Chapter 3 : Plan? Fail, fail, FAIL
.
.
.
Lynn : Oke! Balas review!
To Hikari372: Makasi Hikari-senpai! O.o aku salah di bagian itu... makasih Hikari-senpai tapi aku nggak tau cara ngeditnya... hueee maaf ya?
To Half-Human Girl : Makasih... oh ya klo soal itu waktu lagi nulis aku lagi males makanya aku tulis aja kamera sisi tv hehe *di pukul Ruken
Lynn : oke! Ruken! Tolong bacain disclaimer!
Ruken : untuk apa? Aku juga nggak ada di fic ini *langsung pergi untuk membeli susu
Lynn : ukh! Kejem! Ya udah... *devil eyes
Rin & Len : kok mandang kami kayak gitu!
Lynn : *nyerahin kertas disclaimer. Baca atau kubunuh... *psychopath mode : on
Rin & Len : O oke...
DISCLAIMER : LYNN NGGAK PUNYA VOCALOID DAN LAGU-LAGUNYA. VOCALOID KEPUNYAAN ORANG YANG MERASA MEMBELINYA DAN PERUSAHAAN CRYPTON. DAN LAGI KAMI NGGAK BAKAL MAU DI BELI SAMA PSIKOPAT INI!
Lynn : Nah silahkan membaca! Dan maaf aku nggak tau rate fic ini apa, aku buta Rate! Dan yang paling terakhir adalah : fic ini masih Typo, gaje, abal, lebay dll. Silahkan di flame tapi klo bisa yang membangun ya? *devil eyes
.
.
.
Someone POV
Sialan! Berani-beraninya anak baru itu memukul Len-sama! Dan lagi... anak itu membuat Len-sama di hukum! Benar-benar tiada ampun! Aku harus bisa membalasnya! Pikir ku sambil berjalan-jalan di belakang sekolah setelah makan malam bersama teman ku Tei.
"Hei Neru, kau pasti sedang berfikir bagaimana cara untuk membalas anak baru itu bukan?" tanya Tei.
"Iya tentu saja! Aku pasti akan membalaskan dendam Len-sama!" seru ku semangat.
"Jadi, kau sudah punya rencana Tei?" tanyaku balik.
"Tidak belum" jawab Tei sambil menggelengkan kepalanya.
"Lagipula anak baru itu juga baru 2 hari di sini jadi kita belum tahu apa kelemahannya" ucap Tei lagi. Ah aku lupa bilang, aku Neru, Akita Neru dan teman ku Sukone Tei adalah penggemar nomor 1 Len-sama. Oleh karena itu kami rela melakukan apa saja untuk Len-sama. Tiba-tiba ketika kami sedang asik berbincang-bincang ada suara jatuh.
"Braaakk!" karena kaget kami spontan mencari sumber suara tersebut. Dan... kami melihat sesuatu hal yang tidak ingin kami lihat seumur hidup kami. Darah...
"Kyaaaaa!" teriak ku ketika menemukan asal bunyi itu.
"Tolong! Ambulan!" teriak Tei spontan. Kami pun lari meninggalkan tubuh yang berdarah itu sambil ketakutan. Tanpa sadar kami berlari menuju kamar salah satu guru. Guru olah raga kami Kamui Gakupo-sensei.
"Braakk!" dobrak kami berdua
"Kamui-sensei tolong! Ada anak yang bunuh... err Kamui-sensei?" ucap ku yang tadinya panik jadi merasa aneh. Begitu pula Tei. Kamui-sensei dan Luka-sensei sedang berduaan! Sementara itu kami hanya bisa melongo tak percaya dan akhirnya Luka-sensei memecahkan keheningan.
" Akita-san, Sukone-san ada apa?" tanya Luka-sensei tenang. Segera saja kami berdua tersadar dan melanjutkan kepanikan kami.
"Gawat! Luka-sensei Kamui-sensei ada..."
"Ada yang bunuh diri di belakang sekolah!" sambung Tei panik. Semula Luka-sensei dan Kamui-sensei hanya terdiam namun Kamui-sensei segera berlari dan menggenggam tangan kami berdua.
"Antar aku ke sana!" perintah Kamui-sensei. Kami hanya menurut. Walau di dalam hati kami burdua masih shock. Akhirnya kami bertiga berlari ke tempat anak yang bunuh diri itu. Namun sebelum kami bertiga berlari ke tempat anak itu. Kamui-sensei meminta Luka-sensei memanggil ambulan dan polisi.
"Luka! Tolong panggil ambulan dan polisi!" perintah Kamui-sensei. Sementara Luka-sensei hanya mengangguk. Segera setelah itu kami bertiga segera berlari ketempat anak yang bunuh diri itu.
Namun ketika kami sampai di sana mayat anak itu sudah tidak ada! Namun masih ada bekas darah yang belum mengering di sekitar tempat kami melihat anak itu jatuh. Karena kaget Kamui-sensei menanyai kami lagi.
"Akita-san Sukone-san! Apa betul tadi kalian melihat mayat itu?" tanya Kamui-sensei terkejut. Kami hanya bisa mengangguk ketakutan.
"Saya tanya sekali lagi! Apa betul kalian melihat mayat itu ! ?" seru Kamui-sensei galak. Kami hanya bisa mengangguk dan menangis. Tanda kalau kami benar-benar melihat mayat itu dan mendengar ia menabrak tanah yang keras.
Akhirnya polisi pun datang dan melihat TKP. Di sana memang ada bekas darah, namun tak ada tanda-tanda kalau mayat itu di pindahkan atau di seret. Hanya ada bekas darah...
.
.
.
Normal POV
"Meiko Haku Gumi! Kalian dengar apa yang terjadi tadi malam? !" seru Miku sambil menarik lengan Rin. Rin sendiri hanya mengekor. Dan duduk di meja bersama Miku, Meiko, Haku dan Gumi.
"Oh iya Rin yang berambut cokelat pendek adalah Meiko sementara yang putih adalah Haku" kenal Gumi, sementara Meiko dan Haku hanya melambaikan tangannya. Rin pun hanya melambaikan tangannya membalas.
"Tentu saja Miku! Sekarang saja polisi masih menyelidikinya, dan kau tahu apa? Yang melihat kejadian kemarin adalah Neru dan Tei!" seru Meiko semangat.
"Hei hei ada yang tertimpa masalah kok semangat seperti itu?" tanya Rin sambil melihat-lihat menu makan pagi hari itu.
"Oh iya Rin tidak tahu ya?" tanya Haku sambil memakan bubur untuk sarapan paginya.
"Tahu apa?" tanya Rin sambil berdiri untuk mengambil makanan.
"Sebentar ya?" ucap Rin lagi.
.
.
.
Rin POV
Setelah aku mengambil hidangan makan pagi aku segera duduk kembali ke meja makan. Sementara kulihat Miku sudah memakan daun bawangnya. Dari mana ia mendapatkan daun bawang itu?
"Jadi... Neru-san dan Tei-san adalah..." ulang ku.
"Adalah penggemar nomor 1 Kagamine Len! Mereka pernah mendorong Miku hingga ia hampir tertabrak truk! Gara-gara mereka melihat Len mencium Miku! Ukh! Padahal yang salahkan Len!" ujar Gumi kesal.
"Selain itu mereka juga pernah mebuat Haku terpeleset hingga lututnya berdarah karena menampar Len!" seru Miku kesal.
"Kalian... sepertinya punya dendam pada Neru-san dan Tei-san ya?" tanya ku.
"Iya, Kecuali Meiko, karena dia adalah siswi terkuat di sini makanya Neru dan Tei takut padanya" jawab Haku sambil menunjuk Meiko. Meiko sendiri tersenyum puas.
"Lalu kau Gumi? Kau kenapa?" tanya ku lagi sambil memakan bubur ku.
"Mereka merusak hasil karya Gumi yang sudah susah payah Gumi buat selam 2 bulan!" seru Meiko kesal. Begitu ya? Sepertinya nama Neru-san dan Tei-san di sini tabu. Pikirku sambil memakan bubur ku. Namun ketenangan kami di usik oleh Len yang tiba-tiba menarik lengan kiri ku sehingga aku pun berdiri dan mengikuti Len. Beruntung aku masih membawa bubur ku.
.
.
.
Len POV
Rencana pertama hari pertama : Bawa Rin ke tempat sepi, pojokkan dia. Ambil ciuman pertamanya.
Itulah yang kupikirkan dari tadi malam, selain itu aku juga sudah membuat daftar rencana lain, apabila rencana hari pertama gagal. Ngomong-ngomong sepertinya Dell mau memperingatkan ku sesuatu hal. Tapi tertopong karena ucapan ku. Ah siapa peduli! Paling bukan hal yang penting.
Oh ya omong-omong karena tadi malam ada kasus bunuh diri dan mayatnya tak di ketahui dimana. Maka para polisi pun mencari mayat itu ke mana-mana bahkan sampai ke kamar para siswa dan guru. Namun anehnya mereka tidak berniat untuk mencari mayat tersebut di hutan belakang sekolah.
Yah, mungkin karena legenda di sini mengatakan kalau di hutan tersebut terdapat makan pembuat kastil ini yang berumur lebih dari 1000 tahun. Dan apa bila ada yang berani menginjakkan kakinya di sana, maka akan menghilang untuk selamanya. Memang, sudah ada 10 orang yang pernah masuk sana dan tak pernah kembali lagi.
Namun... anehnya waktu kecil aku merasa aku sering ke sana untuk menemui seseorang. Tapi siapa? Apa nee-san ya? Ah tidak mungkin! Pikir ku. Tanpa terasa aku sudah sampai di kantin. Ketika hendak mengambil makanan, ku lihat Rin sedang berbicara dengan Miku dkk. Entah kenapa tiba-tiba saja aku berjalan ke arah Rin dan menarik lengan kiri Rin.
"Hei kau mau membawa Rin kemana? !" bentak Meiko kaget. Ku acuhkan bentakankannya dan menarik lengan kiri Rin lebih keras. Oke perubahan rencana, serang langsung! Namun tiba-tiba ada sesuatu yang... err lembek, berair, dan...
"Panas!" seru ku kaget. Reflek ku pegangi tengkuk leher ku yang terasa panas itu. Bisa kurasakan benda lembek, berair, dan panas itu mulai mengalir ke punggung ku. Benda apa ini? !
"Itu bubur..." ucap Rin tenang sambil memakan bubur yang tersisa di mangkuknya. Dan duduk kembali ke kursinya. Sementara ku lihat Miku dkk mulai tertawa melihat ke jahilan Rin. Ukh... sial sial sial!
Skip time~
"Kagamine-kun kenapa kau terlambat?" tanya Kasane Ted-sensei sedikit marah. Bagaimana ya? Jujur bohong jujur... mungkin Rin bisa di hukum karena itu.
"Saya terlambat karena harus membersihkan bekas bubur yang di tuangkan di tengkuk leher saya" jawab ku jujur.
"Di tuangkan? Oleh siapa?" tanya Kasane-sensei lagi.
"Oleh Yuzune Rin sensei" ucap ku sambil melirik Rin yang masih terus sibuk menggambar. Aku lupa kalau pelajaran pertama hari ini adalah seni.
"Yuzune Rin? Yuzune-san bisa kau jelaskan kenapa kau menuangkan bubur di tengkuk Kagamine-kun?" tanya Kasane-sensei sambil berbalik ke arah Rin. Rin yang tadi sibuk menggambar sesuatu menghentikan kegiatannya dan menjawab pertanyaan Kasane-sensei dengan tatapan yang a... neh?
"Karena tadi Len menarik lengan kiri saya dan tanpa sengaja saya menuangkan bubur saya ke tengkuk Len. Jadi... Len lah yang menyebabkan saya tanpa sengaja menuangkan bubur saya ke tengkuknya" jelas Rin sambil menekankan kata "tanpa sengaja"
"Begitu... ya sudah Kagamine-kun tolong kau duduk di samping Yuzune-san" ujar Kasane-sensei cuek. Hei! Ah kenapa aku harus duduk dengan Rin lagi hari ini? ! itukan tempat duduk ku dan Al. Oh iya Al sudah lama tak kelihatan. Kemana dia? Pikir ku sambil berjalan ke meja ku.
Ketika melintasi meja Rin kulihat ia sedang menggambar potrait sketsa 2 orang. Entah kenapa yang satunya mirip dengan ku. Ah apa peduli ku! Pikir ku sambil duduk dan mengeluarkan buku gambarku dari kolong meja. Ku lihat papan tulis. Dan di sana tertulis tugas kami hari ini : membuat sketsa diri mu bersama orang yang kamu sayangi.
Hah, aku dengan siapa ya? Sejujurnya aku tidak terlalu akrab dengan otou-san, kalau okaa-san ia sudah lama meninggal. Apa Dell atau Kaito atau Mikuo saja ya? Cepat-cepat kubuang pikiran ku tadi. Aku masih normal!
Karena bingung aku pun hanya membiarkan tangan ku bekerja begitu saja. Sampai akhirnya tangan ku capek menari di atas kertas. Ku lihat gambaran ku. Ternyata aku menggambar diriku sedang duduk berpunggungan dengan seseorang.
Untunglah, yang penting aku sudah membuat sketsa! Karena bosan aku pun melirik ke arah Rin. Kulihat tangan nya masih sibuk menari di atas kertas. Aneh padahal ku lihat tadi ia sudah selesai membuat sketsa dirinya dengan seseorang.
Apa mungkin ia membuat detailnya? Karena penasaran ku angkat wajah ku lebih ke atas. Tiba-tiba saja ia memalingkan seluruh muka nya ke arah ku. Kenapa tidak melirik saja? ! oh iya, Rin tak punya mata kiri.
"Ada apa Len?" tanya Rin langsung.
"Tidak ada apa-apa, tapi kenapa kamu me..." tiba-tiba ucapanku di potong oleh seorang wanita hijau yang suka makan daun bawang. Ya, Hatsune Miku.
"Rinrin! Kita makan yuk!" serunya sambil memeluk leher Rin dan me death-glare ke arah ku.
"Mi... ku... ng... gak... bi... sa... na... fas..." ucap Rin terpatah-patah.
"Eeeeeeekk! Maaf Rinrin!" seru Miku sambil melepas death hugnya. Tiba-tiba mata Miku tertuju ke arah sketsa Rin.
"Eh, Rin ini kamu sama siapa?" tanya Miku sambil menunjuk sketsa Rin. Rin pun melihat ke sketsanya. Untuk beberapa detik ia melihat sketsanya dan menghela nafas. Dan dengan setia aku dan Miku menunggunya. Eit! Jangan berpikiran aneh dulu, aku menungguinya karena jika gambar sketsa anak laki-laki itu adalah aku maka Rin berarti menyukai ku dan akan lebih mudah bagi ku mendapat ciumannya.
"Ini... Len..." jawab Rin pelan. Yeah!
"APPAAA! ?" seru Miku tak percaya. Sampai-sampai Kaito yang dari tadi tertidur selama pelajaran seni bangun dengan muka tersenyum lebar :D
"Tapi bukan Len yang di sebelahku" ucap Rin lagi.
"Eh? Bukan? Syukurlah!" seru Miku senang sementara aku hanya bisa mengangkat satu alis ku. Sementara Kaito dengan muka sok innocent :D
"Ya, bukan dia bukan Len yang pendek..." Jleb! Sebuah pisau menancap di jantung ku... aku... pendek...
"Bukan Len yang playboy..." Jleb! Sebuah pisau menancap di jantung ku lagi.
"Bukan Len yang egois, sok ganteng, shota, dan lemah di sebelah ku ini..." ujar Rin lagi. Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Kurasa ada 4 pisau lain yang menancap di jantung ku. Sepertinya aku akan kehabisan darah.
"Lalu dia..." ujar Miku pelan.
"Dia Len, Lucifer Len. Satu-satunya pria yang aku cintai di dunia ini..." ucap Rin sambil menarik sesuatu dari lehernya, kalung?
"Dia juga pria yang memberiku cincin ini" ujar Rin lagi sambil memperlihatkan bandul kalung itu yang berupa 2 buah cincin perak yang di tengahnya ada sebuah permata berwarna marah darah. Tunggu, kalau si "Len" ini memberikan cincin pada Rin itu artinya Rin...
"Len... dulu aku dan dia pernah bertunangan" ucap Rin lagi. Dan di sambut belakan mata oleh ku dan Miku sementara BaKaito masih memasang muka sok innocentnya :D
"Namun yah... ia sudah meninggal. Namun tetap saja ia pria yang paling aku cintai di dunia ini. Dan ia juga mencintai ku. Bahkan ketika ia sudah di ujung hidupnya ia masih saja tersenyum dan menangis untuk ku" jelas Rin sambil mengecup cincin yang ukurannya sedikit lebih besar dari cincin satunya. Kulihat matanya memandang jauh.
"Yah, begitulah... ayo Miku kita ke kantin" ucap Rin sambil berdiri dan memasukkan kalungnya ke dalam bajunya, lalu menarik tangan Miku dan pergi meninggalkan ku dan BaKaito. Sementara itu Dell masuk bersama Mikuo, langsung saja ku terjang Dell.
"Dell! Kenapa kau tidak bilang kalau Rin dulu pernah punya tunangan!" seru ku marah. Sementara Dell hanya bisa cengo dan Mikuo terkaget-kaget. Kalau BaKaito jangan tanya! :D
"Eh? Rin pernah punya tunangan? Aku tak tahu itu, tapi yah... kau harus tahu kalau..." ujar Dell berusaha menjelaskan sesuatu namun aku potong lagi.
"Huh! Peduli apa sama tunangannya! Akan ku pastikan aku akan mendapat ciumannya!" seru ku sambil berlari meninggalkan mereka bertiga. Sementara Dell dan Mikuo hanya bisa ber sweat drop ria kecuali BaKaito tentunya.
(Lynn: karena malas ku persingkat saja cara Len mendapat ciuman Rin)
Hari ke : dua
Rencana : pakai parfum wangi untuk memikat Rin
Hasil : GAGAL
Alasan : Rin alergi parfum yang aku pakai.
"Haaaccchhiiii!" seru Rin.
Hari ke : tiga
Rencana : bawa bunga mawar merah untuk memikat Rin.
Hasil : GAGAL
Alasan : ada lebah yang ternyata sedang asik meminum nektar bunga mawar ku. Sehingga aku di kejar-kejar oleh lebah itu.
"Seseorang! Panggil pawang lebah!" seru ku panik sambil di kejar lebah itu.
Hari ke : empat
Rencana : beri Rin makanan yang di sukainya.
Hasil : GAGAL
Alasan : Rin langsung memakan makankan yang ku bawa beserta tangan ku.
"Hem... enak..."
"Iiyaaaaww! Jangan makan lenganku!" seru ku kesakitan.
Hari ke : lima
Rencana : berikan Rin sebuah barang.
Hasil : GAGAL
Alasan : Rin langsung membuangnya.
"Ini aku berikan sebuah gelang untukmu" ujarku sambil berpura-pura malu dan memberikan gelang itu. Rin yang melihat gelang di tangannya itu langsung membuangnya sambil berkata
"Aku tidak butuh gelang seperti itu" ujarnya cuek.
Hari ke : enam
Rencana : ajak Rin jalan-jalan ke tempat yang romantis pada malam hari.
Hasil : GAGAL
Alasan : Rin membentak ku dan membanting pintunya.
"Jadi Rin maukah kau berjalan-jalan dengan ku?" tanya ku di depan pintu kamarnya (Lynn : ingat ini sekolah asrama!) dengan gaya cool.
"PIKIR SEKARANG JAM BERAPA BODOH!" teriak Rin dan
"BLAM!" ouch... kurasa hidung ku berdarah.
Hari ke : tujuh
Rencana : -
Hasil : -
"Arg!" seru ku frustasi sambil menendang bola sepak. Yup, sekarang hari terakhir perjanjian yang ku buat bersama Dell. Namun sampai hari ini aku belum mendapatkan ciuman Rin. Sialan! Aku tak pernah kalah dalam pertandingan macam ini!
"Rin! Awas!" seru Miku namun.
"Eh?"
"Bug!" ternyata bola sepak yang ku tendang mengenai mata kiri Rin dan sukses membuat Rin jatuh tersungkur. Reflek aku dan teman-teman lain mendatangi Rin.
"Rin kau tidak apa-apa?" seru Miku khawatir.
"Rin! Kau kenapa?" seru siswi lain.
"Ah... ahh..." desah rin sambil menyentuh mata kirinya. Kulihat penutup mata Rin mulai berwarna merah. Darah? Entah spontan atau apa aku memeluk kepala Rin dan mengatakan.
"Tenang jangan menangis... tidak apa-apa tidak ada yang perlu kau khawatirkan!" ucapku. Namun entah kenapa aku mengatakan itu bukannya mengatakan kalau lukanya akan segera di rawat. Tiba-tiba tangan Rin menggenggam baju olahraga ku dengan erat dan menangis.
"Len... aku merindukan mu..." deg! Entah kenapa jantung ku berdetak dengan cepat. Saat ini aku sepertinya merasa senang karena ia memanggil nama ku namun juga sedih karena "Len" yang ia maksudkan adalah Lucifer Len. Namun aku tak peduli, ku gendong Rin dengan gaya pengantin dan berlari meninggalkan teman-teman yang kaget.
Skip time~
Ruang UKS.
"Hei Rin benar kau tidak apa-apa?" tanya ku khawatir. Ya, ini khawatir betulan!
"Iya... Teto-sensei sudah mengobatinya kok" ucap Rin datar. Sambil memandang keluar UKS. Sementara aku hanya terdiam. Mengingat tindakanku di jam olahraga tadi. Aku sama sekali tak percaya aku mau bertidak seperti itu untuk seorang... yah Yuzune Rin. Kulihat jam di dinding. Aku gagal... sepertinya aku takkan pernah bisa mendapat ciuman Rin. Sebaiknya aku mengaku kalah pada Dell kali ini.
Karena tak tahu harus berbuat apa aku berdiri dan berniat meninggalkan UKS. Namun tangan Rin menggenggam lengan kiri ku dan...
"Cup" Rin mengecup dahi ku sementara aku hanya bisa mematung kaget.
"Terima kasih" ucapnya sambil tersenyum. Sanyum Rin manis sekali... entah kenapa muka ku memanas. Karenanya... oh iya selama bersekolah di Crypton Middle School ini Rin belum pernah sekalipun tersenyum! Bahkan ketika bersama dengan Miku CS Rin belum pernah sekalipun tersenyum!
"Sampai kapan kau mau bengong? Cepat keluar Len aku mau tidur" usir Rin sambil melepas tangannya.
"Siapa yang bengong! ?" teriak ku kaget sambil membalikkan badanku dan membuka pintu UKS. Namun aku terhenti karena Rin mengucapkan sesuatu lagi.
"Ingat Len kau tak boleh jatuh cinta pada ku. Karena kau harus membunuh ku..."
"Eh? Si... siapa yang mau jatuh cinta pada mu!" seru ku kesal tanpa memperdulikan kalimat ke dua Rin dan...
"Blam!" kubanting pintu UKS dengan keras.
"Dasar menyebal... huwa! Dell! Sejak kapan kau di sini?" seru ku kaget mendapati Dell ada tepat di depan ku.
"Selamat 'King' kau menang" ucap Dell sambil menyalamiku. Eh?
"Aku... menang? Tapi aku..."
"Aku kan hanya menyuruhmu 'mencium' Rin, tapi aku tidak menyuruhmu 'mencium bibir' Rin karena..." ucap Dell aneh.
"Karena Rin itu dan dua dalam karate, judo dan juga kendo" eh?
"Appuaaaa?" seru ku kaget. Rin dan dua dalam karate , judo dan kendo? Tak dapat di percaya!
"Karena itu aku hanya meminta mu menyium Rin. Tapi kau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dan aku tak menyangka kalau Rin yang akan menyium mu duluan" ujar Dell yang di barengi oleh aura gelap ku.
"Kenapa kau tak segera bilang! Kalau kau bilang dari awal maka aku tak perlu terkena bersin Rin, dikejar-kejar lebah, di gigit Rin, membeli gelang mahal itu, dan patah hidung!" seru ku kesal.
"Loh? ! bukannya itu salah mu? Kau kan yang selalu memotong perkataan ku!" aku tak memperdulikan perkataan Dell segera saja kuberikan Dell super death glare dan membuat Dell takut dan kabur. Aku pun segera mengejar Dell dengan kecepatan inhuman.
Skip time~
Normal POV
Bulan purnama muncul dan menyinari seorang anak perempuan yang sedang duduk terdiam di atas kastil di temani oleh angin yang cukup kencang yang mengacak-ngacak rambut pendeknya itu.
"Hah... semua sesuai rencana" ucap anak perempuan itu sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dan mengecup bandulnya yang berupa 2 cincin perak yang di tengahnya terdapat berlian berwarna merah darah.
"Selanjutnya semua terserah pada mu..."
"Ru-sensei"
Bersambung...
Lynn : Yup segitu dulu hehe...
Ruken : maaf telat update karena bakauthor studi-tour ke Jakarta dan saudaranya dateng jadi hampir nggak bisa nulis.
Lynn : Ruken! Itu perkataan ku!
Ruken : *cuek sambil minum susu
Lynn : Ya sudahlah R&R ya! Maaf mungkin update selanjutnya juga bakal lama.
