Tittle :

Sorry to Love

Author : BlaueFee

Part : 2 of ?

Pairing : Yunjae,

Other Cast : Changmin, Yoochun, Junsu, Key (SHINee), Donghae dan Eunhyuk (Numpang nama)

Rate : K

Genre : Romance, Family, BrotherShip

Warning : Yaoi, Boys Love, BoyXBoy, M-Preg, Typos.

Disclaimer : Their not Mine. But, This story real mine.

Summary : No Summary

~Present for you~

Malam ini Jaejoong bertekad untuk menunggui Yunho. Cuma sampai tengah malam Jaejoong juga sanggup terjaga. Dia kan sudah terbiasa dengan jadwalnya yang padat—mengharuskannya mempunyai waktu tidur yang kurang. Jaejoong tidak ingin mencemaskan Yunho, sungguh. Hanya saja ucapan Key terngiang-ngiang dalam otak Jaejoong. Setidaknya Ia ingin memastikan Yunho dalam keadaan sehat.

Cklek!

Blam!

Jaejoong melihat kearah pintu apartemen saat mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali. Mata Jaejoong menantikan kehadiran Yunho yang pasti akan selalu menuju keruang tamu untuk mengambil pakaiannya dan kemudian mandi. Ck, lihat bahkan Ia sudah hapal kegiatan Yunho. Istri yang baik~

"Jae, kau belum tidur?" Yunho terkaget dengan kehadiran Jaejoong yang sedang terduduk di sofa dengan memangku laptop merahnya.

"Hemm.. belum ngantuk.." Jaejoong pura-pura mengacuhkan Yunho dan tetap memandangi laptopnya. Padahal doe eyes tersebut terlihat bergerak gelisah.

Yunho tersenyum dan menuju arah lemari kecil di sudut ruang tamu. Mengambil sepasang baju ganti dan dalamannya. Saat Yunho sibuk mengambil pakaiannya, saat itulah Jaejoong mencuri pandang pada Yunho. Entah kenapa Jaejoong bernafas lega saat melihat bahwa Yunho tak terlihat pucat. Walaupun tubuhnya sedikit kurus dari biasanya.

"Jae aku mandi dulu. Tidurlah segera. Selamat malam.." Yunho berlalu dan Jaejoong merengut kesal. Kata-kata Yunho seolah-olah untuk menyuruh Jaejoong pergi dari SOFA nya dan tidak ingin melihat Jaejoong lagi ketika kembali nanti. Ish, inikan sofa nya. Ck, picik sekali Jaejoong. Sofa sofa dan sofa-_-

"Percuma aku khawatir. Ish, memang seharusnya tak perlu mengkhawatirkannya.." Jaejoong kukuh untuk tetap dalam posisinya bahkan sampai Yunho kembali. Yunho menghela nafas melihat Jaejoong yang masih sibuk dengan laptopnya.

"Jae, tidurlah. Sudah larut. Nanti kau sakit.." Yunho duduk di karpet dan memandang Jaejoong lama.

"Belum ngantuk. Kalau kau ngantuk tidur saja sana" Jaejoong masih cuek padahal dalam hati Ia mengutuk karena matanya mulai mengantuk. Pokoknya Ia tak mau pergi dan membiarkan Yunho tidur tenang di sofa nya.

"Baiklah. Boleh aku menghidupkan televisinya? Aku akan menemanimu sampai kau mau tidur.."

"Hidupkan saja. Memang aku melarangmu.." Ucap Jaejoong sebal. Yunho menghidupkan televisinya dan melihat film barat genre action. Membuat kepala Jaejoong pusing. Jaejoong tidak suka film genre ini.

"Yun—" Belum selesai Jaejoong bicara Yunho sudah mengganti channel TV dan tersenyum cengengesan pada Jaejoong.

"Iya maaf. Kau tak suka film action kan?" Jaejoong tertegun mendengarnya. Dari mana pria ini tahu? Seingatnya Ia tak pernah bilang. Tapi Jaejoong hanya mengangguk untuk menutupi rasa penasarannya.

"Yunho, kemana saja kau akhir-akhir ini? Itu.. maksudnya bukan yang itu. Hanya saja.. itu kenapa kau.. tidak, ah.." Jaejoong pusing sendiri dengan ucapannya. Ia ingin bertanya kenapa Yunho selalu pulang bekerja tengah malam. Tapi Ia tak ingin mengeluarkan kata-kata yang akan membuat Yunho salah paham dan berpikir bahwa Ia mengkhawatirkan pria musang tersebut.

"Kau bicara apa Jae?" Tanya Yunho heran melihat bicara Jaejoong yang belepotan seperti itu.

"Kau jangan besar kepala dulu. Aku bertanya kenapa kau akhir-akhir ini pulang larut malam dan pergi pagi-pagi sekali?"

"Ooh, aku meminta gaji perbulanku menjadi gaji perhari pada Henry sejak menikah dan meminta untuk bekerja hanya sampai jam 7 malam supaya bisa menjagamu. Tapi karena aku sedang ingin mengumpulkan uang, jadi aku ingin jam kerja lamaku kembali. Kalau tidak berangkat pagi-pagi aku tak akan bisa datang tepat waktu.."

"O-oh begitu. Kau mengumpulkan uang untuk apa? Memangnya jam kerjamu berubah jadi lebih pagi?" Sadar tak sadar Jaejoong bertanya lebih banyak dari perkiraannya. Bisa dibilang ini 'obrolan' terlama mereka sejak menikah.

"Uangnya untuk… Aku memerlukannya untuk sesuatu. Jam paginya tidak berubah, hanya saja aku takut terlambat.."

"Untuk anak ini?" Jaejoong menunjuk kearah perutnya yang nampak menonjol karena Jaejoong memakai kaus oblong.

"Iya.." Yunho bersyukur Jaejoong tidak bertanya lebih lanjut tentang jam kerjanya. Karena Yunho berangkat lebih pagi agar tidak terlambat bekerja. Beberapa hari ini Yunho pergi dan pulang bekerja dengan berjalan kaki. Jika sangat lelah barulah Yunho akan memakai jasa bus.

"Jae, aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi kau jangan marah.." Yunho sudah memikirkan ini berpuluh kali. Setiap memikirkannya akan membuat pikirannya bercabang. Namun keputusannya sudah bulat. Yunho yakin hal ini akan membuat hubungan mereka membaik seperti semula.

"Apa?" Sebenarnya Jaejoong juga heran dengan nada bicaranya yang biasa saja. Dia akan selalu menggunakan nada dingin dan tak bersahabat pada Yunho. Namun kali ini?

"I-ini.." Yunho menyerahkan beberapa lembar kertas putih yang terdapat beberapa tulisan rapi di dalamnya. Jaejoong mengambil kertas tersebut dengan heran.

"Su-surat cerai..?" Jaejoong tersentak saat membaca kata paling besar dari halaman pertama kertas tersebut. Secepat rasa kaget itu datang, secepat itu pula Ia melihat Yunho yang juga sedang memandangnya.

"Sebenarnya aku mengumpulkan uang untuk membeli sebuah flat. Beberapa waktu lalu Donghae pindah dari flatnya dan akan tinggal bersama kekasihnya. Aku ingin menempati flat tersebut. Karena masa pembayaran Donghae kepada pemiliknya masih ada makanya Donghae menahan flatnya tersebut untuk disewakan padaku. Tapi waktunya tidak lama lagi. Makanya aku bersusah payah mengumpulkan uang. Walaupun Donghae juga sudah membantu. I-itu, rencananya setelah anak kita lahir aku akan tinggal disana bersama Changmin.."

"A-apa maksudmu sebenarnya? Donghae siapa? Lalu Changmin itu siapa? Kekasihmu, eoh?!" Jaejoong tak tahu harus merasakan apa sekarang saat mendengar tiap kata dari mulut Yunho.

"Maksudku, ayo kita bercerai. Karena kau sama sekali tak bahagia bersamaku. Aku cukup tahu diri untuk tidak membuat hidup lebih hancur lagi. Dan masalah anak biar aku yang membawanya. Kau bisa melanjutkan karirmu. Aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu lagi setelahnya.."

"Aku bertanya siapa Donghae dan Changmin itu!" Sebenarnya itu hanya kedok. Jaejoong sama sekali tak peduli siapa Donghae dan Changmin itu. Dia hanya terlalu kaget saat mendengar Yunho akan menceraikannya dan membawa anak mereka. Yunho yang melihat kilat marah dalam mata Jaejoong buru-buru menjawab.

"Donghae adalah temanku sejak SMA. Kau tak ingat, dia datang pada pernikahan kita. Dia dan Hyukjae—kekasih Donghae—yang saat itu menjadi perwakilan dari keluargaku. Dan Changmin.. Aku berencana menamai anak kita dengan nama tersebut. Jung Changmin terdengar sangat bagus.." Yunho tersenyum saat menyebutkan nama yang sudah Ia pilih untuk anak mereka nantinya.

"Lalu kapan kau akan pindah?" Suara Jaejoong kembali terdengar dingin. Membuat Yunho tersentak kaget karena perubahan dalam nada bicaranya.

"Aku akan pindah saat anak kita lahir. Aku ingin menjaga kalian.." Yunho menatap perut Jaejoong. Sebenarnya Yunho ingin mengelus perut yang sedang terisi oleh darah dagingnya tersebut. Hanya saja, Jaejoong tak pernah membiarkan Yunho menyentuhnya. Walau hanya seujung rambut.

"Lalu kenapa kau memberiku surat cerai sekarang?!"

"Itu sebenarnya. Aku hanya ingin kau memikirkannya dahulu. Dan juga Jae, bisakah untuk beberapa waktu kedepan kau memperlakukanku seperti suami.." Tangan Jaejoong sudah akan bergerak pada kertas tersebut, namun terhenti mendengar kalimat terakhir Yunho.

"Mwo? Apa kau bilang? Aku harus melayanimu begitu? Tidak, hidup saja dalam mimpimu!"

"Ani. Aku hanya ingin kau sedikit bersikap lembut dan jangan terus berteriak.."

"Kau mengataiku pemarah, hah?"

"Bukan. Hanya saja setiap kau berteriak kau akan memakai banyak tenaga. Aku tidak ingin kau kenapa-napa. Lagipula kau sedang mengandung, itu tidak baik untuk Changmin.." Jaejoong terdiam mendengar penuturan Yunho. Dalam hati Ia juga membenarkan perkataan Yunho.

"Jadi kau mau apa?"

"Aku, aku ingin kita bisa 'berdamai'. Walau hanya sampai Changmin lahir. Setelah itu, aku berjanji akan membawa Changmin pergi dari kehidupanmu setelah Ia lahir. Kami tidak akan mengganggumu. Kau ingin membuat album Internasional kan? Aku harap albummu nanti sukses.." Yunho tersenyum saat melihat raut wajah Jaejoong menenang. Namun tak bertahan lama saat tangan Jaejoong bergerak mencari pulpen dan menandatangani surat cerai yang sedari tadi berada di tangan Jaejoong.

"Jae, apa yang kau lakukan?" Yunho memandang syok kertas yang sudah dibubuhi tanda tangan Jaejoong tersebut.

"Menandatangi surat cerai. Kau bilang supaya aku memikirkannya. Jangan bodoh Yunho. Aku sangat menginginkan hal ini. Baiklah, untuk 6 bulan selanjutnya aku akan mencoba bersikap biasa padamu. Tapi kau jangan banyak berharap.." Jaejoong pergi meninggalkan Yunho dengan membawa laptopnya. Meninggalkan Yunho yang termenung sendiri.

"Bodoh, apa yang kau harapkan Jung Yunho.." Yunho tersenyum hambar dan mengusap wajahnya kasar. Air matanya menetes mengingat selama 6 bulan lagi Ia akan kehilangan orang yang sangat Ia cintai.

. . .

Hari ini bukan hari Minggu, dimana setiap pekerja kantor akan libur. Karena Yunho tidak pernah libur bekerja. Namun, khusus hari ini boss nya di bengkel meliburkan setiap pekerjanya. Yah, memang ada beberapa renovasi yang harus dilakukan di bengkel tempat Yunho bekerja. Dan untuk menghabiskan waktu luang, Yunho sengaja membersihkan seluruh sisi apartemen Jaejoong. Bukannya tidak pernah dibersihkan, hanya saja Yunho ingin apartemen Jaejoong lebih steril agar Jaejoong dan anaknya bisa berada dalam lingkungan yang bersih.

Seluruh sisi apartemen sudah dibersihkan. Dengan ragu Yunho memasuki kamar Jaejoong. Sebenarnya Yunho lumayan takut memasuki kamar tersebut. Dikarenakan Jaejoong memang mengijinkan Yunho untuk sesuka hatinya di apartemen miliknya tapi tidak dengan kamar tidurnya.

Yunho tersenyum saat melihat Jaejoong yang tertidur di ranjangnya. Setelah makan siang tadi Jaejoong terlihat mengantuk. Hihi~ Yunho tersenyum jika mengingat kegiatan Jaejoong hanya tidur, makan, nonton lalu tidur dan makan lagi. Pantas saja tubuhnya terlihat lumayan berisi—Yunho tak mau mengatai Jaejoong gendut.

Setelah selesai membersihkan kamar tidur Jaejoong, Yunho berniat pergi. Namun urung saat melihat wajah Jaejoong yang pulas. Yunho mendekati Jaejoong dan menatap dalam wajah istrinya tersebut. Mengusap kening Jaejoong dan mencium keningnya lama. Yunho juga mengelus perut Jaejoong yang sudah membesar. Usianya sudah 7 bulan. Tangan Yunho bergetar hebat dan perasaan hangat melingkupi hatinya. Selama 7 bulan kehamilan Jaejoong dan selama ini pula ini kali pertamanya Yunho dapat merasakan sendiri kehadiran anaknya, darah dagingnya.

"Aegya, kau begitu kecil. Ini appa.. Apa kau merindukan appa? Maaf, appa tidak pernah mengajakmu mengobrol. Pasti umma sering mengajakmu mengobrol ya? Kata Key ahjussi kau sering menendang. Kau pasti akan jadi anak yang kuat nanti. Jadi, jangan bersedih jika kita nanti hanya hidup berdua. Karena appa akan memberikan semua kasih sayang yang kau inginkan.." Yunho menumpukkan kepalanya pada kedua tangannya yang masih berada diperut Jaejoong. Yunho sangat sedih jika mengingat nanti ketika anaknya terlahir, anaknya tak akan pernah bertemu ummanya. Anaknya akan menjadi piatu.

Yunho buru-buru membenahi diri. Ia tak ingin Jaejoong terbangun karena dirinya. Ia tak mau di tatap dengan mata penuh kesal oleh Jaejoong lagi. Yunho cukup senang karena selama ini Jaejoong mulai bersikap baik padanya. Yunho tak ingin merusaknya.

Setelah kepergian Yunho, Jaejoong membuka matanya dan mengusap perutnya. Rasa hangat itu masih tertinggal. Perasaan hangat saat Yunho mengusap perutnya lembut. Jaejoong tak tahu kenapa Ia hanya diam saja ketika Yunho mengecup keningnya dan mengusap perutnya. Bahkan sempat berbincang dengan anak mereka. Padahal selama ini Jaejoong selalu menghindari sentuhan dari Yunho.

Klek

Blam!

"Yun, hari ini aku akan pergi bersama Key. Kau jagalah rumah. Atau kau ingin keluar?" Jaejoong sudah siap dengan dandanannya. Lengkap dengan samaran yang menjadikan Jejoong terlihat sangat cantik dimata Yunho. Dengan pakaian wanita, wick setengah bahu dan juga riasan wajah. Tak ada kata lain selain 'indah' untuk Jaejoong.

"Aku dirumah saja. Makanlah dulu, baru pergi. Key menjemputmu kesini kan?" Yunho membuka salah satu kursi meja makan untuk Jaejoong. Dengan perlahan dan memegangi perutnya, Jaejoong duduk di kursi tersebut. Yunho dengan sigap mengambil mangkuk dan mengisinya dengan nasi. Menyiapkan seluruh makanan Jaejoong.

"Kau tidak makan?" Tanya Jaejoong saat Yunho hanya menatapnya saja.

"Nanti, kau duluan saja. Kau ingin yang lain?" Yunho merasa dirinya sebagai pelayan Jaejoong. Mengambil ini mengambil itu. Disuruh ini disuruh itu. Tapi Yunho menikmatinya. Ini jauh sangat lebih baik dari pada Jaejoong menatapnya jijik.

"Aku ingin jus markisa.." Jaejoong melahap makanannya dengan pelan. Toh Key juga belum datang untuk menjemputnya. Sambil menikmati pemandangan Yunho yang menyiapkan segelas jus untuknya. Sebenarnya Jaejoong mulai menyukai kehadiran Yunho. Yunho sangat penurut dan selalu menjaganya. Dirinya dan sang anak akan menjadi prioritas nomor satu dalam hidup Yunho.

Tak seberapa lama setelah menghabiskan jusnya. Key datang menjemput Jaejoong. Mereka sudah pergi beberapa menit yang lalu untuk berbelanja. Meninggalkan Yunho yang makan sendirian dan akan melanjutkan tidurnya. Bekerja sedari pagi membersihkan apartemen yang sangat luas itu sangat melelahkan. Lebih melelahkan dari pada bekerja di bengkel seharian.

Sedangkan di pusat perbelanjaan Key harus rela menjadi budak Jaejoong. Key membawa berkantong-kantong belanjaan. Hobby belanja Jaejoong tak pernah berubah. Matanya akan berbinar-binar senang melihat barang mahal dengan branded terkenal. Walaupun 90% barang dan pakaian yang dibelinya tak akan dipakai. Ish, mana bisa Ia memakai seluruh barang tersebut saat hamil begini. Mungkin setelah melahirkan Ia akan berpuas memakainya. Sepertinya tidak, Jaejoong akan memakai barang keluaran baru nantinya. Membiarkan barang dan pakaian yang Ia beli sekarang menumpuk percuma-_-

"Hyung lihat, kereta bayi itu lucu sekali. Pasti nyaman untuk Changmin jika nanti kalian jalan-jalan.." Key menunjuk kearah sebuah kereta bayi yang dipajang di etalase khusus toko perlengkapan bayi. Jaejoong yang mendengarnya pun melangkahkan kakinya ke toko tersebut tanpa menghiraukan Key yang kesusahan.

Jaejoong memperhatikan kereta bayi tersebut lama dan menyentuhnya. Melihat bahan, kualitas dan ukurannya. Berpikir lama apakah kereta bayi tersebut cocok untuk Changmin.

"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya.." Seorang pegawai toko menghampiri Jaejoong.

"Ah, aku mau beli yang ini.." Jaejoong menunjuk kearah kereta bayi tersebut. Sang pegawai tersenyum ramah dan mengangguk.

"Baik Nyonya. Adakah yang lain? Nyonya mungkin ingin melihat pakaian atau mainan bayi lainnya?" Sang pegawai toko mengarahkan tangannya pada sederat pakaian dan mainan bayi yang ada. Mata Jaejoong langsung berbinar saat melihat warna-warni dari pakaian dan mainan tersebut. Banyak yang lucu yang menarik perhatiannya.

"Baiklah, aku akan melihat-lihat sebentar. Dan bisakah kereta bayinya di antar saja. Akan kesusahan jika aku membawanya sendiri.." Pegawai tersebut mengangguk dan mengambil kereta bayi berwarna baby blue itu.

Jaejoong mengelilingi seluruh isi toko ditemani Key yang sama antusiasnya seperti Jaejoong. Malah Key sibuk sendiri memilih pakaian dan mainan untuk keponakan pertamanya nanti. Key yang sangat fashionista sangat memperhatikan pakaian-pakaian terbaik yang cocok untuk keponakan mungilnya nanti. Tidak tanggung-tanggung bahkan barang bawaannya lebih banyak dari pada yang dipilih Jaejoong.

"Hyung, kau melihat apa?" Tanya Key bingung saat Jaejoong berdiam diri di salah satu tempat boneka.

"Key lihat, boneka gajahnya sangat lucu. Apa Changmin akan suka?" Jaejoong menunjuk-nunjuk pada boneka gajah berwarna merah muda yang menarik perhatiannya sedari tadi.

"Aigoo hyung.. Changmin itu namja, kenapa kau malah mau membelikannya boneka?" Tanya Key terheran.

"Memangnya kenapa? Aku juga namja, tapi suka boneka.." Jaejoong merengut dan memberi tampang kesal pada Key. Yang dibalas helaan nafas dari Key. 'Kalau kau jelas beda hyung. Kau kan namja jejadian..' Ucap Key dalam hati.

Dan pada akhirnya setelah perdebatan lama. Jaejoong akhirnya mendapatkan boneka tersebut. Jaejoong jelas-jelas betah berlama-lama di toko perlengkapan bayi tersebut. Niat awalnya yang berbelanja keperluannya sendiri menjadi melenceng dari rencana semula. Jaejoong baru tahu ternyata memilih pakaian bayi sangat menyenangkan. Apalagi ada Key yang sangat antusias tentang gaya dan mana pakaian yang bagus untuk anaknya.

Dan mungkin juga Jaejoong lupa tentang hal yang sangat penting. Bahwa nantinya Ia tak akan pernah bertemu Changmin atau bahkan menggunakan kereta bayi nya untuk berjalan bersama. Kehilangan moment ketika Jaejoong memakaikan Changmin baju bayi yang keren dan memotretnya. Jaejoong tak akan pernah bisa melakukannya.

"Yunh.. Yunho sakitt—" Jaejoong merintih saat sambungannya sudah terhubung pada Yunho. Dengan memegang erat pinggiran sofa dan ponselnya dengan kuat, Jaejoong dapat mendengar suara panik dari Yunho.

"Yunh sakit sekk—kali.."

"Jae! Tenanglah aku akan segera pulang!" Yunho keburu menutup telponnya sedangkan Jaejoong berusaha kuat menahan rasa sakitnya. Jaejoong mencoba tenang dengan menghembuskan nafasnya dengan pelan. Mencoba duduk tegap dan bersandar pada sandaran sofa.

"Aegya, huuf huff.. Sayang tenang sedikit.. Huff.. Kau ingin cepat berte—ah, bertemu umma ne?" Jaejoong mengusap perutnya yang bergejolak sakit. Mencoba bernafas dengan normal dan mengajak anaknya 'mengobrol' sembari menunggu kedatangan Yunho. Jaejoong tak tahu apakah Yunho akan segera datang. Mengingat tempat Yunho bekerja lumayan jauh dari apartemennya.

Lima belas menit kemudian Yunho datang dengan wajah cemas dan peluh yang mengalir. Untunglah Yunho menggunakan taksi. Dan dengan segera membawa Jaejoong ke rumah sakit untuk melakukan persalinan.

"Yunh.. Aku takut—" Jaejoong menggenggam tangan Yunho yang sekarang berada dalam ruang operasi.

"Tenanglah Jae. Kau dan aegya akan baik-baik saja.." Yunho mengusap wajah Jaejoong yang memerah dan penuh peluh. Yunho yakin saat ini Jaejoong pasti sangat kesakitan, karena sedari di dalam taksi menuju rumah sakit tadi Jaejoong tak henti-hentinya merintih bahkan berteriak.

"Yunh, kau harus..hah hah.. menemaniku.. harus.." Yunho memandangi para dokter yang akan bersiap melakukan proses operasi pada Jaejoong. Salah satu dokter diantaranya mengangguk—mengijinkan Yunho untuk tetap bersama menemani Jaejoong.

"Ne, aku akan menemanimu. Jangan khawatir ne?" jaejoong hanya mengangguk dan mempererat genganggamannya pada tangan Yunho. Sangat erat membuat pekikan kecil keluar dari mulut Yunho. Namun Yunho hanya berusaha tersenyum.

"Baiklah Nyonya Jung, kita aka memulai operasinya.." Salah satu suster bersiap memberikan obat bius pada Jaejoong. Perlahan Jaejoong kehilangan kesadarannya. Yunho masih setia menunggui walaupun sedari tadi Ia hanya melihat kearah wajah Jaejoong. Ia tak punya cukup keberanian melihat kearah perut Jaejoong yang dibelah. Dimana di dalamnya terdapat anak mereka.

Operasi berlangsung selama 3 jam. Dan selama itu pula Yunho tak bisa berdiam tenang. Tangannya sibuk mengelus kepala Jaejoong dan sesekali memperhatikan raut wajah para dokter yang sedang berusaha membuat anaknya terlahir kedunia dengan tetap mempertahankan keselamatan Jaejoong.

Pikiran Yunho kosong seketika mendengar suara tangisan bayi. Yunho menoleh dan melihatnya. Seorang bayi mungil yang berlumuran darah yang bersiap dibawa oleh salah seorang suster. Mungkin untuk dimandikan. Yunho tidak tahu sudah berapa kali anaknya tersebut membuatnya menangis. Karena sekarang Yunho sedang menangis. Ia bahagia. Sangat.

"Waktu kelahiran, Kamis 18 Februari 2010. 21.19 KTS. Jenis kelamin laki-laki. Nama.. Tuan Jung, nama bayi anda siapa?" Lamunan Yunho buyar saat seorang suster bertanya padanya. Mengisi data tentang kelahiran putranya.

"Changmin, Jung Changmin.." Yunho terlihat bangga menyebutkan nama anak pertamanya. Membuat sang suster yang mencatat data Changmin tersenyum. Yunho adalah salah satu ayah dari banyak ayah yang ditemuinya. Ayah yang bahagia melihat kelahiran anaknya.

"Nyonya Jung akan dipindahkan di ruang perawatan. Anda dapat menemuinya disana.." Yunho mengangguk.

"Bagaimana dengan anak saya?" Yunho tidak sabar ingin melihat bayinya yang hanya sempat Ia lihat sekilas tadi.

"Bayinya masih dibersihkan. Kami akan mengantarnya nanti pada anda tuan.." Yunho keluar dari ruang operasi guna menyusul Jaejoong yang sesaat lalu sudah dipindahkan. Setibanya diluar Yunho dikagetkan dengan serbuan Key. Ya ampun, bahkan Yunho sempat melupakan iparnya yang sedari tadi menunggui mereka.

"Hyung bagaimana? Anakmu bagaimana? Lalu Jaejoong hyung baik-baik saja kan?" Terlihat raut khawatir dalam wajah Key. Yunho menepuk bahu Key dan mulai tersenyum lagi.

"Changmin lahir dengan sehat. Dan Jaejoong juga baik-baik saja. Sekarang ayo temui hyungmu di ruang rawat" Key dan Yunho beriringan menuju kamar rawat Jaejoong. Jaejoong masih belum siuman karena pengaruh obat bius. Selang menunggu beberapa waktu, salah seorang suster mengantarkan Changmin yang sudah dimandikan dan diberi bedong.

"Changmin.." Yunho berdesis senang melihat Changmin menggeliat dalam pelukannya. Matanya masih belum terbuka. Sedangkan Key terlihat sangat senang melihat keponakan pertamanya tersebut.

"Hyung, alisnya mirip dengan Jae hyung. Dan hidungnya mirip denganmu. Omona, bibirnya seksi sekali hyung. Tapi tidak mirip denganmu ataupun dengan Jae hyung. Pasti meniruku.." Key terlihat antusias memperhatikan Changmin. Sedangkan Yunho tertawa mendengar perkataan Key yang terakhir.

"Key, lihat. Bibir Changmin itu tebal. Sedangkan bibirmu tipis. Darimana miripnya?" Tanya Yunho geli.

"Ish, anggap saja begitu hyung. Habis tidak ada satupun yang mirip denganku.." Yunho tertawa lagi melihat Key yang merajuk.

"Lihat baik-baik. Masa kau tidak tahu.." Key memperhatikan lagi wajah Changmin yang masih setia menutup matanya.

"Matanya? Kan masih menutup hyung.." Jawab Key dengan tampang bodoh yang membuat Yunho mau tak mau geleng-geleng kepala.

"Bukan Key.. Lihatlah, pipi kalian sama. Sama-sama gendut. Haha~" Key memukul bahu Yunho lumayan keras karena dikatakan gendut.

"Hyung! Itu chubby bukan gendut!"

"Iya-iya. Jangan marah.."

Suara lenguhan membuat Yunho yang sedari tadi menggendong Changmin mengalihkan wajahnya pada Jaejoong yang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Yunho mendekat sembari masih menggendong Changmin. Key sudah pulang kerumahnya tadi malam dan kembali lagi nanti untuk mengambil barang-barang keperluan jaejoong.

"Jae, kau sudah sadar?" Yunho mengelus kepala Jaejoong dengan sebelah tangannya sedangkan tangan satunya lagi masih setia menggendong Changmin. Jaejoong mengangguk samar dan masih menutup matanya. Kepalanya sedikit pusing dan perutnya juga terasa sakit dan perih. Jaejoong berusaha membuka matanya dengan perlahan. Dan matanya membulat dengan lucu melihat gundukan putih yang sedang digendong oleh Yunho.

"Ap-apakah itu Changmin?" Mata Jaejoong memanas ketika Yunho menjawab pertanyaannya dengan anggukan.

"Aku ingin melihatnya.." Yunho membawa Changmin kedepan wajah Jaejoong. Memperlihatkan bayi yang masih terlihat tidur tersebut pada istrinya. Jaejoong mengeser sedikit tubuhnya untuk membuat space kosong walau sedikit menahan rasa perih di perutnya. Yunho mengerti dan mengisi kekosongan tersebut dengan meletakkan tubuh mungil Changmin disana. Yunho mengambil kursi dan meletakkannya di dekat ranjang Jaejoong. Melihat bagaimana Jaejoong mengelus pipi Changmin dan sesekali menciuminya.

"Changmin sangat kecil. Tapi tubuhnya lumayan panjang.."

"Tentu saja. Karena tubuhku kan tinggi.."

"Aku juga tinggi!" Ucap Jaejoong kesal. Secara tak langsung Ia merasa Yunho mengatainya pendek.

"Tapi tidak setinggiku.."

"Yun, kau cari gara-gara?" Yunho tertawa melihat wajah Jaejoong yang kesal. Sedangkan Jaejoong mendengus dan lebih memilih memandangi anaknya lagi.

"Urm Jae, tadi aku sudah menyuruh Donghae dan Hyukjae untuk membawa barang dan pakaianku.."

"Membawa?" Jaejoong terheran mendengar ucapan Yunho yang terdengar ambigu baginya.

"Membawa barangku dari apartemenmu ke flatku. Aku sudah melunasi pembayaran flat itu beberapa waktu lalu. Dan Donghae maupun Hyukjae membantuku untuk mengisi dengan barang-barang keperluanku dan Changmin. Mereka juga yang memilih baju dan tempat tidur Changmin. Sepertinya hari ini sudah bisa siap.."

"Ka-kau mau membawa Changmin?" Jaejoong tentu saja tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Tidak mungkin Yunho akan membawa Changmin sedangkan ia baru saja bertemu dengan Changmin. Bahkan mata Changmin belum terbuka. Berarti Changmin sama sekali belum pernah melihatnya. Melihat ummanya sendiri. Melihat namja yang sudah mengandungnya selama 9 bulan ini.

"Kita sudah membahasnya Jae. Bukankah kau sudah tahu itu.." Sebenarnya Yunho tidak tega membicarakan hal ini pada Jaejoong. Apalagi Yunho dapat melihat dengan jelas kebahagian Jaejoong saat melihat Changmin. Tidak ada rasa marah atau kesal sama sekali. Jaejoong menyayangi Changmin. Yunho tahu itu. Kalau saja Jaaejoong menyuruh Yunho dan Changmin jangan pergi, persetan dengan surat cerai dan flat yang disiapkannya. Yunho akan mengabaikannya—

"Kapan kalian akan pergi?"

-tapi sepertinya hal itu tak akan pernah terjadi. Jaejoong tidak mencegahnya dan bahkan menanyakan kepergiannya.

"Besok.." Yunho memandang sayu Jaejoong dan Changmin bergantian. Ternyata mereka memang tak bisa bersama. Tak bisa hidup bahagia seperti keluarga lainnya.

"Oh.. malam ini biar Changmin tidur bersamaku.. Besok kau bisa membawanya.." Jantung Yunho serasa tertusuk dengan tombak yang besar mendengar ucapan Jaejoong. Jaejoong bahkan seperti tak punya beban untuk melepaskan Changmin dari pelukannya. Bukankah Jaejoong menyayangi Changmin?

"Baiklah. Aku akan melihat flatnya dulu. Besok aku kesini lagi. Mungkin sebentar lagi Key akan datang.." Yunho mengecup pipi Changmin dan beranjak keluar dari kamar rawat Jaejoong. Berjalan pelan dengan tatapan sendu. Dalam 24 jam dia akan segera menghilang dari kehidupan Jaejoong. Selamanya.

Sedangkan di dalam kamar rawat. Jaejoong tak bisa membendung air matanya lagi. Jaejoong mengecupi pipi putranya beberapa kali. Kalau boleh jujur Jaejoong tidak ingin berpisah dengan Changmin. Tidak ingin berpisah dengan Yunho. Kenapa Yunho harus membahas tentang kepergiannya bersama Changmin saat Jaejoong sudah bahagia dengan kedatangan Changmin dalam hidupnya, saat Ia sudah mulai menerima kehadiran Yunho dalam hidupnya. Yunho sangat jahat, jahat karena membuat Jaejoong tidak bisa mempertahankannya ataupun Changmin di sisi Jaejoong. Jajeoong ingin mencegahnya, tapi Ia tak tahu harus melakukan apa.

TBC

.

.

.

Spesial thanks to :

Kyuminjoong, 10hr, Himawari Ezuki, iloyalty1, BooFishy, kyuminring, KimRyeonii, Asha lightyagamikun, KimmieYunjae, shimmax, ayachamii, Sung Hee..

makasi buat reviewnya. map gag bisa bales satu satu. tapi bakal dibalas secara global aja..

_ Jae kagag kejam, cuma tuntunan skenario(?)

_kenapa yunho yang di siksa? pilihan nya hanya 2. jae yang disiksa apa Yunho. jadi yunho aja yang disiksa, berhubung dya seme, jadi yunho aja yang disiksa

_spesialy buat BooFishy, saya gag ngejatuhin imej jae. gag mungkin saia tega dengan salah seorang yang saia suka. its just fanfict dear~

_buat yang minta flashback dan NC. saia jarang bikin flashback, hal hal tersembunyi biasanya akan mengalir sesuai cerita, dan saia gag bisa bikin NC -_-

thanKYU..^^

R

E

V

I

E

W