.

.

Dengarkan,

aku mencintaimu Shim Changmin,

dan kita akan segera menikah setelah kau lulus kuliah.

Aku akan pastikan itu...

.

.

.

"My One and Only One"

Proudly presented by : ayakakoichi

Pairing : HOMIN (Jung Yunho X Shim Changmin)

Length : 4 of 4 (END)

Rated : semi M maybe?

Warn : Yaoi! Typo's! MPreg!

.

.

***My One and Only One***

.

.

.

Yunho tak pernah putus asa mengharap maaf dari orang tercintanya itu. Hampir setiap hari dia berupaya mencari cara meluluhkan hati calon mertua orang tua Changmin. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk berada di sekitar rumah Changmin, mencari kesempatan untuk bisa bertemu dengan kedua orang tua Changmin, atau paling tidak salah satunya—yang biasanya hanya ditanggapi dengan suara keras tertutupnya pintu rumah itu tepat di depan wajahnya.

Namun tak lantas putus asa, Yunho juga terus mencoba menghubungi Changmin di malam hari, yang biasanya hanya menghasilkan terdengarnya suara operator yang memberikan keterangan bahwa nomer yang ditujunya sedang tidak aktif. Tapi yunho sama sekali tak pernah menyerah untuk terus mencobanya, dan kadang keberuntungan dipihaknya.

Changmin mengangkat panggilan tersebut walau hanya untuk marah-marah dan langsung menutup kembali.

Dan hanya dengan reaksi kecil tersebut dari Changmin, Yunho merasa kalau dia punya kesempatan. Dengan Changmin yang menjawab panggilannya meski untuk marah-marah, berarti Changmin masih ada sedikit perhatian padanya. Walau kecil, dan dia akan tetap berusaha memperjuangkan kesempatan itu.

.

.

***My One and Only One***

.

.

"Aku pulang…" sapa Siwon ketika masuk kedalam rumah orang tuanya malam itu. Yah, dengan keadaan Siwon yang bekerja di luar kota demi keluarganya, dia hanya memiliki kesempatan pulang ke Seoul dua minggu sekali.

"Selamat datang hyung.." balas Changmin sambil berjalan keruang tamu menyambut kehadiran kakak satu-satunya itu. Kandungannya saat ini sudah memasuki pertengahan bulan ketujuh dan terlihat jelas perutnya yang membuncit dengan sehat.

"Apa kabarmu dongsaeng? Baik saja kan? Bagaimana dengan keponakanku?" tanya Siwon beruntun saat melihat kalau adiknya itulah yang menyambut kedatangannya. Siwon menuntun Changmin ke sofa agar adiknya itu tak lama-lama berdiri.

"Aku baik saja hyung. Keponakanmu juga baik saja.. Sepertinya mereka kangen dengan pamannya.. "

"Mereka? Maksudmu?" Siwon mengerutkan dahinya bingung mendengar perkataan Changmin tersebut.

"Yaa mereka.. keponakanmu ini kembar hyung…" Changmin tersenyum dengan begitu manisnya sambil mengingat kembali saat dokter kandungannya mengatakan bahwa anak yang sedang dikandungnya adalah kembar. Kembar! Ia tak percaya kalau Tuhan masih berbaik hati padanya. Menghadiahinya sepasang malaikat kembar yang kini berdiam di dalam tubuhnya.

Walau begitu, Changmin sendiri tidak ingin tahu apa gender dari kedua anaknya itu. Ingin menjadikan itu surprise tersendiri baginya.

"AAAAAAA Chukkae Min ah~! Chukkaeee~! Yess, YESSS! Aku akan punya dua keponakan sekaligus~~!" Siwon melompat kegirangan lalu memeluk adik semata wayangnya yang sedang duduk. Setelah memeluknya pun, Siwon malah meraih kedua tangannya, menggoyang-goyangkan kdua tangan mereka, dengan senyum bodoh yang tak lepas dari wajah hyungnya.

Changmin hanya bisa memutar kedua bola mata bambinya menanggapi kelakuan hyungnya yang tak beda dengan anak TK itu.

.

.

***My One and Only One***

.

.

Krieeet~

Siwon membuka pintu kamar Changmin dengan perlahan, tak ingin mengganggu pulasnya tidur adik tersayangnya itu. Dia menuju sisi kiri tempat tidur Changmin dan duduk ditepi ranjang dengan perlahan, menatap wajah polos Changmin yang –semoga— sedang berada dalam mimpi indahnya.

'Minnie ah.. maafkan hyung ne… Maafkan hyung yang telah mengenalkanmu pada Yunho.. Jika kau tak mengenal Yunho, atau andai aku tak mengizinkan kalian membina hubungan, pasti hidupmu saat ini tak menderita seperti ini.' Siwon membatin lirih sembari membelai rambut adiknya.

'Jika tak seperti ini keadaannya, kau pasti telah berada di Amerika memenuhi beasiswa yang kau idam-idamkan itu. Kau pasti sedang belajar keras untuk menggapai cita-citamu. Kau pasti sedang bersama teman-temanmu, tertawa lepas sebagaimana yang dilakukan oleh remaja lain.. Tak seperti ini, terpaksa berdiam dalam rumah, menunda segala cita-cita demi anakmu, dan yang paling menyakitkan, berusaha melupakan Jung Yunho itu dan melewati saat-saat hamilmu sendiri tanpa dia.. Maafkan hyung, Minnie ah..' . Wajah tampan Siwon kini bermendungkan kesedihan jika mengingat nasib adik yang paling ia sayang itu. Sungguh, sebagai seorang kakak, Siwon merasa gagal menjaga kebahagiaan adiknya itu.

Tapi setiap kejadian, pasti ada hikmahnya. Itu adalah hal yang ia percayai. Karena itu..

'Kuharap kita semua bisa mengambil hal positif dari keadaan saat ini.. Aku percaya kau mampu bertahan adik kecilku…' Siwon tersenyum tulus sambil mengusap pipi adik tunggal nya itu.

.

.

.

Ttrrrrrtt.. Trrrrttt..

Ponsel Changmin yang terletak di atas meja nakas samping tempat tidur itu bergetar—menandakan adanya telepon masuk.

Siwon tadinya tak terlalu perduli dengan getar ponsel itu, mengingat itu bukanlah barang miliknya. Akan tetapi getar yang tanpa henti itu mengusik acara—mari—melamun- yang sedang dilakukan oleh Siwon sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.

Tanpa melihat ID si penelepon, Siwon langsung menggeser panel hijau di smartphone itu.

"Yeoboseo.. Changdola, kenapa kau tak pernah menjawab teleponku atau membalas pesanku?… sudah makan, baby?"

Siwon tersentak mendengar suara yang dikenalnya itu. Jung yunho.

"Kau… Jung! Sungguh tak tahu diri sekali, huh!" Siwon menjawab telepon dari Yunho dengan menahan emosi.

Terkejut mendengar suara lain dari yang diharapkan, dengan tergesa-gesa yang di seberang segera menutup sambungan telepon. Siwon yang masih kesal ,segera mengecek isi inbox handphone Changmin yang penuh dengan pesan dari Yunho.

Tak lama, handphone Changmin bergetar lagi dan Siwon segera mengangkatnya.

" Masih belum cukup kau menyakiti adikku, Jung?"

"Siwon.. Won ah, bisakah kita bertemu besok? ada yang ingin aku bicarakan serius. Kumohon"

"Kau mau bicara apa? Aku sama sekali tak ingin bertemu denganmu!"

"Kumohon..biarkan aku menjelaskan masalah ini Won.. Aku tahu aku bersalah, dan aku sangat ingin menebus semua kesalahanku pada Changmin dan anak kami. Bagaimanapun juga, aku ayah dari keponakanmu, dan aku ingin menebus segalanya. Kumohon Won ah..."

"…"

Siwon akhirnya menghela nafas karena ia tahu ucapan Yunho itu benar.

"Baiklah.."

.

.

***My One and Only One***

.

.

Seorang pria bermata musang tajam dengan pakaian kasual terlihat sedang duduk di salah satu kursi dalam kafe yang berada dipinggiran jantung kota Seoul. Tangan nya memainkan cangkir berisi caramel macchiato yang telah dipesannya sejak dua jam yang lalu. Sangat terlihat bahasa tubuhnya bahwa dia sedang menunggu seseorang di tengah hari di akhir minggu bulan April ini.

Dia terlihat agak gelisah, mungkin sangat gelisah, tapi di sembunyikannya rapat-rapat. Tak ingin semua orang isi kafe ini ikut merasakan kegelisahannya.

Orang yang telah membuat janji dengannya hari ini belum juga menampakkan batang hidungnya. Kalau saja dia masih dia yang dulu, mungkin telat lima menit dia akan langsung pergi tanpa mau menunggu lama. Tapi situasi kali ini berbeda…

.

.

.

Triingg~

Suara bel yang tergantung di bagian atas pintu kafe itu berbunyi kecil, yang segera disambut oleh waiter kafe yang selalu mengembangkan senyumnya. Seorang pria tinggi masuk dengan gagahnya, berjalan menuju meja yang telah dipesan oleh orang yang membuat janji dengannya—yang ternyata adalah si pria mata musang tadi.

"Ada perlu apa kau ingin bertemu denganku, Yunho?"

Suara dingin Siwon langsung keluar sesaat setelah dia duduk dengan tegang di kursi tepat berseberangan dengan Yunho.

Yunho sendiri sebenarnya tersentak kecil mendnegar suara sahabatnya yang kini terdegar begitu dingin. Namun ia maklum..dan tak gentar sama sekali. Ini adalah awal dari kemungkinan berhasilnya ia mendapatkan Changmin kembali.

"Siwon ah, terima kasih kau telah meluangkan waktumu. Aku benar-benar ingin berbicara kepadamu.. Oh, apa kabar—"

"Cukup. Hentikan semua basa basimu itu Jung. Cepat katakan apa yang mau kau katakan, karena aku sama sekali tak punya banyak waktu untuk dihabiskan bersamamu."

"Won ah, kau telah lama mengenalku, kau paling tau apa bagaimana sifatku.. kuharap kau mau mendengarkanku dulu."

Siwon mendengus kesal.

"Aku mengira bahwa aku mengenalmu, Jung Yunho. Mengira dengan lamanya aku mengenal dan dekat dengan mu hingga aku dengan senang hati mempercayakan adikku satu-satunya yang begitu berharga kepadamu. Tapi.. kenyataannya kau lah yang telah menghancurkannya luar dan dalam. Aku begitu menyesal mengenalkanmu padanya Jung.. Amat sangat menyesal.." ucap Siwon dengan nada pahit yang sangat kentara.

"Aku tahu.. Aku bersalah.. Aku sangat menyesal Siwon ah. Aku amat sangat mencintai Changmin dan serius ingin menikahinya. Hanya saja waktu itu... waktu itu aku belum siap mendengar berita kehamilannya dan…" Yunho berhenti bicara, tak sanggup menahan airmata di pelupuk matanya.

"Aku bodoh, Won ah.. Aku bodoh karena menyia-nyiakan orang yang jelas-jelas kucintai. Maaf Siwon ah.. maaf karena aku menyakiti adikmu. Menyakiti orang yang sangat aku cintai.. Kau boleh menghajarku sebanyak apapun kalau kau mau…"

"..."

Siwon terdiam lama. Batinnya berperang. Bukannya dia tak membenci perbuatan Yunho dulu. Meninggalkan adiknya dalam keadaan hamil. Akan tetapi, dia telah mengenal Yunho lama. Ia tahu bagaimana terkadang Yunho dengan bodoh mengambil keputusan dan tindakan tanpa berpikir dengan matang.

Selain itu...usia kehamilan Changmin sudah beranjak kebulan ketujuh. Adiknya itu akan segera melahirkan. Dan ia tak ingin kedua keponakan kembarnya tak memiliki ayah.

Setiap orang butuh kesempatan kedua dalam hidupnya. Dan niat Yunho menemuinya untuk menebus kesalahan merupakan bukti kalau Yunho benar-benar menyesal. Lagipula, manusia mana yang tak pernah salah?

Dan perlahan ia luluh oleh semua pengakuan Yunho…

"Baiklah. Aku memaafkanmu. Kuberi kau kesempatan kedua. Jika kau kembali menyakiti Changmin, jangan harap kau bisa menatap matahari lagi!"

Yunho langsung menatap sahabatnya itu dengan senang. Binar harapan dan senyum penuh kebahagiaan memenuhi wajahnya yang sudah lama mendung.

"Gomawo! Gomawo Won ah!"

"Akan kucoba untuk membujuk appa dan umma." ucap Siwon lagi. "Kali ini aku membantumu, ku harap kau mau bersabar "

.

.

***My One and Only One***

.

.

Berbulan lamanya, Changmin telah berjanji pada diri sendiri untuk membenci Yunho.. Yunho yang meninggalkannya dalam keadaan hamil.

Namun sekarang, Yunho kembali, dan seiring berlalunya hari, ia semakin gencar dan agresif menghubunginya. Menghubungi melalui pesan singkat ataupun telepon. Bahkan 3 hari yang lalu Yunho mengirimkan pesan multimedia yang berisikan foto-foto set pakaian bayi yang telah dibelinya untuk anak mereka.

Setiap malam juga, Yunho tak lupa mengingatkan Changmin meminum susu untuk ibu hamil yang ia belikan sendiri dan di titipkan ke Siwon. Bahkan Changmin mengidam pun, (tentu saja berbekal info dari Siwon) Yunho – dengan di bantu ummanya— berjuang membuat cake pisang dengan topping saus durian pasta coklat, dan menitipkan nya pada Siwon di tengah malam buta untuk diberikan pada Changmin.

Dan Changmin pun bukannya buta atau bodoh yang tak tau bahwa Yunho sedang berusaha menjangkau hatinya lewat Siwon.

Sebenci-bencinya Changmin.. seberapapun ia berusaha membuat dirinya membenci Yunho, bagaimanapun juga dia masih saja menyimpan rasa cinta kepada Yunho. Perasaan cintanya yang selama berbulan-bulan berusaha dipadamkannya itu, malah balik menyerang hatinya, membesar dan semakin membesar.

Salahkan hormone kehamilannya (?) selama mengandung, yang membuatnya ingin terus berada di dekat Yunho. Dia terus merindukan Yunho. Akan tetapi dia tahu tempatnya. Yunho tak ada disampingnya. Yunho meninggalkan dia dan anaknya. Terlebih seluruh keluarganya membenci Yunho. Dia terus berupaya mengubur rasa cinta dan rindu. Dia terus berusaha menahan segala keinginannya itu.

Dan dengan kembalinya Yunho saat ini, membuatnya sadar bahwa bagaimanapun kerasnya upaya untuk membenci Yunho tapi dia tetap mencintainya. Cinta pertamanya, Ayah dari bayi kembarnya.

.

.

.

***My One and Only One***

.

.

.

Hari demi hari berlalu, Siwon saat ini telah dimutasi ke kantor pusat di Seoul memudahkan usaha Yunho untuk melunakkan hati Kangin dan Leeteuk. Siwon mendekati Ummanya dan berusaha membujuk ummanya untuk memaafkan Yunho. Dan usahanya itu tidak sia-sia, toh Leeteuk sendiri adalah pribadi yang halus dan pemaaf. Siwon berhasil meyakinkan nya bahwa Yunho berhak diberi kesempatan kedua.

Dan Leeteuk pun mulai berusaha mencairkan hati keras Kangin sedikit demi sedikit.

Kangin yang keras, setelah berhadapan dengan malaikat lembutnya itu, mulai mencair. Hingga suatu hari Siwon member kode pada Yunho untuk kembali datang kerumahnya untuk bertemu dengan orangtuanya.

.

.

.

***My One and Only One***

.

.

.

Malam itu Yunho terlihat begitu tampan setelah berminggu-minggu terlihat begitu kusam. Dia telah bercukur, mandi berlama-lama, menyabuni tubuhnya berkali-kali. Setelah memastikan seluruh tubuhnya wangi, Ia mengenakan pakaian yang paling terlihat sopan tapi tetap menarik. Menata rambutnya serapi dan setampan yang ia bisa. Membeli buah tangan mahal buat calon mertuanya, dan membawa seikat bunga mawar merah untuk calon kekasihnya.

Ya, malam itu dia akan pergi bersama kedua orang tuanya untuk meminta maaf kepada keluarga Changmin.

Soal dia membawa kedua orang tuanya, bukannya dia tak berani untuk meminta maaf kepada Kangin, Leeteuk dan Changmin, tetapi agar mereka tahu bahwa Yunho itu serius dengan maksudnya. Maksud dirinya untuk meminta maaf dan merajut kasih kembali dengan Changmin, serta memperbaiki semua kesalahannya.

.

.

***My One and Only One***

.

.

Pukul 7 malam, dan keluarga Jung telah sampai dirumah keluarga Shim. Siwon membukakan pintu dan menyambut keluarga Jung dengan sumringah. Kedua orang tua Siwon menunggu berada di ruang tamu, sedangkan Changmin sama sekali tidak mau keluar dari kamar.

"Perkenalkan, saya Shim Youngwoon ayah Siwon dan Changmin. Silahkan duduk Tuan Jung, Ny. Jung.. dan kau Yunho." . Kangin, sebagai empunya rumah berusaha menjaga tatakramanya walau masih ada rasa kurang suka kepada Yunho.

"Terima kasih Tuan Shim.. maaf kami mengganggu malam-malam.." ucap Umma Yunho.

"Langsung saja, kami datang kemari bukannya ingin membela kelakuan Yunho. Tapi kami kemari ingin ikut meminta maaf kepada keluarga Shim, terlebih pada Changmin atas apa yang pernah diperbuat oleh Yunho. Kami merasa begitu bersalah, karena sepertinya kami telah gagal mendidik anak kami satu-satunya ini.." ujar Tuan Jung langsung ke inti masalah.

ikut mengangguk membenarkan ucapan suaminya. "Kami sama sekali tidak tahu kalau Yunho berhubungan dengan Changmin, dan kami pun sama sekali tidak mengenal Changmin. Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas perbuatan Yunho pada Changmin.. Mohon maafkan kami.." tambah Ny. Jung sambil menundukkan kepalanya.

"Umma.. aku yang bersalah. Umma dan Appa tidak perlu meminta maaf.." potong Yunho sedih karena Appa Umma nya menundukkan kepala di depan orang lain karena kesalahannya. Dia merasa kalau dia seperti remaja nakal yang sama sekali tak bisa melakukan pembelaan diri.

Kangin menghela nafas melihat melihat kedua orang tua Yunho yang menundukkan kepala kepadanya.

"Aku dan istriku tadinya memang begitu kecewa dengan perbuatan Yunho dan Changmin." ucap Kangin memulai. "Kami sadar, bagaimanapun, Changmin juga turut bersalah dalam masalah ini. Mereka telah menyalahgunakan kepercayaan yang kami berikan. Tapi yang paling mengejutkan adalah, ternyata hasil perbuatan mereka berbuah menjadi janin yang sekarang ada di dalam raga anakku."

Kangin terdiam sebentar untuk mengambil nafas dan menata emosinya.

"Dan buruknya, Yunho malah pergi meninggalkan segala tanggung jawabnya, melimpahkan semuanya pada Changmin. Aku sendiri bukannya membela kesalahan Changmin, tapi tolong pikir dengan logika. Anakku itu lelaki. Dan dia hamil! DEMI TUHAN, lelaki mana yang bisa hamil? Dan dia ditinggalkan untuk menghadapi semua keadaan yang menimpa dirinya sendirian! Sedangkan pasangannnya.. malah lepas tangan.." Kangin menyindir penuh emosi dan menatap tajam kearah Yunho.

Leeteuk meraih bahu kekar Changmin dan berusaha menenangkan suaminya yang terbawa emosi itu.

"Satu-satunya yang membuatku bangga kepada Changmin adalah dia sama sekali tidak ingin membunuh anak yang ada dalam kandungannya. Dia mencintainya. Dari awal hingga saat ini, dia selalu berusaha menjaga bayinya. Walaupun berbanding terbalik dengan kondisi kesehatannya, Changmin berusaha kuat agar janinnya tak kurang suatu apapun. Dia bertahan dengan segala hal yang menimpanya. Dia membuang impiannya, dia membuang perasaannya demi buah hatinya." tambah Leeteuk denga suaranya dan ekspresi yang lembut. Usapan tangannya yang tak berhenti di bahu Kangin membuat suaminya itu perlahan menjadi tenang.

"Dan aku sendiri tak bisa dipungkiri, aku senang dengan kenyataan bahwa aku akan segera punya cucu.." Leeteuk mengakhiri kalimat panjangnya dengan senyum simpul.

Tuan dan Ny. Jung pun ikut tersenyum dengan penuturan itu, dalam hati mereka merasa yakin bahwa Changmin adalah anak yang sangat baik dan kan menjadi Ibu yang mencintai keluarganya.

"Ketika Yunho kembali, aku merasa sangat marah hingga akhirnya berusaha untuk melindungi Changmin kami agar tak bertemu lagi dengan Yunho. Kondisinya saat ini sudah menyedihkan, kami tak ingin menyakitinya lagi dengan mempertemukannya kembali pada Yunho.." ucap Kangin yang membuat tiga anggota keluarga Jung yang ada di sana menjadi kaget.

"Apa maksud Anda dengan kondisi menyedihkan?" sela Ny. Jung heran.

"Changmin itu seorang lelaki. Kondisi tubuhnya sama sekali berbeda dengan wanita, yang memang diciptakan Tuhan untuk bisa mengandung. Changmin sangat menderita di awal kehamilannya, tubuhnya harus membiasakan diri dengan janin yang berkembang dalam tubuhnya. Hampir setiap hari dia kesakitan karena prosesnya. Kami berusaha membawanya ke rumah sakit, dan dengan kasus kehamilan pada pria yang amat sangat langka, dokter pun tak bisa banyak membantu. Kami juga bukan keluarga berada, tak bisa sering-sering membawa Changmin ke rumah sakit.."

"Kami hanya mampu memberikannya vitamin-vitamin dan penguat kandungan. Sejak hamil, Changmin bahkan sudah dua kali hampir saja mengalami keguguran. Karena tubuh Changmin menjadi begitu lemah hingga kandungannya ikut melemah. Dari situ kami memutuskan agar dia mengambil cuti kuliah. Dan belakangan sepertinya dia menahan diri, tak ingin memberatkan kami. Dia anak yang sangat peka, dia pasti merasa merepotkan kami, hingga tak pernah mengeluh sakit lagi. Padahal bukan sekali dua kali aku memergoki dia menahan rasa sakitnya.."

Yunho dan keluarganya sangat terkejut dengan pengakuan Kangin dan Leeteuk. Yunho memang sudah berdamai dengan Siwon, tapi Siwon pun tak pernah menceritakan hal ini padanya. Hati nya terasa begitu sakit membayangkan penderitaan yang di alami Changmin selama ini.

"Yunho, aku masih membencimu. Kau telah memberikan penderitaan pada Changmin kami dan seenaknya pergi meninggalkannya. Tapi sekarang kau kembali dan berusaha untuk memperbaiki kesalahanmu. Kami menghargai itu. Kami memang bukan Tuhan yang bisa memberikan maaf semudah itu pada manusia. Tapi kami punya mata dan hati yang bisa melihat bagaimana usahamu itu..

Sekarang, terserah pada Changmin. Dialah yang akan menentukan masa depan kalian. Kami hanya orang tua yang ingin melindungi anak-anak kami, tapi bagaimanapun kami tahu punya batasan dalam hidup mereka. Jika kau berhasil membuat Changmin kembali menerimamu, kami tak akan mempermasalahkan hal ini lagi." Leeteuk mewakili Kangin memberikan izin mereka untuk Yunho kembali pada Changmin lagi.

Yunho menghembuskan nafas lega, sedang orang tuanya tersenyum lebar mendengar calon besannya –semoga- memberikan restunya.

Yunho kemudian berlutut di depan Kangin dan Leeteuk. "Terima kasih ahjussi, ahjumma.. benar-benar terima kasih.. Aku sangat menghargai keputusan kalian. Aku akan berusaha agar Changmin mau memaafkan dan menerima ku lagi.."

.

.

***My One and Only One***

.

.

. .

Yunho saat ini berada di depan pintu kamar Changmin. Lima belas menit telah dihabiskannya untuk mematung memandangi pintu berwarna coklat muda itu sambil membayangkan apa yang akan terjadi begitu dia dapat melewati batas pintu itu. Malam sebelumnya Kangin telah memberinya izin untuk menemui Changmin dan sekarang disinilah dia, berusaha mencari cara agar Changmin berkenan membukakan pintu untuknya. Tahu bahwa semakin lama waktu yang dihabiskannya untuk melamun semakin sedikit kesempatannya untuk dapat bertatap muka dengan Changmin. Dia tak akan melewatkan kesempatan emas ini! Menghembuskan nafasnya…dan..

Tok tok tok

…perlahan Yunho mengetuk pintu itu…

.

.

Changmin POV

Malam itu aku telah diberitahu Siwon hyung bahwa Yunho akan datang kerumah setelah Appa dan Umma bisa memaafkannya. Appa dan Umma juga telah mennyerahkan semua keputusan ditanganku, apakah aku mau kembali pada Yunho atau tidak. Karena jawaban yang manapun mereka akan tetap mendukungku.

Saat Yunho datang, aku mengendap-endap keluar dari kamar dan bersembunyi di ujung tangga menuju ruang tamu. Aku cukup terkejut bahwa dia membawa kedua orang tuanya karena bahkan aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka. Dan semua jalan cerita mereka malam itu, kusaksikan langsung dengan kedua mata kepalaku sendiri.

Karena itu saat ini aku bimbang. Aku melihat dengan jelas bagaimana raut wajah menyesal Yunho dan bagaimana kedua orang tuanya sangat ingin keluarga kami memaafkan anaknya. Satu sisi aku ingin terus membencinya. Tapi sisi lain aku ingin langsung memelukknya, memaafkannya dan mengatakan betapa aku sangat membenci dan merindukannya sekaligus..

Aku merasa belum siap. Belum siap untuk menghadapi dirinya langsung. Belum siap untuk memaafkannya. Belum siap untuk menerimanya kembali.. Aku takut, dia akan mengulangi hal yang sama lagi. Dia pergi dariku. Dia meninggalkanku. Itulah pengalaman paling berat yang pernah kurasakan. Entahlah bagaimana harus mengungkapkannya dengan kata-kata. Tapi.. Aku begitu mencintainya. Dan saat dia pergi meninggalkanku itu, rasanya sebagian jiwaku mati. Butuh waktu yang lama untuk dapat bangkit kembali. Kalau bukan demi bayi dan keluargaku, aku takkan sanggup menjadi seperti sekarang ini.

Aku benar-benar bingung.. apa yang harus kulakukan? Kuelus pelan perutku. Hey babies.. menurut kalian Umma harus bagaimana? Apakah umma juga harus memaafkan Appa kalian? Dan bayi-bayi aktifku menjawab dengan tendangan halus di sekitar kiri perutku.. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Kalian ingin bertemu dengan Appa juga ne?

Tap tap tap

Ada suara langkah seseorang yang berhenti di depan pintu kamarku. Dan itu bukan milik keluargaku. Aku mengenal langkah kaki semu keluargaku. Ini pasti dia..

Sial! Jantungku berdetak begitu keras.. Aku begitu gugup.. Aku harus mengendalikan diriku secepatnya. Jangan tunjukkan wajah menderita di depannya. Kendalikan dirimu Changmin!

Setelah beberapa saat sama sekali tak ada tanda apapun, aku yang mulai rileks langsung shock ketika mendengar pintu kamarku diketuk pelan olehnya. Aku yang terus membisu dan gemetar di dalam kamar membuat nya lantas memutar kenop pintu dan membukanya. Betapa bodohnya aku tidak menguncinya!

Krieeett

"Changmin ah…"

END CHANGMIN POV

.

.

Lima menit dari Yunho mengetuk pintu kamar Changmin, sama sekali tidak ada reaksi dari dalam. Yunho coba mengetuk sekali lagi – kali ini agak keras – masih tidak ada jawaban. Yunho mulai agak panic, takut terjadi sesuatu pada Changmin. Dengan hati-hati, Yunho mencoba memutar kenop pintu itu dan –Walla- pintu itu sama sekali tidak dikunci dan terbuka dengan mudahnya. Dia bersyukur pelan, dan membuka pintu itu sedikit demi sedikit..

Krieettt

"Changmin ah…" Yunho mencoba melongok kedalam kamar untuk melihat Changmin sebelum

PRANGGGGG!

Yunho sama sekali tak sempat berkedip saat sebuah benda lewat dengan cepatnya tepat di depan matanya, dan menabrak dinding dengan suara yang begitu keras. Yunho yang shock bahkan sama sekali tak bernapas saat hal itu terjadi. Selang beberapa detik dia melihat kearah lantai dan menemukan vas keramik telah hancur dengan elegannya berkeping-keping. Saat Yunho yang telah keluar dari masa trance nya itu mencoba melangkahkan kaki kedalam kamar, kali ini dia disambut dengan beker terbang yang menabrak lengan kirinya dengan tepat beserta sebuah desisan yang keluar dari mulut orang yang dicari-carinya.

"Siapa yang mengijinkanmu masuk Jung?"

Changmin mengeluarkan suara sedingin es saat mengucapkan kata sambutannya pada mantan kekasihnya itu.

"Beraninya kau masuk tanpa izinku, heh?!"

"Mm.. mian Baby.."

"baby,perutmu…?"Yunho membelalakkan matanya ketika melihat perut Changmin yang membuncit semakin besar.

"Siapa yang mengizinkanmu manggilku dengan sebutan itu hah?!. Bukannya kita sudah berakhir?. Kubilang KELUAR" Changmin mendesis kesal,lalu melempar bantal di dekatnya kearah wajah Yunho. Setelah itu mencecarnya dengan omelan-omelan panjang agar Yunho pergi meninggalkan kamarnya. Yunho tetap bertahan saat sebuah gelas kaca di lempar oleh Changmin dan pecahannya melukai telapak kakinya hingga berdarah. Yunho tak gentar mendekati Changmin untuk memohon maaf. Saat ia berusaha berjalan menjangkau tempat tidur Changmin,kakinya menginjak pecahan kaca lainnya, Hingga Yunho jatuh terduduk karena tak kuat menahan sakit.

"Shim Changmin,aku mencintaimu..aku memang bodoh dulu mencampakkanmu saat mengandung anak kita. Aku bodoh mencampakkan orang yang sudah menjadi separuh hidupku dan calon umma dari anak kita. Waktu itu aku terlalu terkejut dan panic mendengar kehamilanmu …"

"Maaf…Maaf…maaf"

Changmin bisa melihat keseriusan di mata YUnho. Hati Changmin tersentuh saat melihat air mata Yunho ketika memohon maaf. Ia membantu Yunho untuk bangkit ke tempat tidurnya,setelah itu Changmin mengambil peralatan p3k di laci nakas sebelah ranjangnya. mengobati serta memberi perban di kaki Yunho dengan penuh sayang.

Changmin merindukan orang di depannya. Yunho duduk di pinggir ranjang Changmin,hanya berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Yunho tersenyum mendekati perut bencit Changmin "hey baby,ini appa. Kami sungguh tak sabar menantikan kelahiranmu.." Yunho mengecup perut lama sebuah tendangan membalas seolah bayi-bayi di dalam rahim Changmin mengerti yang mengajak bicara adalah appa mereka.

"anak kita kembar,Yun. Tapi aku masih belum tahu gender mereka,biarlah jadi kejutan " Yunho tersenyum lebar,lalu mengecup dahi Changmin penuh cinta.

"Shim Changmin,will you marry me?". Ujar Yunho sambil mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Cincin yang sudah ia siapkan sejak seminggu yang lalu. Changmin tak kuasa menahan air mata bahagianya saat Yunho menyematkan cincin itu.

Beberapa hari setelah Yunho dan keluarganya datang untuk meminta maaf ,Changmin dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan . Tak selang beberapa hari dirawat,air ketuban Changmin pecah dan harus di operasi segera. 2 bayi kembar perempuan dan laki-laki yang diberi nama Taemin dan Jongin lahir prematur. Changmin sendiri sempat mengalami koma 4 hari,sempat membuat kalut keluarganya dan terutama Yunho –yang sangat takut kehilangan Changmin-. Saat Changmin tersadar, langsung dilakukan operasi pengangkatan rahim Changmin. Seminggu Changmin keluar dari rumah sakit,Keluarga Jung dan Shim membuat pesta pernikahan kecil-kecilan dan tertutup. Mr Jung membelikan rumah baru sebagai hadiah untuk Yunho dan keluarga kecil barunnya.

.

.

.

.

.

(7 bulan kemudian)

Pukul 12 malam, Changmin keluar dari dapur setelah membuatkan susu untuk Taemin dan Jongin, Sedangkan Yunho masih di kamar bercanda dengan bayi kembar mereka yang saat ini sudah berusia 5 bulan. Changmi menatap ketiga anggota keluarga barunya itu dengan senyum lembut.

Yunho memang memiliki bakat alami menjadi seorang ayah. Membantunya mengurus Taemin dan Jongin dengan penuh kesungguhan hati. Seperti saat ini, setelah menerima botol susu mereka, Yunho terus menepuk-nepuk anak kembar mereka, sembari bersenandung kecil meninabobokkan keduanya.

.

.

.

Beberapa menit setelah Taemin dan Jongin tertidur, keduanya kembali ke kamar utama. Namun tiba-tiba saja Yunho menarik tangan Changmin hingga jatuh terlentang di tempat tidur mereka. Yunho merangkak keatas tubuh Changmin dengan seringaian penuh nafsu.

"Y-Yun?"

"Baby, masih ingat terakhir kali kita melakukan hubungan seks? Sudah lama sekali bukan? Bahkan setelah kita menikah, kita belum sempat berbulan madu~ " ucap Yunho sambil mendekatkan wajahnya di leher Changmin. Menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat menggairahkan itu.

"Yah! Pervert! Mesum! Anak kita baru tidur, dan ini sudah malam!" Changmin berontak, dan dengan spontan melemparkan bantal kearah suaminya agar pergi.

Namun terlambat bagi Changmin, Yunho sekarang ini bagai macan kelaparan. Tak peduli Changmin berontak, Yunho dengan sigap menahan kedua tangan Changmin, menyatukan keduanya di atas kepala Changmin, dan menahannya dengan satu tangan. Satu tangannya yang lain ia gunakan untuk mulai melepaskan kancing-kancing kemeja Changmin.

"Y-yunho.." rengek Changmin yang tak bisa berbuat apa-apa melihat tubuh atasnya kini terekspos bagi mata lapar Yunho.

"Ayolah baby~ hampir setahun kita putus dan sekarang saja kita sudah menikah, tapi kita belum melakukannya lagi. Lagipula, bagi seorang lelaki sehat, tak baik kalau kita tak melakukannya dalam jangka waktu yang terlalu lama. Selain itu...aku tahu kalau kau sebenarnya juga merindukanku, baby~ " bujuk Yunho dengan suara rendahnya yang selalu bisa membuat tuubuh Changmin bergetar.

"..."

"Dan kau tak perlu khawatir hamil lagi, baby. Lagipula kita sudah dapat paket lengkap bayi perempuan dan laki-laki. Dua anak cukup kok~ HAHAHAHAHA "

"..."

"Ini sudah setahun lebih tanpa seks. Selama kita berpisah pun, aku selalu hidup selibat karena aku tak bisa, jika bukan denganmu baby~ pleasee..?"

"U-uh.. b-baiklah—aahh~!"

Begitu kata persetujuan lolos dari bibir Changmin, Yunho langsung menyerang nipple Changmin dan membuatnya mendesah.

Seringaian langsung terukir jelas di bibir Yunho saat mendengar desahan Changmin yang sangat merdu itu. Tanpa menunggu lagi, Yunho langsung menyerang kedua nipple Changmin dengan tangan dan mulutnya.

Tangan kanannya meremas dan memijit-mijit, serta sesekali mencubitnya dengan gemas. Sementara mulutnya mengulum nipple yang sebelah kiri sambil mengemut aerola yang terasa sangat menggemaskan itu.

"A-ahh.. nghh..Yunho..Yunho.."

"Ya, baby. Terus sebut namaku.." bisik Yunho sembari mulai bergerak turun ke bawah. Menelusuri perut yang kini sudah kembali rata...turun terus hingga ke tempat yang paling ia harapkan.

.

.

***My One and Only One***

.

.

Malam semakin larut.. kedua pasangan suami-istri muda semakin panas dengan suara desahan Changmin yang memenuhi kamar mereka.

Terlihat dengan jelas kalau kini sang istri terbaring pasrah dengan kedua tangan meremas bantalnya dengan kuat. Kedua kakinya terbuka dengan lebar, dan bibirnya terus menyuarakan desahan.

Sedangkan sang suami, membungkuk dengan kepala yang terbenam di antara sepasang paha ramping yang mulus dan kenyal itu.

"A-aah.. Yun... mmhh.. disitu.. Aahh..! Lagiihh.. " desah Changmin ketika Yunho sibuk meng-foreplay holenya. Tiga jari sudah terbenam di lubang sempit yang hangat itu. Bibirnya sendiri sibuk mengulum kejantanan Changmin yang sudah mengeras lagi—karena tadi Yunho sudah membuat Changmin mencapai klimaks satu kali— dan mengeluarkan precum di mulutnya.

Sepertinya sweetspot Changmin sudah ketemu, dan—

"Kau mau langsung ke kegiatan utama, baby?"

Pertanyaan Yunho di jawab dengan anggukan antusias dari Changmin.

Yunho langsung melepaskan junior Changmin dari kuluman bibirnya, dan mengelurakan jarinya dari hole sempit Changmin.

"Sabar baby~ " goda Yunho saat mendengar suara rengekan menggoda dari Changmin ketika ia mengelurakan ketiga jarinya. "Aku akan memberimu yang jauh lebih besar~ "

Yunho dengan semangat melumuri holenya dengan lube. Mengocoknya sebentar sebelum mengarahkan kejantanananya didepan hole istrinya.

"A-aahh..! Pe-pelan-pelan Yun..nghhh.." rintih Changmin saat merasakan penis besar Yunho mulai menginvasi holenya yang sudah setahun lebih tak termasuki apapun itu. Menjadikannya amat sangat ketat meskipun Yunho sudah melakukan persiapan untuknya.

Di lain pihak, Yunho sendiri menggeretakkan giginya untuk menahan dirinya bergerak dengan pelan memasuki hole istrinya yang langsung melingkupi penisnya dengan ketat dan kuat. Dan lembut bagian dalam hole Changmin, serta kehangatan yang terasa di penisnya membuatnya benar-benar harus ekstra menahan diri untuk tak langsung orgasme saat itu juga.

Ya Tuhan...lubang istrinya memang benar-benar bagaikan surga untuknya! Lubang paling nikmat yang pernah ia rasakan, dan pastinya ia tak akan bosan dengan hole ketat istrinya yang terus memijat penisnya itu.

Belum masuk secara keseluruhan(karena sungguh, penis Yunho itu benar-enar besar dan panjang), suara tangisan Jongin meng-interupsi kegiatan mereka.

Tubuh Yunho langsung membeku tak bergerak.

Tak lama, bayi perempuan mereka, Taemin, menyusul adiknya dan ikut menangis dengan keras. Semakin lama,suara tangisan mereka semakin keras, membuat Changmin mendorong bahu Yunho pelan.

"Yun.." panggilnya dengan lirih.

"Tapi baby...aku belum—"

"Huwwaaaaaaa T^T Huwwaaaaaaa TT^TT "

Seolah tak peduli dengan keadaan orang tua mereka, kedua bayi berusia lima bulan itu menangis semakin keras.

"Please, Yun. Taemin dan Jongin menangis.." pinta Changmin dengan mata bambinya yang menatap Yunho penuh harap.

Yunho langsung menutup kedua matanya erat-erat. Dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya dengan kesal sembari mengeluarkan separuh penisnya yang tertanam di lubang surga istrinya itu.

"Baiklah. Sana pergi." ucap Yunho sambil berguling ke samping. Membelakangi Changmin yang kini hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah ngambek suaminya itu.

Namun tangisan bayi mereka membuat Changmin cepat-cepat membalutkan selimut ke tubuhnya.

"Bersabarlah dulu, nanti aku akan memberimu service blowjob~ " bisik Changmin dengan suara seksi tepat di telinga Yunho sebelum ia langsung berlari keluar menuju ke kamar bayi kembarnya.

.

.

.

.

.

~END~

AKHIRNYA SELESAI JUGAAAA :DD. My one and only one udah resmi tamat,dan aku buat gantung di situ. Selanjutnya yang terjadi ,terserah imajinasi anda XDD.

Review untuk kritik dan saran