Sakura menatap nanar ke arah pintu cafe yang baru saja tertutup. Sosok itu berlalu begitu saja dari hadapannya tanpa menoleh barang sedikitpun.

Sasuke pergi. Pergi tanpa mengatakan sepatakah katapun yang dapat memperbaiki suasana hati gadis itu saat ini—seolah ia menganggap kepergiannya tidak akan meninggalkan jejak kepedihan di hati gadisnya.

Lagi. Pria berwajah stoic itu bersikap begitu acuh—tidak peduli— bahkan dengan Sakura yang notabene adalah kekasihnya sendiri.

Sering. Lewatkan angka satu dari daftar hitungan, karena sudah tak terhitung lagi berapa sering pria itu berlaku dingin kepada gadisnya tersebut.

Uchiha Sasuke, kekasihnya, sosok yang begitu dingin, tidak peduli, tidak peka dan menyebalkan tapi Sakura percaya, pria itu sejujurnya memiliki hati yang lembut dan—yang terpenting— Sasuke mencintainya dengan sepenuh hati.

Ya, ia percaya akan hal tersebut hingga sepuluh menit yang lalu—sebelum pria itu pergi meninggalkannya seorang diri di sini,

—sendiri.

"Kekasihku"

Naruto © Masashi Kishimoto

SasuSaku FanFiction by Hanaxyneziel

Enjoy!

.

.

.

Jarum jam tepat menunjuk ke angka dua ketika gadis bermata klorofil itu beranjak dari cafe—tempat di mana ia dan kekasihnya sebelumnya bersantai. Ia menapakan kaki-kaki jenjangnya melewati sudut-sudut jalan di Kota Konoha dengan pandangan sendu. Puluhan lalu lalang pejalan kaki atau bahkan pengendara kendaraan sama sekali tidak membuat gadis itu melupakan setitik perasaan nyeri yang sedang melanda hatinya saat ini. Seolah hanya ada pria itu seorang yang menguasai diri gadis tersebut.

Haruno Sakura—si gadis— menghentikan langkahnya tepat di pinggir sungai Midorigawa. Tanpa ia sadari kaki-kakinya telah membawanya ke pinggir salah satu sungai terpanjang di Kota tempat ia tinggal itu. Sakura memandangi beningnya aliran sungai tersebut dengan ekspersi datar. Tidak ada tangisan. Ia sudah lelah untuk menangis—menangisi sesuatu yang tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Air matanya telah mengering, namun rasa sakit di hatinya takkan luruh dengan begitu mudah.

Uchiha Sasuke. Kekasihnya. Pria yang telah membuat gadis itu tampak menyedihkan seperti ini. Pria berhati dingin—melebihi dinginnya es di kutub utara— akan tetapi terkadang menunjukan sikap hangat—yang tidak jarang membuat gadisnya terkejut bukan main. Tapi kali ini Sakura merasa kecewa terhadap tingkah pria itu. Terhadap deretan kalimat yang pria itu tujukan padanya. Sakura meringis ketika mengingat kejadian tersebut—kejadian yang membuatnya ingin menangis sejadi-jadinya. Sakura tidak percaya Sasuke dapat mengatakan kalimat yang begitu melukai perasaannya. Pria itu membentaknya—ya, Sakura masih mengingatnya, setiap kata, setiap penekanan yang di bubuhi dalam kosakata tersebut. Bagaimana ekspersi kekasihnya saat itu, seolah ia berkata tanpa perasaan bersalah sedikitpun—ia tidak peduli sama sekali bahkan jika hal tersebut menggoreskan segaris luka di hati sang kekasih. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah Sasuke mengucapkannya tepat di hari ulang tahunnya—bukan ucapan 'selamat ulangtahun' yang ia dapat sebaliknya kemarahanlah yang ia telan mentah-mentah.

Tapi, sejujurnya ada hal lain yang membuat Sakura begitu kecewa. Yaitu dirinya sendiri.

Gadis berambut merah muda itu kembali menutup kedua bola matanya, meresapi semilir angin yang menerbangkan helaian anak rambutnya dengan lembut. Andai saja, ya andai saja ia dapat memutar waktu. Memperbaiki sikapnya selama ini. Sakura mendesah pelan. Ia merasa kecewa, dengan segala sikapnya yang begitu konyol dan kekanak-kanakan itu—bahkan ia merasa dua kali lipat lebih egois daripada Sasuke. Selama ini ia selalu memaksakan kehendaknya kepada Sasuke—memaksa pria itu untuk menuruti keinginan bodohnya. Dan Sasuke selalu bersabar terhadapnya, mengiyakan segala keinginannya—bodohnya, ia baru menyadari betapa pria itu sangat menyayanginya sekarang.

Sasuke mengatakan hal yang benar—Sakura tidak dapat memungkirinya, tetapi ia menulikan telinganya dan merasa benar akan segala sikapnya itu. Menyesalpun percuma, Sasuke telah pergi meninggalkannya dengan amarah yang meluap. Pria yang sebelumnya tidak pernah sedikitpun menunjukan kemarahannya itupun akhirnya meledak—dan Sakura tidak yakin bagaimana nasib hubungannya selanjutnya.

"Ulangtahun, ya?" Sakura tersenyum miris ketika mengucupakan kalimat itu. Hal yang telah membuat dirinya dua kali tampak kekanak-kanakan daripada sebelumnya—dan yang lebih penting telah membuat pria itu membentaknya. Jika boleh berandai, Sakura berharap ia tidak begitu egois saat itu, tidak begitu mengharapkan pria itu memberinya sebuah kejutan di saat ulangtahunnya, seharusnya ia tahu kalau Sasuke tidak sepeduli dan sepeka itu untuk melakukan hal yang tidak penting—bahkan mengingat hari ulangtahunnya tidaklah masuk dalam daftar yang harus diperhitungkan. Seharusnya ia tidak begitu konyol, lebih mengutamakan perasaannya sendiri ketimbang nyawa orang lain—benar kata Sasuke, ternyata ia hanyalah seorang perawat yang tidak professional . Bisa-bisanya Sakura dengan mudah mengabaikan keselamatan pasiennya hanya karena merasa jengkel dengan kekasihnya sendiri—yang notabene adalah dokter.

"Maafkan aku…." Dan lagi. Akhinya buliran bening tersebut kembali membasahi pipinya—membuat sungai Midorigawa sebagai saksi bisu kesedihannya.

. . . . .


"Maaf telah mengganggu waktu istirahatmu, Yamanaka-san."

Gadis berambut blonde itu hanya menggeleng pelan—dan mungkin tersenyum kecil di balik masker yang sedang ia kenakan.
"Tidak masalah Sasuke-sensei, ah tapi aku (sedikit) penasaran dengan apa yang terjadi antara kalian berdua—sampai anak itu merajuk seperti ini?"

Pria berambut raven—yang di panggil sensei— itu hanya memasang tampang datar dan tampak acuh—sibuk memasang sarung tangan dan mempersiapkan perlengkapan untuk operasinya.

"Hei! Hei! Uchiha!" Ino yang merasa tidak terima dengan tanggapan Sasukepun menatap pria itu dengan kening yang mengerut. Walaupun Sasuke adalah dokter—yang notabene adalah atasannya— tapi gadis itu tidak sungkan untuk bebicara dengan bahasa informal padanya—salah sendiri mempunyai kekasih yang merupakan temannya sendiri.
"…Ah—sudahlah, tapi aku saranin jangan melakukan hal yang membuatnya kesal hari ini."

Pria bermata sekalam batu giok tersebut tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan menatap gadis yang berada di hadapannya itu dengan penuh tanda tanya.

Yamanaka Ino membelalakkan aquamarinenya kaget.
"J-Jangan bilang kau lupa kalau hari ini adalah hari ulangtahunnya!"

Sasuke lekas melirik ke arah kalender yang terdapat di atas meja kerjanya. Angka dua puluh delapan yang telah terlingkari dengan spidol merah itu seolah menyapanya seraya tersenyum jengkel—ah, Uchiha kau pria terpintar sedunia.

"Oh bagus! Ternyata kau benar-benar telah melupakannya!"

. . . . .


Butuh waktu lima menit—ah, tidak mungkin sepuluh menit— untuk pria berambut raven itu benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit Konoha. Setelah sebelumnya sibuk menelpon dokter Sai, meminta—tepatnya memaksa— pria berkulit pucat itu untuk menggantikannya dalam operasi—dan untungnya Ino cukup membantunya dalam membujuk dokter muda keras kepala itu untuk mengatakan 'bersedia'. Salahkan Sakura—tidak, tapi salahkan ketidakpeduliannya kepada Sakura selama ini. Mungkin Sasuke tidak akan terlalu mempermasalahkan jika dalam hal ini Sakura yang melupakan hari ulangtahunnya, tapi ini berbeda, ini Sakura, gadisnya, orang yang ia cintai—Sasuke tidak akan pernah melupakan kejutan yang diberikan Sakura untuk ulangtahunnya selama dua tahun terakhir ini.

Oh bagus, sepertinya ia telah termakan omongannya sendiri—karena kali ini ialah yang benar-benar bersikap selayaknya dokter yang tidak professional. Tapi Sasuke sungguh menyesalinya. Ia marah—ya, itu benar— tapi tak seharusnya ia mengatakan kalimat menyakitkan seperti itu kepada Sakura. Sasuke yakin kalau apa yang telah ia katakan kepada kekasihnya itu tidaklah salah, yang salah hanyalah timingnya—tidak di hari ulangtahunnya seharusnya.

Sasuke melangkah dengan tergesa menelusuri jalanan, tangan kirinya sibuk menekan tombol 'calling' pada nomor gadis musim semi tersebut, hingga tanpa ia sadari sebuah mobil melaju dari arah belakangnya dan,

"H-halo Sasu—BRUK,"

Tit. Tit. Tit.

"Halo Sasuke? Halo?"

.

.

.

"Sasuke? Jawab aku." keringat dingin meluncur dari sudut pelipis gadis itu. Ia memegangi ponselnya dengan tangan yang sedikit bergetar.

Semenit yang lalu ia baru saja mendatkan telepon dari sang kekasih, tapi ketika ia menjawabnya yang terdengar hanyalah suara benda yang saling membentur begitu keras. Sakura merasakan firasat yang tidak enak—seolah ia merasa telah terjadi sesuatu dengan prianya saat ini.

Sakura menggeleng pelan—berusaha untuk menyingkirkan pikiran-pikiran jelek dari sistem kendalinya.
"Sasuke pasti baik-baik saja, ak—"

Sedetik kemudian ponsel Sakura kembali berdering, menampilkan nama penelepon yang sangat ia kenali. Ia lekas menekan tombol hijau pada ponselnya—mengangkat panggilannya.

"Naruto, ada apa?"

Untuk beberapa saat hanya keheningan yang dapat Sakura dengar dari penelepon yang berada di seberang sana.

"Naruto?" Sakura bertanya sekali lagi dengan sedikit cemas—firasat tidak enaknya muncul lagi.

"Sakura…" akhirnya pria bermarga Uzumaki itu mengeluarkan suara.
"…Sasuke, kecelakaan."

TAK.

Tit. Tit. Tit.


*Bersambung*

Hwaaaaa nani kore? #frustasi
Gomen na, tp sepertinya fic ini bakalan tamat di chap selanjutnya -.-
Saya nggak mampu buat ngetik panjang-panjang malam-malam gini (author gagal!)
Oke jangan tanya Hana kenapa fic ini jd gaje kayak gini! #makanbeling
Hana juga nggak tau, salahkan ide! Ide main muncul aja tanpa permisi dulu! #BHUAK
Hhh bersabarlah ya menunggu hari esok untuk chap terakhirnya (itupun kalau ada yang baca)
Akhir kata, OTANJOUBI OMEDETOU HARUNO SAKURA! #pelukcium
Semoga makin langgeng ya dengan kang mas Sasuke… #eh
RnR jangan lupa ya Minna, biar cemungudth! XD

Salam hangat Hanaxyneziel_Saver Red Violet.