Chapter 4 : Sleeping over? ( I )
Lynn : Yap! Balas review!
To rani konako: Ow! ( ^ . - ) makasih Rani-senpai, gak papa kok. Ehehe, itu OC ku. Aku mau masukin dia kesini...
To half-human girl : Keren? Weeee! Makasih! Masih typo ya? Maaf ya aku nggak tau cara ngeditnya setelah di upload hehe. Eh... mungkin karna lola ada di jalan.
To IchigoMei-Chan : eh? Nggak nyangka? Makasih banget buat reviewnya! Hehe *loncat-loncat
To Kyon Kuroblack : wah... ketahuan. Tapi Len bukan reinkarnasinya L. Len. But anyway, thanks for the review!
To rii. Nie : eh? Makasih banget! Hehe, yah untuk masalah endingnya sih... masih bingung. Mau kubikin sad to happy tapi... yah liat aja nanti! Tq 4 the review!
Lynn : yap balas review sudah! Sekarang... Ru-chan! Karna kau sudah ku masukkan ke fic-ku yang ini dan ini adalah penampilan perdanamu... tolong ramal aku dengan mata kirimu!
Ruken : Iya iya... *ngelepas penutup mata lalu diem sambil berkonsentrasi.
Lynn : ...
Ruken : Lynn...
Lynn : ya?
Ruken : Kamu bakal gepeng dalam hitungan... 1 2
Lynn : ?
Ruken : 3 *BRAAK! Darah dimana-mana
Rin : Len! Awas ka... mu... hii! Lynn jangan mati!
Len : Rin! Gara-gara kamu ngelempar buldozer kita, Lynn jadi kayak gini!
Rin : hiii maaf! *sambil ngangkat buldozer dan segera membawa tubuh Lynn ke RS terdekat.
Ruken : Yah... disclaimer : LYNN NGGAK PUNYA VOCALOID.
Ruken : oya, kalau masih Typo, miss typo, gaje, alay dll itu salah Lynn.
"Jadi kapan Ru-sensei akan mengajari Len?"
"Kurasa 4 hari lagi"
"Kenapa 4 hari?"
"Yah, karena... hmp"
"Kenapa Ru-sensei tertawa?"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja akan ada sesuatu hal di..."
"Masa depan? Ru-sensei melihat sesuatu yang aneh?"
"Tidak... bukan aneh tapi membahagiakan sehingga Rin bisa tertawa lepas"
"Membuat ku tertawa lepas? Jangan bercanda, Ru-sensei. Ru-sensei tahu sendirikan?"
"..."
"Aku sudah berhenti tertawa semenjak Len meninggal..."
Len POV
Ha~ pagi yang cerah, matahari yang bersinar hangat serta...
"Len! Aku minta maaf! Tolong lepaskan aku!" teriakan Dell yang bagaikan musik di telinga ku ini. Dan ya Dell ku ikat dengan posisi yah em, erotis mungkin. Yah kalau dideskripsikan seperti ini : ke dua tangan dan kaki Dell di ikat menjadi satu ke belakang dan digantung di Gym (Lynn : seperti yang di lakukan Ivankov pada Sadi Sayang di One Piece) semalaman.
"Yah... karena ini sudah pagi dan perut ku sudah minta di isi, jadi... kau akan kulepas" ujar ku sambil berjalan ke arah Dell dan melepaskan ikatan tali yang kubuat.
"Bruuk!"
"Aduh!"
"Haha! Oke seperti janji kita kau harus mentraktir ku selama seminggu penuh!" seru ku senang, sementara Dell hanya mengangguk pasrah. Lalu kami pun berjalan keluar Gym menuju kantin.
Normal POV
Skip time~
"Oke... semuanya dalam praktek kimia kali ini kalian harus berpasangan dengan teman sebangku" seru Kiyoteru-sensei sambil memegangi kertas tugas.
'Cih aku terpaksa sekelompok dengan Rin' pikir Len kesal sambil melirik ke arah Rin yang biasa saja.
"Baik semuanya hari ini kita akan membuat 'ledakan' dari oksigen dan hidrogen, lalu membuat lem dengan intensitas kerekatan yang tinggi, lalu membuat..." jelas Kiyoteru-sensei (Lynn : Males ngeterangin) panjang lebar.
"Lalu untuk itu kalian akan mengambil kertas undian untuk menentukan praktek apa yang kalian harus lakukan" terang Kiyoteru-sensei lagi. Lalu secara bergantian para murid mengambil kertas undian tersebut. Dan tebak apa yang di dapat oleh Rin dan Len? Ya, membuat lem dengan intensitas kerekatan tinggi. Sementara Kaito dan teman sebangkunya mendapatkan undian untuk membuat 'ledakan'
Skip time~
"Nah selesai juga" ujar Len lega. Sementara Rin terus melihat ke dalan gelas 'reaksi' yang berisikan cairan lem yang berintensitas kerekatan tinggi itu sambil bertanya-tanya. 'Apa benar ini lem yang daya rekatnya tinggi?'
Sebetulnya mebuat lem berintensitas tinggi tidak terlalu sulit. Namun karena di gudang Lab IPA sedang kehabisan stok sarung tangan, membuat ini menjadi sulit. Karena harus di lakukan dengan ekstra hati-hati. Apa bila salah sedikit atau lem itu tanpa sengaja tertumpah ke kulit maka akibatnya adalah : lem itu akan terus menempel ke kulit selama beberapa hari. Dan kalau sedang sial maka mungkin saja ketika lem itu terkena kulit dan ada sebuah barang yang ada di dekatnya, maka dengan sangat terpaksa orang yang sial itu harus membawa barang itu selama berhari-hari dengan kulitnya.
"Hei! Hati-hati! Aku tidak mau berakhir seperti salah seorang senpai yang tanpa sengaja menyentuh lem itu!" tegur Len pada Rin yang tampaknya sudah geli saja untuk memegangi lem itu.
"Memangnya senpai-nya kenapa?" tanya Rin penasaran.
"Yah... dulu pernah ada yang harus membawa vas bunga beserta bunganya selama berhari-hari berkat lem itu, lalu pernah juga salah seorang senpai terpaksa menginap di kelas atau di lab karena tangannya tertempel ke meja dan yang paling parah adalah seorang senpai yang kedua tangannya tertempel ke gelas, sehingga ketika makan atau ke kamar mandi harus di bantu selama berhari-hari" jelas Len panjang lebar. Tiba-tiba...
"Boommm!"
"Praang!" "Bruuk!"
"Kyaaaa!"
"Gyaaaa!" seru para murid kaget karena bunyi ledakan sebuah percobaan serta bunyi gelas yang pecah karena terdorong oleh angin ledakan. Namun sepertinya bukan hanya itu. Ada dua orang malang yang duduk tepat di depan ledakan itu, sehingga membuat mereka serta percobaan mereka terdorong ke depan. Sementara itu Kaito pelaku percobaan yang 'sukses' itu berada dalam keadaan serba hitam beserta teman sebangkunya yang juga serba hitam berkat ledakan itu.
Melihat hal Kiyoteru-sensei segera mendatangi meja Kaito dan menanyakan apa mereka baik-baik saja.
"Shion-kun! Kau baik-baik saja? !"
"Ya..." jawab Kaito lemas.
"Aduh... hei! Kaito! Hati-hati dong! Sudah tahu kau mau membuat ledakan tapi malah di ruangan!" seru Len kesal sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya yang entah kenapa terasa berat.
'Tunggu... dulu... benda apa ini? Lembut, hangat dan berbau je... ruk? Jangan-jangan...' karena penasaran Len pun segera menarik tangan kanannya. Dan ya, di telapak tangannya ada telapak tangan orang lain yang tidak lain adalah...
"Gyaaaa!"
Len POV
"Gyaaaa!" teriak ku kaget. Bagaimana tidak? Di telapak tangan kanan ku ada telapak tangan orang lain yang tertempel berkat lem itu. dan yang lebih parahnya adalah telapak tangan itu milik Rin! Yuzune Rin! Sial! Nasib sial macam apa yang kuterima ini!
"Le... lepaskan tangan ku!" seru ku sambil menarik tangan kanan ku. Namun hasilnya Rin justru tertarik dan hampir terjatuh dari kursinya.
"Hei! Yuzune-san! Kagamine-kun! Kalian berdua kena... pa...?" ujar Kiyoteru-sensei kaget sambil melihat ke poin masalah dan bertambah kaget melihat kami berdua bergandengan tangan.
"Yuzune-san, Kagamine-kun kalau tidak salah kalian praktek membuat lem berdaya rekat tinggi ya?" kami berdua hanya bisa mengangguk pasrah sambil mengira-ngira kapan kami berdua bisa terlepas dari genggaman tangan kami.
"Ha... tahun ini terjadi lagi, Yuzune-san, Kagamine-kun bapak rasa kalian harus berbagi kamar untuk beberapa hari ini..." ujar Kiyoteru-sensei lemah. Tunggu berbagi kamar?
"APA! ?" seru (baca: teriak) ku dan Rin bersamaan sementara teman-teman yang lain hanya bisa bengong.
.
.
.
"Jadi... begitulah ceritanya" ujar Miku sedikit kesal.
"Hei! Aku bisa dengar!" seru ku marah.
"Salah mu, kenapa juga duduk di sini" balas Miku. Ukh kalau bukan karena BaKaito aku pasti tidak akan di sini! Yah, saat ini adalah jam makan siang dan dengan amat sangat terpaksa, aku terpaksa (lagi) duduk dengan Rin dkk. Ukh sial! Apa lagi aku bisa merasakan death glare dari Meiko, Haku, dan juga Gumi. Sial sial sial!
"Wah~ yang di kerumuni sama penggemarnya" ejek Kaito. Tunggu Kaito? Segera ku ambil minuman ku dan menyiramnya ke BaKaito.
"Hei! Aku Cuma bercanda!" seru BaKaito kesal. Tapi ku biarkan.
"Um... sebenarnya aku punya ide untuk melepaskan genggaman tangan kita. Tapi mungkin akan sakit" ucap Rin tiba-tiba.
"Benarkah Rin? Bagaimana caranya?" ujar Miku girang.
"Yah, aku Cuma butuh satu barang, Meiko, Haku, Gumi. Kalian punya pisau atau cutter?" tanya Rin. Tunggu pisau? Cutter? Jangan-jangan...
"Tunggu dulu! Jangan katakan kalau kau mau memotong tangan kanan ku! ?" seru ku kaget. Ku lihat mata Rin menjadi kosong dan air mukanya berubah menjadi horor. Namun bukan hanya Rin yang seperti itu Miku, Meiko, Haku dan Gumi juga begitu. Hii!
"Hm... sebenarnya aku ingin bilang kalau pisau dan cutter itu akan kugunakan untuk mencongkel ke dua tangan kita. Tapi... sepertinya ide mu barusan lebih bagus" air muka Rin makin berubah horor. Hii!
"Selamat berjuang Lenny~" bisik Kaito sambil berjalan mundur dan berlari kabur. Tunggu!
"Kaito! Jangan tinggalkan aku!" seru ku panik. Aura dark makin terasa bahkan hingga ke ubun-ubun ku. Ku lihat bahkan ada beberapa murid yang berlari keluar kantin berkat aura dark yang di keluarkan Rin cs. Tolong! Seseorang tolong aku! Hi...
Mereka terus mendekat ke arah ku hingga membuat ku terjatuh dari kursi kantin dan membuat tangan kanan ku mengambang bersamaan tangan kiri Rin. Hi...
"Ting tong!" bel! Syukurlah! Ini mungkin pertama kalinya dalam hidupku aku bersyukur bel masuk berbunyi! Segera aku berlari dan menarik tangan kiri Rin yang ada di tangan kanan ku.
"Maaf para gadis! Tapi bel sudah berbunyi!" seru ku ketakutan sambil berlari sekuat tenaga sehingga membuat tubuh mungil Rin melayang-layang. Dan meninggalkan Miku cs terbenngong-bengong kaget.
Aku terus berlari dan berlari tidak tentu arah, hingga ketika aku sadar aku (baca: kami) sampai ke atap sekolah.
"Hei, kau sudah capek berlari kan?" tanya Rin tiba-tiba hingga membuatku kaget.
"Eh! ? I iya..." ucap ku kaget.
"Kau ini aneh, bukannya berlindung di kelas kau justru pergi ke atap" ucap Rin lagi. Aduh! Benar juga kata Rin! Aduh dasar bodoh! Usut ku kesal.
"Yah, ya sudahlah. Ayo kita segera pergi ke kelas!" seru Rin sambil mempererat genggaman tangannya dan berbalik. Deg! Entah kenapa jantungku terasa berhenti berdetak dan muka ku terasa memanas. Sangat panas! Dan entah sejak kapan aku berharap kalau Rin tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya.
Apa...
Apa aku jatuh cinta?
To be continued...
Lynn : *Pundung
Rin : Lynn kenapa? Padahal udah sembuh.
Len : Lynn merasa bersalah pada para reader yang udah nunggu tapi yang keluar Cuma dikit.
Ruken : Yah... jangan kayak gitu Len, Lynn juga lagi setres karena hidupnya berubah drastis 2 tahun ini.
Len : hah? Cepet amat!
Ruken : iya... mungkin sedikit hidupnya terlihat di salah satu Ficnya, tapi bukan fic yang ini.
Rin : Begitu... yah, tolong di review ya?
Ruken : Flame di terima kok, karena Lynn juga udah sering di flame di kehidupan nyata.
