Chapter 5 : Sleeping over? ( II )
To all : Maaf chapter kemarin sedikit! mungkin chapter ini juga... maaf!
Lynn : Oi Ru-chan!
Ru: ya?
Lynn : mulai sekarang nama mu ada Rue! Untuk nama panjang/keluarga mu ada di prof ku!
Rue : ya ya, kapan sketsa wajah ku di scan huh?
Lynn : ups... minggu depan kek nya hehe. Sudahlah! Rue bacakan disclaimer dan warning!
Rue : iya-iya.
DISCLAIMER : LYNN NGGAK PUNYA VOCALOID.
WARNING : ADA OC, GAJE, TYPO, MISS TYPO DLL.
DON'T LIKE? DON'T READ!
Lynn : silahkan membaca!
Len POV
Apa...
Apa aku jatuh cinta?
Hah! Apa yang kupikirkan! ? Aku tak mungkin punya perasaan pada Rin! Seru ku dalam hati sambi terus di seret Rin ke ruang kelas.
"Srak..."
"Oh... Yuzune-san, Kagamine-kun. Kenapa kalian terlambat?" tanya Luka-sensei. Aduh bagaimana jawabnya ya?
"Ano..."
"Begini, Len si raja kabur ke atap sekolah gara-gara di gertak. Dan yang seperti Luka-sensei ketahui dari Kiyoteru-sensei saya terperangkap bersama Len untuk beberapa hari ini. Jadi saya dengan amat sangat terpaksa harus mengikuti Len kemana ia pergi" jawab Rin seenaknya sambil memotong perkataan ku. Dan menenkan-kan beberapa kalimat. Menyebalkan!
"Begitu... baiklah, kalian boleh duduk" jawab Luka-sensei cuek.
"Hai" jawab kami berdua kompak. Tunggu kompak? Ah lupakan! Segera setelah itu kami berdua duduk di meja kami dan segera mendengarkan penjelasan Luka-sensei tentang ikan tuna? Dalam bahasa inggris. Tunggu dulu apa hubungannya ikan tuna dan bahasa inggris! ? masih lebih baik bahasa inggris dan pisang. Kan sedikit berhubungan. (Lynn : sama aja!)
"Baiklah, mohon di catat. Karena bab ini akan keluar ketika ulangan nanti" ujar Luka-sensei. Segera kuambil buku cacatan ku dari kolong meja, dengan tangan kiri tentunya. Dan segera menulis dan tentu saja dengan tangan kiri. Tapi... tulisan ku sama sekali tidak terbaca, bahkan oleh ku! Sial, BaKaito... kau harus bertanggung jawab! Umpat ku dalam hati.
"Krak!"
"Hei... kalau mau marah nanti saja, jangan luapkan kemarahanmu pada pensil yang tidak berdosa" ujar suara yang misterius. Karena penasaran kulirik Rin. Namun sepertinya bukan Rin yang melakukannya, karena suara tadi lumayan berat, yang berarti dia laki-laki. Tunggu, laki-laki? Jangan-jangan...
Kulirik kebelakang dan benar saja BaKaito yang membisikkan perkataan tadi dengan bukunya yang di kerucutkan ( Lynn : bingung nulisnya apa) dan tampang innocent-nya yang bodoh. Dan dengan segera kuhadiahi dia sebuah super death glare hingga membuat BaKaito berkeringat. Segera saja kubisikkan ia sesuatu.
"BaKaito... beberapa hari lagi kau akan menjadi seperti pensil ini..." bisikku dengan nada horor sambil menunjuk serpihan pensil yang ku patahkan tadi. Sementara, kulihat BaKaito hanya bisa berkeringat lebih banyak lagi.
"Ting Tong Ting!"
"Oh, bel sudah berbunyi, baiklah..." ujar Luka-sensei sambil menutup bukunya yang ada di telapak tangannya dengan jari tengahnya dan jempolnya.
"Setelah ini pelajaran apa?" tanya Luka-sensei penuh perhatian?
"Olah raga sensei" jawab salah seorang murid.
"Luka-sensei mau nitip salam buat Gakupo-sensei ya?" ledek murid lainnya. Kontan saja muka Luka-sensei memerah, semerah apel yang baru matang.
" E... eh? Ti-tidak kok!" jawab Luka-sensei gelagapan.
"Ya sudah! Cepat ganti baju sana!" seru Luka-sensei mengalihkan pembicaraan dan segera berlari keluar kelas. Dasar, sensei aneh! Huh segera kuambil baju olah raga ku di kolong meja. Yah, bisa di katakan segala hal yang kubutuhkan untuk sekolah ada di kolong ini (Lynn : sebenernya Len males bawa barang-barang dan buku-bukunya, sehingga hampir semua barang di taruhnya di kolong mejanya yang penuh sesak *di pukul Len).
"Tunggu Len bagaimana caranya kita ganti baju?" tanya Rin tiba-tiba.
"Ya tentu saja..." kontan aku terdiam mendengar pertanyaan Rin tadi. Mungkin rok dan celana masih bisa berganti. Tapi... pakaian?
"..."
"..."
Normal POV
"Rinrin! Ganti baju yuk!" ajak Miku girang. Sambil mendekati meja Rin dan Len yang sedari tadi terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Miku... ku mohon jangan bahas itu untuk sementara waktu" jawab anak yang di panggil Miku itu lemah.
"Memang kena... oh..." ucap Miku sedikit bingung, namun segera terdiam melihat poin masalah.
"Hei Len kenapa kau tidak pergi ganti baju?" tanya Dell di pintu kelas. Sementara seorang temannya yang berambut biru hanya bisa mengamati sambil ketakutan melihat anak yang di panggil oleh Dell.
"Menurut mu aku bisa ganti baju dengan keadaan seperti ini? !" bentak anak bernama Len itu. Sementara Rin dan Miku hanya bisa mengangguk pasrah.
"Yah... kalian berdua harus bisa berganti baju! Kalian lupan? Hari ini ada tes lari gawang" jawab Dell sekenanya dan segera berbalik menuju ruang ganti bersama teman birunya itu.
"... Miku kau duluan saja deh" ucap Rin lemah.
"Eh? Tapi kalau Rin diapa-apain gimana?" tanya Miku khawatir. Ia tidak tahu, kalau Rin pemegang 'dan dua' dalam karate, kendo dan judo. Sementara Rin hanya bisa menghela nafas pelan.
"Tenang saja Miku, untuk berjaga-jaga aku sudah bawa cutter kok" jawab Rin santai. Cutter? Pikir Len
"... Baiklah. Hati-hati ya Rinrin! Jangan sampe si pisang mesum itu ngapa-ngapain kamu!" ujar Miku lantang. Pisang mesum? Pikir Len lagi.
"Hei! Aku bukan pisang mesum!" seru Len kesal pada Miku yang sudah berlari pergi.
"Nah... sekarang kita bagaimana?" tanya Rin tiba-tiba.
"Yah... karena aku nggak mungkin ganti baju di ruang ganti wanita, dan kamu juga nggak mungkin ganti baju di ruang ganti pria jadi..."
Ting~
Dalam sekejap mata anak perempuan berambut honey blond serta teman laki-lakinya yang juga berambut honey blond berada di gudang peralatan olahraga yang letaknya dekat dengan hutan di belakang sekolah itu.
"Nah... sekarang kita ganti baju dengan cara apa?" tanya Rin pada Len.
"Yah kita coba dulu dengan cara biasa" jawab Len sekenanya.
Cara ke : 1
Rin dan Len memasukkan kepalanya terlebih dahulu ke baju dan memasukkan tangan kiri/kanannya (tanpa melepas kemeja mereka). Lalu ketika melihat ke telapak tangan yang bermasalah mereka berdua terdiam.
"..."
"..."
Cara ke : 2
Rin dan Len memasukkan tangan kiri/kanan mereka terlebih dahulu baru kepala mereka berdua masuk ke baju olahraga. Namun ketika melihat tangan kanan/kiri mereka yang tertempel. Mereka terdiam seribu kata.
"..."
"..."
Cara ke : 3
"Ayo~ Len, tenang saja ini tidak akan sakit kok!" seru Rin sambil mengacung-acungkan cutternya.
"Tidak! Jangan mendekat!" seru Len panik. Namun, yah... Rin tidak bisa menjauh. Karena masalah di tangan kirinya bersamaan dengan tangan kanan Len.
"Hei-hei kubilang ini tak-kan sakit~" ucap Rin lagi dengan wajah horor.
"Hi... tidak jangan!" seru Len panik sambil menampik lengan kanan Rin. Sehingga cutter yang Rin pegang, terbang melayang begitu pula keseimbangan Rin yang kaget lengan kanannya ditampik oleh Len. Sehingga Len-pun ikut terjatuh bersamaan dengan Rin.
"Bruk!"
"Aduh... Len berat!" rintih Rin. Namun di saat bersamaan pintu gudang peralatan olahraga terbuka dan berdiri seorang murid laki-laki yang membawa bola basket yang kebetulan berada di lapangan.
"Maaf..." balas Len sambil mengangkat badannya yang menindih badan mungil Rin dengan tangannya, sehingga Len terlihat seperti sedang mengunci pergerakan Rin dengan ke dua tangannya di samping kepala Rin dan ke dua kakinya yang berada di samping kanan-kiri Rin.
"Pluk" terdengar sesuatu yang terjatuh. Kontan saja Rin dan Len menengok ke sumber suara tersebut, dan...
"MAAF MENGGANGGU!" seru murid laki-laki itu sambil berbalik badan dan menutup pintu gudang peralatan olahraga dengan kasar, serta meninggalkan Rin dan Len yang speechless.
Skip time~
"Ha... bilang kek, kalau kamu mau memotong baju ku bagian samping! Dan menjahitnya!" seru Len kesal pada anak perempuan di sampingnya.
"Salah mu juga tadi ketakutan setengah mati" jawab anak itu santai.
"Ugh, ya sudahlah!" jawab Len.
"Wah, Yuzune-san dan Kagamine-kun! Kanapa kalian terlambat?" tanya Gakupo-sensei.
"Em..." jawab Rin sambil mengangkat tangan kirinya.
"Eh? Oh, maaf sensei lupa, tadi Kiyoteru-sensei sudah memberitahukan pada sensei. Jadi... bagaimana kalian berganti baju?" tanya Gakupo-sensei lagi.
'Haruskah kujawab? !' seru Len dalam hati.
"Yah anda bisa melihatnya sendiri Gakupo-sensei" jawab Rin dengan menekankan nama Gakupo-sensei. Sementara Gakupo-sensei sendiri melihat baju olahraga Rin sebelah kiri dan baju olahraga Len sebelah kanan yang di jahit dengan jahitan mudah.
"Oh ya sudah. Sekarang tinggal kalian berdua yang belum ujian lari gawang! Dan karena tangan kalian bermasalah kalian harus melakukannya bersama-sama dan harus kompak!" seru Gakupo-sensei lantang. 'iya iya!' pikir Len sebal sementara Rin 'Terserah yang penting cepat! Dasar terong aneh!'. Sambil berfikir merekapun bersiap-siap di garis start.
"Baik! Siap... Mulai!" teriak Gakupo-sensei memberi aba-aba. Tepat ketika Gakupo-sensei berteriak mulai, Rin dan Len segera berlari menuju 'gawang' pertama dan meloncat, tapi...
"Bruk!"
"Brak!"
"Mreeeeooongg!(?)"
"Adduh..." rintih Len
"Uh..." rintih Rin sambil memegangi pantatnya yang sukses mendarat di tanah lapangan yang keras.
"Hei! Rin! Kamu tidak apa-apakan?" teriak Miku khawatir dari seberang lapangan. Mendengar itu Rin-pun mengangkat tangannya dan memberikan acungan jempol, tanda kalau dia baik-baik saja.
"Yuzune-san! Kagamine-kun! Tadi sensei lihat sebelum kalian jatuh, tangan kalian yang bermasalah tidak terangkat sepenuhnya. Dan mungkin tadi menyenggol gawang, sehingga membuat kalian jatuh" jelas Gakupo-sensei acuh tak acuh. Karena bukannya menolong mereka berdua. Gakupo-sensei lebih memilih melihat Luka-sensei yang sedang mengajar dari kejauhan dengan tatapan mesum? (*Lynn di tendang Gakupo)
"Sial!" umpat Len kesal. Sementara Rin sudah berdiri sambil menepuk-nepuk pantatnya, dan tentu saja dengan tangan kanannya saja.
"Ayo berdiri Len" ajak Rin sambil mengulurkan tangan kanannya. Melihat hal ini muka Len memerah sedikit.
"A a-aku bisa sendiri kok!" balas Len sambil berdiri dengan cepat masih dengan mukanya yang memerah tadi. Lalu dengan cepat Len segera kembali ke start. Tentu saja dengan Rin di samping kanannya. Dan segera mengambil ancang-ancang.
"Baik! Siap... Mulai!" teriak Gakupo-sensei yang di sambut larinya Rin dan Len ke gawang pertama. Dan...
"Hup!" seru Rin ketika melewati gawang pertama.
"Hah!" seru Len ketika melewati gawang pertama dengan sukses. Lalu... gawang kedua-pun sudah di depan mata. Dan... berhasil! Kini tersisa 28 gawang lagi yang perlu di lompati oleh Rin dan Len.
28 gawang kemudian~
"Hah... ha..." letih mendera Rin dan Len. Mungkin jika mereka melakukannya sendiri-sendiri tidak akan terlalu berat. Namun karena ketika melewati gawang tadi mereka harus melihat arah mereka mendarat sekaligus lengan mereka yang bermasalah. Sehingga ini manjadi berat. Selain itu pula, mereka harus menyesuaikan kecepatan masing-masing agar ketika melomat tidak terjadi kesalahan.
"Rinrin!" seru Miku sambil menghampiri Rin dan membawa handuk serta minuman penyegar.
"Oh... Miku, terima kasih!" seru Rin sambil menangkap minuman yang di lempar oleh Miku tadi. Miku juga melempar handuk ke kepala Rin.
"Hai Rin nanti pas makan malam bareng temen-temen kita..."
"Tunggu! Tadi siang aku sudah duduk bersama kalian! Nanti malam aku mau duduk bersama teman-teman ku!" seru Len sedikit kesal.
"Oh... kalau itu kemauan mu 'King' yang terhormat, yang berwajah shota" jawab Rin sambil menekan kata King dan shota. Sehingga membuat Len yang masih letih gusar.
"Apa kata mu!" bentak Len kasar. Sementara Rin menenggak minumannya.
"Ya~ King shota yang terhormat seharusnya lebih bersabar" tambah Miku manambah bumbu pedas.
"Ukh!" karena kesal Len-pun membuang muka dan berdiri. Lalu dengan kasar ia menyeret Rin. Namun Rin sepertinya tidak terpengaruh. Rin masih saja terduduk dan membiarkan dirinya di seret Len.
"Miku! Terima kasih atas minumannya! Besok kita makan bersama kok!" seru Rin masih dalam keadaan di seret. Meninggalkan Miku yang memandang Rin aneh.
Skip malamnya~ ( di depan kamar Len)
"Jadi... aku tidur di kamar mu?" tanya Rin.
"Ya, karena kamar mu kecil dan aku tidak suka akan hal itu jadi kau harus tidur di kamar ku" ucap Len.
"... baiklah, tapi sekarang aku harus berganti baju" jawab Rin dan entah sejak kapan ada tas yang bergantung di punggungnya. Namun sepertinya Len tidak memperhatikan. Sementara itu di tempat lain...
"Uh... sialan si Yuzune itu!" bisik seorang anak perempuan berambut kuning keemasan panjang yang di kucir satu menyamping.
"Iya! Pasti si Yuzune sengaja mendorong tangannya agar terkena lem!" balas anak perempuan di sampingnya yang juga berambut panjang hanya saja berwarna putih kemerahan.
"Tentu saja begitu! Ia pasti sengaja berbuat begitu agar bisa dekat dengan Len-sama!"umpat anak perempuan berambut kuning keemasan itu sambil memperhatikan Rin yang masuk ke kamar Len.
Di kamar Len~
"Sudah belum?" tanya Len sambil melihat ke arah pintu. Sementara setengah lengan kirinya masuk ke dalam toilet dan dalam keadaan tertekuk.
"Belum! Aku baru satu menit di toilet!" teriak Rin kesal karena baru sebentar ia di toilet Len sudah menanyainya tiga puluh kali.
"Maaf..." balas Len yang akhirnya mau diam. Rin pun menghelakan nafas lega dan segera menjentikkan jarinya. Dalam sekejap mata pakaian Rin berubah menjadi piyama berlengan pendek namun bercelana panjang dengan motif jeruk, serta pakaian yang ia pakai tadi sudah terlipat rapi di lengan kanannya.
"Huff..." desah Rin lega. Ia-pun menarik lengan kirinya memberitahukan Len kalau ia sudah selesai.
"Oh... kamu sudah selesai Rin...?" ucap Len sedikit bingung sambil membuka pintu. Yah mungkin Len menyadarinya dari piyama Rin yang tak ada bekas sobekan dan jahitan seperti di baju olahraga mereka yang mereka terus kenakan hingga mereka masuk ke kamar Len.
"Ya" jawab Rin singkat. Dan segera berjalan keluar dari toilet dan mempersilahkan Len untuk berganti baju dengan gaya seorang maid untuk mengejek Len. Sementara Len hanya mendengus kesal.
"Krek" pintupun di tutup, walau masih menyisakan sedikit celah untuk di masuki lengan kanan Rin.
'Ru-sensei...' panggil Rin di dalam hatinya.
'Ya?' jawab sosok yang di panggil Rin melayang tepat di depannya.
'Jadi ini yang Ru-sensei lihat?' tanya Rin langsung.
'Bisa dikatakan begitu' jawab sosok itu santai.
'Tapi... tenang saja kok besok juga lem itu sudah bisa terlepas dari tangan kalian berdua' ucap sosok itu lagi.
'Lalu... kenapa Ru-sensei bilang akan mengajari Len 4 hari lagi?' tanya Rin lagi.
'Ada sesuatu hal yang lain yang akan datang secara tiba-tiba dan sesuatu yang akan diadakan secara tiba-tiba' jawab sosok itu santai masih sambil melayang-layang.
'Hah? Apa maksud Ru-sensei? Sesuatu yang tiba-tiba?' tanya Rin lagi untuk yang ketiga dan keempat kalinya.
"Krek" pintu toilet terbuka secara tiba-tiba membuat Rin sedikit kaget.
'Maaf aku harus menghilang' jawab sosok itu dan menghilanglah sosok itu berganti dengan sedikit abu yang jatuh ke lantai.
"Oh Len cepat sekali dan... KENAPA KAMU BERTELANJANG DADA! ?" bentak Rin sehingga Len terpaksa menutup ke dua telinganya.
"Yah... karena malam ini panas dan aku juga tidak bisa menjahit baju, jadi..."
"Jadi kau bertelanjang dada begitu?" potong Rin. Biasanya seorang perempuan akan merasa malu ketika melihat seorang lelaki bertelanjang dada, namun... karena sesuatu hal Rin tidak merasa malu.
"Yah... itu tidak penting! Sekarang yang aku mau adalah... tidak sekasur dengan mu!" seru Rin.
"Caranya?" tanya Len. Rin-pun segera menunjuk sofa panjanygyang ada di kamar Len.
"Tunggu, maksud mu kau tidak mau sekasur dengan ku adalah... kau tidur di sofa dan aku di lantai? !" teriak Len kaget.
"Yang pertama benar tapi yang ke dua salah... yang ku maksud adalah, kau dan aku mendorong sofa mu ke dekat kasur mu. Namun masih harus di berikan jarak! Yah, mungkin 30 senti dari kasur mu..." jelas Rin panjang lebar, sementara Len hanya bisa mengangguk saja. Segera saja mereka mendorong/menyeret/menarik sofa panjang Len ke dekat kasur Len.
Ketika sampai di dekat kasur Len, Rin segera menyeret Len ke tempat di mana ia menaruh tasnya tadi untuk mengambil selimut dan 2 bantal kecil. Sementara Len hanya bisa memandang aneh tas Rin yang kecil, namun sanggup memuat beberapa baju dan bahkan selimut dan bantal.
"Oke ayo kita tidur!" seru Rin.
"Hah! ? sekarang baru jam setengah sembilan! Sudah mau tidur? !" seru Len kaget. Ups, salah perkataan.
"Ya, ada masalah?" tanya Rin dengan suara horor dan muka horor yang membuat Len membatu.
"Ti-tidak"
"Bagus..." setelah mengatakan itu Rin menyeret Len yang masih membatu dan mendorongnya hingga jatuh ke kasurnya.
"Aduh!" erang Len.
"Selamat malam... zzzzz" ucap Rin langsung tertidur pulas. Sementara Len hanya bisa memandang sebal Rin. Dan segera memutuskan untuk tidur juga.
Pukul 00.00~
"Ru-sensei..." panggil Rin. Dan tiba-tiba saja ada sesosok anak perempuan berbadan pendek dan berambut pendek berantakan yang terlihat jauh lebih muda dari usianya.
"Ya?" jawab sosok yang di panggil Ru-sensei itu.
"Ini sudah 'besok' kenapa kami belum terlepas?" tanya Rin langsung.
"Hei-hei, aku memang bilang 'besok' tapi bukan tepat 'besok'" jawab Ru-sensei santai.
"Tapi walau beg..."
"Srek!" ucapan Rin terpotong karena terdengar sesuatu yang bergerak. Reflek Rin mencari sumber suara ketika Rin menengok ke arah Len.
"EH! ?"
Bersambung...
Lynn : hore!
Rin : napa Lynn?
Lynn : aku lulus UN!
Rin : oh...
Lynn : Hei! Kok Cuma 'oh...'
Rin : kan kamu biasanya juga kayak gitu!
Lynn : ukh! Ya sudah lah R & R, please?
Rin : silahkan di flame!
Lynn : jahat! Tapi yah... silahkan di flame asal yang membangun ya?
Len : entah kenapa aku punya firasat jelek untuk chapter selanjutnya nih... ( TT – TT )
