Untuk seluruh readers, tanpa kalian cerita ini tidak akan pernah selesai. Tanpa kalian, kisah ini hanya akan menjadi bagian kecil dari kenangan berlabel luka yang tak akan pernah kubagi pada siapapun. Terimakasih telah mendorongku untuk terus menulis. Keep contact each other, ok?
P.S.: Coba dengarkan lagu Kyuhyun-Listen to You.
Enjoy!
~Still the Same Rain~
~A Super Junior fanfic~
"Cho Kyuhyun."
Berdiri dengan anggun di depannya, tampak sosok sempurna Kim Ryeowook menyadarkannya pada alam nyata.
"Kau mau lari kemana, eh?"
Suara rendah yang mengejek itu membuat tengkuk Kyuhyun merinding.
"Setelah semua yang kau lakukan, kau mau pergi seenaknya saja, begitu?" cecar Ryeowook lagi, tak lupa dengan senyum mengejeknya itu.
Kyuhyun menghela napas lelah. Ia baru saja mengakhiri sesuatu yang besar, ia tidak ingin memulai pertengkaran lagi. Diacuhkannya Kim Ryeowook begitu saja.
"Kau ini benar-benar pengecut! Setelah berusaha merebut Sungmin-ku, kau mau lari begitu saja?" teriak Ryeowook lantang.
Kyuhyun menoleh. Keningnya mengernyit mendengar ucapan ketus itu.
"Apa maumu?" tanya Kyuhyun datar, meskipun mati-matian ia berusaha menahan airmatanya yang masih ingin tumpah.
"Apa kau tahu, bahwa aku dan Sungmin sudah bertunangan?" tanya Ryeowook santai. Kyuhyun berusaha tidak memukul pemuda di hadapannya ini.
"Kami selalu cocok satu sama lain, sempurna satu sama lain, seperti yang orang lain katakan," katanya lagi. Kyuhyun tak membantah.
"Tapi kau, kau tiba-tiba datang dan membuat semuanya kacau. Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah apa yang kau perbuat? Enak sekali kau!" Tak henti-hentinya Ryeowook mencecarnya, membuat Kyuhyun semakin gerah.
"Lalu apa maumu? Aku sudah menyerah. Sungmin tidak akan lari darimu, kalian berdua akan hidup bahagia selamanya. Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Kyuhyun dengan nada satir.
"Sungmin-ku adalah orang yang kuat dan tidak akan menangis untuk hal kecil... Tapi hari ini semua image itu runtuh begitu saja..." Suara Ryeowook bergetar, seolah menyiratkan ketakutan yang amat dalam.
"Kau tahu? Hari ini ia menangis setelah sekian lama, beberapa detik yang lalu, setelah keluar dari ruangan ini."
Ryeowook menatap Kyuhyun penuh kebencian. Sementara Kyuhyun tampak begitu bingung mencerna kata-kata yang baru didengarnya. Sungmin menangis? Karenanya?
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan? ! Bahkan meski sekarang kau pergi dari hidupnya sekalipun tetap saja kau telah mengubahnya!" Tanpa disangka pemuda yang terbiasa bersikap anggun dan elegan itu menjerit, membuat Kyuhyun untuk sejenak merasa kaget dengan perubahan suaranya.
"Aku tidak akan kalah darimu, Cho Kyuhyun. Aku tidak akan kalah," desis Ryeowook dingin.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" getar suara Kyuhyun tampak samar dalam ruangan itu. Kelelahan dan kepedihan seolah menggelayuti tubuhnya tampak akhir.
Ryeowook tersenyum, manis sekaligus mematikan.
"Bukankah kau orang yang sangat mempercayai takdir, Cho Kyuhyun? Kalau begitu mari kita lakukan. Aku ingin mengalahkanmu dari segi apapun, termasuk takdir yang sangat kau percayai itu."
Bola mata coklat madu itu berkilat bahaya, membuat Kyuhyun untuk sejenak merasa takut olehnya.
*Chapter 13: Destiny*
Ryeowook tersenyum. Manis sekali.
"Jika kau menang, maka aku akan membiarkanmu berada di sisi Sungminnie," ujarnya mantap.
Kyuhyun terkesiap.
"Tapi jika aku yang menang, maka kau harus pergi sejauh mungkin dari hidup kami. Menghilanglah. Jangan pernah menampakkan wajahmu yang memuakkan di hadapan kami lagi. Enyahlah dari sini."
Kyuhyun tak pernah mendengar suara rendah milik Ryeowook itu bernada penuh dendam dan ancaman.
"Kau mau mempertaruhkan kekasihmu sendiri?" Kyuhyun menelan ludahnya.
"Kau pikir aku yang menginginkan semua ini? !" Lagi-lagi Ryeowook berteriak marah.
"Hari ini aku melihat orang paling kuat itu begitu tak berdaya. Pertama kalinya aku melihatnya menangis. Pertama kali melihatnya tampak terluka tanpa perlu menyembunyikannya. Pertama kalinya…" suaranya bergetar menahan tangis, "...ia terlihat manusiawi."
Ryeowook memandang Kyuhyun setajam yang ia bisa.
Kyuhyun bergeming dalam keterkejutannya.
"Jangan memandangku seperti itu!" suara Ryeowook meninggi.
"Jangan pikir aku tidak tahu! Dari awal aku juga sudah tahu ada sesuatu antara kau dan kekasihku!"
Kyuhyun terhenyak.
"Kau mencintainya, iya kan, Cho Kyuhyun?"
Mulut Kyuhyun terkunci. Ia hanya bisa berdiri dalam kegamangan akan sampai mana pembicaraan ini tertuju.
"Dan dia... Dia juga tidak hanya memandangmu sebelah mata seperti yang ia biasa lakukan pada orang lain..." Poni Ryeowook jatuh menutupi dahinya. Ia menunduk menyembunyikan airmatanya.
"Dia—" Mulut Kyuhyun seakan tercekat melihat wajah Ryeowook yang sembab.
"Dia tidak akan berpaling darimu. Dia tidak akan kembali padaku—"
"Dan kau pikir aku akan puas dengan hasil seperti itu saja? !" Lagi, untuk kesekian kali Ryeowook menjerit tertahan, menahan segala amarah atas kenyataan yang perlahan mengkhianati eksistensinya. Bibirnya terkatup menahan tangis yang menggugu.
"Selesaikan semua yang kau mulai, Cho Kyuhyun. Bertanggung jawablah atas apa yang kau lakukan." Gemeletuk suaranya yang menggigil begitu terasa saat mengucapkan kata-kata itu. Ryeowook mengangkat wajahnya, menatap penuh emosi pada pemuda yang sedari tadi hanya diam di tempatnya.
"Malam ini adalah festival terakhir dimana Amateur Musician Competition dilaksanakan. Nama kita sudah tercatat dalam daftar peserta. Datanglah jam delapan malam nanti. Aku akan melawanmu dengan biolaku, dan kau," Ryeowook menatap Kyuhyun sengit,
"lakukan yang terbaik dengan suaramu."
Ia berlalu dari tempat itu. Di depan pintu ia berhenti sebentar, lalu mengerling sekilas.
"Siapapun yang menang, berhak memiliki Sungmin selamanya."
Meninggalkan Kyuhyun yang membeku di tempatnya.
-X-
Gemuruh tepuk tangan masih terdengar dari belakang panggung ketika ujian duet piano tahun ini baru saja berakhir. Hankyung, Heechul, Henry dan Zhoumi keluar dari back stage menuju depan gedung pertunjukan yang kini sesak oleh penonton yang keluar. Zhoumi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gedung pertunjukan, berharap kepala besar Yesung tampak dari sekian penonton yang mengantri keluar. Tapi nihil, ia tidak menemukan Yesung.
"Mungkin dia sudah keluar sebelum pertunjukan selesai," simpul Zhoumi akhirnya.
"Ryeowook-sshi juga tidak ada," celetuk Henry pelan. Mereka memperhatikan penonton yang tinggal sedikit, memang tidak tampak Ryeowook di antara mereka.
"Mungkin keduanya sudah keluar bersama tadi," kali ini Hankyung yang berbicara.
"Kalau begitu kami akan duluan, Henry masih ada latihan hari ini. Aku akan mengantarkannya," Zhoumi menggenggam pergelangan tangan Henry, membuat pemuda manis itu sedikit tersipu.
"Tidak ingin makan siang bersama dulu?" tawar Heechul ramah.
"Terima kasih, mungkin lain kali saja, Sunbae. Kurasa tidak baik membuat pembimbingku menunggu," tolak Henry halus. Heechul tersenyum.
"Baiklah, sampai nanti kalau begitu."
Zhoumi mengangguk sembari melambaikan tangannya. Dalam waktu singkat keduanya sudah pergi dari tempat itu. Kini hanya tinggal Hankyung dan Heechul disana.
"Kau terlalu banyak berpikir seharian ini," celetuk Heechul pelan. Ia melangkahkan kaki lebih dulu menuju kantin. Hankyung mengikutinya.
Siang itu mendung. Awan hitam berarak di atas, membuat cuaca hari itu terasa dingin dan muram. Beberapa helai daun kering jatuh ke tanah membuat gemerisik ketika terinjak oleh sepatu mereka.
"Pertunjukan tadi bagus sekali," ujar Hankyung, berusaha mengganti topik pembicaraan mereka. Heechul yang mendengar itu hanya memutar bola matanya.
"Kemampuanmu mengalihkan topik pembicaraan sangat payah," cela Heechul sadis.
Hankyung tertawa. Tapi kemudian wajahnya berubah serius. Keduanya masih berjalan bersisian dalam hening.
"Menurutmu adil tidak?"
Heechul mengernyitkan kening.
Hankyung menghela napas pelan.
"Dengan seenaknya aku mendatangi Sungmin dan membuatnya begitu terpojok atas luka yang ia pendam sendiri. Aku menyalahkannya atas kebenciannya yang membuatnya seperti sekarang. Padahal akulah yang bersalah disini. Jika saja aku tidak menerima Kyuhyun dulu, jika saja kami tidak melakukan hubungan yang hanya untuk alasan senang-senang dulu, semuanya tidak akan seperti ini."
Langkah kaki Heechul terhenti. Ia menoleh pada Hankyung yang tampak amat bersalah. Heechul menghela napas, diajaknya Hankyung duduk di salah satu kanopi yang ada di depan gedung Divisi Piano itu.
"Bukan salah siapapun. Kalian masih terlalu muda untuk tahu mana yang benar dan salah dulu. Kalian masih muda untuk dapat membayangkan akibat yang seperti ini, jangan menyalahkan diri sendiri," ujarnya pelan, berusaha memberikan semangat untuk kekasihnya itu.
Hankyung menatapnya lekat-lekat.
"Kadang aku berpikir... Betapa aku begitu kejam pada mereka. Selama ini aku hanya diam dan mendengarkan Kyuhyun bercerita atas penderitaannya ketika Sungmin pergi, padahal akulah yang menyebabkan Sungmin meninggalkannya. Aku diam ketika aku melihat Sungmin ada di akademi yang sama denganku tanpa memberitahu Kyuhyun sebelum ia masuk di akademi ini, karena aku takut bertemu kembali dengan konflik yang tak pernah bisa kuselesaikan sejak dulu, konflik yang berasal dari kesalahanku. Dan sekarang dengan santainya aku menyalahkan mereka atas sikap mereka, tanpa melihat akulah penyebab keduanya menjadi seperti ini."
"Tapi kau berusaha agar Kyuhyun berhasil masuk ke Akademi ini kan?" Heechul tersenyum pelan, "kau belajar atas kesalahanmu. Penyesalanmu belum terlambat. Kau sudah berusaha." Ia menepuk bahu Hankyung pelan, lalu melanjutkan, "jangan merasa bersalah seperti ini. Kau masih pemuda Cina-ku yang hebat," ujarnya lagi, membuat pemuda Cina itu tertawa dan mengangguk kecil.
"Aku hanya ingin keduanya baik-baik saja. Mereka berhak untuk bahagia," ada doa yang terselip dari ucapan Hankyung, membuat Heechul terdiam. Dalam hati Heechul merasa beruntung mempunyai kekasih dengan hati luar biasa seperti Hankyung. Kekasih yang tidak sempurna dan tentu saja pernah melakukan kesalahan, tapi berusaha bangkit dari kesalahan yang ia buat dan memperbaikinya secepat mungkin.
"Mereka berhak untuk bahagia," timpal Heechul membenarkan. Lirih suaranya tertelan oleh keramaian murid-murid yang berlalu lalang di Divisi Piano itu. Semilir angin berhembus lembut, menerbangkan doa keduanya ke tempat yang lebih tinggi. Sedikit harapan tumbuh di hati Heechul, harapan untuk masa depan yang lebih baik dan bahagia. Bukan hanya untuk Kyuhyun dan Sungmin, tapi untuk mereka semua yang telah berusaha. Karena semua orang yang telah berusaha keras untuk bertahan berhak bahagia. Ya, ia yakin itu.
-X-
Ketika kakinya melangkah keluar dari ruangan itu, ketika itu pula seluruh beban di dunia terasa menghimpitnya. Langkahnya serasa berat, seolah-olah ada tangan-tangan tak terlihat yang menggelayuti kakinya, membuatnya harus sekuat mungkin menyingkir dari ruangan itu. Sulit sekali, tiap detik dari saat itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk seluruh persendiannya, membuatnya ingin menjerit karena tenggelam dalam kata 'sakit', membuatnya serasa ingin mati kapan saja. Tapi ia tetap harus pergi dari ruangan itu seperti dirinya yang seharusnya terlihat seperti sekarang, ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh jatuh dan berhenti, ia harus pergi meskipun itu dengan merangkak saking sakitnya.
'Lee Sungmin harus kuat', kalimat itu bergema dalam pikirannya. Membuatnya semakin frustasi. Pada akhirnya ia terjatuh. Pada akhirnya ia terlempar pada rasa sakit yang selama ini ia pendam jauh-jauh. Pada akhirnya ia merasakan ini lagi.
Pada akhirnya, ia menangis dalam kesepian saat tak seorang pun melihatnya.
Di sudut ruangan paling ujung sekaligus paling sepi dari divisi piano itu tangisnya pecah. Ia tersungkur dengan luka yang amat menyiksa di hati yang selama ini ia biarkan tak terjamah, hati yang sudah terlanjur dingin, hati yang ia pikir sudah mati karena kebencian...
Apa-apaan ini? Kenapa hatinya terasa sakit dan sesak sekali? Untuk apa ia menangis seperti ini? Untuk siapa?
Keangkuhannya membuatnya semakin buta oleh rasa benci.
Ketakutan menjalari hatinya. Kegelisahan tak berujung akan sikapnya yang di luar kebiasaan ini. Ketika Lee Sungmin yang dingin telah melewati garis tak terlihat yang dibuatnya sendiri untuk tak terlibat secara emosional dengan alasan apapun, ketika itu pula ia harus merasa takut. Karena ketika emosinya muncul ke permukaan, yang akan terjadi adalah kehancuran atas benteng pertahanan yang sudah ia bangun bertahun-tahun.
Harusnya tidak sesakit ini kan?
Harusnya ia tidak merasakan bentuk emosi apapun ketika di sampingnya ia sudah memiliki Ryeowook yang mencintainya, ketika ia sudah dikelilingi oleh prestasi dan kesempurnaan yang membuatnya semakin tinggi dan tak terjangkau, ketika ia bahkan sudah tak ingin mengingat wajah pemuda yang telah menyakitinya bertahun-tahun lalu. Harusnya tidak seperti ini, itu yang ingin ia yakini.
Tapi sekali lagi, airmata yang jatuh mengkhianati keyakinannya.
Pada akhirnya, dengan menggenggam hatinya yang terluka Lee Sungmin berdiri. Dihapusnya airmata yang masih setia mengalir, sedikit berpikir sinis tentang kejadian tadi. Lupakan, Sungmin. Lupakan. Dibenahinya wajahnya yang berantakan. Matanya masih terlihat sembab, tapi ia tetap berdiri. Berjalan tertatih menuruni tangga dari gedung yang membesarkan namanya, ia berusaha melupakan semuanya. Ia harus lupa jika masih ingin tetap pada pendiriannya. Ia harus lupa, jika ingin tetap bertahan hidup.
Lee Sungmin harus lupa, sebelum semua ingatan itu kembali membunuh keyakinannya dan membuatnya tersungkur lebih dalam.
Ketika kaki letihnya mencapai lantai satu dari gedung Divisi Piano, pandangannya terhenti pada sesosok paruh baya yang seperti menanti kedatangannya. Sosok itu tersenyum.
Sungmin mendekatinya.
"Seonsaengnim..."
Mr. Bard, orang yang dihampiri Sungmin itu masih tersenyum bijak.
"Seperti biasa, kau membuatku bangga." Dengan hangat ia memeluk Sungmin, membuat pemuda itu untuk sejenak terkejut. Tidak seperti biasanya mereka seperti ini. Meskipun Sungmin tahu gurunya adalah seorang pembimbing hebat yang sangat penyayang pada muridnya, ini untuk pertama kalinya gurunya menunjukkan rasa sayangnya sebagai seorang pembimbing di hadapannya.
Atau mungkin yang benar adalah—
Ini untuk pertama kalinya mata Sungmin terbuka melihat kasih sayang yang diberikan orang lain kepadanya.
"Sonata Dua Piano untuk ujian yang dilakukan secara duet," gurunya memulai, "ternyata bukan tugas yang mudah bukan?"
Sungmin tak menjawab.
"Tapi kau berhasil melaluinya dengan baik. Kau berhasil lagi." Mr. Bard terkekeh pelan, lalu menatap muridnya sekali lagi.
"Aku percaya kau mampu melakukan pertunjukan hebat dengan partitur tersulit di dunia sekalipun, Sungmin-sshi. Tapi bukan itu yang aku mau."
Sungmin mendengarkannya dengan seksama.
"Musik yang sejati bukanlah elegansi yang ditampilkan dalam pertunjukan megah dengan skill di atas sempurna," gurunya tersenyum bijak, "musik sejati, adalah musik yang kau mainkan dengan sepenuh hati. Sesederhana itu."
Ada semangat yang meluap-luap dari ucapan gurunya kali itu.
"Aku tahu kau dapat bermain dengan sangat baik saat kau sendiri, tapi mampukah kau bermain dengan baik saat kau bersama orang lain? Mampukah kau menyingkirkan skill yang kau miliki dan mengimbangi permainan orang lain yang tidak punya kemampuan mencukupi untuk mencapai sebuah keseimbangan? Mampukah kau menjauhkan diri dari kesempurnaan yang kau miliki, demi orang yang berada di bawahmu, agar kalian dapat sebanding?"
Sungmin tak menjawab, sedikit terkejut dengan ekspektasi gurunya yang di luar akal itu.
"Sonata Dua Piano," gurunya terdiam sebentar, "adalah dua partitur yang beriringan membentuk harmoni, seperti dua manusia yang berbeda namun bersama-sama mencapai keindahan dalam keceriaan dan keriangan yang manusiawi. Dua hati yang berbeda, yang berharap dapat menyatu dalam keselarasan untuk mencapai kesempurnaan..."
Dua manusia yang berbeda.
Dua skill yang sangat jauh berbeda.
Namun bersama-sama berusaha menyatu dengan perbedaan itu untuk mencapai kesempurnaan.
Kyuhyun dan Sungmin.
Tujuan dari permainan ini, bukan untuk mengasah skill Kyuhyun yang sangat payah agar dapat bersanding dengan Sungmin, melainkan agar Sungmin mau menurunkan egonya untuk menjadi bintang di atas panggung pertunjukan seperti biasa, lalu bahu-membahu bersama partner-nya menemukan keseimbangan.
Sonata Dua Piano bukan pertunjukan yang memamerkan kesempurnaan, melainkan justru membuang jauh-jauh kata sempurna dalam pertunjukan, diganti dengan permainan sederhana yang penuh keriangan dan ceria.
"Pada akhirnya, Sonata Dua Piano adalah partitur yang akan mengeratkan hubungan antara sunbae dan hoobae-nya, menuju kehidupan yang lebih baik." Mr. Bard menepuk bahu Sungmin, menyemangatinya sekali lagi.
Tapi bagi Sungmin, ini tidak hanya tentang kerjasama sunbae dan hoobae-nya. Sesungguhnya ia merasa Sonata Dua Piano yang ia mainkan bersama Kyuhyun, lebih dari itu.
-X-
Hankyung baru saja selesai mengantarkan Heechul ke ruang latihannya di divisi orchestra ketika dilihatnya Kim Ryeowook menyendiri di salah satu lorong di gedung divisi biola.
"Sendirian saja?"
Ryeowook menoleh terkejut. Tapi ekspresi itu kemudian hilang melihat orang yang menyapanya adalah Hankyung.
"Aku menunggu Sungmin..." ujarnya pelan. Lalu menunduk.
Hankyung mengernyit. Pada salah satu kursi disana, ia ikut duduk di samping Ryeowook.
"Kupikir kalian berdua sudah pulang."
"Sungminnie bilang ia bertemu sebentar dengan pembimbingnya untuk membicarakan tahap ujian selanjutnya," tutur Ryeowook lagi.
Hankyung hanya ber-oh ria dan mengangguk. Matanya mengitari sepanjang lorong dari lantai dua yang tampak ramai itu. Pandangannya terhenti pada sepasang pemuda yang sedang bercanda di depan ruang latihan.
"Mereka sangat serasi ya?"celetuk Hankyung pelan.
Ryeowook mengalihkan pandangannya, ikut menoleh dan mengikuti arah pandang Hankyung. Pada sepasang kekasih yang sedang bercanda disana. Zhoumi dan Henry. Diam-diam ia mengangguk pelan.
"Kadang kupikir atmosfer diantara keduanya sangat berbeda dan tak seimbang..." Hankyung bergumam pelan, "aku tak pernah menyangka Zhoumi yang slengean dan selalu semaunya sendiri dapat menaklukan Henry yang sehebat itu. Bukan bermaksud membandingkan," Ia menoleh pada Ryeowook, lalu melanjutkan, "aku malah bangga sahabatku mendapatkan kekasih seperti itu. Tapi tetap saja keterkejutan itu ada. Benar-benar tak disangka, bukan begitu?"
"Henry mempunyai selera yang sedikit berbeda," gumam Ryeowook kecil, ada nada merendahkan yang kentara dalam ucapannya itu.
Hankyung sedikit mengernyit, tapi kemudian senyum kecil terpoles di bibirnya.
"Itu bukan selera, itu cinta."
"Cinta?" Suara rendah Ryeowook memecah keheningan, jenis suara yang digunakannya untuk mencela sesuatu. "Cinta macam apa yang mau merendahkan diri dengan bersanding bersama orang yang akan meruntuhkan harga dirimu?" tanyanya blak-blakan.
Senyum masih tak hilang dari wajah Hankyung.
"Begitulah cinta. Bodoh. Benar-benar bodoh hingga membuat orang yang mengalaminya rela menanggalkan segala gemerlap kesempurnaan dan harga diri yang dimilikinya jatuh hanya untuk bersama orang yang dicintainya. Cinta memang bodoh."
Ryeowook mengernyit, tapi ia tak menjawab.
"Cinta memang bodoh," kata Hankyung lagi, ia menatap Ryeowook lekat-lekat, "kau tak perlu malu karena itu."
Bola mata Ryeowook membelalak.
"Jangan malu," ujar Hankyung lagi. Membuat pemuda yang lebih muda itu semakin membisu.
-X-
Waktu berlalu amat cepat. Siang yang medung telah tergantikan dengan langit malam yang semakin gelap. Cuaca terasa semakin dingin menjelang malam. Tapi suhu yang dingin pun tidak menghalangi semangat para panitia festival bergengsi di Korea Selatan ini untuk terus berbenah. Tidak juga bagi para penonton yang sudah menunggu-nunggu datangnya malam ini.
Malam ini adalah malam terakhir dari rentetan perhelatan akbar Korean Music Festival yang diselanggarakan di akademi. Panggung-panggung musik besar semakin semarak, kerlip lampion yang terpasang di setiap stand semakin indah dan gemerlap. Tenda-tenda kecil dan kanopi-kanopi yang tersebar di setiap sudut membuat suasana semakin ramai. Malam itu ribuan orang mendatangi festival untuk mencecap keindahan seni musik yang ditawarkan oleh penyelenggara untuk terakhir kalinya tahun ini.
Kyuhyun terdiam di belakang salah satu panggung terbuka yang disiapkan untuk acara nanti. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Ia tidak memberitahu siapapun bahwa ia akan tampil malam ini. Apa yang terjadi seharian ini sudah cukup membuatnya gila, ia hanya ingin menuntaskan semuanya. Permainan kecil yang akan ia lakukan dengan Ryeowook nanti, ia masih tak habis pikir kenapa ia menerimanya. Di luar segala pertimbangan tentang nasib dan takdir yang ia percayai, mengikuti kompetisi melawan Ryeowook adalah satu-satunya nasib sial yang pernah ia terima.
"Sebentar lagi semuanya akan berakhir..."
Kyuhyun menoleh, dilihatnya Yesung berdiri di sampingnya menatapnya dengan pandangan yang tak dapat ditebak. Kyuhyun ikut berdiri.
"Semuanya memang sudah berakhir."
Yesung tak menanggapi ucapan penuh keputus asaan itu. Butuh hening lama sebelum ia kembali bicara, "Kau mungkin akan membenciku, tapi aku akan tetap mengakuinya sebelum kau bertanya. Aku memasukkan namamu dan Ryeowookie ke dalam daftar nama peserta untuk kompetisi nanti."
Tanpa diduga Kyuhyun tersenyum mendengarnya.
"Aku sudah menebaknya." Ia menoleh pada Yesung yang kini tampak menyesal.
"Apa sunbae pikir aku akan marah? Dengan seluruh sikap baik yang Sunbae berikan padaku, bagaimana aku bisa marah?" Kyuhyun tersenyum lagi, lalu mengalihkan pandangannya pada langit malam yang kelam dan pekat.
"Sunbae tak pernah sedikitpun membenciku karena aku berusaha merebut Sungmin dari Ryeowook, terima kasih."
Kelopak mata Yesung melebar ketika dilihatnya pemuda itu tersenyum semakin hangat. Tapi senyuman itu... Senyum yang Kyuhyun berikan adalah senyum yang penuh dengan keputus asaan, senyum seorang yang telah menerima semuanya dengan sepenuh hati tanpa ada niat untuk merubah keadaan, senyum yang selalu tanpa sadar Yesung miliki selama ini.
"Jangan..." ucapnya parau.
Kyuhyun menaikkan alisnya, tampak tak mengerti dengan maksud Yesung.
Desing kembang api yang dinyalakan membuat keduanya berhenti. Kyuhyun berlari kecil keluar, disusul Yesung di belakangnya. Dilihatnya ribuan cahaya warna warni memecah kegelapan langit malam itu.
Riuh rendah tepuk tangan pengunjung memekakkan telinga. Semua wajah tampak bergairah dan gembira menonton pertunjukan kembang api dari malam terakhir festival. Para pengunjung bersorak-sorai, menikmati indahnya keriangan yang tercipta oleh pertunjukan kembang api.
Kembang api kedua dan seterusnya terus melesat ke atas langit, menciptakan lukisan yang penuh warna semangat dan kegembiraan di atas kanvas yang hitam kelam. Semua pengunjung semakin riuh. Beberapa panitia semakin bersemangat menyalakan kembang api.
"Seindah apapun festival, ia akan tetap berakhir."
Kyuhyun tak menjawab. Ia menatap langit malam yang tampak indah dengan warna warni yang mekar di atas sana. Tawa pengunjung dan panitia terdengar membahana.
"Tapi kehidupan tidak akan berakhir secepat itu," gumam Yesung lagi.
Bersamaan dengan itu kembang api terakhir merekah begitu indah, menyisakan butir-butir cahaya yang tertinggal, kemudian perlahan hilang ditelan gelapnya langit malam. Beberapa pengunjung tampak sedih melihat pertunjukan itu berakhir.
"Karena dibalik sisa-sisa cahaya yang tersisa dari kerlip kembang api terakhir, ada harapan yang tertinggal untuk menyosong masa depan yang lebih baik."
Dalam diam, Kyuhyun tersenyum mendengarkan semuanya. Ia mengerti. Harapan itu selalu ada. Selalu ada.
.
.
.
.
.
Panggung terbuka itu tampak riuh rendah oleh suara penonton yang bersemangat. Amateur Musician Competition telah dibuka dengan penampilan band rock yang spektakuler, membuat suasana yang semula dingin kini memanas. Kyuhyun berdiri di belakang panggung dengan penuh kecemasan, tampak blank dengan apa yang akan ia lakukan nanti. Kyuhyun sudah menyiapkan lagu yang akan ia nyanyikan, tapi rasa percaya dirinya tidak timbul juga. Padahal biasanya ia selalu yakin saat audisi ataupun menyanyi di atas panggung. Tapi kali ini ia benar-benar tegang. Tentu saja, siapa yang tidak tegang dengan kompetisi seperti ini? Mempertaruhkan seseorang hanya lewat kompetisi macam ini. Kyuhyun sadar, taruhannya ini tidak hanya melibatkan Ryeowook dan dirinya. Apapun hasilnya nanti, jelas akan merubah kehidupan mereka dan orang-orang di sekitarnya. Baik Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin ataupun Yesung, nasib mereka nanti tergantung pada hasil kompetisi ini. Jadi inikah yang disebut dengan permainan takdir?
"Nervous, Cho Kyuhyun?"
Kyuhyun menoleh. Dilihatnya Kim Ryeowook berdiri dengan anggun di depannya. Pemuda itu tampak tampan dan manis di saat yang bersamaan dengan kemeja pink polos yang dirangkap dengan jas hitamnya yang sangat elegan.
"Semoga kau sudah mempersiapkan dirimu dengan baik," ujarnya lagi. Senyum manis terlukis di wajah mungil itu.
Kyuhyun masih tak menjawab.
"Kenapa diam? Kau ragu dengan taruhan ini?" tanya Ryeowook sekali lagi. Didekatinya pemuda pianist itu, menyipitkan matanya dengan pongah.
"Kau... " Kyuhyun meliriknya lambat, "Apa yang kau rencanakan?" Parau suaranya terdengar amat jelas. Back stage itu masih lumayan sepi.
Kim Ryeowook tersenyum tenang.
"Mempertaruhkan kekasihmu seperti ini..." ujar Kyuhyun lagi, ia menatap Ryeowook dengan penuh ketidak mengertian, "apa yang kau rencanakan?"
Dipandangnya Ryeowook yang masih tak menjawab. Ryeowook pemuda yang amat cerdas, Kyuhyun tahu itu. Bukan hal yang mustahil jika Ryeowook merencanakan sesuatu yang lebih buruk dibalik taruhan ini.
"Aku tahu kau tidak bodoh. Pasti ada hal lain yang ingin kau raih selain mengalahkanku."
"Kuanggap itu sebagai pujian," potong Ryeowook datar. Dialihkannya pandangannya ke arah lain, tampak enggan menanggapi pertanyaan Kyuhyun.
"Apa itu akan membuatmu puas?" pertanyaan kecil dari Kyuhyun itu mengoyak keheningan yang untuk beberapa waktu menguasai mereka.
Ryeowook menoleh tak mengerti.
"Jika aku kalah nanti..." Kyuhyun memulai, "Jika setelah ini kau merasa menang dengan bersanding di sisi Sungmin selamanya, apa itu akan membuatmu puas?" Disadari atau tidak, pertanyaan bernada satir itu tampak menunjukkan ketidak sukaannya pada pemuda di hadapannya sekarang.
Lagi-lagi Ryeowook tersenyum kecil.
"Ya," ucapnya kemudian. Bola mata coklat madu itu bersinar terang, "aku akan sangat puas."
Kyuhyun menelan ludahnya.
"Seperti yang telah kubilang," tutur Ryeowook lagi, "Aku tidak akan kalah darimu, Cho Kyuhyun. Tidak akan."
Kyuhyun tak menjawab. Tepat setelah itu dilihatnya pemuda bermarga Kim itu menatapnya sinis, bergumam lirih pada Kyuhyun dengan penuh kebencian.
"Karena kau harus tahu bahwa aku telah memilih untuk tidak kalah, Cho Kyuhyun. Sudah saatnya aku kembali dan meraih apa yang seharusnya kumiliki."
Tepat setelah Ryeowook mengakhiri ucapannya, tirai back stage tersingkap lebar-lebar.
Kyuhyun terkesiap melihat sesosok pemuda berambut hitam muncul dari balik tirai.
"Cho Kyuhyun, sebentar lagi giliranmu tampil." Yesung, pemuda itu melangkah mendekati Kyuhyun dan memberikan sebuah mikrofon.
"Semoga beruntung," gumam Ryeowook pelan. Kyuhyun meliriknya canggung sebelum meninggalkan back stage itu.
Angin yang berhembus membuat malam terasa semakin dingin.
Tepat setelah Kyuhyun benar-benar pergi Yesung bergumam kecil, "masih ada waktu untuk menghentikannya."
Kelopak mata Ryeowook terbuka lebar-lebar. Ditolehkan kepalanya pada Yesung yang kini menatapnya prihatin.
"Hyung mau menyuruhku berhenti?" tanya Ryeowook lambat-lambat.
Yesung menggeleng pelan.
"Aku hanya ingin kau tahu, bahwa kau tidak seharusnya terluka."
Sebagaimana Kyuhyun dan dirinya yang juga tidak seharusnya terluka.
Ryeowook terkekeh kecil.
"Hyung berkata seolah-olah aku akan membiarkan bocah itu menang begitu saja." Ia berkata lagi, "aku tidak akan membiarkannya merebut Sungmin-ku," ucapnya tegas.
Yesung masih tak mengedipkan matanya. Ditatapnya Ryeowook hati-hati.
"Ego-mu yang terlalu tinggi itulah yang kelak akan membuatmu terpuruk. Sama seperti kekasihmu."
Ryeowook tersentak. Matanya menyipit sinis ketika didengarnya Yesung bergumam lagi,
"Tidakkah, yang seperti ini hanya akan membuatmu lelah?"
Dan membuat Yesung lebih lelah dari yang bisa siapapun bayangkan. Yesung melayangkan pandangannya ke arah lain, menggigit bibirnya pelan. Berusaha menyembunyikan sakit yang ia rasakan. Berusaha menyembunyikan egonya sendiri. Lamat-lamat ia kembali berkata,
"Kyuhyun sudah menyerah..."
"Hyung berjanji untuk membantuku," potong Ryeowook tegas. "Sekarang Hyung merasa bersalah telah membantuku? Hyung lebih memihak pada bocah itu dan menganggapku sebagai monster jahat di pertarungan ini, begitu?"
Yesung menggeleng cepat-cepat. Lidahnya terasa kelu.
"Lalu? Lalu apa motivasi Hyung mengatakan semua ini? Selain untuk membuatku merasa terpojok dan bersalah, selain untuk membela Kyuhyun, apa lagi alasannya?" Ryeowook membombardir pertahanan Yesung dengan berbagai pertanyaan. Kepalanya berkedut-kedut nyeri, tampak benci dengan keadaan ini.
Yesung masih tak menjawab.
"Hyung pikir semua ini hanya karena keinginan dan keegoisanku, begitu? Hanya karena egoku yang terlalu tinggi untuk mengalahkannya? Hyung pikir ini karena aku begitu tamak atas apa yang telah aku miliki?" Suara Ryeowook semakin meninggi.
"Berhenti menilaiku. Hyung tidak tahu apa-apa tentangku," ucap Ryeowook ahirnya. Ia menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi disana.
"Kalau Hyung ingin melihatku bahagia, berhentilah bertanya dan bantu aku."
Dalam hening malam Yesung mengangguk pelan. Kembali menerima apa yang terjadi seperti sebelumnya.
-X-
Gerimis turun membasahi bumi. Bau tanah yang basah bercampur dengan air menyeruak ke udara. Beberapa panitia dari Amateur Musician Competition yang diselenggarakan di panggung terbuka tampak kewalahan memasang atap-atap darurat disana. Tapi hujan yang deras sekalipun tampaknya tak mengurangi antuasisme penonton untuk melihat secara langsung kompetisi untuk musisi amatir namun bergengsi ini. Karena menurut kabar yang beredar, beberapa dari calon pemain profesional yang masih duduk di bangku Akademi akan mengikuti kompetisi, termasuk sang Mutiara dari Divisi Biola, Kim Ryeowook yang beberapa waktu lalu batal mengikuti ujian.
Hankyung menarik kursi yang diletakkan berjejer setengah oval di tengah lapangan depan panggung terbuka Amateur Musician Competition, dimana sebagian besar penonton dari festival telah berkumpul di tempat itu. Ia dan Heechul duduk bersisian dengan tenang, meskipun raut muka Hankyung tak dapat menyembunyikan sedikit ketegangan akan acara ini. Ia sudah tahu. Zhoumi sebagai salah satu panitia kompetisi telah memberitahunya bahwa Yesung memasukkan nama Ryeowook dan Kyuhyun sebagai peserta di acara malam ini. Hankyung sudah tahu kalau seharusnya hari ini masa belajar Kyuhyun di Akademi telah habis, yang berarti ia harus secepatnya pergi dari sini. Tapi kompetisi tak terduga ini membuatnya sedikit tercengang atas takdir yang ada, bagaimana Yesung—dan Ryeowook yang ia yakini meminta Yesung memasukkan nama Kyuhyun juga—malah memberi alasan bagi Kyuhyun untuk semakin lama disini.
"Kau pasti mencemaskannya."
Hankyung menoleh pada kekasihnya yang kini sedang menatapnya prihatin.
"Kyuhyun akan baik-baik saja," timpal Heechul lagi. Sedikit merasa penat, ia menghela napasnya pelan.
"Bukan Kyuhyun." Hankyung mulai membuka suara. Diliriknya peserta kesekian yang telah tampil di kompetisi ini, tidak begitu tertarik.
"Jika Ryeowook menang, Kyuhyun dan Yesung lah yang akan terluka seperti sebelumnya. Tapi jika Kyuhyun menang malam ini, maka Ryeowook sendirilah yang akan terluka..." gumam Heechul lirih, berusaha memahami pemikiran Hankyung. Ia menoleh pada Hankyung sekali lagi.
"Menurutmu siapa di antara mereka yang berhak menang?"
Hankyung menghembuskan napas pelan. Mengamati suasana ramai di pertunjukan terbuka itu, lagi-lagi ia menunduk.
"Semuanya terluka. Tapi semuanya berhak untuk bahagia..."
Bersamaan dengan itu lagu yang dimainkan oleh peserta di atas panggung tadi berakhir. Sang MC kembali menaiki panggung dan berseru lantang,
"Dan peserta selanjutnya adalah... Cho Kyuhyun!"
Hankyung dan Heechul menarik napas. Keduanya menoleh ke atas panggung pertunjukan dimana seorang pemuda sedang berjalan canggung menuju tengah panggung.
Kyuhyun menaiki panggung dengan hati-hati. Dengan memakai kemeja dan celana kasual ia memasuki panggung penuh rasa tegang. Lighting di atas panggung telah diredupkan sesuai permintaannya. Beberapa penonton tampak heran dengan peserta kali ini, mengingat nama Cho Kyuhyun masih sangat asing bahkan tidak pernah mereka dengar dalam dunia kompetisi musik seperti ini.
Tidak ada yang meneriakan namanya.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada yang memberinya semangat.
Tidak ada seorangpun yang peduli karena tidak mengenalnya.
Kyuhyun tetap menuju panggung dengan perasaan tak menentu. Tepat saat itulah ia menemukan kekuatannya.
Hujan turun dengan derasnya.
Dan semua kenangan itu datang bagai de javu yang mengalir begitu jelas.
Hujan, malam dan airmata, semua gambaran blur itu perlahan menampakkan eksistensinya. Sebuah lukisan tentang seorang pemuda manis yang selama ini amat dicintainya. Pemuda yang begitu menyukai es krim dan membenci hujan. Pemuda yang langsung sakit begitu air hujan mengenai tubuhnya, pemuda yang ia sia-siakan dulu...
Bola mata Kyuhyun berkaca-kaca. Lighting panggung masih meredup ketika ia mengangkat mikrofonnya. Mata Kyuhyun terpejam membuat setetes air lolos dari matanya. Ia ingat bahwa pemuda itu amat menyukai lagu itu, lagu yang sering ia nyanyikan dulu untuknya saat mereka masih bersama, lagu dengan melodi dan lirik yang amat lembut...
Suara balad Kyuhyun memecah keheningan tak menyenangkan di pertunjukan itu.
Aninde naneun aninde juhngmal iguhn mari andweneunde
[No, I'm not.. It really doesn't make sense]
Pabeul muhguhdo jami deul ddaedo michyuhnneunji geudaeman boyuhyo
[Even when I'm eating or falling asleep, I keep thinking about you like crazy]
Uhnjena nareul jongil namaneul motsalgehae miwuhnneunde
[All the time I keep hating myself so badly]
Uhttuhke naega uhttuhke geudael saranghage dwaenneunji isanghajyo
[How could I, how could I fall in love with you? That's a bit weird]
Suara baladnya mengalun begitu merdu dan lembut, meski tanpa iringan musik. Hanya ada vokal, namun seluruh penonton tampak begitu terkesima dengan suaranya itu. Lagu yang lembut dengan melodi dan lirik yang romantis seolah telah menghipnotis mereka. Tapi pikiran Kyuhyun tidak terfokus pada itu semua.
Kyuhyun tidak peduli apakah penonton akan menyukai penampilannya atau tidak. Ia tidak peduli tentang taruhan ini, tentang berapa orang yang akan bertepuk tangan untuknya setelah ini, ia tidak peduli itu semua. Persetan dengan kompetisi, Kyuhyun hanya ingin bernyanyi. Ia hanya ingin mengingat Sungmin untuk yang terakhir kalinya, selama itu dibolehkan. Mengenang betapa bahagiannya mereka dulu, betapa Sungmin amat mencintainya dulu. Kyuhyun tersenyum dalam tangis yang ia sembunyikan.
Setidaknya itu yang ingin ia yakini sekarang.
Perlahan denting piano dan petikan gitar mulai mengiringi suaranya, berpadu dengan lagu romantis itu. Kyuhyun tersenyum. Ia tidak boleh menangis sekarang. Itu adalah lagu yang amat disukai Sungmin, sebuah lagu yang bahagia. Ia juga harus bahagia menyanyikannya. Kenangan itu terlihat semakin jelas, semakin nyata.
Untuk sekarang, Kyuhyun hanya ingin mengenang Sungmin-nya.
Nae maeumeun geudaereul deudjyo muhribootuh balkkeutkkaji
[My heart hears you... from head to toe]
Chingoodeul nareul nollyuhdo nae gaseumeun modoo geudaeman deullyuhyo
[My friends tease me for this but my heart only listens to you]
Hanadoolset geudaega wootjyo soomi muhjeul guhtman gatjyo
[One two three, you smile and I think I lost my breath]
Geudae misoreul damasuh maeil sarangiran yorihajyo yuhngwuhnhi
[By seeing you're smile, I'll cook with love everyday]
I love you Love you Love you
Love you Love you Love you yeah
Hujan mulai menjadi gerimis lagi. Kyuhyun membuka matanya dan melihat beberapa penonton tampak bahagia dengan pertunjukan yang disuguhkannya. Ia tersenyum.
Uhnjenga bami jinagago ddo bami jinagago ddo bami jina na giuhki heemihaejyuhdo
[I went through the night, and another night, and another night
My memories are getting blurred]
Uhnjena nae mameun misojitneun nae nooneun dduhnaji anhgeddago geudael yuhngwuhnhi
[But you always stay in my heart and in my smiling eyes
You're the one forever~]
Ya, Sungmin akan selalu ada di hatinya. Selamanya, apapun yang terjadi. Begitupun cukup.
Malam itu, di bawah rintik hujan hanya dengan berbekal suara dan kenangannya, Kyuhyun menerima tepuk tangan yang amat meriah atas penampilannya.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di belakang panggung seorang pemuda menyandarkan tubuhnya ke dinding, tampak memikirkan sesuatu. Suara gemuruh tepuk tangan dari panggung terdengar amat jelas, membuatnya semakin kalut.
"Kim Ryeowook, giliranmu."
Ia menoleh pada salah satu panitia yang baru saja memanggil namanya, lalu mengangguk tegas.
Tak jauh dari sana, sesosok pemuda berambut hitam yang juga sebagai salah satu panitia disana menatapnya tajam. Meskipun Ryeowook melangkahkan kakinya dengan tegas dan mantap, tapi ia tahu, untuk sejenak keping mata coklat madu itu tampak sayu.
Begitu Ryeowook melangkahkan kaki ke atas panggung, saat itu juga gemuruh tepuk tangan mengiringi tiap langkahnya, bahkan sebelum ia memulai pertunjukan. Sudut bibir Ryeowook tersenyum melihat betapa banyak penonton yang menunggu-nunggu penampilannya.
"Tidak mungkin..." Hankyung mendesis lirih.
Heechul menoleh pada kekasihnya yang tampak tak percaya. "Kenapa?"
Tapi Hankyung tak menjawab. Keduanya tetap menatap tajam pada sosok Ryeowook yang tampak menjadi bintang di kompetisi kali ini. Terlihat sekali begitu mendominasi, seolah-olah kompetisi seperti ini sudah tidak penting lagi. Siapapun percaya bahwa Ryeowook akan menang dengan sekali gesekan pada biolanya saja.
Lighting panggung meredup bersamaan dengan gerakan Ryeowook yang menumpukkan biolanya di dagu.
"Dia memakai sarung tangan? Kenapa?"
Hankyung mendengar beberapa penonton terutama fans berat Ryeowook berbisik-bisik tak mengerti. Kenapa Ryeowook harus memakai sarung tangan di pertunjukan biolanya? Apa sesuatu terjadi? Apa ia baik-baik saja?
Hankyung menyadari itu, tapi ia tak ingin menggubris mereka. Sebagai orang yang beberapa hari ini dekat dengan Ryeowook dan mengerti Raynaud's Syndrome yang Ryeowook derita, tentu ia tahu banyak. Ia lah yang menyarankan Ryeowook untuk memakai sarung tangan hangat dalam setiap permainan biola untuk mencegah gejala itu datang, tapi tidak di cuaca dingin seperti ini. Tidak dalam keadaan seperti ini. Hankyung mencium sesuatu yang buruk akan terjadi.
Nada pertama dari gesekan biola yang dihasilkan Ryeowook di atas panggung terdengar amat lirih dan merdu. Swan Lake dari Tchaikovsky, seperti yang diketahui Hankyung dengan baik. Beberapa penonton tersenyum mendengarkan musik penuh kedinamisan itu dimainkan oleh violinist sekaliber Ryeowook dengan sangat apik.
Namun itu hanya sebentar.
Semua penonton bahkan Kyuhyun yang memperhatikan pertunjukkan Ryeowook dengan penuh rasa iri dari bawah panggung tampak menahan napas ketika busur biola yang dipegang violinist itu jatuh begitu saja.
Heechul menjerit tertahan ketika menyadari hal itu.
Di panggung yang redup dan sepi itu Kim Ryeowook tersungkur, memegang jemarinya dengan ekspresi yang amat kesakitan. Heechul menoleh pada kekasihnya dengan amat tegang.
Waktu seperti berputar amat lambat.
"Brengsek!" Yesung yang sedari tadi hanya melihat dari jauh langsung naik ke atas panggung. Hatinya terasa sakit melihat Ryeowook yang tampak kesakitan di atas panggung tanpa seorang pun berusaha menolongnya. Tampaknya semua orang terlalu terkejut dengan kejadian tadi.
Hening yang begitu lama tampak menyiksa Ryeowook yang terlihat begitu sendiri di atas panggung besar. Seolah hela napasnya yang naik turun terdengar begitu jelas di kedua telinganya. Ia menunduk, kembali tersungkur atas kegagalannya. Semuanya sudah berakhir...
Ia sudah gagal...
Dalam ketegangan itu Kyuhyun melihat Yesung mendatangi Ryeowook di atas panggung, membopongnya pelan menuju back stage tanpa menghiraukan pandangan bertanya dari semua orang yang hadir disana.
"Kim Ryeowook gagal?"
"Kenapa bisa?"
"Apa dia sakit?"
Kasak-kusuk terdengar amat jelas diantara penonton. Semuanya bingung dengan apa yang baru terjadi. Kim Ryeowook, Mutiara dari Divisi Biola yang amat dielu-elukan, gagal begitu saja dalam kompetisi amatir seperti ini.
"Hankyungie..." Heechul memegang tangan kekasihnya erat, merasa takut dengan apa yang baru saja terjadi.
Sudut mata Hankyung melihat Kyuhyun yang berlari menuju belakang panggung.
Dengan penuh ketegangan ia berdiri dan menarik tangan Heechul.
"Ayo."
-X-
Chaos.
Begitulah gambaran atas apa yang terjadi di pertunjukan Ryeowook. Panitia dan MC yang ada terpaksa harus berusaha keras menenangkan penonton yang bertanya-tanya agar acara dapat berjalan lancar seperti semula. Sementara di balik panggung, seorang pemuda tampak sedang menenangkan pemuda lain yang begitu kalut.
"Apa kau mau ke rumah sakit?" Yesung mendudukkan Ryeowook di salah satu sofa di sana. Ia berlutut di lantai untuk melihat apa yang terjadi dengan tangan Ryeowook, tapi malah ditepis pemuda itu dengan kasar.
Yesung terhenyak.
"Ryeowookie..." ujarnya lirih.
Ryeowook tak menjawab. Bahunya bergetar menahan kesedihan yang mendera, tapi ia tidak menangis. Ia menunduk semakin dalam ketika dilihatnya Yesung menyerah membujuknya.
Tepat setelah itu Cho Kyuhyun datang.
"Apa yang terjadi?" Ia mengontrol napasnya yang terengah-engah karena berlari. Dilihatnya Yesung yang tampak putus asa, lalu menoleh pada Ryeowook yang terus menunduk.
Kyuhyun mendekati mereka.
"Ada apa...denganmu?" tanyanya hati-hati.
Baik Ryeowook maupun Yesung masih tak menjawab.
Waktu terasa amat lama dan tak menyenangkan sebelum suara lirih Ryeowook mengoyak keheningan dingin di antara mereka.
"Kau... menang."
Napas Kyuhyun tercekat, setelah sesaat sebelumnya ia tak mengambil napas sama sekali. Ia terlalu tegang, terlalu takut, terlalu banyak pertanyaan berpusing di kepalanya—
Kedua pupil matanya mengecil, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kau menang," kata Ryeowook lagi dengan parau. Ia mengangkat wajahnya. Tidak ada airmata disana. Tidak ada ekspresi marah atau pun kecewa. Sekali lagi Ryeowook berhasil menutupi perasaannya dengan baik. Ia meneruskan, "Dia ada di ruang latihan piano kalian yang dulu. Temuilah dia," ucap Ryeowook datar.
"Sebelum aku berubah pikiran," tambahnya lagi. Kepingan bola madu milik Ryeowook tampak bergetar.
Ketika itu tidak hanya Kyuhyun yang tercengang oleh ucapan Ryeowook, tapi Yesung di sampingnya juga tampak membeku.
Karena ucapan itulah yang akan mengubah segalanya.
Satu keputusan terakhir. Satu hal yang akan menjadi penyelesaian atas semua yang telah terjadi di antara mereka selama ini. Satu yang menentukan segala, yang ternyata berada di tangan Ryeowook. Satu pembuktian bahwa takdir itu memang benar-benar ada.
Segalanya terasa telah menjadi mozaik samar yang tak lagi tercerai berai. Tanpa sadar Kyuhyun telah mengayunkan kakinya, menuju satu-satunya tempat yang ia yakini sebagai pemberhentiannya atas takdir yang membelitnya selama ini. Berlari, berlari dan terus berlari. Tanpa henti. Tanpa lelah. Hanya berlari yang kini ada di pikirannya kini. Berlari dari takdir yang telah menjerumuskan mereka semua dalam sebuah kisah rumit penuh sakit dan airmata, berlari menuju satu-satunya orang yang ingin ia miliki.
Sekarang ia mengerti.
Ia tidak ingin menyerah. Ia juga tidak ingin kalah. Ia juga ingin berada di sisi Sungmin.
Ia ingin memiliki Sungmin.
Tak sedikitpun ia menyeka air yang telah turun dari matanya, membiarkannya merembes di kedua pipinya yang hangat.
Kyuhyun telah sampai di lantai tiga divisi piano yang tampak gelap malam itu, di depan ruang latihan dimana memorinya bersama Sungmin satu bulan ini berlangsung. Dengan gemetar dibukanya pintu ruang latihan.
Gelap.
Hanya kegelapan yang ia temui, sama seperti sebelumnya.
Tampaknya tak ada seorang pun disana selain dirinya sendiri. Tidak ada tanda-tanda adanya Sungmin. Tidak ada siapapun.
Mungkinkah Ryeowook berbohong? Mungkinkah semua ini hanya akal-akalan Ryeowook untuk memberinya pelajaran atas kekurangajarannya yang pernah berusaha merebut Sungmin? Mungkinkah lagi-lagi ia hanya termakan harapan palsu?
Tapi suara sepatu yang beradu dengan lantai yang dingin membuatnya menyadari kehadiran orang lain disana.
Lirih, lamat-lamat suara yang amat ia kenal terdengar.
"Siapa yang lebih egois? Orang yang mengejar kekasih orang lain, atau orang yg tidak mau berdamai dengan sakit hatinya sendiri?"
Kyuhyun tak menjawab. Ia melirik siluet sosok yang amat dikenalnya itu bersandar di balik pintu. Sosok itu kemudian berjalan ke arahnya, mendekati grand piano yang berada di tengah ruang latihan.
Sosok itu duduk disana, menutup matanya. Dalam remang-remang ia memainkan piano itu.
Not-not penuh depresi dan kesakitan lahir dari permainannya. Waktu seperti melambat begitu lagu itu dimainkan.
Kyuhyun tercekat melihat bagaimana sosok itu bermain piano dalam gelap tanpa melihat sedikitpun tuts-tuts piano ataupun partitur, seolah-olah telah begitu hapal tiap nada yang dimainkannya.
Lagu menyedihkan itu terus mengalun, membuat Kyuhyun membeku mendengarkannya. Merasakan tiap inci kesakitan yang sengaja dimuntahkan lewat permainan itu.
Sungmin menghentikan permainannya sebentar. Ia berkata lirih, "Lagu ini selalu berhasil membunuhku."
Kyuhyun terhenyak.
Fur Elise dari Beethoven kembali dimainkan oleh Sungmin. Semakin menyedihkan, semakin memperlihatkan luka yang selama ini ia tutupi oleh sikap angkuh dan arogannya. Kelemahan yang selalu ia anggap hina. Sakit hati yang sudah demikian membusuk hingga ia tak bisa sembuh...
Sungmin berhenti lagi.
Desir angin yang begitu dingin, hujan yang turun di luar membuat suasana malam itu begitu beku dan tak nyaman. Kyuhyun merasa seluruh kegembiraannya telah disedot oleh udara malam yang membawakan not-not depresi penuh kesakitan tadi.
"Aku terluka, Kyu..." Gemetar suara Sungmin meluruhkan pertahanan Kyuhyun.
Di kegelapan ini ia menumpahkan semuanya. Mungkin memang di kegelapan seperti inilah ia mampu bersikap jujur, berdamai dengan luka-lukanya. Hanya ketika ia menjadi buta dan tak bisa melihat apapun ia mampu menjadi dirinya sendiri, mengakui dirinya sendiri. Ia memang butuh kegelapan. Ia butuh kegelapan untuk mengaburkan batas antara benar dan salah, ia butuh tidak melihat cahaya agar dapat menyingkirkan ego yang selama ini membuatnya arogan dan egois. Ia butuh tidak melihat. Ia butuh tidak dapat melihat agar ia sadar akan eksistensi hatinya selama ini.
Hatinya yang ternyata tidak hanya terluka.
Tapi juga merasakan cinta.
Ia tahu bahwa jika dia membuka mata, yang ia lihat hanya dunia nyata yang ia benci. Dan ketika ia melihat dunia, maka ia harus menghentikan perasaan itu. Perasaan yang mengkhianati sakit hatinya.
Ia harus tetap dalam kegelapan, untuk dapat merasakan hatinya.
Menyingkirkan segala dendam dan luka hati yang selalu menjadi alasannya membenci.
Ia harus tetap menutup mata agar dapat melihat Kyuhyun dalam hatinya.
Sesak terasa memenuhi dada Kyuhyun, seolah membuatnya berhenti bernapas.
"Maafkan aku, Minnie..." Didekatinya pemuda itu lambat-lambat.
Tapi Sungmin seolah tuli. Ia tak menjawab dan kembali memainkan musik itu. Airmatanya mengalir, tapi ia tidak peduli. Karena—sekali lagi—kegelapan telah menyembunyikan keangkuhannya.
Hati Kyuhyun semakin tersayat mendengar isak tangis pemuda yang amat dicintainya itu. Pemuda yang selama ini tak pernah menunjukkan emosi dan ekspresinya sedikitpun di hadapan orang lain. Ia beranjak. Detik demi detik yang berlalu terasa begitu berat. Tiap gema yang dihasilkan oleh sepatunya yang beradu dengan lantai kayu terdengar begitu lama.
"Berhentilah Sungmin..."
Sungmin memainkan lagu itu semakin penuh emosi. Isak tangisnya terdengar dalam jeda-jeda nada yang tersisa. Tangisan yang benar-benar menyiksa perasaan Kyuhyun. Membuat pemuda itu merasa amat bersalah.
"Kumohon, berhentilah..." parau suara Kyuhyun terdengar amat menyesal.
"Aku membencimu..." serak dan sesak Sungmin mengatakan semua itu. Menumpahkan semua emosi yang selama ini ia pendam dalam-dalam.
"Aku benar-benar membencimu...
"Kau harusnya tahu betapa aku sangat membencimu, Cho Kyuhyun... Kau tidak tahu betapa sakitnya—"
Kyuhyun memeluk bahu Sungmin dari belakang, berharap pemuda itu berhenti memainkan pianonya. Berhenti menyiksa dirinya dari luka yang selama ini ia rasakan, berhenti menerimanya dan membuang semua rasa sakit itu pada Kyuhyun. Biar Kyuhyun yang merasakan semua sakit dan luka itu. Biar Kyuhyun yang pantas menderita. Jangan ia. Jangan Sungmin-nya.
Pelukan Kyuhyun membatasi gerak tangan Sungmin. Nada-nada yang dihasilkannya semakin tak teratur. Tubuhnya bergetar menahan emosi, tapi ia tak mau berhenti sebelum lagu itu selesai. Sungmin tak mau berhenti sebelum Kyuhyun benar-benar tahu bahwa ia sesungguhnya sangat terluka.
"Berhentilah... Kumohon..."
Kyuhyun memeluk Sungmin lebih erat, airmata hangatnya jatuh membuat kemeja Sungmin basah. Keduanya menangis dalam luka yang dirasakan masing-masing. Dalam sakit, dalam hening, dalam setiap memori dan realita yang kini terjadi. Dalam takdir yang mempermainkan mereka sejauh ini.
Isak tangis Kyuhyun membuat Sungmin berhenti bermain.
Dalam gelap semuanya semakin jelas malam itu.
.
.
.
.
.
.
.
Backstage itu masih sepi. Meninggalkan Ryeowook dan Yesung yang masih membeku di sana. Kyuhyun telah pergi. Dalam hening Ryeowook tersenyum perih.
"Antara aku yang berbuat jahat untuk menyelamatkan hubungan dengan kekasihku, dengan aku yang malah membantu orang lain mendapatkan kekasihku sendiri, mana yang paling bodoh?"
Kelopak mata Yesung melebar terkejut mendengar pertanyaan itu. Dilihatnya Ryeowook yang masih tersenyum. Kali ini dengan airmata yang telah meleleh di kedua pipinya. Yesung menatapnya tak mengerti.
Ryeowook menunduk, menatap pada kedua tangannya yang masih terbungkus sarung tangan hangat, lalu mengeluarkan tangannya yang tersembunyi di balik sarung tangan. Tangannya baik-baik saja. Tidak ada bercak adanya sindrom itu ataupun tanda-tanda kesakitan lain. Semuanya baik-baik saja. Ia tersenyum getir.
Yesung menahan napas. Untuk sejenak ia tak mengatakan apapun, lalu bergumam pada dirinya sendiri.
"Yang terakhir paling bodoh..." lirih ia mengatakan itu. Masih memperhatikan jemari Ryeowook yang baik-baik saja. Semua kesadaran itu datang. Ryeowook baik-baik saja.
Ia mengangkat wajahnya, meneruskan, "tapi menjadi bodoh itu tidak buruk."
Pandangan Ryeowook mengabur oleh airmatanya. Dalam hening ia terisak pelan.
"Cinta memang bodoh," ucap Yesung lagi.
"Aku tidak melakukan ini demi Kyuhyun." Ryeowook berujar sedikit terluka. Senyum samar tersirat di wajahnya, meneruskan, "Bukan juga demi Sungmin."
Yesung mengangguk. "Aku tahu."
"Ini demi diriku sendiri," ujar Ryeowook akhirnya.
Yesung tak membantah.
"Aku melakukan semua ini demi diriku sendiri," ulang Ryeowook lagi.
"Egois itu tidak apa-apa." Yesung menenangkannya. "Manusia tidak sebaik itu." Ingatannya berlayar pada pembicaraannya dengan Zhoumi tempo hari. Samar senyum terlukis di wajahnya, Zhoumi memang benar.
Kedua jemari Yesung beranjak menyeka airmata yang mengalir di wajah Ryeowook, lalu berujar pelan, "Aku bukan malaikat, aku tidak selamanya berbuat baik. Aku juga sering melakukan kesalahan."
Ryeowook membiarkan untuk kali ini Yesung memeluknya.
Yesung meneruskan, "tapi setidaknya kita belajar. Kita belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama."
Dalam diam Ryeowook kembali menumpahkan airmatanya.
Seorang pemuda yang sedari tadi hanya memperhatikan dari jauh akhirnya mendekati mereka.
"Kau pemuda yang amat baik, Ryeowook-ah."
Ryeowook dan Yesung menoleh. Dilihatnya Leeteuk menatap mereka penuh rasa haru.
"Maafkan aku... Aku benar-benar menyesal... Menyeretmu dalam masalah seperti ini, ini semua salahku..."
Leeteuk mendekati Ryeowook, kemudian ikut duduk dan memeluk pemuda itu erat-erat. Membiarkan tangis Ryeowook tumpah di bahunya.
"Aku lah yang paling bersalah disini. Membuat kalian berdua terjebak dalam hubungan yang berbahaya, membuat kalian berdua mengucilkan diri dari kehidupan dan hanya bergantung satu sama lain hanya karena ekspektasiku yang menginginkan kalian hidup dengan bahagia, menginginkan Sungmin melupakan luka dari masa lalunya. Nyatanya aku tak lebih dari menciptakan dua manusia yang terjebak dalam hubungan yang buta dan tak bisa melihat bentuk cinta yang sesungguhnya. Semua ini salahku..."
Ryeowook menggeleng. Bibirnya tersenyum tipis.
"Kalau aku tidak melihat kesungguhan dalam matamu itu, aku tidak akan pernah yakin untuk mengizinkanmu melakukannya," ujar Leeteuk lagi. Angannya melaju pada pembicaraannya dengan Ryeowook kemarin.
.
.
Pertunjukan Sungmin dan Kyuhyun sudah berakhir. Di antara gemuruh tepuk tangan yang membahana, Leeteuk mendengar Ryeowook yang mendesis lirih.
"Tidakkah Hyung merasa, dua nada yang sama hanya akan menciptakan melodi yang hambar tanpa irama kehidupan?
"Berbeda jika nada-nada yang berbeda dipertemukan dalam satu partitur, akan seperti Sonata Dua Piano yang memberikan pertunjukan penuh makna dan melengkapi satu sama lain."
Leeteuk melihat untuk pertama kalinya keping coklat madu milik Ryeowook bergetar menahan emosi.
Sebuah keputusan yang bulat telah Ryeowook ambil.
.
.
Sekali lagi isak tangis Ryeowook pecah malam itu.
-X-
Semuanya semakin jelas malam itu. Bagaimana takdir mempermainkan dua hati anak manusia dalam kemelut adegan yang penuh senyum dan airmata, sekeras apapun permainan yang diuji cobakan oleh Tuhan, manusia yang mau berusaha selalu berhak untuk bahagia.
Semua kerja keras akan terbayar lunas.
Semua airmata akan tergantikan oleh senyum.
Semua akan indah pada akhirnya.
Takdir dan nasib, selalu misterius, tak terduga, seperti fragmen yang berantakan tapi dibaliknya tersembul sebuah adegan yang telah diatur dengan rapi. Dan diantara adegan-adegan itu tersebutlah satu topik yang kita sebut kebetulan. Kebetulan itu yang menuntun kita pada babak lain—terus begitu—hingga tercapai sebuah penyelesaian yang kita sebut, sebuah akhir?
Atau mungkin akhir itu adalah awal dari sebuah babak lain?
Ketika Kyuhyun memilih untuk memulai kembali apa yang telah diakhirinya, ketika itu pula ia dihadapkan pada pilihan untuk tetap bertahan akan derasnya badai atau menerima semua yang terjadi begitu saja. Karena ketika ia memilih untuk memperbaiki apa yang telah ia rusak, ia harus mau menerima bahwa semuanya tidak dapat terjadi sesuai dengan kemauannya. Takdir adalah sesuatu yang harus manusia terima, tapi bukan berarti manusia tidak harus berusaha untuk mendapatkannya.
Dan cinta bukan sesuatu yang bisa didapatkan kembali begitu saja.
Manusia terus tumbuh dan berkembang seiring kedewasaan, begitu pun cinta. Dulu Kyuhyun pikir hanya dengan meminta maaf dan memohon, Sungmin akan kembali begitu saja. Tapi kehidupan tidak begitu, hati manusia tidak sebaik itu. Bukan karena Sungmin jahat, tapi memang seharusnya begitu. Karena Sungmin tidak punya alasan yang bisa meyakinkannya kembali. Sungmin juga tidak punya pilihan ketika Ryeowook telah menemaninya, ketika semua rasa cinta itu ia pikir telah tergantikan oleh sakit hati dan kebencian.
Seperti nada-nada Mozart yang selalu tumbuh dan berkembang, Sungmin juga seperti itu. Musik yang indah tidak bisa dipaksakan untuk dapat diterima semua orang. Begitu pula ending yang diingankan masing-masing dari mereka. Mereka tidak bisa memaksakan ego mereka sendiri untuk dapat terjadi, yang pada akhirnya hanya akan membuat mereka semakin terluka.
Sekaligus semakin belajar.
Baik Kyuhyun, Sungmin, dan Ryeowook, semuanya belajar dari kesalahan dan egoisme masing-masing.
Kyuhyun memeluk Sungmin semakin erat. Seolah-olah takut melepaskannya lagi. Ia telah belajar, bahwa kesalahan terbesarnya bukanlah karena telah membagi hatinya dengan pemuda lain, melainkan karena telah membiarkan Sungmin pergi tanpa mengejarnya. Tanpa usaha untuk mempertahankannya. Dan kali ini ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi untuk kedua kalinya.
Sungmin tidak menolak pelukan dari pemuda itu.
Dari awal Kyuhyun sudah berhasil. Dari awal, Sungmin sudah mencintai Kyuhyun, egonya lah yang memaksanya bertahan dalam kebencian. Dari awal, Kyuhyun sudah memiliki hati Sungmin sepenuhnya.
Sungmin membuka suaranya setelah sekian lama mereka bertahan dalam posisi itu.
"Mungkin kau harus tahu ini... Dari awal, Ryeowook tidak bermaksud menantangmu."
Kyuhyun melepaskan pelukannya, lalu menatap Sungmin lekat-lekat,
"Kau tahu tentang taruhan itu?"
Sungmin tersenyum. "Tentu saja, kau pikir siapa yang mengizinkannya kalau bukan aku?"
"Kau mengizinkannya?"
"Awalnya kutolak ide itu mentah-mentah. Aku tidak habis pikir kenapa ia bisa seceroboh itu, benar-benar tak seperti Ryeowook yang sangat aku kenal. Tapi kemudian aku sadar... Ryeowook pemuda yang cerdas. Ia tahu kenapa aku begitu tidak menyukaimu, bukan sama sekali karena kau payah dalam bermain piano..." Sungmin menggantungkan ucapannya, tapi hanya dengan begitupun Kyuhyun mengerti.
"Ia menyadari perasaanmu, sementara kau sendiri tidak," ucap Kyuhyun lirih.
Sungmin meneruskan, "Ia pemuda yang sangat cerdas dan penuh kasih sayang. Meskipun dari luar ia tampak kuat dan sempurna, tapi sesungguhnya hatinya amat rapuh. Ia terlalu baik untuk pemuda jahat sepertiku."
Kyuhyun mengangguk mengerti. "Sekarang aku baru sadar, ia tampak aneh saat mengucapkan kata-kata jahat padaku kemarin. Seolah-olah dia tidak rela melepaskanmu."
Sungmin tersenyum kecil. Senyum tulus pertama kali yang dilihat Kyuhyun dalam waktu lama ini. "Ryeowook tidak pernah meminta apa-apa dariku. Bahkan protes karena aku terlalu sibuk pun tidak pernah. Ia hanya selalu menemaniku, ia selalu menjagaku. Baru kali ini aku sadar, ia tidak pernah menuntutku untuk mencintainya. Bukan karena ia terlalu baik hati—
—tapi karena sebenarnya ia juga tidak pernah mencintaiku."
Kyuhyun terkejut. "Yesung hyung?"
Sungmin mengangguk. "Hanya butuh waktu baginya untuk menyadari siapa yang ada di hatinya."
Kyuhyun memeluk Sungmin sekali lagi semakin erat. Ia memejamkan matanya.
"Aku bahagia semuanya berakhir seperti ini."
-X-
Five years later~
Zhoumi baru saja keluar dari kamar mandi ketika didengarnya teriakan Hyung paling cerewet di dunia ini menggelegar lagi.
"Zhoumi, Kyuhyun, cepatlah! Nanti kita terlambat!"
Diliriknya Kyuhyun yang sedang tersenyum jahil sembari menyisir rambutnya, lalu melirik pada Yesung hyung yang masih terlihat kesal. Ya, sekarang ia tak lagi memanggilnya Sunbae karena mereka kini berada dalam satu grup vokal bentukan SM Ent dimana Yesung menjadi leadernya.
"Yesung hyung sepertinya tak rela melewatkan satu detikpun pertemuan dengan Wookie hyung nanti, hahaha!" Raut muka Kyuhyun—magnae diantara mereka—kembali terlihat jahil, tapi Zhoumi malah ikut tertawa.
"Memangnya kau sendiri tidak ingin melihat pertunjukan dari kekasihmu, ya Kyuhyunnie?" tanya Zhoumi sembari memakai pakaian. Kyuhyun merengut mendengar pertanyaan Zhoumi tanpa menjawab, membuat sang penanya menaikkan alis tak mengerti, lalu menoleh pada Yesung hyung, menuntut jawaban atas perubahan sikap magnae yang amat menyebalkan itu.
"Ia takut Sungmin terlibat cinta lokasi dengan salah satu pemain baru di orchestra bentukan Leeteuk hyung, dasar magnae bodoh itu," jawab Yesung kesal, membuat Zhoumi ingin tertawa.
Tak lama kemudian ketiganya keluar dari dorm bersama manager dengan mobil pribadi. Dari luar Zhoumi sudah mendengar teriakan fans yang menyebutkan nama mereka.
"Bagaimana kabar Henry?" Yesung hyung yang duduk di samping Zhoumi di belakang menyenggol bahunya, membuatnya menoleh.
Zhoumi hanya tersenyum. Mengingat Henry selalu membuatnya senang, sekaligus rindu karena sudah setahun lebih tak bertemu.
"Baru-baru ini ia memenangkan penghargaan pada salah satu kompetisi biola di Praha," ujarnya bangga.
"Aku juga sudah dengar beritanya. Wah kapan-kapan kita harus berkumpul dan mengadakan pesta!" celetuk Kyuhyun yang menguping di depan.
Zhoumi tersenyum pelan. Pesta di tengah jadwal padat mereka sebagai artist yang tengah naik daun di Korea Selatan seperti sekarang... Pasti akan sangat menyenangkan.
Tak butuh waktu lama bagi mereka sampai di Akademi, tempat dimana resital piano dari pianist kebanggaan Korea ini akan sebentar lagi diadakan.
"Mengingatkan pada masa lalu, bukan begitu?" Yesung membuka kacamatanya begitu turun dari mobil, membuat barisan fans yang menunggu dari balik gerbang akademi menjerit frustasi.
Zhoumi dan Kyuhyun tertawa. Ya, tentu saja Akademi Musik SM ini mengingatkan mereka pada banyak hal di masa lalu.
Dengan mantap mereka melangkahkan kaki menuju Ruang Pertunjukan Utama sebagai tamu kehormatan. Poster-poster besar dari sang pianist ternama menyambut kami di setiap sudut tempat.
"Masih saja berlagak cool..." Kyuhyun mencibir pelan melihat wajah yang terpampang di poster itu, membuatku dua hyung di grupnya tergelak.
Di ruang pertunjukan itu mereka menempatkan diri di tempat duduk depan. Beberapa menit lagi resital piano akan dimulai. Dan kemudian mereka melihatnya, pemuda yang begitu menginspirasi mereka selama ini. Pemuda yang dulu menjadi kebanggaan Akademi kini menjadi kebanggaan Korea.
Lee Sungmin memasuki panggung yang gemerlap dengan penuh santun, memberikan senyum terbaiknya pada seluruh penonton. Membuat Kyuhyun, kekasihnya yang sedang menonton tampak cemburu. Yesung tergelak senang melihat magnae di antara mereka cemberut.
"Maaf terlambat."
Mereka menoleh, dan dilihatnya empat orang yang begitu mereka kenal mendatangi mereka. Heechul, Hankyung, Leeteuk dan Ryeowook, empat orang pembimbing baru di Akademi SM yang amat terkenal karena bakatnya itu. Heechul dan Leeteuk yang sama-sama menjadi pembimbing di Divisi Orchestra, yang beberapa waktu lalu telah mencetak prestasi dengan membentuk orchestra berisikan siswa-siswa baru yang memenangkan penghargaan di Vienna. Sedangkan Ryeowook dan Hankyung yang bekerja sebagai pembimbing di Divisi Biola, dikenal sebagai pembimbing terbaik disana. Ryeowook yang menerapkan pelatihan dengan penuh perfeksionis di setiap pengajaran, dan Hankyung yang terkenal sebagai motivator terbaik di mata murid-muridnya.
Ryeowook duduk di samping Yesung yang langsung memeluknya hangat. Tak heran karena untuk waktu lama dua kekasih itu jarang bertemu, mengingat jadwal keduanya yang begitu padat. Sementara Leeteuk, Heechul dan Hankyung ikut duduk di samping Zhoumi, langsung bersiap-siap melihat pertunjukan yang akan dibawakan Sungmin sebagai pianist yang telah mendunia itu.
Begitu jemari sang maestro piano di atas panggung menyentuh not-not balok di hadapannya, saat itu pula musik yang amat lembut mengalun. Musik penuh keriangan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.
Mozart, Piano Sonata in A Minor, K.310, musik Mozart favorit kedua Sungmin setelah Sonata Dua Piano saat di Akademi dulu.
Tiap nada yang dihasilkannya tampak bersinar dan cemerlang, seolah-olah hidup dan menari-nari bersama permainan pianistnya.
"He's still the best at it..." Ryeowok bergumam lirih, mengagumi permainan itu.
Musik yang ceria itu terus berlanjut dengan indah, yang pada akhirnya menuai tepuk tangan meriah pada penampilan pertama itu. Standing ovation diterima Sungmin lagi, membuatnya terseyum senang. Ia berdiri dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru penonton, pada teman-temannya yang memberinya semangat di baris depan, pada kekasihnya, Cho Kyuhyun, yang mengangguk bangga padanya.
"Banyak hal berubah," Kyuhyun berujar lirih di antara gegap gempita tepuk tangan penonton, "hati manusia juga tidak akan selalu sama untuk mencintai. Semuanya berkembang dan tumbuh, tapi tidak masalah jika itu menuju sesuatu yang lebih baik."
Zhoumi yang duduk disampingnya mengangguk.
"Betapa takdir benar-benar misterius," ucap Kyuhyun lagi.
"Yang perlu diingat sekarang adalah, semuanya belum selesai. Perubahan akan selalu terjadi. Yang perlu dilakukan adalah untuk selalu berusaha, dan mengerti bahwa sesuatu tidak akan selalu sama seperti apa yang kita inginkan. Namun selama manusia mau berusaha dan belajar—"
"Maka ia berhak bahagia," Kyuhyun memotong ucapan Zhoumi, yang disambut pemuda Cina itu dengan senyum tulus.
Di antara melodi Sonata yang terus bergulir itu semuanya tersenyum dalam hati. Mengingat pada refleksi diri di masa lalu yang telah membentuk mereka seperti sekarang. Kehidupan, yang selalu penuh dengan hal-hal baik dan buruk, akhirnya selalu berpihak pada mereka yang mau belajar.
Kisah ini tidak hanya tentang Kyuhyun, Sungmin, Ryeowook dan Yesung semata, melainkan kisah nyata yang kerap terjadi pada kebanyakan orang. Kisah tentang ambisi dan hasrat yang menggebu-gebu, tentang cinta yang tak tersampaikan, tentang kerapuhan hati di balik sosok yang kuat dan tegar, semua kisah itu kerap terjadi di dunia nyata. Kisah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang seringkali dianggap biasa dan dilihat sebagai hal lalu, tanpa memperhitungkan banyaknya pelajaran yang dapat kita ambil.
Kisah ini belum selesai, selama mereka masih hidup dan harus bertahan dengan kerasnya dunia dan takdir yang terencana dengan sempurna. Bagaimana semuanya berakhir, apakah nantinya semuanya selesai dengan ending yang bahagia ataupun tidak, semuanya tergantung pada manusia yang mau melihat dari sudut pandang yang berbeda dari posisi mereka sekarang. Melihat sekecil apapun kesempatan untuk bergerak dari titik mereka berdiam diri, lalu ikut belajar dan berusaha. Belajar dari kesalahan. Berusaha untuk tidak lagi melakukan kesalahan. Dan tumbuh bersama demi harapan yang lebih baik.
Selama ada harapan dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kesempatan mendapatkan akhir yang bahagia selalu ada untuk setiap tokoh dalam kisahnya masing-masing. Nah teman, bagaimana dengan kisah kalian?
~END~
A/N:
Huwaaa akhirnya selesai!
-tumpengan-
Maaf telat update, well banyak hal terjadi yang bikin saya gak bisa nulis beberapa hari ini. Mianhae .
Sebagai author sendiri, saya banyak belajar dari cerita ini.
Saya belajar dari tokoh Ryeowook, yang selalu dielu-elukan menjadi yang terbaik, namun pada akhirnya kekuatan takdir selalu lebih kuat dari siapapun. Saya belajar untuk tetap bersikap rendah hati dan berusaha berbagi apa yang saya miliki hingga seandainya apa yang telah Tuhan berikan pada saya diambil-Nya kembali, saya masih punya hal itu dari orang-orang lain.
Saya belajar dari tokoh Leeteuk, bahwa sebaik-baiknya manusia pasti pernah memiliki kesalahan. Tapi manusia yang terbaik adalah mereka yang mampu menyadari kesalahan mereka sedini mungkin, dan berusaha mengatasi akibat dari hal tersebut agar tidak merugikan orang lain.
Saya belajar dari tokoh Sungmin, bahwa memaafkan akan membuat hati kita lebih tentram dan damai. Karena kehidupan adalah interaksi antar manusia yang tak bisa dihindari untuk tak tercipta adanya konflik. Dan kita, bagaimanapun, akan selalu berproses menuju kedewasaan.
Saya belajar dari tokoh Kyuhyun, bahwa terkadang menjadi keras kepala itu tidak buruk. Tapi harus selalu diimbangi dengan kedewasaan bahwasanya dunia tidak bisa berputar seperti apa yang kita mau. Namun selama kita mau berjuang mendapatkan apa yang kita impikan, Tuhan selalu ada untuk itu.
Saya belajar dari Yesung, bahwa menjadi rendah hati itu mulia. Tapi bersikap egois juga tidak salah. Karena kita manusia. Keegoisan yang manusiawi akan lebih diterima dibanding tidak melakukan apa-apa seperti seorang pecundang. Egois itu baik. Karena kita adalah manusia.
Sedangkan sebagai orang lain, saya belajar untuk dapat memahami sifat-sifat manusia yang beraneka ragam. Seperti kata salah satu reader di cerita ini, manusia adalah makhluk yang abu-abu. Tidak ada makhluk yang benar-benar baik, setiap orang pasti punya sisi jahat dalam dirinya masing-masing. Ego yang dimiliki untuk mencapai apa yang diinginkan. Tapi bahkan orang terjahat di atas bumi ini pun pastilah mempunyai sisi baik. Dan karena itulah kita dinamakan manusia. Kebaikan dan kejahatan adalah hal yang sangat manusiawi. Dan sikap seperti itu tidak lahir secara tiba-tiba. Selalu ada alasan. Sungmin mungkin untuk beberapa alasan terlihat seperti orang jahat yang begitu dingin pada siapapun, bahkan terkadang pada kekasihnya sendiri. Tapi masa lalunya lah yang membentuknya. Kyuhyun memang melakukan kesalahan. Namun ia menyesal dan terus belajar memperbaikinya. Ryeowook bukanlah orang jahat yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Terkadang kita perlu melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, menilai manusia lain dengan cara yang berbeda. Semua manusia sangat kompleks, otak manusia dipenuhi dengan beragam neuron yang membentuk cara pikir mereka terhadap sesuatu yang tidak pernah identik, yang timbul dalam bentuk perbuatan dan perilaku yang tidak sama pula. Manusia selalu melakukan kesalahan. Manusia bukan malaikat. Tapi tidak ada manusia yang sepenuhnya jahat, tidak. Kejahatan itu tidak tercipta dalam gen masing-masing dan bersifat permanen, kejahatan itu ada pada hati mereka yang lemah. Hati yang terlalu meninggikan kemanusiawian mereka hingga terkadang jatuh pada pengertian yang salah. Tapi satu hal yang pasti, satu hal yang menjadi indikator keberhasilan seseorang dalam mencapai "kemanusiaan"nya, ia akan selalu belajar dari kehidupan. Orang sukses bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Orang sukses adalah orang yang mau selalu belajar dari kesalahannya.
Fanfic ini mungkin berakhir disini. Tapi cerita sesungguhnya belum berakhir selama tokoh itu masih hidup. Semoga apa yang saya tulis dan saya bagi di kisah ini dapat berarti sesuatu untuk kalian semua, meskipun saya tahu fanfic ini bukanlah apa-apa.
Terimakasih banyak sudah menemani saya sampai sekarang :)
Semoga kerlip indah dari cerita sederhana ini mampu bertahan di hati kita masing-masing, tak perlu sebagai memori manis atas sesuatu, tapi cukuplah sebagai selingan di kehidupan yang keras ini untuk sesekali berpikir dan merenung.
Mari berjuang lebih keras untuk kehidupan ke depan.
PS: You can contact me at by looking my profile and please give me your review for this last chap.
Salam hangat,
ArZie-kun 'Kuroba' Michaelis aka Rain Hater
