Chapter 9 : Cinderella?

Lynn : Oke... bales review!

To : Damdrumdramsdrum : oke nih update! Maaf hiatusnya

To mikan the childish vampire : oke nih update! Maaf hiatusnya… dan keknya dah ku perbaiki… next!

To Rilianda Abelira : oke sabar ya? Chapter depan sedikit masa lalu Rin akan di ceritakan… dan maaf atas hiatusnya ya?

To Kyon Kuroblack : haha emang sulit… aku pernah nari waltz… tapi ujung-ujungnya kepeleset… sakit banget… T.T kalo si Mikuo bukan, tunggu aja oke? Maaf hiatusnya

To IchigoMei-Chan : oh ya? Maaf ya emang kayak gitu sih hehe… oke nih update dan maaf hiatusnya ya?

To Kyoura Kagamine : oke! Nih update! Len emang gak bisa waltz! Kasihan… oke deh nih update! Maaf hiatusnya ya?

Lynn : huff bale review udah sekarang… Rin baca di claimer! *ngasih kertas

Rin : ya ya

DISCLAIMER : LYNN NGGAK AKAN MUNGKIN PUNYA VOCALOID.(mahal sih)

WARNING : ADA OC, (makin[lebih]) GAJE, TYPO, MISS TYPO, DLL.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.


"...Tidak juga"

"Hei-hei ayo lah... kau bersenang-senang kan? Maksud ku... yah, setidaknya kau menikmatinya, walau sedikit?"

"Yah, kalau menikmati mungkin sedikit, lagi pula lusa kan hari kematian orang itu"

"Iya-iya aku tahu, dan sepertinya 'mereka' juga akan melayat"

"? Siapa Ru-sensei?"

"Yah... kau juga akan tahu nanti"

"?"


Normal POV


Gedung olahraga 13.55 p.m


"Yak! Lima menit lagi! Satu-dua-tiga! Lambat-cepat-cepat!" seru Ann-sensei semangat sambil menepuk tangannya memberi irama agar semua siswa bergerak lambat-cepat-cepat. Sementara dapat di lihat kalau semua siswa yang ada di gedung olah raga sudah bersimbah keringat dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Namun beberapa siswa tidak menghiraukannya karena ingin dansa mereka terlihat sangat indah di saat menari nanti, sekaligus ingin menarik lelaki idaman mereka lewat tarian mereka itu. Namun dapat di lihat juga dari awal kalau yang menari dengan sangat 'indah' adalah Rin. Walau selama menari semua siswa berganti pasangan satu sama yang lain. Rin terlihat sangat mendominasi pasangannya.

Sehingga pasangannya terlihat seperti hanya sebuah boneka tali yang di gerakkan oleh Rin. Hingga...

"Ting Tong Ting!" bel berbunyi tepat pukul 14.00. Seketika itu pula beberapa siswa jatuh terduduk. Karena saking capeknya. Bahkan ada yang sampai jatuh terlentang karena terus menari lima jam nonstop.

"Baiklah anak-anak! Kalian boleh istirahat dan mempersiapkan diri untuk pesta dansa nanti malam!" seru Ann-sensei semangat. Sambil membuka pintu keluar dan mempersilahkan para siswa untuk keluar. Yang juga di sambut baik beberapa siswa dengan berlari keluar.

"Rinrin! Gaunnya sudah datang?" tanya Miku lantang.

"Ya, gaunnya sudah kok tenang saj..."

"Tunggu apa lagi? Ayo ke kamar mu!" seru Gumi sambil menggeret Rin dan memotong perkataannya. Sementara Meiko dan Haku hanya bisa memandang Rin dengan kasihan. Apa lagi Gumi menggeret Rin di lehernya, sehingga muka Rin memutih karena kekurangan oksigen.

Kamar Rin~

"Uwah! Semuanya dari sutera!" seru Miku kagum sambil memegang gaun miliknya.

"Wow! Ini bahkan lebih bagus dari di foto!" seru Gumi juga.

"Baiklah! Ayo siap-siap!" seru Miku dengan mata berbinar, karena sudah tidak sabar.

"Tunggu dulu! Aku lapar!" keluh Meiko sambil mengelus perutnya yang lapar.

"Benar juga, kita belum makan siang" kata Haku menambahkan. "Lagi pula, bukankah pesta dansanya diadakan jam delapan malam? Kita bersiapnya jam lima saja" tambah Haku.

"Oke! Setelah makan kita mandi bersama saja!" seru Gumi tiba-tiba.

"APA! ?" jawab Rin, Meiko dan Haku kaget.

"Benar! Jika kita mandi bersama maka akan lebih mudah untuk membersihkan! Terutama punggung!" jawab Miku menyetujui. Dan di sambut death glare Meiko yang tidak setuju.

"Tidak! Aku tidak mau!" keluh Meiko.

"Aku juga tidak" tambah Rin.

"Eh~? Rinrin nggak mau? Kenapa?" tanya Gumi.

"Yah, ini privasi kita... jadi..." jawab Rin dengan muka datarnya serta rona merah di mukanya sehingga membuat Miku terkekeh.

"Tak apa kok Rin! Lagi pula... hehe" kata Miku dengan terkekeh di tambah tatapan anehnya, membuat Rin jadi gugup dan salah tingkah. "Ahh! Sudah lah ini kita bahas saja setelah makan siang! Ayo ayo!" seru Miku semangat sambil mendorong yang lainnya dan menutup pintu kamar Rin untuk segera makan siang.


Skip Time~


07.40 p.m


kamar Rin


"Aduh! Aku memang benci pesta seperti ini!" keluh Meiko sebal. Padahal Meiko sendiri yang paling sederhana di antara temannya. Meiko hanya memakai lipstik merah serta jepit rambut berbentuk bunga mawar merah yang di jepitkan di atas telinga kirinya.

Lalu gaunnya sendiri : rok bagian depannya pendek bewarna putih dan ada renda bewarna merah, rok bagian depannya sekitar 30 senti di atas lututnya sementara rok bagian belakangnya panjang, hingga mencapai tumit kakinya. Sementara bagian atasnya berupa : kemeja tanpa lengan berbentuk v terbalik dengan kerah bergelombang tegak. Selain itu di bagian atas gaunnya ada tambahan baju bewarna hitam yang seperti(nya) menompang dadanya.

Selain itu Meiko memakai sarung tangan hitam yang panjangnya mencapai lengannya serta stoking hitam yang mencapai pahanya. Sementara sepatunya berupa sepatu selop kaca hitam dengan tambahan mawar merah di samping kiri-kanannya.

"Kau masih mending Meiko... aku sendiri..." keluh Haku sedikit menyesal. Yah, mungkin karena dandanan yang sepertinya paling ribet dari yang lainnya. Karena : rambut panjang Haku di gulung menjadi dua, selain itu untuk mempercantik gulungan rambut Haku di tambah dengan beberapa helai bunga mawar bewarna pink yang di selipkan di gulungan rambut Haku.

Lalu gaun Haku sendiri : bergaya victorian. Dengan kerah tinggi dan lengan yang terpisah, sehingga menampakkan pundak Haku. Gaun Haku sendiri di dominasi dengan warna cokelat tua dengan tambah warna ungu dan putih. Selain itu gaun Haku sama seperti Meiko yang bagian depannya pendek namun bagian belakangnya panjang hingga mencapai tumit kaki.

Dan Haku memakai stoking bewarna hitam mencapai pahanya. Sementara ia memakai sepati bot sol bewarna hitam yang mencapai lututnya.

"Tapi kau terlihat cantik kok! Iyakan Miku! ?" tanya Gumi. Gumi sendiri memakai topi hitam dengan tambahan bunga mawar putih di sisi kanan topinya.

Sementara gaunnya di dominasi warna putih namun di bagian bawahnya terdapat renda bewarna hijau tegas, serta tiga mawar putih di samping gaunnya. Gumi juga memakai sarung tangan serta stoking yang sama dengan Meiko. Sepatunya sendiri berupa sepatu berhak lima senti dengan warna hijau mendominasi.

"Iya! Benar!" jawab Miku semangat. Miku sendiri memakai topi hitam kecil yang berhiaskan tiga bunga mawar putih serta pita bewarna hitam. Serta ia mengikat rambutnya dengan gayanya yang biasa. Kucir dua.

Miku juga memakai kalung mutiara hitam yang panjangnya mencapai dua meter serta ada dua mawar putih di kalung itu, yang Miku kalungkan dengan cara : mengikatnya ke lehernya. Lalu gaun Miku sendiri hampir sama dengan gaun Gumi yang di dominasi warna putih, hanya saja milik Miku lebih terkesan glamor serta gaunnya bergelombang hingga empat gelombang. Dan di bagian bawahnya ada renda yang bewarna teal.

Sementara sepatunya sendiri berupa sepatu berhak lima senti sama seperti Gumi hanya saja lebih tertutup.

"Eh... ini bagus nggak?" tanya Rin tiba-tiba sambil berjalan dengan perlahan, di sambut tatapan kagum Miku, Gumi, Meiko dan Haku.

"Bagus banget!" celetuk mereka berempat kompak. Rin sendiri memakai gaun bewarna krem yang bagian bawahnya sama seperti milik Meiko dan Haku, yang bagian depannya pendek namun bagian belakangnya panjang. Hanya saja gaun milik Rin seperti bagian luar bunga mawar yang dibalikkan. Selain itu di bagian penutup dada Rin berbentuk seekor kupu-kupu. Sementara bagian punggung Rin terbuka lebar. Sehingga menampakkan punggung Rin yang putih nan mulus.

Tidak sama seperti Miku, Gumi, Meiko dan Haku yang memakai stoking atau sarung tangan. Rin sama sekali tidak memakai ke stoking atau sarung tangan melainkan gelang yang berupa bunga mawar di tangan kirinya.

Selain itu rambutnya di keriting gantung, dan di permanis dengan pita besar di bagian belakang kepalanya. Dan yang terakhir sapatunya berhak lima senti dengan tali sebagai penahan alasnya.

"Oke! Semua sudah siap? ! Ayo berangkat!" seru Gumi semangat.


Skip time~


09.08 p.m


Aula sekolah


Rin POV


Dan... di sinilah aku, aku menjadi bunga tembok... Menyebalkan sekali. Saat di pesta dansa hal yang paling tidak enak adalah menjadi bunga tembok. Yah... ku lihat tadi Haku berdansa dengan Dell? Sulit di percaya memang. Haku yang pendiam menarik mata Dell... cemburu? Tidak sama sekali.

Kalau Meiko sendiri tadi katanya sudah janji dengan temannya yang kalau tidak salah bernama Meito begitu juga dengan Gumi, Gumi sendiri meminta sepupunya Gumo untuk datang, yah entah kapan sih mereka meminta teman dan sepupunya itu untuk berdansa dengan mereka.

Kalau Miku sendiri sih... ia bersama dengan si maniak es itu. Kaito, duh... apa jadinya dunia ini? Maksudku... Miku itu cantik, pintar dan pandai bernyanyi sedang Kaito? ... Oke ku dengar Kaito walau dengan tampang super bodohnya itu, ia peringkat satu sesekolahan ini... sungguh amat sangat sulit dipercaya bukan?

"Ano..."

"Eh? Aduh ya ada apa?" tanyaku kaget karena ada seseorang yang memangggil ku tiba-tiba, ketika ku tengok ke kiri ternyata berdiri Mikuo dan tangan kanannya seperti meminta sesuatu.

"Errr maaf aku nggak bawa uang recehan" kata ku sekenanya di sambut tatapan kaget Mikuo karena aku mengira ia itu pengemis... lucu sekali...

"Hei! Siapa yang mau minta uang! ?" seru Mikuo marah, jelas saja. "Maksudku... Hime-sama maukah anda berdansa dengan ku?" tanyanya dengan penuh harap serta uluran tangannya yang sepertinya mau menangkap diriku saja. Boleh juga, dari pada menjadi bunga tembok.

"... Boleh ayo" jawabku sambil membalas uluran tangan Mikuo dan berjalan ke tengah aula untuk berdansa waltz.


Len POV


"Len-sama! Berdansalah dengan ku!"

"Tidak! Dengan diri ku saja!"

"Bukan! Aku!" teriak para gadis berebut. Sementara aku sendiri berusaha kabur dengan segenap nyawaku... oke berlebihan!

"Lo? Len-sama ke mana? Len-sama!"

"Eh? Len-sama? !"

"Len-sama! Kamu di mana?" teriak gadis-gadis itu panik ketika menyadari aku sudah tidak ada. Yah... sebenarnya entah bagaimana caranya aku sudah berada di sini. Di bawah meja minum, bersembunyi dari para FC ku itu.

Dengan takut-takut ku buka sedikit kain di depanku. Ku lihat para fans ku sudah pergi entah ke mana. Namun yang kulihat sekarang sedikit lebih mengerikan dari pada para fans ku. Rin dan Mikuo berdansa serta berpelukan! Tunggu... kenapa aku peduli?

Ahh! Lupakan Len! Ingat! Rin sudah mempermalukan mu di latihan dansa lusa kemarin!

...

...

...

...

AKU MAU BERDANSA DENGAN RIN! ? Jerit ku dalam hati dengan kecepatan inhuman aku keluar dari bawah meja minuman dan merebut Rin dari pelukan Mikuo. Sehingga Mikuo kebingungan karena Rin tiba-tiba saja menghilang dari pelukannya.

Sementara Rin sendiri dengan wajah datarnya berlari mengikutiku hingga tepat di tengah aula yang penuh sesak dengan pasangan lain yang menari.

"Len... apa yang kau lakukan?" tanya Rin tiba-tiba.

"... Aku... ah! Sudahlah! Rin kita menari sajalah!" ajak ku tiba-tiba. Bisa kurasakan kalau mukaku memanas.

"Boleh, jadi... mau terbalik lagi?"

"Tentu saja tidak! Kali ini kau yang berperan sebagai wanitanya!" seruku marah, entah kenapa tangan kananku segera menggenggam tangan kanannya begitu pula dengan tangan kiriku. Kami berdua pun berdansa.

Walau sesaat aku sempat menyentuh bagian punggungnya yang terbuka lebar... mulus sekali... ! Lupakan!


Normal POV


Rin dan Len pun berdansa dengan lemah gemulai tanpa memperdulikan waktu serta orang-orang yang menyingkir seolah memberi mereka ruang untuk berdansa lebih.

Tatapan kagum terus bertebaran di antar orang-orang yang memberi mereka ruang untuk berdansa. Karena tarian mereka yang terlalu indah, yang bagaikan dua ekor merpati yang sedang bercengkrama di udara. Sementara ada juga yang menatap dengan tatapan cemburu. Hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berhenti karena kelelahan.

Namun tanpa terasa pula jam menunjukkan pukul 12.00 malam tepat sehingga jampun berdentang dua belas kali di tengah malam itu. Rin yang entah kenapa merasa ingin berlari menuju suatu tempat segera melepaskan Len yang masih menggenggam tangannya. Entah reflek atau apa Len mengikuti Rin yang berlari ke luar aula sekolah.

Sementara para penonton hanya bisa terdiam menyaksikan apa yang baru saja mereka lihat. Entah takjub atau apa ada seorang penonton yang bertepuk tangan, dan di ikuti oleh penonton yang lain.

.

.

.

"Rin! Oi! Kamu dimana? !" seru Len kesal. Karena yah ia terus mengikuti Rin dan tanpa terasa ia sudah berada dalam hutan di belakang sekolah. "... gawat aku sudah masuk terlalu dalam! Sial! Oi! Rin!" panggil Len kesal hingga ia merasa ada cahaya yang menyilaukan matanya.

Dengan inisiatif sendiri Len mengikuti arah datangnya cahaya itu. Setelah beberapa saat berjalan ternyata cahaya yang menyilaukan matanya ada cahaya bulan yang terpantulkan oleh air danau.


Len POV


... apa-apaan ini? Seingat ku di hutan ini tidak ada danau? Atau memang ingatan ku yang buruk sehingga tidak tahu/lupa akan keberadaan danau ini? Tanya ku pada diri ku sendiri.

Ku teliti pinggiran danau dan menemukan sesosok perempuan yang duduk di pinggir danau dan memperhatikan bulan purnama yang sedang bersinar dengan indahnya. Akhirnya dengan lamban ku dekati sosok itu yang tidak lain adalan Rin yang sedang termenung memikirkan sesuatu.

Ku putuskan untuk duduk di sebelahnya, sementara Rin sendiri terlihat sedikit kaget akan ke hadiran ku yang tiba-tiba namun ia diam saja. Sehingga terjadilan keheningan aneh namun nyaman. Hingga...

"Len kenapa kau mengikuti ku?" tanya Rin tiba-tiba.

"... Entah aku hanya ingin saja?" jawab ku sedikit bingung. Yah... aku bukan pembuat alasan yang bagus...

"... besok... tidak hari ini kematian orang itu" kata Rin tiba-tiba lagi. Orang itu? Tunangannya Rin ya?

"..."

"Hei Len nanti kita sekolah tidak?" tanya Rin mengalihkan topik pembicaraan tiba-tiba. Sementara aku sendiri hanya bisa terdiam. Namun aku masih sempat menjawab pertanyaan terakhir Rin tadi.

"Yah... sekolah lah! Tapi tenang jam masuknya di undur jadi jam sepuluh pagi" jawab ku seadanya. Yah sebenarnya tadi sore ketika hampir semua siswa sudah keluar gedung olahraga Ann-sensei memberitahukan kalau sekolah besok... err hari ini di undur sampai jam sepuluh pagi. Tapi tetap saja itu menyebalkan.

"... Begitu ayo Len kita kembali sudah malam!" seru Rin tiba-tiba sambil berdiri.

"... ya" jawab ku singkat sambil berdiri namun malangnya nasibku...

"Bruk!"

"Brak!"

"Byur!" yap benar saudara-saudara aku terpeleset, di karenakan salah menginjak batu yang berlumut! Sial! Mana lagi malam ini dingin! Brr...

"Mhp! Len kamu kenapa? Hmp... hahaha! Coba pegang wajah mu!" seru Rin sambil menunjuk wajah ku. Reflek aku memegang wajah ku. Ukh... lembek sebentar lembek? Jangan katakan kalau ini...

"What the heck? Lumpur? !" seru ku marah sambil melihat benda lembek yang tadinya ada di muka ku.

"Mhp! Hahaha! Harusnya kau lihat wajah mu tadi! Tapi... yah, itu kurang lucu di bandingkan denga... aduh! Apa-apaan itu!" seru Rin marah karena kepalanya di lempar sesuatu. Yang tidak lain adalah lumpur yang ku pegang tadi. Rasakan itu!

"Itu karena kau menertawakan ku!" seru ku marah dan di sambut tatapan marah Rin. Dengan segera ia melepas sepatu ber haknya dan masuk ke dalam air lalu...

"Byur!"

"Nih! Rasakan!" serunya marah sambil mencipratkan air ke badan ku.

"Ap... aduh! Hei! Aku tak bisa melihat!" seru ku kaget. Ternyata selain air Rin juga melempari ku dengan lumpur! Dengan segera ku lap lumpur itu dari mata ku dan balas menyerang Rin. "Nih! Rasakan! Hahaha!" seru ku lagi dengan rasa puas, karena kali ini aku berhasil mengenai muka Rin.

"Aduh! Awas ya kamu!" balas Rin sambil melempari ku dengan lumpur lagi dan mengenai jas hitam ku... untung lah jas ku hitam... tapi entah ia membaca pikiran ku atau tidak ia melempari ku lagi dengan lumpur tepat di rambut ku! eww aku harus keramas!

"Rin! awas ya...! up! uhuk!" entah karena aku terlalu banyak bicara atau apa... Rin... ia melemp lumpur yang dengan tepat masuk ke mulut ku! sial! dengan segera ku balas Rin dengan melemparinya lumpur lebih banyak!.

.

.

.

"Hah hah hah..." desah kami berdua kelelahan, entah sekarang sudah jam berapa. Tapi yang kami berdua pedulikan sekarang adalah badan kami berdua yang di penuhi lumpur serta keringat kelelahan.

"Len... sudah ah! Aku capek aku mau pulang dulu, jaa" kata Rin tiba-tiba sambil berdiri dan mengambil sepatu berhaknya. Melihat itu aku pun ikut berdiri dan mengikuti Rin kembali ke sekolah.

Tiba-tiba saja aku teringat akan satu hal... aku sudah lama tidak tertawa seperti tadi. Terakhir kali aku tertawa seperti itu mungkin ketika aku bersama Nee-san.

Nee-san keadaan mu baik-baik saja kan?


Bersambung...


Lynn : oke… sekarang kita pesta! *Bruk!

Rue : dasar author bodoh… bukannya kau mau menjelaskan kenapa kau hiatus… HUH?

Lynn : I iya maaf… oke karena tahun ini aku adalah siswa baru… alias baru masuk SMA… jadinya… ya MOS dan… ada buanyak tugas dari para senpai-senpai ku uh! Untung dah selesai sih…

Rue : ya ya

Lynn : yah… Rin! Mi R dan R!

Rin :…

Lynn : iya iya… nih! Jeruk!

Rin : XD oke! R dan R please! ?