkin inilah yang bisa disebut pertunjukan piano, sebuah pergelaran yang dicurahkan dari dalam hati untuk mempersembahkan musik yang dekat dengan diri kita kepada para pendengar. Itulah yang nuansa yang muncul melalui permainan antara Kyuhyun dan Sungmin dalam ujian di gedung pertunjukan Divisi Piano yang tertutup rapat itu.
Di atas panggung keduanya seolah menyatakan bahwa musik pada akhirnya tidak berorientasi pada pertunjukan megah dan piala-piala penghargaan, tapi lebih pada kesenangan pianist yang menular pada semua orang. Irama yang ceria dari Sonata Dua Piano itu telah menunjukkan keriangannya, semua terbingkai dalam keindahan yang begitu meresap hingga ke pori-pori. Sungmin melirik sedikit pada Kyuhyun yang tampak bahagia memainkan partitur itu, jauh berbeda dengan Kyuhyun beberapa menit lalu yang tampak tegang dan takut karena akan tampil di depan orang banyak.
Melalui karya Mozart itu, hilang sudah citra Sungmin masa lalu yang mengutamakan showmanship. Sekarang tidak ada lagi frase-frase menggelegar yang berdiri sendirian demi unjuk teknik, tergantikan oleh permainan yang jauh lebih dewasa pengolahan frase musikal dalam bingkai romantisme yang matang. Ekspresif, efisien dan jujur, mungkin itu yang keluar dari permainan Sungmin hari itu. Bagian Andante di mana kecemerlangan, penggarapan garis melodi dan spontanitas menjadi kunci dimainkan keduanya dengan serempak dan sangat memikat.
Keindahan andante yang tidak memiliki akhir itu terus berlanjut, membuai para juri yang menilai permainan mereka. Bagian paling rileks dari sonata itu bergulir begitu saja, melodi yang dihasilkan dari dua piano itu seolah tak memiliki klimaks yang kuat, tapi justru menjerat pendengarnya untuk menikmati lagu sampai denting terakhir. Alunan Molto Allegro yang dibuka dengan tema yang hampir mirip dengan masterpiece Mozart yang lain: Rondo alla Turca mengisyaratkan keindahan yang begitu nyata dan sempurna. Permainan pianist muda berbakat kebanggaan akademi itu melebur dengan permainan sederhana namun sangat memikat dari junior yang baru satu bulan menjejakkan kaki di akademi ini. Sonata Dua Piano, sebuah harmoni yang mengajak pendengarnya mengembara ke dunia imajiner, tanpa batas waktu.
Tepat hari itu, Lee Sungmin menerima tepuk tangan paling gemuruh yang pernah didengarnya.
-X-
"KAU BERHASIL!"
Belum apa-apa Kyuhyun sudah menerima pelukan dari beberapa orang yang menyayanginya.
"Ya Tuhan, itu adalah permainan terindah yang pernah kau mainkan, Kyuhyun! Aku tidak menyangka kau bisa sehebat tadi!" Zhoumi memeluk Kyuhyun begitu erat, membuat pemuda yang dipeluknya terbatuk-batuk.
"Tadi itu indah sekali..." kali ini Henry yang berbicara, kedua bola mata sipitnya berkaca-kaca karena terharu, "indah sekali..." ia tidak sanggup berkata-kata saking kagumnya.
Zhoumi beralih memeluk Henry dengan gemas, perasaan Henry yang sangat sensitif itu benar-benar membuatnya semakin geli.
"Kau berhasil, Kyuhyun-ah." Hankyung mendekati Kyuhyun, menepuk bahunya pelan. Kyuhyun memeluk Hankyung penuh rasa haru.
"Terima kasih, Hyung. Terima kasih..." Ia tidak bisa menahan perasaan gembira yang melejit dalam dadanya. Tiga puluh hari ia berjuang mati-matian, akhirnya terbalas juga hari ini.
"Kami bangga padamu." Heechul tersenyum bangga pada Kyuhyun. Kyuhyun memeluk Heechul dan Hankyung bersamaan.
"Terimakasih semuanya..." bisiknya parau, berusaha menyembunyikan tangis harunya.
"Yesung hyung mengucapkan selamat!" kata Zhoumi, ia meneruskan, "tapi ia minta maaf belum bisa menemuimu, masih ada yang harus ia urus, katanya."
Tepat setelah itu Lee Sungmin mendekati mereka. Kelima orang itu menoleh begitu melihat pemuda kebanggaan akademi itu datang. Kyuhyun menunggu Sungmin mengucapkan sesuatu.
"Tidak buruk," kata Sungmin pada akhirnya. Lalu ia pergi begitu saja.
"Masih juga tidak berubah, si Sungmin itu..." Heechul mencemooh.
Hankyung melirik Kyuhyun yang masih terdiam, ia berbisik pelan, "Temuilah dia. Selesaikan semuanya."
Kyuhyun mengangguk. Dengan mantap ia mendatangi Sungmin, yang menuai ketidak mengertian dari pemuda arogan itu.
Kyuhyun membuka mulutnya, "Kumohon, untuk yang terakhir."
-X-
"Jadi? Ada apa?"
Sungmin akhirnya membuka mulut setelah keheningan beberapa menit menguasai keduanya. Kyuhyun masih menatap wajah Sungmin lekat-lekat, membuat pemuda itu semakin membenci kelakuannya.
"Ryeowook menungguku. Jika tidak ada yang ingin kau katakan sebaiknya aku pergi."
Kyuhyun mencekal tangan Sungmin dengan paksa, membuat pemuda yang lebih tua itu tampak murka.
"Apa-apaan kau? ! Lepas atau—"
"Hari ini saja, dengarkan aku. Dengarkan penjelasanku." Suara yang keluar dari mulut Kyuhyun terdengar sangat rendah dan letih, menggambarkan keletihan hatinya selama ini.
"Kali ini saja, lima menit pun cukup," pinta Kyuhyun lagi.
Sungmin mendengus. Dikibaskannya tangan yang dicekal Kyuhyun lalu menoleh arogan.
"Lima menit," ujarnya kemudian sedikit terpaksa.
Kyuhyun mengangguk.
Ia menutup ruang latihan itu, lalu menoleh pelan pada Sungmin yang masih tak acuh padanya.
"Kesempatanku sudah habis," ujar Kyuhyun kemudian. Sungmin masih tak menjawab. Ia hanya berdiri dan mendengarkan.
"Aku ingin jujur padamu tentang sesuatu."
Sungmin masih tak menoleh.
"Aku pernah mencintai Hankyung hyung."
Kata-kata itu terdengar seperti petir yang memecah pertahanan Sungmin.
"Hankyung hyung bagiku dulu adalah seperti Ryeowook bagimu sekarang."
Sungmin mendengus sarkastis, "Maaf-maaf saja, tapi aku mencintai kekasihku. Tidak pengecut sepertimu."
"Ya, aku memang pengecut. Makanya aku jadi begini." Tanpa diduga Kyuhyun tersenyum perih.
"Aku pernah mencintai Hankyung hyung. Aku memang sudah menyukainya saat aku masih bersamamu dulu. Meskipun aku baru menjalin hubungan dengannya saat kita berpisah, dari awal perasaanku memang berselingkuh darimu dulu. Maafkan aku."
"Aku tidak peduli..." Sungmin berkata amat dingin, tapi getar suaranya mengkhianatinya.
"Aku tahu, makanya aku memberitahumu." Kyuhyun masih tersenyum. Ia berkata lagi, "Sekarang tidak ada lagi kebohongan di antara kita. Sekarang semua sudah berakhir..." Tampak butuh waktu beberapa detik sebelum ia melanjutkan,
"Hari ini adalah hari terakhir aku ada dalam hidupmu."
Sungmin mendongak. Harusnya ia bergembira. Harusnya ia merasa senang. Tapi kenapa hatinya terasa sesak begini? Apa karena mendengar kejujuran yang menyakitkan itu tadi?
"Setelah ini aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Ryeowook lagi. Setelah ini aku akan benar-benar menghilang dari kisah kalian," Ia berhenti hanya untuk melirik Sungmin yang menatapnya benci,
"Karena itu, aku berterima kasih padamu. Terima kasih telah mengajarkanku banyak hal. Tentang musik, cinta, dan kehidupan. Terima kasih telah membuatku mengerti."
Kyuhyun tersenyum tulus sekali tanpa beban. Tapi itu justru membuat hati Lee Sungmin semakin sakit. Ia benci senyum itu. Ia benci ketika pemuda itu bahagia. Atau mungkin ia benci karena kenyataan-
-bahwa ia kembali terluka.
"Aku akan selalu mencintaimu."
Akhirnya.
Kejujuran itu terkuak juga.
Ruang latihan yang dingin menjadi saksi bisu atas kisah dua manusia itu. Saksi atas pertemuan pertama mereka setelah sekian lama, saksi atas apa yang mereka lakukan dan rasakan selama satu bulan ini, sekaligus saksi atas berakhirnya kisah dua manusia yang dimainkan takdir itu.
Tapi kejujuran macam apa yang bisa menghancurkan kokohnya batu yang terperangkap dalam lautan es setelah sekian lama?
"Waktu lima menitmu sudah habis."
Sungmin berdiri, hendak keluar dari tempat itu.
"Tapi—" Kyuhyun memotong, "aku akan selalu menunggumu. Di taman yang kau sukai itu. Setiap jam lima sore. Sampai kau datang."
Sungmin mengepalkan tangannya. Suaranya bergetar saat berkata, "Aku tidak akan datang."
Kyuhyun menutup matanya, membiarkan gelap menguasai penglihatannya.
"Aku akan tetap menunggu."
Bersamaan dengan itu pintu ruang latihan terbuka lebar. Lee Sungmin keluar menjauhi Kyuhyun, masih saja dengan kesombongan yang mengisi ruang hatinya.
Kyuhyun mengangguk tersenyum, berusaha menerima kenyataan yang ada. Memang begini akhirnya. Memang seharusnya begini. Ia harus mau menerima. Kelopak matanya masih tertutup, tapi airmata telah jatuh merembes di kedua pipinya yang hangat. Udara hari itu terasa amat dingin. Berusaha menarik napas panjang untuk menenangkan pikirannya, Kyuhyun membuka kembali matanya untuk menerima kenyataan yang ada. Tapi sebuah suara lantang mengalihkan perhatiannya.
"Cho Kyuhyun."
Berdiri dengan anggun di depannya, tampak sosok sempurna Kim Ryeowook menyadarkannya pada alam nyata.
"Kau mau lari kemana, eh?"
Suara rendah yang mengejek itu membuat tengkuk Kyuhyun merinding.
"Setelah semua yang kau lakukan, kau mau pergi seenaknya saja, begitu?" cecar Ryeowook lagi, tak lupa dengan senyum mengejeknya itu.
Kyuhyun menghela napas lelah. Ia baru saja mengakhiri sesuatu yang besar, ia tidak ingin memulai pertengkaran lagi. Diacuhkannya Kim Ryeowook begitu saja.
"Kau ini benar-benar pengecut! Setelah berusaha merebut Sungmin-ku, kau mau lari begitu saja?" teriak Ryeowook lantang.
Kyuhyun menoleh. Keningnya mengernyit mendengar ucapan ketus itu.
"Apa maumu?" tanya Kyuhyun datar, meskipun mati-matian ia berusaha menahan airmatanya yang masih ingin tumpah.
"Apa kau tahu, bahwa aku dan Sungmin sudah bertunangan?" tanya Ryeowook santai. Kyuhyun berusaha tidak memukul pemuda di hadapannya ini.
"Kami selalu cocok satu sama lain, sempurna satu sama lain, seperti yang orang lain katakan," katanya lagi. Kyuhyun tak membantah.
"Tapi kau, kau tiba-tiba datang dan membuat semuanya kacau. Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah apa yang kau perbuat? Enak sekali kau!" Tak henti-hentinya Ryeowook mencecarnya, membuat Kyuhyun semakin gerah.
"Lalu apa maumu? Aku sudah menyerah. Sungmin tidak akan lari darimu, kalian berdua akan hidup bahagia selamanya. Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Kyuhyun dengan nada satir.
"Sungmin-ku adalah orang yang kuat dan tidak akan menangis untuk hal kecil... Tapi hari ini semua image itu runtuh begitu saja..." Suara Ryeowook bergetar, seolah menyiratkan ketakutan yang amat dalam.
"Kau tahu? Hari ini ia menangis setelah sekian lama, beberapa detik yang lalu, setelah keluar dari ruangan ini."
Ryeowook menatap Kyuhyun penuh kebencian. Sementara Kyuhyun tampak begitu bingung mencerna kata-kata yang baru didengarnya. Sungmin menangis? Karenanya?
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan? ! Bahkan meski sekarang kau pergi dari hidupnya sekalipun tetap saja kau telah mengubahnya!" Tanpa disangka pemuda yang terbiasa bersikap anggun dan elegan itu menjerit, membuat Kyuhyun untuk sejenak merasa kaget dengan perubahan suaranya.
"Aku tidak akan kalah darimu, Cho Kyuhyun. Aku tidak akan kalah," desis Ryeowook dingin.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" getar suara Kyuhyun tampak samar dalam ruangan itu. Kelelahan dan kepedihan seolah menggelayuti tubuhnya tampak akhir.
Ryeowook tersenyum, manis sekaligus mematikan.
"Bukankah kau orang yang sangat mempercayai takdir, Cho Kyuhyun? Kalau begitu mari kita lakukan. Aku ingin mengalahkanmu dari segi apapun, termasuk takdir yang sangat kau percayai itu."
Bola mata coklat madu itu berkilat bahaya, membuat Kyuhyun untuk sejenak merasa takut olehnya.
TBC
Author's Note:
Makasih buat semua yang udah nagih-nagih fic ini, baik di twitter, fb ato sms, LOL
Ada yang mau protes sama chapter ini? Kenapa Ryeowook terlihat sangat jahat? Kenapa semuanya makin memusingkan? Atau mau protes sama author karena cara penulisannya yang masih kurang prima?
Silahkan saja. Tapi untuk karakter Ryeowook yang sedikit tak terduga di chapter ini, saya sarankan direnungi dulu sampai chap terakhir, baru komen. Ato kalo mulut emang udah gatel, silahkan maki-maki aja author.
Oh ya, kemarin saya nanya ya, siapa yang paling terluka di cerita ini?
Banyak yang memilih Yesung dan Ryeowook, dan juga Kyuhyun. Yang milih Sungmin dikit ya, berarti saya emang kurang menderita ya, saya kan Sungmin #HEH
Alasan saya bertanya seperti itu kemarin adalah untuk memancing reaksi kalian dan mengajak kalian merenung, karena seperti yang kalian lihat disini, semua karakter melakukan kesalahan yang harusnya, membuat mereka memang layak terluka –evil mode on-
Dan Yesung? Dia juga bersalah kok. Silahkan menangkap maksud saya di chapter ini.
