Wordcount: 5,761

Hana's Headnote:: Makasih banyak banget buat review kemarin! *MWAHMWAHMWAH* #dibakar Hana balesin review di chap akhir yah, supaya lebih spesial XD Sesuai janji, ini update-nya. Gak lama 'kan? Even longer! Dan khusus buat pembaca-reviewer yang bersedia baca karya Hana. \(^^)/ without y'all, I'm nothing here. Enjoy and Happy Reading! :) (P.S. long note in the footnote)

.

.~.

.::~::0::~::.

~ Part the Second of Enchanted ~

.::~::0::~::.

.

.~.

.

{2/3}

Sore itu, Harry tidak langsung menunggu shift-nya di kafé seperti biasa, melainkan segera pulang ke rumah, dan dengan kilat mengambil shower. Memakai pakaiannya yang lebih tipis dibanding kemeja, Harry tak sengaja melihat pantulan dirinya di cermin—karena ia jarang sekali peduli terhadap penampilannya—dan melihat tubuhnya yang mengurus, matanya yang berkantung agak mirip panda, dan bahunya yang merosot dengan lemas. Ia menyentuh keningnya, dan menghela lelah ketika merasa suhu tubuhnya lumayan panas. Harry mengambil termometer, mengecek suhunya, dan setengah melotot melihat suhunya mencapai empat-puluh derajat. Mungkin ia bisa memanaskan air dengan menyelam di akuarium.

Harry berbaring di kasurnya, dan menarik selimut sampai menutupi wajah. Ini semua karena kuliahnya, dan Harry terus bergadang dari dua minggu lalu untuk mengerjakan tugas-tugasnya, supaya bisa mempercepat waktu kuliahnya. Harry berniat menghabiskan waktu kuliah hanya dengan dua sampai tiga setengah tahun, supaya bisa mengikuti Akademi Pelatihan lebih awal...

Mungkin terasa sangat berat, karena Harry biasanya mendapatkan nilai standar, dan tak pernah berkeinginan menjadi bintang kelas seperti sahabatnya, Hermione, atau para kutu buku yang membuat perkumpulan bernama Ravenclaw dulu.

Harry memejamkan matanya yang panas, berharap Fred dan George bisa memaafkannya karena absen tanpa pemberitahuan, lalu tidur sejenak supaya demamnya turun, dan ia bisa kembali mulai begadang lagi untuk membaca buku... dan...

.~.

Harry bermimpi ia kembali bertemu dengan kedua orangtuanya.

Mereka berdua, Lily dan James Potter, tersenyum padanya, seperti tahun-tahun sebelumnya ketika mereka belum meninggal; menyambut Harry setelah mereka bisa pulang kembali ke Inggris, dan memeluknya dengan erat... betapa Harry merindukan semuanya. Orangtuanya, bandara Inggris, rasa menyenangkan bersama Mum dan Dad...

"...Rry,"

Ada yang memanggil namanya. Harry menatap ibunya, dan mata hijau yang identik menatapnya balik dengan hangat.

"...arry,"

Siapa yang memanggil namanya?

"Harry."

Pandangannya menggelap, dan wajah kedua orangtuanya tenggelam dalam lautan hitam. Rasa hangat itu menghilang, tergantikan dengan lubang kosong di dadanya. Kemana mereka pergi? Kenapa semuanya hitam?

"Harry!"

Kelopak matanya terbuka, dan tidak ada kegelapan hitam lagi. Pandangannya mengabur sesaat, dan ia terbangun dengan posisi terduduk, dan memegang sesuatu. Ia berkedip, dan merasakan ada air mata jatuh dari pelupuknya. Berkedip lagi, supaya ia bisa melihat lebih jelas, Harry menangkap sebuah kepala berambut pirang pucat, dan kemeja hitam berdasi biru gelap yang cukup familier. Ia menggosok matanya, dan sadar bahwa ketidakjelasan pandangannya ini karena ia tidak memakai kacamata.

Ketika Harry terus menggaruk matanya, ada tangan pucat yang melingkari pergelangannya, dan menjauhkan tangannya sendiri dari matanya.

"Jangan dikucek," kata suara itu, dan sekali lagi, terdengar cukup familier. "Ayo, kuantar kau ke kamar mandi."

Dengan linglung Harry membiarkan dirinya dibawa ke kamar mandi. Otaknya sangat berkabut, membuat Harry tidak bisa mencari identitas orang itu di laci memori otaknya. Tapi, biarlah, ia merasa aman dengan orang itu...

"Basuh wajahmu," kata orang itu, suaranya lembut, bariton, dan ia mendapati dirinya segera mendekati wastafel, dan menyalakan keran untuk membasahi wajahnya dengan air dingin dari sana. Rasanya menyegarkan, tapi terlalu dingin.

"Wajahmu merah," gumam suara yang sama, dan Harry merasakan sebuah punggung tangan menyentuh keningnya. "Kau demam, Harry."

Harry mengangguk-angguk, matanya tertutup pelan-pelan, sebelum ia merasakan ada sesuatu yang menempel di keningnya, udara—nafas—hangat yang menyapu hidung dan bibirnya, lalu sepasang mata kelabu yang lurus menatap mata hijaunya.

Harry berkedip. Ia serasa pernah bertemu dengan mata kelabu itu—Harry juga pernah bertemu dengan kepala pirang platina yang sama, dan.. ia juga pernah mendengar suara bariton yang sama. Err. Itu siap—?

Matanya melotot, dan Harry mundur, membuat keningnya dan kening pucat tidak saling menempel lagi, kemudian menunjuk batang hidung yang pernah ia lukai.

"K-k-kau—" kata Harry, tergagap-gagap saking tidak percayanya, "Malfoy! Malfoy! Kau Malfoy! Apa yang kau lakukan di rumahku?"

Malfoy menatapnya dengan ekspresi terhibur, "Kau sedang sakit, Harry."

"Aku tidak sakit," sangkal Harry, biarpun kepalanya cenut-cenut dan wajah sampai tubuhnya terasa panas. "Lagipula, apa hubungannya denganmu? Kau tidak perlu menyelinap masuk ke rumahku, kali!"

"Ah, Harry, aku minta maaf kalau kau merasa privasimu terganggu," kata Malfoy, tersenyum, dan Harry mendesis, 'ya iyalah,' dengan dongkol. "Aku tidak menyelinap, omong-omong. Pintu rumahmu terbuka dengan lebar, dan aku beruntung bisa masuk terlebih dahulu. Kau bisa bayangkan apa yang terjadi jika orang lain—kriminal—yang masuk kemari," jeda. Mata kelabu itu menatap Harry dari bawah sampai atas, lalu nyengir. "Apalagi orang semanis kau, Harry. Jangan bayangkan apa yang akan mereka perbuat ketika kau sedang sakit dan tidur sendiri begitu."

"Kau mesum!" tuduh Harry, merasa malu dan marah.

"Sudah kubilang, jangan dibayangkan, sayang," kata Malfoy sambil menghela nafas. "Lebih baik kau istirahat lagi, sana. Wajahmu merah sekali. Dan kau sangat kurus."

"Tidak," tolak Harry, menggelengkan kepalanya, dan menyesal seketika karena membuat kepalanya berputar lebih hebat. "Kau pasti punya pikiran yang sama dengan orang-orang jahat itu."

Mata Malfoy berputar, dan seringai tipis membentuk sudut bibirnya. "Aku hanya sempat berpikir begitu, Harry, tapi aku ini berpendidikan; tahu mana yang salah dan mana yang benar."

Biarpun begitu, kepanikan dalam diri Harry tidak sepenuhnya lenyap. "Aku tidak bisa mempercay—"

"Harry," potong Malfoy, matanya menyorot dengan keras. "Aku tidak akan menyakitimu," Malfoy menarik nafas, dan pandangannya menghangat, dan suara baritonnya berdengung lembut di telinga Harry. "Seandainya dari awal aku memang ingin menyakitimu, aku sudah akan menerormu dari kemarin."

Harry merasa agak bersalah. Tapi salah Malfoy juga main menyelinap masuk ke rumahnya—tapi, itu Harry yang tidak mengunci pintunya. Mungkin karena demam dan sakit kepala, Harry jadi melupakan soal kunci dan langsung berbaring di kamarnya. Ia hanya ingin tidur, tidak melakukan apapun, dan berterima kasih pada Malfoy telah menjaganya ketika ia tidur...

Mata berbentuk buah badam milik Harry menatap jari kakinya di bawah, dan rasa bersalahnya seolah berpindah dari hati ke punggungnya; berat. Mungkin ia tidak perlu galak-galak pada Malfoy—lagipula, Malfoy juga sudah cukup sering berada di dekatnya akhir-akhir ini...

"Maaf," gumam Harry, masih menimang-nimang apakah ia akan berbuat baik pada Malfoy selanjutnya atau cukup minta maaf dulu.

Malfoy tidak menjawab. Ketika Harry akan mengangkat kepalanya lagi, ada jari telunjuk pucat Malfoy di bawah rahangnya; membuatnya menatap langsung dengan manik-manik kelabu milik Malfoy. Ada senyuman mungil yang berbeda dari semua senyuman yang biasa diulas Malfoy, dan Harry tanpa sadar ikut tersenyum juga—biarpun saat sadar bahwa ia tersenyum, Harry buru-buru menjauh dari Malfoy sambil menunduk untuk menyembunyikan merah di pipinya.

"Pergi kemana?" suara Malfoy bertanya di belakang Harry.

Harry tidak menoleh, ia hanya menggumam, "Tidur," dan segera jatuh ke kasurnya yang nyaman, bantalnya yang empuk, dan selimut hangatnya; sudah lebih dulu tidur ketika Malfoy mematikan lampu kamarnya dan memandangi sosok Harry yang bergelung dalam selimut selama puluhan menit di ambang pintunya.

Di alam tidurnya, tidak ada kegelapan dalam mimpinya.

.~.

"Berapa lama aku tertidur?" tanya Harry ketika ia selesai mandi dan duduk di ruang tengah bersama Malfoy.

"Lumayan lama," kata Malfoy, dan mengunyah pizza yang masih terlihat hangat. "Mungkin delapan jam. Awal aku datang kemari, kau sudah tidur, aku menunggu selama dua jam. Dan kau terbangun, lalu tidur lagi sampai malam ini, sekitar.. delapan jam."

Harry menatap layar televisi yang menyala, tapi tidak menontonnya. Pikirannya masih agak berkabut, tapi kepalanya sudah tidak sepusing tadi. Demamnya juga sudah reda. Mungkin benar dugaannya bahwa ia memang kelelahan.

"Kau lapar, Harry?" tanya Malfoy, dan Harry tidak bisa menggeleng atau berbohong. Ia sangat lapar. Malfoy yang tampak mengetahuinya, tertawa kecil, "Mau sepotong?" sambil menunjuk pizza-nya.

Harry, yang dari awal cukup tergoda dengan pizza di sebelah Malfoy, segera menerima potongan pizza yang ditawarkan Malfoy, bergumam, 'thanks.', lalu mengunyah sedikit-sedikit pizza-nya sambil memandang kosong siaran televisi.

"Kau sudah baikan?" Malfoy di sampingnya bertanya, dan Harry otomatis mengangguk. "Demam?"

Harry mengangkat bahu. Ia tidak mungkin bicara dengan mulut memuncratkan pizza yang tengah dikunyahnya.

"Biar aku cek," kata Malfoy, dan mendekatkan wajahnya pada Harry. "Kau keberatan?"

Harry ingin mengangguk lalu menjauh, tapi ia terlalu lelah untuk bertengkar dengan Malfoy. Ia memilih menggeleng.

Malfoy mendekatkan keningnya, dan menempelkannya dengan kening Harry. Untuk beberapa detik mereka berdua terdiam, sebelum Malfoy menatapnya cukup lama, dan menjauh sedikit, membuat nafas mereka tidak lagi menjadi satu.

"Suhumu turun," kata Malfoy, dan suaranya terdengar agak aneh di telinga Harry.

Harry mengangguk, lalu mengambil segigit pizza lagi di tangannya. Ia merasa tubuhnya benar-benar malas bergerak, dan ia hanya ingin ketenangan, semuanya diam.. tidak ada yang membuat otaknya berpikir...

"Apa kau terbiasa minum obat?" tanya Malfoy lagi.

"Tidak," jawab Harry, dan untuk pertama kalinya, merasa tidak peduli pada suaranya yang kedengaran kecil dan serak.

Malfoy menatapnya lagi, "Atau kau mau aku menelepon salah satu temanmu agar datang kemari dan menemanimu? Kau tahu, kau terlihat sangat tidak cocok dengan wajah pucat dan tatapan kosong itu."

Harry berpikir, tapi otaknya sedang lelet parah. Apakah ini hasil kelamaan tidur? Rasanya nyaman, tapi.. Harry menjadi malas untuk melakukan apapun. Ia menggigit pizza itu kecil-kecil sampai habis.

"Oke, kalau begitu, aku akan menelepon," kata Malfoy, dan berdiri dari posisi duduknya. Harry, biarpun otaknya masih lambat berkerja, bisa melihat lengan Malfoy yang sejak tadi berada di belakang punggung Harry, seperti merangkulnya secara tidak langsung di sofa. "Kau mau aku menelepon siapa?"

Nama teman-temannya secara perlahan muncul satu-satu di benak Harry. Ada Ron, Hermione, Neville... dan ketika ia akan menyebut salah satu nama, mulutnya seakan tidak mau membuka.

"Harry?" suara Malfoy terdengar lagi. "Kau mau aku menelepon siapa?"

Harry mendongak, menatap Malfoy yang berdiri tidak terlalu jauh dengannya, dan menatap mata kelabu itu. Ia terdiam cukup lama, sampai saat Malfoy mau bicara lagi, Harry memotongnya terlebih dahulu,

"Jangan," kata Harry, suaranya terlalu pelan. Tapi dilihat dari Malfoy yang kembali memasukkan hand-phone-nya yang tipis ke saku—Draco bilang namanya Android, tapi Harry tidak peduli. Toh sama-sama digunakan untuk telepon dan SMS, 'kan?—Harry tahu Malfoy mendengarnya. "Tetap disini."

Harry tidak tahu apa yang bisa menyebabkannya mengatakan hal terakhir itu, tapi hati terdalamnya bilang, ia membutuhkan Malfoy di rumahnya, bersamanya, saat ini. Intinya—Harry membutuhkan kehadiran Malfoy; biarpun sebodoh atau semenjiijikkan apapun kedengarannya.

Mata kelabu Malfoy memandangnya dengan tatapan tidak terbaca, sebelum pemuda itu mendekati Harry, lalu duduk di sebelahnya; terlalu dekat sampai kaki mereka bersentuhan, menghadap Harry yang duduk tegak karena gugup secara tidak sadar. Anehnya, Harry tidak terlalu terkejut ketika merasakan tangan berjari panjang Malfoy menyentuh sisi wajahnya, dan menatap Harry seakan Harry adalah patung pahatan seni yang tak ternilai harganya.

"Kau indah, Harry," kata Malfoy, suara baritonnya mendengung di telinga Harry. Tangan pucat itu bergerak menelusuri tulang pipinya. "Aku beruntung bisa melihat kecantikanmu tanpa orang lain yang bisa melihatnya."

Tubuh Harry bergetar di bawah sentuhan asing Malfoy, dan ia memejamkan matanya secara refleks. Malfoy mendorong lembut tubuhnya agar menyandar pada sofa, dan Harry mengusap pipinya pada sofa. Hangat. Mungkin ia bukan mengusap sisi wajahnya dengan sofa, tapi pada telapak tangan Malfoy yang masih di pipinya.

Harry merasa aman.

"Tidur, Harry. Suhumu kembali naik," kata Malfoy, suaranya menyusup perlahan dan lembut lewat telinga ke relung hatinya. "Aku yang akan menjagamu disini."

Terbuai oleh suara Malfoy yang menghipnotis dan usapan di punggungnya, Harry kembali membiarkan dirinya dipeluk alam mimpi, dan setengah sadar akan lengan Malfoy yang melingkar di tubuhnya dengan protektif.

Mimpi Harry bahkan lebih indah dibanding sebelumnya.

.~.

Harry membuka pintu kafé, dan selang setengah detik setelah mendengar bunyi gemerincing lonceng pintu, rambut bushy cokelat mendadak memenuhi pandangannya, dan Harry tersadar siapa pemilik rambut ini—Hermione Granger.

Oh, Harry tidak akan selamat.

"Harry!" seru Hermione, dan Harry segera menarik nafas ketika gadis itu melepaskan pelukannya. "Kau tidak memberi kabar apapun, Harry, dan kau tidak tahu seberapa panik kami—" jari Hermione menusuk rusuknya, "Apalagi aku dan Ron—" tusukan lagi, "Tidak mengetahui dimana alamat rumahmu—" tusukan lagi, dan lebih menyakitkan, "Dan kau menghilang tanpa jejak selama tiga hari! Apa maksudmu melakukan itu semua?"

Harry membuka-tutup mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia berdeham, berusaha memfokuskan pikirannya untuk menjawab. "M-maaf, Hermione," kata Harry, dan ia beruntung sekali tidak melihat ada Ron atau yang lain. Mungkin mereka sedang keluar? "Aku tidak bermaksud membuatmu—kalian semua—khawatir. Aku hanya kelelahan, dan..." Harry tidak bisa meninggalkan bagian ini, seberapa bencinya ia, "...aku demam."

Mata cokelat Hermione membesar, dan tangan gadis itu langsung menempel di keningnya. Alisnya bertaut penuh kecemasan, "Apa kau sudah sehat? Oh, Harry, seandainya kau memberitahu kami bahwa kau sakit di rumahmu, kami semua bisa datang dan merawat—"

"Yang sakit itu aku, Herm, ingat? Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain tidur di kasur," kata Harry, tersenyum, berharap Hermione akan mengganti topik yang lain sehingga Harry tidak perlu mengatakan bahwa ia pusing dan muntah-muntah seperti bayi juga.

"Oh, benar, maaf," kata Hermione, lalu menatap Harry lagi, terlihat sama cemasnya. "Lalu, bagaimana kau melakukan.. semuanya? Maksudku, seperti memasak, mengurus rumah—karena biarpun kau sakit, tiga hari itu rumah cepat kotor—atau mencuci pakaian.. siapa yang melakukannya?"

Wajah Harry langsung berubah jadi semerah tomat, dan ia menggigit pipi dalamnya dengan geraham. "Err.. um, well, ada... err..." Harry berharap ada lubang di depannya, jadi ia bisa terjun masuk ke sana dan menghilang untuk sementara waktu, bebas dari tatapan menyelidik Hermione yang jenius.

Hermione melipat lengannya di dada, dan Harry bersumpah ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Harry. "Ya? Apa jawabanmu, Harry?" tanya Hermione.

Harry menelan ludah, "A-aku ada kenalan?" oh, betapa jelek, memalukan, dan mencurigakan jawabannya itu.

"Kenalan, katamu?" tanya Hermione, dan gadis itu tersenyum misterius. "Biar kutebak. Punya rambut pirang.. mobil mercedes hitam metalik.. orang berinisial DM...?"

Harry tidak tahu apakah pipinya bisa lebih merah dibanding warna apel sekarang, karena ia sangat, sangat, sangat tidak tahu harus bereaksi apa pada tebakan jahil Hermione. Harusnya Harry langsung saja bilang namanya, jadi tidak perlu ada situasi seburuk ini!

"Ah, Harry," Hermione tertawa, dan Harry melotot. "Kau tidak perlu malu-malu. Kami semua menerimanya, tahu. Seperti Seamus dan Dean, mereka sekarang 'kan sudah merencanakan pernikahan di Irlandia? Terbuka saja pada kami, Harry. Sudah tidak ada larangan untuk berhubungan sesama jenis. Bukan hanya di Inggris, di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa bagian lainnya juga sudah membebaskan pernikahan sejenis. Oh, berarti benar kata Ginny, kau itu agak tertutup."

"Bukan begitu, Hermione," kata Harry lemas, ia tidak percaya teman-temannya bisa mudah percaya dengan gosip itu. Hanya melihat ia dan malfoy berpegangan tangan saja sudah mengambil keputusan 'pacaran', bagaimana kalau Harry tidak sengaja mencium orang lain? "Aku dan Drac—maksudku, Malfoy—"

"Harry!" kata Hermione antusias sambil bertepuk tangan. Senyuman di bibirnya sangat lebar. Harry bisa saja ikut tersenyum asalkan Hermione tidak sedang membicarakan gosip-penuh-fitnah itu. "Aku dengar kau dan pacarmu ini masih menggunakan panggilan dengan nama belakang, tapi sekarang, kau sudah berani memanggilnya dengan nama kecil! Aku tahu, Harry, teruslah membuat hubungan yang lebih baik, supaya saat kalian akan naik ke jenjang yang lebih tinggi—"

"Tidak ada yang naik ke jenjang-jenjang, Hermione!" potong Harry frustasi. Harry memanggil nama kecil Draco itu karena—karena Draco memintanya. Harry ingin berterima kasih, dan Draco memintanya agar memanggilnya dengan nama kecil, bukan Malfoy. Ah, ia baru saja sembuh dari penyakit menyebalkannya, dan kenapa, demi apapun, ia mendapat kesialan lagi?

Hermione berhenti bertepuk tangan dan senyumnya meluntur, "Kenapa?"

Harry bisa saja minta maaf, tapi situasi awkward ini harus segera berganti. "Karena aku bukan siapa-siapanya Drac-Malfoy, Hermione," kata Harry, berusaha agar bisa membuat Hermione melupakan gosip yang pasti bersumber dari Ginny dan teman-teman shift-nya yang lain. "Aku—kami hanya, erm, berteman, tidak lebih. Dr-Malfoy memang merawatku saat aku sakit, tapi kami tidak ada hubungan intim."

Hermione terlihat bingung, dan alisnya menekuk dan mengerut; tanda gadis itu berpikir keras. "Tapi, Harry," kata Hermione. "Bahkan Fred dan George juga melihat bukti bahwa kalian itu pacaran."

Fred dan George? Harry ikut bingung. "Bukti apa?"

"Bukti bahwa saat paca—maksudku, Draco Malfoy—kemari, Fred dan George tidak sengaja melihat wallpaper ponselnya." kata Hermione, menatap Harry hati-hati.

"Lalu?"

"Well, wallpaper-nya itu.. kau, Harry," kata Hermione. "Fotomu saat kau sedang duduk di taman kota. Kau memang tidak melihat ke arah kamera, tapi kau terlihat bahagia. Dan mengingat bahwa kau benci sekali difoto sejak dulu, kami jadi beranggapan bahwa isu kau berpacaran dengan Draco itu.. benar."

Harry membeku di tempat.

.~.

Harry tidak tahu apa yang harus dirasakannya. Apa ia harus marah, atau cukup diam dan memaafkan, atau benci, atau senang, atau...

"Harry," sial, suara bariton itu. Biarpun ada penghalang berupa pintu yang rapat tertutup, suara itu masih terdengar jelas di telinganya. "Harry, aku datang menjemputmu."

Harry membiarkan sosok pucat itu berdiri disana, kelihatan tolol di depan pintu kafé yang tertutup, tapi Harry sadar bahwa dirinyalah yang lebih tolol karena mengunci pintu dan tetap di dalam kafé, padahal waktunya tutup.

Pemuda itu—Malfoy, ya, Malfoy, bukan Draco—mengetuk pintu kaca itu, dan Harry bisa melihat betapa dekat wajahnya dengan pintu karena Malfoy menghembuskan kabut berembun di permukaan pintu kaca. Malfoy mengetuk lagi, tapi Harry hanya diam sambil memeluk jaket dan tas selempangnya, duduk dengan wajah masam dan mulut cemberut. Ia tahu betapa kekanakannya perlakuan Harry pada Drac-Malfoy, tapi ia tak bisa menahannya. Dr-Malfoy harus tahu betapa kesalnya Harry.

"Harry?" suara itu memanggil lagi, kali ini lebih keras dan ketukannya lebih kuat. "Ayolah. Kau harus pulang. Aku tidak mau demam menyerangmu lagi, atau sakit kepala..."

Harry merasa hatinya menghangat mendengar perhatian Dra-Malfoy dari kata-katanya juga tidak tega membiarkan Drac-Malfoy di luar, tapi rasa kesalnya lebih besar. Maka, Harry bangkit berdiri dan menghampiri pintu yang dihinggapi D-Malfoy, lalu menunjuk wajah Malfoy secara tidak langsung dengan telunjuknya.

"Aku tidak mau pulang bersamamu!" seru Harry, dan yakin Malfoy mendengarnya karena pemuda itu mengernyit.

"Kenapa?"

Harry menunjuk-nunjuk pintu, berharap bisa menusuk-nusuk rusuk Malfoy—ha! Harry bisa menyebut nama Malfoy tanpa kesalahan sebanyak tiga kali!

"Aku ingin tahu," Harry memulai, langsung ke topik permasalahan, "Apa yang membuatmu bisa memasang—fotoku—" wajah Harry memerah "—di layar hand-phone-mu. Apa aku pernah mengizinkanmu mengambil fotoku?"

Malfoy menatapnya keras, matanya terlihat seperti lelehan merkuri, sebelum pemuda itu mengambil hand-phone-nya dari saku, dan menunjukkan wallpaper-nya dari pintu kaca yang tembus pandang. Harry melihat dirinya di foto; foto itu diambil saat ia dan Malfoy pergi ke taman kota, dua hari yang lalu, dengan alasan Malfoy supaya Harry tidak jenuh dan menghirup udara segar. Harry tidak bisa mengatakan hari itu sangat membosankan karena.. sungguh, Malfoy adalah orang yang betul-betul bisa membuatnya tertawa dengan sarkasmenya yang kelewat sering. Malfoy bisa membuatnya tersenyum, entah kenapa, dan ia merasa Malfoy adalah orang menyenangkan yang selama ini tidak Harry temukan. Ron, Hermione, dan yang lainnya memang menyenangkan, tapi mereka tidak memiliki sesuatu yang dimiliki Malfoy. Sesuatu yang.. bisa membuat Harry bahagia. Dan rasanya berbeda ketika ia bersama teman-temannya.

Harry setengah melotot pada Malfoy yang yang masih menunjukkan layar hand-phone-nya, "Kenapa kau sembarangan ambil fotoku? Kau tidak mengatakan apapun kemarin," desis Harry.

Drac-Malfoy memasukkan hand-phone-nya kembali ke saku, lalu menatap Harry lembut. "Aku sengaja tidak mengatakannya padamu, karena aku tahu reaksimu akan seperti apa," kata Malfoy, lalu menempelkan telapak tangannya di pintu kaca. "Ayo, biar kuantar kau pulang. Aku tidak mau kau harus menghabiskan waktu seharian di tempat tidur karena demam lagi."

Harry menunduk memandangi tali sepatunya. Harry ingin menolak, tapi ia tidak ingin membuat Draco—maksudnya, Malfoy—kesal atau menjauhinya. Keberadaan Malfoy selama tiga hari saat ia sakit memberi efek yang tak bisa dilupakan.

Dengan helaan berat, Harry membuka kunci pintunya, dan mendorong pintu agar bisa keluar dari kafé, lalu lengan Malfoy yang dibalut kemeja hitam menyambutnya. Kunci bergemerincing di tangannya ketika Dra-Malfoy menarik Harry ke pelukannya, dan Harry tidak bisa menahan keinginannya untuk menenggelamkan wajahnya dalam bahu Draco—oh, biarlah—yang hangat. Harry bisa merasakan lengan Draco memeluk pinggangnya, kepala Draco yang tersampir di bahunya, dan hembusan karbondioksida di telinga Harry.

"Maafkan aku," kata Draco, pelan sekali, dan Harry bisa mengecap rasa bersalah Draco yang begitu kental. "Aku tak bisa menahannya. Kau terlalu indah. Maaf."

Harry menggelengkan kepalanya, dan menatap jalanan sepi dari bahu Draco—biarpun ia hanya melihat sedikit karena tinggi tubuhnya yang relatif pendek. "Lupakan," gumam Harry, bicara pada jaket Draco yang menguarkan wangi parfum mahal.

Mereka terus berpelukan di depan kafé, cukup lama sampai tubuh Harry yang awalnya agak kedinginan menjadi hangat akibat suhu tubuh Draco yang menempel di tubuhnya, lalu memutuskan untuk mengakhiri pelukan nyaman itu. Ia mundur, dan menatap Draco yang memandangnya sama hangatnya seperti pelukan tadi. Pipinya memanas. Ia kurang terbiasa dengan perilaku Draco yang biasanya genit dan arogan, menjadi perhatian dan lembut.

"Aku mau pulang," gumam Harry, menemukan tali sepatunya di tanah lebih menarik untuk dipandangi. Pipinya masih merona.

"Tidak masalah, 'kan, kalau aku yang mengantarmu?" tanya Draco, dan telunjuk pucat panjang mengangkat rahangnya, membuat Harry bertemu dengan wajah runcing yang tersenyum tipis ke arahnya. "Jangan terlalu suka menunduk, Harry. Wajahmu setingkat dengan malaikat, bukan daratan kotor seperti tanah yang kau tatap tadi."

Harry memutar matanya, mengutuk rona merah di pipinya yang sering sekali muncul setiap Draco ada, "Malaikat apanya," dengus Harry, lalu menoleh untuk melihat mobil Draco yang diparkir di pinggir jalan. Harry berjalan ke arah mobil, dan membiarkan jari telunjuknya mengait di kelingking Draco, sehingga ia menarik pemuda pucat itu berjalan mengikutinya. Rasanya memegang tangan Draco itu nyaman. "Ayo pulang. Aku lapar."

"Kau lapar?" tanya Draco memastikan sambil membuka pintu mobil untuk Harry, melepaskan sesaat tangan yang mengait di kelingkingnya, sebelum mengambil tangan Harry, dan mencium punggungnya. "Mau makan dimana? Restoran?"

Harry menggeleng, menarik perlahan tangannya dari Draco agar pemuda itu tidak tersinggung, lalu duduk di jok mobil. Ia tersenyum meminta maaf, "Aku masih punya makanan mentah di rumah untuk dimasak."

Draco memutari mobil untuk membuka pintu dan duduk di bangku kemudi, lalu menatap Harry di sebelahnya. "Berarti, aku boleh ikut ke rumahmu? Aku lapar juga."

Harry menatapnya heran, "Kau bisa makan di restoran yang lebih enak," kata Harry.

"Tidak, rasanya berbeda kalau makan tanpa kau. Lebih hambar," kata Draco, nyengir, dan Harry memukul pelan bahunya. "Hey, aku tidak bercanda. Lagipula, masakanmu lebih enak dibanding koki bintang lima yang pernah kumakan."

Harry memukul bahu Draco lagi, dan ia tak bisa menahan senyumnya untuk tidak melebar. "Tukang gombal," kata Harry.

Draco menyalakan mesinnya, dan tersenyum singkat pada Harry sebelum memfokuskan pandangannya ke depan. "Aku tidak bisa menahannya. Kau sangat menarik."

Harry menggembungkan pipinya karena wajahnya terlalu panas untuk dirasakan. Sesampainya di depan rumah Harry, Harry tidak bisa membuka pintu mobilnya, dan menoleh ke arah Draco.

"Pintunya tidak bisa dibuka," kata Harry sangat pelan, takut merusak mobil super mahal Draco secara tidak sadar.

"Tenang," kata Draco, tersenyum penuh makna, lalu keluar dari mobil. Ia memutari mobil, dan membuka pintu Harry dari luar, menyambutnya dengan lengan terjulur. "Selamat datang."

Harry, dengan pipi merona lagi, mengambil tangan Draco dan keluar dari mobil. Draco menutup pintu mobilnya. "Buat apa bilang selamat datang, Draco? Ini rumahku."

"Tidak masalah," kata Draco sambil tersenyum lagi, dan mengalungkan lengan kirinya pada bahu Harry. "Mana kuncinya?" Harry menunjukkan kunci pintu masuk, dan Draco mengambilnya. "Biar aku yang buka."

"Draco, tidak perlu," kata Harry, dan mengejar Draco yang sudah sampai terlebih dahulu di teras rumah. "Kau tidak us—"

"Tidak, Harry, aku yang akan melakukannya," potong Draco, lalu memasukkan kuncinya di lubang pintu. Ia nyaris memutarnya, tapi tangan Harry menahannya.

"Aku yang punya rumah dan kau tamuku. Aku tidak ingin merepotkanmu, Draco," kata Harry cepat, setengah melotot pada pemuda pirang yang masih memegang kuncinya.

"Tidak apa-apa, Harry, aku sama sekali tidak keberatan," kata Draco, senyumannya makin tipis.

"Tapi aku tidak—"

"Shh," potong Draco, menaruh telunjuknya yang bebas kunci di bibir Harry, membuat pemuda yang lebih pendek bungkam dengan semburat merah menjalar di pipinya. "Aku melakukan ini supaya adil, karena kau selalu memasak untukku."

Harry menggeleng keras kepala, "Tidak mau, aku yang harusnya—"

Telunjuknya tergantikan dengan telapak tangan, dan tangan Draco membungkam mulut Harry. Wajah Draco mendekat sampai jarak mereka hanya sepersekian senti, dan berkata dengan baritonnya yang merendah, "Aku yakin kau takkan mau tahu metode apa yang akan kugunakan untuk menutup mulutmu, Harry?"

Beberapa helai rambut Draco yang mencuat menyentuh dahinya. Dalam kebisuan kata-kata, Harry menggeleng, dan seketika tangan Draco di mulutnya lepas. Draco tersenyum hangat padanya, tangannya menyentuh pipi Harry sesaat.

"Maaf kalau aku agak kasar," kata Draco, menyampingkan poni Harry yang sempat menutupi pandangannya. "Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatmu rileks, Harry. Aku tidak mau kau jatuh sakit lagi, dan terus tidur. Aku cukup merasa kesepian, jujur."

Harry mengangguk, dan meremas singkat tangan Draco, sebelum melepaskannya, "Lupakan," kata Harry, dan perutnya mendadak berbunyi, membuatnya lebih malu lagi dan ingin sekali merangkak sambil mencari sumur agar bisa bersembunyi di dalam sana. "M-m-maaf." gumam Harry, wajahnya mendidih.

Draco terkekeh, dan membuka kunci pintu dengan tangan kirinya, sementara tangannya yang lain merangkul bahu Harry dan menarik pemuda mungil itu masuk. "Santai saja, tidak perlu malu, Harry. Kau bisa terbuka padaku." katanya.

Harry mengusap wajahnya, dan menghela, "Terima kasih," gumamnya, lalu mulai meniti tangga ke kamarnya di lantai dua setelah mempersilakan Draco untuk menunggunya di ruang tengah karena Harry ingin sekali menggunakan shower.

Harry menaruh jaketnya, dan masuk ke kotak shower. Harry lebih menyukai shower ketimbang bathtub di lantai bawah karena lebih instan memakai shower. Harry kurang suka ide menghabiskan waktu yang lama saat mandi.

Setelah selesai mengeringkan tubuh dan rambutnya—biarpun tidak semuanya kering—Harry turun dan melihat Draco yang duduk menyandar di sofa, menonton televisi dengan wajah datar. Harry mendekati Draco, berniat mengejutkannya dari belakang, tapi Draco sudah keburu menoleh dan tersenyum pada Harry.

"Kau tidak akan bisa mengagetkanku, Harry," kata Draco, lalu berdiri, dan mendekatinya, dan terlihat seperti seedang menciumi sesuatu, "Kau wangi."

Harry memutar matanya, dan beranjak ke dapur, tapi tangan Draco menahannya.

"Bukan maksudku kau selalu bau dan setelah mandi baru wangi," kata Draco, menatapnya dengan serius.

"Ya, ya, terserah. Lupakan," kata Harry, tersenyum singkat, lalu melepaskan tangan Draco dengan perlahan untuk mengambil apron abu-abu yang menggantung dekat rak piringnya. "Kau mau makan apa?" tanya Harry.

Harry bisa mendengar Draco mendekat dari belakang, "Apa saja," jawab Draco. "Aku yakin apapun masakanmu itu pasti enak."

Harry mendengus, "Itu hanya karena aku sering membuat treacle tart dan waffle," kata Harry. "Tidak apa-apa kalau kubuat casserole?"

"Sudah kubilang, Harry, apapun buatanmu pasti enak," kata Draco, dan mendadak ada beban di bahu Harry.

Harry menoleh untuk melihat wajah Draco yang terlalu dekat di bahunya, dan memutar mata, "Pindah kau dari bahuku, Draco. Aku sedang memasak," kata Harry.

"Mm," kata Draco, menyentuh pinggang Harry, "Tapi enak disini. Kau memasak saja, biar aku yang menonton."

Pipi Harry memerah, dan ia menunjuk Draco dengan spatula terdekat, "Pindah, Draco. Atau aku terpaksa mengusirmu dari sini."

Draco mengerangkan keluhan, lalu menjauh setelah mencium pipi Harry. Ciuman di pipi dari Draco sudah cukup sering karena saat Harry sakit dan Draco bersikeras tinggal sementara di rumah Harry, pemuda pirang itu sering sekali mencuri ciuman. Entah di kening atau pipi, yang jelas, Harry bersyukur sekali tidak di bibir, dan tidak di tempat umum.

.~.

"Perkataanku selalu benar," kata Draco setelah menyelesaikan sepiring casserole-nya, dan nada suaranya sangat bahagia. "Masakanmu enak sekali."

Harry memutar mata, "Kau berlebihan," kata Harry, tersenyum, sambil memainkan garpu di tangannya.

"Tapi tetap saja kau tidak mengusirku dari rumahmu," balas Draco, menyeringai sedikit, lalu berdiri untuk menghampiri Harry yang masih duduk di meja makan, dan mengacak rambut hitamnya. "Serius, Harry, apa kau tidak pernah merapikan rambutmu?"

Harry menampar pelan tangan Draco di kepalanya, "Rambutku keturunan. Aku juga tidak tahu kenapa rambutku selalu berantakan," kata Harry.

Draco mengambil tangan Harry yang digunakannya untuk menampar Draco, lalu memeganginya dengan erat, melihat lingkaran-lingkaran samar di sidik jari Harry. "Tapi rambutmu itu lembut," kata Draco, dan menggunakan tangannya yang lain untuk mengusap rambut Harry. "Dan harum."

Harry menghela berat, dan merasa batinnya lelah karena pipinya terus merona, "Terserah," gumam Harry, lalu bangkit, menjauh dari Draco untuk membawa piring-piring bekas makan malam ke wastafel yang berada di samping konter dan kulkas. Ia melirik jam di dinding; sudah pukul sepuluh lewat sepuluh. Harry menyalakan keran air, dan mulai menyuci piring-piring yang kotor.

"Kau sedang apa, Harry?" tanya Draco tepat di belakangnya.

"Pangkas kebun," gumam Harry datar, dan Draco tertawa di belakangnya. "Cuci piring, Draco, tentunya. Kau kira aku apa? Memasak lagi?"

"Memasak lagi itu kedengaran ide bagus, tapi aku takut kau kelelahan," kata Draco, dan Harry merasa tangan pucatnya menyentuh punggung Harry. "Kau tidak lelah mengerjakan semuanya sendirian?"

Harry menggeleng, dan menggosok piring yang sejak pagi tadi belum sempat ia cuci. "Aku suka melakukannya sendiri," jawab Harry, dan merasakan tangan Draco turun ke pinggangnya. "Draco, jaga tanganmu."

"Aku hanya ingin memelukmu. Kau kelihatan hangat," kata Draco, dan Harry menghela berat.

"Draco," Harry memperingatkan, alisnya mengerut. "Kalau kau tidak ingin aku mengguyurmu dengan air sabun—"

"Oke, aku dengar itu," potong Draco, dan tangannya sudah tidak menyentuh pinggang Harry lagi. "Omong-omong, boleh aku menginap disini?"

"Kau menginap lagi? Kenapa?" tanya Harry, masih memunggungi Draco.

"Aku malas pulang, rumahmu nyaman," jawab Draco. "Dan aku terlalu mengantuk untuk menyetir."

"Oh," kata Harry, mengangkat bahu. "Silakan saja. Tapi kau tetap tidur di sofa."

Draco menghela nafas, tapi tidak berkomentar apa-apa lagi. "Besok Sabtu."

"Hmmm."

"Mau keluar?"

Harry membeku selama satu detik, sebelum ia mencuci tangannya dan mematikan air, lalu berputar untuk menghadap Draco yang menyandar pada konter.

"Kau mengajakku?" tanya Harry pelan-pelan, tidak tahu harus berharap telinganya tuli atau tidak.

"Ya, aku mengajakmu," kata Draco, dan menatapnya dengan mata kelabu yang hangat. "Kau keberatan?"

"Err," kata Harry, masih agak bingung. "Um. Aku tidak keberatan, sih..."

Draco tersenyum, dan Harry berkedip. Apa itu cengiran bodoh yang muncul di bibir Malfoy? Mustahil.

"Pilihan yang bagus," kata Draco, lalu mendekatinya, dan menyentuh pipinya. "Ada sabun di wajahmu," gumam Draco, dekat sekali dengan Harry, sampai nafas mereka beradu.

Harry menatap wajah Draco, yang menatapnya dengan lembut dan penuh keterhatian, lalu merasakan panas kembali menjalar di pipinya. "Thanks," kata Harry, terdengar seperti berbisik.

"Bukan masalah," balas Draco, lalu menjauhkan tangannya dari wajah Harry, tersenyum lagi. "Sekalian membelikan hand-phone baru untukmu."

"Hand-phone?" ulang Harry tidak percaya. Harry memang sengaja tidak memiliki hand-phone karena benda itu tidak berguna. Ia tidak memiliki siapa-siapa untuk dihubungi, dan lebih sering menggunakan laptop pribadi untuk menggunakan e-mail pada teman-temannya di Rusia. "Tidak, aku tidak mau, itu terlalu—"

"Mahal?" Draco mendengus. "Jangan membicarakan harga di depan seorang Malfoy, Harry. Kami bisa membeli semuanya."

Harry memelototinya. Dasar arogan. "Tapi aku tetap menolak, Draco. Kau tidak perlu—"

"Repot? Oh, Harry," Draco tersenyum lagi padanya, dan menelungkupkan tangannya di samping wajah Harry. "Aku tidak pernah direpotkan karenamu. Aku bahkan akan melakukan apapun untukmu."

Kali ini, pipinya tidak memerah karena malu. Harry menggigit bibir bawahnya, dan menatap Draco, "Aku bukan siapa-siapamu. Kita hanya..."

Perkataan itu menggantung. Kita—ia dan Draco—itu apa? Mereka punya hubungan apa? Kenalan? Teman? Mereka lebih dekat dibanding itu. Sahabat?

...Sahabat kedengaran kurang cocok.

Mata Harry melebar, dan ia mengutuk benaknya yang sempat mengatakan bahwa—oh, ya ampun—Harry menginginkan lebih dari hubungannya yang sekarang dengan Draco. Tidak mungkin, Harry tidak mungkin berpikir seperti itu—

"Harry?" suara itu—suara Draco, menyadarkan Harry dari pikirannya. "Harry, kau terlihat pucat."

Harry menatap mata kelabu Draco untuk beberapa detik, dengan perasaan yang bercampur. Ia merasa kesal pada pikirannya yang menyarankan hal gila semacam hubungan yang lebih dengan Draco, merasa malu, benci pada dirinya sendiri yang egois, bingung kenapa mendadak ia memiliki perasaan seperti itu pada Draco...

"Harry? Hey, kau tidak kesurupan, 'kan?"

Harry menjauh dari tangan Draco, lalu berjalan melewati pemuda jangkung itu. Ia berbalik, takut menyakiti perasaan Draco, dan memandang wajah yang sejak bertemu dengannya, mengakibatkan perasaannya terombang-ambing dan terus berubah haluan. Harry tidak tahu mengapa ia begitu merasa ingin selalu bersama Draco, mengapa dirinya merasa aman dan hangat di dekat pemuda pirang itu—ia tidak tahu. Ia hanya merasakan.

"Aku tidak apa-apa," kata Harry, ketika Draco sudah membuka mulutnya, dan ia menggigit bibirnya. Berbohong pada Draco terasa... ia tidak menyukai rasanya. "Aku ngantuk. Tidur."

Harry segera meniti tangga ke kamarnya, dan menutup pintu rapat-rapat. Ia menguncinya, supaya Draco tidak bisa masuk ke dalam.

Harry menghela nafas berat, dan melorot di pintu yang disandarinya. Ia tidak mau menemui Draco. Ia tidak bisa. Biarkan dirinya menjadi pengecut untuk malam ini... Harry tidak tahu kapan perasaan itu muncul.

Dari awal mereka bertemu, Draco adalah orang yang menyebalkan dan paling-suka-pegang-pegang. Ia suka mengatakan hal-hal yang tidak perlu, suka melakukan hal-hal yang bisa membuat Harry malu, memalukan, dan Draco Malfoy—dia orang paling arogan yang pernah ada; mengatakan bisa memiliki apa sajalah, malas tinggal di Manor-nya yang terlalu lega, selalu komentar karena Harry tidak memiliki hand-phone dan hanya laptop tua buatan Rusia...

Tapi Draco bisa membuatnya menjadi diri sendiri. Ia merasa bebas di sekitar orang itu—Harry banyak melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilihat teman-temannya; semacam memperbolehkan Draco menginap di rumahnya, memasak untuknya, atau bersedia diantar pulang sampai depan rumah pada malam hari. Draco memang sombong dan punya 'tangan yang tidak bisa dijaga', tapi sebenarnya orang itu baik. Perhatian, pula.

Seperti saat Harry sakit—tiga hari dengan Draco yang terus muncul di dekatnya adalah sesuatu yang baru dan menyenangkan. Draco mengajaknya pergi ke taman kota—yang sudah lama sekali tidak Harry kunjungi—dan piknik dengan makanan-makanan yang mengandung sayur, Draco berusaha membantunya saat memasak—biarpun dapurnya jadi setengah hancur, itu tidak masalah karena Harry tidak bisa berhenti tertawa melihat cara memasak Draco yang inginnya cepat selesai, Draco yang mengajaknya ngobrol ketika saat tengah malam Harry terbangun dengan mimpi buruk—ini memalukan sekali—sampai Harry melupakan mimpinya dan kembali tidur lagi, lalu Draco... terlalu banyak yang dilakukan Draco untuknya, dan Harry, sampai saat ini, belum menemukan cara untuk berterima kasih.

Harry mengusap wajahnya, dan ketika ia terdiam begini, sosok Draco yang tersenyum padanya, dengan hangat dan sangat.. lembut, membayang di benaknya. Wajahnya memerah.

Harry tidak bisa berhadapan dengan Draco, dan mengatakan bahwa ia menginginkan hubungan mereka jadi.. lebih. Lagipula, tidak mungkin Harry bisa punya perasaan semacam—cinta, pada Draco.

Oh, betapa menyusahkan Harry. Mungkin hidupnya akan berjalan lebih lurus tanpa liku jika ia tidak bertemu Draco malam itu...

Harry memandangi lantai kamarnya, memeluk lututnya sendiri, dan mulai memikirkan hal-hal gila semacam dirinya yang mengatakan perasaan sesungguhnya pada Draco, dan Draco menolaknya mentah-mentah—itu agak sedih, atau saat Harry mengatakan perasaannya pada Draco, mendadak ada perempuan di sebelah Draco dan Draco bilang ia sudah bertunangan. Oh, ya, Harry tidak mengetahui status Draco. Apa dia single? Ha. Harry mulai gila.

Matanya menelusuri kamar, lalu berhenti di tumpukan selimut yang ada di atas kasurnya. Tumpukan selimut itu untuk Draco yang mengatakan bahwa ruang tengah Harry, apalagi saat tengah malam, dingin sekali.

Membayangkan Draco di lantai bawah menggigil kedinginan sambil mengemut jempolnya seperti bayi membuat Harry tertawa lalu sadar karena kasihan. Harry bangkit berdiri, dan menghampiri tumpukan selimut lebih itu lalu mengangkatnya. Saat tangannya sudah setengah memutar kunci—Harry ingat bahwa prioritasnya berdiam di kamar adalah tidak menemui Draco.

Harry mendekatkan telinganya ke pintu, dan mendengarkan apakah ada suara atau tidak, jadi ia bisa tahun Draco ada di depan pintu atau tetap di ruang tengah.

...Sepi.

Harry menghela nafas lega, dan membuka kunci, lalu mendorong pintu dengan tangannya yang bebas. Kelegaannya lenyap seketika saat ada tubuh jangkung yang terlalu familier, berdiri tepat di hadapannya.

Draco.

Harry mendongak, dan mata kelabu Draco begitu lurus dan tajam memandangnya. Harry merasa ingin meleleh seketika.

"Well," suara baritonnya terdengar lebih rendah, dan Harry bergidik. "Aku butuh penjelasan, Harry. Sekarang."

.

.~.

~ Part Two: End ~

.~.

.

Hana's Footnote::

Hyaaa itu cliffie ya? Itu cliffie? :O maaaaaf! Sengaja dipotong karena kepanjangan #digebukinreaders oke, berikutnya ending chapter ini. Sebelumnya, Hana mau njawab yang ditulis reviewer (bold berarti pertanyaan):

1. Draco-nya OOC? Ohh, tapi 'kan Hana udah nge-warning kalo ada OOC. Ini buat kepentingan cerita dan OOC-nya ga buat imej Drakiepoo ancur kok. ;)
2. Ron&Mione kurang penting? Yah ini 'kan fanfic. *dipanggang*
3. Bisa diperpendek gak per-chapter? Gak bisa...ini udah takarannya. Kalo dipotong-potong ntar Hana keburu bosen terus di-HIATUS deh fic ini ._.
4. Ada rencana terselubung dari si kembar? Silakan dibaca sampai tamat. XD
5. Gay disini kok gak dijelasin udah diterima apa belum? Itu tadi Hermy udah njelasin 'kan yah. Hana sengaja naruh di chp.2
6. Apa Harry punya pacar sebelum Draco? Punya, tapi gak bakal diceritain disini abisnya emang gak penting. *digamparin* mungkin bisa Hana tulis di side-story ato ga spin-off kalo ada yang mau. :3

Mohon di-review yah, mungkin dengan review, update Hana bisa lebih kilat *w* makasih yang udah baca sampai sini! #nunduk

Peyukcium,

-Hana.
Finished: 20 May 2012.