Chapter 2: second chance's? FAIL...


Lynn : Oke balas review!

To Half-Human Girl : Oke thanks banget! Udah mau di fave dan review ( ^ 0 ^ )y

To IchigoMei-Chan : oke ini dah updet, maaf klo telat. Hehe ( ^ , = ;) thanks udah mau ngereviem

To rani konako : Oke gak masalah kok! Hehe, thanks banget!, ia Rin tu penyihir yang... *duk! Di pukul dari belakang. (Rin : jangan bilang! Aku malu!) iya sori Rin hehe. *sambil megang yang di pukul. Iya nih update asap, trus lagi ide buat cerita yang kemarin juga ilang gara-gara UN. Kayak Rani-chan bilang ilang kayak asap! Mungkin aku hiatusin sementara waktu ( + = ,=)

Lynn : oke selesai bales review! Rinnee tolong bacain disclaimer dunk! ;D

Rin : tadi kamu bilang saya apa? Rin nee? (Kak Rin)

Lynn : Yup bisa kan? * devil smirk

Rin : O oke

DISCLAIMER : LYNNENMA NGGAK PUNYA VOCALOID DAN LAGU-LAGUNYA. VOCALOID KEPUNYAAN ORANG YANG MERASA MEMBELINYA DAN PERUSAHAAN CRYPTON

Lynn: Makasih Rin! Silahkan membaca! ( ^ 0 ^ )y. Oh ya aku buta rate! Maaf klo salah!

.

.

.


Len POV

"Hei kau tak apa-apa?" Siapa?

"Hei kau jangan menangis hanya karena luka kecil!" Siapa? Suara siapa ini? Ku angkat kepalaku dan melihat senyum seseorang.

"Hei..." tanpa kusadari orang itu menghapus bekas air mata ku di pipi ku dan berkata

"Hei apa kau tahu? Luka seperti ini tak ada apa-apanya di bandingkan dengan luka di dunia nyata" apa maksudnya?

"Apa maksudmu?" tanyaku sambil menahan sakit di lutut kaki ku. Oh iya ini kejadian sepuluh tahun lalu...

"Kau akan tahu suatu saat nanti. Namun kau harus tahu bahwa sesakit apapun yang kau rasakan saat ini tidak akan sesakit ketika kau kehilangan seseorang" kata orang itu sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada ku. Ku terima saja uluran tangannya. Tangannya begitu hangat... ku angkat kepala ku ke atas untuk melihat wajah orang itu. Ia memiliki rambut pirang, sama seperti ku, namun sedikit lebih panjang. Namun aku tak bisa melihat matanya.

Entah kenapa aku hanya bisa melihat senyum dan rambut pirangnya yang pendek sebahu saja. Namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat ku melupakan rasa sakit di lutut ku.

"Nee-san... apa badan ku membenciku ya?" tanyaku polos dan di sambut gelak tawanya.

"Hmp, hahahaha!" gelaknya dan itu membuatku marah.

"Kenapa Nee-san tertawa?"

"Hahaha! Oh... maaf Ototo-kun, hanya saja badan mu itu tak pernah membencimu" jawabnya sambil menunduk dan memegangi pipi kanan ku lagi.

"Lalu kenapa badan ku memberikan rasa sakit?" seru ku marah.

"Aku benci rasa sakit! Tapi kenapa badan ku justru mengirimkan rasa sakit ketika aku terluka?" sambil menghela nafas Nee-san tersenyum dan menjawab.

"Karena..."

.

.

.

"Aaaaaaaaaaa!" tiba-tiba saja punggung terasa sangat sakit. Hingga membuatku terjaga dari mimpiku.

"Aduh! Sial! Hentikan!" erang ku kesakitan sambil meremas seprei yang ada di bawah ku. Kurasa aku ada di UKS.

"Hei-hei, kau itu 'kan laki-laki masa' tak tahan pada hal yang seperti ini?" ucap seseorang di samping ku. Siapa? Suaranya mirip dengan Nee-san. Segera ku palingkan muka ku menuju sumber suara tersebut, namun...

"Maaf kau tak boleh melihat wajah ku" tiba-tiba saja rasa sakit di punggung ku bertambah namun ku lihat ada sedikit cahaya dari punggung ku.

"Uaaaaagh!" teriak ku lebih kencang dan menghempaskan diri ku ke kasur. Sebelum aku kehilangan kesadaran untuk yang ke dua kalinya. Aku masih sempat melihat rambut pirang pendeknya.

"Nee-san..." ucapku lemah, semuapun menjadi gelap kembali.

.

.

.

"Karena... dengan mengirimi mu rasa sakit, badan mu memberitahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengannya" jawabnya sambil memeluk ku. Hangat...

"Selain itu Ototo-kun kau tak boleh membenci rasa sakit. Kau seharusnya berteman dengan nya dan berterima kasih. Karena kalau tak ada rasa sakit maka badan mu akan menderita dan kau harus bisa mengobatinya tanpa tahu mana yang sakit. Dan berjanjilah pada Nee-san bahwa kau takkan membenci rasa sakit, ya?" ucapnya sambil meluruskan kelingkingnya.

Segera sajaku gaitkan kelingking ku pada nya. Dan membuat janji

"Iya! Aku janji!" seru ku semangat dan di sambut tawa hangat Nee-san. Tawanya yang begitu hangat membuatku tertawa pula. Kami masih saling mengaitkan kelingking kami di siang hari yang bahagia itu.

"Ahahaha..." tawanya begitu... begitu hangat. Aku tak ingin melupakannya!

.

.

.

"Ukh..." ku buka mata ku. Aku melihat langit-langit ruang UKS yang bewarna putih dan di campur cahaya kuning, tanda matahari terbenam. Ha... Nee-san bagaimana kabarnya ya? Pikir ku sambil melihat ke luar jendela. Kira-kira aku sudah tertidur berapa lama ya?

"Ha... lama... empat jam dua puluh satu menit tiga puluh dua detik..." ucap seseorang di samping ku. Ku lirikan mata ku dan melihat orang yang telah membuat ku pingsan. Yup Yuzune Rin yang berpangku tangan tanda bosan. Kenapa kau ada di sini?

"Yah... karena aku yang membuat mu pingsan makanya aku menunggui mu. Dan tadi ketika aku sedang membalut luka di punggung kau berteriak dalam mimpi. Memang kau mimpi apa?" tanyanya. Oke ini agak seram Rin sepertinya bisa membaca pikiran ku.

"Yah... karena ini sudah jam empat lebih sebaiknya aku pergi ke kamar ku" kata Rin lagi sambil berdiri dan hendak pergi. Namun sebelum Rin pergi ku genggam tangan kirinya dan menariknya. Aku berusaha menarik perhatiannya.

"Terima kasih..." ucap ku yang sengaja di buat lemah. Lalu Rin pun mendekatkan mukanya ke aku. Yess! Taktik ucapan lemah berhasil! Segera saja ku tutup mataku. Bersiap menerima bibir Rin.

.

.

.

Miku POV

Rin hebat! Dua kata itu langsung terlintas di kepala ku begitu melihat Rin melempar (memukul) Len, sehingga membuatnya terbentur ke tembok dengan keras. Rasakan itu Len! Seruku senang tentu saja hanya di pikiranku. Namun begitu melihat punggung Len berdarah, aku jadi agak panik. Namun Rin masih tetap tenang.

Setelah Rin bertanya di mana UKS nya, Rin langsung mengangkat Len dengan gaya pengantin. Uwah~ ada ternyata tidak hanya Meiko yang bisa ya? Yup Meiko adalah siswi terkuat di Crypton Middle School. Kekuatan Meiko setara dengan tiga anak laki-laki. Meiko juga pernah membanting lawannya yang seberat sembilan puluh kilo di pertandingan Judo.

Ngomong-ngomong soal Meiko, ia sedang menggandeng Haku di belakangnya dan melambaikan tangannya.

"Miku! Gumi!" seru Meiko senang. Sementara Haku hanya terdiam dan melihat bekas darah di tembok tempat di mana tadi Len terbentur.

"Meiko! Haku! Tadi ada peristiwa yang bagus lo!" seru Gumi membalas seruan Meiko. Segera saja Meiko dan Haku duduk di samping kami.

"Peristiwa apa?" tanya Haku tertarik.

"Tadi Rin memukul Len hingga membuat Len melayang dan membentur tembok dengan keras!" seru ku cepat.

"Woa... tunggu sebentar! Siapa itu Rin? Dia anak baru? Kenapa Rin memukul Len?" tanya Meiko beruntun.

"Yup! Yuzune Rin anak baru di kelas Miku, ia punya mata biru azure dan rambut pirang sebahu. Entah kenapa ia mirip dengan Len. Tapi mungkin hanya kebetulan. Rin tadi memukul Len, karena Len mau menciumnya" jelas Gumi.

"Begitu... jadi... ini pasti salad milik Rin?"tanya Haku sambil menunjuk salad buah Rin.

"Iya, itu makanan Rin. Sepertinya ia suka buah, terutama jeruk. Dan lagi, Rin memakai pita besar di kepalanya, lalu ia tak punya mata kiri. Katanya kecelakaan" jelasku sambil memakan daun bawang ku, yummi~

"Lalu... ke mana Rin?" tanya Meiko.

"Tadi dia menggendong Len ke UKS, soalnya Len pingsan" jelas ku lagi.

"Eh? Rin menggendong Len?" tanya Haku tak percaya.

"Yup, kurasa kekuatannya setara dengan mu Meiko! Soalnya ia juga membuat Len melayang sih" jawab Gumi sambil makan wortel.

"Begitu..." jawab Meiko.

"Tunggu dulu! Kalau Rin memukul Len, kemungkinan besar Rin akan bertemu dengan Kepala Sekolah!" seru Haku tiba-tiba. Deg! Benar juga! Ada kemungkinan Rin akan di panggil oleh Kepala Sekolah dan kemungkinan paling buruk adalah Rin di keluarkan dari Crypton Middle School! Aduh bagaimana ini?

Setelah itu kami hanya bisa terdiam. Kami hanya bisa membayangkan muka Rin yang sedih karena di keluarkan. Lalu tanpa terasa bel masuk berbunyi, kami pun pergi ke kelas masing-masing.

.

.

.

Kelas VIII A

"Kemana perginya Yuzune-san dan Kagamine-kun?" tanya Kiyoteru-sensei sambil menunjuk kursi Rin dan Len. Segera saja ku angkat tangan ku. Aku tak ingin Kaito atau Dell yang menjawabnya, bisa-bisa menambah masalah Rin.

"Ya, Hatsune-san?"

"Ano... Rin tadi pergi ke UKS bersama dengan Len" jawab ku. Kiyoteru-sensei sempat memandangi ku heran. Namun segera berubah.

"Oh... ya sudah ayo kita lanjutkan pelajaran!" seru Kiyoteru-sensei. Setelah sekolah selesai aku harus ke UKS! Pikir ku dalam hati, sambil terus memperhatikan pelajaran Kiyoteru-sensei.

Skip time~

"Duh! Gara-gara aku piket terlalu lama aku jadi terlambat menemui Rin!" seru ku kesal, sambil setengah berlari ke UKS. Kulirik jam ku, waktu menunjukan pukul empat lebih dua puluh. Namun tiba-tiba aku mendengar suara aneh ketika aku hampir sampai di UKS.

"Plaaaaaaakkk!"

"Eh? Suara apa itu... jangan-jangan Rin diapa-apain sama Len!" seru ku. Segera saja aku berlari dan membuka pintu UKS.

"RIN!" seru ku panik.

.

.

.

Rin POV

"Ukh..." ku dengar Len mulai bangun. Tanpa mengetahui keberadaan ku Len melihat ke luar jendela dengan pandangan menerawang jauh, apa yang di pikirannya ya? Ah sudahlah, akhirnya kuputuskan untuk merusak lamunan Len.

"Ha... lama... empat jam dua puluh satu menit tiga puluh dua detik..." ujar ku dan membuat Len kaget. Dan berpaling ke arah ku dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun aku bisa perkiran yang ada di pikranya sekarang adalah : kenapa kau ada di sini?

"Yah... karena aku yang membuat mu pingsan makanya aku menunggui mu. Dan tadi ketika aku sedang membalut luka di punggung kau berteriak dalam mimpi. Memang kau mimpi apa?" tanya ku pura-pura tak tahu. Ku lihat mata Len lagi. Len jadi agak ketakutan? Oke mungkin cuma khayalan ku saja. Karena sudah sore dan Len juga sudah sadar, ku putuskan untuk pergi ke kamar.

"Yah... karena ini sudah jam empat lebih sebaiknya aku pergi ke kamar ku" ujar ku sambil berdiri. Namun tangan Len menarik tangan kiri ku, spontan aku mengok ke arahnya.

"Terima kasih..." ujarnya yang sengaja di buat lemah?

"Ngiiing~" tiba-tiba ada seekor nyamuk yang hinggap dengan nyamannya di pipi Len. Ku dekatkan muka ku untuk melihatnya dengan lebih jelas. Ku lihat Len menutup ke dua matanya. Kenapa dengan anak ini? Namun... tangan ku sudah geli untuk memukul nyamuk (baca : pipi Len) itu, sehingga...

"Plaaaaaaakkk!" aku pun menampar (memukul) nyamuk itu. Yak! Kena! Ku lihat bangkai nyamuk itu yang sudah terbelah jadi dua dan sedikit darah Len keluar dari coretperutcoret nyamuk itu.

"Ah... maaf Len tadi ada nyamu... k?" ku lihat Len pingsan lagi dengan mata setengah terbuka. Apa aku terlalu kuat ya? Pikirku, ketika aku mau membangunkan Len. Tiba-tiba pintu UKS terbuka, reflek aku melihat pintu UKS itu.

"RIN!" seru Miku dengan nada panik tingkat Ujian Nasional. Namun kepanikan Miku segera kandas setelah melihat aku baik-baik saja dan melihat bekas telapak tangan ku yang memerah di pipi kiri Len yang pingsan untuk yang ke tiga kalinya?

"Ah..." untuk beberapa saat Miku kehilangan kata-kata namun aku tahu kalau sekarang dia sedang bingung antara panik dan senang karena Len ku pukul lagi.

"Tenang Miku, aku baik-baik saja... lihat" ucap ku sambil merentangkan ke dua tangan ku. Tapi kok tangan kiri ku terasa berat ya? Ku lihat lengan kiri ku dan ternyata biang keladinya adalah tangan kanan Len yang terus menggenggam tangan kiri ku. Seolah tak mau kehilangan aku. Hm... menarik.

"Be begitu ya? Terus apa Len dia... dia..."

"Pingsan? Ya untuk yang ke dua kalinya" jawab ku bohong. Yah... Aku kan tak mungkin mengatakan kalau Len sudah pingsan tiga kali. Dan semuanya gara-gara aku sih... dan lagi Miku mungkin akan curiga, walau hanya sedikit.

"Oh begitu... ayo kita ke kamar Rin!" seru Miku ceria. Namun ketika melihat Len (masih) menggenggam tangan kiri ku dan melihat ku yang memasang muka sedikit khawatir. Miku langsung berubah.

"Ah... aku tahu Rinrin pasti sedikit merasa bersalah setelah memukul Len dua kali" ujarnya dengan penekanan di kata sedikit.

"Maaf ya Miku... nanti aku datang ke kamarmu deh... kamar no..."

"No 15 A, ingat itu ya Rin! Temui aku setelah makan malam. Oh ya jam makan malam di sekolah ini jam 7. Lalu jam bebas setelah makan malam sampai jam 11 malam" ucapnya semangat. Oke

"Makasih Miku..." balas ku.

"Sama-sama! Sampai bertemu!" serunya sambil menutup pintu UKS dan berjalan pergi. Aku pun memutuskan untuk menunggu Len bangun. Aku pun duduk di bangku ku lagi dan melihat ke luar jendela. Padahal aku ingin pergi ke makam orang itu...

Skip time~

"Adu duh..." erang Len sambil memegang pipi kirinya.

"Kau sudah bangun? Kalau begitu bisa kau lepaskan genggaman tangan mu?" tanya ku to the point. Kulihat Len shock dengan ke beradaan ku dan melihat tangan kanannya yang menggenggam erat tangan kiri ku. Sementara aku hanya memandangi nya dengan biasa.

"Jangan melamun saja, cepat lepaskan tanganmu" ucap ku lagi. Segera saja Len melepas tangan kanannya. Namun aku sempat melihat muka Len yang memerah sebelum ia membuang mukanya. Jangan tanya kenapa aku tidak memerah. (A/N : tunggu beberapa chapter selanjutnya!)

"Yah karena sekarang sudah jam enam, aku mau pergi ke kamar ku dan mandi setelah itu makan malam dan Len sebaiknya kau juga segera makan malam perut mu berbunyi tuh..." ujar ku sedikit mengejek sambil pergi ke pintu UKS dan pergi. Namun sebelum aku berlalu aku mendengar seruan marah Len. Tapi aku cuekin saja, biarkan saja toh Len tak kan berani macam-macam lagi. Namun sepertinya aku akan salah ya?

"Jittt..."

"Ng? Apa itu? Kamera sisi tivi?" ucap ku sambil melihat kamera sisi tivi itu di ujung lorong.

.

.

.

Pagi hari di kelas~

'Yuzune Rin di harap pergi ke ruang sidang' itulah bunyi pengumuman yang baru saja ku dengar bersama Miku. Segera aku menatap Miku minta penjelasan. Dengan sigap Miku menjawab.

"Rin kamu sepertinya kamu di panggil kepala sekolah gara-gara kemarin kamu mendorong (memukul) Len! Kamu akan di sidang karena itu, gawat sepertinya kemarin salah satu fans girlnya Len yang melaporkan mu! Dan sekarang ayo kita pergi ke sidang! Biar aku yang jadi saksimu!" jelas Miku panjang lebar sambil menarik ku ke ruang sidang. Aku bisa merasakan tatapan aneh teman-teman sekelas. Begitu juga ketika aku keluar kelas.

Ruang sidang~ (Lynn : betapa senang nya aku melakukan ini~ XD)

"Jadi kamu Yuzune Rin?" tanya seorang laki-laki berambut pirang, dan ya. Dia ayah Len namanya Leon, Kagamine Leon.

"Ya saya Yuzune Rin dan..."

"Saya Hatsune Miku, saya di sini untuk menjadi saksinya Rin!" seru Hatsune sambil memotong perkataan ku. Namun aku segera memegang pundak kanan Miku dengan tangan kiri ku.

"Tak perlu Miku, aku yakin aku bisa menang" ujar ku tenang.

"Eh? Tapi..." belum sempat Miku menyelesaikan perkataannya aku sudah memotongnya.

"Tak apa Miku, aku sangat yakin kok" ujar ku lagi tegas namun tenang. Akhirnya Miku pun tidak jadi saksi ku. Lalu Kagamine-san (Leon) menyuruh ku untuk duduk di tengah. Benar-benar seperti ruang sidang. Tapi corak di ruangan ini masih sama seperti dulu. Pikir ku.

"Baiklah sidang di mulai! Nah sidang ini diadakan karena Yuzune Rin memukul Kagamine Len di kantin. Tolong Kagamine Len memasuki ruangan" perintah Kagamine-san. Len pun masuk dengan beberapa anak perempuan di belakang nya. Sepertinya mereka saksinya Len. Sementara ku lihat Miku berdiri di pojok, gugup.

Karena merasa kasihan aku pun memberi Miku acungan jempol. Miku pun jadi agak tenang walau ia masih bergetar.

"Baiklah, Kagamine kau membawa saksi mu?" tanya Kagamine-san. Len hanya mengangguk penuh tanda kemenangan.

"Lalu, terdakwa Yuzune Rin apa kau membawa saksi mu?" tanya Kagamine-san.

"Tidak, tidak perlu saya yakin saya dapat memenang kan sidang ini... Lagipula..." belum sempat aku melanjutkan kata-kata ku ada seorang saksi Len yang memotong.

"Buuu! Sombong sekali kamu! Di keluarkan baru tahu rasa!" serunya sambil di barengi tawa teman-temannya.

"Diam! Yuzune-san belum selesai berbicara!" seru Kagamine-san marah. Akhirnya merekapun terdiam di bentak begitu oleh ayah Len a.k.a kepala sekolah.

"Tolong lanjutkan Yuzune-san..." perintah Kagamine-san.

"Lagipula... ada saksi bisu yang merekam Len menuangkan air mineralnya di depan saya dan membuat saya jatuh, sehingga saya secara reflek mendorong (memukul) Len hingga melayang ke tembok kantin" jelas ku panjang lebar.

"Saksi bisu?" tanya Kagamine-san.

"Ya... yaitu kamera CCTV yang ada di setiap pojok kantin" ucap ku lagi. Ku lihat Len dan para saksinya sangat terkejut dengan perkataan ku. Sementara Miku tersenyum penuh kemenangan.


Singkat cerita kami semua yaitu aku, Miku, Len, Kagamine-san dan saksi-saksi Len pergi ke ruang monitor untuk melihat kejadian kemarin. Dan benar saja Len menuangkan air mineralnya dengan sengaja di depan ku, sehingga membuat ku terpeleset dan mendorong (memukul) Len secara reflek.

Segera setelah mengetahui hal itu Kagamine-san minta maaf dan menyuruh Len juga minta maaf pula, serta hukuman untuknya karena hampir mencelakai ku kemarin. Dan sekarang aku sedang berjalan menuju kelas bersama Miku yang berseru senang dan bertanya-tanya kenapa aku bisa punya ide seperti itu.

"Kamu hebat Rin! Bagaimana kau punya ide sebrilian itu? Sebelumnya tak ada seorang murid pun yang pernah mengalahkan Len! Namun sekarang kau mengalahkannya! Bahkan dengan telak sekali!" seru Miku senang sambil berjalan ke kelas bersama ku. Aku hanya mengangguk saja.

.

.

.

Len POV

"Adu duh..." erang ku sambil memegangi pipi kiri ku yang terkena telak tamparan Rin tadi. Sial bisa-bisanya aku pingsan 2 kali olehnya! Lho rasanya tangan kanan ku hangat.

"Kau sudah bangun? Kalau begitu bisa kau lepaskan genggaman tangan mu?" ucap seseorang tiba-tiba. Aku pun melihat ke arah suara tersebut dan langsung shock dengan apa yang ku pegang, tangan kiri Rin!

"Jangan melamun saja, cepat lepaskan tanganmu" segera saja kulepaskan tangan kanan ku dari Rin. Entah kenapa muka ku terasa panas, segera saja aku membuang muka ku.

"Yah karena sekarang sudah jam enam, aku mau pergi ke kamar ku dan mandi setelah itu makan malam dan Len sebaiknya kau juga segera makan malam perut mu berbunyi tuh..." ejeknya sambil meninggalkan ruangan. Apa yang...

"Hei! Perut ku tidak berbunyi!" seru ku marah. Namun terlambat, Rin sudah pergi. Awas saja kau Yuzune Rin! Kau pasti akan bertekuk lutut pada ku! Di mulai dari esok! Khu khu, aku pun mulai merancang rencana jahat ku pada Rin.

Pagi hari di ruang kepala sekolah~

"Otou-sama... anu..." belum sempat aku menyelesaikan perkataan ku otou-sama sudah memtong.

"Otou tahu, cepat buat pengumuman dan panggil Yuzune Rin itu ke ruang sidang!" perintah Otou-sama aku pun hanya menurut dan berbalik sambil menyeringai jahat. Namun... semua di luar dugaan ku! Bagaimana tidak? Rin menemukan saksi yang tidak perlu di tanyakan kejujurannya, kamera CCTV!

Ya, di sekolah ini di setiap lorong dan ruangan pasti ada kamera sisi tivinya kecuali kamar para murid dan guru serta kamar mandi (tentu saja!) di karenakan dulu sekolah ini pernah kebobolan pencuri dan mencuri komputer-komputer serta lukisan yang bernilai tinggi yang ada di sekolah ini.

Karena itu di pasanglah kamera CCTV itu. Aku benar-benar melupakan tentang kamera CCTV itu. Padahal aku sudah tinggal di sini sejak kecil dan aku juga lupa kalau di kantin juga ada kamera CCTV karena di kantin ada tv berlayar 30 inch yang biasa di gunakan ketika jam makan pagi, siang dan malam.

Sial sial sial! Setelah minta maaf pada Rin dengan ogah-ogahan. Aku pun di hukum untuk membersihkan seluruh lorong di kelas 8 selama seminggu. Sial!

.

.

.

"Hei Len!" sapa Dell ketika jam makan malam. Sementara aku hanya memandangnya.

"Hehe tumben sekali Len kalah!" seru cowok berambut hijau tosca jail. Sambil duduk di sebelah Kaito yang makan es-krim.

"Yo! Mikuo dari kemarin kemana saja kau?" tanya Kaito.

"Dari kemarin aku pulang sebentar untuk melihat peresmian perusahaan baru ayah ku" jelas Mikuo. Sementara Kaito hanya ber "ohh" doang.

"Memang tumben sekali Len kalah... maka dari itu, Len waktu taruhannya aku perpanjang jadi seminggu karena..." belum sempat Dell menyelesaikan kata-katanya aku sudah memotong.

"Benarkah? Baiklah! Akan ku pastikan kali ini aku akan mendapatkannya dan membuat Rin bertekuk lutut! Dan aku akan membuatnya menyesal! Hahahaha!" seru ku dengan devil smirk.

.

.

.

Normal POV

Sementara itu, di atap kastil sekolah ada seorang anak yang terus menghela nafas panjang. Lalu anak itu pun memanjat pagar pembatas dan terjun dari atap kastil dengan cepat dan...

"Braaakk!" darah pun keluar dari kepala anak itu yang membentur tanah terlebih dahulu. Tanpa sengaja ada 2 murid yang mendengar itu dan mencari asal bunyi tersebut. Namun mereka segera menyesalinya karena...

"Kyaaaaa!"

"Tolong! Ambulan!" seru temannya. Karena ketakutan mereka berdua pun berlari mencari pertolongan. Setelah mereka berdua pergi. Ada sesuatu yang aneh... anak itu berdiri lagi! Seluruh lukanya sembuh dengan cepat. Namun hal itu masih menyisakan darah di tanah, tempat ia tadi terbentur.

"Hah... aku gagal" ucapnya lemah sambil meninggalkan tempat itu.

Bersambung...


Lynn : oke chapter 2 selesai!

Len : kok aku kelihatan jahat banget!

Lynn : akh suka-suka aku!

Len : Apa? * ngidupin road roller

Lynn : Eeeeeeekkk! Kabur! Jangan lupa review! *di kejar-kejar road roller.