Chapter 7 : WTF? ! Your child? !
Lynn : Oke bales review... *suara serak
To IchigoMei-Chan : oh ya? Ku kira bakal garing, e'e ada yang sampe ngakak kayak gitu... oke thanks atas reviewnya senpai~ next!
To Kyon Kuroblack : uwah... O.o temboknya ancur! Padahal kukira bakal garing, hehe thanks atas reviewnya! Next!
To mikan the childish vampire : uwah... ketawa sampe di bawa ke RSJ? Hebat! *thumbs up! Thanks for the review! Next!
To Kyoura Kagamine : hehehe... aku memang jahat (terutama pada Len) *di tembak Len. Mati... eh! Aku belum selesai! *idup lagi. Oke chap ini udah kupanjangin, chap selanjutnya keknya kembali normal 3000 word kurang (ceritanya aja). Mungkin... next!
To Rika Chan Kagamine : oh ya? Ku kira bakal garing heheh, wuah batuk? Minum obat nieh *nyodorin obat batuk anak.
Lynn : oke selesai balas review...
Rue : kok serak? Haha... badan mu penuh perban karena di tembaki terus sama Len ya?
Lynn : i iya... dis... disclaimer Rue...
Rue : ya...
DISCLAIMER : LYNN NGGAK AKAN MUNGKIN PUNYA VOCALOID.
WARNING : ADA OC, (makin) GAJE, TYPO, MISS TYPO, DLL.
DON'T LIKE? DON'T READ!
AUTHOR BUTA RATE
05.30 a.m
Di depan gerbang Crypton Middle School terdapat sesosok seorang anak kecil yang berdiri tepat di depan gerbang sekolah. Anak kecil itu memakai tas sekolah dasar bewarna merah. Selain itu anak itu terlihat sedikit kesal. Ke dua tangan anak kecil itu terlipat di depan dadanya. Dan anak kecil itu mendengus.
"Huh! Akhirnya sampai juga. Tunggu saja pembalasan ku" guman anak kecil itu sambil menyeringai mengerikan yang mungkin tak pernah di lakukan oleh anak seusianya.
.
.
.
05.35 a.m
Rin POV
Huff... akhirnya aku bisa juga ke makam orang itu. pikir ku sambil berjalan ke belakang sekolah. Sekaligus ke hutan.
Selama ini entah kenapa setiap kali aku mau ke makam orang itu pasti ada pengganggu, yah... ketika pertama kali pindah ke mari Miku menghalangi, lalu Len, dan kemarin Len juga.
"Ha..." hela Rin.
Sementara itu (normal POV)
Aku...
Aku selalu memperhatikan mu semenjak sepuluh tahun yang lalu. Ketika kau bermain dengan si 'kecil' Len. Namun kenapa engkau tak menyadari ke hadiran ku?
Apa kekuatan ku belum cukup untuk 'membunuh' mu? Apa kau hanya mengingin kekuatan yang memiliki darah orang itu? Untuk membunuh mu? Ku mohon jawab lah aku...
Aku...
Aku tahu kau adalah kau yang pernah ke sini sepuluh tahun lalu. Mungkin kita belum pernah bertemu secara langsung. Bahkan berpapasan saja belum pernah. Mungkin karena itulah kau tidak menyadari kehadiran ku ya?
Namun...
Aku semakin yakin nyawa mu akan di ambil oleh si 'kecil' Len. Setelah aku mendengar percakapan mu dengan seseorang di UKS. Mungkin dia itu guru mu ya? Atau mungkin teman mu? Atau mungkin kakak atau adik mu?
Entahlah...
Jika aku berhasil mengalah kan si 'kecil' Len apa kau bersedia menyerahkan nyawa mu pada ku? Namun jika aku mengalahkan si 'kecil' Len sekarang pasti tidak akan menarik. Jadi... aku akan mengalahkan... mungkin membunuhnya setelah seseorang yang kau ajak bicara di ruang UKS mengajari nya.
Ya...
Ini mungkin akan sangat menarik.
"Hahahaha!" tawa nya senang setelah berfikir lama. Namun, tanpa sepengetahuan oang itu ada seseorang lain yang memperhatikannya dari kejauhan.
"Hm... ini akan menjadi sangat menarik, mungkin orang itu juga akan ku bawa dalam pertarungan nyawa ini... jadi, aku bisa memilih siapa yang lebih pantas untuk mengambil nyawa Rin dan menyelesaikan tugas terakhir ku" bisiknya. Namun dalam bisikannya terdengar seperti seseorang yang sangat kecapaian dan teramat sedih.
Rin POV
Ku menengok ke kanan dan kekiri berharap di pagi hari ini tak ada seseorang. Dan ku rasa harapan ku terkabulkan.
"Baiklah tinggal pergi ke hutan dan..."
"Bruk!"
"Eh? !" ujar ku kaget mendengar sesuatu yang jatuh. Ah biarkan saja... biarkan saja... pikir ku sambil berkeringat dingin dan kembali berjalan ke belakang sekolah, alias menuju hutan. Namun...
"Ukh... hu.. sakit..." erang seseorang. Namun dari suaranya aku tahu orang itu adalah seorang anak kecil. Tolong tidak ya? Pikir ku.
"Huaa! Sakit!" erang nya lebih keras. Duh... aku pun menengok ke arah hutan dan ke arah suara tersebut.
"..."
"Maaf Len, lain kali oke?" ujar ku sambil berbalik arah menuju suara itu dan berlari dengan cukup kencang. Sepertinya insting ke ibuan ku tumbuh lagi. Pikir ku sambil terus berlari ke arah suara tersebut. Dan aku pun menemukan sumber suara tersebut.
Seorang anak perempuan yang berambut coklat dikucir dua serta ia memakai sebuah tas sekolah dasar bewarna merah. Itulah yang bisa ku lihat ketika menemukannya. Anak kecil itu terus menangis, mungkin karena terjatuh tadi?
"Hei hei jangan menangis..." ujar ku sambil mendekati anak kecil itu. dan ketika aku berdiri kurang dari satu langkah dari nya aku berhenti dan berjongkok.
"Kalau kau berhenti menangis nee-san akan memperlihatkan sulap" ujar ku tenang. Anak kecil itu yang tadinya menunduk melihat luka di lututnya melihat ke arah ku bingung.
"Lihat ya? Ke dua tangan ku kosong" ujar ku sambil membuka ke dua tangan ku, anak itu mengangguk. Aku pun menepuk-nepuk ke dua tangan ku dan membisikkan sesuatu yang tak mungkin di dengar nya. Tiba-tiba ketika tangan ku menutup sebentar ada setangkai mawar kuning yang keluar begitu saja.
"Tada! Setangkai mawar kuning untuk mu" ucap ku sambil menyerahkan mawar kuning itu ke tangan kanannya. Anak kecil itu terlihat bingung. Namun tangan kirinya menyentuh kelopak mawar kuning itu, mungkin untuk memastikan apakah itu mawar asli atau bukan. Setelah menyentuh mawar itu raut muka anak itu berubah. Tiba-tiba...
"Terima kasih nee-chan!" serunya tiba-tiba hingga membuat ku berdiri karena kaget karena seruannya tadi. Lalu anak kecil itu memeluk ku dengan erat.
"Uwaaa! Di sini gelap sekali nee-chan! Makanya tadi aku jatuh!" keluhnya masih sambil memeluk dan memegang mawar kuning yang kuberikan tadi.
"Iya-iya, ngomong-ngmong siapa nama mu?" tanya ku.
"Yuki, Kaai Yuki! Nee-chan bisa panggil aku Yuki-chan!" seru nya senang. Cepat sekali moodnya berubah.
"Iya-iya, Yuki-chan kenapa datang ke sini?" tanya ku lagi sambil mengelus kepalanya.
"Ano, aku mau ketemu seseorang" jawab nya sedikit ragu-ragu.
"Seseorang?"
"Iya! Orang itu sering meninggalkan aku sendirian di rumah! Makanya aku ke sini untuk balas dendam!" serunya senang? Aduh... anak-anak jaman ini... pikir ku sambil ber-sweat drop.
"Memang nya..."
"Nee-chan! Gendong!" serunya tiba-tiba, memutuskan ucapan ku. Tidak sopan... tapi yah, aku tetap menuruti permohonannya tadi.
"Hup" ujar ku sambil menggendongnya.
"Uwah~ badan nee-chan hangat!" serunya sambil memeluk ku dan membenam kan kepalanya di maafbelahanmaaf dada ku.
"Sayang, dadanya nee-chan kecil!" ujarnya lantang. Mungkin jika di anime atau di manga muncul empat siku di belakang kepala ku menahan marah.
"Jadi..."
"Nee-chan! Aku lapar! Kita makan yuk!" ujarnya memotong perkataan ku. Lagi.
"Iya..." jawab ku sambil berjalan menuju kantin. Ku rasa ini yang di maksud Ru-sensei 'datang tiba-tiba' ya? Ah sudah lah. Aku punya perasaan buruk akan hal ini pula kira-kira apa yang akan terjadi ya? Tanya ku dalam hati. Akupun berjalan menuju kantin.
Len POV
"Hmp... hihi"
"Hyah... hmp!"
"Khu..."
"Khii.."
"Hentikan!" seru ku kesal.
"Kaito! Dell! Kalian tidak boleh tertawa!" seru ku lagi.
"Wah, pagi-pagi sudah semangat begini" ujar seseorang tiba-tiba dari belakang. Reflek ku tengok kebelakang.
"Oh... Mikuo!" seru ku.
"Yo! Kemarin Kaito dan Dell kenapa? Tawa mereka berdua keras sekali" tanya Mikuo penasaran. Haruskah ku jawab? Aku nggak mau citra ku tercoreng lebih dari ini. Untung lah, hp Rin sudah kubanting.
"Itu..."
"Len, ia... ugh!"
"Kalau kau mengatakannya maka katakan selamat tinggal pada dunia BaKaito..." ucapku dengan nada dark sambil memukul perutnya. Sehingga BaKaito jatuh terduduk.
"Kau juga Dell..." ucap ku lagi. Sementara Mikuo hanya bisa sweat drop.
"Hei-hei dari pada kalian berkelahi lebih baik kita ke kantin. Aku lapar! Lagi pula kelas ku berbeda dengan kalian jadi cukup sulit makan dengan kalian di kantin ketika jam makan siang" kata Mikuo panjang lebar.
"Makanya kamu harusnya bisa masuk ke kelas A, bukannya dulu sewaktu kita di sekolah dasar kamu yang paling pintar? Tapi kenapa justru kau di kelas E? Atau kau memang ingin di seni?" tanya BaKaito bertubi-tubi.
"Yah... aku memang sengaja di E. Sekarang aku tidak terlalu suka menjadi terlalu 'pintar' dan lagi pula jika aku tidak ada, bukankah Kaito yang paling pintar?" tanya Mikuo balik. Yah... aku tak mau mengakuinya, tapi walau BaKaito Tablo (tampang bloon) tapi begitu-begitu ia selalu ranking 1 selama 3 semester di sekolah ini, alias selama satu setengah tahun ia selalu di atas ranking ku. Yup, aku selalu ranking dua... sial.
"Woi! Len! Kamu ngapain? ! Ayo ke kantin!" ajak Dell tiba-tiba. Ketika aku menyadarinya mereka sudah jauh di depan ku. Sial aku menyesali kenapa BaKaito yang seperti itu bisa lebih pintar dari ku.
Di kantin~
"Awas!" seru seseorang bertubuh kecil yang sedetik kemudian menubruk ku tepat di maafkebanggaanmaaf ku.
"Eh? Ugh!" erang ku kaget dan reflek memegang maafkebanggaanmaaf ku.
"Argh!" erang ku lagi lebih keras.
"Aduh! Nee-san maaf!" seru seorang anak kecil?
"Yuki-chan! Kamu tak apa-apa?" tanya seseorang yang familiar.
"Eh? Hump! Ternyata si Pret..."
"Slap!" dengan kecepatan cahaya ku tutup mulut Rin dengan ke dua tangan ku sebelum ia mengatakan yang akan mempengaruhi citra ku.
"Jangan ceritakan itu Rin... kalau kau ceritakan... ugh!" ucap ku terpotong karena tiba-tiba di dorong seseorang. Err mungkin dua orang di perut ku dan pundak ku.
"Apa-apa kau! Kenapa kau mengancam Rinrin/Okaa-chan!" seru dua orang bersamaan. Okaa-chan?
"Eh? !" seru aku, Miku, Kaito, Dell dan Mikuo bersamaan. Kaget.
"Okaa-chan?" tanya Miku pada anak kecil itu.
"Apa maksud mu Yuki-chan?" tanya Miku lagi. Jadi anak kecil itu namanya Yuki ya?
"Mulai saat ini Yuzune Rin-san adalah Okaa-chan ku! Jadi mulai saat ini nama ku adalah Yuzune Yuki!" seru nya semangat.
Rin POV
Sudah kuduga seharusnya aku tak membawanya ke sini. Tapi mau bagaimana lagi? Yuki-chan bilang ia lapar. Jadi ku bawa ia kemari. Oke mari kita kembali ke masa lalu sebentar.
Flashback
Akupun berjalan menuju kantin. Tentu dengan Yuki-chan dalam gendongan ku. Ternyata Yuki-chan lumayan berat padahal badannya kecil begini. Ha... seharusnya aku tidak mengikuti apa ke mauannya tadi. Sesalku.
Tanpa terasa kami sudah berada di depan kantin.
"Rinrin! Sini!" panggil seseorang. Ketika aku menengok ternyata yang memanggil Miku yang sedang duduk dengan Gumi, Meiko dan Haku.
"Iya..." jawab ku sekenanya sambil berjalan menuju Miku.
"Uwah... itu siapa Rin? Oi-chan(keponakan) mu?" tanya Meiko tiba-tiba ketika aku sudah dekat dengan meja.
"Yah, anak ini..."
"Aku bukan Oi-channya Nee-chan! Aku Imoutonya!" serunya memotong perkataan ku. Benar-benar deh, apa anak ini tak punya sopan santun? Memotong perkataan orang lain terutama yang lebih tua sangat tidak sopan. Yah mungkin itu dulu, tapi kurasa sampai sekarang juga iya?
"Hah? Imouto? Rin, kamu tak pernah bilang kamu punya Imouto yang seimut ini!" seru Gumi kaget. Aku juga kaget Gumi...
"Yah, buk..."
"Makasih Nee-san!" seru Yuki-chan memotong perkataan ku. Lagi. Sabar Rin sabar...
"Nee-chan! Aku lapar... suapin aku ya?" pinta Yuki-chan dengan puppy eyes.
"Iya-iya asal..."
"Horeee! Nee-chan mau nyuapin aku!" serunya senang. Ugh! Ini sudah yang ke tiga kalinya, Yuki-chan memotong perkataan ku. Sabar Rin sabar...
Akupun segera duduk di samping Meiko yang kebetulan kosong dan ada semangkuk bubur yang masih belum tersentuh. Sepertinya mereka memesankannya untuk ku. Yah, kini aku harus membaginya dengan Yuki-chan.
"Ayo Yuki-chan aa" pinta ku sambil menyuapinya.
"Am! Enak Nee-chan!" ungkapnya senang.
"Wah, Rin sepertinya bakal jadi Okaa yang baik!" ujar Haku tiba-tiba. Yah, kalau di katakan begitu juga... sebenarnya aku bukanlah ibu yang baik.
"Ah tidak ju..."
"Benar! Nee-chan pasti jadi Okaa yang baik!" seru Yuki-chan memotong perkataan ku untuk yang kesekian kalinya. Tiba-tiba...
"Nee-chan! Kita main kejar-kejaran yuk!" ajaknya tiba-tiba.
"Eh? Tunggu Yuki-chan!" seru ku kaget dan spontan mengejar Yuki-chan.
"Rin! Tunggu!" seru Miku kaget dan juga spontan mengejar ku yang mengejar Yuki-chan. Tiba-tiba aku mendengar Yuki-chan berteriak.
"Awas!"
End flashback
Dan... di sinilah kami menatap Yuki-chan kebingungan. Dan lagi aku juga belum mengatakan siapa nama ku. Yah, mungkin Yuki-chan tahu nama ku adalah Rin dari seruan Miku tadi, dan dari perkataan Gumi dan Haku. Tapi, aku belum pernah mengatakan padanya apa nama belakang ku. Yah, ini akan jadi misteri tersendiri untuk ku. (Rin : atau Lynnnya aja yang sableng Lynn : Hei!)
"Yuki-chan! Kamu..."
"Okaa-chan mau kan jadi Okaa-chan ku?" tanya Yuki-chan tiba-tiba memotong perkataan ku lagi untuk yang entah kesekian kalinya.
"Yuki-chan aku..."
"Tunggu dulu! Rin tidak mungkin mau jadi Okaa-san mu!" seru Len tiba-tiba. Yang mungkin menyulut kemarahan Yuki-chan? Dan memotong perkataan ku. Ha...
"Apa kata mu? ! memang kamu itu siapanya Okaa-chan? !" balas Yuki-chan lantang.
"Aku...! ah itu tidak penting! Yang penting kamu itu siapanya Rin hah? Kamu saja tidak mirip dengan Rin!" balas Len lantang. Ini... pertarungan anak kecil?
"Sudah aku bilang! Aku ini anaknya Okaa-chan! Aku memang tidak mirip dengannya, tapi bukan berarti Okaa-chan bukan Okaa-chan ku!" balas Yuki-chan.
"Hei-hei kalian ini jangan..." relai Mikuo-kun? Oh iya kalau tidak salah nama memang Mikuo-kun. Tetapi...
"Diam!" bentak Yuki-chan dan Len.
"O oke..." jawab Mikuo-kun lemah.
Sementara Yuki-chan dan Len masih saling membentak.
"Bla bla bla bla!"
"Ano..." ucap ku lemah.
"Wa waa waaa!"
"Hei..." ucap ku lemah lagi.
"Kamu itu...!" cukup sudah!
"DIAM!" seu ku lantang yang membuat Miku yang asik melihat pertarungan Yuki-chan dan Len berhenti dan menoleh kepada ku. Tentu saja Kaito, Dell dan Mikuo-kun ikut menoleh. Dan tentu dua orang biang keladi kemarahan ku menoleh pada ku. Namun sepertinya beberapa siswa yang lewat ikut melihat ku.
"Kalian... aku tak peduli dengan apa yang kalian berdua perdebatkan. Tapi saat ini yang aku mau adalah... kalian berdua diam" ucap ku dengar aura dark dan mata ku yang kubuat mengerikan, sehingga kulihat Yuki-chan dan Len sampai menelan ludah ketakutan.
"Ting tong ting!" bel pun berbunyi. Sial aku bahkan belum sarapan. Dan nasib yang sama sepertinya menimpa Len, Kaito, Dell dan Mikuo-kun. Ah terpaksa nanti aku makan 'angin' saja. Pikir ku.
"Ya sudah... ayo kita ke kelas masing-masing" ujar Miku lemah yang di setujui Len, Kaito, Dell dan Mikuo-kun. Sementara Yuki-chan tiba-tiba...
"Bruk!" berlari kearah ku dan minta di gendong. Lagi.
"Huee... Okaa-chan gendong!" pintanya sambil berlinang air mata? Terpaksa ku turuti perkataannya. Dan ku gendong Yuki-chan.
"Tapi... Yuki-chan nanti harus bisa diam ketika berada di kelas ya?" tanya ku dengan menekan kata harus. Sementara Yuki-chan hanya bisa mengangguk lemah.
"Anak itu mau di bawa ke kelas mu Yuzune-san?" tanya Mikuo-kun tiba-tiba.
"Iya... terpaksa juga sih. Dan Mikuo kau bisa panggil aku Rin" jawab ku santai sambil berlalu menuju kelas bersama Miku yang dari tadi diam membisu.
Ketika kurasa sudah cukup jauh dari kantin aku pun mulai memecah keheningan antara aku dan Miku.
"Hei Miku, tadi itu..."
"Mikuo Hatsune, dan ya dia sepupu ku" jawab Miku cepat.
"Kenapa Miku? Biasanya kamu senang mendeskripsikan seseorang" tanya ku bingung.
"Entahlah, walau kami ini sepupu entah kenapa keluarga Mikuo sangat tertutup. Aku juga tidak tahu kenapa... tapi, beberapa tahun yang lalu Oji-san dan Oba-san tiba-tiba saja meninggal" jawab Miku aneh.
"Tiba-tiba?"
"Ya, tiba-tiba. Entahlah aku tak bisa bilang. Eh? Kita sudah di depan kelas lo" ujar Miku mengalihkan pembicaraan. Oh iya aku lupa menanyakan apa tujuan Yuki-chan kemari, ah nanti saja. Ku harap Yuki-chan tidak memotong perkataan ku. Pikir ku sambil berjalan ke bangku ku dengan pandangan aneh yang tertuju pada dada ku. Yaitu Yuki-chan.
"Hah hah... untung tidak belum terlambat" ujar seseorang tiba-tiba. Kaito? Dan ya, Len, Kaito dan Dell sepertinya habis berlari menuju kelas. Mungkin takut terlambat? Mungkin juga karena pelajaran pertama hari ini adalah IPA. Yang berarti gurunya adalah Kiyoteru-sensei. Ah, perasaan buruk nih. Pikir ku sambil berkeringat dingin.
"Okaa-chan! Kok, Okaa-chan nggak duduk-duduk sih?" tanya Yuki-chan tiba-tiba. Aku pun tersadar kalau aku masih berdiri tepat di depan bangku ku.
"Oh iya, jadi Yuki-chan kamu..." ujar ku sambil duduk.
"Kenapa kau di sini hah? Anak kecil" ujar Len yang tiba-tiba sudah duduk di bangku sebelah ku. Dan memotong perkataan ku. Ukh! Apakah hari ini aku sedang sial? Hampir semua perkataan ku di potong terus!
"Suka-suka aku wekk" balas Yuki-chan seenaknya.
"Kau...!"
"Baik anak-anak sensei punya pengumuman hari i... ni? Loh, Yuki-chan? !" seru Kiyoteru-sensei kaget.
"Eh? Oji-chan!" balas Yuki-chan kaget. Hah? Oji-chan?
"Yuki-chan! Kenapa kamu ada di sini!" bentak Kiyoteru-sensei sambil berjalan ke arah ku, atau lebih tepatnya ke arah Yuki-chan.
"Suka-suka aku Oji-chan! Wekk! Oji-chan juga sih! Jarang pulang!" balas Yuki-chan.
"Sudah berapa kali ku bilang panggil aku otou-san!" balas Kiyoteru-sensei sambil menarik Yuki-chan dari pelukan ku. Namun Yuki-chan memberontak dengan memeluk ku lebih erat sehingga aku jadi susah bernafas.
"Yuki-chan! Lepaskan Yuzune-san!"
"Nggak! Sekarang dia jadi Okaa-chan ku!" bentak Yuki-chan sambil memeluk ku lebih erat. Kurasa muka ku membiru... sementara teman-teman yang lain hanya bisa cengo melihat kejadian luar biasa ini. Tiba-tiba...
"Anak kecil! Lepaskan Rin! Dia sudah kehabisan nafas!" bentak Len sambil menarikku ke belakang. Namun Yuki-chan masih memeluk ku dengan erat err terlalu erat.
"NGGAK! Kalau aku lepaskan nanti... nanti... huu" ujar Yuki-chan mulai menangis? Ku rasakan tangan Len melepaskan pegangannya pada ku, sementara tangan Kiyoteru-sensei melepaskan badan Yuki-chan.
"Huu uh... hu..." tangis Yuki-chan.
"Yuki-chan..." kata ku berusahan menenangkan namun...
"BERCANDA! OKAA-CHAN! KABUR!" teriak Yuki-chan sambil turun dari pangkuan ku dan menarik tangan kanan ku serentak. Dan segera berlari menuju pintu dan menghilang dari pandangan teman-teman sekelas yang masih cengo serta diam seribu kata.
Miku POV
"BERCANDA! OKAA-CHAN! KABUR!" teriak Yuki-chan sambil turun dari pangkuan Rin dan menarik tangan kanannya serentak. Dan segera berlari menuju pintu dan menghilang. Eh? Rin di culik? Aku sama sekali tak bisa berkata apapun selama pertengkaran antara Kiyoteru-sensei dan Yuki-chan. Aku Cuma bisa cengo...
Dan... saat ini kelas ini mengalami yang namanya awkward silents... ah aku harus memecahkannya!
"Kiyoteru-sensei..." ujar ku tiba-tiba. Sehingga membuat Kiyoteru-sensei yang bengong kaget.
"Tadi... Kiyoteru-sensei bilang kalau Yuki-chan itu... anak Kiyoteru-sensei?" tanya ku hati-hati, Kiyoteru-sensei hanya bisa menghela nafas dan menjawab.
"Yah... lebih tepatnya anak Nee-san ku yang sudah lama meninggal semenjak Yuki-chan lahir. Aku dimintanya untuk menjaga Yuki-chan" jelas Kiyoteru-sensei pendek.
"Lalu... kenapa Yuki-chan sepertinya marah pada Kiyoteru-sensei?" tanya ku lagi.
"Karena... sensei jarang pulang ke rumah, makanya Yuki-chan marah. Dan... karena itulah sensei memutuskan untuk berhenti bekerja jadi sensei di sekolah ini dan akan membuka cafe di kampung halaman Yuki-chan lahir" jawab Kiyoteru-sensei sedikit sedih. Begitu... mudah-mudahan saja Rin bisa menenangkan hati Yuki-chan.
"Jadi, pengumuman yang tadi Kiyoteru-sensei mau bilang ini ya?" tanya Kaito bodoh. Sementara Kiyoteru-sensei hanya bisa mengangguk.
"Ah, sensei permisi dulu ya? Sensei mau mencari Yuzune-san dan Yuki-chan" ujar Kiyoteru-sensei sambil berjalan ke pintu.
"Dan... terima kasih atas segalanya, setelah sensei bertemu dengan Yuki-chan. Sensei akan langsung pergi ke kampung halaman Yuki-chan" ujar Kiyoteru-sensei sebagai tanda perpisahan dan segera pergi ke luar kelas.
Rin POV
"Yuki-chan... kenapa kamu marah pada Kiyoteru-sensei?" tanya ku langsung, sementara Yuki-chan masih kelelahan karena capek berlari tadi. Kini aku dan Yuki-chan berada di atap sekolah. Angin keras mulai menerpa kami berdua.
"Yuki sebal sama Oji-chan karena Oji-chan lebih mementingkan pekerjaannya dari pada Yuki" jawab Yuki-chan sambil menunduk. Aku pun berjalan ke depan hadapan Yuki-chan dan berjongkok, lalu dengan kedua tangan ku, ku hadapkan muka Yuki-chan ke muka ku.
Ku tatap dalam-dalam mata Yuki-chan sementara Yuki-chan hanya bisa kebingungan.
"Yuki-chan... Kiyoteru-sensei itu bukan tipe orang yang lebih mementingkan pekerjaannya"
"Buktinya apa?" tanya Yuki-chan.
"Kemarin, ketika aku dan Len 'kecelakaan' Kiyoteru-sensei memberitahukan keadaan kami pada seluruh sensei yang lain agar sedikit di longgarkan dalam pelajaran. Dan ya, kami berdua sedikit di longgarkan" ujar ku sedikit berbohong. Kiyoteru-sensei memang mengatakan keadaan kami berdua namun tidak meminta agar di longgarkan sih...
"Benarkah?" tanya Yuki-chan tak percaya. Aku hanya bisa mengangguk dan memberikan senyum hangat. Ah... seandainya aku bisa memberikan senyum ini pada anak ku dan Len. Pikir ku dalam hati, sedikit sedih. Tiba-tiba...
"Yuki-chan!" seru Kiyoteru-sensei lega, sementara Yuki-chan hanya bisa memalingkan mukanya pada Kiyoteru-sensei.
"Oji-chan..." ucap Yuki-chan lemah.
"Syukurlah Yuki-chan tak apa-apa!" seru Kiyoteru-sensei lagi sambil memeluk Yuki-chan hangat.
"Yuki-chan... sekarang Kiyoteru-sensei akan selalu menemani Yuki-chan!" seru Kiyoteru-sensei lagi di sambut senyum senang Yuki-chan.
"Benarkah? Horee!" seru Yuki-chan senang.
"Ayo kita pergi Yuki-chan, dan terima kasih Yuzune-san" ujar Kiyoteru-sensei, sementara aku hanya mengangguk.
"Okaa-chan nggak mengantar?" tanya Yuki-chan.
"... aku akan mengatar Yuki-chan dengan bunga yang jatuh" jawab ku yang di sambut tatapan bingung Kiyoteru-sensei dan Yuki-chan.
"Nanti kalian akan lihat di depan gerbang" kata ku lagi sambil melambaikan tangan. sementara Yuki-chan hanya bisa tersenyum lemah.
Normal POV
Setelah beberapa menit Kiyoteru-sensei dan Yuki-chan sampai di depan gerbang sekolah, sementara ada beberapa sensei dan murid yang mengatar mereka dan tatapan sedih para murid yang mengantar kepergian Kiyoteru-sensei dari dalam kastil sekolah. Tiba-tiba saja terdengar seruan seseorang dari atas kastil itu.
"Yuki-chan! Kiyoteru-sensei!" serunya sambil melambaikan tangan kanannya dan sebuah sapu tangan putih di tangan kanannya itu. Dengan sekali gerakan orang itu atau Rin meremas sapu tangannya dan membukanya.
Dari dalam sapu tangan itu keluar sejuta kelopak mawar kuning, mungkin juga lebih. Dan seketika angin keras berhembus sehingga kelopak mawar kuning bertebaran dengan indah seperti hujan yang turun dari langit.
Melihat hal itu banyak yang berseru kagum dan bertanya-tanya siapa yang melakukan sulap itu. Yah mungkin tak kan ada yang percaya kalau sebenarnya itu bukanlah sulap.
Sementara itu Yuki-chan yang melihat hanya bisa merona melihat 'keajaiban' ini, hingga setangkai mawar kuning jatuh di kepalanya.
Dengan hati-hati di ambilnya kelopak mawar itu dan diamatinya dengan mata yang teramat bahagia. Melihat hal itu Kiyoteru-sensei tersenyum sambil berterima kasih pada Rin yang membuat Yuki-chan tersenyum seindah itu dan melupakan tujuan pertamanya datang ke sekolah itu. Tiba-tiba..
"Aku sudah putuskan..." ucap Yuki-chan lemah.
"Eh?"
"Suatu saat nanti Okaa-chan akan jadi suami ku!" ujarnya senang. Sementara orang-orang yang sedang menikmati keindahan di depan mata mereka terusik dan hanya bisa ber-sweat drop saja. Dan berfikir dengan serempak ketika mendengar perkataan Yuki-chan tadi yaitu... 'YURI!' pikir semua yang mendengar termasuk yang merasa di panggil itu.
Akhirnya setelah itu mereka berdua pun pergi. Menghilang dari hadapan seluruh orang yang menatap Yuki-chan aneh.
Skip time~ (setelah makan siang)
"Srek..."
"Ah kenyangnya!" seru Kaito senang namun begitu masuk ke dalam kelas terdapat aura yang dark? Sedih? Marah? Shock? Kecewa? Ketika Kaito yang di ikuti Len dan Dell di belakangnya melihat ke pojok kiri kelas terdapat Rin yang sedang duduk memundungkan dirinya sambil berkata...
"Aku gagal sebagai orang tua... Aku gagal sebagai orang tua... Aku gagal sebagai orang tua... Aku gagal sebagai orang tua..." ucapnya berkali-kali seperti boneka yang telah rusak. Sementara yang melihatnya hanya sweat drop saja melihat kelakuan Rin yang seperti itu sampai jam makan malam tiba.
Skip time~
00.00 a.m
"Uh... aku tak bisa tidur" ujar seseorang sambil berjalan-jalan di lorong sekolah itu, atau mungkin lebih tepatnya kastil itu.
Tiba-tiba terdengar bunyi piano dari kejauhan membuat orang yang tidak bisa tidur itu kebingungan. Namun orang itu tak memperdulikannya, ia terus saja berjalan-jalan tanpa memperdulikan alunan piano itu yang sebetulnya memiliki makna :
'Sihir mu...
sangat indah...
aku...
sangat menyukainya...
tidak lebih,
aku mencintainya...
jadi...
maukah kau jadi milik ku untuk selamanya?'
Bersambung...
Lynn : Huff... ini chapter terpanjang yang aku buat! Tapi karena ada reader yang request maka ini lah jadinya! *udah sembuh
Rin : ah... chapter ini kok rasanya aku ke ibuan banget?
Lynn : iya, sengaja untuk chapter selanjutnya hehe...
Rin : hoya?
Lynn : oh iya Rin, sebenarnya aku bosen liat kamu mati terus!
Rin : hah?
Len : apa maksud mu Lynn?
Lynn : yah... mohon cek blog ini kau akan tahu! tastetherinbow . Blogspot 2011 / 01 / how - about - we - tally - up - those - deaths . html (hilangkan spasi! Dan blog ini bukan milik Lynn! tambahkan dot . dan com sendiri serta garis miring di antara com dan 2011)
Lynn : oke... Rin! Minta R dan R!
Rin : ok minna~ R n R plis!
