Teman-teman Rukia yang semula linglung itu mati satu per satu! Kota Tokyo digemparkan oleh kematian siswa-siswa SMA Nankatsu dan SMA di dekat toko kue yang dikutuk iblis itu! Polisi dan detektif pun sudah turun tangan untuk menyelidikinya. Tapi saat mereka pergi ke toko kue itu, toko itu LENYAP! Kemana kah hilangnya toko kue itu? Akankah iblis itu menuntut balas dari Rukia? Please read Destroyed by Love part 3( ini cerita terakhir)

Pleas ^_^

"Rukia.. Kau kenapa?"

"Aku bingung.. Ini semua salahku, Ichigo.."

"Hmm.. jangan seperti itu. Ayolah mana senyum Rukiaku yang manis? Ini kue bikinanku sendiri.. Makanlah! Akhir-akhir ini kau tidak pernah makan siang, jangan bilang kau juga tidak makan di pagi dan malam hari?"

"Memang tidak"

"Ya ampun.. Kau benar-benar ingin membunuhku?"

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Karna kau selalu membuatku cemas! Jadi.. makanlah ini kalau kau memang.. memang.."

DEEGG..

Rukia memeluk Ichigo erat..

"Jangan mati.. Ini benar-benar salahku"uacap Rukia masih memeluk Ichigo, air matanya mengelir deras.. Dia benar-benar takut kehilangan Ichigo.

Ichigo melepaskan pelukan Rukia. Diambilnya kue buatannya di kotak makannya, dengan lembutnya ia menyupi Rukia..

"Enakkan kue buatanku?"
"He'em"
"Jujur.. itu kue dari toko iblis itu"

"Uhuk-uhuk.. Kau bercanda?"

"Tidak.."

Rukia cemas. Ini GILA!

"Hahahahaha.. bercanda kok! Aku sudah yakin kau menyukaiku kan? Untuk apa aku ragu.. Haha"

"Terserah deh.. aku ke toilet dulu,ya"

"Perlu ditemani? Hehe"goda Ichigo.

"Huuu dasar! No way!" balas Rukia kesal.

Saat Rukia memasuki kamar mandi.. terdengar sebuah teriakan.

"AAAAAAAAAAAAAAA"

Rukia kaget dan segera berlari menuju sumber suara yang berada di dalam salah satu bilik di toilet sekolah.

"Hikari? Ada apa? Buka pintunya.."

BLAAAM..

Pintu itu terbuka dan hanya ia temukan sebuah kaset rekaman yang menjadi sumber suara teriakan tadi.

BUUUGG..

Rukia jatuh. Salah satu kakinya dijerat dengan tali. Tiba-tiba saja tali itu bergerak dan menyeret tubuh Rukia. Entah mengapa suasana sekolah saat itu sudah sepi. Padahal baru beberapa menit yang lalu bel pulang sekolah berbunyi. Mungkin mereka semua takut terkena kutukan iblis itu. Karna siapa pun yang meminta pembalasan dendam akan dikabulkan asal mau menyerahkan nyawanya. Percuma saja Rukia berteriak sekencang apa pun. Sekolah benar-benar sepi..

Jeratan tali itu membawanya ke sebuahruang musik. Tepat disana diperdengarkan lagu kematian itu.

"WAAAAAAAAAAAAA"

Rukia pun berteriak. Di depannya Reiko sedang membakar dirinya dan mendekat ke Rukia.

Cezzzzzz...

"AAAAAAAAAAAAAAA sakiit.. heem.. sakiit.. LEPAAAS! LEPASS!"teriak Rukia yang kesakitan karna tangan Reiko yang terbakar memegang lengannya.

Lalu tali itu menyeretnya lagi hingga tiba di pinnggir kolam tempat atlet renang sekolah berlatih.

"Namura? Namura! Tolong aku.. Itu kau kan?"

Namura menoleh padanya.. Wajahnya menyeringai mengerikan. Lalu ia menyelam ke kolam itu.. Papan luncur yang diatasnya jatuh tepat saat kepala Namura mendongkak ke atas. Hanya dalam hitungan detik.. Sebuah tali tambang menariknya kuat.. ia terlempar dan tergantung di pohon. Kakinya di atas dan kepalanya yang berlumuran darah itu terlihat sedikit remuk..

"AAAAAAA.. namura.. bangunlah.. heemm..hemm.. apa maksud semua ini? Lepaskan aku!" teriak Rukia marah sambil menangis. Ia sungguh tak kuat melihat teman-temannya mati di depannya tanpa bisa berbuat apa pun.

Tali itu menariknya lagi hingga tibalah ia di dekat gudang sekolah. Angin berhembus kencang menerbangkan dedaunan kering menampar wajah Rukia yang terlihat sangat tertekan. Pasir membuat seragam Rukia kotor dan terlihat lusuh. Pergelangan kaki Rukia benar-benar membekas merah. Darah mulai mengalir dari pergelangannya. Rukia meringis kesakitan.. Ia ingin sejenak berhenti. Dalam hati ia terus berharap ada seseorang yang menyelematkannya..

"Ichigo.. kamu dimana? Tolonglah.. aku" ucap Rukia dalam hati.

JRREEEEET... Kaki Rukia semakin perih, tali itu bergerak lagi menariknya ke dalam gudang. Di sana ada Nanami yang sedang sibuk mencari sesuatu.

"Oh.. Tuhan! Apalagi ini.."

Rukia mencoba melepaskan tali yang mengikat salah satu kakinya. Mustahil! Tali itu justru makin mengencang. Ia tidak menyerah, diambilnya gergaji yang ada di dekatnya. Saat ia ingin mengambilnya, sebuah tangan yang besar dengan sarung tangan hitam merebutnya. Lelaki bertubuh jangkung itu mulai mendekati Nakamura, dan KREEZZ...

""

Rukia tak berani melihat apa yang terjadi. Ia terus menutup matanya hingga suara teriakan Nakamura berhenti..Saat ia membuka matanya..

"AAAAAAAAAAAAAA.. HENTIKAN!"

Laki-laki tadi menoleh pada Rukia. Ia membuka masker yang sejak tadi menutupi wajahnya. Rukia hanya bisa diam dan menggigil ketakutan. Pria itu sudah tidak memiliki mata di sebelah kiri, mulutnya tidak rata karna ada bekas luka jahitan. Ia menyeringai dan mendekati Rukia yang tergeletak di lantai. Lelaki itu hendak mengyunkan gergajinya pada pergelangan kaki Rukia yang sudah terluka.

"ICHIGOOOOOOOOOOOOO!"

Ichigo menyadari ada yang tidak beres. Rukia lama sekali. Ia lalu mencoba pergi ke sana. Betapa terkejutnya ia, karena melihat Hikari tersenyum aneh padanya.

"Kau lihat, Rukia?"

"Oh, kau mencari gadis lemah itu! Cari saja sendiri! Ingat aku bukan siapa-siapamu lagi!"

"Hei! Yang benar saja! Aku hanya ingin tahu dimana dia! Katakan apadaku sekarang!" sentak Ichigo kesal pada Hikari.

"Lihat saja. Apa dia sudah menjadi mayat sekarang! Hahahahaha!"

"Kau ini kerasukan apa, HAH! Dasar cewek gila! Berutung aku tidak melanjutkan hubunganku denganmu! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Rukia, kau orang pertama yang kucari! INGGAT!" sentak ichigo lalu berlari pergi.

Saat ini pikirannya benar-benar kacau.. Ia tidak bisa menemukan jejak Rukia.

"Aku bodoh! Kenapa aku tidak bisa menjagamu.. Padahal aku telah berjanji.."

"Kau benar-benar menyayanginya?"

Ichigo dikejutkan suara seorang gadis. Gadis itu memakai seragam SMA Nankatsu. Tapi Ichigo tak mengenalnya. Wajahnya sangat pucat. Gadis itu berjalan perlahan mendekati Ichigo.

"Si.. siapa kau?" tanya Ichigo ragu.

"Aku Megumi. Dulu aku pernah sekolah di sini. Tapi sepertinya orang miskin sepertiku tak bisa berlama-lama belajar di sini. Hingga aku membuka toko kue itu. Tapi sama saja aku tetap tidak punya teman, meskipun aku bersekolah di sekolah mewah seperti ini. Mereka terus mengolok-olok karna aku menjual kue. Aku juga tak pernah mendapatkan cinta Renji.. Cowok paling populer dan banyak disukai para teman perempuanku. Dia selalu memandangku dengan rendah. Hingga aku tak tahan lagi dan aku mulai menyakiti temanku satu demi satu. Aku pun tertangkap basah dan dipukul sampai mati."

"Oh, mengapa mereka tega. Maaf Megumi.. tapi aku tak bisa berlama-lama. Orang yang kucintai sedang membutuhkanku" ucap Ichigo dan berbalik pergi.

"Tunggu"

Ichigo menghentikan langkahnya.

"Wajahmu mirip dengan Renji.. Tapi kurasa sikapmu sungguh berbeda dengannya. Pergilah ke gudang belakang sekolah. Gadis yang kau cintai sedang sangat tersiksa di sana. Cepatlah!"

Ichigo langsung berlari pergi dan berteriak "Terimakasih, Megumi.." Ia menoleh sebentar sambil tersenyum lalu pergi ke gudang belakang sekolah.

Ichigo benar-benar panik. Sebagai straiker dalam tim sepak bola sekolah, larinya sangatlah kencang. Hanya beberapa detik ia telah sampai di gudang belakang sekolah. Tanpa pikir panjang, ia mendobrak pintu gudang itu..

BRRAAAK..

"Ichigo.. tol..long.." ucap Rukia lemah.

"Apa yang kau lakukan padanya? Berani kau sentuh dia! HABIS KAU!" sentak Ichigo mulai mengambil kayu di dekatnya.

Lelaki bertubuh besar itu tak tinggal diam. Dia meletakkan gergajinya dan mengambil samurai di pinggangnya.

"HAHAHAHA Dasar pemuda bodoh!"

Slaaat.. Praakkk..

Tongkat yang digunakan Ichigo untuk melawan lelaki itu patah terkena tebasan samurainya. Lelaki itu lalu mengayunkan samurainya lagi. Ichigo menghindar, ia lalu menggapai tongkat yang lainnya.

Slaaat.. Slaat.. Slaaat.. Prakk.. Prakk..

Tongkat Ichigo patah menjadi bagian-bagian yang kecil. Ia tak mempunyai senjata. Bila dilawan dengan tongkat yang lain juga akan percuma. Lalu, Ichigo mengambil bola sepak yang berada di seblahnya. Dimainkannya dan ditendangnya hingga samurai lelaki itu terlempar. Lelaki itu tak kehabisan akal. Ia lalu menarik tubuh Rukia yang lemah. Kemudian ia mengambil pisau disakunya, sedang Ichigo berhasil mendapatkan samurai itu.

"LETAKKAN atau wajah gadis ini akan kurusak! Hahaha"

"Baiklah" ucap Ichigo lalu meletakkan samurai itu.

Lelaki itu berusaha menggapai samurai yang letaknya agak jauh darinya sambil terus memegangi Rukia. Setelah ia mendapatkan samurainya kembali, ia melepaskan Rukia. Rukia pun jatuh tergeletak di lantai. Ichigo benar-benar geram melihat gadis yang dicintainya diperlakkukan seperti binatang. Lelaki itu langsung menebaskan samurai pada Ichigo. Sayangnya, Ichigo terlambat menghindar hingga tangannya mengucurkan darah yang tak sedikit.

Tangannya terasa sangat perih. Tapi tak mungkin Ichigo menyerah sampai di sini. Ia tetap mencoba untuk meraih Rukia, tapi lelaki itu terus mengayunkan samurainya.. hingga..

SLAAATT...

"Ichigo tidak.. Pergilah. Ini salahku"

Pelipis Ichigo berlumuran darah. Kali ini Ichigo benar-benar melemah. Tapi ia tak meyerah, hingga ia berhasil meraih Rukia dan mendekapnya.

Lelaki itu lalu menebaskan samurainya ke punggung Ichigo..

"AARRGH..."

"Ichigo.. apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" sentak Rukia dengan suara yang gemetar.

"Jangan bodoh!" balas Ichigo yang terus menahan sakit demi melindungi Rukia.

SLAAATT..

"AARRGH..Enak saja kau Pak TUAA!"sentak Ichigo lalu merebut samurai itu.

Rasa cemasnya pada Rukia membuatnya mengabaikan rasa sakitnya. Ichigo berdiri lagi.. dan berhasil merebut samurai itu. Ia masih terus mendekap Rukia. Ia hanya melawan lelaki besar yang memang sudah tua itu dengan satu tangannya.

"Tunggu di sini, Rukia. Aku akan menghabisinya sekarang!Hiaaaaaaaa! "

Ichigo menghentikan ayunan samurainya. Ia tidak tega. Dalam benaknya, ia membayangkan keluarga Pak Tua itu. Siapa tahu Pak Tua itu masih mepunyai istri dan anak yang sangat membutuhkannya.

"Kenapa kau berhenti! Bukan kah kau sama dengan mereka semua yang suka menghabisi nyawa orang seenakknya! HAA! JAWAB!"

Ichigo hanya diam. Tangannya gemetaran hingga samurai itu terlepas dari genggamannya. Lelaki tua itu tak membuang kesempatan, ia mengambil samurai itu dan ditebasnya Ichigo..

SLAAAT...

"Ayah, ini Megumi"

"Anakku?"

"Jangan sakiti mereka. Mereka tak meminta bantuan pada iblis itu. Mereka bukanlah pengecut seperti yang lain.."

"Baiklah kalau itu maumu, sayang. Ayo kita pulang"

SLAAASHH..

Hilang..

"Ichigo, kau bodoh!" ucap Rukia menitikan air mata sambil memukul dada Ichigo pelan.

"Kau ini tega sekali. Aku sudah seperti ini kau masih saja.." ucap Ichigo terhenti karna Rukia memeluknya.

Ichigo pun membalasnya dan mengecup lembut kepala Rukia.

"Tanganmu sakit?"

Tug.. tug..

"Aduh, kau ini!" sentak Rukia tidak terima karena Ichigo memukul kepalanya dua kali.

"Jelas sakit! Ini terkena samurai.. Hah, kau ini"

"Aku heran, kenapa sampai sekarang iblis itu tidak membunuhku."

"Itu karna sebelum kau meminta pada iblis itu untuk membuatku berbaikan denganmu, aku tidak pernah merasa bermusuhan. Aku diam karna bingung, bagaimana aku harus mengatakan bahwa aku suka padamu"

"Hah? Benarkah?"

"Iya"

"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI DULUUU! Kalau begitu kita tidak usah merasakan rasanya hampir mati!"

"Tapi tanpa ini, kau tidak akan sekencang tadi memelukku. Wek!" ucap ichigo lalu menjulurkan lidahnya meledek Rukia.

"Hahahaha"

Destroyed by Love 3

-The End-

Makasih buat temen-temen yang masih setia mengikuti cerpenku sebanyak tiga part ini..

Aku senang kalian bisa memberi masukan padaku ^_^

Tunggu ceritaku yang lainnya ya :D