Chapter 10 : Where are you going?


Lynn : Oke! Rin! Bacain disclaimer!

Rin :... lo? Biasanya bales review?

Lynn : kalo itu aku langsung bales dengan PM jadi maaf ya para guest

Rin : oh... tapi mana bayarannya?

Lynn : Iya iya nih jeruk!

Rin : Yei!


DISCLAIMER : LYNN NGGAK AKAN MUNGKIN PUNYA VOCALOID.(mahal sih)

WARNING : ADA OC, OOC, (makin[lebih]) GAJE, TYPO, MISS TYPO, DLL.

DON'T LIKE? DON'T READ!


.

.

.

"Rin... hari ini..."

"Ya aku tahu Ru-sensei. Ini adalah hari kematiannya, kematian orang itu. sekaligus 'kematian' ku sebagai seorang manusia"

"Kau tak apa-apa kan?"

"Ya, tentu saja... toh tiga-empat hari lagi aku akan mati..."

"Bukan itu maksudku... tapi yah, benar kau mau 'mati'?"

"Ya, tentu saja... karena... hanya ini satu-satunya jalan aku bisa bertemu dengan Len"

.

.

.


Normal POV


Kelas


10.15 am


"Huaam!"

"Hei-hei ada nyamuk tuh!" tegur Len sambil mengucek-ngucek matanya yang berair.

"Uhuk! Aduh! Ke telen!" seru Kaito panik dan segera berdiri dari kursinya serta memegangi mulutnya. Segera Kaito menjulurkan lidahnya dan berusaha memuntahkan nyamuk itu.

"Hei! Aku cuma bercanda! Dasar BaKaito!" tegur Len kesal, namun sebenarnya ia sedikit bingung karena sudah lima belas menit bel masuk berbunyi tapi belum ada guru yang masuk. Selain itu pula Rin yang biasanya datang lebih pagi darinya belum datang. Kemanakah gerangan Rin berada?

"Srek..." pintu kelas di geser, serentak selurus murid yang ada di dalam ruangan menoleh ke asal suara itu. dan di sana terlihat sesosok wanita berambut pink panjang, ya. Luka-sensei.

"Selamat pagi anak-anak! Maaf ya Luka-sensei terlambat datang" seru Luka-sensei meminta maaf sambil berjalan menuju mejanya dan membuka bukunya untuk memulai pelajaran. "Baik anak-anak sekarang buka..." namun perkataan Luka-sensei terpotong di karenakan ada seseorang membuka pintu kelas. Reflek Luka-sensei menengok ke arah suara itu serta para murid yang ada.

"Maaf Luka-sensei saya terlambat..." ujar Rin sambil berjalan menuju meja Luka-sensei. Sementara itu Luka-sensei dan beberapa murid yang memandang aneh seragam yang Rin pakai. Karena... seragam yang Rin pakai bewarna hitam. Biasanya seragam itu di pakai ketika kelulusan atau juga bisa di pakai untuk melayat seseorang.

"Um... Yuzune-san kenapa kamu memakai seragam itu?" tanya Luka-sensei sambil menunjuk seragam Rin.

"... Saya mau pergi ke makam seseorang" jawab Rin singkat. Sementara Luka-sensei hanya bisa memandanginya dengan pandangan maaf-telah-bertanya. "Oleh karena itu Luka-sensei saya... mau izin tidak sekolah. Tenang hanya hari ini saja" tambah Rin lagi.

"... Baiklah. Yuzune-san boleh izin hari ini, dan apa Yuzune-san sudah meminta izin dari guru yang lain?" tanya Luka-sensei lagi.

"Sudah, karena itu saya terlambat datang. Maaf Luka-sensei" jawab Rin sambil sedikit membungkuk.

"Eh? Oh? Tak apa Yuzune-san! Aduh... yah, kau boleh pergi" kata Luka-sensei tak enak hati. Mendengar itu Rin hanya memangguk dan membalikkan badannya.

Rin pun keluar kelas, tak lupa menutup pintu kelasnya juga.

"Baiklah... kita lanjutkan pelajarannya! Ya? Kagamine-kun?" seru Luka-sensei sambil melihat Len yang tiba-tiba berdiri.

"..."

"Kagamine-kun?" tanya Luka-sensei.

"Eh? Oh... anu... saya mau ke toilet sebentar" kata Len memberi alasan, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"... Boleh silahkan" ujar Luka-sensei mepersilahkan. Len pun segera keluar kelas. "Baiklah sekarang mari kita... ya? Shion-kun? Hatsune-san?" kata Luka-sensei sambil melihat Kaito dan Miku yang tiba-tiba ikut berdiri setelah Len pergi ke "toilet".

"A anu... saya mau ke toilet juga" jawab Kaito di ikuti oleh Miku.

"Sa... saya juga! Saya juga mau ke toilet!" seru Miku. Sementara Luka-sensei hanya bisa memandangi antara Kaito dan Miku bergantian, dengan pandangan aneh. Namun akhirnya...

"Yah... baiklah, mungkin ini sedikit aneh. Tapi, yah baiklah kalian berdua boleh pergi ke toilet" kata Luka-sensei sedikit marah. Namun justru di sambut larinya Kaito dan Miku ke luar kelas.

"Terima kasih Luka-sensei!" seru mereka berdua bersamaan. Sementara Luka-sensei dan murid-murid yang tersisa hanya bisa memandangi mereka aneh.

"Yah, setelah ini tak ada yang boleh pergi ke toilet! Dan Honne-kun! Duduk! Dan kita mulai pelajaran!" seru Luka-sensei marah sambil menyuruh Dell yang tadinya sempat berdiri duduk kembali.

"Sial" umpat Dell dalam hati.

.

.

.

"Mikuo! Tolong ke ruang guru dan ambilkan kertas ulangan!" perintah Mew-sensei. (A/n aku asal ngambil nama!)

"Baik!" setelah di perintah oleh Mew-sensei Mikuo pun segera keluar kelas untun mengambil kertas ulangan. Selama perjalanan menuju ruang guru di lewatinya dengan hanya berdiam diri.

"..."

"...!" seru Mikuo tanpa berkata-kata ketika melihat seseorang berambut honey blond berjalan ke arahnya, yang tidak lain adalah Rin, karena takut Rin melihatnya Mikuopun segera bersembunyi, beberapa saat sebelum Rin lewat Mikuo sudah bersembunyi. Sehingga Rin tidak dapat melihatnya dan menyebabkan Rin terus berjalan.

Ketika Rin sudah agak jauh Mikuo pun keluar dari tempat bersembunyinya dan melihat punggung Rin dengan aneh. 'Mau kemana Rin?' pikirnya. Namun ketika ia berbalik...

"Bruk!"

"Aduh!"

"Aw!" seru Mikuo dan seseorang yang menabraknya.

"Lo... Len? Kamu mau ke mana?" tanya Mikuo.

"Bukan urusan mu!" seru Len segera berdiri dan mengejar Rin lagi. Tentunya dengan mengendap-endap.

"... Len jangan-jangan dia..."

"Mikuo! Tadi kamu lihat Len kemana?" tanya seorang lelaki dan seorang perempuan secara bersamaan. Mendengar itu Mikuo secara reflek menunjuk ke arah Len tadi pergi. "Terima Kasih!" seru mereka berdua lagi. Dan mereka pun segera berlari menuju arah yang di tunjukan oleh Mikuo tadi.

'... mereka mau jadi stalkernya Rin ya?' pikir Mikuo sambil mengamati punggung Kaito dan Miku. "... Tunggu aku!" seru Mikuo sambil berdiri dan segera mengejar Kaito dan Miku yang sudah berada jauh di depannya, melupakan tugas dari Mew-sensei...

.

.

.

"Jadi... kenapa kalian bertiga mengikuti ku?" tanya Len sambil melipat ke dua tangannya di dadanya.

"Ingin saja..." jawab Kaito dengan wajah polosnya, serta sambil memakan es krimnya yang entah bagaimana caranya, bisa ia mendapatkannya.

"Untuk memastikan kalau Rinrin tidak diapa-apakan oleh kamu... Len Kagamine..." jawab Miku dengan nada sarkasme yang mengerikan... sehingga mau tidak mau Len berjalan dua langkah ke belakang. Untuk jaga-jaga...

"Kalau kamu Mikuo?" tanya Len sambil melihat Mikuo.

"Kalau aku..." aduh... aku tidak mungkin mengatakan hal yang sama seperti Miku! Tunggu aku kan tadi mau ke ruang guru... "Aku... kabur dari ulangannya Mew-sensei, ahaha... lalu kebetulan kamu lewat, lalu Kaito dan Miku juga, jadi... aku ikut-ikut saja. Sekalian aku juga sedang malas ikut ulangan" jawab Mikuo seadanya. Sementara Len, Kaito dan Miku hanya bisa ber 'oh' riang.

"Yah baiklah... daripada itu, Len Kagamine... kenapa kau membututi Rinrin huh?" tanya Miku. Sambil memberikan senyum yang berarti : awas-kamu-kalau-kamu-berbuat-yang-aneh-aneh-sama-Rin.

"Eh... i itu... aku yah... ano..." jawab Len gelagapan.

"Yah... itu tak penting! Lagipula kita berempat sudah terlanjur keluar sekolah dan kita sudah jauh dari sekolah... jadi siapa yang mau membututi Rin lagi?" tanya Kaito bodoh. Dan di sambut death glare dari Miku.

"Yah... karena sudah terlanjur... baiklah... aku akan membututi Rin" kata Miku terpaksa.

"Aku juga, seperti yang ku katakan tadi aku malas ikut ulangannya Mew-sensei" kata Mikuo

"Jadi... Rin ada di mana Len?" tanya Miku serius.

"Rin? Tuh... dia ada di toko bungan sebelah situ... tapi aku tidak tahu dia masih di sana atau tidak" jawab Len sambil menunjuk ke salah satu toko bunga di seberang jalan. Dan sepertinya Rin masih memilih bunga apa yang mau ia bawa untuk 'orang itu'.

Kaito, Miku dan Mikuo pun hanya ber 'oh' saja. Sambil melihat toko bunga yang di tunjuk oleh Len tadi.


Rin POV


"Permisi... saya mau beli bunga" kata ku sambil memasuki sebuah toko bunga yang sepertinya pernah kukunjungi beberapa tahun lalu.

"Hm? Oh silahkan! Bunga untuk apa?" tanya seorang anak kecil sambil menurunkan mainannya. "Sebentar ya? Ku panggilkan Okaa-san dulu ya? Okaa-san! Ada yang mau beli bunga!" seru anak kecil itu sambil berlari masuk ke dalam rumahnya, yang berada di belakang toko bunga ini.

Sambil menunggu aku pun melihat-lihat bunga-bunga yang ada disini. Apa yang harus ku berikan ya? Mawar? Lily? Teratai? Pikir ku sambil menyentuh salah satu bunga di sudut toko ini.

"Oh? Tamu! Silahkan! Bunga untuk apa kalau saya boleh tahu?" tanya seorang Oba-san tiba-tiba, yang berumur sekitar tiga puluhan?

"Itu... untuk seseorang yang ku kasihi... namun ia sudah lama meninggal" jawab ku seadanya. Sementara ibu-ibu itu sepertinya sedang meneliti wajah ku ini. "Oba-san?" tanya ku sambil melambaikan tangan ku.

"Eh? Oh... maaf... Oba-san hanya merasa pernah melihat kamu dulu, tapi sudah lama sekali. Yah sekitar sembilan sampai sepuluh tahun yang lalu. Hanya saja rambutnya lebih panjang" jawabnya sedikit gelagapan.

"Tak apa Oba-san. Terus menurut Oba-san bunga apa ya yang cocok?" tanyaku lagi sambil memalingkan muka ku ke salah satu bunga di depan ku.

"Menurut Oba-san sendiri sih yang ini..." tunjuk Oba-san pada bunga lily bewarna putih. Lily putih, kalau tidak salah artinya pengabdian, persahabatan, simpati, mulia, murni dan suci, suci... haha kurasa 'orang itu' tidak suka bunga yang 'suci' ini.

"Kurasa tidak, maaf Oba-san" kata ku sambil melihat bunga yang lain.

"Ah kalau kau mau mungkin Oba-san bisa menggabungkan beberapa kombinasi mawar" tawar Oba-san sambil berjalan ke belakang. "Tunggu sebentar ya?"

"Baik Oba-san" jawab ku segera. Oba-san memang tidak berubah, pasti itu yang di tawarinya. Tapi kalau aku menyentuh Mawar itu, apapun warna dan artinya maka...

"Ini dia! Oba-san tadi kebetulan sedang merangkai mawar yang Oba-san kombinasikan! Nih ada Mawar merah, putih, pink, kuning, oranye, dan peach" serunya sambil menyerahkan bunga-bunga itu ke tangan ku. Ku lihat total semua mawar itu ada tiga belas mawar. Berarti, ada satu mawar yang berbeda atau ada tiga mawar yang sama warnanya. Ku lihat lagi rangkaian itu. Ternyata benar ada satu yang berbeda, hanya ada sebuah mawar merah disini. Dan berada tepat di tengah rangkaian bunga ini.

"Bagaimana? Kau mau?" tanya Oba-san. Akupun tersenyum.

"Yah... aku mau, ini indah sekali, jadi berapa Oba-san?" tanya ku sambil memegang rangkaian bunga mawar itu di tangan kiriku. Semantara tangan kananku mengambil dompet di saku rokku.

"Oh itu sih khusus untuk mu 5000 yen saja" jawab Oba-san. 5000 yen?

"5000 yen? Tapi bukankah mawar yang bewarna peach ini langka?" tanya ku memastikan.

"Tak apa, tadi kau bilang untuk seseorang yang sangat kau kasihi namun ia sudah lama meninggal, Oba-san mengerti perasaan mu. Oleh karena itu Oba-san berikan rangkaian bunga mawar ini sedikit lebih murah" jawab Oba-san, namun aku tahu dari raut mukanya itu ia merasa kasihan padaku.

"... Baiklah, terima kasih Oba-san. Ini 5000 yen" kata ku akhirnya, sambil memeberikan lima lembar 1000 yen.

"Terima kasih! Datang lagi ya?" jawab Oba-san. Namun aku hanya bisa mengangguk lemah dan memberikan senyum kecut. Karena, inilah terkahir kalinya aku kesini. Akupun segera membalikkan badan dan pergi dari toko bunga ini.


Normal POV


Rinpun keluar dari toko bunga itu, setelah sekitar setengah jam berada di dalamnya. Len, Kaito, Miku dan Mikuo yang melihat itu segera membututi Rin lagi. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi. Namun sepertinya mereka semua tidak menyadari, kalau rangakaian bunga mawar yang di pegang oleh Rin perlahan-lahan berubah menjadi warna hitam. Warna kematian...

.

.

.

"Hei... bukankah jalan ini kembali ke sekolah?" tanya Kaito sambil bersembunyi di balik tembok dan melihat Rin yang berbelok ke arah sekolah.

"Siapapun tahu dasar bodoh!" jawab Len sebal.

"St! Len jangan teriak!" seru Miku sebal.

"Maaf"

"Kurasa yang Rin tuju itu bukanlah sekolah namun hutan di belakangnya" kata Mikuo tiba-tiba. Len, Kaito dan Miku kaget mendengar perkataan Mikuo segera meliriknya. "Apa?"

"Dari mana kau tahu Mikuo? Atau jangan-jangan kau..." kata Miku dengan nada curiga.

"Eh it itu... anu beberapa hari yang lalu ketika aku sedang lari pagi aku sempat melihat Rin sedang berjalan menuju hutan" kata Mikuo memberi alasan dan di sambut tatapan curiga Miku.

"Sejak kapan kau lari pagi huh?" tanya Miku lagi.

"Eh itu... ano... ah! Hei! Terserah aku kan? ! Aku mau lari pagi kek, kabur kek, tidur kek bukan urusan mu!" jawab Mikuo gelagapan.

"Mencurigakan..." kata Len, Kaito dan Miku bersamaan.

"Hei! Sudahlah! Lihat! Rin sudah mau masuk hutan!" seru Mikuo mengalihkan topik pembicaraan. Dan sepertinya itu berhasil, Len, Kaito dan Miku yang melihat itu segera berlari agar tidak kehilangan jejak Rin, serta meninggalkan Mikuo sendirian.

"Tunggu!" seru Mikuo. 'Kurasa mereka takkan percaya kalaupun aku bilang bahwa aku tahu Rin menuju hutan karena aku mengamati gerak-geriknya dengan sihir' pikir Mikuo sambil berlari menyul Len, Kaito dan Miku yang sudah berada jauh di depannya.

.

.

.

"Itu Rin!" seru Miku senang, sambil mengamati punggung Rin yang kecil. "Dan... apa yang kau lakukan Kaito?" tanya Miku sambil memperhatikan Kaito yang sedari masuk hutan terus saja mematahkan beberapa ranting pohon di samping kiri-kanannya.

"Oh ini? Aku sedang membuat petunjuk arah, karena tahu-tahu saja kita kehilangan Rin sebagai menunjuk arah dan kita tersesat. Dan dengan mematahkan ranting ini kita bisa tahu dari arah mana kita datang dan setidaknya kita bisa keluar dari hutan ini" jelas Kaito. Sementara Len, Miku dan Mikuo hanya bisa syok. Mendengar penjelasannya, untuk sesaat mereka lupa kalau Kaito sebenarnya orang terpintar di sekolah mereka.

'Sejak kapan BaKaito jadi pintar? !' pikir mereka bertiga bersamaan.

"Yah, itulah yang ku pelajari dari buku 'bertahan hidup'" kata Kaito lagi enteng sambil mematahkan beberapa ranting lagi. Namun tiba-tiba di rasanya ada sebuah cairan di tangan kanannya. Segera saja Kaito melihat cairan itu dan ternyata...

"Darah! ? Apa ini? ! Apa ini! ?" teriak Kaito kaget sambil menghempaskan tangan kanannya ke atas dan ke bawah.

"Kaito! Tenanglah!" seru Len kaget sambil berlari ke Kaito untuk menenangkannya namun sialnya Len tersandung sesuatu.

"Bruk!"

"Aduh! Apa it... Gyaaaa! Tulang!" teriak Len kaget, sambil menunjuk tulang itu, atau mungkin lebih tepatnya tengkorak manusia.

"Eh? Kyaaaa!" teriak Miku yang spontan melihat 'benda' yang di tunjuk Len. Dan secara reflek juga Miku memeluk Mikuo yang ada di sampingnya.

"Aduh! Miku aku nggak bisa nafas!" seru Mikuo kesal sambil berusaha mendorong sepupunya yang memberinya death hug itu.

"Nggak! Aku takut! Aku mau keluar dari hutan ini! Huwaaa!" seru Miku sambil menangis karena ketakutan.

"Aaaaaa! Darah! Darah!" teriak Kaito masih kaget dengan apa yang ada di tangannya itu.

"Kaito! Hentikan!" seru Mikuo kesal.

"O oke..." kata Kaito ketakutan sambil berusaha membersihkan darah itu dengan scarfnya. Sementara itu, masih dengan sedikit ketakutan Len berdiri dan berusaha tidak melihat tengkorak itu. Tiba-tiba pandangan Len beralih pada suatu cahaya di depannya.

"Lihat! Kita sudah mau keluar dari hutan ini!" seru Len senang sambil menunjuk arah cahaya itu.

"Mana? Iya! Ayo segera keluar!" seru Kaito senang. Sementara itu Miku dan Mikuo yang posisinya berlawanan segera berbalik arah. Miku yang melihat cahaya itu segera tersenyum lega dan melepaskan Mikuo yang sedari tadi ia peluk. Mikupun segera berlari menuju arah cahaya itu.

"Miku tunggu!" seru Mikuo, 'aneh... padahal aku yakin kita masih berada di tengah hutan... tapi, Kenapa? Kenapa tiba-tiba saja ada cahaya?' pikir Mikuo. Namun sepertinya baik Miku, Len dan Kaito tidak sadar akan hal itu. Terbukti dengan larinya Len dan Kaito menyusul Miku menuju arah cahaya itu.

"Len! Kaito! Tunggu!" seru Mikuo sambil berlari mengejar mereka bertiga. Namun terhenti, karena mereka melihat Miku yang berdiri tepat di tengah cahaya dan hutan. "Miku? Kena..." pertanyaaan Mikuo terhenti ketika di lihatnya apa yang di lihat Miku, yaitu sebuah tebing yang dalamnya sekitar dua puluh meteran. Dan ombak laut yang menghantam tebing itu.

"Apa-apaan ini... Laut? Bukankah kita berada di tengah-tengah daratan?" tanya Kaito. Namun tentu saja tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Kaito.

"Aku mau pulang! Huwaaa!" seru Miku sambil menangis lagi dan terjatuh ke belakang. Untungnya Kaito yang kebetulan berada di belakang Miku segera menangkapnya dan menenangkan Miku.

"Sudah Miku..." kata Kaito menenangkan, sambil mengelus kepala Miku. Sementara Len yang masih kaget tak bisa berkata apa-apa, ia sama kagetnya dengan yang lain. Tempat apa ini? Dimana mereka?

Len yang tak tahu berbuat apa-apa hanya bisa menengok ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu. Dan sepertinya ia menemukannya. Di lihatnya Rin sedang di ujung tebing dan membuka pintu suatu rumah? Tidak itu bukan rumah, itu terlihat seperti rumah namun rumah itu terlihat sudah tua, amat tua. Terbukti dengan adanya tanaman menjalar yang ada di sekeliling rumah itu, serta warna rumah yang menghitam.

"Lihat! Itu Rin! Ayo kita ke sana" kata Len sambil menunjuk rumah yang sudah di masuki oleh Rin.

"... Baiklah" kata Mikuo.

"O oke" kata Miku yang sudah tenang.

"Ya..." kata Kaito.

Akhirnya mereka bertigapun berjalan ke arah rumah yang di masuki Rin itu. Namun entah kenapa tiba-tiba saja langkah mereka berempat tehenti. Mereka seperti tertancap ke bumi.

"A... apa? Aku tak bisa menggerakkan kakiku!" seru Miku panik. Begitu juga yang lainnya. Namun tiba-tiba ada suara yang mengatakan

"Maaf... saat ini sedang ada pertemuan penting, jadi kalian berempat harus menunggu" kata suara itu lembut. Spontan mereka mencari asal suara itu. Namun hasilnya nihil, mereka tak bisa menemukan pemilik suara itu.

Sementara itu ada seorang wanita bertubuh kecil yang sedang duduk di dahan sebuah pohon dan memperhatikan mereka berempat serta rumah yang di masuki oleh Rin tadi.


Rin POV


"Lama tak jumpa Len..." kata Rin sambil meletakkan rangkaian bunga mawar yang sudah berubah warna menjadi hitam itu di depan sebuah batu nisan yang terlihat sudah amat sangat tua.

"Hmp... kau tahu Len? Cucu kita adalah seorang playboy? Benar-benar mirip seperti kamu dulu hihi" kata Rin jahil sambil duduk di depan nisan itu dan memeluk kakinya.

"Len tenang saja... beberapa hari lagi aku akan menyusul mu kok" kata Rin lagi dan tentunya takkan ada yang menjawabnya.

"Yah... seperti biasa aku akan menemani mu sampai malam..."

.

.

.


Normal POV


"Ah! Aku capek!" seru Len kesal.

"Aku mau pulang! Apa lagi ini sudah malam!" seru Miku capek.

"Sabarlah... sebentar lagi Rin pasti keluar" kata Mikuo menangkan.

"Aku mau es krim!" seru Kaito tiba-tiba dan sambut death glare dari yang lain. "Maaf..." kata Kaito menyesal, namun setelah Kaito berkata seperti itu, Rin keluar dari rumah itu dan di saat yang bersamaan kaki mereka berempat bisa bergerak lagi.

"Eh? Kakiku! Aku bisa berjalan lagi!" seru Miku girang, begitu juga Kaito. Segera saja mereka berempat menuju ke rumah yang di masuki oleh Rin tadi. Rencananya mereka mau mengikuti Rin agar bisa keluar dari hutan yang aneh ini. Namun entah kenapa baik Len dan Mikuo lebih tertarik pada rumah yang di masuki Rin tadi.

'Ini... rasanya aku pernah kemari' pikir Len sambil membuka pintu rumah itu dan diikuti oleh Mikuo.

"Mikuo! Len Kagamine! Apa yang kalian lakukakan! ?" seru Miku dari luar.

"Mencari tahu siapa yang 'dikunjungi' Rin" jawab Mikuo sambil memasuki rumah itu.

"Tenanglah Miku aku sudah menandai jalan yang kita lalui tadi kok" kata Kaito menenangkan.

"... Baiklah, kurasa takkan apa-apa ayo kita juga masuk" kata Miku sambil berjalan ke rumah itu diikuti oleh Kaito. Sementara itu...

"Sesuai rencanakan? Ru-sensei?" tanya Rin sambil bersandar pada salah satu pohon dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya.

"Ya, aku sudah tak sabar seperti apa reaksi mereka" jawab seseorang sambil turun dari atas pohon yang di sandari Rin. Dan di tangan orang yang bernama Ru-sansei itu ada sebuah tongkat yang di ujungnya membentuk bintang.

"Ingat Ru-sensei, yang Ru-sensei hanya Len dan Mikuo... yah walau aku tak tahu kenapa Ru-sensei juga ingin membawa Mikuo" kata Rin.

"Yah... kau akan tahu nanti" jawab Ru-sensei.

Sementara di tempat Len, Kaito, Miku dan Mikuo...

"Aduh! Di sini gelap sekali! Oh iya hp!" seru Len sambil mengambil hpnya dan menyalakannya, begitu juga Kaito, Miku dan Mikuo yang mengikuti Len. Dengan sinar dari hpnya Len melihat-lihat isi rumah itu, tapi tak ada apa-apa di situ, sampai Len mengarahkan sinar hpnya ke bwah dan menemukan rangkaian bunga mawar hitam dan sebuah batu nisan.

"Teman-teman! Coba lihat!" panggil Len sambil mencoba membaca tulisan di batu nisan itu, begitu juga yang lain. Dan mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka baca.

Di sini bersemayam :

LUCIFER LEN

XXXX – 712

"A... apa? Tahun 712? Bukankah itu sudah 1300 tahun yang lalu? Apa yang di lakukan Rin di sini sebenarnya?" tanya Miku tak percaya. Namun tentu saja yang hanya bisa menjawab hanya Rin seorang.

"... Sudahlah! Aku sudah muak! Ayo kita pulang saja dan lupakan apapun yang terjadi pada kita hari ini!" seru Len frustasi dan Len segera berdiri dan keluar dari rumah itu. Di ikuti oleh Kaito dan Miku. Sementara Mikuo masih berada di dalam rumah itu. Namun tak lama ia pun keluar sambil berfikir.

'Jadi itu nama orang yang kau cintai Rin'

"Tunggu kita tadi dari mana?" tanya Len sambil membalikkan badannya.

"Kurasa dari situ" tunjuk Kaito agak ragu-ragu. Namun pada akhirnya mereka hanya menurut pada tempat yang di tunjuk oleh Kaito.

.

.

.

"A... aku capek!" keluh Miku sambil menjatuhkan dirinya di tanah. "Kakiku juga sakit!" keluh Miku lagi. Len, Kaito dan Mikuo yang ada di depannya pun berhenti.

"Hei! Masa' hanya berjalan satu jam saja sudah capek! ?" seru Len kesal.

"Sudah Len... Miku kan wanita" kata Kaito memberi alasan.

"Tapi ia menghambat!" seru Len lagi. "Dan lagi sepertinya kita juga tersesat! Kurasa ketika tadi siang kita, hanya membutuhkan waktu setengah jam, kita harus terus berjalan!" tambah Len kesal.

"Baiklah kalau begitu... Miku eh Hatsune-san kau kugendong ya?" tawar Kaito sambil duduk di depan Miku dan menawarkan punggungnya untuk dinaiki.

"Boleh? Terima kasih! Dan panggil aku Miku saja" kata Miku sambil naik ke punggung Kaito dan Kaito sendiri berdiri dengan Miku di punggungnya.

"Baiklah ayo kita jalan lagi" kata Len sambil berjalan kembali diikuti Mikuo dan Kaito dengan Miku di punggungnya.

Namun...

"Gawat kita benar-benar tersesat... kita sudah berjalan lima jam namun kita belum keluar juga" keluh Mikuo sambil melihat jam di hpnya. Jam sebelas malam.

"Yah... terpaksa kita me..."

"Bruk!" ucapan Len terpotong karena tiba-tiba saja ia jatuh.

"Ia pingsan yaaa?"

"Bruk!" kata Miku yang tiba-tiba saja tertidur. Untunglah Miku masih ada di punggung Kaito. Kaito yang kaget segera menurunkan Miku dan membaringkannya.

"Aduh apa yang harus kita lakukan Mik..."

"Bruk!" kini giliran Kaito yang ambruk.

"Ap... apa yang..."

"Bruk!" kini mereka berempat tertidur. Dan ada dua bayangan yang mendekati tubuh mereka berempat.

.

.

.

"Prang!"

"Aargh!"

"Bruk!"

"Clang!"

Bunyi pedang yang beradu membangunkan dua orang yang sepertinya pingsan. Yang satu berambut honey blond yang rambutnya sepanjang pundaknya, namun rambutnya di kucir setengah. Sementara yang satunya berambut hijau teal pendek.

"Ukh... di mana ini?" tanya pemuda yang berambut honey blond yang bernama Len itu pada temannya.

"Jangan tanya aku, aku juga tidak tahu" kata pemuda berambut teal yang bernama Mikuo itu.

"Bruk!" tiba-tiba saja ada sesuatu yang jatuh di dekat mereka berdua dan menggelinding ke dekat mereka.

"Eh apa itu?" tanya Len.

"..."

"..."

"KEPALA MANUSIA? !" seru mereka berdua bersamaan dan secara reflek memeluk satu sama lain. Dan tiba-tiba saja ada seorang wanita di belakang mereka yang memegang sebuah tongkat.

"Wah wah kalian sudah bangun" katanya dengan nada senang "Dan... apa aku harus bilang "Selamat datang" ke dunia Rin 1300 tahun yang lalu?"


Bersambung...


Lynn : Yei! Selesai Juga!

Rin : huwe aku tampilnya dikit...

Lynn : Maaf ya Rinny-poo tapi setidaknya kamu punya POV sendiri dan... omong-omong soal POV, setelah chapter ini kemungkinan besar kebanyakan akan normal POV dan Rin POV doang. Dan maaf atas pergaantian POVnya yang cepat.

Rue : emang aku peduli? Yang kini aku pedulikan adalah kapan gambar adikku Black dan White jadi?

Lynn : E... etto i itu... ternyata gambar wajah anak kecil lebih susah dari dugaan ku jadi... maaf ya Rue...

Rue : ya ya

Lynn : Dan Rinny-poo jangan nangis lagi! Ada Len nih! Len juga bawa jeruk!

Len : Rin! Aku beli Jeruk nih

Rin : Yei! *Rin dan Len langsung pergi entah kemana

Lynn : ! Tunggu! Ah... sial padahal niatnya aku mau minta Rin dan Len minta R dan R yah sudahlah, Rue! Minta R dan R bareng aku ya? Kebetulan aku punya stok susu sekerdus

Rue : ... Oke

Lynn + Rue : R and R please!