Chapter 8 : Now what?
Lynn : bales review!
To IchigoMei-Chan : hehe... aku memang sengaja, but thanks for the review! Selanjutnya!
To Kyouko-nyan Kawaii Neko : oh ya? Gak papa, tapi... Thanks for the review! Eh Typo? Oke aku cari. Oke, next!
To Kyon Kuroblack : hehe iya... oh ya aku bukan penggemar Yuri lo XC waktu itu kebetulan lagi nonton tv tau-tau ajah kepikiran hehe, wah entah lan Kyon ntar juga tau... oke next!
To mikan the childish vampire : yup! Makasih! XD sori telat hehe Next!
To Akuma no ShiroYuri-Chan : enggak apa-apa kok kalo soal itu bener hehe... kebetulan lagi nonton kamichama karin terus kumasukin ajah hehe... wah bener? Hati-hati setelah chap ini err setelahnya lagi adegan gorenya meningkat. Oke next!
To Rilianda Abelira : ow baru ya? *sweat drop. Oh ya? Thanks banget! Yang mainin sih... kau akan tahu di chap ini klo yang nggak bisa tidur... yang kubuka aja dah! Itu Rin hehe Next!
To Kyoura Kagamine : haha... Yuki! Minta maaf! Yuki : maafkan aku! Oke... Yuki udah minta maaf ini update nih!
Lynn : Huff... bales selesai! Sekarang... maaf yang udah nunggu! Dua minggu ini aku lagi sibuk sama pengajian yang diadakan di rumah ku dan aku yang pergi ke jogja! Jadi nggak bisa ngetik deh... dan aku baru tahu kalo rate M itu buat umur 16 lebih, tapi akan ku pertahankan! Karena dua chap lagi adegan berdarahnya akan meningkat! Mungkin chap berikutnya juga ada.
Rin : ... terserahlah yang penting ngetik sono!
Lynn : iya iya, disclaimer dulu dong! *sambil ngasih kertas disclaimer
DISCLAIMER : LYNN NGGAK AKAN MUNGKIN PUNYA VOCALOID.(mahal sih)
WARNING : ADA OC, (makin[lebih]) GAJE, TYPO, MISS TYPO, DLL.
DON'T LIKE? DON'T READ!
"Ru-sensei..."
"Ya?"
"... Rasanya menjadi orang tua itu bagaimana?"
"... Yah, rasanya... aku tak bisa jelaskan, karena... rasa senang, haru, dan sebagainya bercampur menjadi satu, lagi pula kau kan pernah menjadi orang tua walau hanya sebentar... Rin"
"... Ru-sensei benar, tapi aku tak pernah benar-benar merasa menjadi orang tua yang baik karena, yah Ru-sensei tahu... baru satu minggu aku... tidak kami menjadi 'orang tua' kami meninggalkannya"
"Itu bukan salah mu Rin toh kamu setidaknya bisa melihat anak dari anaknya anak mu itu, Rin..."
"Huff... Ru-sensei benar, aku memang cukup bersenang-senang dengannya, namun dia harus menjalankan 'warisan' dari Len. Len juga tidak salah aku bisa sampai ke sini karena dia"
"... Rin, sudahlah"
"... Baiklah, jadi apa yang akan datang tiba-tiba Ru-sensei?"
"Itu..."
Normal POV
"Rin! Sini-sini!" panggil Gumi sambil melambaikan tangannya. Rin yang melihat hal itu segera mendatangi Gumi dan bertanya.
"Ada apa Gumi?"
"Coba lihat poster ini!" seru Meiko tiba-tiba sambil menunjuk sebuah poster yang bergambar dua orang yang sedang menari.
"? Apa ini?" tanya Rin sambil membaca isi poster
BESOK MALAM
PUKUL : 08.00 p.m – 00.00 a.m
AKAN DIADAKAN PESTA DANSA DI :
AULA SEKOLAH
OLEH KARENA ITU PELAJARAN AKAN DI KOSONGKAN UNTUK :
LATIHAN DANSA DI GEDUNG OLAHRAGA HARI INI DAN BESOK PUKUL :
09.00 a.m-14.00 p.m
DAN
PARA SISWA DI PERBOLEHKAN PERGI KE KOTA UNTUK MEMINJAM/MEMBELI GAUN ATAU TUKSEDO
SETELAH LATIHAN DANSA TENTUNYA
'Seperti perkataan Ru-sensei' batin Rin.
"Aduh... masa' pesta dansa diadakan sekarang sih?" keluh Haku.
"Tidak juga, kau lupa ya? Setiap tiga tahun sekali sekolah ini mengadakan pesta dansa dadakan di tengah-tengah semester, tapi itu lah repotnya kita harus ke bisa berdansa kalau tidak yah... akan memalukan" tutur Gumi lesu.
"Baiklah! Dari pada lesu ayo kita pergi ke kota! Agar tidak ke duluan yang lain!" ujar Miku tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanya Meiko.
"Ya tentu saja untuk meminjam gaun untuk pesta dansa!" kata Miku semangat.
"Em... kurasa itu tak perlu Miku, aku..."
"Eh? Rin nggak mau ikut pesta dansa?" sangka Miku.
"Bukan itu! Maksud ku untuk urusan gaun kalian bisa meminjamnya dari ku" ujar Rin.
"Hah?"
"Aku punya kenalan yang punya butik gaun khusus untuk pesta dansa, topeng bahkan pernikahan, jadi... kalian tak perlu susah-susah pergi ke kota. Nanti setelah latihan kalian pergi saja ke kamar ku nanti aku akan perlihatkan beberapa foto gaun yang di miliki kenalan ku itu. Mungkin ada yang cocok" jelas Rin panjang lebar.
"..." untuk beberapa saat, Miku, Meiko, Gumi dan Haku saling berpandangan satu sama lain sampai akhirnya...
"Oke!" seru mereka kompak.
"Jadi... sekarang kita mau kemana? Masih satu jam lagi sebelum latihan di mulai!" tanya Gumi semangat.
"Bagaimana kalau kita lihat gaunnya sekarang?" tanya Haku.
"Jangan! Tanggung! Nanti saja setelah latihan dansa lebih leluasa!" cercah Miku.
"Hah... Memangnya untuk memilih gaun saja perlu sampai berjam-jam?" tanya Meiko.
"Iya! Mungkin untuk mu hanya perlu 30 menit tapi untuk ku mungkin sampai lima jam untuk mencari gaun yang sempurna dari yang tersempurna!" seru Miku dengan semangat. Mungkin di mata Rin, Meiko, Gumi dan Haku dapat terlihat api yang membara di belakang Miku dan di mata Miku.
"... Aku tak tahu dengan kalian, tapi aku mau ke perpustakaan dulu" ujar Rin tiba-tiba sambil membalikkan badannya dan pergi begitu saja.
"... Belakangan Rin kok agak menyendiri ya?" tanya Gumi tiba-tiba.
"Benar juga, kemarin malam juga, kita tidak melihat Rin di kantin" kata Haku sambil melihat ke atas sambil mengingat-ngingat.
"Mungkin karena Rin merasa ia bukan 'orang tua' yang baik. Kalian tahu? Ketika jam makan siang ia tidak ke kantin karena merasa membuat Yuki-chan jadi seorang yuri" celetuk Miku asal.
"Tidak bukan itu Miku, Rin... mata Rin belakangan selalu memandang jauh. Entah apa yang ia pikirkan tapi, rasanya dari pantulan matanya terasa... yah terasa amat sagat capek... dan mungkin juga merindukan seseorang" jelas Meiko. Sementara Miku hanya ber ohh saja.
Di perputakaan~
"Ru-sensei..." panggil Rin di sudut mati perpustakaan.
"Ya?"
"Aku akan gunakan sedikit kekuatan sihir ku, boleh?" tanya Rin langsung.
"Hei-hei itu kekuatan sihir mu jadi terserah kamu, mau di gunakan atau tidak juga terserah kamu" tutur Ru-sensei.
"Jadi... mau di gunakan untuk apa?" tanya Ru-sensei.
"Yah... harusnya Ru-sensei sudah tahu, apa lagi dengan mata kiri Ru-sensei"
"Hei... mata kiri ku ini sudah pernah di ambil dan di 'kembalikan' dengan kasar sehingga kekuatannya tidak sekuat dulu. Dan lagi... aku juga melemah sehingga aku hanya melihatnya sekilas" jelas Ru-sensei.
"... Bukankah Ru-sensei itu iblis? Berbeda dengan ku yang immortal ini" tanya Rin lagi.
"Aku memang iblis. Lebih tepatnya setengah sih, tapi aku sedang menjadi roh. Sehingga kekuatan ku melemah, sedikit sih... lagi pula setelah menemani mu menemui ajal mu, aku masih punya tugas terakhir. Baru setelah itu aku bisa kembali ke tubuh ku dan pergi ke dunia iblis" jelas Ru-sensei lagi.
"Ru-sensei enak ya? Ru-sensei sebenarnya adalah putri dunia iblis kan? Sementara aku? Dulu mungkin iya walau bukan sebagai immortal, sekarang? Aku hanya seorang immortal yang kesepian"
"Hei-hei kau melakukan 'itu' karena bangsa immortal melanggar janji mereka pada bangsa manusia. Dan lagi, aku akan selalu menemani mu Rin... dan lagi Rin, menjadi iblis juga tidak seenak immortal. Maksud ku kami bangsa iblis hidup lebih lama namun, ketika kami mati maka tempat kami sudah jelas di mana..." ujar Ru-sensei sedikit sedih?
"Maaf" ujar Rin tiba-tiba.
"Tak apa... coba lihat waktunya, kau harus ke gedung olahraga kan?" tanya Ru-sensei mengalihkan pembicaraan.
"... ya, terima kasih Ru-sensei" ujar Rin sambil berlalu. Biasanya Ru-sensei akan langsung menghilang. Namun entah kenapa ia merasa ingin tinggal di perpustakaan yang dulunya adalah ruangannya untuk mengajari sihir itu. Ya... semua berubah dengan amat sangat cepat.
"Ngomong-ngomong soal cepat... kau juga datang dengan cepat ke sini begitu tahu Rin ke sini" ujar Ru-sensei pada seseorang yang sepertinya sudah mendengar percakapan antara Rin dan Ru-sensei.
"Yah... kau menyadarinya, hebat sekali kau" ujarnya sambil bertepuk tangan.
"Huh, seharusnya aku yang bilang itu pada mu. Wahai Mikuo si penyihir terakhir" ujar Ru-sensei dengan nada yang seolah mengejek.
"Huh" Mikuo pun mendengus kesal karena di ejek.
"Tapi, yang terpenting adalah... Akan kupastikan kalau akulah yang akan mengambil nyawa Rin bukan Len" ujarnya dengan nada seductive.
"... terserah kau, mungkin kau berfikir kalau kau 'membunuh' Rin maka kekuatannya akan mengalir ke diri mu tapi itu salah, kekuatannya tidak akan mengalir sedikit pun ke dalam diri mu" tegas Ru-sensei.
"Kau salah. Aku melakukannya murni karena aku ingin membebaskan dirinya dari penderitaan. Lagi pula Otou-san sering menceritkan tentangnya walau hanya sedikit karena... yah, Rin atau kamu kan? Yang menghapus keberadaan dan ingatan tentang bangsa immortal?" tanya Mikuo.
"Ho... lumayan juga untuk anak muda seperti kau... tenanglah beberapa hari lagi akan ku perlihatkan masa lalu Rin. Jadi tunggu saja..." ujar Ru-sensei sambil tiba-tiba menghilang.
"Cih... dia sudah pergi" umpatnya kesal.
Di gedung olahraga~
Di saat yang sama Rin sudah sampai ke gedung olahraga dan sedang membuka pintu masuk gedung olahraga. Rin pun menengok ke kanan dan ke kiri mencari Miku dan lainnya. Miku yang melihat itu segera berseru. Namun di dekat Rin ternyata ada Tei dan Neru yang memandangi Rin dengan tatapan mengejek.
"Oh... itu Rin! Sini! Sini!" seru Miku sambil melambaikan tangan ke arah Rin. Rin yang melihat hal itu segera datang ke arah Miku dan yang lain. Namun Neru mengulurkan kakinya agar Rin terjatuh namun...
"Duk!"
"Aduh! Ittai!" seru Neru kesakitan sambil memegangi tumit kakinya yang diinjak Rin. Mendengar hal itu Rin segera menengok dan memberikan tatapan kebingungan namun datar. Dan segera pergi meninggalkan Neru yang kesakitan serta Tei yang berusaha menenangkan Neru.
"Hei Miku, Gumi, Haku, Meiko... latihannya belum mulai?" tanya Rin sambil duduk di sebelah Gumi yang kosong.
"Iya... senseinya belum datang" jawab Meiko sebal dan di saat yang sama pintu masuk gedung olahraga terbuka. Dan masuk lah : Gakupo-sensei, Luka-sensei dan seorang wanita berambut pirang bergelombang.
"Maaf anak-anak kami terlambat" seru Gakupo-sensei sambil mepersilahkan wanita berambut pirang bergelombang duduk dan di sambut tatapan jengkel Luka-sensei.
"Nah seperti yang kalian lihat wanita can... tik ini yang akan mengajari kalian menari" kata Gakupo-sensei yang sempat terputus karena tatapan membunuh dari Luka-sensei sementara para murid ber-sweat drop.
"Nah anak-anak perkenalkan nama saya Ann. Sweet Ann, kalian bisa memanggil saya Ann-sensei" seru Ann-sensei memperkenalkan diri yang di sambut hangat para siswa terutama yang laki-laki.
"Oke... kita langsung saja ya... Gakupo-sensei tolong jadi pasangan saya" ajak Ann-sensei yang di sambut tampang merah Gakupo-sensei dan death glare dari Luka-sensei. Namun bukan untuk Ann-sensei namun pada Gakupo-sensei yang sudah berfikir aneh-aneh.
Ann-sensei pun segera menautkan tangan kanan dan kirinya ke kedua tangan Gakupo-sensei, sementara aura di sekitar Luka-sensei memanas, sampai-sampai beberapa murid yang ada di sekitar Luka-sensei kepanasan dan berkeringat. Bahkan ada beberapa siswa yang melihat api di belakang Luka-sensei.
"Baiklah~ tolong musiknya" pinta Ann-sensei yang beberapa detik kemudian keluar lagu klasik khusus untuk acara dansa seperti ini. (Dansa Waltz)
"Baik anak-anak perhatikan sensei ya?"
"Ya Ann-sensei!" seru para murid serempak.
"Baik pertama-tama sebagian badan kita, para wanita bagian kanan berhadapan dengan sebagian badan pria bagian kanan" jelas Ann-sensei sambil memposisikan dirinya seperti yang di jelaskannya tadi. Sementara Gakupo-sensei sendiri mukanya sudah memerah, semerah darah.
"Karena... agar kalau melangkah maju atau mundur kaki tidak saling menginjak. Kecuali jika orang itu benar-benar baru tehe... Nah pada posisi terbuka, badan kedua penari berjarak sekitar 50 cm. Tolong Gakupo-sensei di tarik sedikit badannya" jelas Ann-sensei sambil menarik badannya, begitu pula Gakupo-sensei.
"Lalu, kedua tangan berpegangan dengan siku sedikit di tekuk dan telapak tangan setinggi bahu. Setelah itu posisikan badan kita 'tertutup'" jelas Ann-sensei lagi sambil merapatkan tubuhnya ke Gakupo-sensei sehingga maafdadamaaf Ann-sensei menempel ke dada Gakupo-sensei.
'E... empuk...' pikir Gakupo-sensei mesum.
"Sebaiknya posisi ini di pilih jika sudah bersuami-istri ya? Oh ya maaf ya Gakupo-sensei?"
"I iya..." jawab Gakupo-sensei, sementara itu ada beberapa siswa yang pindah tempat duduk karena api (?) yang berkobar hebat di belakang tubuh Luka-sensei.
"Waltz memiliki hitungan satu, dua, tiga! Dengan ritme lambat-cepat-cepat, pada hitungan pertama, lutut sedikit di tekuk sehingga badanpun turun. Pada hitungan ketiga lutut di luruskan seperti ini, sehingga badanpun naik. Jika melangkah ke samping, badan juga mengayun ke samping. Dengan demikian gerakat Waltz berupa gerakan swing, alias ayunan turun-naik dan kanan-kiri" jelas Ann-sensei sambil berayun-ayun serta ke kanan dan ke kiri sehingga secara otomatis Gakupo-sensei mengikuti namun...
"Aduh! Gakupo-sensei tolong lebih hati-hati" tegur Ann-sensei.
"Oh maaf, saya rasa saya tak bisa berhati-hati jika berdansa dengan wanita secantik anda" goda Gakupo-sensei.
"Ah, anda bisa saja" jawab Ann-sensei. Sementara, beberapa siswa sudah sepuluh meter dari Luka-sensei yang apinya sudah sepanas 1000 derajat lebih.
"Dan... pada Waltz yang bergerak adalah badan bagian atas, sehingga tidak boleh ada goyangan pada bagian pinggul. Baiklah... setelah ini lihat Ann-sensei dan Gakupo-sensei ya? Karena setelah ini akan sulit di jelaskan. Anda siap Gakupo-sensei?" tanya Ann-sensei. Namun...
"Ng? Kok ada sesuatu yang basah di kepala sensei?" tanya Ann-sensei pada dirinya sendiri, dan ketika ia melihat darah yang mengalir deras dari hidung Gakupo-sensei.
"Kyaa! Gakupo-sensei!" spontan Ann-sensei melepaskan tangannya sehingga badan Gakupo-sensei yang (sudah) pingsan jatuh dengan indahnya. Sontak Luka-sensei yang melihat itu segera berlari ke tubuh Gakupo-sensei.
"Aduh, maaf Ann-sensei Gakupo-sensei akan saya bawa ke UKS" kata Luka-sensei sambil memegangi pipi Gakupo-sensei.
"Ba baiklah, perlu bantuan?" tawar Ann-sensei namun Luka-sensei memberika senyum yang berarti...
"Tidak perlu"
"Tapi bagaimana... ah sudahlah" ujar Ann-sensei tak jadi karena melihat Luka-sensei membawa Gakupo-sensei ke UKS dengan hanya menarik kaki kirinya saja, sehingga kepala Gakupo-sensei terantuk beberapa kursi yang di sediadakan. Dan yang lebih parahnya lagi kaki kanan Gakupo-sensei tersangkut pada salah satu kursi itu. sehingga ketika Luka-sensei sampai di pintu keluar kaki kiri Gakupo-sensei sudah diluar tapi, anggota tubuh lain masih di dalam gedung olahraga. Sehingga Luka-sensei pun menarik-narik kaki kiri Gakupo-sensei dengan paksa sehingga...
"Breet!" ya... celana Gakupo-sensei robek dan lagi kaki Gakupo-sensei sepertinya patah. Ketika melihat itu seluruh siswa langsung membuat cacatan tersendiri tentang Luka-sensei. 'jangan pernah buat Luka-sensei marah!'
"... O oke siapa diantara kalian yang bisa dansa Waltz?" ujar Ann-sensei memecah keheningan. Dengan wajah datar Rin mengangkat tangan kanannya.
"Rin bisa dansa waltz ya?" tanya Miku.
"Iya, dulu aku sempat di ajari oleh teman ku" jawabnya singkat sambil berdiri karena Ann-sensei menyuruh Rin menuju tempatnya.
"Baiklah... untuk pasanganmu... kamu saja! Bocah berambut pirang kucir satu yang berwajah shota di situ saja!" tunjuk Ann-sensei ke Len.
"Aku bukan Shota!" bentak Len kaget/reflek.
"Eh? Oh... maaf Ann-sensei"
"Oh ho ho tak apa! Ke mari sekarang juga anak muda!" bentak Ann-sensei marah. Spontan saja Len menuju Ann-sensei setengah berlari karena takut.
"Oke... nama mu siapa?"
"Aku Rin, dia Len... yang sukanya non... umph!" perkataan Rin tiba-tiba terpotong karena Len menutup mulutnya dengan kasar.
"Sudah kukatakan bukan? Tolong jangan katakan hal 'itu'!" bisik Len sambil terus membekap mulut Rin dengan erat. Namun Rin membalas dengan tatapan 'terserah-aku-kamu-siapa-ku'
"Baiklah... Rin-san tolong perlihatkan dansa Waltz mu..." ujar Ann-sensei sambil melihat aneh Rin dan Len. Mendengar hal itu dengan kecepatan inhuman Rin membebaskan dirinya dari bekapan Len dan menggenggam kedua tangan Len lalu menempelkan dirinya ke Len dan mulai berdansa.
"Len kau bisa dansa waltz kan?" tanya Rin. Sementara Len hanya bisa deg-degan karena maafdadamaaf Rin yang menempel. Namun tanpa sadar ia menjawab.
"Tidak..." keluh Len, padahal Len sedikit bisa dansa Waltz.
"Ha... Ann-sensei bisa aku saja yang menggantikan Len menjadi 'pria'? dan kau Len, kau bergerak terbalik dari yang aku gerakan mengerti?"dengus Rin kesal. Sementara Len hanya mengangguk.
"... Boleh saja" jawab Ann-sensei santai. Rin yang mendengar itu mengangguk lalu kaki kirinya maju dengan cepat, lalu kaki kanannya melangkah ke samping kanan kaki kiri cepat, kaki kiri melangkah/menutup ke kaki kanan. Sementara di saat yang sama kaki kanan Len mundur dengan lambat, lalu kaki kirinya melangkah ke samping kiri dengan cepat, dan kaki kanan melangkah/menutup ke kaki kiri dengan cepat sehingga membentuk sudut 90 derajat.
Kemudian kaki kanan Rin mudur dengan perlahan, sementara kaki kirinya melangkah ke kiri dengan cepat, kaki kanannya melangkah/menutup ke kaki kiri cepat. Sementara kaki kiri Len maju dengan lambat, lalu kaki kanannya melangkah ke samping kanan kaki kiri cepat, dan kaki kiri melangkah/menutup ke kaki kanan cepat.
"Yak, ini adalah langkah pertama dansa waltz 'langkah kotak'" terang Ann-sensei.
"Oh ya, untuk para siswa laki-laki ikuti gerakan Rin-san sementara yang perempuan ikuti gerakan Len-kun... hihi" ujar Ann-sensei sedikit geli. Karena terbalik.
Lalu Rin dan Len pun memulai langkah kedua : langkah keseimbangan.
Kaki kiri Rin pun maju, kemudian kaki kanan maju dirapatkan dengan kaki kiri, lalu pada hitungan ke tiga Rin diam sejenak sambil mengangkat tumitnya. Sementara kaki kanan Len mundur, lalu kaki kirinya juga mundur merapat ke kaki kanan, kemudian pada hitungan ke tiga Len diam sejenak sambil mengangkat tumit.
Kemudian kaki kanan Rin mundur, kemudian kaki kiri mundur merapat ke kaki kanan, lalu hitungan ke tiga Rin diam sejenak sambil mengangkat tumitnya. Sementara kaki kiri Len maju, lalu kaki kanan maju merapat dengan kaki kiri, pada hitungan ke tiga Lenpun diam sejenak sambil mengangkat tumitnya.
Kemudian kaki kiri Rin melangkah ke samping kiri, kaki kanannya melangkah ke kiri merapat ke kaki kirinya, pada hitungan ke tiga Rin diam sejenak sambil mengangkat tumitnya. Sementara kaki kanan Len melangkah ke kanan, lalu kaki kirinya melangkah ke kanan merapat ke kaki kanannya, pada hitungan ke tiga ia terdiam sejenak sambil mengangkat tumit.
Lalu kaki kanan Rin melangkah ke kanan, kaki kirinya melangkah ke kanan merapat ke kaki kanan, lalu pada hitungan ke tiga Rin diam sejenak sambil mengangkat tumit. Sementara kaki kiri Len melangkah ke samping kiri, kaki kanannya melangkah ke kiri merapat ke kaki kiri, kemudian pada hitungan ke tiga ia juga diam sejenak sambil mengangkat tumitnya.
Mereka berdua berhenti sejenak untuk memeberi Ann-sensei waktu untuk menjelaskan.
"Jangan lupa, ketika melangkah ke kanan atau ke kiri, badan diayunkan ke kanan atau ke kiri juga. Ini gerakan natural yang terasa nyaman di tubuh kita, sekaligus nyaman dilihat … " terang Ann-sensei sambil terus melihat gerakan Rin yang natural sementara gerakan Len yang sedikit kaku namun terkontrol waktunya. Sehingga menyamai gerakan Rin yang lambat-cepat-cepat. Sesuai dengan perkataan Ann-sensei.
"Oh ya, ini adalah langkah kedua langkah keseimbangan, dan setelah ini adalah langkah terakhir sekaligus langkah terindah. Setelah itu ulangi seluruh langkah dari yang pertama sampai ketiga! Jadi... Rin-san lakukan yang cepat ya? Langkah ketiga : langkah putaran!" begitu mendengar itu kaki kiri Rin maju dengan lambat namun cepat, sementara kaki kanannya melangkah ke samping kanan kaki kiri dengan lebih cepat, lalu kaki kirinya melangkah/menutup ke kaki kanannya dengan kecepatan yang sama seperti tadi. Sementara kaki kanan Len mundur sedikit lebih lambat dari Rin sehingga sedikit mengganggu namun Len memperbaikinya dengan kaki kirinya melangkah ke samping kiri dengan sangat cepat, kemudian kaki kanannya melangkah/menutup ke kaki kiri cepat.
Lalu kaki kanan Rin mundur dengan lambat, kaki kirinya melangkah ke samping kirinya cepat, lalu kaki kanannya melangkah/menutup ke kaki kirinya cepat. Sementara kaki kirinya maju, lalu kaki kanannya melangkah ke samping kanan, lalu kaki kirinya melangkah ke kanan sambil memutar badan 90 derajad ke kanan, kaki kanannya melangkah ke kanan sambil memutar badan 90 derajad ke kanan, kemudian kaki kirinya melangkah ke kanan sambil memutar badan 90 derajad ke kanan, dan kaki kanannya melangkah merapat ke kaki kirinya. Sebenarnya Len tidak 'melangkah' namun di 'paksa' melangkah oleh tangan Rin yang mengarahkannya dengan sedikit kasar.
Kemudian kaki kanan Rin mundur dengan lambat, kaki kirinya melangkah ke samping kiri cepat, kaki kanannya melangkah/menutup ke kaki kiri cepat. Sementara kaki kiri Len maju dengan lambat, kaki kanannya melangkah ke samping kanan kaki kiri cepat, kaki kirinya melangkah/menutup ke kaki kanan cepat.
Setelah itu dengan gerakan yang lebih cepat Rin dan Len (yang di paksa) mengulang semua gerakan itu beberapa kali. Dapat dilihat kalau Rin tampak mulai kelelahan karena memaksa badan Len mengikutinya, apa lagi langkah terakhir yang harus mengayunkan badan sang 'perempuan'.
"... jadi, Len yang jadi perempuannya dalam dansa Waltz latihan ini? Cocok sekali dengan kesukaannya, iyakan Kaito?" kata Dell sambil menyikut Kaito yang sedang makan es krim batangan.
"Ya, kau benar sekali, mereka cocok sekali ya? Maksudku Len yang shota serta kegemarannya itu... dengan Rin yang tampak dewasa..."
"Ya... seharusnya terbalik..."
"Ya, seharusnya" kata Kaito mengakhiri percakapan mereka. Sementara di pikiran mereka berdua adalah 'TERBALIK!' sambil bersweat drop. Namun bukan hanya mereka yang bersweat drop melihat Rin dan Len yang terbalik itu.
Akhirnya setelah mengulanginya beberapa kali, Rin memutuskan untuk menyelesaikannya dengan mengayunkan Len dengan keras sehingga Len terpeleset. Namun sebelum Len sempat menyentuh dinginnya lantai. Tangan kanan Rin menahan punggung Len agar tidak jatuh. Sementara tangan kirinya masih bertautan dengan tangan kanan Len.
"Ha... ha..." desah Rin kelelahan begitu pula Len. Keringat mengucur dengan deras di kedua kening mereka, serta tubuh mereka. Sementara yang melihat hanya bisa terdiam melihat tarian mereka berdua yang terbalik namun sangat indah.
Tanpa terasa sudah satu menit mereka berdua berposisi seperti itu, hingga...
"Bruak!"
"Aduh! Kenapa kau melepaskan aku? !" seru Len kesal sambil memegangi pantat nya yang jatuh duluan.
"Kau berat... ha... ha..." keluh Rin sambil mengelap keningnya.
"Ann-sensei boleh aku istirahat?" tanya Rin sambil terus mengelap keringatnya.
"... Tentu! Rin-san dan Len-kun boleh istirahat! Nah... sekarang semua kecuali Rin-san dan Len-ku berdiri! Ikuti semua langkah tadi!" seru Ann-sensei. Seketika seluruh siswa minus Rin Len yang sudah duduk di tempatnya semula, berdiri dan segera mencari pasangan untuk berlatih.
Skip time~ kamar Rin. Setelah makan malam.
"Rinny! Aku mau yang ini!" seru Miku semangat sambil menunjuk salah satu foto gaun yang bewarna hijau.
"Tidak! Itu aku!" Bantah Gumi.
"Eh... aku yang ini saja..." tunjuk Haku.
"Kalau aku yang ini saja" tunjuk Meiko.
"Kalau begitu aku yang ini, ini dan ini!" tunjuk Miku semangat.
"Tidak! Aku yang itu!" bantah Gumi.
"Satu saja!" seru Rin kesal karena Miku dan Gumi terus saja berdebat. Akhirnya, setelah berdebat ini itu Miku dan Gumi mendapatkan gaun yang ingin mereka kenakan. Lalu mereka berempat pun kembali ke kamarnya masing-masing.
"Huff..."
"Bersenang-senang Rin?" tanya Ru-sensei tiba-tiba.
"... tidak juga"
Bersambung...
Lynn : nyaa... selesai juga maaf ya reader aku emang lagi sibuk dua minggu ini
Rue : ya ya...
Len : ini fic kok makin gaje?
Lynn : hei! Aku udah bikin kerangkanya! Jadi tinggal ku kembangin...
Rue : jadi makin gaje...
Lynn : ( + = ,=) ahh! Len minta review!
Len : pisangnya mana?
Lynn : noh! Di kebun ku banyak!
Len : yei! Banyak! Oke Review plis?
