Tittle :
Sorry to Love
Author : BlaueFee
Part : 4 of 4 *END*
Pairing : Yunjae
Other Cast : Changmin, Yoochun, Junsu, Key (SHINee), Donghae dan Eunhyuk (Numpang nama)
Rate : T+
Genre : Romance, Family, BrotherShip
Warning : Yaoi, Boys Love, BoyXBoy, M-Preg, Typos.
Disclaimer : Their not Mine. But, This story real mine.
Summary : No Summary
~Present for you~
Jaejoong menggeliat saat merasakan sinar matahari yang panas menerpa tubuhnya. Jaejoong kembali memeluk sesuatu yang berada dalam pelukannya. Namun matanya di paksa terbuka saat menyadari bahwa yang dipeluknya bukan tubuh Changmin melainkan sebuah bantal.
"Kemana mereka?" Jaejoong mengernyit saat melihat hanya dirinya saja yang berada di kamar Yunho. Jaejoong menutup wajahnya saat tak sengaja melihat kearah jendela kamar Yunho yang terbuka lebar. Hanya di tutupi tirai transparan. Cahaya matahari sungguh sangat panas. Tak sengaja matanya menubruk pada sebuah bingkai foto di seberang meja nakas. Jaejoong mendekati meja kecil tersebut yang ada di sebelah kanan kasur, sisi yang di tempati Yunho semalam. Mata doe itu membulat tak percaya saat melihat bahwa yang ada di dalam bingkai tersebut adalah potret dirinya. Dirinya 3 tahun lalu, bersama Yunho. Dengan Changmin yang masih ada di perutnya. Jaejoong meletakkan bingkai tersebut di sebelah jam weker kecil. Dan saat itu juga kembali matanya membulat.
"Omo! Jam sepuluh!" Jaejoong bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan turun ke bawah untuk bertemu salah satu dari Yunho maupun Changmin. Jaejoong menyusuri lorong apartemen Yunho menuju dapur saat mendengar suara Changmin yang lumayan nyaring.
"Ppaa~ Ppali.. Min lapal sekali~" Changmin duduk di lantai samping meja makan dengan memainkan mobil-mobilannya. Sedangkan Yunho sibuk berkutat dengan dapur.
"Iya-iya sayang. Appa juga lapar. Kau sih bangunnya lama.." Yunho masih berkutat dengan pancakenya. Setengah menggerutu juga karena telat bangun. Entah kenapa mereka hari ini sangat telat bangun. Terlalu nyaman tertidur sepertinya.
Jaejoong yang menyaksikannya tertawa lucu. Sepertinya bukan Ia saja yang telat bangun. Pasangan anak dan appa itu juga telat bangun. Lihatlah Yunho yang memasak masih menggunakan piyama dan apron coklatnya. Kiki~ Lucu sekali.
"Yun—"
"Yah Jung Yunho! Kau ini masak apa sih?!" Jaejoong membanting garpunya ke piring menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Sedangkan Yunho yang berdiri di depan Jaejoong menatapnya cemas.
"Tadi kau ingin spaghetti Jae. Itu—"
"Ini bukan spaghetti! Rasanya menyeramkan! Kau tak pernah makan spaghetti sebelumnya, eoh?" Jaejoong berdiri menciptakan gesekan kasar antara kaki kursi dan lantai.
"Be-belum.."
"Cih pantas saja. Orang miskin sepertimu makan nasi saja sudah syukur. Belajarlah memasak yang enak jika kau masih ingin hidup!" Jaejoong bergegas meninggalkan dapur dan pergi ke kamarnya. Meninggalkan Yunho yang menghela nafas lelah. Padahal Ia sudah berusaha membuat spaghetti sesuai keinginan Jaejoong yang berbekal dari buku masakan yang Ia temukan.
Jaejoong menutup mulutnya saat sekelabat ingatan memenuhi pikirannya. Tiba-tiba kepalanya merasa pusing saat ingatan tersebut masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dilihatnya tubuh Yunho yang masih memunggunginya untuk memasak. Jaejoong berlari dan memeluk Yunho dari belakang, mendatangkan erangan kaget dari Yunho dan Changmin yang melihat kejadian tersebut.
"Jae, ada apa?" Yunho ingin membalik tubuhnya guna melihat Jaejoong, namun Jaejoong mengeratkan pelukannya. Membuat Yunho susah bergerak. Kemudian Yunho dapat mendengar dengan jelas isakan Jaejoong dan juga gumaman samarnya.
"Jae, jangan begini. Ada apa, eoh?" Yunho masih berusaha mengajak Jaejoong bicara yang hanya di tanggapi gelengan oleh Jaejoong. Changmin menghampiri orang tuanya dan menarik celana piyama Yunho.
"Mma kenapa appa?" Tanya Changmin akhirnya setelah hanya melihat saja. Yunho menggeleng pelan. Sejujurnya Ia juga tak tahu Jaejoong kenapa. Sekarang Yunho malah keheran karena Changmin ikut-ikutan memeluk sebelah kakinya di samping Jaejoong.
"Aigoo~ kenapa kalian ini.." Yunho mengacak rambutnya dan mencoba terus melanjutkan masakannya yang sedikit lagi akan siap. Walau sangat risih dan aneh karena ada dua orang yang memeluknya, bahkan salah satunya dalam keadaan menangis.
"Yah sudah selesai. Min lepaskan kaki appa. Kau mau makan tidak?" Dengan berat hati Changmin melepaskan pelukannya pada kaki sang appa dan sebagai gantinya Ia memeluki kaki sang umma. Yunho Cuma menggeleng bodoh melihatnya.
Yunho mencoba membalik tubuhnya dan kali ini berhasil. Sepertinya Jaejoong lumayan lengah karena Yunho yang tadi memasak. Yunho mengusap poni Jaejoong yang sedikit memanjang dan memandang wajah itu khawatir. Pasalnya wajah Jaejoong sudah penuh dengan air mata dan ingus di hidungnya. Normalnya Yunho ingin tertawa melihat wajah jelek Jaejoong, namun Yunho sadar situasi.
"Jae-ah, waeyo?" Gelengan. Hanya itu yang di dapat Yunho. Yunho mencoba menuntun Jaejoong ke kursi meja makan sambil memelototi Changmin agar berhenti bergelayut di kaki Jaejoong.
"Umma kenapa?" Suara Changmin akhirnya memecah keheningan yang tercipta karena Jejoong masih belum mau membuka mulunya untuk bicara.
"Tidak ada sayang.." Suara Jaejoong terdengar serak membuat Changmin khawatir. Sadar akan tatapan Changmin padanya Jaejoong tersenyum. Mencoba menenangkan hati sang putra tunggal. Jaejoong menatap Yunho yang sedari tadi juga menatapnya. Mata Jaejoong kembali sayu saat melihat wajah Yunho.
"Mian.." Jaejoong membuka mulutnya saat Yunho meminta maaf padanya. Jaejoong tak mengerti kenapa Yunho meminta maaf padanya. "Apa kau merasa terganggu karena ku? Atau aku membuatmu terluka Jae?" Jaejoong menggeleng mendengar ucapan Yunho. Ada apa dengan pria ini? Saat Jaejoong merasa bersalah pada dirinya sendiri, malah Yunho yang meminta maaf padanya.
"Ani. Bukan.. Yun…." Jaejoong ingin mengatakan sesuatu. Tapi segala ucapannya berada di ujung lidah. Jaejoong tak tahu harus dari mana memulainya.
"Hemm?"
"Aku.. aku minta maaf.."
"Maaf? Maaf untuk apa?" Yunho menaikkan alisnya saat Jaejoong meminta maaf padanya. Bukankah tadi Ia yang meminta maaf, kenapa sekarang malah Jaejoong yang meminta maaf.
"Maaf untuk yang lalu.. Aku belum sempat mengatakannya padamu. Aku merasa.. merasa sangat jahat dahulu. Aku tidak—"
"Sudahlah Jae. Aku tak pernah memikirkanya. Lagipula kau tak pernah jahat padaku kok.." Yunho mengusap rambut Jaejooong yang berkeringat.
"A-aku jahat.. Kau tidaik ingat aku sering membentakmu?"
"Hihi~ Sudahlah. Kau kan sedang mengandung. Makanya berubah sensitive begitu. Jangan dibahas lagi okey? Sekarang ayo makan. Lap dulu ingusmu itu.." Yunho berdiri dan mengambil pencakenya yang masih berada di frying pan dan meletakkannya dalam piring. Jaejoong memandangi punggung Yunho dengan mata yang terlihat gelisah. Bagaimana mungkin Yunho memaafkannya semudah itu? Membentak adalah salah satu keburukannya pada Yunho. Kalau mau di bicarakan, ada sederetan keburukannya yang tak mungkin bisa Yunho maafkan. Tapi tidak, pria bermarga Jung itu bahkan seolah menganggap itu hal biasa.
Dalam sarapan mereka yang sudah sangat telat itu Jaejoong sering mencuri pandang pada Yunho. Jaejoong tak tahu kenapa selalu saja ingin melihat mantan suaminya tersebut.
"Jae, kau tak ada kerjaan?" Yunho memasang dasinya sementara Jaejoong sibuk memangku Changmin. Jaejoong menggeleng sebagai jawaban.
"Hari ini hanya ada jadwal memberi latihan pada para hoobae. Aku malas.." Jaejoong memasang tampang ogah-ogahan saat menyebutkan pekerjaannya hari ini.
"Kau mau menjaga Changmin hari ini? Sepertinya aku akan pulang malam.." Yunho berjongkok di depan Jaejoong dan Changmin.
"Baiklah… boleh aku membawanya ke apartemenku? Nanti malam aku akan mengantarkan Changmin lagi saat kau pulang.."
"Baiklah. Terserah kau saja.." Yunho mengusap kepala Chnagmin dan melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi… Min, jangan nakal bersama umma ne?" Changmin hanya mengangguk dan mencoba mencuri-curi lihat ke belakang punggung Yunho. "Hey, dengar tidak sih?" Yunho sebal sendiri saat merasa Changmin tidak mengacuhkannya. Yunho bahkan sekarang sengaja menghadang penglihatan Changmin dengan tubuh besarnya.
"Appa, min ingin nonton pilem~" Rengek Changmin saat Yunho menghalangi pandangannya untuk melihat film favoritenya.
"Makanya dengarkan appa jika bicara. Jangan nakal bersama umma ne?"
"Iya-iya. Min tidak nakal kok.." Yunho menggeser tubuhnya agar Changmin bisa menonton kembali filmnya. Lalu berdiri dan merapikan kemejanya.
"Baiklah, appa berangkat.."
"…"
"Yah! Minnie, kau tak mau mengantar appa?" Changmin menggeleng. Yunho mendengus. Jaejoong terkikik. "Aish.. anak ini.."
"Ya sudah. Biar aku antar sampai ke depan.." Jaejoong memindahkan Changmin yang ada di pangkuan ke seberang sofa untuk melanjutkan acara menontonnya. Dan sekarang malah berjalan duluan menuju pintu apartemen meninggalkan Yunho yang kebingungan.
"Yun! Ppaliwa!" Jaejoong berteriak memanggil Yunho saat melihat Yunho tak ada di belakangnya. Bergegas Yunho menyusul Jaejoong ke depan pintu apartemen.
"Ya sudah. Berangkat sana!" Jaejoong memberi gesture mengusir pada Yunho saat Yunho sudah sampai di hadapannya.
"Sebaiknya kau tak usah mengantarku jika dengan cara seperti itu.." Dengus Yunho kesal.
"Loh, memangnya harus bagaimana?" Jaejoong memberi tampang polosnya pada Yunho saat merasa tindakannya tidak salah sama sekali. Yunho mengerang frustasi melihat kelakuan ajaib Jaejoong padanya.
"Ya sudahlah. Aku berangkat. Jja~~" Yunho melambaikan tangannya. Refleks Jaejoong juga melambaikan tangannya.
"Hati-hati!" Teriak Jaejoong selanjutnya yang dibalas cengiran lebar Yunho.
"Memangnya aku harus begitu mengantarkan orang?" Tanya Jaejoong pada diri sendiri dan menutup pintu apartemen kemudian masuk untuk menemani Changmin lagi.
Setelah pukul 2 siang, Jaejoong mengajak Changmin untuk pergi ke apartemennya. Jaejoong lumayan merasa asing jika berada di apartemen Yunho. Apalagi tadi Ia sudah menelpon Key dan menceritakan kejadian kemarin. Tentu saja dengan potongan disana-sini. Jaejoong tidak mau terlalu menceritakan banyak hal pada adiknya yang cerewet tersebut. Key juga bermaksud bermain ke apartemen Jaejoong hari ini untuk bertemu dengan Changmin. Tapi, setelah sore Key tak kunjung datang. Jaejoong mengerti, mungkin Key sibuk bekerja. Key adalah orang yang sangat rajin bekerja, Ia tak bisa mengabaikan pekerjaan untuk urusan pribadi. Baiklah, mungkin lain kali Key bisa bertemu dengan Changmin.
"Min, ayo kita mandi~~!" Jaejoong berteriak saat tak menemukan Changmin di setiap sudut apartemennya. Kemana anak itu pergi sudah membawa setoples besar cookies buatan Jaejoong.
"Minni-ya!"
"Di kamal umma!" Changmin balas berteriak menjawab panggilan ibunya. Jaejoong menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan Changmin yang bisa dikatakan tidak pelan itu. Jaejoong memasuki kamarnya dan melihat Changmin sibuk dengan cookiesnya.
"Hey.. kenapa makan di atas kasur. Nanti makanannya berserakan.." Jaejoong menceramahi Changmin saat putranya tersebut malah asyik makan di atas kasurnya. Jika kasurnya nanti di selubuti semut karena makanan Changmin yang berserakan bagaimana?
"Habis di kamal umma tidak ada kulsinya. Tidak sepelti di kamal appa.." Keluh Changmin menjawab pertanyaan Jaejoong.
"Iya, makanya kenapa tidak makan di luar, hemm?" Jaejoong mengelus rambut Changmin yang tebal. Changmin mengerucutkan bibirnya lucu mendengar perkataan ummanya tersebut.
"Min kan ingin liat-liat. Umma, kenapa banyak poto appa di kamal umma?" Jaejoong tersentak kaget mendengar pertanyaan Changmin. Aigoo~ Ia lupa jika kamarnya di penuhi foto-foto Yunho hasil fangirling(?)nya.
"Ahhaha.. Itu.. Umma.. Pokoknya jangan bilang-bilang appamu, ne?!" Jaejoong tidak tahu harus menjawabnya dengan apa, alhasil Ia hanya bisa mengancam anaknya tersebut agar jangan membeberkannya pada Yunho. Jaejoong bisa kehilangan mukanya jika Yunho tahu perihal ini.
"Umm!" Changmin hanya mengangguk menjawab pertanyaan jaejoong.
"Ya sudah, ayo mandi. Sudah sore.." Jaejoong menggendong Changmin dan membiarkan toples cookiesnya berada di atas kasur dengan keadaan terbuka. Aigoo, kau lupa dengan semutnya Jaejoongiee~~
Saat mandi bersama Changmin, ponsel Jaejoong berdering. Changmin dan Jaejoong sedang berada dalam bathup. Changmin terlihat sibuk bermain dengan busa-busa sabun, sedangkan Jaejoong sesekali menjahili Changmin. Membuat anaknya tersebut selalu berteriak atau bahkan tertawa karena di gelitiki Jaejoong.
Jaejoong mengernyit saat melihat nomor asing yang tertera pada layar ponselnya. Tak mau ambil pusing, Jaejoong menjawab panggilan tersebut.
"Yoboseyo.."
"Yoboseyo.. Jae.."
"Eh, Yunho?"
"Ne, ini aku.."
"Dari mana kau dapat nomorku?"
"Aku mengambilnya diam-diam tadi. Maaf.."
"Iya. Tidak apa-apa.."
"Kau sedang apa Jae? Changmin mana?"
"Aku dan Changmin sedang mandi. Ini, Changmin sedang bermain air, hihi~~"
"Ma-mandi ya?" Entah kenapa Yunho malah membayangkan hal yang tidak-tidak tentang Jaejoong yang mandi sekarang. Buru-buru Yunho menggelengkan kepalanya saat pikiran kotor tersebut menyerangnya. "Humm, Jae.. sebentar lagi aku akan pulang. Apa aku menjemput Changmin saja kesana?"
"Nggh.." Jaejoong sebenarnya tak rela jika Yunho harus menjemput Changmin secepat ini. Tapi Jaejoong juga memaklumi jika Changmin memang tinggal bersama Yunho. "Ne, datang saja. Aku masih tinggal di apartemen yang dulu.."
"Baiklah. Mungkin satu jam lagi aku akan sampai disana. Annyeong.."
"Annyeong.." Jaejoong buru-buru menyelesaikan mandinya mendengar dalam satu jam Yunho akan sampai. Changmin merengek tak suka saat kesenangannya di ganggu. Namun, anak kecil bermarga Jung tersebut langsung menyerah saat diancam Jaejoong untuk tidak memasakkannya makan malam jika tidak menurut.
Setelah selesai memakaikan baju untuk Changmin. Jaejoong bergegas ke dapur untuk memasak. Sedangkan Changmin mengekori ibunya tersebut sampai ke dapur.
"Mma.. Min bantu yaa?" Changmin memperlihatkan mata bulatnya yang bersinar pada Jaejoong. Membuat Jaejoong menelan ludah dengan gugup. Ya tuhan, jika besar nanti mungkin anaknya akan menjadi pria tampan yang akan di gilai banyak orang.
"Tidak usah.. nanti Min kotor lagi. Kan baru mandi. Sebentar lagi appa mu akan datang.." Jaejoong memakai apron birunya dan mengeluarkan bahan masakan dari dalam kulkas. Sedangkan Changmin hanya memperhatikan ibunya tersebut. Merasa terganggu karena Changmin berdiri di tengah-tengah dapur, Jaejoong mengangkat tubuh anaknya tersebut dan mendudukkannya di kursi meja makan yang dekat dengan dapur. Changmin hanya pasrah saja dengan perlakuan ummanya. Sudahlah, jika tidak bisa membantu, cukup melihatnya saja. Mungkin membantu.. enghh-_-
Suara bel yang berbunyi membuat pekerjaan Jaejoong terganggu. Masih dengan menggunakan apronnya, Jaejoong membuka pintu apartemen dan di kejutkan dengan kehadiran Yunho yang tersenyum padanya.
"Hai Jae. Kau sedang memasak?" Yunho menunjuk pada apron yang digunakan Jaejoong. Membuat Jaejoong tersadar dan mempersilahkan Yunho masuk. Kemudian langsung bergegas menuju dapur. Yunho yang ditinggal mengikuti Jaejoong dan melihat Changmin yang menopang dagu sambil memperhatikan ibunya tersebut memasak.
"Hey jagoan!" Yunho mengangkat tubuh Changmin dan menciumi kening putranya tersebut. Yunho mendudukkan dirinya di tempat Changmin duduk tadi dengan memangku Changmin. Menunggu Jaejoong yag menyelesaikan masakannya, Yunho terlihat mengobrol dan sesekali bermain dengan Changmin.
Beberapa waktu kemudian Jaejoong selesai dengan masakannya. Membuat mata Changmin berbinar dan Yunho yang meneguk ludah melihat masakan Jaejoong. Masakan Jaejoong terlihat sangat lezat. Beda sekali seperti masakannya yang terlihat pas-pasan dengan rasa yang pas-pasan juga.
"Kau tidak ganti baju Yun?" Tanya Jaejoong memecah tatapan Yunho pada masakan menuju wajah Jaejoong.
"Hemm, tidak usah. Sebentar lagi juga akan pulang.."
"O-ohh.." Jaejoong terlihat sedikit kecewa dengan jawaban Yunho. Yunho yang menyadarinya menjadi tidak enak.
"Tapi, sepertinya bajuku sedikit lengket. Apa aku bisa meminjam bajumu Jae?" Jaejoong mengangguk semangat mendengar pertanyaan Yunho. Jaejoong segera menuju kamarnya dan membawakan baju santai untuk Yunho. Yunho berjalan kearah kamar mandi yang dulu sering di pakainya dan mengganti pakaiannya disana. Yunho mengamati isi kamar mandi. Banyak yang dirubah Jaejoong. Gorden yang dulu berwarna biru muda sekarang bermarna merah muda. Ada beberapa lemari kecil untuk menyimpan peralatan mandi yang tersedia disana. Dulu hanya ada sebuah lemari kecil dekat wastafel kamar mandi. Ah, Yunho berhenti memperhatikan. Jika terus di perhatikan takkan ada habis-habisnya Yunho berkomentar dalam hati. Sesudah mengganti pakaiannya, Yunho pergi kembali ke dapur. Disana sudah ada Jaejoong dan Changmin yang menanti kedatangannya.
"Duduklah. Dari tadi Changmin mengeluh terus.." Yunho duduk dan memandang Changmin yang menatap lapar masakan Jaejoong.
"Selamat makan!" Teriak Changmin dan memulai makannya. Sedangkan Jaejoong dan Yunho makan dengan tenang.
"Apa masakanku enak, Yun?" Jaejoong menatap malu-malu pada Yunho yang nampak lahap menghabiskan makanannya. Yunho mengangguk.
"Tidak buruk.." Jaejoong mengeluh. Tidak buruk katanya? Padahal orang yang memakan masakannya pasti memujinya dengan enak, nikmat dan sebagainya. Kenapa Yunho hanya berkata seperti itu.
"Masakan umma paling enak, tidak sepelti masakan appa yang selam(seram).." Yunho mendeathglare putranya tersebut. Habis manis sepah dibuang. Kalau bukan Yunho yang memasakkan makanan padanya selama ini, mungkin Changmin sudah mati kelaparan.
"Benarkah? Minnie memang pintar.." Jaejoong memberikan tatapan menyindirnya pada Yunho karena kesal oleh perkataan pria tadi. Sedangkan Yunho yang tidak mengerti hanya meneruskan makannya. Yeah, sebenarnya masakan Jaejoong sangat enak. Tapi Yunho hanya sedang usil saja tak mau mengakuinya.
Setelah makan, Changmin bermain sendirian di ruang tamu. Sedangkan Jaejoong dan Yunho membereskan bekas makanan mereka.
"Umma, ambilkan kue Min yang tadi!" Changmin berteriak dari ruang tamu pada Jaejoong yang sibuk membawa piring kotor ke tempat cuci piring.
"Biar aku yang ambilkan.." Yunho berjalan menuju anaknya berada.
"Jangan suka menyuruh-nyuruh orang Changmin. Kau bisa mengambilnya sendiri.."
"Min sibuk.." Yunho hanya melihat anaknya datar. Anaknya kenapa kurang ajar begini.
"Dimana kuenya?"
"Di kamal umma…" Yunho mengangguk mengerti dan segera menuju kamar Jaejoong. Tapi belum sempat membuka kamar Jaejoong, empunya kamar terlebih dahulu menghalangi jalannya.
"Andwae.. biar aku yang mengambilnya.. Ka-kau ke dapur atau temani Changmin saja.." Jaejoong mendorong-dorong Yunho. Membuat Yunho terseret-seret kemana-mana karena mempertahankan langkahnya.
"Yah yah! Kenapa dorong-dorong sih?"
"Aish. Pokoknya temani saja Changmin sana.." Yunho menurut dan berjalan menuju Changmin. Jaejoong menghela nafas pelan dan segera menuju kamarnya. Saat pintunya sudah terbuka, tiba-tiba seseorang mendorong Jaejoong dan memasuki kamarnya. Jaejoong kaget dengan perbuatan Yunho dan bertambah kaget lagi saat melihat ekspresi Yunho. Aigoo~ Yunho melihat foto-foto dirinya yang di tempeli Jaejoong di dinding kamarnya.
"Jae.. Kau salah satu fans ku?"
"Enak saja! Siapa yang fans mu!" Jaejoong mendelik gugup pada Yunho yang sudah menyeringai padanya.
"Akui saja. Lalu kenapa kau memasang berbagai fotoku dikamar mu. Haha.."
"Aish… jangan tertawa.." Jaejoong berusaha menutup mulut Yunho yang tak henti-hentinya mentertawakan dirinya. Namun cukup sulit karena Yunho selalu berontak dan juga karena Yunho berjalan kesana-kemari menyusuri kamarnya untuk melihat foto dirinya sendiri.
"Wah wah.. Kau bahkan juga memasang fotoku yang kau ambil diam-diam. Kau benar-benar stalker Jae-ah.." Yunho menggeleng dengan jumlah foto yang tidak sedikit tersebut. Ada berbagai macam foto, mulai dari foto-fotonya yang ada di internet, foto yang di uploadnya bersama Changmin di situs pribadinya, foto Yunho sedang berdiri di catwalk bahkan foto dirinya yang diambil secara diam-diam. Jaejoong yang mendengar perkataan Yunho semakin bertambah malu.
"Memangnya kenapa kalau aku memasang fotomu. Tidak boleh?"
"Eh? Bu-bukan tidak boleh juga sih.. Hanya saja.." Yunho mati kutu dengan ucapan Jaejoong. Apa haknya melarang orang memasang fotonya, walaupun itu fotonya sendiri tapi kan itu sudah biasa. Banyak fans nya yang juga melakukan hal tersebut. Namun, karena ini jaejoong—ibu dari anaknya dan juga mantan istrinya—Yunho merasa err.. entahlah.
"Ya sudah. Jangan protes ataupun tertawa!" Jaejoong mengambil toples kue Changmin yang ada diatas tempat tidurnya kemudian keluar untuk menyerahkan toples itu pada Changmin. Selanjutnya Jaejoong menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Apa dia marah?" Yunho yang di tinggal akhirnya menyusul Jaejoong menuju dapur. Dilihatnya Jaejoong sudah mulai mencuci piring-piring kotor. Yunho memegang bahu Jaejoong. Namun tak ada reaksi apapun dari empunya.
"Jae, kau marah padaku?"
"Hemm.." Jaejoong hanya bergumam. Merasa tak puas dengan jawaban Jaejoong, Yunho membalik tubuh mantan istrinya tersebut. Jaejoong mendelik tidak suka dan memandang kearah lain asal jangan pada wajah Yunho.
"Hey, lihat aku. Maaf, tadi aku hanya iseng.." Yunho memajang wajahnya di hadapan Jaejoong. Namun Jaejoong mengarahkan wajahnya kearah lain. Yunho kembali memajang wajahnya kearah tersebut. Jaejoong kembali membuang muka.
"Hahhh…" Yunho menghembuskan nafas lelah. " Maaf.." Yunho melepaskan tangannya yang sedari tadi masih memegangi bahu Jaejoong. Yunho mengambil tempat di samping Jaejoong dan mulai melanjutkan pekerjaan mencuci piring. Wajahnya di pasang sangat kecut, membuat Jaejoong menjadi tak enak juga pada akhirnya.
"Yun, aku tidak marah kok~" Jaejoong kembali membalik badannya. Sehingga Ia dan Yunho sekarang berdiri berdampingan di depan wastafel cuci piring. Yunho yang mendengarnya memandang Jaejoong.
"Benarkah?" Yunho tak dapat menyembunyikan senyumannya saat mendengar ucapan Jaejoong. Sebagai jawaban Jaejoong hanya mengangguk semangat. Membuat Yunho terkekeh.
"Gomawo.." Ucap Yunho lagi. "Ah, tapi aku penasaran kenapa kau memasang fotoku. Kau menyukaiku ya~" Yunho tak tahu sejak kapan Ia menjadi sejahil ini dan dengan beraninya menggoda Jaejoong. Yunho yang terlihat tenang tak pernah sekalipun menggoda orang. Yah, kecuali Hyukjae dan Junsu. Dan sepertinya bergaul dengan Junsu membuat kelakuannya menjadi-jadi.
"Hnngg.." Wajah Jaejoong memerah mendengar nada jahil dari Yunho. Bukannya menjawab, dengan gugup Jaejoong melanjutkan pekerjaannya membersihkan gelas dengan sabun. Yunho yang tak puas karena tak di jawab oleh Jaejoong menghentikan kegiatannya. Dan memegang tangan Jaejoong. Membuat gelas yang di pegang Jaejoong terjatuh kedalam air.
"Kau tak menjawab pertanyaanku.."
"Per-pertanyaan apa?"
"Aku tanya apa kau menyukaiku.." Yunho menatap wajah Jaejoong yang tambah memerah. Membuat Yunho menyeringai. "Benarkan?" Tambahnya lagi.
"Ka-kalau iya kau mau apa?" Jaejoong balas menatap pada mata Yunho. Jaejoong dapat melihat dengan jelas mata Yunho yang membelalak tak percaya.
"Ka-kalau iya.. Yah.. Ma-mau gimana lagi.." Jawab Yunho gugup. Namun Ia tersenyum. "Aku juga suka kau kok.." Lanjutnya dengan nada malu-malu. Hemm, sepertinya Yunho yang asli sudah kembali. Yunho yang lemah dan tenang jika berhadapan dengan Jaejoong.
"A-aku?" Jaejoong menunjuk dirinya sendiri dengan tangan yang masih dipenuhi busa sabun cuci.
"Ne.." Yunho dan Jaejoong sama-sama tersenyum dengan pipi yang memerah sempurna.
Dengan perlahan Yunho mengamit tangan Jaejoong lembut. Menuntun tangan tersebut untuk memeluk pingganggnya. Jaejoong maju mendekat pada tubuh Yunho dan memeluk pinggang Yunho dengan erat. Tatapan mata mereka tak terputus sedikitpun, malah bertambah intens. Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong.
"Saranghae.." Desisan Yunho di dengan mulut Jaejoong membuat getaran tersendiri padanya. Jaejoong menggeram pelan dan memegang baju Yunho kuat. Ia memejamkan mata menikmati sengatan yang disalurkan Yunho. Tanpa mendengar jawaban Jaejoong, Yunho mendekap bibir plum itu dengan bibir penuhnya.
"Eunghh.." Refleks Jaejoong memegang tengkuk Yunho dengan sebelah tangannya. Meremas rambut itu kuat seperti Yunho yang rakus melahap bibirnya. Busa-busa sabun ditangannya berpindah pada rambut Yunho. Membuat rambut itu terlihat berantakan dan abstrak.
"Hnn.." Yunho melepaskan ciuman mereka. Memandangi wajah Jaejoong yang memerah dengan mata yang tertutup rapat dan mulut yang terbuka. Yunho bisa melihat dengan jelas wajah di hadapannya sekarang yang merasakan nikmat. Yunho merasa bangga karena memberikan rasa tersebut pada orang yang di cintainya.
Yunho menjulurkan lidahnya pada mulut Jaejoong yang masih terbuka. Jaejoong mengatup bibirnya dengan kuat dan tak sengaja menggigit lidah Yunho karena kaget. Yunho terperanjat, namun tak menghentikan kegiatannya. Ia memeluk tubuh Jaejoong lagi dengan erat. Menyusuri isi mulut Jaejoong dengan lidahnya. Mengaduk-aduk air liur Jaejoong. Menggelitik langit-langit mulutnya.
"Yunhhh—" Jaejoong membuka mulutnya lebar saat Yunho menggigit bibir bawahnya dengan nafsu. Yunho menaruh tangan kanannya pada pipi Jaejoong dan mengusap pipi tersebut. Wajah Jaejoong mengalih pada tangan Yunho yang mengusapnya lembut. Deru nafas Jaejoong yang mengenai hidung Yunho membuat entah kenapa Yunho tambah bersemangat mencabuli bibir mantan istrinya tersebut.
Ciuman Yunho turun pada pipi bawah Jaejoong. Menjilat di sekitar sana dan meninggalkan jejak saliva. Turun lagi pada perpotongan leher atas Jaejoong dan melakukan hal sama. Yunho kembali membawa bibirnya turun menyusuri kulit Jaejoong. Yunho mengecup beberapa kali leher Jaejoong sebelum dengan ganas mencium leher tersebut bahkan menggigitnya.
"Hhauu Yun! Pelannn.." Kedua tangan Jaejoong sudah berada di kepala Yunho karena kesakitan saat Yunho menggigitnya. Yunho mengacuhkannya dan terus-terusan mencium leher tersebut. Yunho sedikit menggeser kaus yang di pakai Jaejoong sehingga memperlihatkan bahunya yang mulus. Yunho meneguk ludahnya kasar, kenapa.. Kenapa bahu itu seolah mengundangnya untuk 'dihabisi'. Yunho tak menyia-nyiakan hidangan di depannya. Ia kembali meraup rakus bahu tersebut. Menyusuri setiap garis tulang selangka tersebut. Yunho makin beringas menarik kaus Jaejoong, membuat kaus itu longgar di bagian lehernya. Yunho menekuk tubuhnya dan mencium bagian belakang bahu Jaejoong sekaligus. Ini terlalu nikmat, bahkan Yunho tak ingin melewatkan satupun bagian tubuh di depannya ini.
Tangan Yunho kembali bermain pada tubuh Jaejoong. Yunho menarik kaus Jaejoong ke atas. Menggulungnya dengan perlahan dengan di bantu tangan Jaejoong. Hingga baju tersebut tergulung sempurna dan mempelihatkan tubuh atas Jaejoong yang polos dari pinggang hingga dadanya. Yunho menghentikan ciumannya guna memandang tubuh atas Jaejoong yang hampir tersekpose sempurna.
"Indah.." Yunho meletakkan tangan kanannya pada perut Jaejoong. Yunho bisa merasakan kerasnya kontor otot perut milik Jaejoong. Garis tegas dan ABS yang tak terlalu jelas namun menggodanya. Sedangkan Jaejoong hanya mendesis nikmat saat tangan tersebut menyusuri perutnya. Makin ke bawah makin membuat Jaejoong mendesah tak karuan.
Yunho mendaratkan kedua tangannya pada masing-masing sisi pinggang Jaejoong. Sedikit mengurut pinggang tersebut. Membuat Jaejoong menggelinjang dan makin menyandarkan pinggulnya pada pinggiran wastsfel. Pinggangnya adalah tempat yang sensitive. Dan Yunho baru saja mengelus bagian tersebut dengan intens. Yunho tergelak melihat wajah tak nyaman dan juga nikmat Jaejoong. Ia makin menaik-turunkan tangannya pada bagian pinggang Jaejoong.
"Yu-yunn.. Hentikan.. Eunghh.."
"Tidak bisa.. Ini tidak bisa dihentikan Jae.." Wajah Yunho maju dan mengecup pusar Jaejoong. Kemudian secepat kilat mencium bibir itu lagi. "Jae, bagaimana ini.. Humm.. aku.. aku tidak bisa.. mmm Berhenti.." Ucap Yunho di sela ciumannya.
"Jangan berhen—tii.." Jaejoong menjawabnya dengan susah payah di sela-sela lidah dan gigi Yunho menarik-narik bibir atasnya. Mendengar ucapan Jaejoong, Yunho tambah berani melakukan aktivitasnya. Tangannya kembali menyusuri pinggang Jaejoong dan merabat naik ke punggung namja cantik tersebut. Yunho menurunkan ciumannya pada dada Jaejoong. Mengemut salah satu nipple Jaejoong yang sedari tadi sudah menegang. Yunho melakukannya dengan perlahan, sangat pelan hingga membuat Jaejoong frustasi. Tangan Jaejoong menjambak-jambak rambut Yunho namun, reaksi Yunho masih sama.
Yunho agak berjongkok dan menurunkan ciumannya lagi pada perut Jaejoong. Merasa kurang nyaman, Yunho dengan kedua tangannya mengangkat tubuh Jaejoong dan mendudukkan pria tersebut pada bagian samping wastafel dan kembali menciumnya. Jaejoong merasakan bagian bawah pinggulnya basah karena air dari wastafel yang merembes keluar. Namun Ia mengabaikannya.
Yunho masih saja menikmati setiap jengkal bagian perut Jaejoong. Sesekali lidahnya memasuki lubang pusar Jaejoong.
"Aku tidak tahu bahwa tubuh seseorang bisa semanis ini.."
"Jae-ah, kenapa tubuhmu bisa semanis ini.."
Jaejoong teringat akan perkataan Yunho saat mereka bercinta untuk pertama kalinya 4 tahun lalu. Yunho juga mengucapkan jika tubuhnya manis. Entah manis yang seperti apa, tapi Jaejoong merasa bangga mendengarnya.
"Auhh.. Yu-Yunn.. Yunho!" Jaejoong berusaha mengangkat kepala Yunho yang masih bersarang di perutnya dengan kedua tangannya. Namun Yunho tidak menggubrisnya dan kembali melanjutkan kegiatannya.
"Yun—Yunh.. Changmin.." Jaejoong harus dua kali lipat menahan malunya. Tubuhnya yang terangsang karena perlakuan Yunho dan juga malu karena anaknya yang berusia 3 tahun sedang melihat aksi mereka dengan mulut ternganga sambil memegang toples yang kosong. Eoh?
"Changmin kenapa?" Yunho menghentikan kegiatannya dan mendongak menghadap wajah Jaejoong yang berada di atasnya. Namun yang dilihat Yunho adalah Jaejoong yang memandang takut pada 'hal' dibelakang Yunho. Penasaran Yunho mengikuti arah pandang Jaejoong dan membalik tubuhnya.
"Aa.." Refleks tubuh Yunho merosot kebawah dan terduduk ke lantai saat melihat anaknya yang telah berdiri dengan tampang penasaran dan mata melotot.
"Appa umma sedang apa?"
"Ti-tidak sedang apa-apa.." Jaejoong menurunkan kausnya dan turun dari wastafel. Memperbaiki penampilannya yang semrawutan dan bergegas mendatangi anaknya takut anaknya berpikiran macam-macam. "Min ada apa kesini?" Jaejoong berjongkok di hadapan Changmin. Sedangkan Yunho terlihat sedang membenahi penampilannya.
"Kuenya abis Mmaa.." Changmin menunjukkan toples yang sudah kosong tersebut. Jaejoong mengambil toples dari tangan Changmin dan mengisinya dengan kue yang Ia simpan di rak lemari.
"Ini. Sudah nonton lagi sana.." Namun Changmin hanya menggeleng.
"Min disini saja. Kartunnya sudah abis. Min mau lihat umma dan appa.." Changmin menarik keluar kursi meja makan dan menatap Jaejoong seakan menyuruhnya untuk mengangkatnya ke atas kursi tersebut. Jaejoong melakukannya dan kembali meneruskan pekerjaan yang dilakukannya sebelum melakukan ehemehem dengan Yunho. Sedangkan Yunho hanya menghela nafas karena 'pekerjaan' nya yang tadi terganggu dan lebih memilih untuk membantu Jaejoong.
"Jae, yang tadi dilanjut nanti malam. Di dalam kamar~~" Bisik Yunho pada telinga Jaejoong.
Pluk!
Gelas yang ada di tangan Jaejoong terjatuh kedalam air. Wajah Jaejoong memerah. Yunho tersenyum manis(?). Changmin asyik dengan toplesnya.
Awww.. Hati-hati Jung Jaejoong~~
END
Errr~~
Ini sebenarnya nekat mau nulis NC. Tapi saudara-saudara, ternyata susah banget nulisnya. Sumpah~~
Nulis adegan kisseu aja udah bergetar dan susah cari inspirasi. Ampe bayangin jae dan yunho beneran gituan. Dari pada gagal, jadi yah ampe disini saja. Doakan saia supaya bisa nulis NC *eh?
Ini datar apa datar banget?
Abis kok ngerasa alurnya cepet. Yah, dimaklumi juga. Awalnya kan emank pengen twoshoot. *nyengir.
Balesan Review :
10hr : itu umur Changmin sekarang 3 tahun. Dan Jae waktu pertama kali liat Changmin umur 1.5 tahun. Emank kalau di korea bakal jadi 2.5 tahun. Tapi saia Cuma menyesuaikan aja, mereka gag ketemu selama 3 tahun. Tapi 1,5 tahun lalu umur Min udah 2,5 tahun. Berarti sekarang jadi 4 tahun donk. Gag pas aja rasanya. Lagian saia emank terbiasa pake umur internasional. Gag pernah pake umur korea.. Gomawo review nya ^^
YunHolic : maklumi aja, jae kan gag pernah main robot-robotan. Wkwk.. iya, Yunho mudos banget buat meluk jae tuh .. makasi reviewnya ^^
My beauty jeje : happy end kok! Haha, pengennya bikin rate M, tapi gagal mulu. Doakan otak saia jadi pervert *jderr. Gomawo reviewnya ^^
Himawari Ezuki : haha, chap kemarin manis ya? Makasi ini udah lanjut, ampe di PM juga.. hihi~~ Makasih reviewnya^^
Yunhoism : yunho dibilang pabbo *ngadu ke Yunho* map gag bisa bikin konflik lagi. Ini Cuma ff sederhana aja u,u gomawo reviewnya ^^
AndrianaSR : haha, gag bisa bikin konflik lagi, maap. Ini udah ending .. *kasih bantal buat disobek xDD
Kim eun neul : makasi kalau dapet feelnya. Semoga gag mengecewakan.. gomawo reviewnya ^^
Asha Lightyagamikun : yunho kelewat baik ya? Haha.. chap dulu udah saia bilang kalau saia mencoba bikin karakter yunho yang agak sedikit berbeda. Kalau biasanya dia ego, pemarah dan lain sebagainya. Disini maunya Yunho itu sebagai sosok yang lembut buat jae. Yah, alasannya mungkin karena Yunho terlalu mencintai Jae *ngeri dengan bahasa sendiri* lagipula, saia gag bisa nyiksa jae~~ Makasih reviewnya ^^
Jung Jae YJ : humor? *kedip-kedip* jae dibilang jinak, disangka gajah *eh? Makash reviewnya ^^
NaraYuuki : Haha, jadi curhat.. beneran gag datar kan ya? Makasi reviewnya ^^
Choi Eun Seob : Yap udah end tuh. Gag tau bakal suka apa enggak.. Makasi reviewnya ^^
Anastasya regiana : iya, udah membaik makasih reviewnya ^^
Sora Hwang : Iya, makasi reviewnya ^^
MrsPark6002 : ini, yunjae udah bersatu *sodorin Changmin xD .. Makasi reviewnya ^^
SimVir : jae kan fansgirl(?) nya yunho xD.. bersatu, tapi gag tahu apa bakal go public. Kita serahkan pada yang bersangkutan *nahloh? Sankyuu reviewnya ^^
Arra17 : yunho always loves Jaejoong.. haha, si bebek emank ngelawak mulu kerjaannya XDDD Makasih reviewnya ^^
Botol pasir : well, di chap 2 perubahan jae sudah mulai terlihat. Mungkin tidak terlalu diketahui karena saia tidak menjabarkannya secara rinci. Tapi sesuai dengan cerita dan pemikiran Yunho. Sewaktu yunho mau bawa Changminpun, disitu Jae sudah diceritakan bahwa Ia menyukai Yunho, entah itu keseluruhan Yunho atau sifatnya. Dan di chap 3, jaejoong masih suka seenaknya dan sombong, dia Cuma berubah pada Yunho. Haha.. balesan paling panjang. Terima kasih ^^
Trilililili : haha, gag tahu itu jumlah 'li' nya benar atau enggak XDD iya maap, Cuma sampai disini saja hiks*lebay* ini udah update lagi.. makasih reviewnya ^^
Shimmax : haha, ne gag ada konflik. Another fict yunjae mungkin bakal saia bikin konflik. Ini Cuma fict ringa aja.. terima kasih reviewnya ^^
Jae milk : iya, yunjae balikan. Kalau gag balikan saia gag dikasih uang jajan ama si tiang listrik xDD Makash reviewnya ^^
Jiyong aka imel : haha, saia juga mau di peluk euy u,u iya, ini udah update … makasih reviewnya ^^
Guest : mau nyelip di antara mereka bertiga. Haha Makasih reviewnya ^^
KimRyeonii : akhirnya kamu muncul juga saeng u,u itu kan awalnya acara starking mau dimulai. Dan pas jae manggil yunho yang di depannya kan ada kata 'tempat rekaman starking yang baru saja mereka selesaikan' so, jae manggil yunho itu pas acara udah selesai. Maap, unni langsung aja.. hihi~
Err, berharap changmin ama kamu? Mending ama unni aja-_- haha~ Makasih reviewnya ^^
.
.
.
Yosh! Akhirnya ending juga. Maap kalau mengecewakan, saia masih harus banyak belajar. Dan karena ini chap terakhir, saia usahain buat bales reviewnya.. maap chap-chap sebelumnya belum sempat bales..
Samapi ketemu di ff lainnya !
YUNJAE IS REAL !
R
E
V
I
E
W
