Tittle :
Sorry to Love
Author : BlaueFee
Part : 3 of ?
Pairing : Yunjae,
Other Cast : Changmin, Yoochun, Junsu, Key (SHINee), Donghae dan Eunhyuk (Numpang nama)
Rate : K
Genre : Romance, Family, BrotherShip
Warning : Yaoi, Boys Love, BoyXBoy, M-Preg, Typos.
Disclaimer : Their not Mine. But, This story real mine.
Summary : No Summary
~Present for you~
3 year later
Hari ini sungguh membosankan bagi Jaejoong. Sedari pagi Ia hanya berdiam diri di apartemennya. Seharusnya hari ini Ia ada pemotretan, syuting iklan produk shampoo dan jadwal memberi latihan vocal kepada beberapa hoobaenya. Namun, pemberitaan badai salju membuat Jaejoong harus betah-betah sendirian. Tadi Ia sudah menghubungi Key, tapi sepertinya Key lebih memilih aman untuk tinggal dirumahnya dari pada pergi ke apartemen hyungnya. Bisa saja nanti dalam perjalan Key tersapu badai salju dan terbang ke Okinawa-_-
Bosan dengan laptopnya, Jaejoong memilih menghidupkan televisinya. Dengan mata memutar malas Jaejoong mencari channel menarik selain berita tentang badai salju yang melanda Seoul.
…kepulangannya ke Korea disambut hangat oleh sejumlah fans yang sudah 3 bulan ini menantikannya. Setelah menandatangi kontrak kerja sama dengan branded terkenal Bolero dan melakukan pemotretan di Jepang, Jung Yunho akan segera memenuhi layar kaca dengan penampilannya sebagai model dalam Music Video dari penyanyi terkenal Kwon Boa.
Jung Yunho terlihat mendatangi gedung perusahaan SM Ent kemarin bersama manajer dan sang putra yang selalu nampak berada di sekitar Yunho-sshi. Kedatangan Jung Yunho di sinyalir untuk menandatangi kontrak kerjasamanya.
Sampai hari ini belum ada keterangan yang diberikan Yunho-sshi maupun pihak manajemennya. Namun Jung Yunho sempat menulis di akun pribadinya jika Ia akan berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaan pertamanya sebagai model Music Video.
Jaejoong mencibir tentang berita yang baru dilihatnya. Tangannya bahkan sudah membentuk pukulan-pukulan abstrak pada bagian sofa yang tak bersalah.
"Cih, dasar Jung Yunho idiot! Kau senangkan di pasangkan dengan Boa untuk Music Video itu. Dasar beruang jelek!"
Jaejoong merebahkan tubuhnya dan mengambil sebuah selimut yang selalu tersampir di belakang sofa. Menghirupnya dalam dan membungkusnya di wajahnya. Jaejoong tidak tahu, tapi semenjak 2 tahun lalu Ia akan uring-uringan seperti ini jika menyangkut pemberitaan tentang Yunho. Hanya Yunho dan Yunho saja. Jaejoong membuka selimut yang ada di wajahnya dengan kasar dan duduk dengan risau.
"Bahkan saat bertemu di tempat pemotretan dia seolah tak mengenalku. Cih, baru jadi model begitu saja sudah sombong. Jung brengsek!" Jaejoong kemudian kembali merebahkan tubuhnya di sofa.
"Setidaknya dia mempertemukan aku dengan Changmin. Aku kan ibunya! Aishh.." Jaejoong menendang-nendang udara dengan kesal. Yunho memang keterlaluan. Bahkan Ia seperti tak mengenal Jaejoong saat mereka bertemu—berpapasan—beberapa waktu lalu untuk pertama kalinya setelah 3 tahun.
Yunho sekarang memang sudah menjadi seorang model yang terkenal. Bahkan bukan hanya di Korea saja, Yunho sudah menjajah pasaran Internasional setelah 2 tahun debutnya sebagai model. Prestasi yang cukup membanggakan mengingat Yunho hanya perlu waktu singkat untuk bisa seterkenal sekarang. Bahkan mungkin popularitas Yunho bisa menyamai para Idol dari boyband/girlband bahkan aktor sampai penyanyi pun. Yunho juga mempunyai fancafe sendiri yang jumlah pengikutnya sudah puluhan ribu. Terkadang jika menginginkannya, Yunho juga menghadiri acara reality show bahkan jumpa fans. Model mana yang mempunyai jadwal seperti para idol seperti ini? Ya, hanya Yunho saja.
Setelah menghilang selama setahun dari kehidupan Jaejoong, Yunho muncul sebagai model di pentas amatiran. Yunho memang sudah di kontrak oleh XiaKy Ent. Ingat Park Yoochun? Dia adalah pemiliknya, orang yang sempat Yunho bantu. Setelah berpisah dengan Jaejoong, Yunho benar-benar menata hidupnya bersama Changmin. Hanya saja Yunho tak mau hidupnya hanya begini saja. Ia sekarang mempunyai Changmin yang harus dihidupi, diberi makan dan disekolahkan. Yunho tak akan pernah rela Changmin menjadi sepertinya dahulu. Hidup menderita sedari kecil, tidak menamatkan sekolah karena kekurangan biaya, dicela orang-orang. Yunho tidak mau, maka dengan keputusan yang sudah matang Yunho menemui Yoochun. Tentu saja Yoochun menyambut dengan senang hati. Yoochun bukan orang yang tak tahu balas budi dan suka mengingkari janji. Lagipula Ia melihat kemampuan dalam diri Yunho. Kharisma, ketampanan dan sosok seorang yang pekerja keras. Yoochun tak punya alasan untuk tidak mengontrak Yunho sebagai salah satu artisnya.
Saat pertama kalinya Jaejoong melihat Yunho di salah satu majalah model pakaian pria, Jaejoong memekik kaget. Kaget karena melihat Yunho—walaupun hanya dalam bentuk gambar di sebuah kertas, Jaejoong juga kaget akan penampilan Yunho yang baru pertama kali dilihatnya. Sangat tampan dan berkarisma. Bukannya Jaejoong tidak mengakui ketampanan Yunho dahulu, hanya sekarang Yunho terlihat lebih sempurna.
Jaejoong awalnya dahulu sempat ingin langsung menemui Yunho. Hanya saja Jaejoong terlalu takut. Apakah Yunho akan menerima kehadirannya? Apakah Yunho marah padanya? Karena Jaejoong yang meminta Yunho untuk tidak mengganggu kehidupannya. Tapi, Jaejoong tidak pernah menyerah. Walaupun tidak pernah menemui Yunho secara langsung, Jaejoong selalu mengikuti perkembangan Yunho. Apalagi setelah sekian lamanya Jaejoong bisa melihat Changmin. Anak mereka yang saat itu sudah berumur 1,5 tahun. Jaejoong bersyukur Yunho selalu membawa Changmin kemana-mana jika Ia bisa. Secara tidak langsung Jaejoong bisa melihat anaknya tumbuh dengan di dampingi Yunho.
Sekarang bahkan Jaejoong merasa dirinya keterlaluan. Jaejoong tidak ubahnya seperti fansgirl Yunho diluar sana. Yang memburu berita tentang Yunho, yang merengut kesal karena Yunho dipasangkan oleh beberapa wanita. Yang histeris bukan main saat melihat Yunho tersenyum. Aigoo~ bahkan Jaejoong secara diam-diam sering menghadiri fansmeeting Yunho—tentu dengan penyamaran. Jaejoong bahkan sempat memegang tangan mungil Changmin waktu Yunho juga mengajak putra tunggal mereka tersebut ke tempat fansmeeting. Tangan Changmin lembut dan terkesan tegas. Jaejoong juga masih ingat dengan jelas mata bulat Changmin yang jernih. Terlihat polos. Changmin juga sempat tersenyum padanya, membuat jantung Jaejoong berdetak dengan keras. Detakan yang meleburkan kesedihan dan kegembiraannya.
"Pasti setelah ini akan ada gosip-gosip tidak penting seperti yang sebelumnya. Hii~ lebih baik mandi.." Jaejoong bergegas ke kamarnya dan menyegarkan kepalanya yang sudah seperti berasap jika sudah menyangkut Yunho.
. . .
Jaejoong memang sudah memprediksi jika akan ada gosip-gosip tidak penting seperti sebelumnya jika Yunho sudah bekerja sama dengan wanita dalam sebuah proyek. Tapi, Jaejoong tak pernah menduga bahwa beritanya akan sebesar dan semenyebalkan ini. Sudah lebih dari 3 minggu MV Kwon Boa yang di modeli Yunho keluar. Dan sudah 2 minggu sejak gossip antara Yunho dan Boa memanasi telinga Jaejoong. Tapi sepertinya gosip tersebut masih betah berlama-lama. Andai saja Yunho dan Boa tidak kepergok makan siang bersama mungkin beritanya tak akan sebesar ini. Bahkan kedua belah pihak baik Boa maupun Yunho mengakui tidak ada hubungan apa-apa. Memang infotainment nya saja yang suka berlebihan.
"Hyung, hari ini kau akan mengisi acara di Starking. Aigoo~ aku tak sabar ingin melihat langsung bagaimana tampang Yunho-sshi dari dekat.."
"…"
"Hyung… Hyung.. Ya! Hyungg!"
"Ya Kiki, kau mengagetkanku!"
"Kau yang menyebalkan. Kau dengar aku bicara tidak sih? Dari tadi lihat televisi terus. Makanannya jangan kau acak-acak begitu. Itu untuk dimakan, kau pikir bayarnya tidak pakai uang.."
"Aigoo~~" Jaejoong memutar matanya malas mendengar petuah asisten barunya, Kiki—Lee Gikwang—yang sudah seperti adiknya saja. "Cerewet sekali sih, kau pantas menjadi suami Key, sama-sama cerewet!"
"Hii~ aku tidak mau dengan adikmu hyung.." Gikwang bergidik membayangkan dirinya akan bersanding bersama Key. Key sangat cerewet dan suka memukul kepalanya. Mau jadi suami seperti apa jika Ia bersama Key?
"Ngomong-ngomong kau benar-benar menyukai Yunho-sshi itu ya hyung? Dari tadi melihat beritanya terus.." Gikwang menunjuk televisi yang ada di cafetaria CJes Ent dengan bibirnya. Berita yang menayangkan berita yang sama dalam beberapa waktu belakangan ini.
"Siapa yang menyukainya. Biasa saja.." Ucap Jaejoong kembali mengaduk makanannya. Dihadiahi deathglare oleh Gikwang karena tidak memakan juga makanan yang sudah dibelinya.
"Eh lihat hyung! Yunho-sshi sepertinya akan memberi klarifikasi.." Jaejoong dan Gikwang segera mengalihkan matanya pada layar televisi, begitu juga beberapa penghuni cafetaria.
"Saya hanya akan meluruskan apa yang selama ini salah di beritakan oleh beberapa pihak tentang kedekatan saya dengan Boa-sshi. Kami berteman baik setelah dipertemukan oleh suatu proyek yang menurut saya kalian sudah ketahui. Makan siang beberapa waktu lalupun terjadi karena kami diundang dalam sebuah wawancara dan bukan atas dasar kencan dan sebagainya. Karena sebagaimana kenyataannya, kami bukan makan berdua saja. Namun ada beberapa orang lainnya seperti manajer saya, Changmin, manajer Boa-sshi dan asistennya sendiri.." Yunho tersenyum saat cahaya blitz kamera mengarah kepadanya.
"Apakah tak ada hubungan lain antara anda dan Boa-sshi?"
"Ani. Untuk saat ini kami hanya berteman.."
"Lalu Yunho-sshi, siapakah kekasih anda sebenarnya? Anda sering terlibat dalam gosip-gosip dengan banyak wanita. Apakah ada seseorang yang anda sukai?
"Ani. Saya tidak mempunyai orang yang disukai apalagi kekasih. Karena saya sangat mencintai ibu dari putra saya. Terima kasih.." Yunho membungkuk dan berjalan meninggalkan tempat konferensi pers tersebut. Mendatangkan pertanyaan sama dari beberapa wartawan lainnya tentang siapa sebenarnya Ibu dari Changmin dan istri dari seorang Jung Yunho sendiri.
Suasana Cafetaria tempat Jaejoong dan Gikwang seketika heboh dengan pernyataan Yunho. Ini untuk pertama kalinya Yunho membahas tentang ibu dari putranya. Karena selama ini Yunho tak pernah membahas tentang hal tersebut. Banyak yang menduga jika Yunho adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya dan spekulasi lainnya. Namun pernyataan Yunho barusan semakin menambah penasaran orang-orang tentang sosok ibu Changmin. Entah sosok yang masih menjadi istrinya namun disembunyikan Yunho dari publik atau istrinya yang sudah bercerai bahkan meninggal. Tak ada yang dapat menebak sebenarnya siapa sosok ibu seorang Jung Changmin tersebut. Balita berumur 3 tahun lebih yang akhir-akhir ini terkenal seiring dengan melejitnya nama sang ayah.
Sementara yang lain heboh dengan pemikirannya, Jaejoong sibuk termenung dengan pemikirannya sendiri. Pernyataan Yunho barusan membuat Jaejoong berpikir keras.
'Mencintai ibu dari putra saya? Putra Yunho itu Changmin. Yang mengandung dan melahirkan Changmin adalah aku karena aku ibunya. Jadi Yunho mencintai ibu Changmin yang adalah aku. Eeeh? Yun-Yunho mencintaiku?'
Jaejoong memekik ringan dan menampar-nampar pipinya yang sudah memerah dengan sempurna. Entah kenapa otaknya bekerja lamban untuk hal ini. Gikwang yang melihatnya pun merasa heran.
"Hyung! Jangan mulai jadi gila deh!"
"Ish, aku tidak gila Kiki.."
"Lalu kenapa senyum-senyum begitu? Tadi kau menampar-nampar pipimu. Hyung, awas ya kalau ada berita 'Kim Jaejoong, penyanyi solo—pemilik suara emas Korea sedang mengalami proses kegilaan(?)'. Aku ngeri membaca beritanya.."
"Kau itu pabbo ya Kiki? Mana ada berita yang seperti itu. Sudahlah, jadwalku sesudah ini apa?"
"Kau tak dengar ya? Jadi bintang tamu starking bersama f(x) dan Yunho-sshi.."
"A-apaa?!" Jaejoong melotot mendengar bahwa Ia akan bertemu dengan Yunho. 'Ba-bagaimana ini? Akau belum siap bertemu dengannya..'
Jaejoong berada di ruang tunggunya. Sepuluh menit lagi akan ada rekaman untuk acara Starking tapi Jaejoong tak bisa untuk duduk tenang. Sejak selesai dengan makeup nya sekitar 15 menit lalu, Jaejoong tidak berani keluar dari ruang gantinya. Jaejoong sangat cemas dan gugup untuk bertemu secara langsung dengan Yunho. Kamii-sama, Jaejoong baru saja mendengar hal mengejutkan tadi—via televisi—dari mulut Yunho. Masa dia harus bertemu langsung dengan orang yang jelas-jelas membuat jantungnya berdetak tak karuan seperti ini.
"Jae, rekamannya akan dimulai. Keluarlah.."
"Hyung, aku harus bagaimana jika bertemu Yunho nanti?" Jaejoong memberi tampang memelas pada manajernya. Jaejoong tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, Jaejoong dikenal sebagai idola yang arogan dan terkesan sombong. Lalu kenapa sekarang Ia harus bersikap begini bertemu dengan seorang pria saja.
"Seperti biasa saja Jae. Jangan cemas begitu.." Manajer Jaejoong mengerti kenapa Jaejoong bersikap begini. Bertemu dengan mantan suami setelah 3 tahun lamanya? Siapa yang tidak merasa 'berbeda'.
Jaejoong mengikuti langkah manajernya dari belakang. Untunglah ada manajernya, Jaejoong tak tahu harus bercerita pada siapa lagi. Memang hanya Key, Manajer dan para petinggi CJes saja yang tahu tentang masa lalu Jaejoong dan Yunho. Bahkan Jaejoong tidak memberi tahu orang tuanya yang sekarang juga sudah mempunyai keluarga masing-masing pasca perceraian.
Setelah sampai di tempat rekaman Starking, mendadak Jaejoong kembali gugup. Jaejoong dapat melihat dengan jelas bahwa Yunho sedang berbincang dan sesekali tertawa dengan hoobae f(x). Yunho juga terlihat beberapa kali mengusap kepala Sulli atau Luna bergiliran. Sepertinya Yunho sangat mudah akrab dengan orang lain.
Jaejoong berjalan gugup saat sutradara berteriak bahwa rekaman akan segera dimulai. Jaejoong duduk di kursi paling ujung bersama bintang tamu lainnya. Duduk di sebelah Victoria yang menyapa Jaejoong dan dibalas senyuman sederhana dari Jaejoong. Hidung Jaejoong berkontraksi dengan wangi yang tiba-tiba saja di ciumnya. Wangi yang terasa familiar. Jaejoong bergerak gelisah dan tepat saat nama Yunho di panggil untuk perkenalan bintang tamu, saat itulah Jaejoong tersadar bahwa Yunho duduk tepat dibelakangnya. Ohmygodsun! Jaejoong ingin menangis sekarang. Huweee~~
"Yu-yunho.." SuaraJaejoong sangat pelan dan lirih. Jika saja tidak dalam suasana yang hening mungkin orang tidak akan bisa mendengar suara Jaejoong tersebut. Tapi tidak untuk Yunho. Yunho segera berpaling kebelakang ketika namanya dipanggil. Dan mendapati Jaejoong yang berdiri di belakangnya dengan mata mengedar liar.
"O-oh, Jae.. A-ada apa?" Yunho tak dapat menggambarkan rasa kagetnya. Jaejong menghampirinya! Menghampirinya!
"I-itu.. ada yang ingin ku bicarakan. Bisa kita keluar sebentar?" Tanpa menunggu jawaban dari Yunho, Jaejoong berjalan dahulu meninggalkan tempat rekaman Starking yang baru saja mereka selesaikan. Mau tak mau Yunho mengikutinya. Jaejoong berjalan jauh kedepan, dan masuk ke dalam toilet. Disusul Yunho kemudian mereka masuk dalam salah satu bilik yang ada dalam toilet. Jaejoong sempat merutuki kebodohannya yang memilih toilet sebagai tempat bicara. Apa tidak ada tempat yang lebih elit lagi?
"Ada apa Jae?" Yunho memandangi Jaejoong yang terduduk gelisah di bangku toilet yang tertutup.
"Yun, itu.. Bagaimana kabarmu?" Jaejoong tak berani menatap Yunho walaupun Ia merasa bahwa Yunho sekarang sedang menatapnya intens.
"Baik. Kau bagaimana?"
"Umm, aku juga baik.." Jaejoong kembali terdiam membuat suasana toilet yang sunyi menjadi lebih sunyi. Yunho tidak ingin membiarkannya dan melangkah mendekati Jaejoong. Yunho berjongkok di depan Jaejoong yang terduduk.
"Ada apa? Ada yang ingin kau katakan?" Yunho memegang tangan kanan Jaejoong yang sudah berkeringat. Jaejoong meremas tangannya tersebut dan tersentak saat tangan Yunho ikutan memegang tangannya.
"Yunho, apa aku boleh bertemu dengan Changmin?" Yunho terdiam dengan pertanyaan Jaejoong. Menimbang keputusan apa yang sebaiknya Ia ambil.
"Kau yakin Jae? Changmin tidak tahu tentang kau. Apa tidak apa-apa kau bertemu dengannya tapi Changmin tak mengenalimu?"
"Bilang saja aku ibunya.."
"Jangan bercanda Jae. Kalau kau bilang begitu, Changmin akan bertanya macam-macam tentangmu.."
"Aku akan menjawabnya!"
"Kim Jaejoong!" Jaejoong melotot pada Yunho saat Yunho berdesis padanya. Untung Yunho tidak kelepasan berteriak, jika tidak pasti orang-orang akan mendatangi mereka dan akan ada berita panas tentang mereka.
"Kenapa aku tidak boleh bertemu dengan anakku sendiri?" Jaejoong menatap Yunho dengan matanya yang sudah memerah. Membuat Yunho merasa bersalah.
"Aku tidak melarangmu Jae. Aku tahu kau sering menguntitku dan Changmin. Jangan berbohong!" Jaejoong sudah akan menyangkal jika Ia sering menguntit Yunho namun perkataan Yunho membuat mulut Jaejoong kembali tertutup rapat.
"Kau sering melihat Changmin dari jauh aku tahu itu. Tapi bukankah kita sudah sepakat bahwa aku dan Changmin tidak akan datang lagi dalam hidupmu.."
"Kau yang membuat kesepatakan sendiri Yunho. Aku tidak pernah bilang ingin berpisah dengan Changmin. Kau yang membawa pergi Changmin dariku dulu.."
"Tapi kau tak pernah mencegahnya Jae. Tidak pernah mau mempertahankan Changmin.."
"Kau yang membuatku tidak bisa mempertahankan Changmin. Kau merebutnya dari sisiku. Padahal.. hiks.. aku hanya merasakan bagaimana menjadi seorang Ibu dalam waktu sehari. Kau. Hiks hiks bahkan membawa Changmin saat aku hiks tertidur. Kau keterlaluan Yunh..hiks.." Jaejoong tak dapat membendung lagi kesedihannya. Air matanya tumpah saat mengingat dulu saat terbangun dirumah sakit, Changmin yang semalaman di peluknya sudah menghilang dari sisinya. Menghilang bersama dengan Yunho. Tanpa pamit. Tanpa mengucapkan satu katapun.
"Jae, ssstt.. Jae, tenanglah.. Jangan begini.." Yunho merengkuh Jaejoong dalam pelukannya guna menenangkan Jaejoong. Namun tangisan Jaejoong malah semakin mengeras membuat Yunho kelabakan. Yunho tak mau jika ada nanti yang menyadari keberadaan mereka dan mendatangkan gosip yang bukan-bukan.
Tapi untunglah, setelah lebih dari setengah jam Jaejoong sudah terlihat tenang. Yunho juga bersyukur ternyata manajer Jaejoong berjaga di depan toilet mencegah orang-orang untuk masuk.
"Jae, kau ingin bertemu dengan Changmin?" Jaejoong mengangguk sambil mencuci wajahnya dan menyapunya dengan sapu tangan Yunho.
"Datanglah kesini. Ini alamat apartemenku. Datanglah kapanpun kau inginkan.." Yunho menyerahkan secarik kertas yang diisi tulisan Yunho. Jaejoong terkikik jika melihat tulisan Yunho yang terlihat abstrak dan berserakan.
"Apa yang kau tertawakan?" Yunho memandang bingung Jaejoong. Wajah Jaejoong yang baru menangis dan sekarang tertawa membuatnya merasa lucu juga.
"Tidak. Tapi tulisan tanganmu masih sejelek dulu. Keke~"
"Ya! Jangan menghina tulisanku.."
"Aku ingin bertemu Changmin sekarang.."
"Eh? Tapi sepertinya Changmin masih dirumah Junsu-ie"
"Siapa Junsu-ie?" Tanya Jaejoong. Tiba-tiba Ia merasa kesal mendengar Yunho memanggil nama seseorang dengan manis. Namanya saja hanya di panggil Jaejoong atau Jae. Terlalu biasa.
"Dia istri dari Yoochun. Bosku. Junsu-ie memang dekat dengan Changmin karena Ia belum punya anak. Kau ingin menungguinya dulu di apartemenku? Biar nanti kuhubungi Junsu untuk mengantar Changmin. Otte?"
"Baiklah. Hubungi sekarang! Biar saat aku sampai nanti Changmin juga sudah sampai. Ppali!" Yunho berdecak kagum terhadap Jaejoong. Sudah lama tak bertemu sikap sok berkuasa dan suka memerintah Jaejoong masih ada. Yunho kira Jaejoong akan berubah. Ternyata itu adalah hal yang mustahil.
Tak ingin membuat Jaejoong marah, Yunho menghubungi Junsu agar mengantar Changmin ke apartemennya. Untunglah Junsu dan Changmin memang akan menuju apartemen Yunho, tapi mereka singgah dulu untuk membeli makanan untuk Changmin.
"Kajja.." Yunho menarik tangan Jaejoong yang masih sibuk dengan wajahnya. Membuat Jaejoong menggerutu namun tidak memprotesnya. Saat Jaejoong dan Yunho berjalan beriringan menuju mobil masing-masing, banyak orang yang memperhatikan mereka dengan kaget. Pasalnya Jaejoong tidak biasa dekat dengan sembarang artis, Ia hanya dekat dengan beberapa teman selebritisnya saja. Apalagi Yunho yang tak pernah terlihat bersama Jaejoong.
Perjalanan 20 menit kemudian mengantarkan Jaejoong dan Yunho sampai di apartemen Yunho. Jaejoong dan Yunho mengendarai mobil masing-masing. Yunho dapat melihat antusiasme dan rasa cemas dalam wajah Jaejoong. Namun Yunho hanya membiarkannya saja. Setelah berada di depan pintu apartemennya, Yunho menarik Jaejoong untuk mendekat.
"Jae.. jika kau ingin bertemu Changmin datang saja. Lihat passwordnya baik-baik.." Yunho memperlihatkan password apartemennya pada Jaejoong yang hanya diketahui Yoochun, Junsu, Donghae, Eunhyuk dan juga dirinya. Dan Jaejoong sekarang tentu saja.
"1802?"
"Itu tanggal lahir Changmin. Jika nanti kau bermain kesini jangan kaget kalau ada Yoochun maupun Junsu yang menemai Changmin. Atau bahkan apartemen yang kosong. Jika pergi bekerja dan tidak bisa membawa Changmin biasanya aku menitipkannya pada Junsu.." Jaejoong mengangguk dan mengikuti Yunho. Jaejoong terkagum dengan apartemen mewah milik Yunho. Apartemen Yunho lebih mewah dari pada apartemen miliknya. Bahkan juga mungkin lebih luas. Yunho memang sudah benar-benar menjadi orang sukses.
"Changmin! Minnie, baby kau dimana?" Yunho berteriak membuat lamunan Jaejoong terhadap apartemen Yunho buyar. Jaejoong memandang gugup lorong yang menggemakan langkah kaki anak kecil yang terkesan tergesa-gesa. Sebelum sebuah teriakan menyusulnya..
"Appaaa!" Changmin berlari menerjang Yunho yang sudah berjongkok meneriman pelukannya. Yunho berdiri dan membawa Changmin dalam gendongannya.
"Yah Minnie, kenapa belepotan begini, eoh?" Yunho mengusap sudut bibir Changmin yang belepotan karena makanan.
"Tadi Min dan Su ahjumma beli kue ppa. Min abis coba yang lasa coklat.." Changmin menjulurkan lidahnya dan menyapu sisa-sisa coklat yang berada di sekitar sudut bibirnya.
"Mana Su ahjuma?"
"Ahjuma sedang cuci piling.. Appa, hyung itu siapa?" Changmin menunjuk Jaejoong yang masih betah berdiri melihat Changmin dan Yunho yang asyik sendiri.
"Ah, appa sampai lupa. Jae, kesinilah.." Jaejoong beranjak mendekati Yunho dan Changmin. Jaejoong dapat melihat dengan jelas Changmin terkejut melihatnya dengan mata bulatnya yang lucu tersebut.
"Ehh? Ini kan hyung yang ada di kamal appa. Benalkan appa?" Jaejoong memandang bingung ucapan Changmin. Dikamar appanya? Jelas-jelas Jaejoong sedang berdiri di hadapan mereka sekarang.
"Ne. ini Jaejoong hyu.. eh, ahjuma.. eh.." Yunho serba salah memperkenalkan Jaejoong pada Changmin saat Jaejoong memberi deathglare padanya.
"Jadi siapa appa?" Changmin penasaran karena Yunho tak menyelesaikan ucapannya.
"Kau saja yang beritahu.." Yunho memandang Jaejoong. Biar Jaejoong saja yang memperkenalkan diri. Yunho takut salah bicara lagi.
"Annyeong Minnie. Aku Kim Jaejoong—" Changmin tersenyum saat melihat senyum Jaejoong yang menurutnya sangat indah.
"—Aku ibumu.."
Dorr!
Jdukk!
Seperti letusan bom, Changmin terlihat kaget mendengarnya. Apalagi Yunho. Yunho melotot tajam pada Jaejoong yang dengan mudahnya bicara seperti itu kepada Changmin.
Sedangkan Junsu yang baru kembali dari dapur langsung tersungkur mendengar ucapan Jaejoong. Junsu sudah ingin menghampiri Yunho dan Changmin tadi, kalau saja tak mendarat dengan ekstrim di karpet karena ucapan Jaejoong. Ayolah, Junsu juga kenal siapa itu Jaejoong. Junsu kan salah satu fans Jaejoong juga.
"Mwoyaa?!" Teriakan Junsu menyadarkan Yunjaemin dari keheningan. Yunho terheran melihat Junsu yang masih setia nyungsep(?) di karpetnya.
"Su, kau mau tidur disitu?" Tanya Yunho dengan polosnya. Mendatangkan cengiran bodoh dari Junsu. Junsu segera bangkit dan menghampiri mereka bertiga. Matanya langsung menuntut pertanyaan dari pengakuan Jaejoong barusan.
"Hyung, jadi Jaejoong-sshi adalah ibunya Changmin. Aigoo~ aku kaget mendengarnya.." Junsu berteriak-teriak dan mengelilingi tubuh Jaejoong. Membuat Jaejoong risih dan Yunho hanya mengangkat bahu.
Sedangkan Changmin menarik kaus appanya dan berbisik pelan. "Appa, benal olang itu umma Min?" Yunho hanya mengangguk pelan. "Tapi kenapa selama ini umma tidak tinggal belsama kita? Umma kemana appa?"
"Oh itu.. Umma sedang ada keperluan. Jadi umma pergi sebentar sayang. Makanya sekarang ingin bertemu Minnie.." Yunho menjawab pelan takut Jaejoong mendengar ucapannya.
"Ya Jung Yunho! Kau jangan berbohong ya! Minnie dengar, appamu membawamu kabur dari umma. Kau tahu itu.."
"Mwo? Aku membawa kabur? Kau tidak salah bicarakan?"
"Wae? Memang itu kenyataannya!"
"Enak saja! Kau yang dulu tidak menginginkan Changmin!"
"Apa? Kapan aku bilang begitu?"
"Kau memukulnya waktu dia masih diperutmu!"
"Aku selalu mengelusnya ketika diperutku dan mengajaknya mengobrol. Memangnya kau yang gila kerja!"
"A-apa? Kau tak mengijinkan ku menyentuh perutmu!"
"Itu karena kau jelek!"
"Aku ini tampan!"
"Beruang jelek!"
"Dasar gajah gendut. Kau tidak bercermin saat mengandung Changmin. Ukuran badanmu melebihi apartemen ini"
"Mwo? Kau bilang apa tadi? Gendut? Mati kau!"
Jaejoong mengejar Yunho yang masih mengendong Changmin dalam dekapannya. Membuat Changmin terpekik kaget. Namun lama-lama Changmin tertawa senang melihat appa dan orang yang barusan mengaku sebagai ummanya kejar-kejaran. Changmin berpikir bahwa mereka sekarang sedang melakukan sebuah permainan. Permainan seperti Changmin yang naik kepunggung Yoochun dan Junsu memukul pantat Yoochun supaya Yoochun merangkak dengan cepat-_-
Sedangkan Junsu hanya cengo melihat mereka bertiga yang tak henti-hentinya berlari kesana-kemari. Membuat Junsu pusing sendiri melihatnya. Junsu lebih memilih memasuki ruang santai dibelakang lorong tempat Ia datang tadi untuk beristirahat. Seharian Ia menemani Changmin bermain. Sepertinya Junsu akan tidur sejenak, nanti saja menuntut penjelasannya. Setelah itu menyuruh Yoochun untuk menjemputnya. Junsu tidak mau menyetir sendirian ketika pulang ke mention mereka nanti.
"Akh!" Suara teriakan Jaejoong membuat Yunho menghentikan langkahnya. Yunho berbalik dan matanya membulat kaget melihat Jaejoong yang terjatuh di dekat meja ruang tamu.
"Jae, kau tidak apa-apa?" Yunho menurunkan Changmin dari gendongannya dan memegang bahu Jaejoong.
"Sakiitt~~" Jaejoong bergumam masih dengan menunduk dan memegang pergelangan kakinya. Yunho ikut-ikutan memegang pergelangan kaki Jaejoong diatas tangan Jaejoong. Sedangkan Changmin, bocah polos tersebut hanya memperhatikan kedua orang tuanya yang seperti melakukan adegan dalam drama yang sering Junsu tonton.
Grepp!
"Kena kau!"
"Aww!" Jaejoong menggenggam tangan Yunho kuat saat Yunho sudah terkena perangkapnya. Jaejoong mengambil bantal sofa yang ada di seberangnya dan memukulkan bantal tersebut sepenuh hati ke kepala Yunho. Walaupun Jaejoong seorang 'umma' tapi Ia tetaplah laki-laki, tenaganya bahkan sangat kuat. Membuat Yunho cukup kewalahan menghadapi serangan Jaejoong.
"Umma, appa.. Umma! Appa! UMMAA! APPAA!" Teriakan Changmin sukses menghentikan kegiatan bodoh Yunjae. Jaejoong segera menghampiri Changmin dan menggendong bocah tersebut. Sedangkan Yunho merengut kesal dan merapikan tatanan rambutnya yang berhasil di buat absurd oleh Jaejoong.
"Min, ayo kita bermain berdua. Tinggalkan saja appamu yang bodoh itu.." Jaejoong melenggang pergi kearah lorong yang tadi di lalui Junsu. Meninggalkan Yunho yang menggerutu sebal sendirian.
"Ish, dia yang bodoh. Ck, kenapa aku bisa tertipu dengan aktingnya. Aku lupa jika selain menjadi penyanyi dia juga seorang aktor" Yunho berjalan kearah tangga yang tepat berada di sebelah lorong tadi untuk menuju kamarnya. Yunho ingin mandi dan membersihkan diri sejenak. Sejenak, kau akan menghitungnya kira-kira 2 jam 43 menit 18 detik. Fiuh, Jung Yunhooo~
"Umma, umma.. Umma kemana saja? Kenapa balu beltemu Min sekalang?" Jaejoong dan Changmin duduk di balkon kamar Changmin. Tadinya ingin duduk di ruang santai, tapi Jaejoong tak tega mengusik Junsu yang sudah terlelap.
"Umm, mian. Umma menyelesaikan suatu hal dulu. Makanya baru bertemu dengan Minnie.." Jaejoong menghirup aroma shampoo Changmin yang ada di pangkuannya. Ah, Jaejoong merasa amat tenang.
"Suatu hal?" Changmin membalik tubuhnya dan memeluk baju depan Jaejoong karena tangannya yang pendek tak bisa memeluk punggung Jaejoong secara keseluruhan.
"Hmm.. Umma tidak bisa bilang. Ini rahasia. Jika ada yang tahu umma akan dalam bahaya.." Jaejoong memasang wajah pura-pura rahasianya(?) pada Changmin. Membuat Changmin mengangguk mengerti(?).
"Hemm, jangan bilang-bilang umma. Nanti umma ditangkap mafia.."
"O.o? Eoh? Kau tau mafia dari siapa Minnie?" Tanya Jaejoong penasaran saat anak seusia Changmin sudah tahu tentang istilah tersebut.
"Dari film yang sering di tonton appa.." Jaejoong mengangguk mengerti. Dia baru ingat jika Yunho sangat suka film genre action. Sangat bertentangan dengannya yang menyukai film bergenre romantis.
"Umma, apa umma akan tinggal belsama Min dan appa disini?" Jaejoong menggeleng. "Wae? Bukankah kita halus tinggal belsama? Junsu ahjuma dan Yoochun ahjussi tinggal belsama. Suami istli halus tinggal belsama, umma.." Jaejoong kaget karena Changmin bicara tentang dirinya dan Yunho.
"Tidak bisa sayang. Umma dan appamu bukan suami istri lagi.."
"Bukan?"
"Humm, itu dulu sayang.."
"Lalu umma akan meninggalkan Min lagi?" Changmin mengerucutkan bibir tebalnya. Membuat Jaejoong gemas dan mengecup pipi Changmin bertubi-tubi.
"Min lucu sekali. Umma sayang sekali pada Minnie. Umma tidak akan meninggalkan Minnie lagi. Umma akan sering-sering berkunjung" Changmin yang tak mengerti hanya mengangguk saja. Dan Jaejoong kembali menciumi wajah Changmin. Dan sesekali iseng menggigiti pipi tembam Changmin. Menuai erangan protes dari Changmin karena kaget.
"Pipi Minnie jadi semakin mirip Key ahjussi ne?"
"Siapa Key ahjussi?" Tanya Changmin mendongak pada Jaejoong.
"Adik umma. Key ahjussi pasti sangat senang bertemu dengan Minnie. Key ahjussi kangen Minnie.."
"Min juga ingin beltemu Key ahjussi nanti.." Changmin kembali memeluk tubuh Jaejoong yang tidak bisa sempurna dipeluknya. Jaejoong balik merengkuh tubuh anaknya dan sedikit menggoyang-goyangkan badannya. Jaejoong mulai bernyanyi saat suasana hatinya senang. Jaejoong bersenandung kecil, membuat kekaguman Changmin bertambah pada sosok ibunya tersebut. Suara Jaejoong sangat lembut, membuat Changmin nyaman dan mulai mengantuk. Sebelum suara pintu yang menjemblak terbuka menggangu pendengarannya.
"Yah Jung! Kau tak lihat Changmin sudah mau tidur?" Jaejoong bedecak kesal saat Yunho membuat Changmin terbangun lagi dari acara akan-segera-tidurnya.
"Minnie, tidak boleh tidur dulu. Kajja, sudah jam 6 sore. Cepat mandi. Lalu kita makan. Su-ie ahjuma sedang memasak sekarang.." Yunho mendekati Jaejoong dan Changmin dan berjongkok di hadapan mereka. Mengulurkan tangan berharap anaknya akan mendekatinya. Dengan ogah-ogahan Changmin membalas uluran tangan ayahnya dan sekarang sudah berada dalam gendongan Yunho.
"Jae, kau mandilah di kamarku. Aku akan memandikan Changmin dulu. Kamarku ada di lantai 2.."
"Kau menyuruh Junsu memasak?" Jaejoong tidak mengindahkan ucapan Yunho. Yunho mengangguk menjawab pertanyaan Jaejoong. " Kau membangunkan Junsu yang terlelap tidur dan menyuruhnya memasak?" Yunho mengangguk lagi tapi dengan gerakan ragu. "Kau bahkan tidak bisa melihat raut lelah di wajahnya dan kau tetap membangunkannya?" Kali ini Yunho tidak mengangguk. Ia sudah meneguk ludah melihat Jaejoong yang sebentar lagi akan murka.
"Dimana otakmu Jung Yunho! Junsu itu kelelahan karena menjaga Changmin, tapi kau seenaknya saja menyuruh-nyuruhnya! Tak!" Yunho merasakan sakit yang lumayan pada ubun-ubun kepalanya setelah di jitak dengan tidak berperasaan oleh Jaejoong.
"Jae, jangan sering memukulku. Kalau bukan Junsu yang memasak siapa lagi. Aku kan mau memandikan Changmin.." Sedang orang tuanya bertengkar, objek yang barusan disebut Yunho malah asyik terlelap di pelukan Yunho.
"Kau itu ya! Aish aku mandi saja.." Jaejoong keluar dari kamar Changmin dan menuju kamar Yunho. Yunho yang ditinggal hanya mengedikkan bahunya dan bergegas memandikan Changmin.
Selang 20 menit kemudian Yunho, Jaejoong, Junsu dan Changmin sudah duduk di kursi meja makan apartemen Yunho. Changmin terlihat sibuk dengan makanannya dan Junsu yang lebih sibuk lagi karena harus 'melayani' pangeran kecil tersebut. Jaejoong yang melihatnya menjadi sebal sendiri. Hey, dia ummanya. Kenapa Changmin malah terlihat sangat akrab dengan Junsu. Jaejoong tidak terima!
"Su, Yoochun tidak kesini?" Yunho membuka percakapan saat merasa tak nyaman dengan keheningan tersebut.
"Mungkin nanti menjemputku hyung. Sepertinya Yoochun sedang sangat sibuk akhir-akhir ini.."
"Hihi~~ Hati-hati, nanti Yoochun mu itu sedang 'main' dengan salah satu artisnya.."
"Ya hyung! Jangan macam-macam. Yoochun bukan orang seperti itu!" Junsu mengambil sendoknya yang berada di sisi mangkok kemudian memukulkannya ke kepala Yunho. Membuat Junsu tersenyum puas dan Changmin yang terkikik melihat penderitaan appanya.
"Aku kan hanya bercanda. Kenapa memukulku.." Yunho mengelus kepalanya. Sial sekali hari ini. Dalam sehari saja kepalanya sudah di pukul 2 orang yang berbeda berkali-kali. Sedangkan Junsu terlihat acuh dan kembali memakan makanannya dengan sesekali 'melayani' Changmin.
Jaejoong kembali makan dalam diam. Suasana ini terlihat aneh bagi Jaejoong. Jaejoong seperti penonton yang menyaksikan bagaimana gambaran keluarga bahagia terjadi. Yunho yang menikmati makanannya, Junsu yang sesekali menyuapi Changmin, Changmin yang tertawa melihat tingkah Yunho dan Junsu. Ini terlihat aneh bagi Jaejoong yang pertama kali bergabung dalam makan malam mereka.
"Hyung aku pulang dulu. Yoochun menunggu dibawah.." Junsu merapikan bajunya dan mengambil dompet serta ponselnya yang terletak di atas nakas.
"Yoochun tidak mampir dulu?" Tanya Yunho yang sibuk bermain dengan Changmin.
"Ani. Sepertinya dia sangat lelah. Hyung, titip mobilku ya?" Junsu tidak mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas nakas tadi bersamaan dengan dompet dan ponselnya.
"Ne~~" Ucap Yunho. Junsu mendekati Changmin dan mengecup pipi Changmin sekilas.
"Ajhumma pergi ne? Minne jangan nakal. Oke?" Changmin mengangguk dan balas mencium pipi kiri Junsu. Junsu tersenyum dan mengalihkan matanya pada Jaejoong yang terduduk di sofa tak jauh darinya.
"Jaejoong-sshi, aku pamit dulu. Selamat malam~" Jaejoong hanya mengangguk dan tersenyum sekilas membalas sapaan Junsu. Junsu menghilang di balik pintu apartemen Yunho. Jaejoong segera memperhatikan Yunho dan Changmin yang sedang terlihat menyusun atau membentuk(?) robot gundam milik Changmin. Jaejoong menghampiri mereka dan terlihat kebingungan dengan kegiatan tersebut.
"Min, bersama umma dulu ya. Appa ke kamar mandi dulu.." Yunho pergi meninggalkan Jaejoong dan Changmin. Sedangkan Changmin sudah menyodorkan robot yang belum terbentuk sempurna itu ke hadapan Jaejoong.
"Umma, sudah ini apalagi?" Tanya Changmin dengan imutnya. Sedangkan Jaejoong hanya mengerjabkan matanya dengan polos. Bingung. Tentu saja. Seumur-umur dia tak pernah bermain dengan robot-robotan. Waktu kecil Jaejoong jarang sekali bermain. Sedari kecil Jaejoong sibuk dengan les dan belajarnya. Tidak diberi kesempatan sama sekali oleh ayahnya untuk bermain dan bermalas-malasan.
"Mmaa.." Changmin memanggil Jaejoong saat melihat ummanya tersebut hanya terdiam.
"Eh? Begini ya…?" Jaejoong mengambil robot tersebut dan mencoba membentuknya dengan utuh. Changmin hanya menyaksikan kegiatan ummanya tersebut. Tak berapa lama Yunho kembali dari kamar mandi dan duduk di hadapan Jaejoong yang sibuk mengotak-atik robot Changmin.
"Jae, itu robot belalang?" Tanya Yunho menunjuk robot yang ada di tangan Jaejoong.
"Belalang? Anni.." Jaejoong melihat robot yang ada di tangannya. Sebentar matanya membulat syok. Lalu pura-pura tidak tahu dan meletakkan robotnya di karpet tepat dihadapan Yunho. Yunho sudah terkikik melihatnya.
"Ya umma~ kenapa gundam Min jadi begini. Huweeee~~" Changmin meraung histeris saat melihat gundamnya berubah menjadi robot super aneh di tangan ummanya. Changmin bahkan langsung mendeathglare ummanya jika menyentuh sedikit saja mainannya tersebut. Yunho juga harus mengajarkan dua makhluk di depannya tersebut untuk menyusun gundam Changmin. Hihi~ Jaejoong melihatnya seperti anak kecil polos yang tidak bisa apa-apa.
"Nah, sudah jam sepuluh. Ayo sekarang Min tidur.." Yunho membereskan semua mainan Changmin. Sedangkan Jaejoong dan Changmin masih asyik dengan robotnya membuat Yunho geleng-geleng kepala dengan ibu dan anak tersebut.
"Minnie, ayo cepat.." Changmin mengerucutkan bibirnya dan naik ke pangkuan Yunho.
"Kau tidur di kamar Changmin, Jae?" Jaejoong hanya mengangguk dan mulai berdiri mengikuti Yunho dan Changmin. Yunho menaiki tangga dan mengundang kerutan di alis Jaejoong.
"Yunho, kenapa kau membawa Changmin ke atas?"
"Loh, tentu saja tidur.." Jawab Yunho enteng.
"Iya, tapi kenapa Changmin juga kau bawa. Sini, berikan Changmin padaku.." Jaejoong menujulurkan tangannya pada Yunho yang sudah berdiri di anak tangga kedua tersebut.
"Ani.." Yunho menggeleng. Membuat Jaejoong menurunkan tangannya yang sedari tadi mengambang di udara. "Changmin selalu tidur bersama denganku tiap malam. Jika bukan denganku dia tak akan bisa tidur.."
"Kenapa bisa begitu. Aku ingin tidur bersama Changmin!" Jaejoong terlihat tak terima. Percuma saja Ia menginap jika tak bisa tidur bersama anaknya.
"Tidak bisa Jae. Changmin akan terjaga semalaman jika tidak tidur bersamaku.."
"Changmin pasti bisa tertidur kok. Aku kan ibunya.. Sudah, cepat berikan Changmin padaku!" Jaejoong kembali mengulurkan tangannya. Yunho menghela nafas lelah. Jaejoong masih saja keras kepala.
"Min ingin tidul belsama appa, mmaa.." Ucapan Changmin membuat Jaejoong terkaget. Jaejoong hanya terdiam mendengar ucapan Changmin. Changmin yang melihat wajah ummanya menjadi muram menjadi sedikit merasa bersalah.
"Kita tidul beltiga saja, gimana?" Changmin nyeletuk lagi menyadarkan Jaejoong dari melamunnya. Yunho melihat Jaejoong dan Changmin bergantian kemudian tersenyum.
"Baiklah… Kita tidur bertiga saja. Ayo Jae.." Yunho menarik sebelah tangan Jaejoong sedangkan tangannya yang lain masih setia menggendong tubuh Changmin. Jaejoong hanya terdiam saat tubuhnya ditarik oleh Yunho menuju kamar pria tersebut. Changmin dan Jaejoong di dudukkan di kasur Yunho. Sedangkan Yunho sibuk mencari piyamanya dan Changmin di dalam almari. Setelahnya Yunho memakaikan piyama Changmin kemudian ke kamar mandi untuk memakai piyamanya sendiri. Jaejoong kembali cemberut. Kenapa dia tak mendapat piyama juga seperti Changmin?!
"Appa, kenapa umma tidak di kasih piyama juga?" Yunho terkaget mendengar ucapan Changmin dan Jaejoong hanya cengengesan karena ketahuan anaknya mengambek.
"Kau mau piyama Jae?" Jaejoong mengangguk malu menjawab pertanyaan Yunho. Yunho kemudian kembali mengacak almarinya dan memilih piyama untuk Jaejoong. "Ini, gantilah di kamar mandi.." Yunho menyerahkan piyamanya yang baru Ia beli beberapa waktu lalu di Jepang. Untunglah belum sempat dipakai. Setelah kembali dari kamar mandi dan berganti dengan piyama Yunho, Jaejoong langsung duduk di atas kasur di samping kiri Changmin. Sedangkan Yunho berada di sebelah kanan Changmin.
"Selamat tidur.." Yunho menarik selimutnya dan Changmin sampai sebatas dada.
"Selamat tidur.." Ucap Jaejoong juga mengikuti Yunho.
"Selamat tidul~~" Changmin mengecup pipi Jaejoong dan Yunho bergantian. Menutup matanya dan mulai terlelap.
Sedangkan Changmin sudah terlelap. Yunho dan Jaejoong masih betah membuka mata mereka. Yunho sebenarnya belum terlalu mengantuk. Sedangkan Jaejoong terlihat gelisah karena berada satu kasur dengan Yunho. Jaejoong mengalihkan matanya saat mendengar sesuatu. Ternyata tangan Chanmin yang terjatuh di dada Yunho. Changmin tertidur memunggungi Jaejoong dan memeluk Yunho dengan erat. Jaejoong lagi-lagi mengerucut kesal.
"Kenapa Changmin malah memelukmu. Seharusnya dia memelukku.." Yunho hanya terkikik lagi mendengar ucapan Jaejoong. Entah sudah berapa kali pria bermata musang ini tertawa karena kelakuan Jaejoong. Yunho bangkit dari tidurnya dengan memegangi tubuh Changmin yang masih memeluknya. Memutari kasur dan berdiri di belakang Jaejoong.
"Eh, mau apa Yun?" Jaejoong kebingungan karena Yunho telah berdiri di belakangnya.
"Jangan berpindah. Tidurlah seperti tadi.." Jaejoong hanya menurut dan tertidur lagi seperti sebelumnya. Memunggungi Yunho yang ada dibelakangnya. Perlahan Yunho melepaskan pelukan Changmin pada tubuhnya dan meletakkan Changmin di hadapan Jaejoong. Reflex Changmin memeluki tubuh Jaejoong dan bergelung nyaman di dada ibunya tersebut.
"Sudah.." Yunho membetulkan selimut Jaejoong dan Changmin. Jaejoong tersenyum karena perbuatan Yunho. Yunho masih lembut dan perhatian padanya seperti dulu. Ah, bahkan Jaejoong sempat menyangka bahwa Yunho marah padanya. Tapi setelah seharian bersama pria tersebut, Yunho tak menunjukkan sama sekali sikap bahwa Ia merasa marah dan kecewa pada Jaejoong. Yunho masih menjadi pria baik yang selalu menghormati Jaejoong. Tidak pernah berubah.
Yunho ikut merebahkan tubuhnya ke tempatnya semula. Masuk kedalam selimut mereka dan mengelus rambut Changmin yang memunggunginya. Sejenak matanya mengalih pada wajah Jaejoong yang menghadap padanya. Yunho menatap wajah Jaejoong lama tanpa ada niat memutuskan kontak mata tersebut. Yunho menyeringai kecil saat melihat ada semburat merah tipis berada di kedua pipi Jaejoong. Wajah Yunho mendekat pada Jaejoong dan merunduk untuk mencium kepala Changmin, namun tatapannya tak pernah beralih pada mata Jaejoong. Jaejoong terlihat gugup oleh tatapan tersebut, apalagi dengan jarak Yunho yang tepat berada di bawahnya yang sedang mencium kepala Changmin. Yunho tiba-tiba saja memeluk dirinya dan Changmin sekaligus membuat Jaejoong terpekik kaget.
"Yun!" Yunho hanya tersenyum lagi dan memeluk tubuh keduanya dengan erat dan mulai memejamkan matanya.
"Selamat tidur.." Yunho menyamankan tubuhnya. Sedangkan Jaejoong belum bisa memejamkan matanya. Aigoo~ mana bisa tidur jika wajah Yunho tepat di hadapannya dan tangan pria tersebut memeluk pinggangnya dan Changmin sekaligus. Huweee~~ umma, bahkan jantungnya tak berhenti menggila sedari tadi.
TBC
.
.
.
.
Okey, saia akui ini sangat aneh dan gag ada feelnya.
Masa iya udah 3 tahun gag ketemu, emosi yang di tampilin datar aja. Saia juga merasa kurang puas, tapi saia gag bisa lebih memperpanjang soal pertemuan Yunjae. Nanti malah semakin panjang dan berbelit-belit. Awalnya ini ff Cuma twoshoot. Tapi setelah saia tulis jadi sekitar 18.000 words. Makanya dipisah, dan jadilah ff ini 4chapter. So, chap depan udah end ^^
Special thanks to :
BooFishy, iloyalty1, Asha lightyagamikun, KimRyeonii, AndrianaSR, Botol Pasir, jeje100607, RulesBreaker13, Milia Schiver, MrsPark6002, 10hr, Choi Eun Seob, yunhoism, KimmieYunjae, Himawari Ezuki, KimYcha Kyuu, cassieyunjae, Jung Jae YJ, Navarro Santiago, My beauty jeje, SimviR, Kyuminjoong, shimmax, ayachamii, kim eun neul, trilililililili (saia sampai hati-hati nulisnya-_- xD), Guest, BooMilikBear, YunHolic, doki doki, Guest(2), Haku Miura.
Map gag bisa bales reviewnya satu-satu. Telat berapa hari ini?
Rencananya bakal di publish tiap minggunya, tapi ternyata saia gag bisa megang laptop untuk publish kecuali untuk bikin tugas kuliah dan presentasi. Mian *bow
R
E
V
I
E
W
